BENDE MATARAM JILID 43 ILMU SAKTI TUNGGULMANIK



Selamanya, Sangaji selalu beragu dalam mengambil setiap keputusan. Hal ini disebabkan hatinya terlalu sederhana dan mulia. Terhadap para pendekar yang menggerebeg dataran tinggi Gunung Cibugis, ia tak mempunyai permusuhan langsung. Sebaliknya apabila mereka hendak membasmi seluruh anggota Himpunan Sangkuriang, hatinya tak rela. Setiap melihat kemungkinan itu, senantiasa berkelebatlah bayangan Ki Tunjungbiru di dalam benaknya. Mengingat betapa kasih sayang orang tua itu terhadapnya, ia seperti mempunyai kewajiban untuk membalas budinya. Coba seumpama dahulu dia tidak diantarkan ke Pulau Edam untuk menghisap getah sakti pohon Dewadaru serta tidak memperoleh petunjuk-petunjuknya dalam soal semedi, pastilah dia bukan menjadi manusia seperti sekarang. Pada waktu itu, dari arah Gedung Markas Besar keluarlah beberapa anggota Himpunan Sangkuriang yang sudah tak bersenjata lagi. Di antara mereka nampak pendekar lnu Kertapati, Sidi Mantera dan Kamarudin yang masih kena pengaruh racun asap. Dengan berbareng mereka menyebut kebesaran Tuhan, "Allahu Akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar!" Tiga kali beruntun, kemudian duduk bersimpuh di belakang pemimpin-pemimpin mereka untuk menerima saat ajalnya. Hebat pengaruh pengliatan itu terhadap Sangaji. Teringat betapa kejam Edoh Permanasari serta betapa licik anak-anak murid Gunung Gembol, sirnalah semua keragu-raguannya. Melihat Jajang Kartamanggala sudah hampir mencapai Andangkara, terus saja ia menyerobot masuk ke dalam gelanggang pertarungan seraya berkata nyaring: "Nanti dulu! Caramu hendak membuat perhitungan, begitu licik dan memalukan. Apakah engkau tidak mempunyai kehormatan diri lagi? Mundur!" Karena didesak gelombang hati, dengan tak sadar Sangaji sudah menggunakan tenaga saktinya penuh-penuh. Karuan saja, suaranya meledak melebihi guntur. Pasukan yang sudah bergerak hendak melakukan perintah Alang-alang Cakrasasmita, kaget mendengar suara bergemuruh itu sampai mereka terpaku dengan tak disadarinya sendiri. Tak terkecuali semua pendekar-pendekar besar yang memimpinnya. Sebaliknya, tidaklah demikian halnya Jajang Kartamanggala. Melihat seorang pemuda cilik mendadak ikut campur menyanggah kehendaknya, tangannya terus menjulur dengan maksud mendorong Sangaji ke pinggir. Kemudian maju selangkah hendak membinasakan Andangkara. Tak terduga, bahwa pemuda itu sesungguhnya sudah mengantongi kesaktian keris Kyai Tunggulmanik. Tenaga saktinya luar biasa hebatnya. Dapat dikendalikan sekehendaknya. Untuk melayani semua ilmu aliran sakti di manapun juga, tidak akan mengecewakan. Sebab, guratan yang terdapat pada keris sakti Tunggulmanik adalah puncak kesempurnaan hakekat ilmu manusia yang terdapat di persada bumi ini. Maka begitu Jajang Kartamanggala bermaksud mendorongnya, justru kena sebaliknya. Tiba-tiba saja, suatu kekuatan dahsyat berbalik mendorongnya. Jajang Kartamanggala kena diseret arus gelombang tenaga sakti yang dahsyat luar biasa itu. Tahu-tahu tubuhnya terpental di udara dan jatuh berjungkir-balik dua tiga kali. Tatkala kaki kanannya mencoba bertahan, masih saja ia kena seret. Maka untuk memunahkan tenaga dorong itu, ia terpaksa berjungkir balik lagi sampai lima kali. Dengan demikian, tiba-tiba saja ia sudah berada di luar garis gelanggang pertarungan. Mereka yang tidak mengerti apa sebab Jajang Kartamanggala berjungkir balik selagi tangannya tinggal menghantam mampus Andangkara, kaget dan terkejut. Akhirnya mereka mengira, bahwa Jajang Kartamanggala sudah berhasil memukul Andangkara, lalu mundur dengan aksi jungkir balik agar memperoleh pujian. Bukankah adiknya tadi juga bermain aksi pula tatkala menggempur Andangkara dengan lewat udara? Terkejut dan bergusar adalah Jajang Kartamanggala. Sejenak ia seperti kehilangan diri sendiri. Kemudian bercelingukan hendak mencari kambing hitamnya. Mendadak melototi Nanang Atmaja pendekar anak murid Mandalagiri. Terus mendamprat, "Hm... kalau memang mau mencoba pukulan sakti Gumbala Geni, janganlah memukul secara menggelap. Itu bukan ksatria." Didamprat tanpa perkara, sudah barang tentu Nanang Atmaja berganti melototinya. "Kau kira apa aku ini sampai main gelap-gelapan segala? Aku telah mengapakan dirimu? Kau sendirilah yang berpurapura aksi berjungkir balik seolah-olah hendak mengesankan bahwa raja muda Andangkara sudah memukulmu balik. Hm, aksi kampungmu macam begitu apa perlu kaupamerkan di hadapan kita?" Jajang Kartamanggala terpaksa berpikir keras. Tadinya ia mengira, Nanang Atmaja membantu Sangaji sewaktu ia bermaksud mendorongnya pergi. Ternyata dia membantah keras. Dan nampaknya tidak berdusta. Memperoleh kesan demikian, perlahan-lahan ia berputar menghadap Sangaji sambil menuding. "Anak muda, kau siapa?" "Aku bernama Sangaji," sahut Sangaji sambil membantu menyalurkan tenaga saktinya ke punggung Andangkara. Suatu tenaga luar biasa kuat menyusup ke tubuh Andangkara pada saat itu juga. Dan begitu tenaga sakti itu menggetarkan jantung serta mengalirkan darah, Andangkara tersadar dengan sekaligus. Ia menyenakkan rnata. Tatkala melihat wajah Sangaji, ia jadi terheran-heran. Sebagai seorang ahli, ia kaget menerima bantuan suatu tenaga luar biasa dahsyat dari seorang anak muda yang belum pernah dikenalnya. Begitu hebat tenaga sakti Sangaji sampai sebelum Jajang Kartamanggala dapat menghampirinya kembali, jalan darahnya sudah lancar seperti sediakala. Tak peduli belum kenal siapa yang membantunya, ia terus berkata perlahan: "Anak muda terima kasih..." Setelah mengucapkan kata-kata berterima kasih, mendadak ia melompat berdiri dengan gagahnya sambil berkata nyaring: "Hai orang-orang dari Gunung Gembol, apa sih kehebatan pukulan sakti yang kalian agung-agungkan? Pukulan Gumbala Geni? Hm... hayo maju, ingin aku mencoba pukulan sakti yang kalian bangga-banggakan itu." Melihat Andangkara tiba-tiba saja sudah bisa berdiri kembali dengan gagah perkasa, bukan main kagetnya Jajang Kartamanggala. Hatinya lantas saja mengeluh. Memang sesungguhnya dia jeri terhadap jago tua itu. Dahulu hari, pernah ia merasakan kehebatannya. Maka terpaksalah ia menyahut dengan suara rendah, "Ilmu Gumbala Geni memang dimasyhurkan orang sangat berlebih-lebihan. Tetapi apabila kau mau mencoba, hayo bukalah dadamu. Aku akan memukulmu tiga kali beruntun dengan janji kau tak boleh menangkis atau membalas menyerang. Dengan begitu engkau akan merasakan betapa hebat ilmu sakti kami." Mendengar nama Gumbala Geni, Sangaji mengerenyitkan dahi. Nama ilmu itu pernah ia dengar dari kakek gurunya Kyai Kasan Kesambi. Itulah suatu ilmu yang konon dikabarkan untuk menaklukkan iblis. Di Jawa Tengah, ilmu tersebut terkenal dengan nama: pukulan iblis atau pukulan gandarwa. Sesungguhnya ilmu pukulan Gumbala Geni bukanlah ilmu pukulan murahan. Kalau saja pemiliknya mempunyai tenaga sakti yang hebat, tidaklah sembarang orang tahan menerima pukulan dahsyatnya. Tetapi Andangkara yang gagah perkasa menyahut dengan suara berkobar-kobar: "Jangan lagi tiga pukulan. Hayo pukullah aku dengan tiga puluh kali. Kalau ada sehelai rambutku yang rontok ke bumi, nyatakan aku sudah kalah denganmu." Dengan mata menyala ia menatap wajah Jajang Kartamanggala. Kemudian beralih ke pada Alang-alang Cakrasasmita. Dan berseru nyaring, "Alang-alang Cakrasasmita! Andangkara belum menyatakan kalah. Dengan sendirinya kau tak boleh melanggar perjanjian. Perjanjian kita berbunyi, kalau Andangkara sudah mati, nah bolehlah kalian bertindak membasmi semuanya. Sekarang lantaran Andangkara masih kuat berdiri bunuhlah dahulu sampai mati." Hebat kata-kata Andangkara, sampai Sangaji tergetar pula hatinya. Maka tahulah dia, bahwa terjadinya perang tanding perorangan itu adalah akal Andangkara untuk mengulur waktu. Dengan dipaksa mengikat suatu perjanjian bertanding perorangan, maka berarti pula tidak boleh main keroyokan. Benar di pihaknya telah banyak yang terluka parah ataii mati, namun hal itu berarti memberi kesempatan besar bagi Tatang Sontani dengan rekan-rekannya untuk memulihkan tenaga saktinya yang tergempur oleh serangan gelap Suryakusumah. Sekarang ia belum mengaku kalah. Maka aba-aba Alang-alang Cakrasasmita untuk membasmi habis sisa anggota Himpunan Sangkuriang, dengan sendirinya jadi batal. Maka terpaksalah Alang-alang Cakrasasmita memberi isyarat agar menunda dahulu perintah pembasmiannya. Namun keadaan Andangkara sebenarnya belum pulih benar-benar. Tenaga sakti yang dimiliki kini semata-mata lantaran diperolehnya dari bantuan Sangaji. Kalau memaksa diri untuk menerima pukulan sakti Gumbala Geni belum tentu dapat bertahan. Hal itu sebenarnya telah diinsyafi pula. Soalnya dalam hatinya sudah terjadi suatu keputusan hendak gugur demi membela Himpunan Sangkuriang peninggalan Gusti Ratu Bagus Boang yang dihormati sampai ke dasar hatinya. Sangaji sudah terlanjur memasuki gelanggang. Maka ia mendekati Andangkara. Berkata membisiki, "Aki Andangkara, biarlah aku yang mewakili menerima pukulan Gumbala Geni. "Bilamana aku tak sanggup, nah biarlah Aki maju lagi." Andangkara menoleh dengan terharu. Mendengar anak muda itu menyebut dirinya dengan Aki  maka tahulah dia bahwa anak muda itu bukan dari kalangannya. Ia tahu, tenaga sakti anak muda itu hebat. Barangkali lebih hebat daripada dirinya sendiri dalam keadaan segar-bugar. Namun apabila sampai menjadi korban pukulan sakti Gumbala Geni tanpa dasar perjuangan, bukankah berarti suatu korban sia-sia belaka. Sebagai salah seorang tokoh Himpunan Sangkuriang yang wajib bertanggung jawab atas baik buruknya himpunannya, tak sudi ia membawa orang lain ke kancah masalahnya. Apalagi sampai menjadi korban. Maka berkatalah ia di dalam hati, mungkin pula anak muda ini dapat menggugurkan ilmu sakti Gumbala Geni. Namun walaupun kepandaiannya tinggi untuk menghadapi perlawanan secara bergiliran, akhirnya ia akan terluka lantaran lelah. Kalau sampai tewas hm... sungguh sayang nampaknya dia seorang pemuda yang gagah perkasa serta luhur budi. Setelah memperoleh pertimbangan demikian, dengan perlahan ia berkata kepada Sangaji, "Anak muda, kau sebenarnya murid siapa? Rupanya engkau bukan anggota Himpunan Sangkuriang. Kalau sampai terjadi sesuatu atas dirimu, betapa aku harus bertanggung jawab terhadap gurumu?" "Memang aku bukan anggota Himpunan Sangkuriang," sahutnya. "Tetapi pernah aku menerima jasa-jasa baiknya. Kemudian aku menerima undangan agar datang. Dalam sakuku ada sebuah logam undangan. Kalau aku kini diberi kesempatan melawan musuh berdampingan dengan Aki, alangkah besar rasa hatiku." Mendengar keterangan Sangaji, Andangkara terhenyak keheranan. Sebagai seorang panglima Himpunan Sangkuriang berpanji-panji Garuda Sakti dimana Suhanda termasuk salah seorang bawahannya, sudah barang tentu ia mengerti tentang undangan itu. Maka suatu pertanyaan bertumpuk-tumpuk merumpun dalam otaknya. Tatkala hendak membuka mulut. Jajang Kartamanggala sudah nampak memasuki gelanggang sambil berseru, "Hai Andangkara! Majulah! Kau bilang mau menerima tiga pukulanku." Sebelum Andangkara menyahut, Sangaji sudah mendahului, "Raja muda Andangkara bilang kau tak pantas melawan dia. Terlebih dahulu lawanlah aku! Kalau aku kalah, baru boleh bergebrak dengan dia." Mendengar ucapan Sangaji, Jajang Kartamanggala merasa terhina. Membentak dengan gusar, "Bangsat cilik! Kau manusia macam apa sampai berani menerima tiga pukulan sakti Gumbala Geni?" Didamprat demikian, timbullah suatu pikiran dalam hati Sangaji. "Benar! Aku seorang diri. Betapa mungkin aku sanggup mengalahkan mereka seorang demi seorang. Satu-satunya jalan aku harus menghancurkan inti ilmu kebanggaan masing-masing perguruan mereka." Seperti diketahui, ilmu warisan keris Kyai Tunggulmanik merupakan puncak inti hakekat semua ilmu sakti di seluruh jagat raya. Meskipun Sangaji belum pernah mengenal macam ilmu sakti Gumbala Geni, namun ia pernah menerima penjelasan-penjelasan dari kakek gurunya Kyai Kesambi. Dengan sendirinya ia tak menemui kesulitan lagi untuk memecahkan. Maka dengan suara pasti ia berkata, "Ilmu sakti Gumbala Geni memang hebat. Semua orang gagah di seluruh Nusantara mengagumi. Bukankah ilmu sakti tersebut berasal dari Warok Suramenggala pada zaman Majapahit? ) tetapi kalau kau mengira, ilmu Gumbal Geni merupakan ilmu pukulan tersakti di atas dunia ini adalah salah." Mendengar ucapan Sangaji bergaya seorang guru, Jajang Kartamanggala mendongkol bukan main. Katanya, "Kau bangsat cilik ini tahu apa tentang hebatnya ilmu Gumbala Geni? Apakah kau ini penjelmaan malaikat?" Direndahkan demikian, Sangaji tetap bersikap tenang. Sebaliknya semua yang mendengar tangkisan Jajang Kartamanggala tertawa bergemuruh. Terdengar suara nyeletuk, "Hai bangsat cilik! Kau sebenarnya murid siapa sampai berani ngoceh tak keruan?" "Bocah ingusan itu barangkali tak waras. Buat apa mendengarkan pidato orang tak waras?" seru lainnya. Dan kembali lagi mereka tertawa bergemuruh. Dan mendengar suara tertawa bergemuruh yang bernada mengejek itu yang paling resah adalah Manik Angkeran. Tetapi melihat Sangaji tetap tenang-tenang saja, hatinya agak sedikit terhibur. Tiba-tiba Sangaji berkata lantang, "Tuan-tuan! Untuk apa Tuan-tuan sekalian saling bermusuhan dan saling bunuh membunuh? Bukankah Tuan-tuan sekalian sedarah dan sebangsa? Coba aku ingin berbicara dengan ketua persekutuan penggerebegan." Kata-kata Sangaji itu diucapkan dengan nyaring dan terang walaupun di tengah gemuruh tertawa riuh rendah. Dan hebatnya, tiap orang dapat menangkap setiap patah kata-katanya dengan jelas. Keruan saja jago-jago tujuh aliran yang mendaki dataran tinggi Gunung Cibugis terkesiap semua. Diam-diam mereka membatin, "Bocah ini masih muda belia, apa sebab ilmu saktinya begini dahsyat?" Dalam pada itu muncullah seorang laki-laki berberewok bersenjata sebuah tongkat besar. Dialah Andi Apenda salah seorang murid perguruan Gunung Kencana. Dengan mengulum senyum dia berkata, "Kau ini sebenarnya setan dari mana sampai berteriak-teriak tak keruan juntrungnya?" "Apakah Tuan yang menjadi ketua persekutuan?" Sangaji menegas. "Hm, untuk meladeni orang gendeng seperti kau, masakan perlu ketua kami segala?" sahut Andi Apenda cepat. "Apakah kau sendiri Ketua Himpunan Sangkuriang? Bih, bih! Kalau benar engkau Ketua Himpunan Sangkuriang, aku sendiri menganggap dirimu tak lebih dan tak kurang adalah anak seorang janda. Anak seorang janda rudin. Daripada kau berteriak-teriak tak keruan juntrungnya, lekaslah pulang! Siapa tahu, selagi kau gembar-gembor di sini, ibumu dikawini orang!" Sebenarnya ejekan Andi Apenda adalah sekenanya saja. Tak tahu, bahwa ejekannya itu justru tepat mengenai sasaran yang paling menyakitkan hati. Sangaji adalah anak seorang janda yang miskin. Terhadap ibunya, Sangaji menghormati dan menjunjung tinggi melebihi jiwanya sendiri. Sekarang ia mendengar ibunya dihina seolah-olah tak lebih daripada seorang janda pasaran. Keruan saja suatu gumpalan perasaan meledak dalam dadanya. Pemuda yang biasanya sangat sabar melebihi seorang pendeta itu, tiba-tiba saja tak sanggup lagi menguasai luapan perasaannya. Meskipun semenjak tadi, ia selalu menyadarkan diri sendiri, bahwa tujuannya yang pokok ialah berusaha sekuat tenaga untuk mempersatukan kedua pihak agar di kemudian hari merupakan suatu himpunan perjuangan rakyat seluruh Jawa Barat. Ternyata kini ia seperti lupa daratan. Sekali melompat tangannya menjangkau tubuh Andi Apenda. Dengan kegesitan yang sukar dilukiskan, ia mencengkeram punggung Andi Apenda dan diangkatnya ke atas. Kemudian tangan kanannya merampas tongkat besi Andi Apenda dengan sekali hentak. Kena diterkam Sangaji yang memiliki tenaga dahsyat, Andi Apenda mati kutu dengan tiba-tiba. Tenaganya sirna dan lumpuh sekaligus. Ia tak ubah seekor anak ayam kena cengkeram seekor elang. Melihat berkelebatnya tangan kanan Sangaji hendak mengemplang kepalanya dengan senjata tongkat besinya yang berat dan gede, terus saja ia menutup matanya rapat-rapat. Tetapi kalau nasib masih baik, sekonyong-konyong melompatlah dua orang rekannya ke gelanggang. Sukra dan Kusna, namanya. Mereka berdua adalah kakak seperguruannya. Dengan bersenjata tongkat besi raksasa pula, mereka langsung merangsang dan berbareng mengemplang tubuh Sangaji. Hebat dan berbahaya benar cara mereka berdua menyerang. Yang satu dari samping mengarah kepala. Lainnya membabat kaki mengarah pinggang. Tujuan serangan demikian ialah agar Sangaji melepaskan Andi Apenda dari cengkeramannya. Apabila masih membandel, ia tak akan mempunyai kesempatan lagi untuk mengelak. Tetapi sambil menjinjing Andi Apenda di tangan kiri dan tangan kanan tetap menggenggam tongkat besi raksasa, tiba-tiba Sangaji menggenjot kedua kakinya dan terus meletik ke udara. Kedua penyerangnya sama sekali tak menduga dia bisa lolos dengan terbang ke atas. Keruan saja mereka bertubrukan. Untung sekali senjata mereka masing-masing tidak mengemplang kepala mereka. Di bawah pekik kaget para pendekar, Sangaji membawa Andi Apenda mengapung di udara. Dengan sedikit berputaran ia turun * ke bumi enteng sekali. Pendekar Sindung Riwut pemimpin penyerbuan dari perguruan Gunung Gembol tiba-tiba berteriak. "Hai. Bukankah itu ilmu meletik ke udara ajaran Gunung Damar?" Sudahlah menjadi suatu kelaziman, bahwa tiap-tiap perguruan mengenal corak serta macam ajaran perguruan lainnya. Pelajaran itu termasuk pengetahuan umum. Tujuan pokok pengetahuan umum itu, agar bisa berjaga-jaga dalam membawa diri. Memang apa yang diperlihatkan Sangaji tadi ialah ilmu meletik ke udara ajaran Kyai Kasan Kesambi yang dipelajarinya lewat gurunya, Wirapati. Karena seringnya ia menekuni ilmu itu, dalam keadaan terjepit mendadak saja tanpa berpikir lagi terus menggunakan ilmu meletik untuk menghindari serangan gencetan yang sangat berbahaya. Loncatan meletik ke udara, sebenarnya dapat dilakukan oleh beberapa pendekar lainnya. Seperti Kusuma Winata dengan sekalian adik seperguruannya atau Edoh Permanasari serta beberapa murid pilihannya. Tetapi kalau sebelah tangan menjinjing tubuh segede Andi Apenda berbareng membawa sebuah tongkat raksasa terbuat dari besi dan kegesitan corak loncatannya harus sama ringannya dengan membawa dirinya seorang, itulah sesuatu hal yang tak dapat mereka lakukan. Para pendekar golongan Gunung Kencana mati kutu melihat Andi Apenda jatuh di dalam cengkeraman Sangaji. Mereka berada pada jarak sepuluh meteran. Untuk berusaha menolong menyelamatkan rekannya itu, tidak mungkin lagi. Sebab sekali Sangaji mengemplang kepala Andi Apenda dengan tongkat besi yang dirampasnya, dia akan mampus dengan kepala pecah sumyur. Siapakah di dunia ini yang sanggup bergerak melebihi kecepatan ayunan tangan yang tinggal turun saja. Maka mereka hanya berdiri tegak dengan doa panjang pendek. Pendekar-pendekar yang datang meluruk ke dataran tinggi Gunung Cibugis adalah pendekar-pendekar kelas satu. Seperti, Kusuma Winata, Panjang Mas dari Gunung Kencana, Ratu Kenaka dari Gunung Aseupan. Begog dan Sianyer dari Muarabinuangeun, Alang-alang Cakrasasmita dari Gunung Gilu dan Sindung Riwut pendekar sakti dari Gunung Gembol. Namun menghadapi Sangaji mereka tak berdaya sama sekali. Sebab gerakan Sangaji meletik ke udara terjadi dengan tiba-tiba. Seumpama dapat menebak pastilah mereka akan menghujani senjata sebelumnya, untuk menolong Andi Apenda. Pada saat" itu Sangaji sedang menerkam tongkat besi raksasa erat-erat. Pandangnya penuh rasa benci serta gemas. Perlahan-lahan ia mengangkat tongkat besinya dan tinggal menurunkan deras. Dan kepala Andi Apenda akan remuk berantakan. Melihat adegan ngeri itu, banyak kawan-kawannya yang menutup mata. Tetapi kakak-kakak seperguruannya bersiaga untuk segera mengkerubut membalaskan dendam. Tak terduga, bahwa tangan Sangaji yang sudah mengangkat tongkat besi itu tidak juga segera mengemplangkan. Air mukanya berubah-ubah. Terang sekali di dalam hati pemuda itu sedang bergumul suatu derum hati yang saling mengendapkan. Dan tiba-tiba ia menurunkan tongkat besinya, kemudian meletakkan tubuh Andi Apenda perlahan-lahan ke tanah. la menarik napas panjang. Sesungguhnya dalam sekejap itu, timbullah suatu perjuangan seru dalam hati Sangaji. Teringat betapa tajam penghinaan Andi Apenda kepadanya ingin ia mengemplangnya untuk melampiaskan rasa mendongkolnya. Tetapi tiba-tiba timbullah suatu pikiran lain entah dari mana asalnya. Begini bunyinya, kalau aku membinasakan salah seorang di antara ketujuh aliran sakti yang mendaki dataran ketinggian Gunung Cibugis, bukankah aku lantas menjadi musuh ketujuh golongan besar ini? Dan sekali bermusuhan selamanya aku takkan mendapat kepercayaan mereka untuk mempersatukan. Dengan begitu aku akan gagal, semata-mata karena menuruti luapan rasa hatiku sendiri. Aku harus berani menahan hati. Tak peduli betapa mereka menghina aku. Darimanakah asal datangnya suara hati itu? Dasar hati Sangaji adalah jujur, sederhana dan mulia. Pada saat itu ia menghadapi suatu masalah yang maha besar dan luar biasa sulitnya. Sehingga secara wajar, banyak ia menggunakan pertimbangan-pertimbangan rasa. Dan karena itu banyak menggunakan getaran rasa, secara naluriah tergetarlah darahnya. Seketika itu juga terjadilah suatu gelombang dahsyat dalam diri Sangaji. Seperti diketahui dalam diri Sangaji mengalirlah ilmu sakti manunggalnya getah sakti Dewadaru, madu Tunjungbiru, ilmu sakti Kumayan Jati, ilmu Kyai Kasan Kesambi dengan guratan keris sakti Kyai Tunggulmanik warisan ilmu sakti pada zaman 4900 tahun yang lalu. Ilmu sakti tersebut secara otomatis akan bekerja apabila kena sentuh dari luar. Tapi sekarang sama sekali tiada persentuhan dari luar. Yang ada hanya getaran rasa. Maka dalam sekejap itu terjadilah suatu perkembangan baru di dalam diri Sangaji di luar pengamatan manusia. Sekonyong-konyong dunia pikiran Sangaji seperti terbuka dengan tak disadarinya sendiri. Pikirannya lantas menjadi tajam luar biasa. Maka benarlah konon yang dikabarkan dalam kisah sejarah bahwa pusaka sakti di kemudian hari menjanjikan kepada pemiliknya akan menjadi manusia yang berotak cerdas. Tapi dasar watak Sangaji sederhana, berhati polos serta mulia, maka perubahan itu tidak nampak dari luar. la tetap seperti sediakala, sebagai seorang pemuda yang tak pandai berbicara dan berhati beku. Demikianlah setelah Sangaji memperoleh bentuk pikirannya secara tak disadarinya sendiri, ia segera membebaskan Andi Apenda. Katanya kemudian dengan tenang, "Aku memang anak seorang janda. Seorang janda yang terpaksa hidup berlarat-larat sampai di Jakarta. Lantaran ditinggal suaminya gugur dalam suatu pertarungan. Apakah buruknya anak seorang janda? Apakah menurut pendapatmu, ibuku tak berhak lagi hidup tenteram sebagai manusia lainnya? Karena kebetulan sudah menjadi janda?" Andi Apenda tertegun-tegun. la telah lolos dari suatu maut secara ajaib. Keduanya sama sekali tak pernah menduga bahwa ejekannya merupakan suatu hal yang sangat menusuk hati Sangaji, karena kebetulan pemuda itu anak seorang janda pula. Maka tatkala Sangaji mengangsurkan tongkat besinya, dengan menundukkan kepala dia menerima senjatanya kembali dengan tersipu-sipu. Setelah Andi Apenda keluar gelanggang perhatian penonton beralih kembali kepada Jajang Kartamanggala. Pendekar ini diam-diam menjadi kecil hati, menyaksikan kepandaian Sangaji yang berada di luar kemampuannya sendiri. Seumpama tidak di depan mata para pendekar di seluruh Jawa Barat, sudah sedari tadi dia menyelinap keluar gelanggang dengan diam-diam. Apa boleh buat sekarang sudah kepepet. Maka teriaknya nyaring, "Hai anak muda! Kau tadi ingin berbicara dengan ketua kami. Sebenarnya siapakah yang mendalangi engkau? Bilanglah yang terang, barangkali aku masih bisa mengampuni." "Aku datang ke mari atas namaku sendiri. Meskipun aku dibesarkan di Jakarta, tetapi aku berasal dari Jawa Tengah. Sekarang aku melihat dan menyaksikan betapa para pendekar Jawa Barat saling bertengkar dan bunuh membunuh. Menuruti kata hatinya, aku memberanikan diri untuk tampil ke muka agar kalian bersatu padu." "Hm, aku kau suruh berdamai dengan pihak Himpunan Sangkuriang? Itu tidak mudah. Bangsat tua Andangkara masih berutang tiga kali pukulan sakti Gumbala Geni. Suruhlah dia membayar utangnya dahulu! Dan nanti baru kita berbicara." Setelah berkata demikian ia menggulung lengan bajunya. "Rupanya engkau paling senang membicarakan ilmu sakti Gumbala Geni. Baiklah memang hebat ilmu sakti tersebut. Tetapi sayangnya, engkau tidak sedahsyat pemiliknya dahulu. Apa yang kau capai belum lagi jatuh separohnya," kata Sangaji sambil tersenyum. "Kau bilang apa?" bentak Jajang Kartamanggala. "Aku bilang, engkau belum mencapai separohnya. Itu malah kebetulan. Sebab kalau engkau berani maju satu tingkat lagi, jiwamu akan terancam suatu kematian runyam." "Darimana kau tahu?" Jajang Kartamanggala penasaran. "Sebab tenaga dasarmu belum kuat. Seumpama sebuah balon kau akan meledak apabila menambah satu tiupan lagi," sahut Sangaji. Mendengar ceramah Sangaji, wajah Jajang Kartamanggala berubah hebat. Ia melihat pemuda itu berkata dengan setulus-tulusnya. Tidak mungkin berdusta. Teringat betapa dahsyat tenaga sakti pemuda itu, ia akan dapat membuktikan manakala diajaknya bertanding mengadu kekuatan. Sebaliknya anak Gunung Gembol angkatan muda yang masih berdarah panas, mendongkol mendengar ujar Sangaji. Terus saja mereka memaki-maki kalang kabut. Di luar dugaan Jajang Kartamanggala maju selangkah sambil berkata menegas. "Kau bilang, aku bisa mati runyam manakala aku mencapai satu tingkat lagi, Agaknya keteranganmu masuk akal pula. Tapi masakan ilmu pukulanku tiada gunanya?" Sangaji menggeleng kepala sambil menjawab, "Tenaga sakti Gumbala Geni yang kau-miliki sekarang memang dapat menggertak kurcaci-kurcaci. Tetapi berhadapan dengan seorang seperti raja muda Andangkara, sama sekali tiada guna. Malahan engkau bisa berada dalam bahaya." "Bahaya bagaimana?" "Sebab bilamana lawanmu seorang yang memiliki tenaga sakti melebihi dirimu, maka pukulanmu akan terpental berbalik memukulmu," sahut Sangaji dengan sungguh-sungguh. Tetapi berbareng dengan itu, berkelebatlah sesosok bayangan yang terus memukul punggung Sangaji sambil membentak, "Coba rasakan, kau bisa hidup tidak?" Cepat sekali gerakan penyerang itu, sampai semua orang terkesiap. Dan dia adalah Aceng Suwirya kakak seperguruan Jajang Kartamanggala. Betapa hebat pukulannya tidak usah diragukan. Tenaga saktinya setingkat lebih tinggi daripada Jajang Kartamanggala. Maka dapat dibayangkan akibat pukulannya. Apalagi mengenai punggung dengan telak. Siapa saja akan terjungkal melontakkan darah. Dan jiwanya takkan tertolong lagi, walaupun umpamanya ada malaikat turun dari langit. Gerakannya yang cepat itu, bagi Sangaji mudah untuk mengelakkan. Tetapi Sangaji sudah memutuskan hendak menaklukkan pendekar-pendekar penyerbu dengan berbareng, agar dapat dihindari pertarungan secara bergiliran. Maka ia sengaja menerima pukulan Gumbala Geni tanpa mengelak sedikitpun jua. Tatkala itu terdengarlah suara langkah tertatih-tatih sambil mendamprat. "Bagus ya! Kau sampai memukul dengan cara menggelap. Macam ksatria apa?" Dialah Manik Angkeran. Kesehatannya belum pulih kembali. Tetapi berkat pertolongan tenaga sakti Sangaji serta pengetahuannya sendiri tentang rahasia ilmu pertabiban, ia sudah sanggup bergerak. Kalau perlu masih bisa dia berkelahi meskipun untuk selintasan. Namun melawan Aceng Suwirya sudah barang tentu dia bukan merupakan lawan yang berarti, sekalipun andaikata dalam keadaan segar bugarpun. Maka baru ia mengangkat tangan, ia sudah kena terpentalkan ke samping. Dan sekali lagi Aceng Suwirya menggebuk punggung Sangaji dengan tepat sampai dua kali berturut-turut. Dipukul demikian, Sangaji seperti kebal dari segala. Ia pun tidak mengadakan suatu pembelaan untuk memukul balik penyerangannya. Bahkan ia lantas berkata kepada Manik Angkeran dengan tersenyum. "Tak usahlah engkau khawatir. Pukulan Gumbala Geni dengan tenaga semacam ini, sedikitnya tiada gunanya." Mendengar keterangan Sangaji, barulah Manik Angkeran bernapas lega. Dengan wajah menyatakan rasa kagum dan penuh pengertian, ia menyahut: "Ah, ya, bukankah engkau cucu murid Kyai Kasan Kesambi..." sampai di sini ia cepat-cepat menutup mulutnya. Kemudian dengan terpincang-pincang ia kembali ke tempatnya semula. Menyaksikan adegan serta mendengar keterangan Sangaji, jago dari Gunung Gembol itu seperti bermimpi di siang hari. Heran ia mengamatamati wajah Sangaji yang menentangnya dengan tenang-tenang. Setelah beberapa saat baru ia membuka mulut, "Apakah perguruan Kyai Kasan yang termasyhur pula sampai di Jawa Barat, mengajarkan ilmu kebal ini?" Dengan sedikit mengangguk, Sangaji menjawab: "Aku memang cucu murid Kyai Kasan Kesambi. Tetapi kalau dibandingkan dengan kesaktian kakek guruku bagaikan bumi dan langit..." Sebagai anak-murid yang mendalami ilmu sakti Gumbala Geni, ia percaya tentang ilmu kebal Warok Suramenggala yang hidup pada zaman Majapahit dahulu terkenal akan kekebalannya. Dan pendekar sakti itulah yang mewariskan ilmu pukulan sakti Gumbala Geni. Dahulu Warok Suramenggala pernah bertempur tiga hari tiga malam melawan Warok Cadarma. Karena mereka berdua sangat kebal dan bertenaga sakti seimbang, maka hampir saja tidak dapat memutuskan siapakah yang lebih unggul. Akhirnya hanya karena kelalaian sedikit saja, Warok Cadarma kena digempur sampai tewas. Ialah pada bagian mulutnya sewaktu diajak berbicara. Memang selagi mengadu kekuatan sakti, berbicara merupakan pantangan besar. Kini, ia melihat Sangaji sedang berbicara. Tak sudi ia menyia-nyiakan kesempatan yang bagus itu. Dengan menggerung ia melompat dan menggempur tubuh Sangaji dengan seluruh kekuatannya. Tetapi sekali lagi tertegun keheran-heranan. Sangaji ternyata tak bergeming. Bahkan pemuda itu lantas tertawa sambil berkata, Tadi sudah kukatakan manakala kalian sudah memiliki tenaga sakti tinggi kalian dapat bertempur sambil berbicara. Dan sekali menggempurkan tenaga sakti pukulan Gumbala Geni, maka dahsyatnya tak dapat dilukiskan. Tapi apa yang kalian miliki sekarang tidak berarti. Kau tak percaya? Nah, pukullah sekali lagi. Sepuluh dua puluh kali, boleh juga. Silakan!" Benar juga. Aceng Suwirya yang penasaran terus menggebuki Sangaji dengan pukulan dahsyat lebih dari sepuluh kali, Tidak hanya menghantam punggung saja, tetapi juga kepala, mulut, perut dan pinggang. Namun Sangaji-tidak bergeming sama sekali. Kini tidak hanya Aceng Suwirya dan Jajang Kartamanggala yang terheran-heran tetapi para pendekar kedua belah pihak jadi gempar. Mereka semua tahu betapa dahsyat pukulan ilmu sakti Gumbala Geni seumpama sebuah bukitpun bisa runtuh berguguran. Walaupun kabar itu terlalu dilebih-lebihkan, namun betapa berbahaya ilmu sakti tersebut di tangan para pendekar kelas satu tidak dapat dibantah lagi. Anak murid Mandalagiri yang masih mendongkol terhadap kelicikan pendekar-pendekar Gunung Gembol, terus saja mengejek. "Kabarnya pukulan Gumbala Geni dapat menggugurkan gunung. Tak tahunya cuma bisa menggugurkan semangatnya sendiri. Ai... ai... sungguh hebat!" Yang lain berkata lagi, "Pantas pendekar yang berilmu Gumbala Geni hanya berani berhadapan dengan lawan yang sudah luka parah. Sungguh seorang ksatria jempolan!" Mendengar bunyi ejekan itu, muka Jajang Kartamanggala merah padam. Meskipun tidak langsung menyebut namanya, namun dia merasa sendiri. Seketika itu juga meledaklah amarahnya. Sekali maju selangkah, ia menghantam dada Sangaji. Bres! Kakak seperguruannya membarengi pula memukul dari belakang. Dengan begitu, Sangaji kena gencet. Orang-orang terkesiap. Mereka berpikir, kalau tidak tewas, pada saat itu juga, pastilah tulang-belulangnya akan remuk. Tetapi sekali lagi, Sangaji menunjukkan kelebihannya. Getah sakti Dewadaru yang mengalir dalam tubuhnya lantas saja bekerja. Kedua tangan lawannya kena dihisap. Aceng Suwirya dan Jajang Kartamanggala kaget setengah mati. Buru-buru mereka hendak menarik tangannya, namun sudah kasep. Tangannya terlengket. Untung Sangaji tiada berniat jahat. Ia bahkan mengirimkan tenaga saktinya, sehingga badan kedua anak murid Gunung Gembol malahan terasa menjadi nyaman sekali. "Beginilah baru benar," kata Sangaji dengan berbisik. "Jalan darah kalian sudah tertembus. Di kemudian hari, kalian akan dapat mencapai tingkatan ilmu sakti Gumbala Geni lebih tinggi lagi. Sekarang biarlah kubuktikan, manakala musuh kalian bermaksud mementalkan kalian. Awas!" Setelah berkata demikian, kedua tubuh anak murid Gunung Gembol tiba-tiba saja terpental ke udara. Dan dengan berjungkir-balik mereka turun ke tanah. Ajaibnya begitu kepalanya menukik nyaris terbentur tanah, sekonyong-konyong membalik dengan cepat. Berbareng dengan gerakan itu, mereka sudah berdiri tegak di atas tanah dengan tak kurang suatu apa. Betapa garang mereka tapi kena diperlakukan demikian, sirnalah rasa permusuhannya. Seperti berjanji mereka membungkuk hormat dan berjalan keluar gelanggang dengan muka pucat lesi. Itulah untuk yang pertama kalinya, mereka merasa takluk benar: benar terhadap seorang lawan. Sangaji lalu memanggil Manik Angkeran. Berkata, "Paman! Sekarang aku membutuhkan tenagamu." "Mengapa paman?" Manik Angkeran menegas dengan pandang heran. Sangaji terdiam sejenak. Sekilas berkelebatlah bayangan Fatimah di depan matanya. Tapi pada waktu itu juga, teringatlah dia betapa Manik Angkeran gusar tatkala anak-anak murid Tatang Manggala menyebut nama Fatimah di depan pertapaan tabib sakti Maulana Ibrahim. Hampir ia berkata, "Fatimah tunanganmu adalah adik guruku Wirapati. Dengan sendirinya aku harus menyebutmu dengan paman..." Tapi kemudian berlatih cepat. "Eh... Maksudku adik. Maaf." Manik Angkeran memandangnya dengan mata penuh selidik. Maka cepat-cepat Sangaji membelokkan perhatian. "Kau tolonglah anak murid Gunung Gembol. Dengan begitu, kau akan dapat menolong kelangsungan hidup Himpunan Sangkuriang." Manik Angkeran mengalihkan pandang kepada Kartasasmita yang masih saja belum dapat berkutik di dekat Andangkara. Sebagai seorang tabib yang merasa diri mampu untuk menolong menyembuhkan, sudah sedari tadi ia ingin bekerja. Sekarang di depan ratusan orang, ia mendapat kesempatan untuk memperlihatkan sedikit kecepatannya. Sudah barang tentu, ia merasa diri memperoleh kehorrsan besar. Terus saja, ia menyingsingkan tengan dan kemudian menyambung tulang-tulang Kartasasmita dengan cekatan. Setelah itu ia minta beberapa obat sambung tulang dari para pendekar yang sudi memberi bantuan. Dengan begitu, pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan cepat. "Maksud Saudara memang bagus," tiba-tiba terdengar seorang berkata. "Tetapi janganlah mengharap, bahwa dengan jasa-jasa baikmu lantas kami merasa berkewajiban memenuhi permintaanmu agar mengampuni bangsat-bangsat Himpunan Sangkuriang. Mana bisa begitu? Kalau kau menjadi kecewa atas pernyataanku ini, nah patahkan sekali lagi tulang-tulang muridku itu. Aku gurunya, Sindung Riwut namaku." Mendengar nama Sindung Riwut, gemparlah para pendekar kedua belah pihak. Ya, siapakah yang tak kenal nama yang menakutkan itu. Ia berperawakan pendek tipis dengan rambut putih terurai panjang. Pandangan matanya menyala. Hidungnya bengkok seperti burung betet. Giginya belingsatan sehingga lebih menyerupai kumpulan taring. Dengan begitu muka berkesan kejam serta bengis. "Hai, anak muda! Siapa namamu?" bentaknya. "Asal dari mana sampai berani memberi ceramah perkara Gumbala Geni segala...." "Anak muda, hati-hati!" Andangkara memperingatkan. Sebagai seorang pemuda yang sudah memiliki puncak semua tenaga sakti serta puncak ilmu sakti di jagat ini, sudah barang tentu ia mengetahui tinggi rendahnya tenaga sakti lawan dengan otomatis. Namun melihat majunya Sindung Riwut ia masih nampak acuh tak acuh saja. Katanya tenang, "Namaku Sangaji anak seorang janda miskin. Mengapa?" "Kau mengoceh perkara Gumbala Geni. Apakah kau sudah mengenal kehebatan ilmu sakti tersebut?" "Ilmu sakti di seluruh dunia ini, bukanlah bersumber satu? Kalau saja pukulan Gumbala Geni dilakukan seseorang yang sudah memiliki tenaga penuh, siang-siang aku akan lari menjauhi. Lihat!" Terhadap seorang yang berusia tua selamanya Sangaji menaruh hormat kepadanya. Tak peduli dia berada di pihak mana. Dan kembalilah sifatnya yang asli. lalah tak senang banyak berbicara. Maka segera mengalihkan pandang ke arah sebatang pohon sebesar sepelukan orang. Setelah semua penonton memutar kepalanya, ia terus menghantam dari tempatnya. Sangaji sudah mahir dalam ilmu sakti Kumayanjati. Karena tenaga saktinya melebihi tenaga sakti Gagak Seta, maka dahsyatnya jauh melebihi. la tahu, bahwa inti pukulan Gumbala Geni ialah merupakan urat nadi berbareng tulang belulangnya. Hal itu baru diketahui setelah seminggu kemudian. Ini terlalu lama dan bukan maksudnya untuk memamerkan tenaga saktinya. Tujuannya yang pokok ialah hendak menggertak. Maka ia menggunakan ilmu sakti Kumayanjati yang keras dan lembek dengan berbareng. Tak mengherankan bahwa pada saat itu juga, terdengarlah suara gemeretak. Dahan sekalian ranting dan mahkota daunnya, terbang berhamburan. Yang tinggal hanya batang pohonnya tak ubah sebatang pohon kelapa kena tersambar geledek. Menyaksikan pukulan sedahsyat itu, semua pendekar kagum. Hati mereka tercekat. Pikir mereka, ia memukul dari jarak jauh. Sekalipun demikian akibatnya begitu hebat. Apalagi kalau memukul langsung, barangkali pohon itu tumbang berkeping-keping.... Tetapi Sindung Riwut terdengar tertawa berkakakan. Katanya, "Itu kan bukan ilmu sakti Gumbala Geni. Mana dapat kauingusi?" Tetapi sebentar kemudian terdengarlah suara beberapa orang menyatakan kagum luar biasa. Ternyata pohon itu tidak hanya patah berantakan, tetapipun urat-uratnya hangus remuk. Apalagi kalau bukan akibat getaran pukulan ilmu sakti Gumbala Geni? Sebentar mereka heran ternganga-nganga, kemudian menyusullah sorak-sorai gemuruh sampai lama sekali. "Guru!" seru Jajang Kartamanggala. "Memang benar. Inilah Gumbala Geni." "Kau tahu apa?" bentuk Sindung Riwut. Kemudian beralih kepada Sangaji. "Anak muda, kau memang hebat! Tapi untung mataku belum lamur." Mendengar ujar Sindung Riwut, diam-diam Sangaji kagum padanya. Pikimya dalam hati: "Orang tua ini memang hebat. Ilmu Gumbala Geni berpokok pada pukulan keras dan lembek berbareng. Akupun tadi menggunakan ilmu Kumayanjati keras dan lembek dengan berbareng pula. Namun masih bisa dia membedakan." "Kau tadi bisa mengoceh perkara Gumbala Geni. Coba terka, apa ini!" bentak Sindung Riwut dengan suara mengguntur. Belum lagi Sangaji menentukan sikap, Sindung Riwut sudah melompat mencengkeram kepala. Melihat gerakan tangannya, Andangkara yang berada tak jauh dari Sangaji segera memberi peringatan lagi. "Awas! ltulah Gumbala Geni. Jangan berkhayal dahulu!" Bukan main dahsyat serangan itu. Maklumlah, Sindung Riwut bukan seperti Aceng Suwirya atau Jajang Kartamanggala. Dialah gurunya yang sudah menyelami inti ilmu sakti Gumbala Geni semenjak belasan tahun yang lalu. Tenaga saktinya hampir sejajar dengan ketujuh tokoh sakti di Jawa Tengah. Karena itu, serangannya menerbitkan kesiur angin bergulungan serta berhawa panas. Tetapi dengan sedikit mengelakkan diri, Sangaji luput dari serangannya. Para pendekar yang menumpahkan seluruh perhatiannya semenjak Sangaji memperlihatkan sedikit kepandaiannya, tidak dapat menangkap gerakan Sangaji yang cepat dan ajaib. Mereka hanya melihat gerakan Sangaji yang enteng luar biasa dan tahu-tahu pemuda itu sudah berada di luar bidang serangan lawan. Akan tetapi Sindung Riwut adalah satu di antara ke tujuh jago kelas utama di Jawa Barat. Ilmu sakti Gumbala Geni yang ditekuninya semenjak masa mudanya, sudah mencapai tingkat kesempurnaan. Sangaji sendiri tadi mengakui, bahwa apabila seseorang sudah mencapai tingkat kesempurnaan, ia sendiri akan lari jauh-jauh sebelum kena pukulan ilmu sakti Gumbala Geni yang memang hebatnya tiada taranya. Itulah sebabnya pula, ia tak berani menyongsong serangan Sindung Riwut. Maka begitu serangannya kena dielakkan, Sindung Riwut terus menyusulkan serangannya yang kedua. Kali ini lebih cepat dan lebih hebat. Tetapi sekali lagi, Sangaji dapat mengelakkan serangan itu dengan enteng di luar pengamatan mata. Tak terduga, mendadak Sindung Riwut telah mencegat dengan serangannya yang ketiga, keempat dan kelima yang dilontarkan secara berturut-turut. Begitu cepat serangannya itu, sehingga tubuh Sindung Riwut berkelebatan tak ubah raksasa menggunturi pintu kahyangan para dewa. Kali ini, Sangaji benar-benar repot. Ia tak dapat main mengelak lagi. Dalam kegugupannya, tiba-tiba baju lengannya kena sobek. Bret! Gesit ia melompat ke samping. Namun tak urung lengannya nampak terkena cakaran yang segera mengeluarkan darah bertetesan. Melihat Sangaji terluka, para pendekar di pihak penyerbu bersorak mengguntur. Sebaliknya terdengarlah suara Andangkara cemas. "Anak muda! Kukunya mengandung racun jahat!" Mendengar disebutnya racun jahat, Manik Angkeran memekik terkejut. Tanpa memedulikan akibatnya, ia terus masuk gelanggang sambil berseru: "Kau harus berhati-hati! Apakah ... apakah...." Hati Sangaji terguncang. Katanya di dalam hati, tunangan Fatimah ini benar-benar seorang pemuda yang baik hati. Ia begitu memperhatikan diriku.... Manik Angkeran tak tahu, bahwa di dalam diri Sangaji mengalir getah sakti Dewadaru yang kebal dari sekalian racun atau bisa di dunia. Itulah sebabnya, ia tak merasakan akibat cengkeraman beracun itu. Malahan darah yang merembes ke luar mendadak saja berhenti mengalir. Rasa pedih pun lenyap pula. "Lekaslah keluar! Serangan cengkeraman Gumbala Geni bukan main bahayanya," katanya dengan tersenyum. Dan melihat Sangaji tersenyum serta yakin bahwa racun Sindung Riwut tidak mempengaruhi dirinya, dengan tenang Manik Angkeran kembali ke tempatnya. Kiranya Sangaji tadi sudah berusaha sedapatnya untuk menghindari serangan berondongan yang selama hidupnya belum pernah dilihatnya. Mendadak ia melihat Sindung Riwut mulai bergerak lagi. Rupa-rupanya pendekar tua itu tidak sudi kehilangan kesempatan bagus. Begitu melihat Sangaji sedang berbicara dengan Manik Angkeran, ia terus menyambar. Keruan saja hati Sangaji tercekat. Untuk membebaskan Manik Angkeran dari sasaran serangan lawan, cepat ia melesat mundur ke arah lain. Benar saja. Sindung Riwut terus mengubernya. Dengan demikian, Manik Angkeran dapat diselamatkan. Mereka bertarung secara aneh sekali seakan-akan kanak-kanak bermain petak. Yang satu menubruk dari depan dan yang lain melompat mundur. Gerakan menubruk dari depan lebih mudah dan lebih leluasa dilakukan. Sebaliknya gerakan meloncat mundur, dua kali lebih sulit. Meskipun demikian, tak pernah lagi Sindung Riwut berhasil menyentuh tubuhnya. Maka teranglah siapa yang lebih unggul dalam hal mengadu kegesitan. Sebenarnya Sangaji dapat dengan mudah lari menghindari. Asal saja ia terus melesat lari menjauhi. Tetapi wataknya yang asli tidak mengizinkan. Itulah watak yang terus-terang. Watak yang senantiasa berhadap-hadapan dalam menghadapi tiap persoalan betapa sulitpun. Kecuali itu, pengamatannya akan hilang, apabila terus lari menghindari. Itulah sebabnya pula, lompatannya ke belakang hanya sejauh dua tiga langkah. Matanya tak pernah beralih dari tipu muslihat gerakan lawan. Bagi mata para ahli tahulah sudah, bahwa Sangaji sedang menyelami ilmu Gumbala Geni sampai ke dasarnya. Sesungguhnya ilmu sakti pukulan Gumbala Geni mempunyai 47 jurus. Gaya pukulannya tidak banyak keragamannya. Inti gerakannya berdasarkan pada kecepatan dan tenaga. Sederhana nampaknya, tetapi sebenarnya dahsyat bukan kepalang. Karena gerakan kaki dan tipu muslihatnya memenuhi bidang gerak. Selama hidupnya, Sindung Riwut belum pernah menghancurkan lawan lebih dari enam belas jurus. Itulah sebabnya, ia terkenal di seluruh Jawa Barat sebagai hantu yang memiliki pukulan maut tak terlawan. Tak pernah terlintas dalam benaknya, bahwa untuk melawan seorang lawan yang muda belia dia sudah hampir menghabiskan ke 47 jurusnya. Namun satu juruspun tidak pernah dapat menyentuh tubuhnya. Dalam kemendongkolannya ia berpikir dalam hati, pemuda ini hanya mengadu kegesitannya belaka. Coba dia berani-bertarung dengan berhadap-hadapan, masakan dia sanggup bertahan sampai 20 jurus saja. Aku ingin melihat. Dalam pada itu, Sangaji sudah memperoleh pegangan kini. Tatkala Sindung Riwut terpaksa mengulangi jurusnya yang pertama, tahulah dia bahwa jurus pukulan sakti Gumbala Geni hanya berjumlah 47 jurus. Ia kini bukan lagi Sangaji pada zaman berguru kepada Jaga Saradenta dan Gagak Seta. Otaknya sudah berubah cerdas luar biasa. Apa yang dilihatnya dengan tak disadarinya sendiri terus saja sudah dapat menangkap intinya dan malahan sanggup menirukan gerakannya sampai sekecil-kecilnya. Meskipun demikian masih saja ia ragu-ragu hendak memutuskan cara mengadakan perlawanan yang tepat. Pikirnya dalam hati, kalau aku hendak mencabut nyawanya gampangnya seperti membalikkan tanganku sendiri. Tetapi bila aku berbuat demikian, aku akan gagal mempersatukan mereka. Malahan bisa-bisa aku justru menanamkan bibit dendam yang akan jadi berlarut-larut. Selagi ia dalam keragu-raguan didengarnya Sindung Riwut membentak.. "Anak muda! Kau cuma bisa mengelak untuk menyelamatkan diri. Ini namanya bukan bertanding." Sangaji hendak menyahut, tiba-tiba Sindung Riwut menyerangnya dahsyat. Tahulah Sangaji, bahwa Sindung Riwut mencoba memancingnya agar berbicara. Sebab berbicara merupakan suatu pantangan besar bagi seorang yang lagi bertanding. Setidak-tidaknya bisa lengah. Tapi Sangaji justru tersenyum, berkata seenaknya: "Apakah kau menghendaki aku melawanmu sungguh-sungguh? Kalau aku menang apakah taruhannya?" Sambil berkata-kata, Sangaji tetap mengelak tiap serangan Sindung Riwut dengan gesit serta tangkas. Mau tak mau Sindung Riwut terpaksa memuji dalam hati. Katanya, "Kau memang gesit. Tapi dalam hal mengadu pukulan kau takkan menang." "Belum tentu. Paling tidak, tenagaku lebih muda dari padamu." "Bagus! Jika aku kalah, aku akan membunuh diri di depanmu, atau kau boleh mencincang aku sekehendak hatimu." "Ah, aku tak berani bertaruh begitu," sahut Sangaji cepat. "Begini saja, bila kau kalah kau harus membawa rekan-rekanmu turun gunung. Dan habisi permusuhanmu dengan pihak Himpunan Sangkuriang." "Urusan ini bukan berada di tanganku. Itulah Alang-alang Cakrasasmita. Dialah yang memegang pucuk pimpinan. Aku hanya bisa mempertanggung jawabkan diriku sendiri. Ah anak muda! Bagaimana kau sampai berani bilang, bahwa aku bisa kaukalahkan?" Sangaji mengerenyitkan dahi mencari akal. Tiba-tiba timbullah keputusannya. Katanya di dalam hati, biarlah aku mengandalkan ilmu sakti keris Kyai Tunggulmanik. Aku ingin merasakan sendiri, apakah guratan keris Kyai Tunggulmanik berisikan pula rahasia ilmu sakti Gumbala Geni. Dan setelah berpikir demikian ia berkata, "Kakek Sindung Riwut! Sudah kukatakan tadi kepada murid-muridmu, bahwa jauh-jauh aku akan melarikan diri manakala aku bertemu dengan seorang yang sudah memiliki inti tenaga sakti ilmu Gumbala Geni dengan sempurna. Tetapi, maaf Kakek Sindung Riwut walaupun sudah mencapai tingkat kesempurnaan, tetapi belum sempurna benar-benar. Karena itu masih banyak terdapat kelemahannya." "Bagus," bentak Sindung Riwut mendongkol. "Jika kau dapat mematahkan setiap jurus seranganku, aku akan menutup perguruanku. Dan selamanya aku takkan muncul lagi dalam percaturan masyarakat." "Itupun tak perlu," kata Sangaji. la tahu maksud Sindung Riwut hendak menutup perguruannya. Lantaran selama hidupnya mengagul-agulkan ilmu saktinya Gumbala Geni sebagai suatu ilmu sakti yang tiada tandingnya dalam jagat ini. Tak tahunya, justru di depan murid-muridnya ia kena dipermainkan oleh seorang pemuda, sehingga kegarangan Gumbala Geni seakan-akan hilang dayanya. Tetapi Sangaji adalah seorang pemuda yang halus budi. Untuk mengalihkan perhatian penonton, tiba-tiba ia menjejak tanah dan melesat tinggi di udara. Kemudian berputar-putar sampai empat lima kali dan setiap kali berputar tubuhnya mendaki lebih tinggi lagi. Setelah itu dengan mendadak pula ia menukik ke bawah dan turun ke bumi dengan gerakan yang enteng sekali. Saking takjubnya, penonton sampai terpaku. Malah dalam cerita anak-anak, rata-rata mereka pernah mendengar tentang seorang sakti yang bisa melesat ke udara dengan berputar-putar tak ubah burung dara. Tetapi setelah menjadi dewasa dengan demikian sima dari ingatannya. Tak tahunya, hari itu mereka menyaksikan dengan mata kepala sendiri. Seumpama tidak, mereka takkan percaya selama hidupnya. Sebab di jagat ini tiada seorangpun dapat berlatih sampai mencapai ilmu kepandaian demikian. Maka setelah terpaku beberapa saat lamanya, mereka berso-rak gemuruh seperti tersontakkan. Tubagus Simuntang yang selama hidupnya membanggakan diri sebagai manusia paling cepat bergerak dan ilmu meletiknya ke udara tiada yang membandingi di seluruh nusantara, mau tak mau terpaksa menghela napas oleh rasa kagumnya yang tak terhingga begitu menyaksikan kesanggupan Sangaji. Dan begitu Sangaji turun ke tanah, Sindung Riwut sudah memburunya. Kali ini ia tak mau menyerang seperti tadi. Setelah menatap wajah Sangaji, lalu berkata tenang: "Nah, anak muda! Sekarang kita mulai bertanding mengadu ilmu pukulan, bukan?" "Silakan!" sahut Sangaji. "Pasti pula kau takkan main mundur, bukan?" "Tidak," sahut Sangaji dengan tersenyum. "Kalau aku sampai mundur meski hanya selangkah, nyatakan aku kalah." Tatang Sontani dan rekan-rekannya meskipun masih saja belum bisa bergerak, namun panca inderanya tetap bekerja seperti sediakala. Mereka adalah gembong-gembong yang terlalu besar keyakinannya kepada kemampuan diri sendiri. Tapi begitu mendengar ucapan Sangaji, mereka kaget. Mereka kenal tentang kehebatan serta kedahsyatan pukulan ilmu sakti Gumbala Geni. Apalagi dimainkan sendiri oleh cikal bakalnya di Jawa Barat. Meskipun ilmu kepandaian Sangaji nampak lain daripada yang lain, namun masakan tidak akan mengalami langkah mundur dalam suatu gebrakan seru? Untung, pada saat itu terdengarlah ucapan Sindung Riwut. "Itupun tak perlu. Aku hanya ingin menguji saja. Ingin membuktikan kebenaran ucapanmu. Apabila aku kalah. Biarlah aku kalah. Pabila menang itupun sudah sewajarnya." Setelah berkata demikian, dengan menggerung ia menubruk. "Awas!" serunya. Segera ia menyerang pundak dengan cengkeraman tangan kanan, sedangkan tangan kiri meliuk menubruk dada. Di luar dugaan siapa saja, tiba-tiba Sangajipun bergerak serupa pula. Tetapi ia menyerang pundak Sindung Riwut dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menangkap tangan Sindung Riwut yang meliuk menubruk dada. Dengan demikian gerakannya terbalik, namun jurusnya sama. Dan anehnya, sebelum tangan kanan Sindung Riwut tiba pada sasarannya, tangan Sangaji sudah mencakar kepala Sindung Riwut. Sindung Riwut kaget bukan kepalang. Tahu-tahu tangannya tergetar timbunan tenaga ilmu sakti Gumbala Geni sirna dengan mendadak. la sudah menutup mata, tatkala melihat berkelebatnya tangan Sangaji hendak mencengkeram ubun-ubunnya. Di luar dugaan, Sangaji justru menarik tangannya yang sudah hampir tiba pada sasarannya yang cepat. Sindung Riwut tertegun sejenak. Lalu dengan kecepatan yang tak terduga, kedua tangannya mencengkeram kedua pelipis Sangaji. Tetapi Sangaji tetap menirukan pula. Sudah barang tentu, gerakannya lebih lambat daripada gerakan Sindung Riwut. Namun yang mengherankan datangnya lebih cepat beberapa detik daripada cengkerman Sindung Riwut. Dan kedua pelipis Sindung Riwut tiba-tiba sudah kena tersentuh. Pelipis merupakan bagian tubuh yang mematikan bilamana kena tembus. Dalam suatu pertarungan, bilamana pelipis sampai kena terserang, maka tiada harapan lagi untuk bisa ditolong. Dia akan tewas pada saat itu juga. Akan tetapi Sangaji hanya mengusap saja. Setelah itu, tangannya meliuk ke belakang tengkuk seolah-olah hendak mengancam batang leher. Tatkala pelipisnya kena teraba Sangaji, Sindung Riwut sudah tertegun lagi. Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya tangan Sangaji hendak mengancam tengkuknya. Cepat ia meloncat mundur sambil membentak: "Hai! Darimanakah engkau mengenal pukulan ilmu sakti Gumbala Geni...?" Dengan menunjuk dadanya, Sangaji menjawab: "Dari sini." Sebenarnya jawaban Sangaji jujur. Ia menunjuk tepat di tengah dadanya. Maksudnya, di dalam dirinya mengalir rasa sarwa sakti manunggalnya guratan rahasia keris Kyai Tunggulmanik dan ilmu-ilmu sakti lainnya yang pernah dipelajarinya. Tetapi Sindung Riwut menganggap menghinanya. Dengan garang ia membentak lagi. "Bagus! Kalau begitu jangan salahkan aku." Setelah membentak demikian, ia memberondongi serentetan serangan. Tetapi seperti tadi Sangajipun bergerak serupa pula dan tibanya lebih cepat pada sasarannya. Dengan gemas Sindung Riwut kini mengadakan jebakan. Ia menyerang kembali dengan dua jurus sekaligus. Jurus 47 dan jurus 14. Dua jurus yang bertentangan. Lemah nampaknya, tapi sesungguhnya mengandung jebakan. Ternyata jebakannya membawa hasil. Tiba-tiba Sangaji melangkah maju dan menirukan gaya jurus tersebut setelah meliuk ke kiri, badannya nyelonong masuk dan tangannya dengan cepat menerkam dada Sindung Riwut. Buru-buru Sindung Riwut mundur selangkah, agar diburu. Benar saja, Sangaji menubruk maju. Girang Sindung Riwut membatin, kau setan cilik! Sekarang tiba saatmu kau termakan jebakanku. Ia menarik serangan Sangaji lebih ke dalam. Mendadak kedua tangannya menghantam kedua siku Sangaji dengan tenaga sedahsyat-dahsyatnya. Untung-untungan, kalau tepat kedua lengan Sangaji akan terlepas dari tulang sambungnya. Kalau tertangkis, paling tidak akan patahlah pergelangan tangan Sangaji. Tak pernah terduga, bahwa di dalam diri Sangaji mengalirlah getah sakti Dewadaru yang mempunyai sifat menghisap. Begitu cengkeraman Sindung Riwut menyambar siku Sangaji, tiba-tiba saja kena sedot. Dan tenaga pukulannya sima dengan begitu saja. Keruan saja ia kaget setengah mati. Dan berbareng dengan kesadarannya, tangan Sangaji sudah meraba dada dan tengkuknya. lnilah tempat mematikan. Tetapi Sangaji tidak meneruskan serangannya. la menarik kedua tangannya kembali dengan sikap menunggu. Sindung Riwut benar-benar menjadi putus asa. Berpuluh tahun ia berlatih. Berkalikali ia menang dalam suatu pertarungan di mana saja dia berada. Namun menghadapi seorang pemuda yang mengenal ilmu Gumbala Geni pula, latihannya selama itu tiada gunanya sama sekali. la mati kutu benar-benar. Maka dengan suara tertahan-tahan ia berkata setengah berbisik, "Anak muda...! Ilmu kepandaianmu ternyata jauh berada di atasku." Setelah berkata demikian, kedua tangannya menghantam kepalanya sendiri. Tetapi belum lagi dapat meraba rambutnya, kedua lengannya runtuh lunglai. Sekali lagi ia kalah cepat dengan gerakan tangan Sangaji yang mencegah perbuatannya hendak bunuh diri. "Ilmu sakti Gumbala Geni siapakah yang dapat mengatasi kehebatannya," kata Sangaji dengan nyaring. "Kalau aku tidak melawannya dengan ilmu Gumbala Geni pula, tak bakal aku menang. Sebab sesungguhnya, ilmu Gumbala Geni merupakan pukulan yang paling tinggi di atas dunia ini." Mendengar ucapan Sangaji, celeret cahaya bergelimang pada wajah Sindung Riwut. Maklumlah, ia kalah di depan hidung murid-muridnya sendiri. Dan yang terhebat, lebih-lebih di depan para pendekar ia bersumpah akan menutup perguruannya. Di luar dugaan, Sangaji malahan memuji keunggulan ilmu sakti Gumbala Geni yang diagul-agulkan. Keruan saja, di dalam hatinya tumbuhlah rasa terima kasih tak terhingga besarnya. Oleh rasa harunya, air matanya hampir saja terbintik ke luar. Cepat-cepat ia berkata, "Anak muda! Perkenankan aku mengagumi keluhuran serta kemuliaan hatimu. Sekarang aku akan membawa murid-muridku. Aku tak peduli lagi, mereka akan mengatakan apa kepadaku. Lantaran terbukti engkaulah yang memelihara kelangsungan hidup kami. Terima kasih." Sindung Riwut benar-benar membuktikan ucapannya. Setelah kembali ke tempatnya, segera memerintahkan murid-muridnya agar turun gunung. Mendadak saja terdengarlah suara melengking. "Sindung Riwut! Bagaimana ini?" "Bagaimana ini?" potong Sindung Riwut. "Aku sudah dikalahkan. Mau apa lagi?" "Bagus! Kau akan lari turun gunung tanpa izin Alang-alang Cakrasasmita. Benar-benar kau melanggar sumpah." "Aku hanya berikrar dalam penggerebegan ini. Tapi Sindung Riwut bukan di bawah perintah Alang-alang Cakrasasmita. Apakah dia bermaksud menghalang-halangi aku? Boleh coba!" Edoh Permanasari tak meladeni lagi. Ia hanya tertawa dingin. Kemudian dengan membawa pedang Sangga Buwana yang tajamnya tiada bandingnya di jagat ini, masuklah ia ke gelanggang. "Kusuma Winata!" katanya lagi. "Apakah kau tidak mencoba-coba kekuatan bocah ini?" Dengan membungkuk hormat Kusuma Winata menjawab, "Tadi aku sudah dikalahkan raja muda Andangkara. Dengan sendirinya, kami anak murid Mandalagiri tidak berhak lagi terjun ke gelanggang." "Hm," dengus Edoh Permanasari dengan wajah masam. Melihat wajah Edoh Permanasari, hati Wijaya merasa tidak enak. Ia menaruh hati terhadap Ida Kusuma. Kalau ingin merebut hati Ida Kusuma, terlebih dahulu ia berkewajiban mencuri hati Edoh Permanasari. Maka diam-diam ia berpikir, meskipun kepandaian Edoh Permanasari adalah warisan Ratu Fatimah, tetapi takkan melebihi kepandaian kakak Kusuma Winata atau Sindung Riwut. Kalau dia kalah, bukankah kita semua ikut terjungkal habis-habisan? Biarlah aku mencobanya dahulu. Setelah berpikir demikian, ia masuk ke gelanggang seraya mengencangkan ikat pinggangnya. Berkata keras, "Bibi! Biarlah kami berlima mencoba-coba kepandaian pemuda terlebih dahulu. Kemudian baru bibi. Pastilah bibi akan dapat memenangkan pertandingan ini dengan mudah." Edoh Permanasari tahu maksudnya. Meskipun Sangaji mempunyai tenaga sakti bagaikan gelombang yang tiada habis-habisnya, namun apabila dipaksa berkelahi secara bergiliran masakan tidak letih? Dengan pedang pusaka Sangga Buwana di tangan, pastilah dia dapat menghabisi jiwa Sangaji dengan mudah. Tetapi Edoh Permanasari adalah seorang wanita yang angkuh. Katanya, "Terima kasih! Selamanya kami biasa hidup berdiri sendiri. Seumpama aku menang, apakah arti menang melawan seorang lawan yang keletihan? Rasanya kurang menyenangkan. Silakan mundur." Pernyataan Edoh Permanasari ini di luar dugaan Wijaya. lapun lantas tak berani membantah. Demikianlah, maka dengan pedang terhunus Edoh Permanasari menghampiri Sangaji.

Banyaklah sudah anggota-anggota Himpunan Sangkuriang yang tewas oleh pedang Sangga Buwana itu. Maka begitu pedang Sangga Buwana nampak di mata mereka, terdengarlah suara kemurkaan mereka. Sidi Mantera yang benci benar pada pendekar wanita itu, terus saja mengutuk kalang-kabut. Hanya Inu Kertapati dan Kamarudin saja yang menutup mulut. Diam-diam mereka menghela napas. "Kalian ribut-ribut apa perlu?" bentak Edoh Permanasari. "Tunggulah barang sebentar! Kalau aku sudah membereskan bocah ini, nah barulah datang giliran kalian menyusul ke neraka. Sekarang tenang-tenanglah dulu!" "Huuuu... siapa kesudian mendengarkan ocehan nona tuaaa..." Mereka menyahut beramai-ramai. Rupanya mereka semua kenal siapa Edoh Permanasari. Dan pendekar wanita itu paling benci manakala diejek sebagai nona tua. Maka tak mengherankan, bahwa wajahnya jadi beringas. Dalam pada itu, Sangaji sadar bahwa pedang Sangga Buwana memang sangat susah untuk dilawan. Kecuali ada niatnya hendak mengambil jiwa pemiliknya. Dan hal itu tidaklah diinginkannya, meskipun ia mempunyai kesan buruk terhadap Edoh Permanasari. "Hai anak muda! Kau ambillah senjatamu! Lebih cepat, lebih baik," bentak Edoh Permanasari tak sabar. Dan sekali lagi penonton di pihak Himpunan Sangkuriang menyahut haaaa atau huuu karena rasa dengkinya. "Aku tidak mempunyai senjata apa pun sahut Sangaji." Dan oleh jawaban Sangaji, suasana gelanggang menjadi hening sejenak. Tiba-tiba terdengarlah Andangkara menarik pedang pusakanya perlahan-lahan dari sarungnya. Kemudian berkata, "Pedang ini adalah pedang warisan leluhur kami. Namanya Tunjungbiru. Itulah sebabnya, kakakku menggunakan nama pedang ini sebagai suatu pernyataan berbakti. Nah, pakailah anak muda. Memang ia kalah tajam daripada Sangga Buwana. Walaupun demikian, termasuk pula pedang yang tiada duanya di Jawa Barat." Setelah berkata demikian, ia mementil pedang Tunjungbiru. Cring! Pedang itu memantul melengkung lantas tegak lurus. Suaranya nyaring tak ubah sebuah rencong. Dengan sangat hormat, Sangaji menerima pedang Tunjungbiru seraya berkata, "Terima kasih, Aki." "Sudah belasan tahun, pedang ini berada di pinggangku. Selama berhamba padaku, entah sudah berapa puluh manusia rendah dan jahat terbunuh olehnya," kata Andangkara dengan tertawa melalui dada. "Hari ini, mudah-mudahan dia berkesempatan pula mereguk darah nona tua. Kalau berhasil, matipun aku akan rela sampai ke dasar hatiku." "Mudah-mudahan, aku dapat memenuhi harapan Aki," sahut Sangaji. la terus menyabetkan pedang Tunjungbiru dan menghadap Edoh Permanasari. Memang dalam hati, ia sudah gemas melihat wanita itu. Dahulu menurut suara hatinya, pernah ia menantang Edoh Permanasari tatkala pendekar wanita itu membakar sebuah perkampungan nelayan. Kini dengan mata menyala ia menentang wajah Edoh Permanasari. Lalu berkata, "Ilmu pedang warisan Ratu Fatimah, pastilah merupakan ilmu pedang yang tiada terlawan. Sesungguhnya tak berani aku melawan engkau. Tetapi kau sudah menantang aku, maka terpaksalah aku melayanimu sebisa-bisaku. Mudah-mudahan arwah Rostika membantu aku dari angkasa." Mendengar Sangaji menyebut nama Rostika, hati Edoh Permanasari tercekat sampai alisnya berdiri tegak. "Kau bicara apa?" ia menegas. Belum lagi Sangaji menjawab, tiba-tiba terdengar Sidi Mantera berteriak nyaring, "Hai Edoh! Kalau kau berani, coba lawan dengan bertangan kosong!" Dan Inu Kertapati yang semenjak tadi berdiam diri, akhirnya tak kuat juga menahan hati. Terus menyambung, "Ilmu kepandaian apa sih yang hendak dipamerkan? Paling-paling cuma mengandalkan pedangnya melulu." "Atau begini saja," sahut Sidi Mantera. Pendekar ini memang muak terhadap Edoh Permanasari. "Tukar pedang Sangga Buwana dengan pedang pusaka lainnya. Sekarang boleh bertanding dengan saudara Sangaji. Kalau sampai bisa melampaui tiga jurus, aku boleh mencarikan jodohnya si nona tua itu." "Apa? Tiga jurus. Mana bisa sampai tiga jurus? Sejuruspun takkan mampu," sambung yang lain. Bukan main mendongkolnya Edoh Permanasari. Dengan tak sabar lagi, ia terus meng: gertak, "Hayo, seranglah!" Sangaji sendiri, resminya tak pernah belajar ilmu pedang. Sekarang ia disuruh menyerang. Karuan saja ia jadi ragu-ragu. Mendadak teringatlah dia kepada ilmu pedang paman gurunya, Suryaningrat yang mahir memainkan ilmu pedang Mayangga Seta. Maka terus saja ia menusuk ke depan sambil menggetarkan ujungnya. Hebat akibatnya. Karena tenaga saktinya luar biasa kuat, pedang Tanjungbiru yang bersifat keras lembek mendadak menggaung memperdengarkan kegarangannya. Karuan saja, Edoh Permanasari kaget setengah mati. Gesit ia melompat ke samping sambil berpikir di dalam hati, untung aku membawa pedang Sangga Buwana. Tak kusangka pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian banyak sekali ragamnya. Kalau begitu, aku tak boleh berayal lagi. Tiap kesempatan harus kugunakan untuk membabat pedangnya. Benar saja. Dengan menggerakkan tangkai pedangnya, Sangga Buwana terus menikam perut Sangaji. Sangaji terkejut. Cepat ia mengelak ke samping. Tahu-tahu ujung pedang Sangga Buwana sudah mengancam tenggorokan. Memang sesungguhnya ilmu pedang warisan Ratu Fatimah bukan suatu ilmu sembarangan. Karena kecerdikan serta kelicikan Ratu Fatimah, ilmu pedangnya merupakan puncak-puncak gabungan ilmu pedang di seluruh Jawa Barat ). Tak mengherankan, bahwa tiap gerakannya merupakan puncak tipu muslihat yang tinggi nilainya. Diancam begitu mendadak sedangkan baru saja mengelak, Sangaji kaget setengah mati. Dalam seribu kerepotannya, ia mengendap lalu menjatuhkan diri dengan bergulingan. Tetapi baru saja ia hendak bangkit, kembali lagi pedang Sangga Buwana sudah mengancam punggungnya. Dalam sekilas pandang, ia melihat berkelebatnya pedang menetak pinggangnya. Sadarlah dia, bahwa dirinya dalam bahaya. Tanpa berpikir lagi, ujung kakinya menjejak tanah. Sekaligus meletiklah ia dan terbang miring melewati garis tebasan. Gerakan itu dilakukan dalam keadaan yang tak mungkin dapat dilakukan orang lain. Selagi kaum Himpunan Sangkuriang hendak bersorak memuji, sekonyong-konyong Edoh Permanasari melesat pula ke udara berbareng menyabetkan pedangnya membabat pinggang. Benar-benar Sangaji dalam bahaya. la belum lagi turun ke tanah dan sama sekali tak diduganya bahwa Edoh Permanasari akan mengubernya dengan melesat ke udara pula. Sekarang terjadilah suatu keajaiban. Ilmu keris sakti Kyai Tunggulmanik mengadakan reaksi lantaran rasa hati Sangaji yang terkejut bukan kepalang. Mendadak saja dengan menukik, ujung pedang Tunjungbiru menumbuk pedang Sangga Buwana dan tubuh Sangaji terus dipentalkan ke udara lagi. Akan tetapi Edoh Permanasari tidak mengenal ampun. la melompat maju pula mencegah turunnya Sangaji ke tanah. Begitu Sangaji turun dari udara, cepat ia menyerang lagi dengan suatu tikaman berbareng membabat. Melihat bahaya yang ketiga kalinya, Sangaji terpaksa menangkis dengan pedangnya. Tahu-tahu pedang Tunjungbiru tinggal separoh. Sedetik itu pula tangan kirinya menghantam. Suatu tenaga dahsyat menindih dada Edoh Permanasari dari atas. Ia seperti melesak. Gerakannya macet. Namun wataknya yang bandel masih saja bisa membabatkan pedang Sangga Buwana sekenanya. Untung Sangaji dapat bertindak lebih cepat lagi. Kutungan pedang Tunjungbiru lantas disambitkan dan tepat mengenai ujung pedang Sangga Buwana. Dia sendiri terus melesat menjauhi. Kena sambitan kutungan pedang, lengan Edoh Permanasari terasa pegal luar biasa. Hampir saja Sangga Buwana terpental dari genggamannya. Benar-benar ia terkejut. Dengan sekali pandang ia melihat Sangaji sudah berada sepuluh langkah jauhnya dengan menimang-nimang kutungan pedangnya. Rupanya begitu kutungan pedang terpental dari ujung pedang Sangga Buwana, Sangaji menyambarnya kembali berbareng dengan melesat menjauhi. Gebrakan itu hanya terjadi sekejapan saja. Namun bahayanya jauh melebihi pertarungan yang lampau. Dengan gerakan kilat Edoh Permanasari sudah memberondongi Sangaji dengan sembilan serangan yang dilakukan tanpa mengenai ampun. Tetapi semuanya dapat dipecahkan Sangaji dalam keadaan buruk. Setiap kali ia seperti lolos dari lubang jarum. Andangkara Tatang Sontani dan gembong-gembong lainnya yang mengikuti gebrakan kilat itu semuanya menahan napas dengan rasa kagum. Itulah pertarungan luar biasa cepatnya. Yang menyerang cepat dan yang diserang cepat pula. Setiap kali melihat betapa kedudukan Sangaji sangat sulit, mereka menahan napas. Dan apabila ternyata masih saja bisa luput dari serangan yang bertubi-tubi datangnya, dengan serentak mereka melepaskan napas lega. Tapi tak urung keringat dinginnya membasahi tubuhnya. Sekarang mereka melihat Sangaji sudah berdiri jauh dengan tak kurang suatu apa. Saking kagumnya, mereka bersorak memuji. Dan soraknya disambung seluruh pasukan Himpunan Sangkuriang dengan riuh rendah. Sembilan kali serangan. Dan Sangaji berada di pihak yang diserang. Sama sekali tak membalas. Malahan pedangnya kutung menjadi dua potong. Jelaslah sudah, bahwa dalam gebrakan itu ia telah kalah. Tetapi dia tadi dapat menahan serangan berondongan dengan menghantam ujung Sangga Buwana sampai Edoh Permanasari membungkuk-bungkuk kena ditahan suatu tenaga dahsyat. Dengan demikian apabila dia mau membalas pastilah ia takkan kena desak lagi. Sudah barang tentu, penilaian yang benar hanya ada pada Edoh Permanasari. Untuk pertama kali itulah ia bertempur dengan sungguh-sungguh. la sudah memberondong sembilan kali dengan menggunakan puncak-puncak jurus ilmu pedangnya, namun masih saja belum mengenal sasarannya. Diam-diam ia heran. Dasar ia seorang wanita yang angkuh, maka lantas berkata: "Pergilah, cari senjata yang lain. Tak mau aku menang dengan mengandalkan pedang." Sekarang pihak Himpunan Sangkuriang tak lagi berani melontarkan kata-kata ejekan. Melihat betapa tangguh Edoh Permanasari, mereka malahan jadi prihatin. Sangaji sendiri tidak menyahut. Dengan berdiam diri ia merenungi pedang pusaka Tunjungbiru. Pikirnya, benar-benar aku mengecewakan hati Aki Andangkara. Pedang ini menjadi pusaka turun temurun. Tapi akhirnya kutung di tanganku.... Tiba-tiba terdengarlah suara Andangkara yang didahului dengan gelak tertawa. "Pedang patah di dalam suatu pertarungan, apakah yang harus disayangkan?" Sangaji menoleh. Sewaktu hendak membuka mulut, Otong Surawijaya berteriak nyaring, "Aku mempunyai sebatang luwuk  pusaka. Pakailah! Mudah-mudahan jahanam itu tumpas oleh golokku." "Tetapi pedang Sangga Buwana terlalu tajam. Golok Paman akan rusak pula." "Biar kutung menjadi beberapa potong, apalah artinya? Kalau kau kalah, bukankah kita semua bakal mampus? Ambillah!" * Benar juga, pikir Sangaji. Lalu ia maju menerima golok pusaka Otong Surawijaya. "Saudara Sangaji," bisik Tatang Sontani. "Pedang Edoh Permanasari sangat tajam. Karena itu jangan biarkan dirimu kena serang. Sebaliknya engkau harus menyerangnya terlebih dahulu." Mendengar Tatang Sontani menyebut namanya, Sangaji tercengang sejenak. Setelah dipikirpikir sadarlah dia. la tadi sudah memperkenalkan namanya, rupanya Tatang Sontani merasukkan ke dalam ingatannya. Melihat betapa pendekar itu masih tak bisa berkutik akibat kena racun Suryakusumah tapi masih sudi mengingatingat namanya, timbullah rasa senang dalam hati Sangaji. Maka dengan membungkuk ia menyahut, "Terima kasih atas petunjuk Paman." "Gunakan kecepatanmu bergerak. Kegesitanmu takkan terlawan oleh siapapun juga," bisik Tubagus Simuntang. Teringat betapa Tubagus Simuntang pernah mempermainkan Edoh Permanasari, hati Sangaji jadi girang. Dengan serta merta ia menyahut, "Terima kasih atas saran Paman." Tatang Sontani, Dadang Wirahata dan Tubagus Simuntang adalah tokoh-tokoh Himpunan Sangkuriang yang berkepandaian tinggi. Benar mereka semua dalam keadaan lumpuh tetapi panca inderanya bekerja seperti sediakala. Dengan sendirinya pengamatannya sebagai seorang ahli tidaklah luput. Seumpama mereka dalam keadaan segar bugar, kepandaiannya malah lebih tinggi daripada Edoh Permanasari. Sayang, mereka kena serangan gelap justru pada saat menghadapi mati hidupnya Himpunan Sangkuriang. Demikianlah setelah menggenggam golok pusaka Sangaji kembali ke tengah gelanggang dengan hati besar. Ia sudah berlatih dengan pedang Sokayana yang beratnya lebih dari 100 kati. Dengan sendirinya golok pusaka Otong Surawijaya yang mempunyai berat kurang dari 50 kati, bukan menjadi suatu halangan baginya. Dalam hati sudah timbul suatu keputusan, takkan membiarkan golok Otong Sarawijaya terkutung seperti pedang Tunjungbiru. Segera ia menghimpun tenaga saktinya. "Bagus!" sahut Edoh Permanasari. "Awas! Aku mulai menyerang," Sangaji memberi peringatan. Sehabis berkata demikian, tiba-tiba tubuhnya kelepat dan hilang dari pengamatan. Bukan main kagetnya Edoh Permanasari. Belum lagi ia sempat memutar badannya, Sangaji sudah berada di sampingnya. Cepat ia membalik dan berputar ke kiri. Tetapi Sangaji sudah berada di sebelah kanan. Lalu kembali lagi berputar ke kiri dan menyelonong ke belakang sambil memberondongi serangan dua kali berturut-turut. Gugup Edoh Permanasari menangkis sekenanya. Ia hanya mengandalkan ketajaman pedangnya. Maka ia hanya membabat saja. Tatkala melihat berkelebatannya tubuh Sangaji, ia mencoba menyerang. Namun kembali lagi tubuh Sangaji lenyap dari pengamatannya. Dahulu saja sewaktu mengkhawatirkan keadaan Padepokan Gunung Damar ia menang cepat daripada Ki Hajar Karangpartdan yang memiliki ilmu berlari sepi angin. Apalagi kini, sesudah mempunyai waktu untuk berlatih. Maka di bawah sorak-sorai bergemuruh, tubuhnya berkelebatan tak ubah kilat. Ia datang menjauh untuk kemudian lenyap tak karuan tempatnya. Jangan lagi Edoh Permanasari, Tubagus Simuntang sendiri kagum luar biasa dan merasa diri tak mampu menandingi. Edoh Permanasari bingung bukan main dikocak demikian. Karena bingungnya ia membacok serabutan. Namun bayangan Sangaji sama sekali tak dapat disentuhnya. Lantaran cepatnya, bayangannya nampak pecah menjadi berpuluh-puluh sehingga mata Edoh Permanasari menjadi kabur. Gebrakan dalam babak kedua ini, jatuh sebaliknya. Kalau tadi Sangaji menjadi pihak yang diserang, kini Edoh Permanasari yang menjadi bulan-bulanan tanpa dapat mengadakan serangan balasan biar selintaspun. Sayang Sangaji agak jeri dengan pedang Sangga Buwana, sehingga tidak berani mendekati Edoh Permanasari. la khawatir terpaksa menangkis babatan Edoh Permanasari meskipun dilakukan dengan serabutan. Dalam hati, tak mau lagi ia sampai mengutungkan golok Otong Surawijaya. Dengan demikian, terpaksalah ia melancarkan serangan dari jauh saja. Tubuhnya tak ubah seekor burung seriti menyambar belalang. Melihat gelagat buruk, Suwega murid Edoh Permanasari segera berteriak nyaring, "Saudara-saudara! Mari kita serbu sisa Himpunan Sangkuriang! Tunggu apa lagi?" Mendengar seruan itu, rekan-rekan seperguruannya tersadar dengan sekaligus. Lantas saja mereka menghunus pedangnya masing-masing. Kemudian bergerak menyeberang gelanggang. Melihat gerakan itu, kaum Himpunan Sangkuriang jadi gempar. Namun mereka tak bergerak dari tempatnya, seolah-olah bersedia menerima mautnya dengan ikhlas. Tetapi tidak demikianlah halnya dengan Sangaji. Melihat mereka bergerak, terus saja ia melesat menghadang. la sudah berpengalaman melawan barisan Jala Sutra Indrajaya. Maka dengan mudah saja, ia merabu pedang mereka dengan sekaligus. Edoh Permanasari tentu saja tidak sudi menyianyiakan kesempatan yang bagus itu. Mau ia mengadakan serangan balasan, mendadak saja pedang murid-muridnya berhamburan menyerang dirinya. Maka mau tak mau, terpaksalah ia menangkis kalang kabut. "Beginilah caramu melawan aku?" ejeknya dengan raut muka masam. Sangaji melesat ke tengah gelanggang. Mau ia menjawab, tetapi Otong Surawijaya si pendekar berangasan sudah mendahului. "Kau membiarkan murid-muridmu memasuki gelanggang. Begitulah caramu hendak merebut kemenangan?" Didamprat demikian, timbullah keangkuhan Edoh Permanasari. Serentak ia memerintahkan murid-muridnya agar kembali ke tempatnya masing-masing. Kemudian memutar menghadap Sangaji dan berkata sambil menuding, "Kau yang berlagak jantan, mengapa melayani murid-muridku yang tidak berarti." "Siapa yang mendahului?" damprat Otong Surawijaya lagi. "Hm," dengus Edoh Permanasari. "Hm hm apa?" Otong Surawijaya tak mau mengalah. "Kau manusia bergelimpangan tiada gunanya, apa perlu ikut-ikut berbicara." "Sekalipun aku tak bisa berkutik begini, tapi kalau disuruh mengawini nona tua masakan sudi?" Otong Surawijaya penasaran. la adalah seorang pendekar bermulut jahil. Sekali sumbunya kena sulut, mulutnya akan mengoceh tak keruan. Dan rupanya Edoh Permanasari kenal siapa Otong Surawijaya. Maka ia membuang mukanya dan kembali menatap Sangaji, menegas: "Jadi beginilah caramu melawan aku?" Dengan tenang Sangaji menyahut, "Bagaimana aku harus mengiringkan kehendakmu?" "Kau becus melawan aku atau tidak?" "Kalau aku menang, apakah taruhannya?" Edoh Permanasari menimbang-nimbang sejenak. Menyahut, "Baiklah kalau aku sampai kalah, aku akan meninggalkan gunung ini. Biarlah lain kali aku membuat perhitungan dengan bangsat-bangsat Himpunan Sangkuriang." Tiga kali sudah, Sangaji berhadap-hadapan kembali dengan Edoh Permanasari. Ia terpaksa berpikir keras. Pedang pusaka Sangga Buwana memang menakutkan hatinya. Akan mendahului menyerang, ia khawatir kena tangkis. Sebaliknya hendak mengadu kegesitan bergerak, lambat laun ia akan lelah juga. Padahal lawannya masih banyak. "Ha, bagaimana?" gertak Edoh Permanasari. "Engkau akan berlari-lari lagi?" Hati Sangaji terkesiap. Ia adalah seorang pemuda yang tak boleh tersinggung perasaannya. Apabila tersinggung perasaannya akan muncullah suatu ketekatan di luar perhitungan manusia. Seperti dahulu, tatkala ia kena dihina Mayor de Groote. Maka ia melawannya dengan mati-matian, meskipun kepalanya kena tumbuk gagang pedang berkali-kali. Juga sewaktu kena hinaan Tako Weidema, Jan de Groote dan kedua temannya. Meskipun dikerubut empat orang ia berani melabraknya juga. Sekalipun akhirnya pingsan tak sadarkan diri, lantaran dilemparkan ke dalam parit. Sekarang ia kena ejekan Edoh Permanasari. Meskipun luapan hatinya tidaklah sebesar sewaktu diejak Andi Apenda, namun terasa mendidih juga. Tiba-tiba suatu ingatan menusuk dalam benaknya. Itulah ilmu sakti ciptaan Kyai Kasan Kesambi: Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti, yang dahulu pernah dicobanya melawan Warok Kuda Wanengpati dan Watu Gunung untuk yang pertama kalinya. Teringat akan hal itu, terus saja ia menyahut: "Sebenarnya kalau aku mau aku akan melawanmu tanpa bersenjata. Dan apabila aku sampai meninggalkan satu langkah saja, kau boleh mengutungi kedua lenganku." Pernyataan Sangaji itu diucapkan dengan nyaring dan jelas, sehingga menerbitkan suatu kegemparan. Betapa mungkin? Dua kali bergebrak, ternyata pemuda itu tak berani menghampiri Edoh Permanasari dalam jarak dekat Sekarang, ia berani berkata takkan meninggalkannya biarpun satu langkahpun? Itulah Sangaji, seorang pemuda yang tak boleh tersinggung kehormatannya. Sekali tersinggung akan meletupkan suatu keputusan yang menggemparkan. Sangaji sendiri lantas mengembalikan golok pusaka. Sudah barang tentu, Otong Surawijaya yang biasa bermulut usilan kali ini jadi terlongoh-longoh. Belum lagi pendekar bermulut jahil itu membuka suara, Sangaji sudah melesat mematahkan sebatang dahan pohon. Kemudian berbalik memasuki gelanggang pertarungan dengan amat tenang. Edoh Permanasari mengamat-amati sebentar, lalu berkata acuh tak acuh. "Kau sudah memilih jalan mampusmu sendiri. Bagus, itu bukan salahku. Hayo mulai!" Dengan tenang Sangaji melintangkan pedang kayunya di depan dadanya. Kemudian digoreskan ke depan setengah lingkaran. Orang-orang yang menonton tiada mengerti apa maksudnya. Mereka tahu, pemuda itu sedang diancam ketajaman Sangga Buwana. Tetapi mengapa malahan bermain-main menggores udara segala? Mereka sama sekali tak tahu, bahwa pada saat itu mendadak terdengariah suara mencicit. Itulah tenaga sakti Sangaji yang tersalur lewat pedang kayunya. Coba ia menggunakan pedang Sokayana, pastilah tenaga saktinya akan membanjir keluar tak ubah badai. Walaupun demikian pedang Sangga Buwana tertindih dengan sekaligus. Sudah barang tentu Edoh Permanasari kaget setengah mati. Mimpipun tidak, kalau pedang kayu bisa dibuat menandingi pedangnya yang terkenal tajam tiada bandingnya. Tanpa sadar, ia berseru nyaring: "Hai! Ilmu Siluman!" Cepat ia menarik pedangnya dan terus membabat pinggang Sangaji. Sangaji segera menyongsong sabetan pedang Sangga Buwana dengan kayunya pula. Dengan tenaga dahsyatnya ia menempel punggung pedang lawan. Dan seketika itu juga, lengan Edoh Permanasari tergetar. Pedang Sangga Buwana berdengung nyaring. "Bagus!" Otong Surawijaya bersorak memuji. Dialah tadi yang paling mencemaskan maksud Sangaji hendak melawan pedang Sangga Buwana dengan ranting pohon. Mula-mula terlongoh-longoh. Lalu mencakari telinganya. Kemudian menggaruk-garuk kepalanya. Akhirnya berteriak kagum dan lega luar biasa manakala melihat betapa pedang Sangaji yang istimewa itu bisa menindih pedang Sangga Buwana. Meskipun kedua pedang sama sekali berbeda tetapi begitu punggung pedang Sangga Buwana kena ditempel pedang kayu Sangaji lantas saja sirna dayagunanya. Inilah ilmu Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang sangat tinggi nilainya yang bersumber pada kekuatan hidup manusia. Ternyata pedang kayu dapat memusnahkan ketajaman pedang Sangga Buwana yang tiada taranya di jagat ini. Sesungguhnya yang diajarkan Kyai Kasan Kesambi kepada Sangaji hanyalah merupakan suatu coretan huruf. Nampaknya sederhana. Tapi sesungguhnya gerakan itu adalah gerakan menghimpun tenaga sakti yang tersekap dalam tiap dada manusia. Mula-mula ciptaannya diambil dari ilham ilmu Pancawara (gelombang angin pegunungan yang datang dan perginya cepat serta tak terduga). Kemudian tatkala Sangaji berlatih dengan pedang Sukayana yang beratnya 100 kati lebih, ia menggabungkan dengan jurus-jurus Kumayanjati yang sederhana, ternyata serasi dan sejiwa. Dahsyatnya tak terkirakan. Permukaan laut yang kena sapunya melompat tinggi di udara dan melanda pantai dengan bergemuruh. Ini disebabkan karena sifat Kumayanjati dan pedang Sokayana yang ternyata terbuat sebagian besar dari campuran baja, besi berani dan monel. Menghadapi Edoh Permanasari, Sangaji tak mau menggunakan senjata berukuran besar dan terbuat dari besi campuran. la takut akan merupakan saluran tenaga sakti yang luar biasa dahsyatnya. Maka dipilihnya sebatang kayu yang sifatnya justru memusnahkan daya getaran. Perlunya, ia hanya menyalurkan tenaga angin saja yang kurang berbahayanya daripada daya getaran. Pada saat itu, di gelanggang pertarungan terdengarlah suara pedang Sangga Buwana meraung berdengungan. Edoh Permanasari memutar pedangnya luar biasa cepat. Penonton menjadi kabur dibuatnya. Namun dengan tenangnya Sangaji masih saja menggores-gores udara seakanakan tidak memedulikan. Sekalipun demikian, gerakan Sangga Buwana seperti terbendung tembok yang tiada kelihatan. Kemana saja larinya pedang Sangga Buwana, selalu terpental balik. Bahkan lambat-laun gerakan Edoh Permanasari makin lambat seolah-olah terbungkus oleh suatu perangkap halimun. Perlahan-lahan Sangaji menindihnya. Gerakan ilmu saktinya makin lama makin padat. Itu suatu tanda, bahwa angin pancawara sudah tertimbun berjejal-jejal. Kalau mau, ia tinggal melontarkan saja. Dan Edoh Permanasari akan terpental ke udara. Edoh Permanasari sendiri nampak bertambah kuwalahan. Berat pedangnya terasa bertambah berat dan berat. Manakala tenaganya susut, pedang Sangga Buwana terseret arus tenaga sakti Sangaji. la mencoba menarik untuk menyingkir. Tetapi malahan terseret melingkar-lingkar. Gugup ia menebas. Namun pedangnya tak pemah dapat menyentuh pedang kayu. Ia jadi kebingungan. Sebab pedangnya tak bisa lagi ditarik atau ditusukkan. Sekarang ia menjadi jeri. Dan selama hidupnya baru kali itu, ia berkecil hati. Suatu peristiwa yang baru dialami. Setelah mendekati 400 jurus, makin nampaklah ia kepayahan. Ia mencoba mengganti ilmu pedangnya yang lain. Namun hasilnya masih nol besar. Mau tak mau ia benar-benar merasa keripuhan. Dalam pada itu, Sangaji sudah memasang jaring-jaring serangan. Sedikit demi sedikit ia mempersempit lingkarannya. Bagi orang lain, tiada mengetahui dengan pasti apakah dia lagi menyerang atau bertahan. Hanya Andangkara, Tatang Sontani, Tubagus Simuntang, Dwijendra, Walisana, Dadang Wiranata dan Ratna Bumi yang tahu. Sedang Otong Surawijaya yang ilmu kepandaiannya setingkat lebih rendah dari mereka belum dapat menangkap inti jingkaran Sangaji yang makin lama makin menjadi sempit. Memang ilmu sakti Suradira jayaningrat lebur dening pangastuti ciptaan Kyai Kasan Kesambi isinya gerakan lingkaran melulu. Lingkaran kecil dan lingkaran besar. Namun tetap bergerak tak ubah gelombang samudera yang tiada hentinya. Tetapi tahu-tahu terdengar suara pekik Edoh Permanasari terkejut. Semua penonton menajamkan penglihatan. Edoh Permanasari nampak mundur selangkah. Kemudian dengan memekik tinggi, tiba-tiba masuk ke dalam perangkap jaringan sambil menusukkan Sangga Buwana. Itulah suatu jurus mati bersama lawan. Dalam terkejutnya, Sangaji menjepit ujung punggung pedang. Dengan tenaga saktinya yang luar biasa dahsyatnya, seketika itu juga pedang Sangga Buwana terlengket erat. Kemudian tangan kanannya yang memegang pedang kayu terangkat ke atas dan turun hendak menabas. Tiba-tiba terdengarlah suara, "Ampunilah dia!" Mendengar suara itu, Sangaji kaget. la sudah terlanjur menurunkan pedang kayunya dengan deras hendak menebas lengan. Tetapi tak kecewa ilmu sakti Keris Kyai Tunggulmanik yang meresap dalam dirinya. Dalam rasa kagetnya, masih saja ia bisa memencengkan tebasan. Karena terjadi suatu pertentangan, terbitlah kesiur angin timbunan Pancawara. Dan dengan tak terkendalikan lagi, meledaklah gumpalan ilmu Kumayanjati. Sebelum sadar apa akibatnya, tubuh Edoh Permanasari terangkat naik dan terbanting tinggi seperti benda tipis ringan yang terlemparkan ke udara. Di tengah gemuruh sorak dan pekikan, Sangaji menoleh ke arah suara tadi. la melihat Kamarudin berdiri sempoyongan dengan gumpalan darah di mulutnya. Dengan hati terkesiap ia melesat menghampiri. Kiranya semenjak tadi dalam diri Kamarudin terjadilah suatu pergulatan seru antara dendam dan kisah asmaranya. Melihat Edoh Permanasari, hatinya meledak bagaikan guntur. Itulah disebabkan, lantaran teringat seluruh anggota keluarganya dibinasakan oleh iblis itu. Tetapi begitu melihat Edoh Permanasari dalam bahaya, tanpa disadarinya memintakan ampun. Bagus, itu suatu tanda bahwa ia sudah dapat memenangkan rasa dendamnya dengan suatu keikhlasan. Namun bagi dirinya sendiri, akibatnya sangat runyam. Seperti diketahui ia baru saja kena racun berbahaya. Pertolongan Sangaji terhadapnya sekedar pertolongan pertama. la belum sempat merawat, lantaran terjadilah perkembangan peristiwa. Dengan demikian, racun itu berkembang lagi. Dan lantaran dalam dirinya terjadi suatu guncangan racun lantas saja menyerang jantung. Itulah sebabnya, begitu habis melepaskan ucapan, segumpal darah meloncat ke tenggorokan. "Paman...! Kau... kau... sebenarnya belum boleh mengeluarkan tenaga ..." kata Sangaji dengan gugup. Dengan mata jernih, Kamarudin menentang pandang Sangaji. Kemudian mengalihkan pandang kepada tubuh Edoh Permanasari yang mulai turun deras dari udara. Ia tersenyum di pinggir mulut berbareng berbisik, "Terima kasih ..." Setelah berkata demikian, tubuhnya lunglai. Cepat Sangaji menyambar tubuh Kamarudin hendak membantu dengan tenaga getah saktinya. Tetapi maut lebih cepat lagi. Kepala Kamarudin tunduk. Dan ia sudah tidak lagi di dalam percaturan dunia, dengan membawa suatu kemenangan besar dalam dirinya. Dalam pada itu Edoh Permanasari sudah turun ke bumi dengan selamat, wajahnya pucat lesi. Melihat Kamarudin mati dalam pelukan Sangaji, ia memutar badan dan berjalan tertatih-tatih meninggalkan gelang-gang. "Hai!" seru Sangaji. "Ini... ini..." "Hai, hai apa? Bukankah kau yang membunuhnya?" sahutnya. "Mengapa aku?" Sangaji heran. "Buktinya dia mati di pelukanmu." Mendengar jawabannya, Sangaji tergugu. Lantas saja teringatlah dia kepada persoalannya sendiri. "Hai, kenapa Kamarudin mati dalam pelukannya? Apakah ini suatu lambang kisah asmara yang buruk baginya?" Betapapun juga, kisah asmara itu merunyam pula dalam diri Edoh Permanasari. Tanpa menoleh, terus saja ia turun gunung. Murid-muridnya segera mengikuti. Melihat kepergian Edoh Permanasari beserta murid-muridnya, Sangaji buru-buru memanggil Ida Kusuma. "Nona...! Tolong haturkan pedang Sangga Buwana ini. Maaf dengan terpaksa aku tadi merampas pedang pusaka yang sangat menakutkan hatiku." Wajah Ida Kusuma menjadi merah jambu. Tiba-tiba saja ia menjadi kikuk  pula. Kiranya semenjak ia melihat kegagahan Sangaji, hatinya sudah terampas dengan tak disadarinya sendiri. Keruan saja begitu ia berhadap-hadapan dengan Sangaji secara tak terduga-duga, jantungnya berdegupan. Sebaliknya Sangaji mempunyai kesan baik terhadap gadis yang molek itu. Itulah sebabnya ia bersikap ramah. Sekali lagi Sangaji mengangsurkan pedang Sangga Buwana lebih dekat lagi. Kali ini Ida Kusuma tersadar. Tersipu-sipu ia menerima sambil berkata setengah berbisik, "Terima kasih..." Hanya sekejap adegan itu, namun bagi Ida Kusuma akan merupakan kenangan yang paling indah. Dengan perlahan-lahan ia memutar badannya dan segera mengikuti gurunya menuruni dataran tinggi. "Wah!" kata si jahil Otong Surawijaya, "Coba dia tak dititipi pedang Sangga Buwana, pastilah akan betah berada di sini..." Mendengar kata-kata Otong Surawijaya, wajah Sangaji terasa menjadi panas. Sekonyong-konyong terdengarlah suara melengking panjang. "Hai anak muda! Numpang tanya siapakah namamu?" Dengan tersipu-sipu Ida Kusuma menerima pedang Sangga Buana dari tangan Sangaji sambil berkata setengah berbisik, "Terima kasih..." Hanya sekejap adegan itu, namun bagi Ida Kusuma akan merupakan kenangan yang paling indah. Sangaji menoleh. Melihat seorang kakek berperawakan pendek tipis, cepat-cepat ia membungkuk hormat seraya menyahut, "Aku bernama Sangaji." "Nama bagus," kata kakek itu. Tiba-tiba seorang kakek pula berperawakan tinggi jangkung muncul di belakang kakek yang pertama. Terus menyambung, "Hei, hei ... nama itu seperti namaku waktu bayi." "Mana bisa?" bentak kakek pendek tipis. "Benar. Ibu yang bilang. Tapi lantaran aku sakit bengek terus menerus lantas namaku diganti dengan si Begog." la menungkas dengan sungguh-sungguh. Lalu berkata nyaring kepada Sangaji, "Anak muda... kakek ini adalah kakak seperguruanku. Namanya Sianyer." "Begog! Orang tidak bertanya, mengapa kauusilan?" "Habis, belum-belum kau sudah menumpang tanya namanya. Menurut pantas kau harus membalas." Mendengar serentetan tanya jawab antara kedua kakek itu, Sangaji tersenyum. Rupanya yang bemama Begog lebih jujur dan lebih ramah daripada kakek Sianyer. Ketujuh aliran penggerebeg dataran tinggi Gunung Cibugis, tinggal empat golongan yang belum maju ke gelanggang. Edoh Permanasari dan Sindung Riwut dari Gunung Gembol sudah meninggalkan gunung. Sedang anak murid Mandalagiri sudah menyatakan tidak berhak maju ke gelanggang, karena Kusuma Winata dikalahkan Andangkara. Kini tinggal pendekar-pendekar dari Gunung Kencana, Gunung Ascupan. Gunung Gilu dan Muarabinuangeun. Maka berkatalah Sangaji minta keterangan, "Sebenarnya Aki berdua mewakili golongan manakah?" "Aku sih ... mewakili diriku sen ..." sahut Begog. Tetapi mendadak dipotong Sianyer. "Begog! Kenapa sih mulutmu ngoceh tak keruan?" "Eh, hiya... mulut kranjingan... anak muda, lantaran mulutku keranjingan, kata-kataku tadi jangan kau anggap." Sangaji tersenyum. Sewaktu hendak menyahut, Sianyer berkata dengan suara nyaring, "Kami mewakili perguruan Muara-binuangeun. Karena kau sudah merusak nama baik para pendekar yang datang ke mari, maka kami berdua terpaksa menyelesaikan dengan jalan mengambil nyawa." Setelah berkata demikian, ia menghunus goloknya. Begog menghunus goloknya pula sambil berkata, "Kau hendak kami keroyok seperti lalat mengeroyok onde-onde kerbau. Karena itu yang hati-hati." Dengan hormat Sangaji menyahut, "Apakah tiada jalan lain?" "Tidak. Sama sekali tidak," tungkas Sianyer. "Menurut pendapatku, tidak benar. Mengambil nyawa adalah kejam. Kita tadi bertanding secara ksatria. Menang kalah, bukankah sudah lumrah terjadi dalam suatu pertarungan? Mengapa Aki berkata aku merusak nama baik para pendekar yang kuhormati?" kata Sangaji. "Eh benar juga," sahut Begog. "Jadi menurut pendapatmu kalau kita kalah, nama kita tidak jadi rusak?" "Sama sekali tidak." "Kalau begitu... eh Kak Sianyer... anak muda ini bilang tidak merusak nama baik. Kalau begitu..." "Diam!" bentak Sianyer geregetan. "Mulutmu kenapa ngoceh tak keruan?" "O, hiya... mulut keranjingan." Begog mengumpat mulutnya sendiri dan terus mendekapnya erat-erat. Kemudian berkatalah Sianyer, "Ini soal hidup dan soal mati. Karena itu, terpaksa aku mengambil nyawamu. Anak-anak murid Muarabinuangeun sudah terlalu banyak tewas di ujung pedang kaum Himpunan Sangkuriang." Mendengar ujar Sianyer, rupanya Begog tak kuasa lagi mendekap mulutnya. Terus saja menyahut, "Baiknya kau mengaku kalah. Habis sih ... jurus kita berdua ini kalau main keroyok sangat berbahaya. Rasanya tidak adil. Lekaslah mengaku kalah. Lantaran jurus keroyokan kita itu ... lihat ... aku akan berada di sini dengan golok melintang, sedang kakakku seperguruan menyerang dari sana dengan golok kita ..." "Diam! Diam! Diam!" bentak Sianyer sambil menumbuk-numbukkan kakinya di atas tanah. "Kenapa mulutmu ngoceh tak karuan?" "O, hiya ... mulut keranjingan!" umpat Begog kepada mulutnya sendiri. Kali ini dia hendak berusaha sungguh-sungguh menguasai mulutnya. Maka goloknya dikempit dan kedua tangannya mendekap mulutnya kencang-kencang. Mau tak mau Sangaji tersenyum juga. Teringatlah betapa pendekar-pendekar sakti itu kerap kali mempunyai adat aneh, mirip manusia gendeng. Maka di dalam hatinya, tak mau ia meremehkan. Benar saja. Sekonyong-konyong Sianyer bersuit nyaring. Dan Begog yang masih mendekap mulutnya, cepat-cepat menyambar goloknya. Dan mulutnya lantas ngoceh lagi, "Anak muda! Kau bersenjata apa?" "Ini," sahut Sangaji sambil memperlihatkan pedang kayunya. "Tak mau! Tak mau!" kata Begog seraya mundur. "Mengapa?" Sangaji heran. "Kami berdua bersenjata golok pusaka peninggalan Raja Ciung Wanara, masakan kau akan melawan dengan ranting kayu? Itu tak adil. Tak mau! Tak mau!" "Ah benar," Sangaji menyahut dengan suara ramah. "Melawan Aki berdua masakan pantas hanya menggunakan ranting pohon. Tapi karena pedang kayu ini sudah berjasa besar, biarlah kutanamnya baik-baik." Dengan menjepit pada kedua jarinya, pedang kayu lalu disambitkan ke tanah. Cet! Dan pedang kayu itu lenyap ke dalam bumi. Yang nampak hanyalah lubang kecil tak ubah lubang jangkrik. Pameran tenaga sakti, tiada seorangpun di antara mereka yang sanggup melakukan. Itulah sebabnya setelah terdiam sebentar, para pendekar kedua belah pihak bersorak-sorak dengan tepukan riuh rendah. Begogpun tak mau ketinggalan. Dengan mengempit goloknya, ia bertepuk-tepuk tangan sambil berjingkrakan. Masih mulutnya nerocos, "Bagus! Bagus! Sekarang kau bersenjata apa?" Sebenamya menilik watak Sangaji yang sederhana dan berhati mulia, tidak mungkin dia memamerkan kepandaiannya di hadapan umum. Hari itu tidak hanya memamerkan kepandaiannya saja, tapipun banyak berbicara. Soalnya ia menghadapi satu persoalan yang luar biasa sulit. Ia harus menggertak dahulu berbareng menanamkan rasa persahabatan agar kaum penyerbu mau menarik diri dan meninggalkan gunung. Maka begitu mendengar ujar Begog, segera ia menyahut: "Aku sendiri tidak membawa senjata apa pun. Menurut pendapat Aki, aku harus bersenjata apa?" "Ha kau ini lucu, anak muda. Aku bukan gurumu maupun temanmu bergurau. Sebaliknya aku adalah lawanmu. Masakan aku harus mencarikan senjata yang cocok bagimu? Tentu saja akan membuatmu rugi. Ya tidak?" "Biarlah Aki yang memilihkan senjata," kata Sangaji setelah berpikir sejurus. "Aih ... aneh. Jadi kau menurut senjata apa saja yang kupilihkan untukmu?" Sangaji mengangguk. Dan Begog mengusap-usap jenggotnya yang tumbuh serabutan. Katanya berkomatkamit, "Melihat gerak-gerikmu tadi, kau ini seorang pemuda penjelmaan malaikat. Dengan tangan kosongmu, agaknya kau mampu juga melawan kami berdua." "Baiklah. Kalau perlu aku akan bertangan kosong saja." "Eh, mana bisa begitu? Mana bisa begitu?" Begog berjingkrakan. "Begini saja..." Ia melayangkan penglihatan. Matanya berhenti kepada sebuah tiang paseban Gedung Markas Besar yang sudah terbakar separuh. Di antara puing-puing temboknya, tiang paseban terang terbuat dari besi. Gkuran tiang itu sebesar sepelukan kanak-kanak. Beratnya tak kurang dari setengah ton (500 kg). Tingginya tiga meter lebih. Dan melihat tiang paseban itu, timbullah kenakalan Begog. Terus saja ia menuding sambil berseru, "Itu saja. Kukira kau paling cocok bersenjata galah besi segede itu." Terang sekali maksud Begog hanya bergurau. Tak terduga, Sangaji terus menghampiri tiang paseban dan dicabutnya. Dengan sekali tarik, ambrollah tiang itu. Dan tembok yang sudah hangus termakan api, runtuh berguguran. "Hai-hai! Aku cuma bergurau saja ... Kau ... kau," seru Begog kebingungan. Namun seolah-olah memegang sebatang senjata yang enteng, tiang besi itu diputer-puter di atas kepalanya. Dahulu ia pernah mencoba kekuatannya. Ternyata dia dapat menjebol batu pegunungan untuk dibuatnya sebuah kubu pertahanan darurat. Tenaga dahsyat demikian membuat kagum pendekar-pendekar sakti dan kinipun demikian. Melihat Sangaji dapat menjebol tiang paseban dan kemudian memutar-mutarkan di atas kepala, semua orang ternganga sampai suasana gelanggang jadi sunyi hening. "Ai... benar-benar kau penjelmaan malaikat... Bagaimana mungkin kau... kau..." jerit Begog kagum. Dan mendengar suara Begog, barulah semua orang bersorak dengan gemparnya. Sianyer yang semenjak tadi berdiam diri, saat itu tersadar. la insyaf, bahwa lawan yang dihadapinya bukan lawan lumrah. Selama hidupnya, baru kali itu ia menjumpai seorang pemuda yang memiliki tenaga raksasa begitu dahsyat. Maka ia melintangkan golok pusakanya untuk segera menyerang. "Maaf!" katanya. Dan sekali berkelebat, goloknya menebas kepala. Dengan memutar tiang besinya, Sangaji menangkis tebasan golok. Trang! "Begog hayooo!" seru Sianyer. "Apakah kita berkelahi dengan sungguh-sungguh?" Begog menegas. "Eh, masakan tolol begitu? Tentu saja. Apakah kau mau mampus?" "Ah, ya!" Begog terkesiap. Terus saja ia membabat pinggang. Kedua kakek itu meskipun nampaknya ketolol-tololan sebenarnya ilmu kepandaiannya sangat tinggi. Mereka adalah adik seperguruan Ganis Waluran seorang tokoh sakti di Jawa Barat yang mendirikan aliran Muarabinuangeun. Dalam penggerebegan ke dataran tinggi Gunung Cibugis, Sianyer dan Begog ditugaskan oleh kakak seperguruannya untuk mewakili dirinya. Ilmu golok mereka serasi dan senyawa. Mereka mempunyai cara bermain golok sendiri yang sukar diduga lawan. Lantaran cara menyerang dan pertahanannya bertentangan dan tak menurut aturan. Sehingga nampaknya berserabutan sesuka hatinya. Ontunglah Sangaji bersenjata tiang besi berukuran panjang tiga meter lebih. Maka dengan hanya memutarkan tiang besinya, sudah dapat menyapu kedudukan mereka. Dan merekapun sebaliknya tak dapat mendekati. Sesudah bertarung kira-kira lima belas jurus, tiba-tiba Sangaji melemparkan senjata tiang besinya tinggi di udara. Sebelum Begog dan Sianyer sadar apa yang hendak dilakukan, tengkuk mereka sudah kena cekuk dengan berbareng. Karena tenaga sakti Sangaji sangat dahsyatnya, mereka mati kutu dengan mendadak. Sangaji sendiri dengan cepat melesat mundur. Dan tiang besi yang terlempar di udara mulai terjun dengan dahsyat mengancam kepala Begog dan Sianyer. Dalam keadaan tak dapat berkutik, kepala mereka pasti remuk apabila tertimpa tiang besi demikian besarnya. Dan melihat adegan demikian, semua orang menjerit cemas. Sekonyong-konyong Sangaji mengayunkan tangannya mengibas tak ubah sebatang pedang. Tak! Tiang besi itu terpotong menjadi dua bagian dan terdorong minggir. Dan dengan tersenyum, Sangaji menepuk pundak Begog dan Sianyer seraya berkata hormat, "Maaf... Aki senang bergurau, jadi akupun ikut-ikutan pula." Begog dan Sianyer dapat bergerak seperti sediakala. Mereka terlongong-longong. Sianyer nampak bersedih hati. Dengan muka penuh prihatin ia memandang Sangaji. Kemudian berkata dengan putus asa, "Sudahlah, anak muda. Kami menyatakan kalah." "Tidak bisa! Tidak bisa!" tungkas Begog. "Ini tadi kan bersenda gurau, bukan?" Sangaji tidak melayani. la hanya tersenyum. Kemudian berkata, "Lalu kehendak Aki bagaimana?" Belum lagi Begog menyahut, tiba-tiba terdengarlah suara Manik Angkeran. "Memang kakek jelek bermuka tebal. Huuu ..." Mendengar ujar Manik Angkeran, Begog menoleh sambil melototi. Katanya galak, "Kau tahu apa?" "Kau tahu apa?" Manik Angkeran membalas mendamprat. "Huuu..." Begog mencibirkan bibirnya. "Huuu..." Manik Angkeran menirukan pula. "Eh kenapa usilan?" "Eh kenapa usilan?" Ditirukan demikian, Begog kebingungan juga. Dengan menggaruk-garuk kepala ia mencoba mencari jalan lain. Sianyer tidak bersabar lagi. Mendamprat, "Kenapa sih mulutmu ngoceh tak keruan?" "He biasa... mulut keranjingan!" dan terus saja Begog mendekap mulutnya kuat-kuat. Dalam pada itu, terbitlah suatu kegemparan di pihak kaum penyerbu. Alang-alang Cakrasasmita yang menjadi pucuk pimpinan penyerbuan, gusar bukan kepalang. Kemenangan sudah berada di depan hidungnya. Tapi lantaran anak muda yang tak dikenal itulah, membuat rencana penghancurannya runyam tak karuan. Memikir demikian ia terus berteriak, "Hai, rekan Panjang Mas dari Gunung Kencana! Dan rekan Ratu Kenaka dari Gunung Aseupan. Di antara kita, tinggallah kita bertiga. Mari kita maju berbareng." Terang sekali, ia menganjurkan suatu pengeroyokan dengan sekaligus. Sudah barang tentu, kaum Himpunan Sangkuriang memaki-maki kalang-kabut. Otong Surawijaya si mulut jahil lantas saja berteriak nyaring. "Macam manusia begitu, masakan termasuk golongan Ksatria? Hai Alang-alang! Mukamu kau sembunyikan di mana?" Tetapi Sangaji bahkan menjadi senang. Semenjak tadi ia berprihatin mengingat lawannya akan bertempur secara bergiliran. Inilah bahaya. Sebab betapapun juga, ia akan menjadi letih. Terus saja ia mengencangkan ikat pinggangnya bersiaga penuh-penuh. "Hai, anak muda!" seru Begog. "Alang-alang, Panjang Mas dan Ratu Kenaka mempunyai ilmu kepandaian yang sangat tinggi. Corak ilmunya seragam dengan ilmu kami berdua. Jika mereka bergabung, dahsyatnya tak dapat diukur. Biarpun malaikat akan lari terbirit-birit. Masakan kau bisa melawan tenaga gabungan kami?" "Aku akan mencoba, Aki..." jawab Sangaji. "Hai, jangan main coba-coba. Ini soal nyawa. Kalau kau sampai tewas, siapa yang rugi? Hai, anak muda! Apakah kau sudah kawin?" Sangaji terkejut. Entah apa sebabnya, mendadak saja berkelebatlah dua bayangan dalam otaknya. Sonny de Hoop dan Titisari. Melihat mereka dalam benaknya, timbullah suatu kegelisahan dalam hati. Sonny de Hoop hari ini pasti mencari aku. Dan hari ini di manakah Titisari berada? Ia jadi bersedih hati. Alangkah akan Iain keadaan hatinya, apabila waktu itu Titisari berada di sampingnya. Gadis yang berotak encer itu, pasti bisa memecahkan persoalan yang sedang dihadapinya. Tetapi di mana Titisari pada hari itu berada, hanya setan dan malaikat-malaikat yang tahu. Melihat Sangaji hendak dikerubut lima tokoh-tokoh sakti, Manik Angkeran tak dapat menahan hatinya. Terus saja ia memasuki gelanggang. Dengan menuding Begog ia berkata nyaring, "Ini tidak adil! Tidak adil kalian sudah pantas menjadi kakekku. Masakan main kerubut terhadap cucunya." Di antara kelima tokoh sakti tersebut, hanya Begog yang berhati jujur. Ditegur Manik Angkeran, ia tak bersakit hati. Setelah berpikir-pikir sebentar, ia mengempit goloknya. Kemudian sambil menggaruk-garuk kepalanya, ia menyahut. "Ya, benar. Rasanya memang tidak adil. Tapi dia bilang mewakili Himpunan Sangkuriang. Kalau dipikir, Himpunan Sangkuriang tinggal runtuhnya saja. Namun kami tunduk pula kepada kehendaknya. Masakan begini tidak adil?" Sianyer mengenai Iagak-lagu adik seperguruannya itu. Nampaknya seperti orang tolol, tetapi sebenarnya berotak jujur dan cerdik. Kalau tidak, masakan dia bisa memiliki ilmu kepandaian tinggi. Maka mendengar adik seperguruannya berkata demikian, ia mengangguk kecil menyetujui. Sebaliknya Manik Angkeran mempunyai bakat setengah liar seperti Fatimah. Meskipun ujar pendekar Begog masuk akal, namun tetap ia membantah. Katanya, "Tetap tidak adil. Tetap tidak adil! Kalian berdua tadi sudah kalah. Masakan sekarang mau ikut-ikutan mengkerubut pula? Coba bilang, masakan begini adil?" Begog menggaruk-garuk kepalanya. Dahinya berkerut-kerut, seakan-akan otaknya mendadak menjadi ruwet tak keruan. Sebagai orang jujur ia mengakui kebenaran ucapan Manik Angkeran. Namun ia tak boleh mengalah. Akhimya ia melemparkan pandang kepada Sangaji. Sangaji sendiri masih disibukkan urusan pribadinya. Tatkala mendengar serentetan perbantahan Manik Angkeran dan Begog, ia mempunyai kesempatan untuk mengamat-amati segenap lawannya. Terhadap pendekar Alang-alang Cakrasasmita dan Panjang Mas, ia masih asing. Tapi begitu melihat wajah pendekar Ratu Kenaka, hatinya terkesiap. Dialah yang semalam meracun Kamarudin dan dirinya juga setelah mengadu kekuatan. Terhadap tenaga sakti orang itu, ia tak usah khawatir. Sebaliknya ia harus berjaga terhadap bisa dan racunnya. Orang demikian, pasti pula dapat beriaku licik di luar dugaan. "Orang itu bernama Ratu Kenaka. Berasal dari perguruan Gunung Aseupan." Terdengar Andangkara mengisiki. "Tiada istimewanya. Hanya saja harus berjaga-jaga terhadap tipu muslihatnya yang licik." Mendengar bisikan itu, hati Sangaji terbangun. Entah apa sebabnya, tiba-tiba pandangnya menyala tanpa dikehendakinya sendiri. Dalam pada itu, terdengar Begog berkata kepada Panjang Mas. "Ah, inilah si Panjang Mas. Sebentar kalau tak tahan, akan jadi si Panjang Kaki... Wah, bakal hebat jadinya..." Panjang Mas adalah pendekar angkuh. Di atas Gunung Kencana ia hidup tak ubah seorang raja yang diagung-agungkan. Kini mendadak diolok-olok oleh seorang adik. yang ketolol-tololan. Keruan hatinya murka. Sekali menarik pedangnya, ia terus menikam. Gerakan serangannya ternyata cepat luar biasa. Seperti kilat menusuk cakrawala, ia menebas pinggang dan pundak Begog dengan sekali gerakan. Dalam terkejutnya, cepat-cepat Begog menangkis dengan goloknya. Trang! Golok dan pedang berbenturan hebat. Serangan Panjang Mas kena ditangkis dalam satu gerakan pula. Si kakek Begog yang nampaknya ketolol-tololan itu, ternyata seorang pendekar yang memiliki kepandaian tinggi. Seumpama ilmu goloknya belum mencapai tingkatan tinggi tidaklah mudah menangkis serangan pendekar Panjang Mas yang begitu cepat dan terjadi dengan tiba-tiba pula. Panjang Mas kaget. Ia kena tergetar mundur. Ia tercengang. Begogpun kena tergetar mundur pula. Diapun tercengang. Akhimya kedua pendekar itu saling tercengang dan saling mengagumi ilmu kepandaian masing-masing. Selama hidupnya belum pernah mereka bertemu. Dengan gebrakan itu, tahulah mereka bahwa ilmu simpanannya masing-masing ternyata datang dari satu sumber yang sama. Pikir Panjang Mas, ilmu perguruan Muara-binuangeun ternyata hebat juga. Kalau kita berempat bergabung menjadi satu, betapa hebatpun bocah itu pasti takkan tahan dalam beberapa gebrakan saja. Setelah berpikir demikian, segera ia berpaling kepada Alang-alang Cakrasasmita. Katanya, "Kau sudah bersiaga?" Pada zaman mudanya, Alang-alang pernah mengadu kepandaian melawan Panjang Mas. Dalam suatu pertempuran seru, ia kalah seurat. Menurut pantas, sudahlah wajar Panjang Mas berada pada tingkatan lebih atas. Namun di depan umum, tak sudi ia kalah perbawa. Apalagi ia dipilih pula sebagai ketua dalam aksi penggerebegan itu. Maka dengan mengangkat hidungnya ia berjalan dengan lagak tuan besar. Kemudian memberi perintah kepada bawahannya agar membawa pedang pusakanya. Pedang pusaka Gunung Gilu terkenal tuahnya. Racun dan bisanya sangat berbahaya. Itulah sebabnya, murid-murid Gunung Gilu disegani orang. Bukan karena ilmu kepandaiannya tetapi racun serta tipu muslihatnya. Kini empat orang datang dengan membawa sebuah niru panjang. Di atasnya nampak sebilah pedang bersarung hijau. Tahulah orang, bahwa itulah pedang yang sangat berbahaya. "Apakah bocah itu benar-benar memiliki ilmu siluman?" katanya angkuh sambil mengambil pedangnya. Panjang Mas menunggu sampai empat orang murid Gunung Gilu keluar dari gelanggang, kemudian menyahut, "Nanti bisa kita buktikan bersama. Cuma kakek tolol ini rupanya memiliki ilmu golok lumayan juga." "Terima kasih Gan )," ujar Begog dengan meninggikan hidungnya. "Baiklah! Mari kita mulai!" ajak Alang-alang Cakrasasmita. Ia menghunus pedangnya. Suatu sinar hijau berkeredip jernih suatu bukti bahwa pedang itu benar-benar bukan sembarang pedang. Lalu berkata kepada Sangaji, "Kau sudah siap? Senjata apa yang hendak kaugunakan?" Melihat ketua pihak penggerebek sudah maju ke dalam gelanggang, timbullah maksud Sangaji hendak membuatnya takluk benar-benar. Dengan demikian, di kemudian hari mereka takkan bakal mengulang macam penggerebegan lagi. Sekali mengibaskan tangannya, pedang kayu yang tadi berhasil mengalahkan pedang Sangga Buwana sudah berada dalam genggamannya. Lalu berkata: "Aku datang ke mari tanpa senjata. Senjata yang kumiliki hanyalah pedang kayu ini." Mendengar keputusan Sangaji, pendekar-pendekar Himpunan Sangkuriang terkesiap. Memang mereka tadi menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa perkasa pedang kayu di tangan Sangaji sampai dapat mengalahkan ketajaman pedang Sangga Buwana yang tiada duanya dalam dunia ini. TAPI kini, dia harus menghadapi lima orang dengan sekaligus yang masing-masing bersenjata pusaka andalannya. Sedikit saja terbentur salah sebuah senjata lawan, pasti akan patah. "Bagus! Jadi kau tak memandang mata kepada ilmu himpunan Jawa Barat, bukan?" ujar Alang-alang Cakrasasmita. "Sama sekali tidak," sahut Sangaji dengan takzim. "Aku hanya pernah mendengar, betapa perkasa pendekar Ciung Wanara tatkala mengalahkan Aria Singgela yang sakti pada zaman Pajajaran. Sayang, apa sebab aku lahir terlambat. Dengan begitu tak dapat menyaksikan keperkasaan leluhur kita pada zaman dahulu." Pendekar Begog yang berhati jujur menggaruk-garuk kepalanya. Setelah berdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Menyahut, "Aih benar... memang ilmu kita tak dapat dibandingkan dengan ilmumu yang tinggi. Cuma saja, berilah kami kesempatan mengeroyokmu. Tapi berhati-hati looo... sebab ilmu gabungan kita sangat hebat. Mereka di sana dan kami di sini. Lantas..." "Diam? Kenapa mulutmu ngoceh tak keruan?" bentak Sianyer kakak seperguruannya. "O, iya... mulut keranjingan!" umpat Begog kepada mulutnya sendiri. Dalam pada itu mereka berempat sudah mengambil sudut serangan. Hanya Ratu Kenaka yang masih saja berada di luar garis pertempuran. Tiba-tiba membentak, "Anak janda Rudin! ) Meskipun hebat kepandaianmu, masakan berani menghina tumpuan ilmu sakti Jawa Barat? Kau memang bocah bosan hidup!" Belum lagi suaranya lenyap, pedangnya berkeredip menusuk punggung dengan cepat. Terang sekali ia sengaja hendak menyerang secara menggelap, selagi Sangaji terlibat dalam suatu percakapan. Tetapi Sangaji sama sekali tak memutar tubuhnya untuk menghadapinya. Ia menunggu sampai ujung pedang Ratu Kenaka nyaris meraba bajunya. Kemudian dengan mendadak, ia mengayunkan kakinya ke belakang. Tahu-tahu ujung pedang Ratu Kenaka kena injak. Dan Ratu Kenaka sendiri berusaha dengan sekuat tenaganya hendak menarik pedangnya. Namun sama sekali tak bergeming, sehingga keringat dinginnya membasahi tubuhnya. Perlahan-lahan Sangaji memutar tubuhnya dan menatap wajah Ratu Kenaka dengan mata menyala. Selama hidupnya, memang ia membenci manusia yang senang menggunakan racun. Itulah disebabkan, karena gurunya hampir tewas semata-mata kena racun jahat. Juga dirinya sendiri pernah mengalami kena serangan beracun beberapa kali. Gntung dalam dirinya mengalir getah sakti Dewadaru sehingga ia terbebas dari akibatnya. Sekarang, ia menghadapi seseorang yang kemarin malam hampir saja berhasil menewaskan Inu Kertapati dan kawan-kawannya karena racun berasapnya. Maka tidaklah mengherankan, bahwa hatinya tiba-tiba menjadi geram. Katanya kemudian, "Kenapa kau senang menyerang lawan dengan cara menggelap? Bukankah namamu yang agung akan jadi merosot?" Wajah Ratu Kenaka waktu itu nampak merah padam. Seluruh tenaganya lagi dikerahkan untuk menarik pedangnya yang kena injak. Itulah sebabnya, tak sempat ia menyahut. Melihat begitu, Sangaji tiba-tiba mengendorkan injakannya dengan dibarengi gerakan mendorong. Hebat akibatnya karena Ratu Kenaka sama sekali tak menduga perubahan dengan mendadak itu. la sudah terlanjur mengerahkan segenap tenaganya untuk menarik. Di luar dugaan, sekonyong-konyong menjadi kendor dibarengi tenaga dorongan pula. Keruan saja, ia kehilangan keseimbangan. Seketika itu juga, ia terhuyung ke belakang. Kemudian suatu tenaga luar biasa besarnya, menumbuk dadanya lewat pedangnya. Ia terpelanting mundur lagi tanpa dapat mempertahankan diri sedikit pun juga. Pedangnya terdengar bergemerincing beberapa kali. Tahu-tahu ia tinggal menggenggam hulu pedangnya sedangkan pedang itu sendiri, patah menjadi sembilan potong. Ratu Kenaka kaget bercampur malu. Gntuk menjaga kehormatan dirinya, cepat-cepat ia membentak sambil membuang sisa pedangnya. "Jahanam! Kau hanya bisa mematahkan pedang, tapi tak becus meraba selembar kulitku..." Sangaji tersenyum. la mengibaskan pedang kayunya sambil berkata mengajak kepada empat pendekar penantangnya. "Mari kita mulai...!" Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita yang tidak sabar lagi, segera membentak kepada Ratu Kenaka. "Kau pergi atau ikut bertempur?" "Ya, ya, ya..." sahut Ratu Kenaka tergagap-gagap. "Ya, ya, ya... bagaimana?" "Ya ... aku ... aku ..." Panjang Mas tak sabar lagi. Terus saja ia mendorong. Di luar dugaan Ratu Kenaka tidak mengelak. Bahkan tubuhnya lantas kena geser, namun sikapnya tidak berubah. Maka tahulah orang, bahwa tubuh Ratu Kenaka tak bisa berkutik lagi entah apa sebabnya. Itulah akibat ilmu sakti Sangaji. Di tepi pantai dahulu, ia sudah berlatih menyalurkan hawa sakti lewat pedang Sokayana. Kini dengan lewat pedang kayunya, ia menyerang Ratu Kenaka. Tak ampun lagi, Ratu Kenaka kena diserang suatu tenaga sakti yang tiada nampak. Tahu-tahu, tubuhnya menjadi kejang. Kakinya tertanam di dalam tanah tak ubah sebuah area. "Waaah... belum lagi menjenguk neraka, tubuhnya sudah kaku. Hai, anak muda! Lain kali, kau ajari aku ilmu siluman begini tanggung biniku, tak bisa mengumbar mulut lagi," seru Begog. Diam-diam Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita terkejut. Seperti berjanji, mereka memijat-mijat tubuh Ratu Kenaka hendak melancarkan aliran darahnya. Namun betapa mereka berusaha, tetap saja Ratu Kenaka tak dapat dipulihkan seperti sediakala. Dengan peristiwa itu, teranglah sudah bahwa mereka sudah kalah dalam satu babak. "Mulai!" tiba-tiba Alang-alang Cakrasasmita menggerung. Pedangnya berkelebat membabat kepala Sangaji. Panjang Mas tak mau ketinggalan pula. Cepat ia membarengi menusuk dada. Setelah itu, kakek Begog dan Sianyer menyapu kaki dan pinggang. Luar biasa cepat dan berbahaya serangan berbareng itu. Namun dengan sedikit menggeserkan tubuh, tiba-tiba Sangaji sudah lolos dari rantai serangan. Tubuhnya berkelebat menerobos tebasan senjata mereka tak ubah bayangan yang tak dapat tersentuh. Tatkala mereka hendak menyusuli serangannya yang kedua, Sangaji sempat mengibaskan pedang kayunya. Mereka mundur dengan berbareng. Cepat Panjang Mas membelokkan pedangnya menusuk tulang rusuk. Ia berharap agar Sangaji menarik pedang kayunya untuk mempertahankan diri. Sangaji terpaksa menangkiskan pedang kayunya. Tangan kirinya mengebas golok Sianyer. "Bagus!" seru Panjang Mas di dalam hati. "Kau berani menangkis pedangku. Tapi masakan pedang kayumu tahan beriawanan dengan pedang pusaka." Ia mengedipi Alang-alang Cakrasasmita. Pendekar ahli pedang itu, dengan cepat dapat menangkap isyarat rekannya. Pedangnya terus saja miring sambil mengeluarkan bunyi suara berdengung. "Mampus!" teriaknya sambil menebas. Di luar dugaan, Sangaji masih dapat menyelamatkan pedang kayunya. Bahkan dengan gerakan lembut, tiba-tiba pedangnya sudah menempel pedang Alang-alang Cakrasasmita. Kemudian suatu tenaga halus, menggoncangkan pedang Panjang Mas. Trang! Pedang Panjang Mas terdorong ke samping menangkis golok Begog. "Haiyah ... kenapa kau menangkis seranganku?" teriak kakek angin-anginan itu. Muka Panjang Mas berubah. Meskipun benar tuduhan kakek Begog, namun tak sudi mengakui. Bentaknya, "Kaulah yang kurang waspa-da!" Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita meskipun anak didik perguruan lain, namun intisari ilmu pedangnya boleh dikatakan sama. Setiap kali Panjang Mas melontarkan serangan, secara wajar serangan Alang-alang Cakrasasmita membantu dari sudut lain. Sehingga dengan tak sengaja, merupakan ilmu pedang gabungan yang serasi dan rapat. Sedangkan ilmu golok kakek Sianyer dan Begog sudah diketahui berasal dari satu sumber dengan ilmu pedang mereka. Hanya saja, gerakan jurusnya bercorak lain, karena mereka bersenjata golok. Namun setelah mereka bekerja sama, permainan mereka lambat laun menjadi serasi dan saling menambal kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangannya. Dengan begitu, permainan mereka makin nampak menjadi teratur dan Iancar sekali. Semenjak tadi Sangaji sadar, bahwa ia akan menghadapi suatu perlawanan yang berbahaya. Namun tak pernah ia menduga, bahwa permainan mereka yang timbal balik dan rapat itu, benarbenar tak dapat dipecahkan. Beberapa kali ia menghadapi detik-detik bahaya. Sayang, ia tak bersenjata pedang besi atau baja. Karena itu, tak berani ia menangkis suatu gempuran langsung. Sekali pedang kayunya patah, ia akan bertambah sulit. Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya golok Sianyer yang membabat dari bawah. Cepat ia melejit. Di luar dugaan pedang Alang-alang Cakrasasmita memegat gerakannya. Pada saat itu juga, terdengarlah suara Panjang Mas berteriak pasti. "Mampus!" Dan pedangnya bersuing membabat lehernya.. Tanpa berpikir panjang lagi, Sangaji menggerakan jari-jarinya. Ia menempel pedang Alang-alang Cakrasasmita sambil memunahkan golok Sianyer. Kemudian tenaga saktinya membendung pedang Panjang Mas. Tetapi golok Begog tiba-tiba merangsang hebat. Belum lagi ia mengerahkan tenaga untuk menyapunya, mereka bertiga yang kena tangkis sudah dapat membebaskan diri. Kemudian dengan serentak mencecar suatu serangan berantai yang dahsyat luar biasa. Tak mengherankan, bahwa Sangaji benar-benar repot. Dalam seribu kerepotannya mendadak teringatlah dia kepada Ratu Kenaka. Terus saja ia melesat bersembunyi di belakang tubuh Ratu Kenaka. Pada saat itu Panjang Mas melontarkan suatu serangan berbahaya. Cepat Sangaji berputar di belakang punggung Ratu Kenaka. Kalau Panjang Mas tidak menarik pedangnya, pasti tubuh Ratu Kenaka akan terbelah menjadi dua. Dalam kagetnya, Ratu Kenaka sampai menjerit. "Hai! Hai!" Apabila Alang-alang Cakrasasmita mencegat dari arah yang bertentangan, kembali lagi, Sangaji berlindung di balik punggung Ratu Kenaka. Demikianlah terjadi beberapa kali. Sekali ia pernah mencoba meraba mereka dengan pedang kayunya. Tapi hasilnya nol besar. Bahkan pahanya kena tusuk golok Sianyer. Maka cepat-cepat ia berlindung di belakang punggung Ratu Kenaka sambil mengamat-amati corak permainan mereka yang bagus luar biasa. Namun tetap saja ia belum memperoleh titik-tolak serangan mereka, sehingga terpaksalah ia bermain kucing-kucingan. Pikirnya di dalam hati, benar-benar mataku picak sekali. Terlalu rendah aku menilai ksatria-ksatria Jawa Barat. Kini aku benar-benar menumbuk batu. Apakah yang harus kulakukan untuk melawan mereka? Sangaji benar-benar dalam keadaan bingung. Ia mengira bahwa setelah mengantongi ilmu sakti keris Kyai Tunggulmanik, akan dapat melawan semua ilmu sakti di persada bumi ini. Ia lupa, bahwa dirinya belum memiliki ilmu sakti yang berada pada guratan pusaka Bende Mataram yang masih merupakan teka-teki besar baginya. Karena itu, meskipun guratan ilmu sakti Kyai Tunggulmanik merupakan sumber pokok dari sekalian ilmu sakti di kolong jagat ini, namun belum memuat titik tolak rahasianya. Sangaji bukan Titisari yang berotak cerdas luar biasa. Meskipun tidak boleh digolongkan manusia berotak bebal, namun reaksi atau daya tanggapan pikirannya tidaklah secepat Titisari. Maka untuk sekian lamanya, tetap saja ia belum menemukan titik rahasia permainan gabungan mereka. Waktu itu, darahnya terus menetesi bumi tiada hentinya. Meskipun luka yang dideritanya tidak parah, namun nampaknya ia menanggung suatu kerunyaman. Dalam pada itu, terdengarlah suara tertawa penonton bergegaran. Mereka bukan mentertawakan keadaan Sangaji tetapi Ratu Kenaka yang tetap berdiri tegak bagaikan sebuah patung belaka. Karena itu dipergunakan sebagai perisai oleh Sangaji, maka setiap kali suatu serangan tiba-tiba, hatinya seperti tercabut dari dadanya. Oleh rasa kagetnya, ia memekik-mekik: "Hai-hai, uh ... eh atau hayaaah." Terang sekali, ia mau mengelak atau menghindar. Namun tubuhnya tak dapat digerakkan, sehingga ia hanya dapat mempergunakan suara mulutnya belaka. Inilah yang menggelikan penonton kedua belah pihak. Panjang Mas rupanya tidak begitu senang dengan Ratu Kenaka. Apalagi, ia kini merasa dirintanginya. Setiap kali serangannya nyaris mengenai tubuh Sangaji, selalu gagal karena Sangaji berlindung di belakangnya. Seketika itu juga timbullah rasa gemasnya hendak membelah tubuh Ratu Kenaka saja. Namun mengingat, bahwa Ratu Kenaka adalah seorang pendekar besar pula, terpaksalah ia membatalkan maksudnya. Kakek Begog rupanya tahu membaca keadaan hati Panjang Mas. Jangan dikira ia seorang pendekar yang tolol benar-benar. Terus saja ia berteriak, "Panjang Mas! Kau tak sampai hati membunuh pendekar beracun ini? Baik, kau tak sampai hati tapi aku tidak. Lihat!" "Siapa bilang aku tak sampai hati?" tungkas Panjang Mas dengan sengit. Mereka berdua membabat tubuh Ratu Kenaka dengan berbareng. Sangaji terkejut. Dalam detik-detik itu teriintaslah suatu pertimbangan dalam benaknya. Pikirnya, dia mati, karena aku menggunakannya sebagai perisai. Kalau sampai mati, pastilah akan timbul suatu ( persoalan baru lagi. lnilah yang tidak kuinginkan. Dengan tangan kirinya ia mengibas. Suatu tenaga dahsyat luar biasa membendung golok kakek Begog sampai terguncang miring. Sedangkan pedang Panjang Mas hamper-ham-pir terpatah dari genggamannya. Tetapi pada saat itu mendadak terdengar suatu kesiur angin. Itulah sambaran golok Sianyer yang turun menebas pundak. Cepat Sangaji mengelak. Di luar dugaan, golok Sianyer menyelonong terus mengancam tubuh Ratu Kenaka. Betapa dahsyat tebasan itu, tapi apabila Sianyer mau pasti dapat ditahannya. Sebaliknya Sianyer tidak bermaksud demikian. la hanya berteriak nyaring. "Hai Ratu Kenaka! Awas!" Terang sekali, Sianyer bisa berbuat licik. Setiap orang tahu, bahwa Ratu Kenaka tak dapat berkutik. Namun ia berpura-pura tak dapat menguasai goloknya. Di luar dugaan, begitu golok Sianyer hampir tiba pada sasarannya, suatu tenaga besar membentur goloknya. Sianyer mundur dua langkah dengan terhuyung-huyung. Melihat Sangaji menyelamatkan jiwanya dua kali berturut-turut, gugurlah rasa permusuhan Ratu Kenaka. Malahan dengan diam-diam. Ratu Kenaka mengucapkan rasa terima kasih tak terhingga. Tetapi waktu itu serangan mereka berempat justru beralih kepadanya. Mau tak mau hatinya menjadi kecut. Menyaksikan perbuatan mereka, anak murid Gunung Mandalagiri serta pendekar-pendekar pihak penyerbu lainnya menggeleng-gelengkan kepalanya. Mereka tak sependapat dengan perbuatan itu. Bahkan dalam hati mereka merasa malu. Seumpama Sangaji akhirnya tertimpa suatu malapetaka semata-mata menyelamatkan jiwa Ratu Kenaka, mereka akan ikut berduka cita. Serangan Sianyer dan Begog tak pernah surut. Juga Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita. Mereka mencecar Sangaji terus menerus dan sekali-kali menyerang Ratu Kenaka yang tak dapat berkutik, Mereka sadar, bahwa untuk menyerang Sangaji, tidaklah mudah. Satu-satunya pancingan ialah apabila mereka tiba-tiba menyerang Ratu Kenaka. Dengan serangan itu, Sangaji terpaksa bergerak untuk menolong. Kesempatan itu, dipergunakan sebaik-baiknya oleh Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita untuk melontarkan suatu serangan dari belakang punggung. Setelah berlangsung beberapa kali, lambat laun serangan mereka beralih kepada Ratu Kenaka. Tipu muslihat demikian benar-benar merisaukan hati Sangaji. Sebab ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri saja, tetapi pun keselamatan nyawa Ratu Kenaka. Mereka pandai berpikir juga. Kalau aku sampai lengah, bukankah nyawa Ratu Kenaka akan musnah? Apa perlu mengorbankan dia? pikir Sangaji. Memperoleh pikiran demikian, segera ia melontarkan suatu pukulan dahsyat. Mereka kena dimundurkan dengan berbareng dan pada saat itu pula ia membebaskan tubuh Ratu Kenaka. Kakek Sianyer rupanya berpenasaran. Begitu ia tegak kembali terus saja menyerang Sangaji. Tapi serangannya kena dipunahkan dengan gampang. la terpental ke samping dan tepat berada di depan Ratu Kenaka. Tanpa menyia-nyiakan waktu yang baik, ia mengayunkan tangannya hendak menebas leher Ratu Kenaka. Namun Sangaji benar-benar waspada. Tangan kirinya segera menghadang, sehingga mau tak mau Sianyer terpaksa menarik serangannya. Tak terduga, bahwa Ratu Kenaka kini sudah bisa bergerak dengan bebas. Begitu ia menarik goloknya, tinju Ratu Kenaka singgah di hidungnya. Plak! Seketika itu juga, darahnya menyembur dari lubang hidungnya. Peristiwa itu terjadi dengan tak terduga sama sekali. Para pendekar kedua belah pihak tahu, bahwa ilmu Sianyer jauh lebih tinggi daripada Ratu Kenaka. Apa sebab sampai kena kemplangan begitu mudah? Soalnya, karena kakek itu tak pernah menduga bahwa Ratu Kenaka dapat bergerak seperti sediakala berkat pertolongan Sangaji. Perubahan yang mendadak itu benar-benar mengibuli penglihatannya. "Hai! Kenapa kau ... kau ..." kata Sianyer. "Kenapa bagaimana?" bentak Ratu Kenaka. Alang-alang Cakrasasmita menengahi, "Ambil senjatamu dan bantulah kami!" "Eh, enak saja kau main perintah. Aku ini apamu, sampai kau berani memerintah?" potong Ratu Kenaka, tanpa memedulikan mereka, ia terus hendak memundurkan diri. Di luar dugaan Begog, menghadang di tengah jalan dan terus menyerang. Namun Ratu Kenaka bukan pula seorang pendekar murahan. Meskipun tak bersenjata, masih bisa ia mengelak. Hanya saja, ia kalah cepat. Tahu-tahu siku Begog menyodok dadanya. Dan ia terhuyung mundur sambil melontarkan darah segar. Alang-alang Cakrasasmita rupanya panas hati pula, karena kena dampratan. Sekali ia mengayunkan tangan kirinya dan tubuh Ratu Kenaka terangkat naik. Kemudian dilemparkan jauh nyaris tiba pada garis gelanggang. Hebatnya lagi, ia masih bisa pula melontarkan serangan berantai terhadap Sangaji. Ilmu pedang Alang-alang Cakrasasmita sesungguhnya merupakan ilmu pedang bernilai tinggi. Sekarang ia bergabung dengan Panjang Mas. Hebatnya tak terkatakan lagi. Dalam pada itu kedua kakek dari Muara-binuangeun tidak membuka mulut lagi. Mereka nampak bersungguh-sungguh. Serangan-serangan mereka kian teratur dan berbahaya. Ini disebabkan, karena tiada lagi halangan. Ratu Kenaka sudah terbuang jauh. Dengan demikian, serangan mereka benar-benar mengancam keselamatan Sangaji. Sangaji sendiri sebenarnya tidak terlalu khawatir menghadapi mereka. Tenaga saktinya yang tiada bandingnya di dunia jauh lebih ulet daripada mereka. Seumpama dipaksa untuk bertempur satu hari satu malam, takkan mengalami suatu kemunduran. Sebaliknya kerja sama mereka berempatpun tidak gampang-gampang untuk dapat digempur hancur. Sebab yang satu menjaga, sementara lainnya bergerak menyerang. Lagi pula, tipu muslihat dan keragaman corak pertempurannya selalu berubah dan tiada habis-habisnya. Pertarungan sengit ini membuat setiap penonton berdebar-debar hatinya. Mereka tahu, bahwa ilmu gabungan Jawa Barat merupakan suatu ilmu sakti yang bernilai sangat tinggi. Sebaliknya, tenaga sakti Sangaji yang luar biasa bukan pula berada di bawahnya. Kedua corak permainan mereka, benar-benar bermutu sangat tinggi. Rupanya bertitik tolak pada suatu sumber yang sama. Bedanya corak ilmu gabungan mereka lebih banyak ragamnya. Sedangkan ilmu pertahanan Sangaji yang diperlihatkan sangat sederhana dan utuh. Kedua pedang Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita terus mendesak dengan tekanan makin lama makin berat. Sedangkan kedua golok Begog Sianyer terus-menerus merangsak dari arah yang bertentangan. Beberapa kali Sangaji mencoba meloloskan diri dari kepungan mereka dengan menggunakan ilmu Mayangga Seta. Ia selalu berhasil. Dan apabila mau, sebenarnya ia bisa melarikan diri dengan mengandalkan ilmu larinya yang takkan terkejar oleh mereka. Tapi hai itu berarti pula, bahwa ia gagal hendak menolong keruntuhan Himpunan Sangkuriang. Satu-satunya jalan, ia harus bertahan serapat-rapatnya dengan sekali-kali melontarkan pukulan ilmu sakti Kumayanjati. Dan kemudian setelah letih, ia akan melancarkan serangan balasan. Sama sekali tak diduganya, bahwa mereka berempat sesungguhnya merupakan empat pendekar yang ulet dan tabah. Serangan-serangan mereka tiada nampak kendor. Malahan sama sekali tiada nampak tanda-tanda letih atau payah. Maka terpaksalah Sangaji bertahan sedapat-dapatnya sambil mengamat-amati rahasia ilmu mereka. Alang-alang Cakrasasmita dan kawan-kawannya meskipun merasa diri unggul, namun dalam hati mereka termasuk tokoh-tokoh pimpinan penyerbu. Menurut pantas, mereka tak boleh main keroyok terhadap seorang lawan. Untung, Sangaji tadi sudah mengalahkan pendekar Sindung Riwut yang disegani lawan dan kawan. Dengan demikian, mereka tak usah khawatir akan merosot pamornya dalam percaturan hidup. Lambat laun, serangan Sangaji terasa makin sempit. Malahan hampir-hampir tak dapat membuat suatu serangan balasan. Tetapi sebaliknya, mereka berempat tak dapat juga menyentuh tubuhnya. Apabila senjata mereka nyaris meraba kulit Sangaji, tiba-tiba saja menebas udara kosong. Dan tubuh Sangaji sudah berada di tempat lain dengan suatu gerakan yang sukar dimengerti. Namun mereka adalah golongan pendekar yang sudah banyak makan garam. Makin sudah menghadapi lawan, makin sadarlah mereka. Seperti berjanji, mereka kian tekun dan tidak gegabah. Mereka sadar, apabila keburu nafsu pastilah akan gagal. Dengan demikian, serangan mereka kini berubah menjadi tertib. Dan tidak lagi asal menyerang seperti tadi. Maka corak pertempuran mereka kini berubah seperti saling bertahan dan saling mengamat-amati. Saat demikian, dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh tiap-tiap perguruan untuk memberi keterangan atau pengajaran terhadap murid-murid dari tingkatan rendah. Para pendekar Himpunan Sangkuriang yang masih saja belum bisa berkutik, tidak pula tinggal diam. Otong Surawijaya yang sela manya bermulut usilan terus saja berseru, "Hai Tatang Sontani! Selamanya kau berotak encer. Coba bagaimana pendapatmu?" "Andangkara lebih hebat daripadaku," sahut Tatang Sontani pendek. "Aku bertanya kepadamu, bukan dia!" damprat Otong Surawijaya,. "Lihatlah! Ilmu pemuda itu sangat aneh. Meskipun ia masih bisa mengelak, namun ilmu gabungan mereka makin lama makin sukar diraba. Apa sebab?" "Hm, apa sih hebatnya? Bukankah mereka bertitik tolak pada delapan penjuru angin?" sahut Tatang Sontani. "Delapan penjuru angin bagaimana?" Otong Surawijaya mendesak. Tokoh-tokoh Himpunan Sangkuriang yang menggeletak tak dapat berkutik itu, bukanlah pendekar-pendekar lumrah. Mereka berkepandaian sangat tinggi. Meskipun tubuhnya kini tak dapat berkutik, namun pikirannya masih bekerja seperti biasa. Itulah sebabnya, mereka bisa berpikir dengan leluasa. Dan semenjak tadi, Sangaji tahu bahwa mereka ikut berprihatin. Dan begitu mendengar percakapan mereka, segera ia menaruh perhatian. Kata Tatang Sontani, "Delapan penjuru angin yang diputar balik. Lihatlah dengan saksama! Setiap kali mereka hendak menyerang, pasti mereka bergerak mundur. Kemudian maju ke titik pusat. Tiba-tiba memasuki penjuru seorang di depannya." "Ya, ya ... ya, aku tahu. Cuma garis serangan mereka tidak lurus. Apa sebab?" "Baiklah kuterangkan agak jelas. Penjuru satu: timur. Lantas barat, selatan dan utara. Terbagi empat penjuru lagi. Timur laut, tenggara. Barat laut dan barat daya. Jadi delapan penjuru. Tetapi mereka tidak melalui garis lurus. Mereka membagi lagi menjadi delapan garis pecahan. Dengan demikian menjadi enam belas pecahan. Kemudian mereka membuat garis lingkaran menjadi empat bagian. Jumlahnya sekaligus menjadi 4 x 16 = 64 garis titik tolak. Kalau ini dikalikan secara timbal balik sekaligus berjumlah 64 x 64. Masih pula mereka menggunakan garis-garis miring yang berjumlah 64 x 9. Nah, berapa jumlahnya?" "Kau hitunglah sendiri! Biar aku mendengarkan saja!" gerutu Otong Surawijaya. Tiba-tiba Tubagus Simuntang menyahut, "Itulah mudah. Semua berjumlah 4096 + 666 = 4762 garis. "Bagus! Sekarang kalikan timbal baliknya!" seru Tatang Sontani. "Itulah ruwet sekali. Apakah maksudmu 4762 x 4762 ? (= 22.676.644). "Ya." "Ouuu ... siapa mau menghitung begitu?" tungkas Otong Surawijaya. "Kalau begitu, masakan berarti pula bahwa pemuda itu tidak dapat mengatasi mereka?" Tatang Sontani tak segera menjawab. Sebaliknya Andangkara yang selama itu berdiam diri, kemudian menyambungi. "Otong Surawijaya! Kau menguasai ilmu Jala Sutra lndrajaya. Masakan tak mengerti perdamaian mereka?" "Eh, apakah titik-tolaknya sama?" "Kenapa tidak? Betapa ruwet permainan mereka, namun kaki mereka tetap berpijak pada titik-tolak serangan mereka. Apabila anak muda itu bisa mendahului, pastilah mereka bakal keripuhan. Karena sekali kena didahului, membuat permainan timbal balik mereka macet di tengah jalan." "Ya, bagus! Bagus!" seru Otong Surawijaya gembira. Namun tiba-tiba jadi prihatin. Katanya, "Tapi iblis siapa yang bisa bergerak sece-pat itu?" "Simuntang pasti mampu," kata Dadang Wiranata. "Ah ya ... Apakah pemuda itu bisa menyamai kegesitan Simuntang? Itulah soalnya," kata Otong Surawijaya. "Otong!" seru Simuntang. "Kunyatakan sekarang, bahwa dibandingkan dengan pemuda itu, ilmu lariku jauh berada di bawahnya. Bahkan aku pantas menjadi muridnya. Kau percaya, tidak?" Mendengar percakapan mereka, Sangaji tersadar. Ia sudah mempunyai pengalaman melawan barisan Jala Sutra lndrajaya. Ontuk melawan mereka, ia harus mengadu kegesitannya. Dan ia berhasil. Oleh ingatan itu segera ia mengamat-amati gerak tipu mereka. Benar juga. Meskipun sangat ruwet dan selalu berubah, namun kedua kaki mereka tetap berpijak kepada kiblat delapan penjuru angin. Gerak-gerik mereka serasi dan saling menutup. Apabila yang satu maju, lainnya menimpali. Dan yang dua menjaga kelemahan mereka. Begitu terjadi suatu perubahan, dengan cepat mereka menggeser dan kembali saling menimpali. Sebenarnya, Sangaji bukanlah seorang pemuda yang pandai ilmu berhitung seperti Titisari. Namun ia sudah memiliki ilmu sakti tertinggi di dunia. Begitu melihat, maka berkelebatlah ragam ukiran keris sakti Kyai Tunggulmanik dalam benaknya. Bagaimana cara memecahkan, segera ia mengetahui dengan jelas. Itulah disebabkan, karena kunci titik tolaknya sudah terdapat dengan terang gamblang. Maka kini, ia tidak lagi kelabakan melayani gerak tipu muslihat mereka. Biarlah aku mengamat-amati sekali lagi, pikirnya. Alang-alang Cakrasasmita dan Panjang Mas waktu itu nampak makin bersemangat. Apalagi kedua kakek Sianyer dan Begog benar menguasai gerak tipu muslihat ilmu goloknya. Maka serangan mereka mendadak menjadi kian rapat dan dahsyat. Sebaliknya Manik Angkeran yang juga mendengarkan uraian tokoh-tokoh sakti Himpunan Sangkuriang menjadi khawatir. Sebagai seorang tabib, ia lebih cepat dapat dibuatnya mengerti tentang lika-liku persoalan betapa rumitpun. la sadar, bahwa pemecahannya tidaklah mudah. Mengingat Sangaji masih saja belum berdaya menghadapi mereka, hatinya tak tahan lagi. Terus saja ia berteriak. "Apa-apaan ini? Empat orang mengeroyok seorang lawan. Masakan tidak malu?" "Bangsat!" maki Panjang Mas. "Kau monyet kecil apa perlu ikut campur?'* "Hm ... kau tahu, bahwa kawanmu bakal mampus bukan?" ejek Alang-alang Cakrasasmita. Karena rahasia hatinya kena terbongkar, mulut Manik Angkeran mendadak tergugu. Sebaliknya diam-diam Sangaji terharu melihat sepak-terjang Manik Angkeran yang selalu menaruh perhatian atas keselamatannya. Maka dengan tertawa gelak ia berkata, "Kau tak usahlah gelisah. Ilmu begini macam, sebenarnya belum bisa merobohkan aku. Kau percaya, tidak?" "Tentu saja aku percaya!" sahut Manik Angkeran. "Eh enak saja kau mengumbar mulut," potong Panjang Mas. "Kalau bisa meruntuhkan kami, hayo buktikan!" "Kalian ingin aku membuktikan?" kata Sangaji. "Cobalah, kalau mampu!" bentak Alang-alang Cakrasasmita. "Apa taruhannya?" "Kalau kami kena kauruntuhkan, kami semua akan meninggalkan gunung." "Benarkah itu?" "Ucapan seorang laki-laki!" "Bagus! Dan kau bagaimana Aki?" "Aku?" sahut Begog. "Aku sih ... mau saja. Tapi anak muda, bagaimana kau bisa mengalahkan kami?" "Jangan cerewet!" bentak Sianyer. Mereka berempat terus melancarkan serangan lagi. Tiba-tiba Sangaji melangkah dua langkah ke kiri. Pedang kayunya dikibaskan ke kanan. Suatu angin dahsyat berkesiur menghantam punggung Sianyer. la terpaksa ber-geser mundur. Karena pergeseran itu, mereka ikut merubah titik serangan. Tak terduga, Sangaji mendesak lagi ke kiri dan membarengi mengibaskan pedang kayunya. Trang! Entah apa sebabnya, pedang Panjang Mas sekonyong-konyong membentur golok Begog. Itulah ilmu sakti ukiran Kyai Tunggulmanik yang tertinggi. Namanya, ilmu Guntur Wijaya atau ilmu adu sakti. Maksudnya mengadu dua kekuatan lawan yang saling bertentangan kedudukannya. Sudah barang tentu, ilmu demikian tak pernah termasuk dalam perhitungan mereka. Panjang Mas hanya terkejut. la mengira, dirinya tak becus menguasai sasaran pedangnya. Sebaliknya, Begog yang kena bentur segera memutar goloknya kencang-kencang. Dengan memberi isyarat kepada Sianyer ia merangsak Sangaji. Tak terduga, golok mereka tiba-tiba menjadi miring arahnya dan menghantam pedang Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita dengan berbareng. Cepat-cepat mereka berputar arah. Tapi sekali lagi, mereka saling berhantam, sehingga kakek Begog berkaok-kaok. "Hai! Hai! Bocah ini mempunyai ilmu siluman. Awas jangan sampai kena perangkapnya." Mendengar seruan Begog, Panjang Mas tersadar. Segera ia menggeser tempat ke kiri. Tapi dengan gerakan sedikit, Sangaji kembali mengacaukan serangan gabungan mereka. Dan kembali mereka saling menikam. Pantat Begog kena tusuk. Sebaliknya lengan Panjang Mas terluka pula. Sianyer dan Alang-alang Cakrasasmita tidak bebas pula dari suatu luka. Masing-masing mendapat hadiah satu tusukan yang agak lumayan pula parahnya. Perubahan yang aneh itu, membuat Sianyer berseru dengan tergopoh-gopoh. "Begog! Jangan bingungJ Bocah ini pandai ilmu gila." la terus menjejak tanah menyambar dari atas. Sangaji mengibaskan tangan. Dan serangan Sianyer beralih mengarah Panjang Mas. Gugup Panjang Mas menyabetkan pedangnya hendak menangkis. Tahu-tahu golok Begog menebas perutnya. Dalam gugupnya, ia sampai menjerit, maka dengan mati-matian Alang-alang Cakrasasmita memegat arah tebasan golok itu. Tak terduga sama sekali, bahwa golok Sianyer tiba-tiba memukul kepalanya. Itulah akibat ilmu sakti Sangaji yang diatur demikian rupa, sehingga sekali lagi mereka saling melukai. Dan begitulah, dalam sekejap mata saja ilmu gabungan mereka hancur. Penonton kedua belah pihak menjadi gempar berbareng heran. Mereka melihat Sangaji menggoyang-goyangkan pedang kayunya. Dan golok Begog kembali kena dibelokkan menghantam pinggang Alang-alang Cakrasasmita. Sebaliknya pedang Panjang Mas menusuk tulang rusuk Sianyer. Beberapa saat kemudian, sekonyong-konyong kedua pedang Panjang Mas dan Alang-alang Cakrasasmita saling menghantam. Dan kedua kakek itupun saling bertempur dengan serunya seperti kemasukan setan. Sampai di situ, teranglah sudah, bahwa Sangaji berhasil menghancurkan ilmu gabungan keempat pendekar sakti yang merupakan tokoh pimpinan penyerbuan. Hanya saja, mereka tak mengerti bagaimana cara Sangaji mengacaukan permainan mereka. Di antara para pendekar Himpunan Sangkuriang, hanya Tatang Sontani sendiri yang memahami ilmu sakti Sangaji. Ia memiliki ilmu sakti Tunggulwulung yang dapat pula mengalihkan tenaga lawan seperti yang pernah dibuktikan tatkala ia dikeroyok rekan-rekannya di pendapa agung. Namun tak pernah ia mengira, bahwa di jagat ini ada seorang pemuda yang dapat melatih ilmu sakti semacam itu demikian sempumanya. Maka kali ini, benar-benar ia merasa kagum dan takluk. Makin lama Sangaji makin keras menggoyangkan pedang kayunya. Itulah cara dia mengalihkan titik pusat sasaran serangan. Sewaktu keempat lawannya kena ditarik ke titik pusat, tangan kirinya berputar-putar melepaskan ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi, Sura Dira Lebur dening Pangastuti. Hebat akibatnya. Keempat pendekar itu mendadak saja seperti kena seret suatu arus gelombang dahsyat. Tahu-tahu mereka saling bertempur dengan serunya. Tidak peduli mereka berusaha hendak membebaskan diri, namun tetap saja mereka terlengket pada garis lingkaran. "Sianyer!" teriak Begog. "Kenapa kau malah menggebuk aku?" "Aku hendak menebas bangsat cilik ini. Masakan aku menyerang kau?" damprat Sianyer. "Kalau begitu... kalau begitu... golokku mungkin menghantam tengkukmu!" seru Begog. Benar juga. Begitu ia menebaskan goloknya ke arah leher Sangaji, mendadak saja berubah arah. Dengan derasnya, goloknya benar-benar mengancam tengkuk kakak seperguruannya. Alang-alang Cakrasasmita yang . bergerak hendak menimpali permainan mereka, terguncang pula pedangnya. Hampir saja pedangnya menusuk ulu hati Panjang Mas. Dan mengalami perubahan demikian, Panjang Mas lalu melemparkan pedangnya ke tanah. Kemudian mundur meninggalkan gelanggang. Sebaliknya Begog masih penasaran. la melemparkan goloknya pula, tapi dengan mendadak menghantam dada Sangaji dengan tinjunya. Dengan tersenyum Sangaji mengibaskan tangan. Dan tinju Begog membelok arahnya dan menggebuk tengkuk Panjang Mas yang sedang berjalan meninggalkan gelanggang. Keruan saja Panjang Mas terkejut mendengar kesiur angin. Cepat ia menyongsong serangan itu. Bres! Kedua pendekar itu terjengkang mundur dengan berbareng. Panas hati Alang-alang Cakrasasmita melihat rekannya diserang kakek Begog. dalam keadaan tak berjaga-jaga, pedangnya hendak menyambar. Sekonyong-konyong Panjang Mas berteriak, "Lemparkan pedangmu! Dia tak bermaksud menyerang aku!" Mendengar teriakan itu, Alang-alang Cakrasasmita membuang pedangnya jauh-jauh. Kemudian dengan pandang kagum luar biasa, ia mengamat-amati wajah Sangaji. "Anak muda! Kau hebat! Aku akan menepati ucapanku," katanya dengan menghela napas. "Agaknya Himpunan Sangkuriang masih jaya. Sudah terang keruntuhannya tinggal di ambang pintu siapa mengira, tiba-tiba muncullah engkau sebagai dewa penolong. Selamat!" Setelah berkata demikian, ia melambaikan tangannya. Lalu mendahului turun gunung. Para pendekar lainnya dengan berdiam diri pula mengikuti dari belakang. Panjang Mas, kakek Begog dan Sianyer serta Ratu Kenaka tidak lagi membuka suara. Mereka mengakui Alang-alang Cakrasasmita sebagai pimpinan penggerebegan. Sekarang ia sudah menyatakan turun gunung. Maka mereka tak berhak untuk membangkang. Demikianlah sebelum sore hari tiba, lembah ketinggian Gunung Cibugis telah bersih dari kaum penyerbu. Ketenangannya mulai meresap dan mengalir ke dalam tubuh tiap Himpunan Sangkuriang. Sangaji sendiri waktu itu mendadak saja terpaku tak ubah area. Seluruh tubuhnya terasa lemah lunglai. Bukan karena ia telah kehilangan tenaga, tetapi semata-mata oleh kegoncangan hatinya. Selama hidupnya belum pernah ia berbicara selincah itu. Menilik wataknya yang sederhana dan pendiam, terang sekali bahwa kejadian demikian adalah semata-mata memaksa diri, demi keselamatan Himpunan Sangkuriang. Oleh hebatnya pertentangan antara wataknya yang asli dan kesadaran akalnya, kini ia tergempur dari dalam. Seperti tiada bersendi tulang, sekonyong-konyong ia jatuh terjongkok. Dan ia berdiam diri seolah-olah kehilangan kesadarannya. ***

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 43 ILMU SAKTI TUNGGULMANIK"

Posting Komentar