BENDE MATARAM JILID 36 DI PANGKUAN BUNDA


TIDAKLAH PERLU DICERITAKAN berke-panjangan betapa mengharukan pertemuan itu. Rukmini lantas saja memeluk Sangaji erat-erat. Kini tak bisa lagi ia menciuminya seperti dahulu, karena Sangaji sudah menjadi jejaka dewasa yang berperawakan kekar dan gagah luar biasa. Sebaliknya kena peluk Rukmini, Sangaji merasa dirinya kecil. Di luar kemauannya sendiri, terbersitlah rasa kekanak-kanakannya. Tahu-tahu ia menyesapkan kepalanya ke dada ibunya bagaikan seekor anak ayam mencari perlindungan di bawah sayap induknya. "Ibu! Aku pulang!" katanya terengah- engah. Semenjak kanak-kanak tak pandai ia me-nyatakan perasaannya, sehingga gumpalan-gumpalan perasaannya hanya tercetus dalam sederet kalimat sependek itu. Dan ia mengulangi entah sudah berapa kali. Tetapi Rukmini merasakan suatu kehangatan yang luar biasa menggetarkan dadanya. "Anakku..." katanya sesak. "Dua tahun engkau pergi. Rasanya aku kehilangan dirimu hampir seabad." la berhenti menyeka air mata. Meneruskan, "Saban malam aku memimpikan engkau, untuk dua tiga kali. Kau... kau... kau begini tumbuh besar melebihi... melebihi ayah-mu... Bibir Rukmini bergemetar tatkala meng-ucapkan kata-kata yang penghabisan itu. Air matanya meruap deras dan pelukannya ber-tambah menjadi kencang, la tak tahu sendiri, apakah hatinya bergembira—bersyukur—ter-haru atau berduka. Wanita memang tak mudah menghilangkan sesuatu kenangan. Apa lagi suatu kenangan yang menggores lubuk hati. Ia bisa menjadi pelit, malah. Maka bayangan Made Tantre suami dan ayah Sangaji yang dicintai dengan segenap hatinya berada di depannya. Di antara kelopak matanya yang basah dan perawakan Sangaji yang jadi samar-samar. Sangaji meskipun tak pandai menyatakan perasaan, tahu membaca perasaan ibunya. Itulah pula sikap yang dibawanya manakala menghadapi Titisari, Nuraini, Sanjaya, kedua gurunya dan orang-orang tua lainnya. Karena itu dengan sabar ia membiarkan ibunya me-ruapkan perasaannya sepuas-puasnya. Apabila pelukan ibunya mulai terasa longgar, ia menarik kepalanya dengan perlahan-lahan. Kemudian dengan menggandeng tangan ibunya, ia membawanya duduk di atas dipan panjang. Pada hari-hari berikutnya Rukmini penuh dengan ceritera petualangan Sangaji. Hatinya ikut berdebaran apabila Sangaji berada dalam adegan yang menegangkan dan bersyukur setinggi langit manakala anaknya terlepas dari suatu mara bahaya. Tatkala sampai pada nasib Wayan Suage dan Sapartinah, ia tertegun seperti kehilangan dirinya sendiri. Hatinya jadi kecewa dan mas-gul. Gntung Sangaji tak pandai berceritera. Apa yang diceritakan sangat sederhana. Banyak ungkapan-ungkapan rasa hidup yang dilalui atau dilompati dengan begitu saja, sehingga tak beda dengan seorang anak menghafalkan sejarah di depan kelas. Walaupun demikian keadaan hati Rukmini yang sederhana mengalami kegoncangan dahsyat. "Bagaimana bisa jadi begitu? Bagaimana bisa jadi begitu?" ia berbisik berulangkali. Hal itu bisa dimengerti, karena hati-dan pandangan hidupnya terlalu sederhana. Sebagai seorang isteri pahlawan dari Bali, sedikit banyak ia mewarisi pandangan dan sikap adat keagamaan Bali di kala itu. Dia bisa menerima bahwa seorang isteri wajib menyertai suaminya ke alam baka, manakala suaminya wafat, dengan jalan menerjunkan diri ke dalam unggun api pembakar mayat. Itulah sebabnya pula, ia memuja suaminya seperti dewa. Kalau saja ia tidak dibawa lari oleh Kodrat dan direpoti oleh masa depan anaknya pastilah ia sudah membiarkan dirinya terbakar hidup-hidup di samping jenazah suaminya tatkala rumahnya kena bakar anak buah sang Dewaresi. "Jadi Tinah sekarang sudah menjadi Raden Ayu Bumi Gede?" ia menegas. Sangaji mengangguk. Dan ia tak lagi men-cari keyakinan yang lain. "Lantas bagaimana pamanmu?" ia meng-alihkan persoalan. "Paman Wayan Suage hanya mewarisi ini," jawab Sangaji. "Mewarisi apa?" "Kecuali aku diharuskan membawa Ibu pulang ke kampung, aku diwajibkan merawat pusaka ini dengan baik," kata Sangaji seraya membuka kantongnya. Melihat kedua pusaka sakti, Rukmini meng-gigil di luar kehendaknya sendiri. Dengan wa-jah berubah hebat, ia berkata, "Apa artinya ini?" "Inilah pesan Paman Wayan Suage, agar aku selalu membawanya ke mana aku pergi." "Tidak-Tidak! Kau tak boleh menyentuh kedua benda terkutuk itu! Itulah benda pangkal bencana yang sudah menyita nyawa ayahmu dan pamanmu Wayan Suage," tungkas Rukmini. "Aku lebih senang, bila kaulemparkan saja ke luar jagat ini! Firasatku berkata, bencana baru akan datang lagi... Anakku! ... Dengarkan kata ibumu ini!" Sangaji tertegun. Sebab apa yang dinya-takan ibunya sedikitpun tak salah. Bukankah gurunya Wirapati dan dia sendiri hampir-hampir tewas oleh masalah perebutan kedua pusaka itu pula? Teringat akan hal itu, teringatlah pula dia kepada Titisari.

Dan teringat kepada Titisari dengan sendirinya tersadar pada masalah yang bakal dihadapi. Itulah masalah Sonny de Hoop. Bulu kuduknya meremang tak setahunya sendiri. Apa inilah bencana baru yang diramalkan ibunya? Pada dewasa itu, ucapan rasa yang meletup dari perbendaharaan seorang ibu hampir sama tuahnya dengan sabda gaib sendiri. Maka dengan hati-hati Sangaji berkata, "Ya, Bu. Tetapi kedua pusaka ini meskipun sudah diwariskan Paman Wayan Suage kepadaku sesungguhnya bukan milikku penuh-penuh. Bukankah yang satu tetap menjadi milik dan haknya Dinda Sanjaya? Malah dengan tak sengaja aku sudah membaca dan mewarisi ilmu sakti dari guratan keris Kyai Tunggulmanik. Karena itu, biarlah kuserahkan semuanya kepadanya. Seumpa-ma pusaka Bende Mataram ini sebagai alat pembayaran atas kelancanganku. Manakala Dinda Sanjaya menyetujui anjuran Ibu, biarlah dia yang membuangnya. Sebaliknya bila dia ingin memiliki, semenjak itu bukankah aku tak tahu menahu lagi? Dengan demikian, berarti aku tahu berterima kasih. Sebab sesungguhnya, pusaka sakti ini sudah ikut menyumbangkan suatu saham besar dalam diriku." Setelah berkata demikian, dengan singkat Sangaji mengisahkan riwayat penemuan garit-garit ) rahasia yang terdapat pada keris Kyai Tunggulmanik. Sedangkan garis-garis rahasia yang berada pada pusaka Bende Mataram sama sekali belum diketahui. Mendengar ujar Sangaji, Rukmini mengeluh. Benar-benar ia tak beragu lagi menyatakan firasatnya. Katanya, "Anakku kalau sifat bendanya saja sudah bisa menerbitkan bencana apa lagi isinya." "Dan engkau apa sebab sudah mereguk isi-nya? Sekarang apa yang harus Ibu lakukan? Ah bencana! Bencana." Sederhana pengucapan Rukmini. Tetapi justru oleh kesederhanaan itu terasa sekali betapa dahsyat pengaruhnya. Tak terasa wajah Sangaji berubah hebat.
Dia merasa diri seolah-olah bencana itu sudah mulai bekerja. Itulah masalah Sonny de Hoop.Teringat hal itu terloncatlah perkataannya: "Ibu sebenarnya aku sendiri tiada bernafsu untuk mempelajari rahasianya. Begini..." Ia menceritakan kembali pengalamannya selama di benteng batu. Kemudian menge-sankan, "Dan Titisari meyakinkan aku agar aku mempelajarinya. Katanya itulah satu-satunya jalan kalau aku ingin menuntut dendam Ayah. Tahukah Ibu siapakah pembunuh Ayah dahulu? Dialah suami Bibi Sapartinah sekarang. Pangeran Bumi Gede." "Kau berkata apa? Suami Sapartinah?" tungkas Rukmini. "Itulah pembunuh Ayah. Dialah suami Bibi dan ayah angkat Dinda Sanjaya," sahut Sangaji. Rukmini terpaku seperti kena pukau. Ia tak berkata sepatah kata, tapi wajahnya menjadi pucat. Perlahan-lahan ia menundukkan kepala. Dan lama ia berdiam diri. Tatkala menegakkan pandang lagi, wajahnya kian menjadi pucat. Hebat penanggungan Rukmini. Semenjak suaminya terbunuh, tak dapat ia melupakan wajah dan perawakan pembunuh itu meski sedikitpun. Setiap kali ia mengesankan dan meresapkan lagu balas dendam ke dalam sa-nubari anaknya. Di luar dugaan, ternyata pembunuh itu kini menjadi suami Sapartinah. "Mustahil! Mustahil!" ia berkomat-kamit. "Masakan Tinah sudi menerima cinta kasih musuh besarnya. Ah Mustahil! Mustahil..." Rukmini jadi kebingungan seperti seorang kehilangan tiang agungnya dengan tiba-tiba. Setiap kali mulutnya melepaskan kata-kata mustahil, telinganya menjadi pengang sehing-ga ia merasa akan jatuh pingsan. Sudah barang tentu keadaan Rukmini tidak terluput dari pengamatan Sangaji. Pemuda itu menjadi resah berbareng gugup.
Segera ia memeluk ibunya dan terus menyalurkan hawa murninya. Kemudian ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ibu! Tadi aku menyinggung nama Titisari, bukan? Biarlah kukabarkan siapa dia sebenarnya." Dengan sekuasa-kuasanya ia mewartakan diri Titisari, betapa gadis itu sering menolongnya. Ia mulai mengisahkan riwayat perkenalannya di Cirebon sampai peristiwa di ben-teng kuna. Namun tidak menyinggung tentang hubungan yang sesungguhnya, karena khawatir akan menambah kesusahan ibunya. Di luar dugaan ibunya tiada menaruh perhatian seperti yang dikehendaki. Bahkan seolah-olah tidak mendengarkan. Pada suatu saat Rukmini merenungi, kemudian memotong pembicaraan dengan tiba-tiba.. "Aji! Apakah engkau sudah... melaksanakan tugas ayahmu?" Sangaji kaget mendengar pertanyaan itu, meskipun semenjak meninggalkan padepokan Gunung Damar sudah mempersiapkan jawab-annya. Dilihatnya wajah pucat lesi. Bibirnya bergemetaran. Dan suatu warna kehijau-hijauan mulai memasuki kedua pipi dan dahinya. Seperti kena pandang suatu kekuatan gaib, Sangaji meruntuhkan kepalanya. Dalam kebimbangannya timbullah suatu keputusan yang menyakitkan hatinya. Ia harus mengakui dirinya tak becus melaksanakan tugas suci. Meskipun kejadian itu bertalian dengan peristiwa Sonny de Hoop yang mengharuskannya cepat-cepat balik pulang ke Jakarta karena sudah melampui batas waktu. "Ayah dinda Sanjaya sangat mulia," katanya hati-hati. "Ia berwibawa pula dan memiliki laskar melebihi jumlah kompeni." "Aji, engkau sudah melaksanakan tugas ayahmu?" potong Rukmini. "Aku.,, aku..." Sangaji tergagap-gagap. "Ibu anakmu ini tiada mempunyai daya guna." "Jadi belum?" potong Rukmini lagi. Tak kuasa lagi Sangaji melepaskan kata-kata. Hatinya sangat pedih. Dua tahun yang lalu ia berangkat meninggalkan kota Batavia (Jakarta) dengan maksud menuntut dendam. Ternyata hasilnya nihil. Bukankah masa bepergian yang sia-sia belaka? Memikir demikian hampir saja ia benci kepada dirinya sendiri. Rukmini tak perlu menunggu ketegasannya lagi. Melihat Sangaji sudahlah dia bisa mene-bak sembilan bagian. "Jadi belum? Syukurlah! O Tuhan yang Ma-ha Besar!" katanya setengah memekik. Sete-lah berkata demikian benar-benar kini ia jatuh pingsan. Tak tahu Sangaji, apakah sebenarnya yang berkecamuk dalam dada Rukmini. Ia melihat ibunya kehilangan kesadarannya. Ia kaget berbareng heran. Pendengarannya yang tajam menangkap bunyi kata: syukur. Ibunya mengucap rasa syukur. Kepada siapa? Dan apa sebab? Rukmini sendiri tak pernah menjelaskan. Ia rebah selama lima hari lima malam, ia bukan sakit, tetapi sendi-sendi tulangnya seperti ter-lolosi. Kuyu ia merenungi dirinya dengan memejamkan mata. Hatinya tergoncang hebat. Tatkala mendengar pernyataan Sangaji bahwa tugas suci itu belum dilaksanakan, hatinya penuh syukur berbareng kecewa. Masing-masing mempunyai alasannya sendiri-sendiri yang sama kuat dan sama pula dahsyatnya. Lima belas tahun lamanya ia dibakar dendam. Dan tiap orang tahu makin diri merasa lemah makin besar gelora pembalasan den-dam. Tiba-tiba kini ia tak bisa lagi melak-sanakan angan itu, yang dipandangnya sebagai tugas suci demi arwah suaminya. Itulah disebabkan, karena pembunuh terkutuk itu sudah menjadi suami Sapartinah. Dan ini merupakan suatu pukulan hebat baginya. Betapa tidak? Seumpama Sangaji melaksanakan tugas suci itu entah esok entah kelak akibatnya lebih dahsyat. Bukankah Sapartinah bakal hidup merana? Dia sendiri oleh kemurahan Tuhan mendapat perlindungan Mayor de Hoop. Sebaliknya, siapakah yang bakal merawat sisa hidup Sapartinah? Rukmini perempuan yang berhati sederhana itu tak bisa membayangkan dan tak bakal memperoleh suatu gambaran, bahwa andaikata Sapartinah betul-betul sudah jadi janda akan mendapat pasarannya sendiri. Sebab Sapartinah sekarang bukanlah Sapartinah yang dahulu. Meskipun masih berhati mulia, tetapi, sudah bertambah molek, ia seumpama sekuntum bunga di padang belantara sudah terangkat di atas pot porselin dan berada di tengah ruang yang serba bersih serta mentereng. Tubuhnya yang molek terawat baik dan tumbuh kian subur. Tidak sembarang orang dapat menghampiri. Karena kini sudah berhak menyematkan tataran Raden Ayu, tak ubah putri seorang Pangeran. Maka tidaklah mengherankan, bahwa dia bisa menggoyahkan langit dan bumi jantung pangeran-pangeran lainnya. Diam-diam mereka mulai menaksir-naksir. Karena itu sekiranya Raden Ayu Sapartinah benar-benar menjadi janda tidaklah usah dia mengenakan pakaian berkabung lebih dari tiga bulan. Asalkan berkenan saja, siapa saja bersedia menjadi hambanya. Di atas pembaringan, Rukmini mencoba berpikir perlahan-lahan. Mengeluh sering, "Made Tantre! Aku gagal. Engkau pasti menanggung duka abadi." Dan teringat penanggungan suaminya di alam baka, ia menggigil tak setahunya sendiri.
Rukmini percaya akan hal itu. Arwah-arwah di alam baka berperasaan dan hidup seperti di alam ramai. Berduka dan bersyukur. Bersedih dan bergembira. Dan kegagalan ini semua, bukankah suatu malapetaka terkutuk? Diam-diam ia mulai meruntuhkan kesalahan ini kepada dua benda sakti yang kini dibawa-bawa Sangaji. Itulah bibit bencana yang tidak hanya menghancurkan kesejahteraan keluarganya di dunia saja tapi sampaipun menjamah di alam baka. Alangkah terkutuk. Ancaman hebat yang bersembunyi di balik kedua pusaka sakti itu, bagi Rukmini bukan merupakan ceritera takhayul belaka. Sebentar atau lama pasti terjadi. Ia yakin seyakin-yakinnya. Soalnya sekarang, "Apa yang harus dilakukan?" Pada hari yang keenam ia mulai melampui masa krisis. Ruang benaknya lambat laun jadi bersih. Ia mulai bisa berpikir. Perasaannyapun mau pula meraba hatinya yang tidak lagi sekeruh kemarin. Teringatlah dia, Sangaji baru saja pulang dari perantauan. Anak itu tak pandai me-masak. Siapa yang merawatnya selama ini? Oleh besarnya cinta kasih ia sampai tak memasukkan dirinya dalam persoalan itu. Ia mencoba menguasai diri. Tertatih-tatih ia bangkit. Tatkala melemparkan pandang ke tepi pembaringan, ia heran. Sebuah kursi berada di dekatnya. Dan diatasnyapun nam-pak sebuah niru penuh makanan. Di sisinya berdiri sebuah gelas panjang berisi susu sapi segar. Dalam keheranannya ia melemparkan pan-dang ke pintu. Sangaji sudah berada di tempat itu. "Ibu sudah bangun. Apakah Ibu mem-butuhkan sesuatu? Biarlah aku yang mengambilnya," katanya girang. Dengan cekatan Sangaji menyambar niru dan duduk di tepi tempat tidur. Sudah lima hari Rukmini berbaring dengan memejamkan mata. Selama itu, tiada kemasukan sebutir nasi atau air setegukpun. Sekarang Rukmini sudah bisa duduk. Keruan saja hati pemuda itu girang bukan kepalang. Ia mengira ibunya perlu menelan nasi atau seteguk air. Karena itu segera ia hendak meladeni. Rukmini tersenyum lemah seraya mengge-leng kepala. Katanya, "Masakan Ibu membu-tuhkan pelayananmu?" "Tapi Ibu belum..." "Nanti Ibu akan mengambil sendiri. Kau tak usah cemas. Ibu sudah sehat kembali, meski-pun agak pusing." "Kalau begitu biarlah Ibu berbaring dan aku akan menyuapi." Rukmini tertawa lemah. Katanya, "Kau dahulu, aku yang menyuapi makanmu. Sekarang engkau sudah begitu dewasa, tapi masih ingin aku menyuapimu untuk pada hari esok, lusa dan selama-lamanya." "Akh... Ibu," hati Sangaji tergetar. Ia me-letakkan niru dan terus memeluk ibunya. "Akh! Jangan kencang-kencang!" Rukmini menyanggah. Senang Sangaji mendengar sanggahan itu. Itulah suatu tanda, bahwa hati ibunya sudah menjadi ringan. Ia tetap memeluknya. Terasa dalam hati alangkah lemah. Ia jadi terharu. 'Dalam keharuannya terlintaslah bayangan ibu Sanjaya yang montok, padat dan subur. Dibandingkan dengan keadaan ibunya, sangatlah jauh berlainan. Dan ia jadi bertambah terharu. Sangaji kini sudah bukan Sangaji dua tahun yang lalu. la sudah melihat dunia. Secara wajar sudah pandai mengadakan perbandingan. "Ibu! Aku selalu membuatmu susah, dan membuat Ibu kecewa... sampai Ibu tidak ber-gerak selama lima hari lima malam." "Lima hari lima malam?" Rukmini ter-cengang. "Nah, Ibu sampai pula tak percaya sendiri." "Sekarang waktu apa? Cobalah buka jen-dela!" tungkas Rukmini. Sangaji bergegas membuka jendela. Suatu cahaya cerah menusuk dalam kamar. Dan dengan melindungi suatu kesilauan, Rukmini berseru. "Masya Allah! Pagi hari?" "Ya... Pagi hari yang ke enam." Rukmini mengeluh. Dengan pandang haru ia menatap wajah anaknya. Berkata, "Dan selama itu engkau di mana?" "Merawat Willem dan menjenguk Ibu," sahut Sangaji sederhana. "Willem? O... Willem kudamu," Rukmini tertawa dan berkata lagi, "Kau sudah bertemu dengan kakakmu Willem?" Sangaji menggelengkan kepala. "Kenapa?" "Bukankah Ibu sedang sakit? Lagi pula ia sedang berdinas ke luar kota." "O... begitu? Biasanya setiap dua kali satu Minggu dia datang ke mari." Ia berhenti sejenak. "Jadi selama lima hari engkau tak bepergian pula? Lantas bagaimana makan minummu?" Sangaji kembali duduk di samping ibunya seraya menyahut: "Selama Ibu berbaring, Sonnylah yang menyediakan makan-minum, untukku dan untuk Ibu." "Sonny? Dia datang ke mari?" "Tidak dia hanya utusan.
Barangkali ia merasa diri akan mengganggu kita berdua. Bukankah masa perantauan selama dua tahun cukup panjang untuk diceritakan kembali? Katanya lewat utusannya." "Akh... Sonny yang baik." "Mendengar Ibu sakit, ia mengirimkan se-orang tabib." Sangaji menambahi. "Menurut tabib, Ibu tidak sakit. Apabila masa istirahat sudah cukup, Ibu akan sehat kembali. Ha ... benar juga." "Sonny yang baik," kata Rukmini lagi. "Kau beruntung anakku, mendapat seorang isteri yang baik. Karena itu makin tebal keputus-anku: Aku akan menyuapimu untuk selama-lamanya. Dengan begitu, tak usahlah engkau bersusah payah mematuhi pesan pamanmu Wayan Suage untuk membawa Ibu pulang ke kampung halaman." Mendengar ujar Rukmini berubahlah wajah Sangaji. Cepat-cepat pemuda itu melem-parkan pandang ke jendela. Dengan demikian Rukmini tak mengetahui kesan wajahnya. "Aji! Coba tolong Ibu berdiri! Lima hari tak melihat dapur, rasanya begini lama," kata Rukmini. Dengan berdiam diri Sangaji menolong ibu-nya turun dari tempat tidur. Malam itu Sangaji resah di atas tempat tidurnya. Ia bersyukur, ibunya sudah nampak sehat kembali. Tetapi teringat ucapannya me-ngenai Sonny de Hoop, hatinya berdegup. Ia rebah terlentang merenungi atap, sambil mencoba memecahkan soal itu. "Celaka... betapa Ibu mengerti persoalan hatiku. Sonny seolah-olah sudah ditetapkan menjadi isteriku. Dan biasanya Ibu tidak mengharapkan sanggahan." Teringat cara berpisahnya dengan Titisari di Cirebon hatinya sakit. "Ke mana dia pergi? Mustahil dia pulang ke Karimunjawa." Ia kenal watak Titisari seperti bagian dari tubuhnya sendiri. Adatnya keras, liar dan mau menang sendiri. Tetapi anehnya justru warisan watak ayahnya itulah yang menambat hatinya. Ia merasa diri seakan-akan wajib menyertainya barang ke mana dia pergi, bagaikan bingkai dengan lukisannya. Tanpa dia di sampingnya, pastilah Titisari bisa berbuat sesuatu yang tak diharapkan. Semakin dipikir, Sangaji makin menjadi khawatir. Dan rasa ingin tidur tiada sama sekali. Perlahan-lahan ia bangun dan setelah merapikan pakaian terus ke luar halaman. Waktu itu sudah larut malam. Kota dalam keadaan sunyi-senyap. Di atas bintang berge-tar lembut dan bulan sipit tertutup awan. Semenjak tiba di Jakarta ia mengenakan celana panjang model terbaru seperti keba-nyakan pemuda-pemuda anak serdadu pada zaman itu. Dengan demikian ia tidak nampak menyolok. Seperti diketahui, rumah ibunya kini pindah di kompleks militer, semenjak ia merantau ke Jawa Tengah. Sesudah melalui penjagaan, ia memasuki bagian pinggir kota. Ia menuju ke suatu gun-dukan tanah. Di sana ia hendak duduk meng-hempaskan diri sambil melepaskan pengli-hatan ke tengah alam tiada berintang. Tiba-tiba pendengarannya yang tajam menangkap suatu pembicaraan dari balik unggun batu. Segera ia melesat menghampiri dengan tak usah khawatir akan diketahui. Ilmu saktinya kini berada di atas tujuh pendekar sakti. Kalau Gagak Seta dahulu bisa mempermainkan dirinya, seperti siluman di sekitar makam lmogiri, apa lagi kemampuannya kini. Meskipun setan sendiri belum tentu bisa mendengar kehadirannya. "Kosim!" ujar seseorang. "Gusti Amat memerintahkan kita berdua menunggu utus-annya di unggun batu ini. Kau tahu apa sebabnya?" "Ha... kau seperti bisa menebak suara hatiku. Semenjak tadi aku ingin memperoleh keterangan darimu." "Baik! Kau tahu pula apa sebab unggun batu ini bernama Rababa Tapa?" Toha kau jangan main teka-teki! Aku orang udik dari Banten, masakan tahu perkara batu peninggalan segala?" kata Kosim setengah menyesali. Tetapi Toha tidak segera memberi ke-terangan. Ia berbicara memutar, "Gusti Amat memang manusia luar biasa. Sekiranya aku memiliki kepandaian seperti dia... huh... huh! Akan kulabrak Kompeni Belanda seorang diri. Mengapa? Karena dia memiliki suatu karunia alam yang jarang dimiliki seseorang. Barang-kali nama unggun batu Rababa Tapa adalah nama samarannya. Kau pernah bertemu muka dengan beliau?" "Belum. Aku hanya mendengar kabar ten-tang perawakannya. Sedang tetapi gesit." "Benar. Itulah beliau," sahut Toha. "Kompeni boleh mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mencari dia. Tetapi aku berani bertaruh, sampai cucunya beruban takkan mampu. Kau percaya tidak." "Kalau tidak sedari dulu percaya, masakan aku sudi mengabdikan diri?" tungkas Kosim. "Tetapi tolong terangkan apa sebab unggun batu ini bernama Rababa Tapa!" "Itulah singkatan nama dari Ratu Boang dan Kyai Tapa," kata Toha dengan suara bangga. "Itulah pemimpin pemberontakan Banten. Dan Kyai Tapa adalah gurunya. Menurut kata orang, kerajaan Banten semenjak kemasukan janda serdadu, menjadi kerajaan boneka. Hidup tidak matipun tidak." "Kau maksudkan permaisuri Ratu Fatimah?" potong Kosim. "Siapa lagi kalau bukan dia. Bukankah Ratu Fatimah bekas isteri Letnan VOC? Nah, dengan ilmu iblisnya dia berhasil memikat hati Sultan. Setelah Sultan mabuk dia minta bantuan kompeni agar Sultan diasingkan dengan dalih mengadakan permusuhan dengan pihak Belanda. Terang ini suatu fitnah! Maksud sebenarnya, hendak menyembunyikan perbuatan mesumnya dengan menantunya sendiri." "Sepak terjangnya memang mengherankan orang," potong Kosim dengan suara masgul. "Yang saya herankan, apa sebab narapraja tiada mengadakan suatu pembelaan." "Ratu Fatimah adalah anak setan. Kau tahu?" sahut Toha cepat. "Semenjak ia mengerti Sultan menjadi anjingnya mulailah dia berbisik-bisik bahwa Sultan sesungguhnya mempunyai penyakit gila. Tentu saja untuk menguatkan fitnah itu, ia sudah mempersiapkan bukti-bukti lengkap. Dia menyarankan bahwa demi kesejahteraan negara, sebaiknya menantu Sultan dilantik menjadi Sultan. Entah bagaimana sebabnya, saran itu diterima. Dan setelah Sultan tua ditendang ke luar negeri dan Sultan baru naik tahta, sekaligus dia menjadi malaikat perem-puan. Sebab dengan begitu, bukankah dia lantas menjadi penguasa tunggal tanpa tandingan? Dari Sultan tua dia berhak menerima warisan sebagai permaisuri syah. Dan dari menantunya yang kelak menjadi suaminya pula, menerima kekuasaan penuh. Sebab si menantu selain merasakan manisnya madu,merasa pula berhutang budi kepadanya. Bukankah tahta kerajaan datang dari dia?" ) "Kemudian muncullah Ratu Bagus Boang." "Ya, Ratu Bagus Boang." "Hanya sayang, kini tiada kabar beritanya lagi." "Ha... kau salah," tungkas Toha dengan suara bergelora. "Kau pendekar dari Banten, masakan tak pernah mengenal pemimpin besarmu?" "Itulah sebabnya, karena aku orang udik," sahut Kosim dengan mengeluh. Dia agak menyesali diri. Kemudian meninggikan suara, "Apakah engkau mempunyai rejeki besar untuk mengenal beliau?" "Kalau engkau saja tidak pernah mengenal, apalagi aku orang Sunda Kelapa." "Jika demikian apakah alasanmu menya-lahkan aku?" "Ini disebabkan, karena Gusti Amat meng-gerakkan kita untuk menolong Panembahan Tunjungbiru. Bukankah kau masih ingat, nama Panembahan Tunjungbiru semasa mudanya? Dialah pahlawan Otong Darmawijaya. Pendekar besar pada zaman itu." Mendengar disebutnya nama Ki Tunjung-biru, hati Sangaji terkesiap. Siapakah mereka itu? tanyanya di dalam hati. Apakah mereka sudah mendapat kabar di manakah Ki Tun-jungbiru berada dan kini diam-diam hendak menolongnya? Ini bukan pekerjaan gampang. "Hai, bukankah Ki Tunjungbiru salah se-orang sahabat Ratu Bagus Boang?" seru Ko-sim. "Itulah alasanku," ujar Toha. "Menolong ke-susahan adalah termasuk darma orang-orang semacam kita. Tapi bermusuhan dengan pihak Kompeni bukankah mudah. Salah-salah kita mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Namun Gusti Amat nampaknya tidak menghiraukan. Dengan bersemboyan sekalipun menyeberang lautan golok harus ditempuh demi membebaskan Panembahan Tunjungbiru dari cengkeraman Kompeni, bukankah membuktikan bahwa Gusti Amat sesungguhnya pahlawan Ratu Bagus Boang?" "Menilik kita berdua diperintahkan menunggu utusan beliau di unggun Batu Rababa Tapa, hatiku bertambah yakin. Sebab sekitar batu milah beliau bertempur yang penghabisan kali melawan musuh besarnya. Kemudian menghiang dengan tiada beritanya lagi..." Perkataan Toha terputus oleh suatu suara. Dari sebuah ketinggian tanah terdengar tepukan tangan tiga kali. Toha segera membalas bertepuk tangan tiga kali pula. Sesosok bayangan berkelebat dan berdiri tegak di depan mereka dan berkata, "Gusti berpesan kalian tak usah menunggu lagi. Kalian diharapkan agar berkumpul di alamat ini!" Orang itu mengeluarkan saputangan bersu-lam, kemudian berkata lagi, "Dalam sepuluh hari lagi kalian harus sudah berkumpul dengan yang lain pada suatu tempat di barat daya. Kelak akan ditentukan pembagian tugas. Yang penting beliau mengharap agar jangan bertindak sendiri-sendiri." Setelah menerima saputangan bersulam, orang itu melesat lagi dan hilang dalam kege-lapan. "Tempat di barat daya? Di manakah itu?" Kosim minta keterangan kepada kawannya. Sangaji melihat Toha membisikkan sesuatu. Kemudian mereka menuruni gundukan dengan berkata berbisik- bisik. Sepuluh hari lagi, hati Sangaji memukul. Apakah Ki Tunjungbiru sudah dibawa masuk ke kota? Sangaji menghitung-hitung masa keberang-katannya dari kamp Kompeni. Teringat Sonny sudah di dalam kota lima hari yang lalu, maka besar dugaannya bahwa Ki Tunjungbiru pada saat itu sudah berada pula di Jakarta. Waktu itu fajar mulai terasa meraba tubuh. Buru-buru ia kembali pulang. Setibanya di pinggiran kota, sekonyong-konyong terlihatlah dua penunggang kuda melintas dengan cepat. Segera Sangaji menajamkan pendengaran, karena melihat mereka sedang berbicara de-ngan berbisik. "Jangan lupa, sepuluh hari lagi!" kata yang satunya. "Apakah kau memerlukan dinamit?" "Kau jangan ribut! Urusilah dirimu dahulu. Sampai bertemu..." Mereka tertawa berbareng dan setelah saling memberi hormat segera berpisahan dengan mengambil jalannya masing-masing. Gerak-gerik mereka gesit dan kelihatan berkobar-kobar semangatnya.

Dengan pikiran tertindih, Sangaji memasuki kota dengan perlahan-lahan. Penglihatan itu membuat dirinya jadi perasa. Dua tahun lamanya ia merantau. Dan dia bisa merasakan betapa merdeka hidup demikian. Apa lagi kalau sedang dipacu suatu darma kemanusiaan. Alangkah menggairahkan. Teringat hal itu, ia merasa diri terkurung. Hatinya lantas mengeluh. Semua pendekar seluruh penjuru sedang bergerak untuk membebaskan Ki Tunjungbiru, katanya di dalam hati. Tak kukira Ki Tunjungbiru yang salah, begini besar pengaruhnya. Terang sekali ia tidak hanya milik rakyat Banten saja, tapi milik seluruh Jawa Barat. Aku yang berhutang budi kepadanya, masakan akan tinggal diam? Memperoleh pikiran demikian, tergugahlah semangatnya. Tiba-tiba hatinya jadi tenang dan terhibur. Setibanya di rumah, ia melihat ibunya duduk di atas kursi di serambi depan dengan berselimut kain. Hari belum pagi benar. Apa sebab Ibu seperti memaksa diri berada di luar rumah? Sangaji terkesiap. Dengan agak gugup ia minta keterangan. "Ibu mengapa?" Rukmini menatapnya dengan wajah segar-bugar.


Menyahut, "Engkau ke mana saja? Lain kali kalau akan ketamuan bilanglah! Dengan demikian Ibu bisa bersiap-siap sebelumnya. Lihatlah sahabat-sahabatmu memasak kopi sendiri. Sampai-sampai mereka sibuk pula mengurusi Ibu. Melihat Ibu kurang sehat, mereka menggodok obat. Anehnya, obat itu membuat Ibu tidak takut angin lagi." "Sahabat-sahabatku? Siapa?" Sangaji ter-cengang. "Kalau bukan sahabat-sahabatmu, masakan bisa menduga seperti rumahnya sendiri? Hanya saja semenjak kapan engkau mempunyai sahabat-sahabat seusia ayahmu? Lain kali engkau harus menceritakan semua pengalamanmu selama dua tahun dalam perantauan," kata Rukmini. Rukmini kemudian bangun tertatih dan ter-bata-bata memasuki kamarnya. Dan Sangaji yang berada di belakangnya bertambah-tam-bah heran mendengar keterangan itu. "Biarlah kutengoknya siapa mereka," katanya. Mereka yang menyebut diri sebagai saha-bat-sahabatnya ternyata duduk berkumpul di ruang belakang. Semua berjumlah tujuh orang. Dengan berindap Sangaji mengintip dari sela pintu masuk yang tertutup sebelah. Ternyata mereka duduk di atas tikar panjang seperti orang lagi mengepung kenduri. Piring-piring dan cawan-cawan yang kosong dan yang berisi berserakan tak teratur. Meskipun mereka bergerak dengan berdiam, tetapi berkesan bergembira serta bebas dari ikatan adat-istiadat. Pantas Ibu berkata mereka adalah saha-bat-sahabatku, kata Sangaji di dalam hati. Kemudian ia mulai mengamat-amati mereka. Yang empat orang adalah manusia lumrah dengan bagian tubuh seperti manusia umum-nya. Tetapi yang tiga memiliki perawakan tubuh serta kesan luar biasa. Yang duduk di seberang, seorang yang ber-kepala sangat besar. Dadanya bidang dan ter-buka, sehingga bulu dadanya yang hitam kehitaman nyata sekali. Di sampingnya duduk seorang yang berpakaian putih bersih. Wajahnya terang dan berkesan rapih. Perawakan tubuhnya mengingatkan Sangaji kepada Pangeran Bumi Gede. Ia selalu bergerak-gerak dengan kepala sebentar-sebentar bergoyang seperti lagi berzikir. Dan yang satunya berpakaian seorang pendeta pada zaman itu berjubah panjang dan lagi sibuk mengganyang mangga mentah. Ia kelihatan girang. Juga empat orang lainnya. Sangaji bertambah heran melihat mereka. Sebab tiada seorangpun yang dikenalnya. Teringat akan pengalamannya dahulu, segera ia melesat ke dalam kamarnya. Ia menjenguk pusaka saktinya. Ternyata masih utuh dan sama sekali tidak berubah dari tempatnya. "Jika demikian mereka bermaksud apa?" Sangaji menduga-duga. Meskipun ia kini sudah memiliki ilmu tersakti di kolong jagat ini, namun hati dan pikirannya masih saja tetap sederhana. Coba seumpama ia Gagak Seta, pastilah akan mengambil tindakan lain terhadap tamu yang berhak ia curigai. "Salah seorang dari mereka telah memban-tu mengembalikan kesehatan Ibu dan mereka nampaknya bersikap ramah serta bersahabat. Pastilah mereka bermaksud baik." Pikiran Sangaji yakin. Ia segera berbatuk dan membuka pintu masuk. Begitu ia muncul di ruang belakang, seorang yang duduk di sebelah barat terus berdiri seraya menyambut, "Ah, saudara kecil! Tujuh tahun tak melihatmu, kini sudah menjadi begini." Sangaji berdiri terpukau oleh kaget dan rasa heran. Itulah suara yang dikenalnya tadi di dekat unggun batu Rababa Tapa. Meskipun tidak mengenal wajahnya karena gelap malam, tetapi suaranya tak gampang-gampang hilang dari pengamatannya. Dialah Kosim pendekar dari Banten yang berbicara dengan pendekar Toha. Teringat bahwa orang itu harus berkumpul di suatu alamat yang diberikan oleh seorang utusan dari yang menyebut diri Gusti Amat, hati Sangaji memukul. Dengan demikian bukankah alamat yang dimaksudkan adalah rumahnya? Celaka! Mereka mengenal aku dan aku jus-tru tak mengenal mereka, biar seorangpun, pikir Sangaji dalam hati. Tak sengaja ia menyiratkan pandang. "Saudara kecil!" kata Kosim tak menghi-raukan kesan orang. "Akulah Kosim. Dan ini-lah sahabat-sahabatku Acep, Ateng dan Memet. Tujuh tahun yang lalu bukanlah kami berempat pernah berendeng dengan kedua gurumu melawan iblis Pringgo Aguna? Sayang Hasan terlalu pendek umurnya sehingga tak berkesempatan menyaksikan betapa engkau membunuh iblis itu." Tujuh tahun yang lalu dengan tak sengaja, Sangaji membunuh iblis Pringga Aguna de-ngan pistolnya. Waktu itu dia tak sadar bahwa di tengah la-pangan sedang terjadi suatu pertarungan se-ngit mengadu nyawa. Ia hanya melihat sesosok tubuh menggeletak tak berkutik di atas rerumputan dan tiga orang meng-erang-erang terluka parah. Itulah Kosim, Acep dan Memet. Sedangkan yang selamat dari malapetaka adalah Ateng seorang. Sangaji tiada mengenal mereka. Sebab selain digulung-gulung rasa kaget dan bi-ngung, malam hari dalam keadaan gelap. Namun ia tak bisa melupakan peristiwa yang dahsyat itu. Bukan sebab musabab terjadinya pertarungan itu, tetapi peristiwa pembunuhan iblis Pringga Aguna yang ternyata berekor panjang. "Budi Saudara setinggi gunung! Coba kala itu Saudara Kecil tiada datang masakan kami berempat masih bisa bertemu di sini," kata Kosim lagi, "dan belum lagi kami dapat mem-balas budi, lagi-lagi kami merasa berhutang. Kawan-kawan seperjuangan di Cirebon me-wartakan betapa Saudara Kecil mencoba menolong Panembahan Tunjungbiru dengan melabrak perkemahan seorang diri. Hebat! Hebat! Benar-benar kami merasa takluk dan kagum." Kosim kemudian memperkenalkan tiga kawan lainnya. Ternyata orang yang berkepala sangat besar bernama Kamarudin, dan yang berpakaian rapih bernama lnu Kertapati. Sedangkan orang yang mengenakan jubah panjang bernama Sidi Mantra. Kamarudin lantas saja tertawa panjang kemudian berkata, "Anak Sangaji! Tahu kalau engkau berhati baja melebihi pendekar pasti-lah siang-siang Akang sudah bersahabat de-nganmu. Sekarang biarpun rumahmu berada di tengah perkampungan militer, masakan aku perlu bersegan-segan?" Lagi-lagi ia tertawa gelak. Berkata lagi, "Tapi lebih bijaksana, kalau kita segera pergi meninggalkan perkampungan terkutuk ini. Hari sudah mendekati pagi hari. Kalau sampai ketahuan orang-orang tangsi, bukankah akan membuat susah tuan rumah?" Setelah berkata demikian, ia merogoh suatu kotak dari dalam saku celananya dan ditaruh di atas tikar. "Anak Sangaji," katanya dengan suara membujuk. "Aku orang udik dari daerah pegu-nungan Cirebon, membawa sedikit oleh-oleh sebagai tanda persahabatan. Harap engkau sudi menerimanya." Ia membuka kotak dan mengeluarkan segandeng buah berwarna putih susu. Melihat buah itu serempak lainnya berseru, "Dewa Ratna! Bukankah ini buah Dewa Ratna yang hanya terdapat dalam sebuah dongengan?" Nama buah "Dewa Ratna" sesungguhnya dikenal orang dari kisah Ramayana belaka. Konon dikabarkan bahwa pada suatu hari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran menerima anugerah dewata dan kemudian ditanamnya di dalam salah satu tamannya. Ternyata pohon itu susah sekali dipelihara. Menurut tutur kata tabu kena sentuh tangan seorang wanita. Ini terbukti begitulah sahibul hikayat tatkala kena raba permaisuri, raja lalu mengutuk. Bahwasanya raja dengan seluruh istananya akan dibawa ke alam siluman setelah kena dirusak Prabu Ciung Wanara. Ternyata kutuk itu terbukti. Sedangkan buah Dewa Ratna semenjak itu hanya menampakkan sekali dalam seratus tahun untuk satu hari saja. Karena itu barang siapa dapat memetiknya adalah seumpama memperoleh karunia dewa sendiri. Keruan saja mereka yang memperoleh kesempatan melihat buah dewata itu merasa seperti kejatuhan rembulan. Mereka tak henti-hentinya memuji hadiah itu setinggi langit. "Khasiat buah ini bukan kepalang besar-nya," kata Kamarudin. "Selain bisa menyem-buhkan semua penyakit dan menolak racun, dapat memanjangkan umur pula. Tadi kulihat ibumu kurang sehat, lalu aku menggodok air. Setelah kuadukkan selintasan, benar-benar manjur." "Ibumu lantas saja menjadi segar bugar." Ia berhenti sebentar dan menatap Sangaji de-ngan mata berseri-seri. Menambahi, "dapat dikatakan bisa menghidupkan kembali orang mati. Kau sekarang belum membutuhkan. Tapi kelak bila umur sudah menjangkau sera-tus tahun, makanlah sebuah! Maka usiamu akan bertambah seratus tahun lagi!" "Mengapa dua buah?" kawan-kawannya minta keterangan. "Itulah untuk bakal isterimu. Bukankah sebentar atau lama engkau bakal berumah tangga juga?" Semua orang tertawa bersyukur dan wajah Sangaji berubah menjadi merah. Sejenak kemudian pendekar yang berpa-kaian rapih menggerayangi sakunya sambil berkata, "Saudara Sangaji! Aku Inu Kertapati ingin pula menyampaikan rasa terima kasih rakyat Jawa Barat kepadamu." la mengeluarkan sebuah kunci. Setelah itu sebuah kantong panjang yang disembunyikan di belakang punggung semenjak tadi. Kemu-dian dengan cekatan ia mengeluarkan sebuah kotak besi. Segera ia menyematkan kunci dan membuka tutupnya. Di dalamnya nampak se-bilah pedang hitam-lekam. Bentuknya me-manjang bujur telur dan tumpul. Kesannya tak menarik sama sekali. Sebab tiada bedanya dengan golok penjagal lembu. "Saudara Sangaji! Meskipun nampaknya tidak menarik, tetapi pedang ini adalah pedang mustika," kata Inu Kertapati seolah-olah bisa menebak hati mereka. "Beratnyapun seratus kati. Karena itu tidak sembarang orang dapat memakainya. Aku sendiri hanya bisa mengangkatnya melulu. Gntuk menggunakan sebagai alat bertempur, jangan harap." "Kalau tak bisa digunakan sebagai alat ber-tempur, lalu untuk apa?" tungkas Kosim. "Orang bilang, Dengan pedang tajam mera-jam lawan. Dengan pedang tumpul meng-gugurkan gunung," sahut lnu Kertapati dengan suara ditekankan. "Tetapi bagaimana cara menggunakan, aku sendiri kurang mengerti. Dahulu kala, di ta-ngan majikannya pedang ini bisa menyibak dan membendung tinggi gelombang yang me-landa bergulungan." "Siapakah nama majikannya?" mereka bernapsu. "Itulah pendekar besar Lukman Hakim yang hidup pada zaman Sultan Mataram pertama." "Dia sendiri berasal dari kasultanan Cirebon. Dan dengan pedang mustika ini, ia malang melintang tanpa tandingan sampai ahli pedang dari dunia barat "Baron Sekeber" tak kuasa melawan. Ilmu pedangnya bisa diwarisi oleh anak cucunya yang menggunakan nama keluarganya dan merupakan salah satu cabang ilmu sakti tiada bandingannya. Hai apakah kalian pernah mendengar nama pendekar sakti Kyai Haji Lukman Hakim dari Cirebon? Nah, beliau itulah salah seorang ahli waris dan termasuk keluarga pendekar Lukman Hakim pertama." Sangaji mengenal nama Kyai Haji Lukman Hakim dari mulut Ki Tunjungbiru untuk yang pertama kalinya. Dia termasuk salah seorang dari tujuh orang pendekar sakti yang hidup sezaman dengan eyang gurunya, Kyai Kasan Kesambi. "Pedang ini bernama Sokayana," kata lnu Kertapati lagi. "Aku atas nama rakyat Jawa Barat mengharapkan agar dengan sebilah pedang ini engkau akan menjadi Mercu Suar keadilan dan lambang cinta-kasih umat manusia." Setelah berkata demikian tiba- tiba ia meng-hunus goloknya. Sebelum orang-orang me-ngerti apa maksudnya, ia meletakkan golok-nya pada pedang Sokayana. Trak! Golok ditangannya patah menjadi dua dan terpelan-ting mental ke atas menancap atap. Sedang-kan pedang Sokayana sama sekali tak ber-geming. Semua orang bersorak kagum. Kemudian Sidi Mantra yang selama ini belum membuka mulut berkata dengan suara paraunya. "Pedang bagus! Akupun membawa oleh-oleh. Tapi tentu saja tak dapat dibandingkan dengan hadiah persembahan rakyat Jawa Barat." la mengeluarkan serenceng berlian dari dalam jubahnya. Begitu kena sinar lampu itu sendiri. Semua yang melihat berteriak memu-'i. Mereka semua tahu, bahwa harga kalung berlian itu melebihi harga sebuah, kota. "Kalung ini dahulu menjadi alat pesolek Ratu Fatimah sampai bisa memikat hati Sultan Banten," kata Gomat lagi. "Tetapi di tanganmu kelak, akan menjadi alat ampuh penggebuk Kompeni Belanda." Semenjak tadi Sangaji membungkam mulut, la merasa diri menjadi bingung. Semakin dipikir semakin menjadi tak mengerti. "Apakah maksud sebenarnya? Mendengar ara mereka berbicara agaknya bukan milik-nya sendiri," katanya di dalam hati. "Barang-barang ini belum tentu dapat diperoleh seseorang dalam jangka waktu seratus dua ratus tahun. Biarpun dia seorang raja kalau tidak kejatuhan rejeki rasanya mustahil pula bisa memiliki." la menoleh kepada Kosim untuk memper-oleh keterangan. Melihat Kosim teringatlah dia kepada utusan yang membawa nama Gusti \mat. Mau tak mau ia jadi berpikir keras. "Saudara Kecil," kata Kosim dengan mata berseri-seri. "Barang-barang hantaran sudah engkau terima. Biarlah pertemuan ini kita habisi sampai di sini saja. Kami berempat yang justru merasa berhutang budi padamu belum dapat berbuat sesuatu. Nanti sepuluh hari lagi, aku akan datang menjemput engkau." Setelah berkata demikian ia membungkuk hormat kemudian berangkat mendahului. Teman-temannya mencontoh perbuatannya. Begitu pula tiga pendekar yang gerak-geriknya berkesan luar biasa itu. Mereka tak lupa minta diri terhadap Ruk-mini. Di halaman fajar hari benar-benar telah tiba. Terompet tangsi terdengar melengking menusuk udara. Dan sekali melesat mereka hilang dari penglihatan. Sepuluh hari lagi, aku akan dijemput. Bu-kankah hari yang ditentukan di barat daya? pikir Sangaji dalam hati. la terkejut sewaktu mendengar ibunya berkata, "Aji! Sahabat-sahabatmu luar biasa gerak-geriknya. Mengingatkan aku kepada kedua gurumu. Semenjak kapan engkau bersahabat dengan mereka? Ibu sudah sehat kembali. Hayo ceritakan semua pengalamanmu selama engkau merantau dua tahun. Ibu berjanji akan mendengarkan dengan cermat." Bagi Sangaji ucapan ibunya terlalu banyak untuk fajar hari itu. Dan ia tahu, ibunya menaruh curiga kepada mereka. Diam-diam hatinya mengeluh. Selama hidupnya belum pernah ia terbohong. Apa lagi terhadap ibunya. Tetapi -nengingat ibunya baru sembuh dari kegon-cangan hati, terpaksa berkata, "Sepuluh hari agi mereka akan datang. Pada saat itu akan ".erang siapakah mereka." Setelah berkata demikian, bergegas ia ke serambi belakang. Buah Dewa Ratna dan Ka-jng Mutiara dimasukkan ke saku. Tetapi ia tak D'.sa menyembunyikan pedang Sokayana dari sandang ibunya. Mau ia mengarang kete-"angan, tiba-tiba Rukmini berkata di luar dugaan, "Sekalipun lapat-lapat, kudengar tadi pembicaraan mereka. Engkau tidak hanya mendapat kepercayaan mereka, tetapi kude-ngar nama rakyat daerah barat dibawa-bawanya pula. Nah, simpanlah barang han-:aran baik-baik! Hanya saja mulai sekarang engkau bakal sibuk." Hebat kata-kata itu. Meskipun terdengarnya sederhana tetapi mengandung peringatan luar biasa tajam. Sangaji merasa diri seperti terpukul palu godam. Dengan berdiri tegak ia memandang ibunya. Pada sore hari. Willem Erbeveld datang berkunjung sehabis dinas. Terhadap Sangaji opsir itu menganggapnya sebagai jiwanya sendiri. Itu disebabkan, karena ia merasa berhutang nyawa. Begitu melihatnya terus saja memeluknya. Kemudian berkata dengan terharu, "Dua tahun aku tak menilik kepandai-anmu. Kabarnya engkau sudah maju jauh. Syukurlah, hatiku ikut senang. Malahan tahun ini bakal mertuamu masuk ke pendidikan militer. Dengan demikian mempercepat dia menyerahkan gadisnya penuh-penuh kepadamu. Kau beruntung, adikku Sony benar-benar calon isterimu yang setia. Meskipun banyak opsir-opsir yang menjadi sainganmu dia tetap berkiblat kepadamu. Bukankah ia ikut menyertai ayahnya ke Jawa Tengah semata-mata bermaksud menyusul dirimu?" Setiap kali ia teringat persoalan Sonny, hatinya jadi pepat. Ia merasa diri seolah-olah menghadapi ancaman malapetaka. Itulah sebabnya begitu mendengar kakaknya mem-bicarakan hal itu wajahnya berubah hebat. Gn-tung, Willem Erbeveld tidak berprasangka jauh. Ia mengira adik angkatnya likat5) mendengar sendaunya sebagai lazimnya pemuda-pemuda masa-masa birahi. Memikir demikian, Willem Erbeveld segera mengalihkan pembicaraan, la kini membica-rakan hal-hal yang bersangkutan dengan di- 5). Ukat: merasa malu nas. Katanya, "Pada akhir-akhir ini, kerusuhan di dalam negeri meningkat. Juga di Eropa Barat. Napoleon Bonaparte menduduki hampir semua negeri tetangganya. Juga negeri Belanda tak terkecuali. Kurasa kita akan mengalami perubahan tata pemerintahan6)." Willem Erbeveld berbicara sampai malam, pukul sebelas ia pulang dan Sangaji terus menghempaskan diri di tempat tidur. Hatinya kian jadi pepat. "Sebentar atau lama aku pasti menghadapi penyelesaian pertunangan. Ibu betapa mung-kin dapat mengetahui perasaanku. Seumpama mengetahui, apakah bedanya? Kasihan Titisari!" Dalam kegelisahannya tiba-tiba menyentuh kotak besi hadiah pendekar lnu Kertapati. Suatu pikiran menusuk benaknya. "Dengan pedang tajam merajang lawan. Dengan pedang tumpul menggugurkan gunung," katanya. "Apakah maksud itu? Pastilah ini bukan kata-kata kosong." Perlahan-lahan ia bangun dan mengendap menghampiri kamar ibunya. Ternyata ibunya belum tidur. Dia lagi menjarumi bakal baju. "Ibu! aku hendak pergi berlatih," katanya. 6). Waktu itu Gubernur Jendral Daendies dalam perjalanan menuju Indonesia untuk mengambil peralihan memerintahan. Sudah sering Rukmini memberi restu Sangaji pergi berlatih pada malam hari. Itulah terjadi tatkala Sangaji menekuni pelajaran-pelajaran kedua gurunya. Hanya saja kali ini agak berkesan luar biasa. Sebagai seorang ibu memperoleh firasat bahwa anaknya tak tenang hati. Tetapi apa yang menyebabkan demikian, ia tak terang. "Aji!" katanya, "kau belum lagi sebulan da-tang dari bepergian. Apakah engkau sudah cukup beristirahat?" Terhadap ibunya, selamanya Sangaji mera-sa dirinya kecil. Dengan membawa rasa kekanak-kanakan, ia menarik lengan ibunya, sambil berkata, "Ibu aku mendapat sebilah pedang yang belum lagi kuperiksa. Lihat!" Kotak besi pedang Sokayana kemudian di-taruhkan di atas meja. Penerangan di dekat-nya. Sesudah kotak dibuka dan sejenak me-mandang ibunya, diangkatlah pedang itu. Tapi baru terangkat beberapa kaki, pedang itu terlepas dari tangannya dan jatuh bergelontangan di atas meja. Sangaji terkesiap senjata itu berat luar biasa. Panjangnya hanya dua kaki lebih, tetapi beratnya benar-benar melebihi semua pedang dari manapun juga. Tetapi sebenarnya meskipun pedang itu se-ratus kali lebih berat bagi Sangaji bukan merupakan soal lagi. Tadi dia tidak bersiaga sewaktu mengangkatnya, sehingga terlepas dari tangan. Sekali lagi ia mengangkatnya sambil mengerahkan tenaga sepersepuluh bagian. Akibatnya mengagetkan ibunya. Tiba-tiba pedang itu mendengung kena getaran tenaga sakti. "Aji, ini pedang sakti macam apa lagi," Rukmini pucat. Sangaji memeriksa pedang Sokayana. Mata pedang itu tumpul dan ujungnya juga tumpul. Benar-benar mengherankan! pikirnya. Bagai-mana pendekar Lukman Hakim dahulu meng-gunakannya selain berat tumpul pula. Ia me-meriksanya lebih cermat lagi dan melihat huruf-huruf kecil yang terukir di atas dasar kotak besi. Pedang berat tiada tajam. Kepan-daian tinggi nampak sederhana. Demikianlah bunyi huruf-huruf itu. SEKALI LAGI SANGAJI berdiri tercengang. Benar-benar ia tak dapat mengerti. Dalam dirinya kini mengalir ilmu sakti tiada banding-annya di dunia. Namun terhadap macam ilmu kepandaian, ia belum mempunyai pengertian luas. Kecuali warisan ilmu kedua gurunya. Wirapati dan Jaga Saradenta kemudian secara kebetulan memperoleh ilmu sakti dari pendekar sakti Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi, tiada lagi mempelajari ilmu kepandaian lainnya. Karena itu, ia tak dapat menebak maksud guratan huruf-huruf itu. Semangat untuk mencoba menyelami sekaligus membakar dirinya. "Aku sendiri belum jelas," katanya kepada ibunya. "Karena itu besar hasratku untuk me-ngetahui. Dengan demikian aku tak menyia-nyiakan harapan yang memberikan hadiah ini." Sudah barang tentu Rukmini tak dapat mengerti kata-kata Sangaji. Ia hanya minta penjelasan dari raut muka anaknya. Sebentar ia merenungi, kemudian berkata, "Baiklah. Sekiranya hatimu bisa terhibur, Ibu merestui. Hanya saja baik-baik engkau membawa diri." Di tepi pantai Sangaji menebas udara de-ngan perlahan-lahan. Ia mengerahkan tenaga dua bagian. Kemudian tiga bagian. Dan setiap kali ia mengerahkan tenaga, bunyi dengung itu bertambah keras. Begitu ia menebas udara dengungnya naik sepuluh kali lipat. Ia heran bukan main. Segera ia bergerak dengan ilmu pedang Wirapati yang banyak kembangannya dan banyak pula tipu muslihatnya. Bagi dia yang sudah memiliki tenaga sakti tiada bandingnya, tidak menemui kesukaran yang berarti meskipun pedang Sokayana berat luar biasa. Namun untuk mengejar kelincahannya ia hampir memusatkan seluruh tenaga. Tak terasa keringatnya keluar bertetesan. Menggunakan pedang berat, memang nam-pak berwibawa pikirnya dalam hati. Tetapi jika terus menerus begini, bukankah akan menguras habis tenaga sendiri? Memikir demikian ia segera hendak berhen-ti. Di luar dugaan, berbareng dengan maksud itu, ia merasakan suatu dorongan tenaga yang sangat besar memukul dirinya. Seperti ini, seorang anak membawa sebuah martil berputaran. Makin lama makin kencang, kemudian dia hendak berhenti dengan tiba-tiba. Maka martil yang beratnya sudah menjadi berlipat ganda oleh tenaga putaran, akan memukul balik apabila tiada imbangan tenaga berat. Demikian pula yang dialami Sangaji. Tetapi untunglah, tenaga Sangaji adalah tenaga mukjizat, ia bisa menguasai semua berat benda di dunia ini sekehendak hati. Maka begitu merasakan tenaga dorongan, cepat ia mengerahkan tenaga saktinya. Ia berhasil merenggut berhenti dengan mendadak. Tetapi tak urung tubuhnya bergoyangan juga. Hebat! Dahulu aku mampu menjebol batu pegunungan dan melontarkan jauh untuk kususun menjadi sebuah benteng batu. Mengapa aku kini terguncang oleh hanya sebilah pedang yang beratnya tak lebih dari seratus kati? pikirnya heran. Masih saja ia belum sadar akan perbeda-annya. Dahulu ia mengerahkan tenaga untuk menjebol dan melontarkan. Tapi kini ia mengerahkan tenaga sendiri berbareng dengan mengumpulkan tenaga putaran. Kemudian tenaga tersebut bukan untuk dilontarkan, tetapi justru memukul balik di atas tenaga sendiri yang sedang dikerahkan. Ini disebabkan karena ia berhenti berputar dengan mendadak. Keruan saja ia hampir tak tahan kena dorong suatu tenaga melebihi imbangan tenaga sendiri. la bukan Titisari yang dapat menangkap suatu persoalan dengan cepat. Namun diapun bukan seorang pemuda yang tolol dalam arti sebenarnya. Begitu ia menghadapi suatu per-soalan yang dianggapnya pelik, segera ia me-ngerahkan keuletan hatinya. Maka ia meng-ulangi dan mengulangi. Apabila masih saja terbentur pada persoalan itu, ia beralih kepada ilmu sakti Gagak Seta yang sederhana jurus-jurusnya. Tiba-tiba ia menemukan suatu kenyataan menggirangkan. Seperti diketahui ilmu sakti Kumayan Jati bersifat merangsang dan menyerang. Begitu tenaga saktinya dikerahkan dan diarahkan ke laut, pedang Soka-yana tiba-tiba menjadi semacam alat bidik. Gelombang laut seketika terloncat ke udara seperti kena pukulan sebuah bukit batu. Dan makin ia melepaskan pukulan dengan ber-tubi-tubi hebatnya tak terkatakan lagi se-akan-akan barisan jutaan tentara berkuda, pukulannya menggeledek menyambar garis gelombang laut yang datang melanda pantai, suaranya bergemuruh seperti gugurnya sebuah gunung. Setiap pukulan yang men-darat di permukaan laut, meledak dahsyat melebihi geledek dan melambungkan gelom-bang setinggi gunung. Tenaga sakti Sangaji sudah pernah me-ngagumkan hati Adipati Surengpati, Gagak Seta, Kyai Kasan Kesambi dan Kebo Bangah. Namun melihat akibat pukulan itu wajah Sangaji berubah pucat. Pikirnya, apakah ini yang dimaksudkan orang, bahwa dengan sebi-lah pedang tumpul menggugurkan gunung? Ia sibuk menimbang-nimbang. Tebasan pedang tidak menyentuh sasaran, namun sudah dapat menahan dan menyibakkan arus gelombang. Tahulah dia kini, apa sebab pedang Soka-yana berdengung manakala ia mengerahkan tenaga sakti. Ternyata pedang itu merupakan saluran pembuangan tenaga sakti yang dah-syat luar biasa. Sebab setiap kali digerakkan dengan tenaga sakti, ia menghimpun tenaga sakti tersebut berbareng dengan tenaga gerakan. Dengan demikian tenaga lontarannya menjadi berlipat ganda. Bisa dibayangkan betapa pedang itu menjadi dahsyat di tangan Sangaji yang memiliki tenaga sakti jauh di atas tujuh pendekar sakti. Semenjak itu, saban malam Sangaji berlatih. Ia masih tetap menggunakan jurus-jurus Kumayan Jati. Makin sederhana, makin dahsyat akibatnya. Seperti ia ketahui sendiri, ilmu sakti Kumayan Jati memiliki jurus-jurus sederhana. Sebaliknya apabila ia memainkan jurus-jurus ilmu pedang ajaran Wirapati, jauh bedanya. Meskipun kini tidak lagi berbalik memukul diri, tetapi tenaga himpunannya buyar. Ini disebabkan, karena habis tertebar oleh jurus kembangan dan tipu muslihat yang berliku-liku. Mengertilah aku sekarang apa yang dimak-sudkan dengan bunyi huruf kepandaian tinggi nampaknya sederhana, pikirnya dalam hati dengan girang. Memperoleh pikiran demikian, kini ia men-coba menyederhanakan gerakan jurus Kuma-yan Jati. Sudah barang tentu hal itu tidaklah gampang. Sebab samalah halnya dengan mencipta jurus-jurus itu sendiri. Dan dia bu-kanlah masuk golongan manusia demikian. Dengan mengeraskan hati, ia mencoba mengumpulkan semua jurus-jurus ilmu kepandaian dalam ingatannya. Mulai dari ajaran Jaga Saradenta, Wirapati, Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi sampai pengalaman-nya melihat jurus pertarungan antara jago-jago tua. Kemudian ia mencoba menggubahnya. Namun masih saja ia gagal. "Dasar aku tolol, betapa aku mencoba yang bukan-bukan," ia mengeluh dalam hati. Memikir demikian, ia tak mau berusaha lebih lanjut. Dasar hatinya sederhana dan sepi dari kerangsangan angan (ambisi) maka ia berpikir, aku sudah mewarisi ilmu sakti Bende Mataram. Meskipun baru sebagian, kalau saja bukan anugerah Tuhan, betapa mungkin demikian. Masakan kini memikir yang bukan-bukan seolah-olah tidak tahu terima kasih. Hatinya lantas menjadi puas. Memang guratan rahasia yang terdapat pada keris Tunggul Manik adalah ilmu sakti tertinggi di dunia, la merupakan saluran tenaga hakiki manusia yang paling dahsyat. Kini secara tak terduga-duga ia memiliki pedang Sokayana pula, yang sesungguhnya mengandung magnit poros bumi yang tiada duanya di dunia. Keruan saja tenaga sakti leburan Kumayan Jati—Bayu Sejati—Getah Dewadaru dan Madu Tunjungbiru yang tersalur lewat ilmu sakti keris Kyai Tunggulmanik dan kemudian terhimpun di pedang sakti Sokayana, merupakan bendungan tenaga yang luar biasa seumpama bisa menggo-yahkan langit dan bumi. Tenaga pelontarannya dilipat gandakan beberapa kali dengan tenaga berat pergerakan pedang. Andaikata Sangaji seorang pemuda yang tidak memiliki ilmu kepandaian sejuruspun, pukulannya masih mampu meremukkan tiga ekor gajah sekaligus menjadi beberapa potong. Karena itu ucapan hatinya sudah mendekati kebenaran mutlak. Tetapi sekonyong-konyong ia seperti men-dengar suara lantang pendekar Gagak Seta. "Hai tolol! Kau boleh menjadi gagah, tapi kalau kehilangan Titisari, engkau tak bisa b-kerja." Dan teringat Titisari, hatinya lemas, la yang sudah terhibur beberapa hari lamanya, bere-nung-renung kembali. Perasaannya sakit manakala teringat betapa cara Titisari berpisahan di Cirebon. Selagi hatinya diamuk badai ingatannya, pendengarannya yang tajam mendengar suatu benturan tajam berbareng dengan bentakanbentakan. Terang itulah suatu pertarungan sengit pada babak permulaan. Ia heran. Pikirnya, siapakah yang bertempur di dekat pantai itu? Memikir demikian, sekali melesat ia sudah tiba di dekat mereka. Kemudian menonton di luar gelanggang. Seorang wanita usia pertengahan, dikerubut dua orang laki-laki. Perempuanan itu bersenjata sebilah pedang panjang. Sedang yang mengembut bersenjata tongkat. Meskipun dikerubut dua, perempuan itu dapat bergerak dengan leluasa. Dengan didahului siulan lembut, ia menubruk lawannya yang berpakaian rapih. Belum lagi lainnya memperbaiki kedudukan, ia menyabetkan pedangnya ke arah lawan. Melihat seorang perempuan, dikerubut dua orang laki-laki, sudahlah mengherankan hati Sangaji. Dan ia semakin heran tatkala menge-nal siapa kedua orang laki-laki itu. Mereka ternyata Inu Kertapati dan Sidi Mantra. Ilmu kepandaian mereka tiada celanya. Tetapi menghadapi perempuan itu, mereka mati kutu. Gerakannya seperti ayal-ayalan. Inu Kertapati yang terancam sabetan pe-dang, menangkis dengan tongkatnya. Tongkatnya terbuat dari monel. Begitu berbenturan menerbitkan suara nyaring memekakkan telinga. Perempuan itu memekik terkejut. Tak pernah ia mengira, bahwa tongkat yang biasanya dipergunakan untuk menyapu atau membabat, dapat digunakan sebagai pedang oleh lawannya. Buru-buru ia menarik pula ancamannya. Kemudian ia menyambar ikat kepala Sidi Mantra seraya membentak, "Lepas!" Gerakan itu sama sekali tak terduga-duga. Nampaknya hanya menyambar ikat kepala. Tetapi sebenarnya menerkam ubun-ubun dengan tenaga dahsyat. Itulah yang dinamakan menyerang dengan meminjam tenaga lawan. Sidi Mantra terkejut menghadapi kegesitan lawan. Ia merasakan pula tenaga sambaran, hingga pundaknya tergetar. Namun di saat segenting itu ia tak menjadi gugup ia meng-genjot badannya lantas saja ia melesat ke udara sambil memunahkan tenaga lawan. Sangaji ikut merasakan ketegangan itu. Tak terasa ia menarik napas. Pikirnya, perempuan itu hebat. Tetapi apa sebab begitu kejam? Oleh gebrakan tadi masing-masing terpisah pada tiga kedudukan dan saling mengagumi kegesitan lawan. Sejenak mereka berdiam diri kemudian terdengar Inu Kertapati berkata, "Edoh8) Permanasari! Mengapa dendam yang sudah melampaui masa liga puluhan tahun, 8). Edoh: Bunyi kata Edoh seperti: anteng: embargo atau elok masih saja kau bawa-bawa? Kekasihmu Ka-marudin sudah hidup bahagia dengan Nursanti selama tiga puluh tahun. Mereka dikaruniai tiga orang anak. Mengapa selagi Kamarudin bepergian untuk menunaikan tugas sebagai seorang pencinta negara, engkau membunuh istri dan anak-anaknya seperti membabat ayam belaka?" Perempuan yang disebut Edoh Permanasari tertawa tinggi sambil menjawab, "Aku mem-bunuhnya atau tidak apa sangkut pautnya denganmu?" "Kamarudin adalah sahabatku. Mana bisa aku tinggal berpeluk tangan mendengar ke-luarganya tertimpa malapetaka?" "Bagus kau mengaku sebagai sahabatnya? Sahabat yang mana? Kamarudin atau perem-puan yang tidak kenal malu?" "Kedua-duanya," sahut lnu Kertapati. Tiba-tiba Sidi Mantra membentak, "Menga-pa kau menyebut isterinya sebagai perempuan yang tidak kenal malu? Engkaulah perempuan siluman jahanam!" Edoh Permanasari tak meladeni. Dengan sikap dingin ia tertawa tinggi lagi. Sangaji terkesiap mendengar beberapa rentetan percakapan mereka. Beberapa hari yang lalu, Kamarudin bersama-sama kawan-nya datang di rumahnya dengan membawa barang-barang hantaran dua buah Dewa Ratna. Apakah malapetaka yang menimpa keluarganya, bersamaan dengan waktu kunjungannya itu? Dan ia lantas sibuk menduga-duga. "Edoh Permanasari! Kau memang iblis!" kutuk lnu Kertapati. "Kau tak bisa melihat ke-bahagiaan orang. Lantas mengambil tindakan di luar batas kemanusiaan." "Apa itu kemanusiaan?" tungkas Permana-sari. "Aku justru bertindak menegakkan kemanusiaan." "Kemanusiaan?" seru lnu Kertapati dan Sidi Mantra berbareng. "Mengapa tidak?" "Kau siluman jahanam!" bentak Sidi Mantra. Lagi-lagi Edoh Permanasari tertawa dingin. Dengan suara bergelora ia berkata, "Kalian menganggap diri sebagai pendekar-pendekar kemanusiaan. Bagus! Meninggalkan dan menyia-nyiakan seseorang selama tiga puluh tahun bukankah perbuatan di luar kemanusiaan? Coba jawab!" lnu Kertapati dan Sidi Mantra saling memandang. Kemudian dengan suara agak sabar lnu Kertapati menjawab, "Aku tahu kau jadi kejam karena gagal dalam percintaan. Itulah tidak tepat. Kamarudin sudah memilih jalannya sendiri dan kemudian sudah menjadi suami orang serta menjadi ayah tiga orang anak puia. Ia pernah kena siksa gurumu demi untukmu. Tapi apa sebab engkau masih merusak kebahagiaan hidupnya?" "Kau maksudkan apa dengan kata-kata memilih jalannya." "Ah, Edoh kau berlagak pilon. Bukankah karena dia memihak laskar Ratu Bagus Boang dan engkau memihak Ratu Fatimah?" Dengan bersikap angkuh Edoh Permanasari tertawa perlahan. Kemudian berkata menyim-pangkan pembicaraan, "Tentang dia kena sik-sa guru sampai kepalanya membengkak besar, itulah bukan kesalahanku. Coba ia mau menyerahkan buah Dewa Ratna dengan baik-baik dan pandai melihat gelagat, aku tanggung dia tak perlu bercacat tubuh. Meskipun demikian, aku tetap menghargai. Sudah kubujuk dia, agar melupakan cara hidup berkeliaran tak keruan juntrungnya... tetapi dia membandel. Apakah manusia begitu termasuk orang pendekar kemanusiaan?" "Apakah hubungannya antara bujukanmu dan kemanusiaan?" "Karena..., karena dia pergi dengan mem-bawa hatiku." 9)Pilon: linglung "Perempuan siluman!" maki Sidi Mantra dengan hati panas. Meledak. "Apakah dengan alasan itu, engkau merusak kebahagiaannya?" "Dia menyingkir dariku, kemudian kawin dengan perempuan lain. Bukankah menghina aku? Dia mempertahankan buah Dewa Ratna dengan mati-matian, kemudian diberikan ke-pada anak kompeni, bukankah menghina guruku? Itulah perbuatan di luar batas." Sangaji terkejut mendengar disinggungnya buah Dewa Ratna dan kata-kata anak kom-peni. Siapa lagi yang dimaksudkan dengan anak kompeni kecuali dia. Apakah buah Dewa Ratna milik perempuan itu? Pikirnya dalam hati, sekiranya milik perempuan itu, maka perbuatan Kamarudin kurang benar. Sebaliknya perbuatan perempuan itu membunuh keluarga Kamarudin juga tak dapat dibenarkan. Selagi memikir demikian, terdengar Inu Kertapati berkata, "Siapa saja tahu, gurumu Ratu Fatimah adalah iblis terkutuk. Dan engkau adalah muridnya. Kamarudin mening-galkan engkau karena memihak kepada yang benar. Itulah laki-laki tulen. Sebab buat laki-laki yang tahu arti kebajikan hidup, akan meletakkan urusan negara dan bangsa di atas kepentingan sendiri. Coba seumpama dia menuruti kemauanmu sehingga bersedia menghambakan diri kepada gurumu yang terkutuk itu, anjingpun masih beruntung. Begitulah engkau akan membahagiakan? Tentang buah Dewa Ratna meskipun akan diberikan kepada iblispun, apa pedulimu? Siapa saja tahu buah Dewa Ratna itu bukan kepunyaan gurumu, meskipun siluman itu sudah mengangkat diri menjadi pewaris kerajaan. Kau pasti tahu pula bahwa buah Dewa Ratna adalah mustika warisan almarhum Sultan Maulana Muhamad10) kepada anak cucunya. Akhirnya jatuh kepada Ratu Bagus Boang dan dipercayakan kepada sahabatku Kamarudin. Sebelum ratu Bagus Boang musna, beliau memberi pesan kepada rakyat Banten bahwa mewariskan buah Dewa Ratna kepada siapa saja tanpa memandang bulu, asalkan si-pewaris diharapkan menggantikan kedudukan beliau untuk meneruskan perjuangan rakyat Banten dikemudian hari. Alhamdulilah! Setelah buah Dewa Ratna mengeram sepuluh tahun lebih dalam peti simpanannya oleh petunjuk pendekar sakti, Tunjungbiru, rakyat Banten menemukan pewarisnya yang tepat. Itulah yang kausebutkan sebagai anak kompeni." 10). Sultan Banten pada tahun 1500. Sultan pujaan rakyat Banten karena berhasil membawa kesejahteraan dan kejayaan "Kau pernah melihat dia?11)" Edoh permanasari mendengus. Kemudian menjawab tak kalah gertak, "Aku melihat dia atau tidak, apa bedanya?" "Bagus! Kau bakal menumbuk batu." Edoh Permanasari tertawa panjang. "Aku ingin melihat tampangnya bocah yang begitu berani menyebur dalam lautan api ini. Kalau bisa biar kusadarkan dahulu apa artinya menerima buah Mustika Dewa Ratna. Itulah berarti membuang nyawa sia-sia. Sebab Mustika Dewa Ratna adalah jiwa Kerajaan Banten." "Eh, Apakah maksudmu bukan obat muja-rab gurumu agar tetap awet muda?" potong Sidi Mantra. "Kau bilang apa?" bentak Edoh Permana-sari. "Aku bilang, gurumu kepingin awet muda agar bisa mempunyai kekasih baru lagi. bukan? Seperti kau yang sudah menjadi nona tua selama tiga puluh tahun, bukankah masih usilan mengurusi perkara cinta kasih? Nah, janganlah nama kerajaanku kaubawa-bawa untuk menutupi kedok kebusukan kalian. Bagi seorang perempuan seperti Edoh Permanasari, sebutan nona tua merupakan suatu pantangan besar. Tak mengherankan Edoh Permanasari menerjang Sidi Mantra de-ngan memekik geram. Dengan pedang pan-jangnya, ia merabu dan menikam dengan suatu gerakan maut. Tetapi Sidi Mantra siang-siang sudah bersiaga. Begitu melihat berkelebatnya pedang, segera ia menangkis dengan mengadu tenaga. Pikirnya, masakan tenagaku kalah dengan tenaga perempuan? Tetapi ternyata ia salah duga. Suatu tenaga berat menindih tongkatnya. Dan lengannya terasa kena tarik. Buru-buru ia meloncat mundur sambil memutar tongkatnya bagaikan kitiran. Kemudian mengeluarkan ilmu simpanannya untuk menjaga diri rapat-rapat. Inu Kertapati segera pula membantu teman-nya. Dalam beberapa gebrakan ia tahu bahwa Sidi Mantra bukan tandingan Edoh Perma-nasari. Cepat ia menerjang dari belakang, sambil membentak, "Mengingat Kamarudin aku bersikap segan menghadapi semua keja-hatanmu. Tapi kini engkau merusak keluarga Kamarudin. Maka jangan salahkan aku! Hari ini kalau bukan aku, engkaulah yang mampus. "Bagus! Kaulah sendiri yang berkata bosan hidup. Aku sih hanya mengiringkan kehendakmu," sahut Edoh Permanasari sambil menangkis serangan selintasan. Kemudian ia menjejak tanah melesat ke depan. Nampaknya ia menyerang Sidi Mantra. Diluar dugaan tiba-tiba ia meliukkan tubuhnya ke belakang dengan lemas seolah-olah pinggangnya tidak bertulang. Dengan cara begitu tiba-tiba saja ia sudah bisa menempel Inu Kertapati sangat dekat. Sudah barang tentu, Inu Kertapati kaget setengah mati. Untuk menggerakkan tongkat-nya sudah tidak mungkin, karena jaraknya terlalu dekat. Mundur pun tidak keburu. Dalam seribu kerepotannya, tangan kirinya menghantam dagu lawan. . Edoh Permanasari memiringkan tubuhnya. Tangannya menyambar pergelangan tangan Inu Kertapati. Kemudian dengan meminjam tenaga lawan, ia melesat mundur sambil tertawa, merendahkan. Celakalah Inu Kerta-pati. Sama sekali tak diduganya, bahwa per-gelangan tangannya bakal kena sambar dan didorong maju. Tadi ia sudah mengerahkan tenaga hampir sepenuhnya. Karena itu, begitu kena dorong ia seperti sebuah benda yang dilontarkan. Tak ampun ia menubruk Sidi Mantra yang pada saat itu sedang maju menggempurkan tongkatnya. Mereka berdua terpental mundur bergo-yangan. Masih untung, tongkat Sidi Mantra hanya menyambar udara. Sangaji mengeluh. Bukan melihat keadaan mereka, tetapi karena dirumun persoalan yang tadi didengarnya. Tak kusangka, bahwa disinipun aku mengalami peristiwa semacam perebutan pusaka Bende Mataram. Pikirnya dalam hati, aku telah menerima buah Dewa Ratna. Bukankah sama halnya dengan warisan pusaka Bende Mataram? Di Jawa Tengah, orang-orang gagah saling bertempur semata-mata untuk dapat memiliki pusaka Bende Mataram. Disini pun ternyata ada pihak tertentu yang bersedia mengadu nyawa demi buah sakti Dewa Ratna. Mengapa aku seperti harus terlibat dalam sesuatu hal yang tidak kumengerti sendiri? Ia mencoba mencari kunci jawabannya. Tetepi anehnya semakin dipikir semakin ia tak mengerti. Dalam pada itu pertarungan digelanggang kian lama kian menjadi seru. lnu Kertapati dan Sidi Mantra berkelahi dengan bernafsu. Gerakan tongkatnya tidak segan-segan lagi. Mereka merangsak maju dibarengi dengan bentakan-bentakan. Namun masih saja Edoh Permanasari dapat melayani dengan leluasa. Dengan berlenggak-lenggok seakan-akan menari, ia menanti setiap serangan, dengan tepat. Apabila membalas, gerakanya sangat gesit dan serangannya sukar diduga. lnu Kertapati semula berkelahi dengan setengah hati. Ia mengenal Edoh Permanasari semenjak masih gadis remaja. Budi pakarti Edoh Permanasari, halus tiada cela. Maka ia bermaksud hendak membawanya ke jalan yang benar. Kemudian akan ditarik kepi-haknya. Dengan demikian akan memperteguh barisan laskar Banten dan akan melemahkan pihak raja. Tetapi ternyata Edoh Permanasari kini menjadi manusia lain. Kehalusanya dahulu tiada lagi. Ini disebabkan gara-gara gagalnya masalah cinta semata. Ia tak pernah bermimpi, bahwa soal cinta kasih dapat membuat manusia baru. Seseorang mendadak bisa bertambah umur karena memperoleh suatu kelegaan dalam soal cinta kasih. Sebaliknya seseorang bisa berubah dengan tiba-tiba, karena gagal dalam cinta kasih pula. Dan Edoh Permanasari yang dahulu halus budi, tiba-tiba kini menjadi manusia yang ditakuti hampir semua pendekar-pendekar seluruh Jawa Barat. Benar-benar masalah cinta kasih mempunyai dunianya sendiri. TATKALA HATINYA PERNAH DIPATAHKAN KAMARUDIN, Edoh Permanasari hampir gila. Dengan mengandung dendam ia hendak melabrak rumah tangga bekas kekasihnya. Tetapi gurunya berbareng majikannya (Ratu Fatimah) menyadarkannya, bahwa dia bukan tandingan Kamarudin. Dendam tanpa perbe-kalan samalah halnya dengan mengantarkan nyawa dengan sia-sia. Mungkin mengingat perhitungannya masa lalu, Kamarudin tidak akan membunuhnya. Tetapi pelabrakan itu sendiri berarti suatu kegagalan yang mema-lukan. Edoh Permanasari dapat disadarkan. Kemudian dengan penilikan gurunya, ia me-nyekap diri selama dua puluh tahun lebih. Pada tahun berikutnya, mulailah ia mencoba ilmu kepandaiannya. Ia kini sangat membenci semua laki-laki dan perempuan yang memperoleh kebahagiaan dalam soal cinta kasih. Malahan ia membenci pula kanak-kanak yang selalu subur hidupnya akibat cinta kasih orang tuanya. Dan golongan inilah yang menjadi korbannya yang pertama kali. Puluhan bahkan ratusan sejoli dibunuhnya tanpa mengenal ampun. Anak-anak mereka dimusnahkan sampai ke bulu-bulunya. Sudah barang tentu sepak terjangnya menerbitkan suatu kegemparan hebat dalam kalangan para pendeta. Tetapi ia tak menghi-raukan. Dengan sebilah pedang panjang ia menghadapi mereka yang ingin melenyapkan-nya dari muka bumi. Ternyata bukan Edoh Permanasari yang lenyap. Sebaliknya seorang demi seorang ditumpasnya dengan seorang diri saja. Dengan demikian gerakan para pen-dekar hanya menambah jumlah korban bela-ka. Malahan semenjak itu Edoh Permanasari kian menjadi heran, karena sudah keyakinan diri. Sekarang ia berani memasuki golongan pencinta-pecinta negara dengan terang-terangan. Dan akhirnya sebagai puncak sepak terjangnya, ia membasmi keluarga Kamarudin sampai keakar-akarnya. Keruan saja Inu Kertapati kehilangan kesabarannya. Dengan mengajak Sidi Mantra ia mengejar Edoh Permanasari. Dalam hatinya ia hendak menawannya hidup atau mati untuk kemudian akan diserahkan kepada Perserikatan Pecinta Negara seluruh Jawa Barat. Tetapi di luar dugaan, ilmu kepandaian Edoh Permanasari benar-benar berada di atas kemampuannya sendiri. Makin ia bernapsu hendak menumpasnya sendiri. Makin ia hen-dak menumpasnya, makin terasa betapa dia menjadi mati kutu. "Tak kusangka, setelah lewat tiga puluh tahun, ilmu kepandaiannya begini maju pesat," Inu Kertapati mengeluh dalam hati. "Edoh!" serunya kemudian dengan garang. "Benar-benar engkau ini bukan manusia lagi." "Eh, mengapa begitu? Bukankah akupun salah seorang penegak sendi-sendi keadilan dan kemanusiaan." "Kemanusiaan? Kau bunuh keluarga Kama-rudin tanpa memandang bulu, apakah itu berperikemanusiaan?" bentak lnu Kertapati. "Mengapa tidak?" sahut Edoh Permanasari sambil menangkis serangan Sidi Mantra. "Dengan matinya isteri dan anaknya, maka dia akan mengerti arti kemanusiaan sesung-guhnya. Aku pernah menderita selama tiga puluh tahun. Dan sekarang dia baru mulai. Paling tidak kuharapkan selama tiga puluh tahun pula. Itulah baru adil. Dengan demikian bukankah aku ikut menegakkan hukum keadilan?" "Perempuan siluman! Hari ini aku akan mengadu nyawa denganmu," teriak lnu Ker-tapati. Dan dengan menggerung, ia mener-jang. Sidi Mantra tak ketinggalan pula. Namun serangan Sidi Mantra tak serapih kawannya. Tongkatnya kena tangkis dan terpental ke udara. Dengan terkesiap ia melompat mundur. Matanya melihat sebatang pohon lamtara se-besar dua genggam manusia dewasa. Segera menghampiri. Dengan mengerahkan tenaga ia mencabut pohon itu sampai ke akar-akarnya. "Benar-benar besar tenangamu!" kata Edoh Permanasari dengan tersenyum. "Perempuan siluman puluhan tahun kita tak berjumpa. Ternyata ilmu kepandaianmu mengagumkan hatiku. Benar-benar engkau nona tua yang harus kuhargai." Dua kali berturut-turut Sidi Mantra mengejek Edoh Permanasari dengan sebutan nona tua. Keruan saja hati Edoh Permanasari mendongkol bukan kepalang. Sekarang sorot matanya mengandung sinar pembunuhan. Dengan memekik ia menebaskan pedangnya. Sidi Mantra cepat-cepat mengangkat pohon-nya dan menyapu pedang lawan. Dengan manis Edoh Permanasari menarik kebasannya. Kemudian sambil mengelak ke samping ia membabat kaki. Ternyata Sidi Mantra kepandaiannya tidak rendah. Begitu melihat serangan Edoh Permanasari mengarah kaki. Cepat ia menjejak tanah dan melambung di udara. Dari atas ia hendak menggencet kepala. Tiba-tiba ia melihat berkelebatnya pedang. Inilah serangan susulan yang tidak terduga-duga. Hatinya terkesiap. Pada saat ia menyerahkan diri pada nasib, tongkat lnu Kertapati menyapu pedang Edoh Permanasari sehingga menerbitkan suara berdesingan. Dengan tangkisan itu, Sidi Mantra dapat menancapkan kakinya di atas tanah. Ia mera-sa dirinya lolos dari lubang jarum. Hatinya lega bukan main. Tapi gebrakan itu sendiri, membuat keringatnya menjadi dingin. Edoh Permanasari tidak mengira serangan-nya akan gagal. Karena yang membuat kega-galan Inu Kertapati, maka ia memusatkan perhatiannya kepada pendekar berpakaian rapih itu. Gesit ia menggerakkan pedangnya, serangannya hebat, sehingga menerbitkan suara menggaung. Ujung pedang mengarah ke dada. Inu Kertapati menyambut serangan itu de-ngan tak kalah gesit. Juga gerakan tongkatnya menerbitkan suara mengaung. Edoh Permanasari terkesiap. Sadarlah dia bahwa lawannya kini berkelahi dengan sungguh-sungguh. Segera ia menambah tenaga tekanan. Dan suatu bentrokan terjadi untuk kesekian kalinya. Tetapi kali ini hebat akibatnya. Tongkat Inu Kertapati rompal sedikit. "Pedang bagus!" puji Inu Kertapati. Kemu-dian berkata kepada Sidi Mantra, "Biarkanlah aku mencoba seorang diri." Mendengar ucapan Inu Kertapati, Edoh Permanasari tertawa geli. Katanya, "Kau boleh menyebut diri seorang pendekar kemanusiaan. Tapi kau bukan tandinganku. Kau percaya tidak?" Inu Kertapati seorang pendekar yang cermat dan tidak gampang-gampang kena terbakar hatinya. Meskipun demikian, hatinya tak tahan juga direndahkan demikian. Dengan menggerung dia menyapu dan membabatkan tongkatnya. Namun betapapun juga, benar-benar ia tak mampu berbuat banyak. Edoh Permanasari terlalu hebat baginya. Dan tiga puluhan jurus telah lewat dengan cepat. Sama sekali ia tak dapat menyentuh tubuhnya. Akhirnya ia jadi gelisah sendiri. "Kau percaya tidak?" ejek Edoh Permana-sari. "Kalau aku mau melukaimu, gam-pangnya seperti membalik tangan sendiri. Kau percaya tidak?" "Hem... boleh coba," dengus Inu Kertapati. "Bagus! Kau sendiri yang mencari penyakit tetapi mengingat perhubungan kita dahulu, aku hanya menginginkan sepotong bajumu." Dan benar- benar ia membuktikan ucapannya. Entah bagaimana ia bergerak tahu-tahu pedangnya menyambar secepat kilat. Brebet! Dan lengan baju Inu Kertapati terpotong sebagian. Melihat temannya dalam bahaya, Sidi Mantra tidak berpikir panjang lagi. Terus saja ia melompat sambil menyodokkan senjatanya. Meskipun ia sangat bernafsu untuk melam-piaskan rasa marahnya, tetapi berat batang pohon mengganggu kesehatannya. Sekarang, Edoh Permanasari memperli-hatkan puncak kepandaiannya. Setelah mengelak ke samping, ia meloncat tinggi dan hinggap di atas pohon. Kemudian pedangnya disabetkan. Sudah barang tentu, Sidi Mantra kaget bukan main. Sama sekali tak diduganya bahwa Edoh Permanasari bisa berbuat begitu. Dalam gugupnya Sidi Mantra menyabetkan pohonnya ke kiri kanan dengan maksud hen-dak menggulingkan lawan ke tanah. Tetapi sambil tertawa Edoh Permanasari berlari-larian di atas batang pohon mengarah padanya. lnu Kertapati terhenyak menyaksikan kelincahan dan kecerdikan lawan. Benar-benar ia kagum. Tetapi begitu ia melihat berkelebatnya pedang, Edoh Permanasari hendak menebas lengan Sidi Mantra, cepat ia membenturkan tongkatnya. Edoh Permanasari mundur cepat-cepat. Sesudah itu betapa Sidi Mantra membolang-balingkan pohonnya, tetap saja ia melengket di atasnya. Manakala lowong, ia datang menyerang. Kemudian mundur apabila tongkat lnu Kertapati menyambut serangannya. Diperlakukan demikian, Sidi Mantra benar-benar mati kutu. Makin lama berat pohon terasa semakin berat. Meskipun berat badan Edoh Permanasari tidak seberat kerbau, tapi paling tidak menambahi berat pohon enampuluh kati. Tenaganya lambat laun mengendor karena lelah. Celakanya ia tak bisa memukul balik lawan. Suatu pikiran mengajak dia untuk melontarkan pohon itu ke udara. Tetapi hal itu, berarti ia tak bersenjata lagi. Juga Edoh Permanasari menyerang dari udara, bukankah dia terpaksa lari terbirit-birit. Sidi dalam kebimbangan. Ia melihat lnu Kertapati menghampiri Edoh Permanasari sambil merabukkan tongkatnya. Dengan berlari-larian Edoh Permanasari melayani dari atas pohon. Dan ia jadi bersakit hati, karena merasa diri sebagai pelayan Edoh Permanasari untuk melonjorkan batang pohon baginya. Memikir demikian ia menjadi gemas. Tak memedulikan akibatnya lagi, ia benar-benar melontarkan batang pohon ke udara. Kemudian bergulingan ke tanah untuk membebaskan diri dari suatu serangan balasan yang mungkin terjadi. Dugaannya tepat. Edoh Permanasari benar-benar menyerang setelah tubuhnya terlontar di udara. Tetapi ia bukan menyerang dengan pedangnya. Suatu kesiur angin lembut melesat bagaikan kilat. Dan dengan suatu teriakan tinggi, Sidi Mantra menggeletak tak berkutik. Waktu itu fajar hari belum tiba. Karena itu apa yang menyebabkan Sidi Mantra sampai berteriak tinggi, kurang jelas. Setelah rebah tak berkutik, ia mengerang sambil mengutuk. "Perempuan siluman! Kau menggunakan senjata apa?" Edoh Permanasari tertawa selintasan sambil memunahkan serangan Inu Kertapati. Kemudian berkata dengan suara penuh kemenangan. "Itulah Jarum Gunung Gilu12', Permaisuri Ratu Fatimah yang termasyhur. Engkau kena jarum Gilu. Itulah berarti nyawamu tinggal se-perempat jam. Bukankah kakimu sudah terasa kaku-kaku? Nah, biarpun malaikat sendiri, takkan mampu menolong sebelum menyembah aku tujuh kali." Sidi Mantra menggerung. Benar-benar kakinya menjadi kaku. Ia mencoba bangun. Tapi begitu menggeliat seluruh tubuhnya seperti tertusuk ribuan jarum. Inilah yang menyebabkan ia tak bisa berkutik lagi begitu badannya kena sidik jarum beracun. "Kertapati! Tumpaslah perempuan siluman itu!" seru Sidi Mantra. "Nona tua yang tak laku kawin apa perlu dihidupi lagi." Tiga kali sudah, Sidi Mantra mengejek Edoh Permanasari dengan kata-kata pantangan nona tua. Ini pulalah yang menyebabkan Edoh Permanasari menurunkan tangan jahat. Tadi Edoh Permanasari masih menawarkan suatu pengampunan, asalkan Sidi Mantra mau menyembahnya tujuh kali. Tetapi sekarang, tidak lagi. Meskipun andaikata Sidi Mantra minta-minta ampun sambil menjilat kakinya, ia tak menggubrisnya. Maka dengan suatu gerakan yang sulit diceritakan, ia melesat menghampiri Sidi Mantra. Pedangnya diayunkan ke atas dan turun ke bawah dengan derasnya. Inu Kertapati yang merasa tak keburu lagi menolong temannya menjerit dengan suara putus asa. Tiba-tiba saja pada detik-detik berbahaya sebuah benda melesat ke udara dan menghantam pedang Edoh Permanasari, sampai terpental tinggi dan jatuh tertancap hampir setengahnya di dalam tanah. Bukan main kagetnya Edoh Permanasari. Mimpipun tidak, bahwa di dunia ini ada suatu kekuatan yang dapat mementalkan pedang-nya tinggi di udara selagi ia menebas deras ke bawah. Tanpa merasa ia meloncat mundur dan memungut benda yang mengguncang pe-dangnya. Itulah sebuah kerikil sebesar biji jagung, la jadi tercengang-cengang. Katanya di dalam hati, ilmu sakti orang yang menimpuk pedangku tak dapat kuraba berapa dalamnya. Sekarang selagi dia belum muncul, bukanlah lebih baik aku menyingkir cepat-cepat? Setelah memutuskan demikian, ia memu-ngut pedangnya yang tertancap di dalam tanah. Ia bertambah kagum berbareng ber-panas hati. Begitu ia menjejak tanah hendak kabur, tangannya mengebas menyerang lnu Kertapati dengan jarum racunnya enam batang sekaligus. Tapi lagi-lagi enam buah benda terbang membentur keenam jarumnya dan meruntuhkan di atas tanah. Ih! Hari belum lagi terang. Meskipun de-mikian ia bisa membidik tepat semua jarumku. .Kalau bukan setan pasti siluman, pikirnya dengan hati menggeridik. la tak berani berayal lagi. Sesudah menyiapkan pedangnya, ia melompat memanjangkan kakinya. Sekejap saja ia hilang dari penglihatan. ***ersambung) ***

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 36 DI PANGKUAN BUNDA"

Posting Komentar