BENDE MATARAM JILID 34 PULANG KE JAKARTA



Bagus kempong segera memerintahkan para cantrik mempersiapkan suatu perjamuan. Tamu-tamu padepokan Gunung Damar dipersilakan memasuki ruang dalam, karena serambi depan telah rusak. Mereka membungkam seribu bahasa. Kesan pertempuran tadi benar-benar hebat merumun dalam otak mereka masing-masing. Mereka yang sedikit banyak menganggap dirinya tergolong manusia-manusia gagah, jadi malu sendiri. Dibandingkan dengan ilmu kepandaian Kebo Bangah dan Gagak Seta bagaikan bumi dan langit. Untung mereka mempunyai hubungan baik dengan Sangaji. Bahkan pernah pula ikut menyumbangkan kebajikan kepadanya. Diam-diam mereka bisa menghibur diri. Ditengah perjamuan itu setelah lama merenung-renung. Sangaji mengisahkan semua pengalamannya kepada Kyai Kasan Kesambi dan sekalian paman-pamannya. Mendengar kisah aneh yang berada di luar kemampuan manusia, semua yang mendengar jadi tercengang-cengang dan takjub. "Baiklah," kata Kyai Kasan Kesambi. "Kalau diurut Ki Hajar Karangpandanlah yang berjasa. Coba, kalau dia tidak membawa dua benda pusaka Bende Mataram, di dunia ini mataku yang sudah lamur tidak akan melek. Kukira ilmu kepandaian yang dicapai manusia kini merupakan puncak-puncak kesanggupan dan kemampuan zaman." "Tetapi kalau aku yang dikatakan berjasa, tidaklah benar!" sahut Ki Hajar Karangpandan. "Sebaliknya Ki Jaga Saradenta dan murid Kyai Kasan keempatlah yang besar jasanya dalam mengasuh dan mendidik Sangaji menjadi manusia besar di kemudian hari." Menyinggung nama Wirapati, Sangaji segera teringat akan nasib gurunya. Dia menoleh kepada paman gurunya Gagak Handaka dan Ranggajaya. Mereka cepat-cepat berdiri dan membungkuk hormat kepada Kyai Kasan Kesambi. Kemudian mengabarkan tentang obat pemunah yang diketemukan Sangaji pula. Betapa besar bahagia Kyai Kasan Kesambi tak terperikan. Perlahan-lahan ia mengelus-elus jenggotnya dan tertawa penuh perasaan. Matanya berseri-seri memandang atap rumah. "Ah! Betapa hebat orang menyangkal, ternyata yang Maha Pengasih tahu membalas budi. Wirapati bakal hidup kembali seperti sedia kala." Orang tua itu segera memeriksa obat pemunah, la manggut-manggut puas penuh yakin. Segera ia memerintahkan menggotong Wirapati keluar dari kamar. Dan begitu mereka melihat keadaan Wirapati, semua jadi terharu. Jaga Saradenta menangis perlahan. Terisak-isak ia berkata, "Kau harus bisa pulih seperti sediakala. Kau harus melihat dan ikut menyaksikan kehebatan muridmu Sangaji. Dia bukan bocah tolol seperti sangkaku semula..." Jaga Saradenta pernah menjadi kawan seperjuangan dekat dengan Kyai Kasan Kesambi dalam Perang Giyanti. Oleh suatu hal yang tidak terduga-duga ia bisa bertemu kembali, setelah menyekap diri menjadi Gelondong Segaluh. Hanya saja, ia belum memperoleh kesempatan untuk berbicara banyak. "Ki Jaga Saradenta!" sahut Kyai Kasan Kesambi. "Meskipun mataku sudah lamur, tapi aku segera mengenalmu. Ah, dunia ini memang aneh. Siapa menyangka, bahwa engkau mempunyai perhubungan rapat dengan muridku Wirapati. Selama dalam perantauan, apakah dia pernah berbuat di luar angger-angger kesusilaan?" "Tidak! Tidak! Dia seorang laki-laki sejatii Dan kalau Kyai Kasan mengira dia senang membawa adatnya sendiri, tidaklah benar. Malahan akulah orang yang tak tahu adat. Dalam kebanyakan hal, dia suka mengalah terhadapku," kata Jaga Saradenta dengan penuh semangat. Kyai Kasan Kesambi segera bekerja. Obat pemunah itu ternyata dibagi tiga. Yang satu untuk diminumkan. Yang kedua untuk diborehkan. Dan yang ketiga untuk penyambung tulang-tulang patah. Setelah itu, Wirapati dibebat erat dan diletakkan hati-hati di atas tempat tidurnya kembali, la masih saja belum bisa bergerak, walaupun telah memperoleh kesadarannya kembali. "Dalam dua bulan lagi kalau tiada halangan ia sudah bisa pulih kembali," kata Kyai Kasan Kesambi yakin. Perjamuan malam itu dilanjutkan hampir mendekati fajar hari. Jaga Saradenta segera mengisahkan perhubungannya dengan Wirapati. Ki Tunjungbiru, Panembahan Tirtomoyo, Ki Hajar Karangpandan dan para murid Gunung Damar tak mau kalah menyumbangkan kisahnya masing-masing yang berhubungan dengan Sangaji. Sangaji sendiri setelah melihat keadaan gurunya, berdiam diri. Justru ia berdiam diri, teringatlah dia kepada Titisari dan ibunya yang masih berada di daerah barat. Di belakang kursinya duduk Wirasimin dengan bersimpuh. Kalau tadi sore ia masih meragukan kesanggupan Sangaji, kini ia berbalik mendewakan. Ia selalu siap meladeni kebutuhan anak muda itu. Dan kalau kisah para pendekar menyinggung keadaan Sangaji, ia menumpahkan seluruh perhatiannya sampai mulutnya ternganga-nganga. Kadang-kadang ia menyambung, "Ah! Di dunia ini mana ada suatu riwayat ajaib melebihi riwayat hidup Gus Aji..." Sebagai puncak perjamuan itu, Sangaji mengeluarkan kedua pusaka sakti di atas meja. Para pendekar hanya melihat saja selintasan. Mereka sadar tiada keuntungannya apabila memiliki kedua pusaka tersebut, mengingat tenaga sendiri tak mencukupi untuk berlatih menurut bunyi ukiran keris Kyai Tunggulmanik. Sebaliknya para cantrik yang masih penuh angan-angannya, segera merubung meja dengan nafsu. Mereka baru kendor nafsunya, tatkala Kyai Kasan Kesambi berkata kepada Sangaji. "Aji! Meskipun engkau membawa-bawa kedua pusaka itu, tidaklah berbahaya lagi. Sebab segera para pendekar akan sadar, bahwa mereka takkan bisa memperoleh hasilnya, manakala tenaga jasmaninya tidaklah seperti yang kaumiliki. Itu disebabkan engkau berhasil melebur tenaga sakti getah Dewadaru, ilmu Bayu Sejati dan ilmu Kumayan Jati oleh cekikan pendekar Bagas Wilatikta. Sebaliknya, apabila kedua pusaka ini sampai jatuh di tangan Kebo Bangah atau Adipati Surengpati akan lain halnya. Barangkali di dunia ini bakal ada cerita lain lagi." Keesokan harinya, Ki Hajar Karangpandan yang biasa hidup liar segera berpamitan hendak kembali ke padepokannya. Ia pergi bersama kakak seperguruannya Panembahan Tirtomoyo. Ki Tunjungbiru pun hendak meninggalkan padepokan pula. Ia menyerahkan sisa madu Tunjungbiru yang mempunyai kasiat ajaib kepada Kyai Kasan Kesambi untuk mempercepat sembuhnya Wirapati. Sedangkan Jaga Saradenta masih tinggal di pertapaan. Ia memutuskan hendak menunggu Wirapati sampai sembuh. "Perkara perjodohanmu sangat gawat, anakku." kata Panembahan Tirtomoyo. "Kau harus selalu waspada dan bijaksana. Meskipun kata-kata pendekar Gagak Seta benar, tetapi kau harus pandai membebaskan hatimu. Kesejahteraanmu sendiri itulah yang harus kauperhatikan." "Itu benar!" sambung Ki Hajar Karangpandan. "Jodoh adalah urusan Tuhan. Kalau kau pandai menyerahkan diri ke haribaannya, dia akan memilihkan jodohmu yang benar. Tetapi semenjak itu, janganlah kau menyianyiakan isterimu." Mendengar, ucapan kedua pendekar itu tentang perjodohan Sangaji. Kyai Kasan Kesambi melengak. Sebagai seorang tua yang berpengalaman, ia menduga cucu muridnya mempunyai persoalan rumit. Namun ia tak berkata apa-apa. Demikianlah kedua pendekar itu meninggalkan padepokan Gunung Damar. Ki Tunjungbiru yang pendiam tak lama kemudian berangkat pula. Sangaji mengantarkan sampai di kaki gunung. "Apakah Aki akan terus langsung berangkat ke Jakarta?" Sangaji menegas. "Tentu saja, anakku." Jawab Ki Tunjungbiru. "Aku dilahirkan di daerah barat. Pada sisa hidupku, aku bisa berharap tinggal di sana sampai mati. Kaupun akan ke Jakarta pula, bukan? Baiklah aku nanti mengunjungi ibumu. Akan kuceritakan semua pengalamanmu. Meskipun kau belum berhasil menuntut dendam kematian ayahmu, ibumu pasti gembira mendengar kabarmu. Bagi seorang ibu, bakal melihat anaknya pulang sudah merupakan suatu karunia besar. Bisa-bisa ia bertambah umur." Terharu Sangaji mendengar ucapan Ki Tunjungbiru. Ia jadi diingatkan kepada masalahnya sendiri. Benaknya lantas menjadi kacau. Karena tak pandai mengutarakan bunyi hati sendiri, ia tegak seperti batu. Sewaktu bayangan Ki Tunjungbiru lenyap di langit barat, tak disadarinya sendiri ia menarik napas panjang. "Semua meninggalkan aku. Semua yang baik hati dan luhur budi." Ia mengeluh kepada diri sendiri. "Apakah aku bisa bertemu kembali dengan mereka?" "Teringat akan hal itu, ia jadi makin bersedih hati," kemudian perlahan-lahan ia kembali ke padepokan. Ternyata padepokan nampak sunyi sepi. Eyang dan paman gurunya tak berada lagi di luar. Gurunya pun demikian. Mereka telah memasuki kamar peristirahatannya. Yang mengisi kesunyian, hanyalah para cantrik belaka. Mereka bekerja memperbaiki serambi dan dinding yang jebol. Pohon-pohon patah yang menutupi halaman mereka singkirkan sambil menimbuni bumi yang amblong. Tak terasa dua bulan telah lewat dengan diam-diam. Selama itu Sangaji menerima petunjuk-petunjuk dan warisan ilmu kepandaian dari Kyai Kasan Kesambi. Ilmu Mayangga Seta dan puncak-puncak ilmu perguruan Gunung Damar telah dipahami pula. "Sangaji pandai menghibur diri." Untuk melupakan kerisauan hatinya, ia berlatih pada siang dan malam hari penuh. Hanya di saat-saat tertentu, ia membantu eyang gurunya menyembuhkan gurunya dengan tenaga saktinya. Fatimah pun mendapat gilirannya pula. Dengan demikian, ingatannya kepada Titisari agak berkurang. Fatimah pulih dengan cepat. Tenaganya kini bahkan makin bertambah berkat tenaga sakti Sangaji. Ia sudah mulai berlatih lagi menekuni ilmu kepandaiannya di bawah pengawasan gurunya Suryaningrat. Wirapati pun sudah memperoleh kesehatannya kembali. Ia seolah-olah bangun kembali dari liang kubur. Tubuhnya nampak kuat dan perkasa. Pandangnya berseri-seri di antara wajahnya yang bersih suci. Ia selalu bersama Jaga Saradenta, membicarakan pengalamannya dan Sangaji. Apabila mendengar kabar tentang kemajuan Sangaji, ia nampak berbahagia. Senyumnya puas luar biasa. Ia merasa diri telah sampai pada puncak kemampuan dalam menunaikan tugas yang dipikulnya selama itu. Sangaji sendiri tak mau berpisah dari dia. Anak muda itu bisa membawa diri. Tak pernah ia membicarakan tentang kemajuan-kemajuannya. Kecuali apabila dia sedang berlatih. Juga masalah yang sedang dihadapi tak pernah pula disinggungnya. Namun betapapun juga, akhirnya Wirapati mendengar juga. Ini terjadi sewaktu gurunya itu mendadak teringat kepada anak Adipati Surengpati. Belum lagi Sangaji memberi keterangan, si sembrono Jaga Saradenta sudah membeberkan peristiwa yang disaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Maka terpaksalah Sangaji meriwayatkan kisah perhubungannya. Dan mendengar hal itu, wajah Wirapati nampak suram. "Jadi engkau harus kembali ke Jakarta?" tanyanya penuh perasaan. Sangaji mengangguk. "Hebat! Sungguh hebat persoalanmu," katanya lagi perlahan. Ia tak mengerti sendiri bagaimana penyelesaiannya kelak. Sebagai seorang guru yang sudah bergaul semenjak Sangaji masih menjadi pemuda tanggung, ia tahu belaka keadaan hati muridnya. Pemuda itu hanya menganggap Sonny de Hoop sebagai kawannya bermain. Sebaliknya terhadap Titisari, agaknya Sangaji mempunyai pengucapan naluriah yang lain. Tetapi dia harus berani menemui Sonny. Sebagai seorang guru, sudah tentu ia mengharap muridnya berhati jantan dan berwatak ksatria sejati. Dan seorang ksatria harus bisa mengatasi kepentingannya sendiri demi panggilan nilai-nilai hidup. Dia pun pernah memberikan contohnya. Memikir demikian, tak terasa ia menghela napas. "Ocapan seorang laki-laki memang tak ternilai harganya." Akhirnya dia berkata. "Lainlah halnya, apabila Sonny ternyata mengingkari janji..." ia berhenti merenung-renung. Lalu menegakkan kepala seraya minta ketegasan. "Kapan engkau berangkat?" Sesungguhnya semenjak ia berpisah dari Ki Tunjungbiru segera ia ingin berangkat. Tetapi bukan untuk Sonny melainkan oleh rasa rindunya kepada ibunya. Maka begitu mendengar pertanyaan Wirapati, ia seperti tergugah. Menjawab singkat, "Sekiranya guru mengizinkan, esok pagi aku akan berangkat." "Aku sudah sehat kembali. Kau tak perlu lagi memikirkan aku. Dua tiga bulan lagi aku akan pulih seperti sedia kala," kata Wirapati dengan tertawa gelak. "Ha—bagus!" sambung Jaga Saradenta. "Meskipun kepandaianku kini tak nempil dengan ilmu kepandaianmu, tapi aku masih berani menggerembengimu. Nah, berangkatlah! Aku tak menginginkan engkau masih menjadi anak tolol. Sekiranya kau kelak jadi orang, jenguklah kuburanku kalau aku sudah tak bernyawa lagi. Saat itulah kau baru benar-benar bebas dari pengawasanku." Sangaji tahu, gurunya yang satu itu berwatak uring-uringan dan keras hati. Namun diantara bunyi bait kekerasannya, sesungguhnya bersembunyi suatu rasa cinta kasih mendalam. Karena itu, tak terasa ia menitikkan air matanya begitu mendengar ucapannya. Ia segera duduk bersimpuh menyembah. "Eh, apa artinya ini?" damprat Jaga Saradenta. "Aku menghendaki engkau jadi seorang laki-laki yang tegak perkasa. Bukan sebagai makhluk yang hanya pandai main sembah dan berpura-pura." Wirapati tertawa panjang. Dengan menepuk pundak Sangaji ia berkata: "Tentang hal ini, biarlah aku nanti membicarakan dengan eyang gurumu. Kau sekarang berkemaslah! Dan kelak kalau bertemu dengan ibumu, sampaikan salamku dari jauh. Akupun akan titip oleh-oleh sedikit untuk ibumu ..." Wirapati kemudian memasuki kamarnya dan kembali dengan membawa sebuah mata tombak yang sudah berkarat. Itulah mata tombak yang ditemukan, sewaktu dia singgah di rumah keluarga Sangaji di Karangtinalang. "Menurut Nuraini, inilah mata tombak almarhum ayahmu. Sewaktu dipergunakan untuk melawan gerombolan orang-orang Banyumas, benda ini ternyata selamat dari lautan api yang membakar rumahmu." Diingatkan tentang peristiwa keluarganya dan mendengar pula asal-usul mata tombak yang sudah berkarat itu, Sangaji tergetar hatinya. Tatkala menerima benda itu, ia gemetaran. Maka hatinya bertambah terharu. Terus saja ia menangis terisak-isak. "Hm, sudah! Sudah!" kata Jaga Saradenta. "Dunia ini tak cukup hanya kau tangisi belaka. Kau mau pulang kepangkuan bunda kini. Lebih baik engkau memikirkan bagaimana caramu hendak menggembirakan hati ibumu. Sebaliknya kalau datang-datang lantas menangis, ibumu akan rontok hatinya." Sebenarnya di balik kegarangannya, orang tua itu bersedih hati akan berpisahan dengan muridnya. Namun sebagai seorang tua yang sudah banyak pengalamannya, tak sudi ia memperlihatkan kesedihan hatinya. Sangaji sendiri tak pandai berbicara. Apalagi hendak mengutarakan keadaan hatinya. Karena itu setelah isaknya berhenti, ia hanya diam berlongong-longong. Wirapati selamanya bersikap lembut kepadanya. Melihat muridnya dalam kesulitan ia segera berkata mengalihkan pembicaraan. "Nah, sekarang berkemaslah! Aku akan menghadap eyang gurumu!" Terhadap gurunya yang bersikap lembut, Sangaji memujanya sebagai dewa, meskipun ilmu kepandaiannya kini jauh melampauinya. Maka dengan memaksa diri, ia bangkit dan memasuki kamarnya untuk berkemas-kemas. Keesokan harinya, Sangaji menghadap eyang gurunya. Orang tua itu telah mendapat keterangan jelas tentang persoalan cucu muridnya. Namun dia tak berkata sepatah katapun. Ia hanya memberi pangestu. Setelah itu memberi isyarat kepada sekalian murid-muridnya agar mengantarkannya turun gunung. Pagi hari itu sangatlah cerahnya. Sarwa alam terang benderang. Angin menyanyi di sepanjang deret tetanaman. Gunung Sumbing nampak gagah perkasa di antara bukit-bukit yang mengelilingi pertapaan Gunung Damar. Di seberang menyeberang jalan, terdengarlah suara gemericik air meraba sawah dan ladang yang telah mulai menghijau. Di udara awan putih nampak berarak-arak di antara tirai biru yang melingkupi segenap cakrawala. Namun semuanya itu tak dapat merasuk ke dalam lubuk hati Sangaji. Hati Sangaji penuh rasa haru. Tatkala dia harus berpisah dari kedua gurunya serta paman-paman gurunya, hampir saja ia menangis. Jaga Saradenta lalu menghampiri dan membentak. "Ah, anak tolol! Apakah engkau berpikir, bahwa selama hidupmu kami semua harus menyertaimu? Memang, dahulu hari kau bersama kami memasuki wilayah Jawa Tengah. Kini kau sudah menjadi laki-laki penuh. Kau harus berani menempuh perjalanan dengan seorang diri, seperti waktu kau dilahirkan di dunia. Seperti kelak saatnya kau kembali kepangkuan hidup, engkau hanyalah seorang diri tanpa teman dan tanpa penasihat. Karena itu engkau harus belajar mempunyai keputusan cepat, tegas dan tepat. Hidup ini tak ubah gelanggang perkelahian. Kau akan diajak dan didorong untuk berkelahi. Dan satu-satunya senjata untuk menentukan segala hal, adalah keputusanmu. Lamanya hanya sedetik dua detik. Kalau kau selalu beragu, kalau kau tak mempunyai suatu keputusan, kalau kau selalu kasep menentukan suatu sikap, engkau akan digulung dan dipilin-pilin. Ah, tolol! Kulihat engkau pandai bertempur sewaktu melawan pendekar besar Kebo Bangah. Dan engkau menang. Siapakah yang menentukan kemenanganmu ini? Itulah keputusanmu yang cepat, tegas dan tepat. Karena itu, hayo tegakkan kepalamu! Di depanmu tergelar banyak persoalan yang pelik. Dan semuanya menunggu keputusanmu. Mati atau hidup, bukan soal. Kalau kau mati, matilah sebagai ksatria. Karena semuanya ini hanya tergantung kepada keputusanmu belaka, maka eyang gurumu hanya memberimu pangestu. Kau mengerti? Nah, berangkatlah dengan genderang dada laki-laki tulen!" Hebat kata-kata Jaga Saradenta sampai semua yang mendengar ikut tergetar hatinya. Memang kadangkala, guru yang sok uring-uringan itu bisa menemukan butir-butir mustika dunia yang tak ternilai harganya. Itulah disebabkan, karena ia sendiri sesungguhnya berat berpisahan dengan muridnya. Kata katanya yang garang berwibawa itu, lebih membidik dirinya sendiri. Tak mengherankan, bahwa setelah berkata demikian, napasnya jadi tersengal-sengal. Sangaji terhenyak di atas punggung Willem. Dasar ia tak pandai berbicara, maka ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Mendadak saja ia melihat Jaga Saradenta menarik cempulingnya, kemudian dihantamkan ke paha Willem. Kalau ia mau mengelak atau menangkis, mudahnya seperti membalik tangan sendiri. Karena kini, ilmu kepandaiannya tiada taranya dalam jagat. Tetapi ia tak berani menghalang-halangi gerakan gurunya. Tahu-tahu, Willem melompat tinggi di udara dan melesat bagaikan anak panah yang terlepas dari gendewanya. Selama hidupnya, Willem tak pernah diperlakukan dengan kasar. Maka tak mengherankan, begitu kena cempuling, binatang itu kaget setengah mati. Mengira ia kena marah majikannya, terus saja melesat membabi buta. Tak mau lagi ia mengambil jalan besar. Sebaliknya, menerjang sawah dan ladang dan larinya kian nubras-nubras sejadi-jadinya. Untung, Sangaji kini bukan Sangaji satu tahun yang lampau. Ilmu saktinya sudah hampir mencapai suatu tataran kesempurnaan. Dengan tangkas ia menjepit kudanya dengan kedua kakinya sambil mulutnya membujuk halus. Tangannya menepuk-nepuk lembut. Dan sejenak kemudian, Willem kena dikuasainya lagi. Tetapi bayangan kedua guru dan paman-paman gurunya telah lenyap dari penglihatan. Perlahan-lahan ia mengarahkan Willem mengambil jalan besar. Di dekat pengempangan sawah, ia turun dan memeriksa paha Willem. Ternyata binatang itu tiada luka. Terang gurunya tadi tidak bermaksud menyakiti Willem. Karena itu ia sangat masgul. Di dalam hati, ia menyesali diri sendiri yang perlu diperlakukan demikian oleh gurunya. "Guru sangat kasih kepadaku." Ia berkata di dalam hati. Melihat hatiku lemah ia terpaksa melakukan suatu hal yang bertentangan dengan kemampuannya sendiri. Tak terasa ia menghela napas. Mau ia melompat ke atas kudanya lagi, tiba-tiba terdengarlah suatu suara gemeresek. Ia kini memiliki pancaindera yang luar biasa tajam. Dahulu saja, pendengarannya bisa menangkap napas Fatimah yang menggeletak di antara tebing sungai. Kali inipun demikian pula. Ia menoleh cepat. Dan berbareng dengan itu, ia mendengar suara menggeru. "Hai tolol! Kau ini memang benar-benar anak siluman! Sudah kutunggu sekian lamanya, masih juga kau tak mau datang? Dasar laki-laki. Apa kubilang dulu? Semua laki-laki seluruh dunia ini memang busuk!" Sangaji melengak. Itulah Fatimah, gadis angin-anginan yang kini sudah sembuh kembali seperti sediakala, duduk berjuntai di tepi pengempangan sawah. Tubuhnya terlindung rumpun padi setinggi kanak-kanak, karena itu tidak segera tampak. "Kau sudah berada di sini sepagi ini?" Sangaji heran menebak-nebak. "Kau ini gendeng, berpura-pura tak tahu atau tolol?" Teringat akan watak Fatimah, Sangaji segera bersedia meladeni. Maka ia menjawab menyenangkan. "Aku memang tolol." "Ia, kau memang tolol," sahut Fatimah cepat. Mendadak suaranya meninggi. "Hai! Masih saja kau tak mendekat? Benar-benar kau anak siluman!" Seperti kanak-kanak takut kena gablok, Sangaji menghampiri terbata-bata. Kalau menuruti hatinya, mau ia tersenyum geli. Tapi terhadap gadis angin-anginan itu, tak berani ia berbuat begitu. Hatinya terlalu mulia, sehingga takut akan menyakitkan hatinya. "Aku tahu, kau bakal pergi. Karena itu aku menghadang di sini. Dan kulihat penyakit gendengmu kumat lagi. Masakan kau membiarkan kudamu lari menubras-nubras sawah? Sawah siapa yang kau rusak tadi? Memangnya kau ini tuan besar? Iddiiih ... tak tahu malu." Tak berani Sangaji menerangkan apa sebab kudanya sampai lari menubras-nubras. Ia malu kepada dirinya sendiri. Ia mencoba, "Guru dan paman-paman guru hanya sampai di perbatasan lembah dan selanjutnya aku akan meneruskan perjalanan seorang diri." "Kau tak usah ngomong perkara tetek-bengek. Dahulu hari kau pernah bilang ibumu mirip aku. Apakah kau terkenang ibumu?" "Tentu." Sahut Sangaji cepat sambil duduk di sampingnya. "Hanya saja kau lebih cantik." "Ih! Kau ini memang anak siluman. Memangnya aku cantik?" "Ya. Kau cantik." "Ibumu sudah tua. Kenapa kau persamakan dengan aku?" "Aku bilang kau lebih cantik," Sangaji gugup. Fatimah melengos. Tiba-tiba berkata, "Kau mau kuracuni tidak? Bilang!" Peralihan pembicaraan itu bukan main cepatnya, sampai Sangaji jadi kelabakan. Dasar ia tak pandai berbicara, maka tak pandai pula menggerayangi hati gadis angin-anginan itu dengan cepat. "Racun bagaimana?" ia minta keterangan. "Racun ya racun. Kau mau tidak?" potong Fatimah. Belum lagi Sangaji bisa menebak, gadis itu mengeluarkan sebuah mangga muda. Berkata, "Dahulu hari kau menggeletak di tanah seperti siluman sekarat. Tapi aku senang, karena kau mau menggerogoti manggaku. Tadinya kau takut, jangan-jangan mangga itu kuracuni. Kenapa kau akhirnya mau menerima pemberianku?" Diingatkan perkara mangga itu, teringatlah Sangaji pada waktu kena cekik Bagas Wilatikta. Itulah yang pertama kalinya ia berkenalan dengan Fatimah. Maka setelah melongong sejenak, ia menjawab: "Kalau tak salah ... bukankah engkau sudah memakannya sebagian?" "Bagus!" Fatimah bergembira. Terus ia menggerogoti mangga itu sebagian. Kemudian diberikan kepada Sangaji seraya berkata, "Sekarang kau berani makan mangga ini tidak? Awas, kali ini benar-benar ada racunnya." Sangaji terhenyak kalau menuruti hati sudah barang tentu ia akan menolak pemberian itu. Tetapi hatinya sedang pepat. Lagi pula, semenjak pertemuannya dahulu ia tertarik kepada sepak-terjang Fatimah yang lucu dan tak terduga-duga. Maka dengan lapang hati, ia menerima pemberian itu. Ia tahu, gadis itu cuma menggertak. Tetapi andaikata benar-benar beracun betapapun takkan bisa mengatakan dia. Sebab kecuali ilmu kepandaiannya kini sudah hampir mencapai puncak kesampurnan, kesaktian getah Dewadaru membuat tubuhnya tak mempan dari segala bisa dan racun. "Darimana kau memperoleh mangga ini?" Sangaji bertanya iseng sambil menggerumuti mangga. "Dari mencuri atau membegal, kau peduli apa?" sahut Fatimah tak senang. Tetapi diam-diam ia bersyukur melihat Sangaji memakan mangganya. "Dahulu kau hampir mampus. "Dan kau kuberi mangga. Kemudian kau tolong aku dari liang kubur, bukankah aku wajib memberimu mangga pula?" Ia berhenti mencari kesan. Kemudian tiba-tiba menaikkan suaranya. "Hai! Di manakah kawanmu yang galak dahulu?" Sangaji tahu, yang dimaksudkan Fatimah adalah Titisari. Justru oleh pertanyaan tak terduga-duga itu, semangatnya terasa nyaris kabur. Tak setahunya sendiri, ia berhenti mengunyah. Dan melihat keadaannya, Fatimah tertawa terpingkal-pingkal. "Baru saja aku bertanya, nyawamu sudah terbang ke langit. Masakan kau takut aku bakal merebutnya?" Sangaji menundukkan kepala. Dengan suara dalam ia menyahut, "Dia meninggalkan aku." "Ah, masakan begitu? Hm "siapa percaya mulut laki-laki. Semua laki-laki di seluruh dunia ini busuk. Bukankah kau yang meninggalkan dia?" Sangaji tergugu. Sekalipun tidak demikian, tetapi mirip pula. "Nah "kenapa tak menjawab? Huuuh... dasar anak siluman. Karena itu, aku benci padamu. Aku benci! Sana, pergi! Dan kalau kau tak mau pergi, akulah yang pergi!" damprat Fatimah. Dan benar-benar ia melompat dan lari meninggalkan. Keruan saja, Sangaji jadi gugup. Ingin ia menerangkan persoalannya, tetapi terhadap gadis demikian apakah ada gunanya. Namun ia berteriak juga: "Fatimah! Kenapa kau benci padaku?" "Aku benci atau tidak, apa pedulimu?" sahut Fatimah sambil lari. Sangaji benar-benar tak tahu apa yang harus dikatakan. Ia berdiri terlongong-longong. Tiba-tiba teringatlah dia kepada tutur kata gadis itu sendiri, bahwa kekasihnya meninggalkannya pula. Bahkan setelah mencaci, menghina dan menghajarnya. Tetapi siapa kekasihnya itu, sampai kini belum terang. "Agaknya setiap kali ia bersentuhan dengan persoalan yang mirip dengan persoalannya, dia jadi benci kepada segalanya. Sampai-sampai akupun dibencinya pula. Baiklah. Memang Sangaji patut dibenci dan dikutuk! Ia berkata bermurung-murung kepada dirinya sendiri. Seolah-olah orang terbangun dari kelelahan, ia berjalan tertatih-tatih menghampiri Willem. Dalam benaknya terjadi suatu rumun suara kacau-balau. Bayangan Titisari lantas saja tercetak kuat dalam ingatannya. "Titisari! Aku tahu, kau menderita. Tetapi aku seorang laki-laki. Aku harus bisa menetapi janji, betapapun bertentangan dengan suara hatiku. Kau tahu, bukan?" la bergumam seorang diri sambil menaiki kudanya. Tetapi justru ia berkata demikian, wajah Titisari nampak kian jelas. Mendadak ia merasa seperti ada seorang yang mengamat-amati. Cepat ia menoleh. Ternyata pancainderanya yang luar biasa tajam, tidak membohongi. Ia melihat Fatimah berdiri tegak di kejauhan. Gadis itu, kemudian mendatangi dengan tingkah acuh tak acuh. "Kau marah padaku?" katanya setelah berada dalam jarak sepuluh langkah. Suatu kebahagiaan tiba-tiba terasa merayap dalam tubuh Sangaji. Apa sebabnya dia mempunyai perasaan demikian tak tahu ia menerangkan. Terus saja ia menggelengkan kepala dengan wajah berseri. "Aku memang laki-laki busuk," akhirnya pemuda itu berkata. "Siapa bilang? Kau manusia yang paling baik. Manusia siluman yang pernah kukenal. Kau jauh berlainan dengan manusia yang tak keruan juntrungnya," potong Fatimah. "Kau lain pula dengan kelakuan kekasihku yang banyak perempuannya." "Siapa dia?" "Kau tak pernah menghajar, mencaci atau menghina kawanmu yang galak itu, bukan?" Fatimah seperti tak mendengar pertanyaan Sangaji. "Tidak." "Nah, itulah bedanya dengan kekasihku yang jahanam." "Apakah dia bengis terhadapmu?" "Tidak cuma bengis. Memang dia laki-laki edan. Dia setan dan iblis." "Siapakah kekasihmu itu?" "Kekasihku ya kekasihku. Kau mau apa?" Ditanya demikian. Sangaji kelabakan. la mencoba mengalihkan pembicaraan. "Pastilah kekasihmu itu seorang yang hebat. Setidak-tidaknya dia ..." "Dia bukan pemuda lagi. Kau ingin tahu?" Sangaji berbimbang-bimbang. Mau ia menyahut, tiba-tiba Fatimah berkata lagi. "Seorang laki-laki yang dikerumuni perem-puan banyak, bukankah seorang raja?" "Raja?" Sangaji terbelalak. "Apakah dia se-orang raja? Raja apa?" "Raja ya raja." "Eh..., maksudku dia bertahta di mana?" "Kau ini usilan seperti perempuan," damprat Fatimah "Apakah seorang raja mesti membutuhkan tahta kerajaan? Idih!" Sangaji kian terheran-heran. Hatinya lantas sibuk menebak-nebak. "Otakku memang tumpul. Aku tak mengerti maksudmu." "Siapa bilang kau punya otak? Bukankah semenjak dahulu aku memanggilmu si tolol?" Fatimah menyengir. "Baiklah. Kau bawalah dahulu kawanmu yang galak itu kepadaku. Nanti kuperkenalkan siapakah kekasihku. Kau bisa tidak membawa kawanmu yang galak itu kepadaku?" "Tentu. Mengapa tidak?" "Baik. Kutunggu engkau di padepokan Gunung Damar. Kakakku sudah pulang. Dia baru saja sembuh. Tenaganya belum pulih benar, Ia butuh rawatan. Aku tahu kakakku adalah gurumu. Karena itu sebenarnya kau harus memanggilku bibi." Dahulu Titisari dipaksanya memanggilnya bibi. Itupun sebenarnya suatu sendau-gurau. Tak tahunya, kalau dihubungkan dengan kedudukan Sangaji, benar juga. Maka Sangaji lalu membungkuk sambil berkata, "Baik Bibi. Hatiku kini menjadi tenteram." Hatinya memang benar-benar menjadi ten-tram. Dalam pada itu, Fatimah girang bukan kepalang, Ia tertawa penuh kemenangan. Di luar dugaan ia melompat maju sambil menjewer kuping Sangaji. Katanya, "Nah sekarang berangkatlah! Bawalah kawanmu yang galak itu kepadaku! Kalau kau sampai menyia-nyia-kan, aku akan membencimu tujuh turunan." Entah apa sebabnya, tiba-tiba seleret cahaya berkelebat dalam benak Sangaji. Ia seperti memperoleh semangat hidupnya kem-bali. Dadanya jadi lapang dan suatu rasa bahagia merayap hangat ke seluruh tubuhnya. Fatimah sendiri lantas membalikkan tubuh. Dengan acuh tak acuh ia berjalan mengarah padepokan, la tak peduli kepada segala, se-olah-olah seorang dewi dari jagat lain yang tak mempunyai sangkut-paut dengan persoalan dunia. Ia berjalan menyusur pematang, memetik setangkai padi atau menguber-uber kupu. Penglihatan ini menggugah lubuk hati Sangaji untuk cepat-cepat berangkat ke Jakarta. "Dia berkata aku harus membawa Titisari kepadanya." Katanya kepada diri sendiri. "...Kalau ini terjadi, alangkah senang. Biarlah aku ke Jakarta menemui Ibu. Ibu akan kubu-juk agar mau pulang ke kampung. Kemudian aku akan minta izin Sonny, mencari Titisari. Mustahil Sonny tak mengizinkan." Dalam hati anak muda itu, masih saja ia menganggap Sonny sebagai kawan. Karena itu hatinya kini jadi riang. Segera ia melompat ke punggung Willem dan membedalkan ) kuda itu ke arah barat. Willem seekor kuda jempolan. Tanpa me-ngenal lelah ia berlari secepat angin melintasi kali dan desa-desa. Belum lagi matahari tenggelam di barat, desa Karangtinalang telah nampak di depan. Itulah desa, di mana majikannya dilahirkan. Dusun yang merubah jalan hidup. Sangaji singgah sebentar di kampung hala-mannya. Ia berjalan mengitari halaman. Teringat akan tombak berkarat, hatinya di-amuk kembali oleh gelombang perasaan yang tergetar tak menentu. Takut akan berlarut-larut, cepat ia meneruskan perjalanan. Deru hatinya hendak segera berjumpa dengan ibunya kian keras dan menyala-nyala. Pada hari ketiga, samar-samar ia melihat gua tempat pertemuannya yang pertama kali dengan gurunya Gagak Seta. Mendadak ia seperti melihat berkelebatnya bayangan. Waktu itu, matahari telah semu. Suasana jagad hanya remang-remang. Namun hal itu tiada merupakan perintang yang berarti bagi ketajaman inderanya. Perawakannya seperti Titisari. Apakah benar dia berada dalam gua? Pikirnya dengan dada sesak. Terus saja ia menyemplak kudanya. Tetapi tatkala tiba di depan gua, keadaannya sunyi sepi. Cepat ia turun dari kudanya dan memasuki gua. Hidungnya mencium angus perdiangan. Karena itu tak ragu-ragu ia melesat ke luar dan terus berdiri di ketinggian. Namun ke mana penglihatannya tiba, tiada tanda-tandanya pernah diinjak manusia. "Masakan aku bisa salah?" ia tercengang-cengang. Dengan bersungut-sungut ia kembali ke gua. Terang sekali di dalamnya terdapat bekas api perdiangan. Meskipun apinya sudah padam, namun angusnya masih menyebar suatu bau hangus. Malam itu ia bermalam di dalam gua. Teringat kepada pertemuannya dengan Gagak Seta, teringat pulalah ia kepada Titisari. Gadis itulah yang besar sumbangannya membentuk dirinya menjadi manusia lain. Kalau saja tiada Titisari, masakan Gagak Seta sudi berkenalan dengan dia. Ia bergelisah bukan kepalang. Sampai larut malam ia diombang-ambingkan oleh angan-angannya sendiri. Mendekati fajar hari tak terasa ia tertidur. Dan angan-angan yang mempunyai pengucapannya sendiri, lalu mereka-reka dalam benak anak muda itu. Titisari nampak kembali menjenguk gua. Seperti biasanya, Titisari seorang gadis lincah, nakal dan setengah liar. Ia gemar menggoda. Demikian pulalah kali ini. Dengan berjingkit-jingkit, ia menghampiri Sangaji dan menyelimutinya dengan cinta kasih penuh. "Kau bilanglah kepada Sonny, bahwa engkau lebih kasih padaku," bisiknya. "Bukankah semuanya ini terletak kepada keputusanmu? Kalau kau takut kepada ayah-nya... kalau kau takut kepada pembicaraan orang, mari kita mencari tempat lain! Masakan jagat ini hanya sebesar telapak tanganmu?" Geragapan Sangaji terbangun. Di atas dadanya terasa ada lengan bergerak menyusur. Cepat ia hendak menangkap. Tetapi lengan itu segera lenyap, ternyata lengan itu seekor ular sawah. Dia termasuk ular yang tak berbisa. Kalau tidak tak mungkin binatang itu bisa mendekati tubuh Sangaji yang penuh dengan getaran tenaga sakti getah Dewadaru. Menjelang terbitnya matahari, Sangaji meneruskan perjalanannya kembali. Di sepanjang jalan ia menebarkan penglihatannya. Namun Titisari yang selalu memenuhi benaknya, tiada nampak batang hidungnya. Bayangannyapun tiada. Ia lesu dengan sendirinya. Tujuh hari kemudian sampailah dia di per-batasan Kasultanan Cirebon. Waktu itu mata-hari hampir tenggelam di balik gunung. Burung-burung mulai mengungsi di rimbun mahkota daun. Udara kelihatan bersungut-sungut. Awan hitam berarak-arak di sepanjang pantai. Itulah sebabnya pula, angin laut mengamuk dengan kuatnya. Penduduk di seberang-menyeberang jalan bersikap dingin terhadap segala. Melihat orang berkuda, tidak menarik perhatiannya. Hal itu ada sebabnya. Kasultanan Cirebon merupakan daerah lalu lintas kompeni. Sangaji membiarkan Willem berjalan seenaknya. Dia sendiri nampak lesu. Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mende-ngar bunyi tertawa. Ia terperanjat. Itulah bunyi suara yang sangat dikenalnya. Terus saja ia membedalkan kudanya. Mau ia memanggil namanya, tapi segera dibatalkan. Sebab tak jauh dari padanya, nampak suatu pertarungan adu mulut. "Itulah Titisari. Benarkah dia di sini?" Sangaji setengah percaya. Ia mengucek-ucek matanya. Dan kali ini dia tak bersangsi lagi. Benar-benar Titisari! Gadis yang selamanya merumun dalam ingatannya. Titisari dikepung enam orang laki-laki, Manyarsewu, Cocak Hijau, Abdulrasim, Sawungrana, Wongso Gdel dan Munding Kelana pendekar dari Inderamayu. "Kami ini bukannya sebangsa pendekar yang tak tahu aturan, Nona." Teriak Cocak Hijau nyaring. "Tetapi engkau keterlaluan. Kenapa mengacau keadaan kami? Kau meng-adu domba antara kami dan pihak pendekar Kebo Bangah. Kenapa engkau begitu jahat?" "Siapa jahat? Aku atau kamu?" potong Titisari. "Aku bilang, Dewaresi memang dibunuh Sanjaya. Apakah salahku?" "Justru itulah engkau membuat onar. Kau mengoceh tak keruan tanpa bukti." "Siapa bilang tanpa bukti? Ha, suruhlah Pangeran Bumi Gede menghadap padaku! Aku tanggung dia bakal puas." "Jadi Nona bisa membuktikan?" Cocak Hijau menyabarkan diri. "Kalau begitu marilah ikut kami." Tetapi Titisari tertawa nakal. Menjawab tajam, "Yang butuh bukti, aku atau dia?" Cocak Hijau menggeram. Habis kesabaran-nya. Meledak, "Pangeran Bumi Gede bukart budak!" "Bagus! Dan bilang padanya, Titisari bukan pula seorang budak." Cocak Hijau adalah seorang pendekar bera-ngasan. Terus ia merabu sambil membentak. "Kalau begitu, aku terpaksa menghajarmu." "Hm. Kau bisa mengapakan aku?" Titisari tertawa. Titisari sekarang bukan Titisari satu tahun yang lalu yang dahulu bisa dikerubut dan dipermainkan di serambi Kadipaten Pekalongan. Berkat bantuan tenaga sakti Sangaji di dalam benteng batu, tenaganya kini melebihi tenaga sang Dewaresi. Kecuali itu ilmu Ratna Dumilah dan ilmu-ilmu sakti lain-nya warisan Gagak Seta, sudah dipahami. Kalau hanya dikerubut enam orang, kesang-gupannya masih berada di atasnya. Itulah sebabnya Sangaji tak perlu mengkhawatirkan. Tenang-tenang ia turun dari kudanya dan datang menghampiri dengan diam-diam. Dalam pada itu, Cocak Hijau telah menum-buk batu. Begitu dia merabu, Titisari mengelak dengan gampang. Tahu-tahu suatu pukulan menghantamnya telak, la kena dijungkir balikkan dalam satu gebrakan saja. Sudah barang tentu kawan-kawannya kaget. Serentak mereka mengepung dan menyerang berbareng. Dengan lincah Titisari berkelit. Tangan kirinya menyambar. Terus mereka menyerang dari arah bertentangan. Masing-masing kebagian gaplokan pulang balik. "Apa kubilang? Kalian bisa mengapakan aku?" katanya nakal sambil tersenyum. "Kalian tahu, jurus apa tadi namanya? Itulah jurus menghalau gerombolan anjing buduk." Keruan saja mereka berkaok-kaok men-dongkol. Maklumlah, mereka betapapun ter-golong pendekar undangan Pangeran Bumi Gede yang biasa malang-melintang tanpa tandingan. Kini menghadapi seorang gadis saja, mereka tiada guna lagi. Sangaji tersenyum geli mendengar ujar Titisari. Pikirnya, Titisari masih saja nakal. Dalam selintasan saja, pemuda itu bisa menebak sebagian peristiwa itu. Agaknya Titisari sengaja menyebarkan berita kematian sang Dewaresi. Teranglah maksudnya. Ia hen-dak menggiring Kebo Bangah kepada Pange-ran Bumi Gede. Inilah bahaya bagi masing-masing pihak. Mereka diancam suatu perpecahan hebat. Kalau saja sampai bertarung kedua-duanya bisa mati. Paling tidak, Pangeran Bumi Gede akan kena dicekuk Kebo Bangah. Bukankah hal itu berarti menolong anak muda itu menuntut dengan kematian ayahnya. Memperoleh pikiran, demikian, Sangaji jadi terharu. Kembali ia berpikir, benar-benar Titisari selalu memikirkan kepentinganku. Meskipun berpisah, ingatan-nya selalu kepadaku. Semua dikerjakan demi untukku semata.... Tatkala itu, Manyarsewu kena gaplok kem-bali. Ia terhuyung tiga langkah. Belum lagi ia berdiri tegak, Titisari melemparkan pendekar Abdulrasim. Yang lain-lainnya kena dijungkir balikkan dan jatuh bergedebrukan saling tindih. "Manusia-manusia macam begini, masakan mampu melindungi Sanjaya terhadap pen-dekar Kebo Bangah," Titisari berkata nyaring. "Mestinya kamu harus tahu diri. Dewaresi bukan nyawa murahan. Pamannya pasti akan menuntut dendam." Belum lagi lenyap suara Titisari, mendadak saja terdengar suatu bentakan. "Kenapa Dewaresi? Kenapa Dewaresi?" Suatu bayangan berkelebat memasuki ge-langgang, dan terus berdiri tegak menghadap Titisari. Itulah pendekar Kebo Bangah. Tatkala itu, sinar bulan mulai meraba persada bumi. Meskipun masih remang-remang, wajah Kebo Bangah yang keruh dan kacau nampak de-ngan jelas. Ia berdiri dengan pandang kebi-ngungan. Pandang matanya selalu berteka-teki. Dahinya berkerut-kerut seolah-olah menghadapi masalah berat yang berkerumun tiada hentinya. Pendekar besar itu bukan lagi seperti dahu-lu. Akibat pukulan sakti Sangaji, urat syarafnya tergetar tak karuan. Meskipun tenaga saktinya kini berlipat ganda oleh suatu perkembangan ajaib, namun dia tak dapat menggunakan kewarasan otaknya. Yang selalu melekat dalam ingatannya, hanyalah kesan sebelumnya dan sesudah bertanding melawan Sangaji. Yakni, pusaka Bende Mataram dan sang Dewaresi. Itulah sebabnya setelah turun gunung ia berkelana tak tentu tujuannya dengan membawa dua kesan yang selalu memburunya. Yang pertama, kesan yang menakutkan. Dan yang kedua, suatu kesan yang mengungkapkan rasa cinta-kasih tak ter-hingga. Ia menjenguk benteng tua, medan pertempuran, pesanggrahan-pesanggrahan dan semua kota yang pernah dimasuki sang Dewaresi. Dan menjelang petang hari itu, sampailah dia di batas kota Cirebon. Titisari tak menduga jelek padanya, la tak tahu perubahan mendasar yang terjadi dalam diri pendekar besar itu. Seperti biasanya ia senang mengumbar adatnya sendiri. Begitu melihat Kebo Bangah berada di depannya, terus saja ia memperoleh bahan berharga untuk memuaskan hatinya. "Paman Kebo Bangah!" serunya melengking. "Kau mencari Dewaresi? Tanyalah mereka!" "Kenapa aku harus bertanya kepada mere-ka-mereka?" Kebo Bangah bingung. "Aku bilang, tanyalah mereka. Kau dengar tidak?" Keruan saja para pendekar yang baru saja tertatih-tatih bangun, mencelos hatinya begitu mendengar anjuran Titisari. Mereka semua tahu, otak Kebo Bangah tak sewaras dahulu. Kecuali itu, kesaktiannya tak terlawan lagi. Celakanya pula, mereka habis kena gempur Titisari. Tulang belulangnya terasa nyeri luar biasa. "Di mana Dewaresi? Aku disuruh bertanya kepada kalian," Kebo Bangah menghampiri. Seolah-olah saling berjanji, mereka men-jawab serentak. "Perkara pembunuhan itu, kami tak turut campur. Tanyalah dia! Dia yang tahu segalanya!" Mendengar jawaban itu, Kebo Bangah berdiri termangu-mangu. Kemudian menoleh kepada Titisari sambil berkata bingung. "Hai! Kenapa aku harus bertanya kepadamu?" Betapapun juga, Titisari adalah seorang gadis yang memiliki otak cemerlang pada zaman itu. Begitu melihat keadaan Kebo Bangah, sudahlah dapat ia menebak delapan bagian. Hanya saja dia tak sampai mengira, bahwa Kebo Bangah tak waras otaknya. "Kebo Bangah! Kau mau bertanya apa padaku?" Kebo Bangah mengerenyitkan dahi. Lalu menyahut, "Mereka menyuruh aku bertanya padamu mana Dewaresi? Mereka bilang perkara pembunuhan. Apakah engkau mem-bunuh Dewaresi?" Titisari tertawa nakal! Sifatnya yang senang menggoda, lantas saja timbul dengan men-dadak. Berkata, "Siapa suruh dia sok gagah. Apakah kalau sudah menerima warisanmu, dia bisa malang-melintang seenaknya sendiri? Hm... mana bisa? Di sini masih ada Gagak Seta dan muridnya." "Apa kau bilang? Jadi engkau membunuh anakku?" Kebo Bangah meledak. Titisari tertawa senang. Terhadap Kebo Bangah, memang dia tak begitu senang. Dahulu pendekar itu, hampir saja memaksa dirinya menerima lamaran sang Dewaresi. Sekarang ia melihat, pendekar itu sedang kacau pikirannya, la menduga, pendekar itu jatuh bangkrut melawan kegagahan pasukan kasultanan. Dan inilah suatu kesempatan baik untuk membalas rasa sebalnya dahulu. Berkata nyaring, "Salahmu sendiri, kenapa kau ikut-ikutan berpijak pada Pangeran Bumi Gede. Rasakan kini akibatnya. Majikanmu kena digempur pasukan Ontowiryo. Kau bisa apa?" "Hai, mana Dewaresi?" Kebo Bangah se-olah-olah tak mendengarkan kata-kata Titisari. "Kaukah yang membunuh?" Kembali lagi Titisari tertawa senang. Menyahut, "Kalau benar aku yang membunuh, kau bisa apa?" Mendengar ucapan Titisari, Kebo Bangah menggerung hebat. Tiba-tiba ia melompat dan kedua tangannya menerkam dada. Titisari masih saja tertawa hahahihi. Sama sekali ia tak memedulikan ancaman Kebo Bangah. Dalam hati ia akan mencoba menge-lak cepat atau mencoba-coba menangkis. Pikirnya, aku telah paham ilmu petak Paman Gagak Seta dan sedikit mewarisi tenaga sakti Sangaji. Masakan aku tak mampu mengelak atau menangkis. Akan tetapi baru saja dia berpikir demikian, mendadak terdengar suara kaget. "Titisari! Minggir!" Itulah suara peringatan Sangaji. Suara yang dia kenal yang selalu dirindukan. Dan berbareng dengan ingatannya itu, ia mendengar kesiur angin pukulan Kebo Bangah yang dahsyat luar biasa. Dan pada saat itu juga dari sisinya melesat pula suatu angin gempuran' yang memapak pukulan Kebo Bangah. Segera sadarlah dia, bahwa Sangaji hendak menolong dirinya. Dan pada saat ia hendak melompat menghindari, pukulan Kebo Bangah telah menghantam pundaknya. Untung, meskipun agak kasep, tangkisan Sangaji masih bisa memencengkan dan mengurangi tenaga pukulan Kebo Bangah. Benturan tenaga dahsyat itu mengguncangkan keseimbangan tubuh Titisari. Gadis itu kena terdorong mundur. Belum lagi ia tahu apa yang akan dilakukan, tiba-tiba jatuhlah dia tak sadarkan diri. Kebo Bangah kaget kena tangkisan itu. Walaupun otaknya tak waras, tetapi ingatan-nya seperti mengingatkan sesuatu. Terus saja ia menjerit dan lari jungkir balik tak keruan jun-trungnya. Sangaji tak memedulikan Kebo Bangah lagi. Segera ia melompat menghampiri Titisari. Ke-mudian menyambar tubuhnya dan dibawa lari melompati punggung Willem. Kuda jempolan itu lantas saja melesat secepat kilat. Ia seperti tahu, majikannya memperoleh kesukaran. Sangaji terus memapah Titisari sambil mengurut-urut dadanya. Ia membiarkan kudanya lari semaunya sendiri. Tatkala menoleh ke belakang, pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede nampak berjalan perlahan-lahan mengarah ke timur. Mereka semua kenal kegagahan Sangaji. Untuk melawan mereka merasa diri tak mampu. "Titisari, Titisari!" Sangaji memanggil-mang-gil dengan hati cemas. Tetapi gadis itu tak berkutik. Karena itu, hati Sangaji bertambah cemas. Ia meraba hidungnya, jalan napasnya terasa lemah. Meskipun demikian, pemuda itu seperti memperoleh harapan tak ternilai har-ganya. Cepat ia menarik kendali Willem, kemudian turun ke tanah. "Titisari diletakkan di atas pangkuannya. Lalu ia menyalurkan tenaga saktinya lewat nadi. Sebentar saja, Titisari memperoleh kesadarannya kembali. "Titisari! Bagian mana yang terasa sakit?" Sangaji bertanya dengan penuh perhatian. "Bagian mana yang sakit?" Titisari meng-ulang perlahan. "Cobalah terka! Bukankah engkau sudah menjadi orang luar biasa? Ayahku sendiri segan padamu." Mendengar jawaban Titisari, Sangaji ter-henyak. Berkata, "Kau maksudkan aku..." "Cobalah terka!" potong Titisari manis. Mendengar bunyi suara Titisari yang manis, pemuda itu seperti terhibur hatinya. Menyahut, "Kau tadi kena pukulan langsung. Kukira pundakmu yang sakit." Titisari menggelengkan kepala. Matanya bersinar-sinar menatap pemuda itu. "Apakah lenganmu?" Sangaji menebak. Kembali lagi Titisari menggelengkan kepala. "Apakah urat syarafmu tergetar akibat ban-tuan tenaga?" Sangaji mencoba. Untuk ketiga kalinya, Titisari mengge-lengkan kepalanya. Dan melihat gelengan kepala itu, Sangaji menarik napas. Berkata seperti menyerah. "Titisari! Aku memang tolol! Jangan lagi aku mengerti keadaanmu, apa yang telah dan akan kuperbuat sendiri, aku tak mengerti." "Justru karena engkau tolol itulah aku senang padamu" potong Titisari. Bukan main girangnya pemuda itu mende-ngar bunyi perkataan Titisari. Dasar ia tak pandai berbicara, ia jadi bungkam seribu bahasa. "Hai, tolol!! Mengapa engkau berdiam diri?" tegur Titisari. "Bukankah engkau harus bisa menebak rasa sakitku? Kalau tidak, jangan harap engkau bisa menyembuhkan aku." "Katakanlah! Kau tahu, aku ini seorang tolol!" "Hm, apakah pukulan Kebo Bangah terlalu hebat?" "Semenjak ia berubah ingatan, tenaga sak-tinya berlipat ganda. Paman Gagak Seta sendiri hampir tak mampu menangkis pukul-annya." "Berubah ingatan?" Titisari tak mengerti mengerenyitkan dahi. Kemudian meneruskan dengan yakin. "Biarkan dia memiliki tenaga dahsyat, ia tak bakal menang melawan tenagamu. Buktinya, mana dia sekarang?" "Tetapi... tadi aku nyaris kasep memapak pukulannya." "Justru begitu, aku jadi teringat siapa yang melukai aku." "Siapa?" "Engkau," sahut Titisari cepat. "Aku?" Sangaji tercengang-cengang. Secara wajar, ia segera mengingat-ingat benturan tenaga tadi. Memang benar, ia hanya mampu mengirimkan tenaga dua bagian karena arus pukulan Kebo Bangah teraling tubuh Titisari. Meskipun kasep datangnya, tetapi tenaga pukulan Kebo Bangah bisa dikurangi. Karena itu tak mungkin, Titisari jatuh tak sadarkan diri karena pukulannya. Tetapi tatkala ia hendak membantah tiba-tiba, Titisari berkata: "Memang engkaulah yang memukul aku. Pukulan Kebo Bangah bisa mengapakan aku? Paling-paling hanya meremukkan tulang-tulangku. Tetapi pukulanmu, benar-benar meresap sampai ke ulu hati. Kalau saja engkau mau menggendongku selama hidupmu, aku akan sembuh dengan sendirinya." Mendengar ucapan Titisari, bukan main ter-haru hati Sangaji. Terus saja ia mendekapnya dan hampir menciumnya. "Kau ingin kugendong selama aku masih hidup? Baiklah aku akan menggendongmu selama hayatku masih di kandung, badan," bisik Sangaji. "Aji!" bisik Titisari dengan suara parau. "Kau tahu... selama itu aku selalu memikirkan dirimu. Kalau aku mimpi, engkaulah yang selalu memenuhi benakku. Kukunjungi rumah orang tuamu. Kujenguk gua pertemuan kita dengan Paman Gagak Seta dahulu. Kususuri jalan yang pernah kita lalui dahulu..." "Jadi... jadi... engkaukah dahulu, yang berkelebat ke luar gua?" Titisari mengangguk lemah. "Mengapa engkau tak mau menemui aku?" Sangaji menegas. Titisari merapatkan matanya. Wajahnya jadi pucat. Dan ia kehi-langan kesadarannya sendiri. "Titisari Titisari!" Sangaji cemas. Dengan penuh rasa terharu, ia segera menyalurkan tenaga saktinya. Kemudian dengan perlahan-lahan ia mencari rumah penginapan. Dua hari dua malam, Sangaji merawat luka Titisari. Dan selama itu Titisari terus berbicara tak berkeputusan. Pada hari ketiga, ia berbelanja ke pasar. Membeli dua ekor ayam dan sepuluh butir telur. "Kau masih perlu beristirahat. Biarlah aku makan di luar," sanggah Sangaji. "Aku hendak memasak untukmu. Apakah kau tak sudi lagi makan masakanku?" sahut Titisari. "Tentu saja aku akan selalu senang makan masakanmu. Tetapi pada saat ini engkau perlu merawat dirimu. Kalau kau sudah sehat kembali, aku bahkan akan ikut membantu membumbui masakanmu." "Hm, Kau bisa apa? Lagi pula, kalau menunggu sampai aku sembuh kembali... barangkali kau sudah..." dan sehabis berkata demikian terus saja ia memasuki dapur pengi-napan. Sangaji tak kuasa menyanggahnya lagi. Terpaksalah dia duduk seorang diri di dalam kamarnya. Di luar dugaan, Titisari datang kembali. Dengan berdiam diri ia duduk di samping Sangaji. Kemudian berbaring di atas pembaringan. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ia tertidur sampai matahari lewat atap rumah. Seorang pelayan datang menghampiri Sangaji dan memberi tahu bahwa makan siang sudah tersedia lengkap. Sangaji segera membangunkan Titisari. "Kau mau mengajak aku makan?" Titisari tertawa riang. "... Kau tadi bilang akan makan di luar. Mari kita mencari suatu rumah makan besar yang kaya masakannya." Tanpa membantah Sangaji menuruti perin-tahnya. Pikir anak muda itu, tadi pagi dia ingin memasakkan sesuatu untukku. Aku menolaknya. Dan ia lantas tidur. Kini ia mengajak aku makan di luar. Rupanya ia selalu berusaha mengiringkan kehendakku. Baiklah mulai saat ini aku takkan menghalang-halangi semua perbuatannya. Mereka memasuki pasar dan terus menuju ke utara. Di kejauhan nampaklah sebuah rumah makan besar yang cukup mentereng. Itulah rumah makan besar "Nanking" tempat pertemuannya yang pertama kali. "Mari kita mengambil jalan lewat pagar samping," kata Titisari. Tanpa menunggu jawaban, gadis itu terus meloncati pagar. Sangaji tak mengerti maksudnya tetapi ia menurut. Setelah tiba di pekarangan, Titisari langsung memasuki ruang dalam. Ternyata ruang itu penuh dengan manusia. Sekarang tahulah Sangaji apa sebab Titisari mengajak lewat pagar. Rupanya pemilik rumah makan sedang mengadakan suatu pesta, sehingga hari itu menutup rumah makannya. "Semua minggir!" berkata Titisari sambil tertawa. Ia maju ke depan. Semua orang yang mengunjungi pesta, kaget berbareng heran. Mereka semua berjumlah empat lima puluh orang, terbagi dalam tiga bagian. Mereka saling memandang. Mau mereka menyangka sedang ketamuan se-orang gila. Tetapi melihat kecantikan Titisari mereka jadi bersangsi. Titisari tak memedulikan pandang mereka. Ia menghampiri seorang tetamu yang sedang berdiri hendak berpidato. Tanpa tahu apa kesalahannya, ia kena dijambret Titisari. Terus diangkat dan dibanting ke lantai. Keruan saja ia berkaok-kaok kesakitan. Tamu-tamu lainnya jadi sibuk menebak-nebak. "Aku bilang, kalian harus minggir! Mengapa kalian tak menghiraukan?" Sudah barang tentu ruang pesta jadi kacau-balau. Tuan rumah yang bertanggung jawab kepada keselamatan tamunya, lantas saja berteriak. "Panggil polisi! Panggil polisi!" Tak lama kemudian terdengarlah suara se-patu berderapan. Empat orang anggota polisi datang dengan diiringkan dua belas tukang pukul. Mereka bersenjata lengkap. Titisari tak mengenal takut. Bahkan ia menyambut mereka dengan tertawa. Baru saja salah seorang anggota polisi hendak membuka mulut, gadis itu sudah melesat dari tempatnya. Tahu-tahu enam belas orang itu kena bagian gaplokan pulang balik. Senjata mereka kena dirampasnya dengan gampang dan dilontarkan ke atap. Tuan rumah ketakutan setengah mati. Segera ia hendak lari, tetapi Titisari sudah berhasil mencekuknya. Dengan pandang berapi-api, gadis itu mengancamkan goloknya. Karena takutnya, tuan rumah sampai jatuh berlutut sambil berbicara lancar. "Nona... eh, Nona besar... apakah Nona besar menghendaki uang? Sabarlah aku akan menyediakan, asal saja Nona besar mengam-puni diriku..." "Siapa menghendaki uangmu?" bentak Titisari dengan tertawa. "Aku hanya menginginkan engkau menemani kami makan dan minum." Mendengar jawaban Titisari, tuan rumah sampai tak mau mempercayai pendengaran-nya sendiri. "Nona besar..." "Mari duduk!" Titisari memotong. Terus saja ia menarik tuan rumah duduk di belakang meja sambil memberi isyarat kepada Sangaji agar duduk pula di sampingnya. "Kalianpun duduk dengan baik-baik!" perin-tah Titisari kepada para tamu dan empat anggota polisi bersama dua belas tukang pukul. "Hai! Kenapa tak mau duduk?" Kena bentakan itu, mereka cepat-cepat duduk. Karena gugup dan ketakutan mereka jadi berdesak-desakan sehingga empat lima kursi jatuh terbalik-balik. "Kamu semua bukankah manusia-manusia kenal kesopanan? Mengapa duduk tak keruan sehingga saling berjubel seperti lalat?" tegur Titisari tajam. Dan kembali mereka saling mendorong hendak mencari tempat serapi mungkin. Dan sejenak kemudian mereka telah duduk dengan tenang dan rapi. Hanya saja mereka tak berani berkutik seperti orang hukuman. Titisari tak memedulikan mereka. Dengan lahap, ia menggerumuti semua masakan dan menenggak habis hampir semua macam minuman yang berada di atas meja. Sangaji sendiri sudah berjanji pada dirinya sendiri, takkan mencegah atau membantah kehendak Titisari. Ia segera pula mengiringkan semua perbuatan kekasihnya. "Sebenarnya untuk apa kau mengadakan pesta ini" tiba-tiba Titisari bertanya kepada tuan rumah. Lambat laun tuan rumah tidak begitu ketakutan lagi menghadapi Titisari. Dengan hati-hati ia menjawab, "Sebenarnya aku lagi mengawinkan anakku." "Ah, bagus! Mana pengantinnya? Coba, suruhlah ke luar! Aku ingin melihat mereka." "Anakku yang perempuan. Baru saja dia berganti pakaian," kata tuan rumah gugup. "Kau bilang apa? Aku perintahkan dia ke-luar, mengapa sibuk tak keruan?" bentak Titi-sari sambil menancapkan belatinya di atas meja. Melihat berkelebatnya belati, tuan rumah kaget. Dengan terpaksa ia menyuruh memanggilkan anaknya. Dan tak lama kemu-dian keluarlah pengantin perempuan dengan pakaian tidur yang belum teratur rapih. "Eh... masakan belum lagi petang hari, su-dah mengenakan pakaian tidur?" tegur Titisari. "Karena gugup, ia mengenakan pakaian sekenanya saja. Harap dimaafkan," sahut yang disuruh memanggil pengantin perem-puan. Titisari menghampiri pengantin perempuan yang berdiri gemetaran. Kemudian menoleh kepada tuan rumah seraya berkata, "Anakmu cantik dan cukup molek. Mengapa ayahnya seperti babi? Barangkali ini bukan anakmu." Mendegnar ujar Titisari, tuan rumah jadi tersipu-sipu. Namun karena takut, ia tak berani membantah. Dasar ia gemuk tak ubah seekor babi. Sebaliknya tamu-tamu lainnya merasa geli menyaksikan peristiwa itu. Hanya saja mereka tak berani tertawa. Titisari melepaskan cincin berliannya, lalu diangsurkan kepada pengantin perempuan. "Kau pakailah cincinku ini sebagai suatu kenang-kenangan. Dan semenjak hari ini, sebutlah aku sebagai nenekmu!" Yang mendengar jadi heran dan sibuk menebak-nebak lagi. Tetapi Titisari tak memedulikan, la menuang sebotol minuman keras ke dalam mangkok. Diangsurkan mangkok itu kepada tuan rumah. Berkata memaksa, "Anakmu jadi pengantin. Nah, hor-matilah dia dengan satu mangkok minuman ini!" "Tapi... tapi... aku tak begitu kuat minum," tuan rumah khawatir. "Eh! Kau ini banyak mulut. Kau minum, tidak?" bentak Titisari garang. Dengan gemetaran terpaksalah tuan rumah menghabiskan minuman itu. Mukanya jadi merah pengap, namun ia tak berani menge-luarkan perkataan satu patahpun. Sampai hampir menjelang petang hari Titisari berada dalam pesta itu. Tuan rumah sudah tak keruan macamnya, la jatuh terje-rambap di atas lantai, karena terlalu mabuk. Sedangkan tamu-tamu lainnya meringkuk bagaikan tawanan. Setelah pulang di penginapan, Titisari minta pendapat Sangaji katanya nakal. "Aji! Bagus tidak permainanku tadi?" "Kau membuat orang takut. Pesta yang mestinya riang gembira, jadi keruh tak keru-an," sahut Sangaji. "Baiklah. Temani aku nanti menculik pe-ngantin lelakinya sekarang aku ingin melihat pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik." Sangaji segera mengeluarkan dua buah pusaka saktinya. Gadis itu lalu membawanya pergi. Ia mandi di laut dan mengaduk-aduk kedamaian toko-toko yang berada di seberang menyeberang jalan. Kira-kira menjelang pukul sepuluh malam, ia mengembalikan kedua buah pusaka sakti itu. Katanya kemudian, "Mari. Sekarang tiba waktunya menculik pe-ngantin laki-laki." "Hendak kauapakan?" "Dia hendak kucencang di tegalan dahulu sampai esok pagi." "Apa salahnya?" Sangaji heran. "Bukankah engkau sudah cukup membuat hati orang berkebat-kebit?" "Salahnya sendiri, mengapa mereka bisa kawin sebelum aku kawin." Mendengar alasan Titisari, Sangaji bertam-bah heran. Kata-kata itu seperti mengandung suatu maksud besar. Tetapi ia tak sanggup menangkapnya dengan cepat. Dalam pada itu Titisari telah melesat pergi. Terpaksa Sangaji mengikuti dari belakang, dengan berdiam diri. Hati pemuda itu jadi sedih pilu. Pikirnya, masakan Titisari berubah ingatannya? Tak usah menunggu lama, maka Titisari sudah membuktikan ucapannya. Ia menyeret pengantin laki-laki seperti seekor anjing kena jerat. Sepanjang jalan ia mengancam. "Awas! Kau jangan mengeluarkan bunyi apa pun. Kalau kau berani membuka mulut, aku akan mencekikmu. Tahu?" , Tanpa dapat berkutik, pengantin laki-laki yang tak tahu apa dosanya diikat erat-erat di pinggir lapangan. Setelah itu Titisari berkata membujuk, "Kau tak usah takut. Esok pagi, kau bakal dibebaskan orang. Malam harinya kau boleh menemui isterimu. Bukankah belum kasep?" Pengantin laki-laki yang malang itu, manggut-manggut terpaksa. Tapi masih ia berusaha bertanya, "Mengapa besok malam aku baru bisa menemui isteriku?" "Kau ini memang kerbau goblok," bentak Titisari. "Malam ini isterimu akan kucencang juga di tengah pasar. Dia akan kubuat pingsan satu hari penuh. Nah, bukankah itu suatu lelucon bagus?" Sangaji yang berjanji pada dirinya sendiri takkan mencegah semua perbuatan Titisari, akhirnya tak tahan juga. Dengan lembut ia menarik tangannya dan berkata hati-hati. "Titisari! Kau sudah cukup mempermainkan seisi rumah. Apakah engkau belum puas?" "Puas? Mana bisa aku puas. Kau harus selalu menemani aku. Sebab setelah aku sem-buh, kau pasti akan meninggalkan aku untuk menemui bakal isterimu. Dan semenjak itu kau pasti akan selalu menemani Sonny. Aku tak percaya, dia akan mengizinkan engkau menemani aku bermain-main. Bukankah waktunya sangat sempit? Lewat satu hari berarti kurang satu hari. Karena itu aku akan bermain-main berlipat ganda. Agar kegembi-raan satu hari jadi selama dua hari. Kalau empat hari lagi engkau akan meninggalkan aku... aku bakal memperoleh kegembiraan delapan hari. Karena itu, aku akan bermain-main dalam hari cerah dan malam hari. Kau harus menemani aku. Aku tak sudi tidur. Kau mengerti, Aji! Tiap detik sangat besar artinya bagiku. Engkau takkan mence-gah maksudku ini, bukan? Biarlah aku tak beristirahat. Kalau lukaku akan jadi parah, bukankah berarti engkau akan tetap men-dampingi aku?" Bukan main terharu hati Sangaji mendengar ujar Titisari. Sekarang tahulah dia, apa sebab perbuatan Titisari begitu aneh dan luar biasa. Ternyata dalam hati gadis itu, tak mau berpisah dengan dia. Saat perpisahan yang mesti harus terjadi, hendak dipergunakan sebaik mungkin. Dia mau diajak berjaga terus, siang dan malam. Memperoleh pikiran demikian pemuda itu lalu memegang tangan Titisari erat-erat. "Titisari! Otakku memang tumpul. Aku dungu. Goblok dan tolol! Sampai detik ini benar-benar aku belum mengerti maksudmu. Kalau begitu, biarlah aku selalu menemanimu. Aku akan... aku akan... aku akan...." Sangaji tak sanggup meneruskan perkataannya. Hatinya sangat pilu dan terharu, akhirnya ia jadi terdiam dengan tiba-tiba. Tak tahu ia, apa yang hendak dilakukan. Titisari lalu berdiam diri. la memandang Sangaji. Kemudian merenungi. Dan tiba-tiba setitik air mata menggelinding dari kelopak matanya. "Memang akulah anak sial," katanya seje-nak kemudian dengan suara parau. "Dahulu, tatkala ibuku meninggal kata orang ayah sa-ngat membenci diriku. Aku selalu disesalinya. Karena akulah yang dianggap menjadi pem-bunuh ibuku." "Akulah anak celaka dan anak sial yang tak kebagian rejeki." Ia berhenti mengesankan. Meneruskan, "Tatkala aku sudah menjelang dewasa, seringkali aku mendengar Ayah * berdendang dan menangis sendiri. Seringkali pula aku diajak mengenangkan riwayat bunda... dan sudah barang tentu aku tak mengerti... Dan setelah aku benar-benar jadi dewasa, ayah tak mau berpisah dariku meskipun satu langkahpun. Aneh! Hidup ini memang aneh! Dari benci berubah menjadi kasih. Dari riang gembira berubah menjadi berduka cita. Mengapa pula aku harus berpisah darimu, hanya Hidup sendiri yang tahu." Sangaji kian jadi terharu. Sama sekali tak diduganya, bahwa Titisari demikian besar rasa cintanya kepadanya. Diam-diam ia berpikir dalam hati. "Pantaslah, sepak terjangnya luar biasa dalam dua tiga hari ini. Bagaimana kalau dia kutinggalkan? Dalam kesepiannya, pastilah dia akan kembali pulang ke Karimunjawa. Hanya ayahnyalah satu-satunya orang yang bisa menemaninya. Meskipun ayahnya belum tentu mengerti keadaan hatinya, tetapi beta-papun juga dia adalah ayah kandungnya. Tetapi kalau ayahnya meninggal... siapa lagi yang akan menemaninya?" Memperoleh ingatan demikian, Sangaji jadi berkecil hati. Ia dekap tangan Titisari erat-erat. Lalu berkata dengan suara gemetaran. "Titisari... Kalau begitu, walaupun langit • ambruk, aku akan selalu menemuimu di mana saja engkau berada." Titisari nampak gemetaran pula mendengar ucapan Sangaji. Namun ia tak berkata lagi. Ia nampak menundukkan kepala. Pandang matanya meredup. Kemudian berkata hati-hati. "Tetapi bagaimana dengan Sonnymu?" "Aku bertunangan dengan dia, di luar kehendakku. Masakan aku harus merasa selalu berhutang kepadanya?" "Kau maksudkan... tak memedulikan Sonny lagi?" Titisari menegas berbimbang-bimbang. "Aku akan menemanimu selama hidupku," sahut Sangaji tegas. Dan mendengar kete-gasan Sangaji, Titisari tak sanggup lagi me-nguasai diri. Ia lalu memeluk Sangaji dengan girangnya. Sangajipun memeluknya pula. Dan dalam sejenak mereka saling berdiam diri, mendengarkan denyut jantung masing-ma-sing. "Tetapi bagaimana dengan ibumu?" tiba-tiba Titisari bertanya. "Aku akan membawanya pulang ke kam-pung ke Desa Karangtinalang. Kau mau bukan, berdiam di sebuah desa sepi itu?" "Tentu, tentu! Bawalah aku ke ujung dunia dan aku takkan membantah," sahut Titisari cepat bersemangat. "Tetapi guru-gurumu bagaimana?" "Kedua guruku sangat kasih padaku. Mereka akan bisa memaklumi. Apalagi guru kita Gagak Seta dan Eyang Kasan Kesambi. Beliau berdua adalah tokoh besar dalam zamannya ini. Dalam hati mereka, pastilah menginginkan aku menjauhi perkampungan Belanda." Mereka berdua merasa sangat berbahagia. Hati mereka sangat melekat, seolah-olah tiada lagi sesuatu kekuatan di jagat ini yang mampu memisahkannya. Selagi demikian pendengaran Sangaji yang tajam melebihi manusia lumrah, mendengar suatu langkah perlahan lewat dengan cepatnya di seberang lapangan. Titisari melihat berkele-batnya sesosok bayangan. Melihat gerakannya, terang bukan manusia biasa. Mereka berdua lalu mengejar. Bayangan itu berlari-lari menuju ke barat. Mereka mengikuti sampai ke luar batas Kasultanan Cirebon. Lima belas kilometer lagi, tibalah mereka di sebuah desa. Bayangan itu hendak membelok ke tikungan, kemudian berhenti dengan mendadak. Ternyata tak jauh dari desa itu, nampak perkemahan kompeni Belanda yang dijaga sangat rapat. Tatkala bayangan itu melesat ke pinggir jalan, Sangaji dan Titisari telah menghadang di depannya. "Siapa?" Bayangan itu membentak. Mendengar suara bentakan itu, Sangaji tak sangsi lagi. Itulah suara yang sudah lama dikenalnya. Terus ia membungkuk hormat seraya menyahut. "Aki... inilah Sangaji. Dan ini teman ber-jalanku ... eh, ... Titisari dahulu." Titisari membungkuk hormat pula, karena orang itu ternyata Ki Tunjungbiru. "Ah! Mataku memang sudah lamur. Kau baru sampai di sini?" Ki Tunjungbiru keheran-heranan bercampur girang. Seperti diketahui, Ki Tunjungbiru meninggalkan padepokan Gunung Damar tiga bulan yang lalu. Ia mengira, Sangaji segera pula berangkat ke Jakarta mengingat persoalannya dahulu. Tak tahunya, Sangaji baru sampai di Cirebon pada waktu itu. Ia mau menduga, barangkali Sangaji sudah sampai di Jakarta dan hendak balik kembali ke Gunung Damar. Teringat akan perjalanan yang sangat jauh itu ia membatalkan dugaannya sendiri. "Baru dua minggu ini aku meninggalkan padepokan. Apakah Aki sudah sampai di tem-pat tujuan?" "Mari kita berbicara," bisik Ki Tunjungbiru. Dan hati-hati ia membawa Sangaji dan Titisari berlindung di balik rumpun belukar. "Seluruh Jawa Barat kini jadi kancah nera-ka," ia mulai. "Tadinya kita mengira, sesudah VOC bubar negara akan aman. Tak tahunya, kini Kompeni mengarahkan perhatiannya ke Banten. Hubungan Banten dengan pedagang-pedagang Inggris membuat Belanda gelisah. Banten akan ditaklukkan benar-benar. Mana bisa begitu? Meskipun seringkali kita kalah, masakan kita akan membiarkan diri jadi budak Belanda. Tidak! Selama gunung masih tegak berdiri, selama lautan masih mengirimkan debur gelombang, kita akan melawan. Melawan terus! Biar bagaimana akibatnya." "Belanda mau bikin apa?" Sangaji minta keterangan. "Ah, anak tolol!" Ki Tunjungbiru tertawa mendongkol setelah heran sejenak. "Kalau Banten bisa ditaklukkan, seluruh Jawa ini bisa berada dalam genggamannya, dia bisa membuat apa saja sekehendaknya. Kita semua akan dijadikan pekerja rodi! Kita dipaksanya memacul, menebang pohon dan menanam rempah-rempah dan membayar hutang-hutangnya dan memperkaya tuan-tuan besar di seberang lautan. Masakan kau belum bisa berpikir sejauh itu?" "Masakan begitu?" Sangaji masih saja belum mengerti. Ki Tunjungbiru menghela napas. Sambil merenungi wajah Sangaji ia berkata lagi. "Semenjak dahulu aku tahu, kau berhati mulia. Semua orang kau anggap semulia hatimu. Kau terlalu sederhana. Sampai-sam-pai menganggap percaturan dunia ini berjalan menurut bunyi perasaanmu... Baiklah! Pergilah kau ke Jakarta, hidup berkumpul dengan kompeni. Aku akan berada di luar. Pada saat ini, semua orang gagah di seluruh tanah air bangkit mengangkat senjata. Kudengar ada beberapa di antara mereka kena tangkap. Aku akan melihatnya. Dan sekiranya mampu, akan kucoba membebaskan sampai bertemu kembali!" Dan setelah berkata demikian, Ki Tunjungbiru melesat pergi. Heran berbareng kaget Sangaji melihat kepergian Ki Tunjungbiru dengan mendadak. Ia merasa diri seperti kena salah. Maka ia mau mengejarnya, tiba-tiba lengannya kena tarik. Itulah Titisari yang semenjak tadi berdiam diri. "Kau mau ke mana?" tanyanya lembut. "Aku hendak menolong orang-orang gagah yang kena tangkap. Masakan aku tinggal bertopang dagu?" "Hm. Kau dikatakan sebagai anak tolol. Apa perlu mengikuti dia?" Sangaji tak lekas menjawab. Ia seperti lagi sibuk menimbang-nimbang. Sejenak kemudi-an berkata, "Titisari! Otakku memang tumpul. Semua orang berhak memanggil aku si tolol. Apakah bedanya?" "Tapi aku tak mengijinkan," sahut Titisari cepat. Sangaji tertawa meringis. Mencoba meng-ingatkan, "Bukankah engkau memanggilku anak tolol juga?" "Aku boleh memanggilmu sesuka hatiku. Karena engkau adalah milikku." Dalam hal adu mulut, betapa Sangaji bisa menang daripada Titisari. Maka ia mencoba mengalihkan pembicaraan. "Apakah kita menyusul Aki Tunjungbiru?" "Hm. Aku bilang, kau dikatakan sebagai anak tolol. Dan aku betapa bisa rela. Dia mau bermusuhan dengan Belanda, apakah pedulimu?" "Tapi... masakan aku hanya jadi penonton belaka?" Sangaji mencoba memberi kesan. Titisari tertawa perlahan. Alisnya yang lentik menegak. Dan berkata seperti kepada dirinya sendiri. "Eh, semenjak kapan kau berubah ingatan hendak bermusuhan dengan Belanda? Kalau benar-benar demikian, itulah hebat!" "Bermusuhan? Aku tidak bermusuhan. Hanya saja aku takkan membiarkan mereka membuat susah Aki dan orang-orang yang kuhormati dan kukasihi. Siapa yang memusuhi mereka, bukankah berarti musuhku pula?" "Lalu bagaimana dengan Sonny?" "Sonny...? Sonny? ... Itulah lain," Sangaji bergap-gap. "Baiklah. Memang menurut penglihatanmu, Sonny bukan bangsa Belanda. Dia bidadari entah dari kahyangan mana. Hm...." Diingatkan demikian, Sangaji terperanjat. Dan kembali lagi ia merasa diri kena salah. Setelah berdiam sejenak, akhirnya berkata mencoba. "Entahlah... aku memang tolol. Otakku benar-benar dungu." "Nah, kau bilang begitu lagi," Titisari memo-tong sengit. "Hayo... temani saja aku menculik pengan-tin perempuan! Bukankah lebih menggembi-rakan daripada engkau dikatakan sebagai anak tolol tiada guna?" Titisari tak menunggu jawaban. Ia terus melesat pergi memasuki batas kota kembali. Dan sisa malam itu, benar-benar dia memper-oleh kesenangan. Ia jadi mencincang pengan-tin perempuan. Kemudian mengajak Sangaji berbicara dan berbicara. Sangaji sendiri hanya bersikap meladeni. Pikirannya kusut memikirkan kesan perte-muannya dengan Ki Tunjungbiru. Meskipun demikian ia bercemas hati pula memikirkan kesehatan kekasihnya. "Titisari!" akhirnya dia berkata. "Kau sudah bermain-main satu malam suntuk dan sudah banyak berbicara. Sekarang tidurlah untuk beristirahat barang selintasan." "Apakah engkau sudah bosan mende-ngarkan suaraku?" "O, tidak-tidak! Tapi kesehatanmu!" "Hm. Tidur adalah soal gampang. Sebulan dua bulan lagi, bukankah masih ada kesem-patan untuk tidur?" "Apakah engkau akan berjaga terus sampai satu dua bulan?" Sangaji terbelalak. "Aku akan berjaga terus sampai tahun depan. Sampai dunia kiamat. Kenapa?" Titisari menyahut cepat. "Aku lagi bertemu dengan kau. Dan aku tahu, kau bakal pergi. Masakan aku akan tidur? Tidak! Orang dungulah yang akan berbuat begitu. Karena itu aku akan berbicara terus sampai hatiku tak mau berbicara lagi." Sangaji menghela napas. Hatinya lagi-lagi terharu. Berkata penuh iba, "Baiklah. Aku akan menemanimu." Dan benar-benar Titisari tak sudi beristira-hat. Tiga hari tiga malam dia terus bermain-main, berbicara dan bersenda-gurau. Dan pada hari keempat, mendadak kota Cirebon diributkan oleh suatu peristiwa lain. Penduduk kota beramai-ramai membersihkan rumah dan pekarangan. Polisi-polisi kota memerintahkan pula membersihkan jalan de-ngan hardikan-hardikan garang. Titisari yang usilan segera menghampiri seorang pekerja paksa dan bertanya minta keterangan. "Kenapa mesti membersihkan rumah, pekarangan dan jalan? Apakah hari ini ulang tahun Sultan?" "Sultan mana yang kuasa memerintah kami?" sahut orang itu tak senang. "Kalau kau ingin tahu, inilah gara-gara perintah jenderal petak. Kompeni yang dikirim ke Jawa Tengah hendak lewat di sini. Kabarnya Belanda hendak mengadakan pembersihan pula di sini. Kulihat kau bukan penduduk Cirebon. Nah, enyahlah kalau mau selamat!" "Mendongkol hati Titisari mendengar ucap-annya. Tetapi ia melihat orang itu bersungut-sungut. Nampaknya tak senang hati melakukan perintah polisi. Menurut hatinya bukan dia pergi menjauhi, sebaliknya menghampiri seorang agen polisi. Tanpa berkata sepatahpun dia terus menjambretnya. Kemudian membentak, "Kau manusia khianat yang tak kenal malu. Apa hebatnya bisa memaksa orang bekerja demi membuat senang majikanmu. Apakah yang kau ben-tak-bentak bukan bangsamu sendiri?" "Keruan saja rombongan polisi lainnya jadi sibuk. Dengan serentak mereka maju hendak menolong. Tetapi semuanya kena dirobohkan Titisari dengan mudah. Dan orang yang mem-beri keterangan tadi berdiri tegak keheran-he-ranan. Sama sekali tak diduganya, bahwa seorang gadis bisa merobohkan serombongan polisi dengan mudah. "Kau siapa Nona?" dia mencoba bertanya dengan suara nyaring. Titisari masih mendongkol mendengar ucapannya tadi. Maka ia menyahut: "Kalau kau mau selamat, enyahlah dari sini!" Orang itu bertambah ternganga-nganga melihat polisi-polisi jatuh bergelimpangan seperti barang ringsek, ia jadi ketakutan kena salah. Maka diam-diam ia memundurkan diri di belakang kerumunan orang. Pada petang harinya, benar-benar kompeni lewat kota Cirebon. Suara genderang, terompet dan derap kuda berkumandang ke seluruh penjuru. Penduduk kota, laki-laki perempuan, besar kecil berbondong-bondong mencongakkan diri di tepi jalan. Mereka berdesak-desakan, himpit-menghimpit dan merupakan pagar manusia yang tak tertembus oleh penglihatan. Mereka nampak riang-gembira dan bersorak-sorai memuji kegagahan kompeni. Dan mendengar sorak-sorai itu, Titisari jadi uring-uringan. "Masakan penduduk kota ini jadi kambing semua?" katanya mendongkol. "Hm... tidak semua begitu, Nona. Lihat saja! Sebentar lagi bakal ada keramaian," terdengar suatu suara di belakangnya. Titisari menoleh. Ia melihat seorang laki-laki berberewok mengenakan pakaian hitam. Melihat pandang matanya yang tajam, terang dia bukan orang sembarangan. Orang itu membalas pandang Titisari dengan tenang dan berwibawa. Kemudian tersenyum pendek. Berkata, "Keberanianmu tadi siang menjungkir-balikkan serombongan polisi benar-benar mengagumkan kami. Sepak terjang itu sendiri bisa menggugah semangat kami. Karena itu, sebentar lagi akan ada keramaian. Nona mestinya harus melihat tontonan itu." Setelah berkata demikian, orang itu lantas pergi, la beringsut-ingsut dalam kerumunan manusia dan sebentar lagi telah hilang dari pengamatan. "Aji! Kau tahu orang itu?" kata Titisari. "Bagaimana aku tahu?" Sangaji menyahut. "Hm... kau ini benar-benar tolol. Dia bukankah bangsamu juga? Cuma saja, dia emoh hidup bersama bangsa Belanda dalam jagat ini. Kau tahu?" Sangaji melengak. Teringat akan dirinya sendiri yang sedang hendak melakukan per-jalanan ke Jakarta untuk menemui Sonny de Hoop, ia tiba-tiba jadi perasa. Betapa otaknya sederhanapun, akhirnya ia sadar kena sindir Titisari. Keruan saja hatinya jadi sibuk sendiri. Waktu itu di seberang sana terdengar suara genderang raksasa yang ditabuh sangat berisik. Pagar manusia lalu berteriak-teriak, "Sudah datang! Sudah datang!" Yang mendengar teriakan itu, cepat-cepat memanjangkan lehernya. Tak usah menunggu lama maka mereka segera melihat pasukan berseragam berbaris rapi. Rombongan pertama terdiri dari satu kompi berkuda. Seorang serdadu yang kelihatan perkasa, membawa panji-panji kebesaran kompeni. Di sampingnya berkibar pula, bendera kebangsaan Belanda: merah - putih - biru. Kemudian di belakang mereka berbaris satu peleton pasukan genderang yang membunyikan genderangnya masing-masing. Bukan main gemuruhnya. Belum lagi lenyap kehebatan mereka, di-susul pula oleh dua pasukan besar yang terdiri kira-kira 100 orang. Mereka bersenjata lengkap. Sepatu mereka berderap gagah menetaki alas jalan. Yang berada di depan, membawa bendera. Semua berjumlah empat-puluh helai. Dan melihat berkibarnya bendera, pagar manusia lantas saja bersorak-riuh. "Hebat! Kau rasakan tidak, kehebatan mereka?" kata Titisari dengan mendongkol. Sangaji tak menjawab. Kata-kata Titisari tak ubah sebuah belati menikam ulu hatinya. Sekonyong-konyong di tengah keriuhan itu, nampaklah empat orang berkelebat melintasi jalan. Kepala Peleton lantas membentak. "Hai, anjing! Apakah matamu lamur? Minggir!" "Kami bukan anjing, bukan lamur. Kalianlah anjing-anjing yang menggerogoti tulang-tulang kami." Salah seorang dari mereka membalas mem-bentak. "Anjing! Kau bilang apa?" Kepala Peleton itu lalu melompat sambil mencabut pedangnya. Berbareng dengan gerakannya, berkeredeplah sebuah benda. Tahu-tahu sebilah belati menancap di dada Kepala Peleton itu. "Inilah anak Cirebon! Ayo! Serbu!" teriak penyerangnya. Kepala Peleton itu terjungkal di atas jalan. Dan selanjutnya arak-arakan itu jadi kacau balau. Di antara jerit penduduk kota yang berjubel menonton gerakan tentara itu, muncullah beberapa orang bersenjata yang terus menerjang barisan. Ternyata ucapan laki-laki berberewok tadi benar belaka. Tidak semua penduduk kota Cirebon bersemangat kambing. Rata-rata mereka bekas anak buah Mirza pemimpin pembrontak Kasultanan Cirebon yang pernah membuat geger VOC. Mereka golongan pem-berani dan mempunyai semangat tempur yang tinggi. Begitu melihat salah seorang temannya terlibat dalam suatu perkelahian, mereka terus menyerbu berbareng dengan tak memedulikan akibatnya. Keruan saja, kompeni jadi kelabakan. Dengan tergesa-gesa mereka mengisi sena-pannya masing-masing. Tetapi lagi-lagi mere-ka kalah cepat. Beberapa di antara mereka tewas seketika itu juga. Tatkala senapan-senapan mereka mulai bisa ditembakkan, korbannya jatuh pada penduduk kota. Seketika itu juga, ramailah orang berde-sakan mencari selamat. Kanak-kanak banyak yang mati terinjak-injak. Jerit ketakutan dan rintih kesakitan berbauran di segala penjuru. Titisari yang masih tebal rasa kekanak-kanakannya, tak mengenal takut menyaksikan peristiwa itu. Dia bahkan menemukan suatu kegembiraan lain lagi. Dengan menerkam lengan Sangaji, dia berkata nyaring: "Aji! Kau dulu pernah bertempur melawan pasukan Belanda di kubang batu. Apakah kau kini masih berani memperlihatkan taringmu? Hayo, pungutlah beberapa butir batu. Tahu-tahu berkedeplah sebuah belati terus menancap di dada kepala peleton pasukan kompeni itu. "Inilah anak Cirebon! Hayo! Serbu!" Teriak penyerangnya. Sambitkan batu-batu itu. Kutanggung menjadi tontonan yang menarik." Sangaji tak membantah ajakan Titisari. Da-sar dia merasa takluk semenjak dahulu. Maka dengan cepat ia memungut beberapa butir kerikil. Lalu disambitkan bertaburan. Hebat akibatnya. Tenaga saktinya yang luar biasa kuat melontarkan batu-batu itu tak ubah letusan peluru. Empat ekor kuda kena tertembus kepalanya. Setelah binatang-binatang itu berjingkrakan tanpa ampun lagi lalu mati terjengkang. Keadaan berubah menjadi kalut. Pertempuran perseorangan kini berbalik menjadi pertempuran berondongan. Kompeni bermata gelap. Senapan mereka membabi buta. Pasukan tempurnya berbareng menyerang pula. Tak mengherankan, korban penduduk sangat besar jumlahnya. Titisari dan Sangaji lambat laun kena desak larinya pagar manusia. Meskipun mereka memiliki tenaga sakti melebihi manusia lum-rah, akhirnya terseret juga. Mereka berdua terdorong-dorong dari pojok ke pojok. Tatkala matahari nyaris tenggelam di barat, mereka telah berada pada suatu tempat yang terlin-dung semak belukar. "Hebat! Hebat! Itulah baru tontonan yang menggembirakan!" kata Titisari nyaring. "Ya hebat,1' sahut Sangaji lesu. la tak ber-gembira sama sekali. Bahkan kelihatan pri-hatin, mengingat korban penduduk sangat banyak. Cirebon pada tahun itu mengalami suatu pemberontakan besar. Seperti diketahui, sultan yang memerintah daerah adalah keturunan Falatehan yang semenjak abad tujuh belas diakui kedaulatannya oleh kompeni. Kemudian pada tahun 1797, terjadilah suatu perubahan yang menusuk hati rakyat. Sultan meninggal. Dan kompeni emoh mengangkat Sultan Kanoman menjadi penggantinya. Hal ini ada sebabnya, Sultan Kanoman hendak merubah tata pemerintahan yang memberi keleluasan terlalu besar kepada orang-orang Tionghoa. Karena akibatnya, golongan Tionghoa main peras dan menghisap kekayaan penduduk. Maka terjadilah suatu pemberontakan. Kompeni dan residen tak kuasa mema-damkan. Akhirnya Gubernur Jenderal mengi-rimkan Nicolas Engelhard untuk mengatasi kekeruhan itu. Dan demikianlah, pada hari itu Nicolas tiba di Cirebon dengan membawa 1000 serdadu. Gntuk menggertak rakyat, se-ngaja ia mengadakan hari pameran senjata dan kekuatan militer. Tak tahunya, pameran senjata itu kena dikacaukan laskar rakyat yang menyerang dengan berani dan mendadak. Keruan saja, pada malam hari itu kompeni mengadakan perondaan dan pemeriksaan. Semua jalan-jalan dipenuhi dengan peleton bersenjata lengkap. Rumah-rumah penginap-an digeledahnya. Merasa diri tak aman, Titisari segera mengajak Sangaji keluar lapangan. Mereka berdua terus menunggang Willem menuju ke Barat. "Kau takut tidak, mati bersamaku di tengah jalan?" kata Titisari menggoda. "Kau bilang apa?" Sangaji mengirik ping-gangnya dari belakang. Sambil tertawa geli, Titisari menyahut: "Habis, apa kau sangka calon isterimu tidak berada di antara kompeni?" Mendengar ujar Titisari, hati Sangaji terkesiap. Mendadak saja, timbullah suatu kepahitan dalam kalbunya. Suatu perasaan tajam menusuk ulu hatinya. Apakah itu, ia sendiri tak bisa mengerti. Akhirnya diam-diam ia menghela napas. Lalu berkata, "Baiklah! Mari kita terjang perkemahan kompeni." Kini Titisarilah yang berganti terkesiap. Seperti seorang guru mempertimbangkan ulangan muridnya, ia menyahut hati-hati. "Kau hendak mencari mati, itulah bukan tujuanku. Tapi kalau kau tak takut mati bersamaku di tengah jalan karena suatu kecelakaan, itulah jawaban yang menyenangkan hatiku." Setelah berkata demikian, ia terus membe-dalkan Willem bertambah cepat. Itulah sebab-nya, sebentar saja mereka berdua telah melin-tasi perbatasan Cirebon. Dan malam itu kembali lagi Titisari kumat adatnya, la tak sudi beristirahat. Ada-ada saja yang dikerjakan. Dengan Sangaji ia menculik beberapa pen-duduk golongan Tionghoa dan dilemparkan ke tengah sawah. "Kau tahu, apa sebab rakyat Cirebon berontak?" katanya memberi keterangan kepada Sangaji. "Mereka kena tindas dan kena peras orang-orang Tionghoa. Karena itu, kalau saja rakyat Cirebon mengetahui perbuatan kita ini, mereka akan senang." Sangaji yang berhati mulia dan berotak sederhana menjawab, "Tetapi masakan semua orang Tionghoa berhati kejam?" "Kau mau mencari yang kejam? Baiklah. Esok pagi kau akan kubawa berkeliling mene-mui mereka. Tapi awas! Kalau kau sampai kena lirik gadis-gadisnya, kau akan kugaplok." Sangaji tercengang mendengar ucapan Titisari. Namun ia bersikap diam. Tenaga jas-maninya meskipun kuat luar biasa, akhirnya terasa lesu juga karena sudah hampir lima hari lima malam tak memicingkan mata barang sedikitpun. Lainlah halnya dengan Titisari. Bagi seorang wanita, cinta adalah seluruh hidupnya. Demi mengabdi cintanya, ia seperti memperoleh tenaga gaib. Gerak-geriknya terus segar-bugar. Menjelang pagi harinya, ia mengajak mandi di sebuah kali. Dan tak lupa, mulutnya terus nerocos tiada hentinya. Akhirnya hari keenam mulai merangkak-rangkak memasuki lembaran kemanusiaan. Matahari kala itu telah muncul di udara. Seluruh alam terbangunkah. Burung-burung mulai mencari mangsanya. Di udara bebas mereka beterbangan. Berkicau dan bercumbu. Dan Titisari masih saja berkecimpung di dalam sungai. "Aji! Daripada kau terlongong-longong di pinggiran, nyemplunglah ke mari!" serunya. Semenjak dahulu, Sangaji tak begitu pandai berenang, la mengenal arus sungai berkat ajaran Titisari. Tak mengherankan, bahwa ia enggan menerima ajakan itu. Sahutnya, "Kau mandilah sepuas-puasmu! Biar aku menunggu di sini!" "Kau menolak ajakanku? Baiklah! Kau duduklah di situ. Ingin kutahu, sampai kapan kau betah tak mandi." Sangaji seperti tak menggubrisnya, la mundur mencari rimbun pohon. Lalu bersender pada batangnya sambil mengawasi gerak-gerik Titisari. Di luar kemauannya sendiri ia jadi berpikir yang bukan-bukan. Teringat betapa besar cintanya gadis itu, teringat pulalah dia kepada Sonny. "Alangkah besar perbedaan mereka." Diam-diam ia berkata dalam hati. "Titisari se-orang gadis alam. Wataknya bebas merdeka dan tak pedulian. Sebaliknya Sonny... dia per-nah berbuat apa untukku? Tetapi kalau aku begitu saja tak memedulikannya, dimanakah lantas letak harga diriku?" Teringatlah dia, barisan kompeni kemarin petang yang memenuhi jalan-jalan kota Cirebon. Melihat kegarangannya, pantaslah kalau mereka bisa menaklukkan laskar-laskar daerah yang kurang teratur dan disiplin. Sekonyong-konyong muncullah Ki Tunjungbiru di hadapannya, la datang bersama sepasukan laskar rakyat yang tanpa ragu-ragu lagi menyerang pasukan kompeni. Maka terjadilah suatu pertempuran seru. Tatkala mereka kena terdesak, datanglah suatu bantuan yang tak terduga-duga. Itulah anak buah Gagak Seta yang dipimpin Sondong Majeruk, kepala desa yang dahulu dikenalnya di Desa Gebang sewaktu Dewaresi hendak menculik Sekar Ayu Retnaningsih. "Di manakah Guru?" Sangaji minta kete-rangan. "Lihat! Itulah dia!" sahutnya cepat sambil menuding. Sangaji menoleh dan melihat Gagak Seta sedang melesat menerkam mangsanya. Pemuda itu melongokkan kepalanya ingin melihat siapakah yang diserang gurunya. Tiba-tiba hatinya terkesiap. Itulah Sonny de Hoop yang duduk di atas kuda di tengah barisan kompeni. Tak dikehendaki sendiri, ia memekik tinggi. Dan mendengar pekikannya, Gagak Seta mengurungkan serangannya, la melesat menghampiri sambil membentak. "Kau manusia jahanam! Dalam kulit dagingmu masakan kau menggembol nyawa Belanda?" Belum lagi bisa menjawab, Gagak Seta telah menggaploknya pulang balik, la terperanjat dan geragapan mundur. Wajahnya terasa panas. Tatkala menjenakkan mata, sinar matahari yang tajam merangsang mukanya. Sangaji terus mengucak-ucak matanya. Entah berapa lama dia tertidur, tetapi melihat mata-hari telah berada di atasnya paling tidak sudah pukul satu tengah hari. Geragapan ia bangun. Sekitarnya sunyi senyap. Matanya meruntuhkan pandang ke sungai, Titisari tiada lagi berada di sana. Hatinya terkesiap. Gugup ia menghampiri Willem yang terikat rapi tak jauh daripadanya. Tahulah dia, itulah perbuatan Titisari. Tetapi apa sebab dia berbuat begitu, ia menduga-duga. Tak usah ia berpikir lama atau ia menemukan secarik ker-tas tergantung di tepi pelana. Aji! Hampir enam hari engkau tak meme-jamkan mata barang sebentarpun. Pastilah engkau sangat penat. Nah, tidurlah sepuas-puasmu. Dahulu aku mengira, engkau sangat kasih padaku dan berani berkorban serta berbuat apa pun untukku. Ternyata selama ini engkau hanya melayani kemauanku semata. Bertepuk sebelah tangan, apakah senang-nya? Pergilah, Aji! Pergilah! Carilah jalanmu sendiri! Aku akan mencoba begitu juga dan biarlah aku menyanyi untukmu di sepanjang jalan ... Cinta untuk wanita benar-benar adalah seluruh hidupnya. Melihat Sangaji tertidur, Titisari mengira pemuda itu tak mengimbangi deru hatinya. Ia tak mau mengerti dan tak mau tahu, apa yang sedang dipikirkannya. Dan demikianlah dengan hati hancur luluh, ia pergi tanpa pamit. Sudah barang tentu, Sangaji terperanjat bukan kepalang setelah membaca surat itu. Hatinya terasa seolah-olah terenggut sampai seluruh tubuhnya menjadi dingin. Mendadak saja, ia seperti berubah ingatannya. Tak dike-hendaki sendiri ia berteriak memanggil: "Titisari! Tunggu! Kau salah paham! Dalam hidupku, hanya engkaulah yang mengisi hatiku!" Sangaji sekarang, bukanlah Sangaji dua tahun yang lalu. Kesaktiannya tak terlawan lagi dalam zaman itu. Kini, hatinya meledak. Karuan saja, suaranya yang disertai tenaga sakti bergelora tak ubah guntur bergulungan. ia melesat memasuki kota sambil memukuli dirinya sendiri. Hatinya memaki-maki sepan-jang jalan, menyesali keteledorannya, la berputar-putar dari tempat ke tempat lain. Semua penginapan diaduknya. Juga rumah-rumah Tionghoa dan perkampungan yang dicurigainya. Karena gerakannya sangat gesit tak seorangpun mengira, bahwa dia manusia lumrah yang terdiri dari darah dan daging. Akhirnya menjelang petang hari, deru hatinya mulai mereda. Perlahan-lahan ia kembali ke tepi sungai. Mau ia menduga, bahwa Titisari lagi mempermainkan dirinya. Tetapi sampai petang hari Titisari benar-benar tak menampakkan batang hidungnya. Dengan hati luluh ia duduk bersimpuh di tepi sungai. Seluruh tenaganya seperti terlolosi. Dengan pandang nanar, ia merenungi arus sungai dan meredup berbareng dengan lenyapnya sinar matahari. "Titisari! Kau tahu, aku ini seorang pemuda tolol. Kalau saja aku mengerti hatimu, masakan aku sampai tertidur seperti kerbau?" ia menyesali diri sendiri. Willem yang ikut tersiksa sepanjang hari, bergerak berputaran mencoba merenggutkan tali pengikat. Teringat akan binatang itu, Sangaji menghampirinya. Kemudian ia ber-jalan tanpa tujuan sambil menggenggam tali kekang. Setiap kali ia melihat kerumunan orang, ia segera menghampiri mencari Titisari. Namun usahanya sia-sia belaka. Demikian pada suatu hari, ia tiba di sebuah kecamatan. Waktu magrib, nampaklah sebuah desa terlindung di dekat petak rimba yang sangat lebat. Di belakang rimba itu berdiri sebuah bukit panjang. Di sisinya tergelar petak-petak sawah yang sedang menghijau. Kesannya aman tenteram. "Meskipun dusun ini sangat terpencil, tetapi kalau hidup di samping Titisari alangkah senang," pikir pemuda itu. ia menghampiri sebuah rumah bertangga bambu. Belum lagi ia memasuki pekarangan, pendengarannya yang tajam mendengar tangis seorang wanita, la jadi keheranan. Masakan di tengah kedamaian ini ada suara tangis, ia menduga-duga. "Agaknya pemilik rumah ini sedang berduka cita. Tak dapat aku mengganggunya. Baiknya aku mencari penginapan lain saja." la memu-tuskan dalam hati. Tetapi yang berada dalam rumah mende-ngar tapak Willem. Dengan gerakan meng-hentak, daun pintu terjeblak. Dan muncullah seorang wanita tua berambut ubanan dengan menggenggam sebatang tongkat besi. Perawakan wanita itu kurus tipis. Punggung-nya melengkung kena makan usianya yang sudah lanjut. Dia berdiri dengan kaki terbuka. Lalu berteriak nyaring, "Majikan anjing! Aku sudah bilang, suamiku baru saja mati. Tubuhnya belum lagi kering. Masakan aku tak kau beri kesempatan untuk membayar segala hutang suamiku? Kau tahu, aku tak punya apa-apa. Yang kumiliki hanya seorang cucu perempuan. Kalau kau mau merampas dia untuk membayar hutang suamiku, biarlah selembar nyawaku kuserahkan kepada-mu. Sangaji heran. Ia segera tahu, bahwa wanita tua itu salah duga. Maka cepat-cepat ia melompat turun sambil membungkuk hor-mat. Berkata hati-hati, "Nenek. Aku hanyalah seorang pelancong yang kebetulan tersesat di sini. Niatku tadi hendak bermalam di sini. Kalau nenek lagi mempunyai suatu urusan, biarlah aku mencari tempat penginapan lain." Wanita tua itu memandangnya dengan hati limbung. Begitu yakin tetamunya bukan manusia yang dibencinya, segera ia meletak-kan tongkat besinya. Kemudian membalas hormat dengan takzim. "Maafkan aku, Tuan. Mataku memang sudah lamur. Mulutku lagi nerocos tak keruan pula," katanya penuh sesal. "Kalau Tuan tidak jijik, silakan menginap di sini. Hanya saja, aku tak bisa menyediakan sesuatu yang pantas." Sangaji mengucap terima kasih, lalu ia me-ngeluarkan segenggam uang dan diserahkan kepada wanita tua itu. Sewaktu hendak memasuki rumah, matanya melihat seonggok rumput muda yang berada di pojok serambi depan. "Siapakah yang mencari rumput itu?" tanyanya. Wanita tua itu yang tengah bersyukur karena kejatuhan rejeki tak terduga, segera menjawab dengan gembira. "Itulah Neneng, cucuku perempuan. Sedianya rumput itu kami sediakan untuk kuda majikan. Tapi bangsat itu terlalu memuakkan. Kalau kuda Tuan membutuhkan biarlah rumput itu kupersembahkan kepada Tuan." Setelah berkata demikian, ia menghampiri onggokan rumput. Sangaji segera menyang-gah, la sendiri lantas membawa rumput itu. Kemudian barulah dia memasuki rumah. Ternyata rumah itu bersih sekali. Karena itu rasa heran Aji bertambah-tambah. Dan baru saja ia duduk, didengarnya suara derap beberapa kuda memasuki pekarangan. Empat orang yang bercokol di atas kudanya masing-masing terdengar membentak-bentak. Sangaji mengintip dari celah dinding. Ternyata yang datang seorang bertubuh kekar dengan tiga orang serdadu Indo. Orang itu lantas membentak dengan bengis: "Hai bangsat janda Karim! Kau bayar tidak tunggakan suamimu lima ringgit? Kalau tidak, serahkan cucu perempuanmu!" Yang berada di sampingnya itu, pula ikut berbicara: "Kau dengar? Majikanmu sudi mengampuni. Tapi aku, tidak. Kau serahkan atau tidak, cucu perempuanmu bakal jadi gundikku." Gertakan itu dibarengi dengan lecutan ce-meti memukul atap rumah. Kena lecutannya, empat buah genting runtuh dengan berisik. Wanita tua itu tidak meladeni gertakan mereka. Dengan tertatih-tatih ia memasuki kamar dan terdengar ia berkata pedih. "Neng! Larilah kau lewat pintu belakang! Bersembunyilah di dalam rimba, ini, aku mempunyai uang hadiah dari tamu kita. Bawalah dan jadikan bekal hidupmu. Aku sendiri sudah malas hidup kelamaan di jagat ini..." Segera terdengar suara seorang gadis. "Nek! Mari kita mati bersama. Untuk apa aku memperpanjang umur? Ayah bundapun tiada lagi..." "Lari! Lekaslah lari! Kau jangan ikut kese-tanan!" Hardik neneknya dengan memban-ting-banting kakinya. "Cepat, agar tak terlam-bat! Majikan bangsat itu ternyata membawa tiga serdadu sewaan." Hampir berbareng dengan titik ucapan itu, nampaklah seorang gadis berbaju hijau keluar dari kamar. Gadis itu menggenggam tangan neneknya erat-erat. Mukanya kuyu dan kelopak matanya tergenangi sepercik air mata. Dan melihat gadis itu, hati Sangaji terkesiap. Ternyata raut muka gadis itu mengingatkan kepada kesan muka Nuraini. "Lepas, lepas!" neneknya menyesali. "Biarlah aku menghadapi mereka, sementara kau lari lewat pintu belakang! Cepatlah!" Tetapi pintu depan telah kena dobrak dari luar. Dan berbarengan dengan menjeblaknya pintu, keempat penunggang kuda itu melom-pat hampir berbareng ke ruang dalam. Mereka terus saja mengepung kedua perempuan itu. Dan majikan yang bertubuh kekar itu lalu memukul si perempuan tua. la menjambak rambut dengan tangan kanan, sedang tangan kirinya menangkap pinggang Neneng hendak dipeluknya. Neneng ketakutan. Sekujur tubuhnya menggigil sehingga kehilangan sebagian tenaganya. Mau ia menjerit, tapi mulutnya seperti terbungkam. Sangaji mengamat-amati keempat penung-gang kuda. Melihat dandanannya ketiga ser-dadu itu, terang bukan serdadu gadungan. Ia jadi teringat kepada keterangan Titisari, bahwa orang itu di Cirebon berbuat sewenang-wenang terhadap penduduk. Mereka berani berbuat demikian, karena memperoleh perlindungan kompeni. Tentu saja dalam hal ini, uang yang banyak berbicara. Dengan sebat seorang serdadu berhasil memeluk pinggang Neneng. Dengan mata berkilatan, ia berkata mengguruh. "Janda Karim! Kau tadi dengar sendiri penawaran majikanmu. Beliau menghendaki, kau cepat-cepat membayar hutang suamimu yang sudah mampus. Malam ini, biarlah cucumu kami buat barang tanggungan. Kalau kau sudah membayar tunggakan itu, cucumu bakal kami bebaskan. Kapan dia dibebaskan, tergantung kepada kesungguhanmu memba-yar hutang. Nah, bilanglah terima kasih kepa-da majikanmu. Karena kau tak usah memba-yar bunganya...!" Setelah berkata demikian, dengan penuh kemenangan serdadu itu menyeret Neneng ke luar. Nenek itu lantas saja memekik tinggi. Dengan menyambar tongkat besinya, ia terus mengejar. Kemudian menikam sekenanya. Serdadu itu berkelit sambil mencabut sebuah penggada. Dengan sebat ia memukul tongkat si nenek. Tentu saja perempuan tua itu tak tahan mengadu tenaga. Dengan suara bergelontangan tongkat besinya jatuh ke lan-tai, la mau menyambar lagi. Tetapi serdadu lainnya menendang tulang rusuknya hingga ia roboh terjengkang. "Eh—tua bangka. Kau banyak bertingkah! Apakah kepalamu ingin kupecah di sini?" ben-tak serdadu itu dengan garang. Namun perempuan tua itu seperti kalap. Lupa pada tenaga sendiri, ia nekat hendak merebut cucu perempuannya. Ia terus merangkak-rangkak memungut tongkat besinya. Sedianya ia hendak mengemplang sekenanya. Tapi belum lagi tongkat besinya kena raba, tangannya telah diinjak sampai tulangnya berbunyi bergemeletakan. Meskipun demikian, ia tak sudi mengaduh. Bahkan kenekatannya kian menjadi-jadi. Di luar dugaan, ia lalu menubruk dan menggigit kaki. Keruan saja serdadu yang kena gigit me-ngiang-ngiang seperti anjing kena gebuk. Untung kawannya segera menolong. Dengan tak mengenal kasihan, rahang Nenek ditendangnya. Dan kena tendangan itu, Nenek terguling. Mulutnya sekaligus mengeluarkan darah kental. Belum lagi ia bisa bangun, serdadu yang kena gigitannya lalu menetaki kepalanya dengan penggadanya. Sampai di situ habislah sudah kesabaran Sangaji. la merasa diri tak dapat hanya menjadi penonton belaka. Dasar hatinya sedang murung. Dengan gesit ia mencekik kedua serdadu itu dan dilemparkan ke luar rumah. "Hai! Siapa kau!" bentak sang majikan berbareng dengan serdadu pengawalnya. Kedua orang itu lantas saja menikam Sangaji tak menghiraukan ancaman itu. Sekali tangannya membalik, tahu-tahu kedua orang itu jatuh berjungkir balik mencium tanah. Berempat mereka saling bertubrukan dan saling tindih. Kesempatan itu dipergunakan sebaik-baik-nya oleh Nenek. Perempuan tua itu lalu mem-buru mereka dan menggigit mereka bergan-ti-ganti sampai mulutnya berlumuran darah. Bukan main berisiknya orang mereka. Tatkala hendak membalas memukul, Sangaji menen-dangnya. Dan kembali lagi mereka berempat terbang ke udara dan jatuh terjerembap bagaikan layang-layang putus. "Sekarang pergilah tuan-tuan. Cepat, sebelum aku marah benar-benar. Dasar kamu semua bangsa penghisap darah bangsaku. Enyah!" gertak Sangaji. Tanpa menyahut mereka merangkak-rangkak bangun. Dan menghampiri kudanya seperti lagi berlomba. Belum lagi sampai sebuah benda bergemerincing menyambar tengkuk mereka. "Kau terimalah uangmu lima ringgit!" teriak Sangaji nyaring. "Tapi awas! Mulai hari ini ja-ngan kalian ganggu rumah ini. Kalau sampai selembar rambut nenekku runtuh di tanah, keluarga kalian akan kucabuti nyawanya se-orang demi seorang." Sangaji sengaja hendak menciutkan sema-ngat mereka, sehingga ia menggunakan suara gunturnya. Tak mengherankan, hati mereka bertambah kecut. Dengan memberanikan diri mereka memunguti uang lima ringgit dan cepat-cepat menghilang dari penglihatan Sangaji. Melihat mereka kabur dan teringat akan kata-katanya sendiri, pemuda itu jadi puas dan terhibur. Selama hidupnya baru kali itulah ia menggunakan kata-kata tajam luar biasa. Dan secara kebetulan jatuh kepada mereka pula. Kalau saja Titisari berada di situ, bukankah dia jadi berbesar hati? Gadis itu takkan lagi menyangsikan dirinya seakan-akan hatinya berada di pihak kompeni. Tidak enteng luka perempuan tua itu. Namun melihat kepergian mereka, ia jadi bersemangat serta bersyukur. Tanpa menghi-raukan tata tingkat pergaulan umum, tiba-tiba dia duduk bersimpuh di hadapan Sangaji seraya menyembah. Cucunya perempuan tak mau ketinggalan. Gadis itu berlutut dan bersembah pula kepada Sangaji sambil menyusuti darah neneknya yang terus bercucuran dari mulut dan kepalanya. "Nek, berdirilah!" Sangaji gugup. "Aku se-muda ini betapa berani menerima sembahmu." Perempuan tua itu lalu berdiri. Dengan mengisyaratkan cucunya perempuan, . ia segera meladeni tetamunya. Tak peduli selu-ruh tubuhnya terasa nyeri luar biasa, ia memerlukan menyediakan air teh. "Tuan! Minumlah teh kami," katanya sete-ngah memohon. "Tentu akan kuminum," sahut Sangaji melegakan hati Neneng berdiri tegak tak jauh dari meja. Dengan tersenyum manis ia ikut mempersilakan tamunya minum teh. Kemudian ia memperkenalkan diri. "Sebenarnya apa sebab mereka menggang-gu Nenek?" Sangaji minta keterangan. Perempuan tua itu lalu mengisahkan riwa-yatnya. Bahwa di daerahnya masih terdapat orang-orang yang berbuat sewenang-wenang terhadap kaum tani. Dengan kekayaan yang mereka miliki dapatlah dikuasai perekonomian daerah itu. Demikianlah maka mereka menghisap dan memeras tenaga kaum tani untuk mengenyangkan perut sendiri. Dengan kekuasaan uangnya, mereka menyewa tukang-tukang pukul, polisi dan kompeni. Lalu menguasai sawah dan ladang. Mereka pulalah kelak yang menciptakan sistem ijon dan tanam paksa. Dengan begitu, kaum petani seperti jadi binatang-binatang piaraan mereka. Suami nenek itu yang bernama Karim adalah salah satu korban mereka di antara puluhan ribu petani yang hidup dari sawah dan ladangnya. Waktu mudanya, Karim termasuk golongan priyayi di daerah itu. Karena merasa gaji tak mencukupi ia mencoba hidup bertani. Di desa itu ia mulai mengadu untungnya. Dibelinya sebidang tanah dan beberapa petak sawah. Tetapi seperti nasib petani-petani lainnya, lambat laun ia terlibat dalam hutang. Hal itu terjadi apabila musim panen jelek atau apabila sawahnya terlanda banjir. Dan semenjak itu hidupnya gali lubang tutup lubang. Anggota keluarganya jadi berantakan. Anaknya laki-laki lalu merantau. Akhirnya mendaf-tarkan jadi serdadu. Bagaimana kabarnya, hanya setan yang tahu. Kini tinggal cucunya perempuan satu-satunya. Namanya Rochaya. Panggilannya Neneng. "Anak ini agaknya bernasib malang," kata perempuan tua itu bersedih hati. "Emaknya pergi mengikuti suaminya. Dia kuambil semenjak belum bisa beringus." Setelah berkata demikian ia merenungi Neneng. Berkata lagi, "Belum lagi ia mene-mukan jodohnya, kakeknya sudah masuk liang kubur." Selanjutnya, Sangaji tak memerlukan keterangan lagi. Orang yang datang bersama tiga serdadu tadi, terang sekali adalah si lintah darat. Ia sengaja menagih hutang di waktu perempuan tua itu belum habis masa duka citanya. Pikirnya, kalau dia bisa membuatnya bingung dan terdesak, bukankah bakal menyerahkan cucu perempuannya sebagai barang tanggungan? Kalau saja Sangaji tak datang di rumah itu, rencana jahat orang itu akan berhasil. Karenanya betapa perempuan tua itu tak merasa berhutang budi kepadanya? Katanya berulang kali mengesankan, "Besok pagi berkelilinglah ke dusun ini. Tuan akan segera tahu, berapa banyak sudah gadis-gadis yang kena disereti manusia jahanam itu!" Dan mendengar ujar perempuan tua itu, Sangaji menghela napas. Sesudah makan malam, perempuan tua itu lalu membersihkan sebuah kamar. Kemudian Neneng Rochaya mengantarkan Sangaji me-masuki kamar sambil membawa segelas air teh. "Seringkali hawa sangat panas di malam hari," katanya dengan suara empuk. "Tuan orang asing. Pastilah Tuan takkan tahan menghadapi hawa panas. Kalau Tuan nanti membutuhkan air teh lagi, tak usah Tuan segan-segan. Bangunkanlah aku! Apakah Tuan ..." "Janganlah panggil aku tuan," potong Sangaji. "...panggillah aku, kakak atau abang!" Neneng Rochaya memalingkan pandang. Tatkala mukanya menatap Sangaji kembali, matanya bersinar-sinar. Berkata setengah berbisik, "Apakah aku pantas memanggil begitu terhadap seorang tetamu?" Sangaji tertawa. Menyahut, "Akupun mem-punyai seorang adik angkat yang mirip de-nganmu. Namanya Nuraini. Diapun berasal dari Jawa Barat." Setelah berkata demikian, sekonyong-ko-nyong suatu ingatan menusuk benaknya. Terus saja ia keluar kamar dan berkata kepada nenek Rochaya. "Nek! Apakah Neneng mempunyai seorang kakak perempuan?" Perempuan tua itu menggelengkan kepala dengan pandang heran berbareng menebak-nebak. "Mengapa?" katanya. "Dia mirip dengan adik angkatku." "Dialah cucuku perempuan satu-satunya." Perempuan tua itu menegaskan. Sangaji kembali ke kamarnya dan tak ber-bicara lagi. Dan malam itu ia bergulang-guling tak dapat memejamkan mata. Kesannya sete-lah berpisah dari Titisari terlalu banyak dan saling mengendapkan. Hatinya murung, lesu dan kehilangan kegembiraan. Melihat Neneng Rochaya ia agak terhibur. Tetapi bila teringat akan nasib keluarga itu, ia jadi ikut prihatin. Kira-kira waktu subuh, pendengarannya yang tajam mendengar langkah kaki belasan meter jauhnya. Lalu ia mendengar pula suatu ucapan, "Otong Damarwijaya kena jebak dua hari yang lalu. Menurut dugaan ia dibawa ke Jakarta. Mari cepat! Kalau nasib baik, dia masih bisa kita tolong." Mendengar orang menyebut nama Otong Damarwijaya. Hati Sangaji terkesiap. Ia terus membuka jendela dan melesat ke luar. Dengan cepat ia menyusul mereka. Orang-orang yang belum dikenal itu ber-lari-lari mengarah ke barat. Sama sekali me-reka tak mengetahui sedang dikuntit Sangaji. Mereka lari terus hingga lima enam pai jauh-nya. Di depan sana terlihat suatu perkemahan. Itulah perkemahan militer yang dijaga sangat rapat. ***

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 34 PULANG KE JAKARTA"

Posting Komentar