BENDE MATARAM JILID 33 KEBO BANGAH



Benar-benar Sangaji bagai seseorang yang kehilangan dirinya sendiri. Ia tegak seperti batu. Pandang matanya terlongong-longong. Masih ia menyusul kepergiannya Titisari beberapa langkah. Kemudian berdiri tegak seperti tersekat danau lumpur setinggi lehernya. Sedang ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba lengannya terasa teraba. Ia menoleh dan melihat gurunya Jaga Saradenta berdiri tertatih-tatih di dekatnya. Kata guru yang sok uring-uringan itu, "Anakku Sangaji! Engkau lahir sebagai laki-laki dan kelak mati sebagai laki-laki pula. Dan sebagai seorang laki-laki aku menghendaki engkau hidup sebagai laki-laki tulen. Nah, bagaimana? Apakah engkau masih seorang laki-laki?" Pemuda itu masih berdiri terlongong-longong. Kemudian mencoba mengatasi perasaannya. "Aku... aku hendak mengunjungi guru dahulu ke Gunung Damar!" "Bagus! Itulah baru muridku," seru Jaga Saradenta bergembira. "Tiga belas tahun yang lalu, bukankah perasaanku seperti keadaanmu sekarang? Kutinggalkan istri dan kampung halamanku. Untuk apa dan untuk siapa? Untuk ini... yang bersemayam dalam dada... yang mengingatkanku setiap detik bahwa aku dilahirkan dan akan mati sebagai laki-laki." Hebat kata-kata guru yang sok uring-uringan itu, meskipun andaikata terdengar Adipati Surengpati akan ditertawakan sebagai suatu elan kosong melompong. Sebaliknya yang berada dalam kubang batu itu adalah golongan pahlawan-pahlawan muda yang masih mengutamakan sifat-sifat kejantanan sebagai elan hidupnya. Karena itu, mereka bersikap diam dan bersungguh-sungguh. Bahkan pendeta edan-edanan Ki Hajar Karangpandan turut tergetar hatinya. Terus saja menimbrung. "Jaga Saradenta! Terimalah hormatku! Meskipun kepergianmu ke daerah barat ada sangkut-pautnya dengan diriku, tapi kepergianmu dahulu jauh lebih jantan daripadaku. Kau pergi sebagai laki-laki. Sebaliknya aku bekerja untuk ketamakanku." Mendengar pengakuan Ki Hajar Karangpandan, Ki Tunjungbiru tertawa perlahan. "Eh— semenjak kapan kau berubah adat? Kalau kutahu begini adatmu, sudah dulu-dulu aku kawin. Kukira kau mau menang saja dalam segala hal. Tak tahunya, engkau berani pula melihat kenyataan. Bagus! Mulai saat ini, kuhabisi saja pertaruhan kita dahulu. Aku mengaku kalah. Dan kau boleh kawin sembarang waktu." "Hidungmu!" dengus Ki Hajar Karangpandan. "Siapa kesudian menjadi isteri pendeta bangkotan begini? Dan sekiranya terjadi, isteriku harus seorang wanita Sunda yang berpantat besar." "Bagus! Akupun akan mencari puteri Jawa yang paling besar pantatnya," sahut Ki Tunjungbiru cepat. Seperti diketahui, mereka dahulu berkutat sampai lima hari perkara pantat. Masing-masing tak mau mengalah dan mati-matian mempertahankan kehormatan wanita sukunya. Karena tiada yang kalah dan menang, akhirnya mereka mempertaruhkan kehormatannya yang terakhir. Yakni mempertandingkan diri siapa yang paling betah tak kawin. Hasilnya setali tiga uang. Sampai umurnya melampaui setengah abad, masih saja mereka tak sudi kawin. Mereka berdua lantas saja tertawa geli. Akhirnya tertawa terbahak-bahak seperti orang gendeng. Panembahan Tirtomoyo dan Jaga Saradenta yang mengenal sejarah mereka, ikut tertawa melebar. Bahkan Sangaji sendiri yang sedang pepat, mendadak bisa tersenyum. Tak setahunya sendiri selembar kepepatan hatinya sirna dari lubuk dadanya. Demikianlah, mereka lantas saja berkemas-kemas. Sangaji memanggil Willem. Gurunya Jaga Saradenta yang terluka lantas saja dinaikkan di atas punggung kuda jempolan itu. Dia sendiri bersama-sama paman gurunya, Ki Hajar Karangpandan, Ki Tunjungbiru dan Panembahan Tirtomojo berjalan mengiringkan. Surapati dan Pringgasakti waktu itu telah dikebumikan. Medan pertempuran lantas saja berganti kesan. Orang-orang desa belum berani mencongakkan diri. Karena itu, mayat-mayat prajurit yang jauh dari sanak keluarganya, bergelimpangan tiada terurus. Menjelang tengah hari pancaindera Sangaji yang tajam luar biasa menangkap sesuatu yang mencurigakan. Kira-kira seratus langkah di barat daya ia mendengar suatu pernapasan pepat di antara semak tetumbuhan. Pernapasan itu menyenak-nyenak. Terang adalah napas seseorang yang menderita luka parah. "Paman! Apakah Paman mendengar sesuatu yang kurang beres?" Ia minta keyakinan kepada paman-paman gurunya. Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong bukanlah sebangsa pendekar murahan. Suryaningrat sendiri meskipun yang terlemah adalah murid Kyai Kasan Kesambi. Ilmunya sejajar dengan Ki Hajar Karangpandan, Ki Tunjungbiru, Panembahan Tirtomoyo dan Jaga Saradenta. Meskipun demikian, mereka semua tak dapat ditandingkan dengan ilmu sakti Sangaji. Bahkan Gagak Seta, Adipati Surengpati dan Kebo Bangah diam-diam mengakui keunggulannya. Karena itu, pancaindera mereka kalah jauh tajamnya. "Berkatalah! Kau mendengar apa?" kata Gagak Handaka. "Aku mendengar suara napas yang..." Mendadak saja ia meloncat sambil berseru mengajak, "Paman! Mari!" Tanpa menunggu paman-pamannya lagi, Sangaji terus saja menghampiri gerumbul. Ia seperti mengenal tata pernapasan yang menusuk pendengarannya. Benar juga. Tatkala ia menyibakkan gerumbul, dilihatnya suatu tebing sungai yang agak curam. Cepat ia melayang turun sambil menggebu alang-alang yang menutupi penglihatan. Berbareng dengan turunnya ke tanah, ia melihat seorang meringkuk tiada berkutik seolah-olah telah mati. Hatinya memukul, karena segera ia mengenalnya. Itulah Fatimah gadis angin-anginan yang menolongnya dahulu. Dengan gemetaran ia mendekati. Cepat ia mengangkatnya dan diperiksanya dengan hati-hati. Di bawah cuaca terang-benderang ia melihat mata Fatimah terpejam rapat. Wajahnya pucat bagaikan kertas. Napasnya terdengar menyenak lembut dan berjalan amat perlahan. Dari kenyataan itu terbuktilah betapa tajam panca indera Sangaji. Terkejut dan pilu rasa hati Sangaji begitu melihat keadaan Fatimah. Dengan pipinya ia mencoba memeriksa suhu tubuh gadis itu. Syukur, masih terasa hangat. Dan ia agak bergirang hati, mendengar denyut jantung dan nadinya masih berjalan wajar. "Paman... bagaimana?" Ia mendongak ke atas dan terus mendaki tebing dengan hati-hati. Fatimah kemudian diletakkan di atas rerumputan. Tanpa menunggu pertimbangan lagi, terus saja ia mengirimkan tenaga saktinya. Mereka yang berada di situ adalah serombongan pendekar-pendekar berpengalaman. Tanpa berbicara mereka lantas bekerja. Ranggajaya dan Bagus Kempong segera memeriksa keadaan tubuh gadis itu, yang ternyata menderita luka berat. Sedangkan Gagak Handaka menjaga peredaran darah. Hanya Suryaningrat seorang yang sibuk tak keruan. Maklumlah, di antara mereka dialah yang mempunyai hubungan rapat dengan Fatimah. Seperti diketahui, Fatimah adalah muridnya, atas perintah Kyai Kasan Kesambi untuk meniliknya pada waktu-waktu tertentu. Dan dalam hal ini ia tak tahu, apa yang harus dilakukan. Dengan sekena-kenanya, ia mencoba membangunkan Fatimah. Ternyata kedua kaki dan tangan muridnya tetap terkulai seolah-olah kehilangan tulang sendi. Menyaksikan demikian, wajahnya jadi pucat. Hampir-hampir saja ia menangis. Lain halnya dengan Panembahan Tirtomoyo dan Ki Tunjungbiru. Dan sekilas pandang, tahulah mereka apa yang harus dilakukan. Seperti berjanji, mereka mengeluarkan obat simpanannya. Panembahan Tirtomoyo mengeluarkan obat bubuk hasil ramuannya sendiri. Sedangkan Ki Tunjungbiru segera meminumkan madu lebah Tunjungbiru yang termasyhur khasiatnya. Ki Hajar Karangpandan lain pula yang dilakukan. Pendeta itu meskipun terkenal berwatak edan-edanan, tetapi besar kewas-padaannya dan pengalamannya. Terus saja ia lari berputaran memeriksa sekitar lapangan. "Ih! Nampaknya lengan dan kakinya patah," kata Jaga Saradenta dari atas punggung si Willem. "Siapakah yang berbuat sekeji ini?" Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong bukanlah tidak mengetahui keadaan Fatimah. Hanya saja mereka merasa diri tak sanggup melakukan penyambungan tulang. Untung di situ terdapat Ki Tunjungbiru dan Panembahan Tirtomoyo. Kedua pendekar itu lantas saja bekerja. Mumpung Fatimah dalam keadaan belum sadar kembali, segera mereka menyambung tulang lengan dan kaki yang terpatahkan. Kemudian dibebatnya rapi setelah diborehi sebungkus ramuan obat tulang. Berkat pertolongan mereka semua, Fatimah cepat dapat disadarkan kembali. Gadis itu menjerit kesaktian. Dan tubuhnya menggigil menahan sakit. Sangaji segera memijit urat-urat nadi tertentu untuk mengurangi rasa nyeri. Melihat pernapasan Fatimah kembali lancar ia bersyukur bukan main. "Fatimah!" panggilnya. Fatimah seperti mendengar panggilan itu. Kelopak matanya bergerak-gerak. Mendadak menyenakan mata seperti terkejut. Pandangnya penuh curiga dan ketakutan. "Kau siapa?" jeritnya. "Aku bocah tolol Sangaji!" Gundu mata Fatimah berputaran seolah-olah tak mempercayai penglihatan dan pen-dengarannya sendiri. Tiba-tiba ia tersadar. Mau ia bergerak hendak bangkit, tetapi suatu ke-nyerian luar biasa menusuk jantungnya. Ia menjerit dan mengeluh dalam. Kemudian merintih perlahan. Melihat keadaan Fatimah, Suryaningrat tak kuasa lagi menahan hatinya. Dasar ia berperasaan halus, terus saja dia memeluknya dan berkata penuh haru. "Fatimah! Aku gurumu, Suryaningrat! Bilanglah, siapa yang menganiaya dirimu?" Fatimah belum kuasa menjawab pertanyaan gurunya. Tata napasnya belum teratur benar. Tetapi wajahnya yang pucat lesi sedikit demi sedikit menjadi merah dadu. Mendadak gadis itu memekik seperti mengigau. "Benarkah kakakku Wirapati terluka berat?" Pernyataan itu benar-benar menggetarkan hati murid-murid Gunung Damar. Sangajipun tak terkecuali. Mereka tahu semua—pada saat itu Wirapati menggeletak bagaikan mayat karena luka parah. Kalau hal itu diberitakan kepada Fatimah yang sedang menderita luka parah pula, bukankah tidak tepat! Itulah sebabnya, mereka saling memandang minta pertimbangan. Teringat akan sejarah Fatimah yang dipaksa hidup untuk berpisahan dengan Wirapati semenjak kanak-kanak, mereka jadi berduka. Tetapi tak usah menunggu lama. Mereka telah bisa mengambil keputusan. Gagak Handaka mengedipi Suryaningrat. Dan guru yang berperasaan halus itu segera berkata minta ketegasan. "Mengapa?" "Bilanglah dahulu! Benarkah kakakku Wirapati terluka berat?" Dengan menelan ludah, Suryaningrat meng-angguk. Berkata mencoba, "Tetapi sebentar lagi dia akan sembuh kembali. Karena anakku Sangaji telah memperoleh obat pemunahnya." "Sangaji?" Fatimah mengulang. Terus saja gundu matanya mencari Sangaji. Ia merenungi sebentar. Kemudian seperti seorang ibu, ia berbicara. "Anak tolol! Kau sudah sembuh. Bagus! Bukankah tak sia-sia aku menjagamu?" Sangaji mengangguk. "Di manakah gadismu yang galak dan jahat itu?" tanya Fatimah. Diingatkan kepada Titisari, Sangaji jadi berduka. Tetapi segera ia mengatasi perasaannya sendiri dan mengalihkan pembicaraan. "Aku sudah sehat kembali. Sebaliknya, mengapa kau jadi begini?" "Ah—kau benar-benar tolol!" damprat Fatimah. "Masakan aku mau begini?" "Kau benar! Nah, bilanglah siapa yang menganiaya engkau?" "Siapa lagi kalau bukan mereka yang pernah memasuki benteng?" "Cocak Hijau?" darah Sangaji meluap. "Huh" dia bisa mengapakan aku? Banyak lagi. Banyak lagi. Aku dikerubut beramai-ramai." "Ah—masakan begitu. Mereka golongan pendekar yang angkuh hati. Masakan sampai hati menganiaya seorang gadis?" Fatimah merintih. Tubuhnya menggigil menahan marah. Menyahut, "Yang satunya besar tinggi. Yang lainnya pendek kecil. Mereka mengenakan baju merah. Dua orang itulah yang..." kembali Fatimah merintih. Kali ini kesannya hebat. Wajahnya membayangkan rasa takut dan ngeri luar biasa. Kalau saja tidak kena tahan tenaga sakti Sangaji, gadis itu pastilah sudah kehilangan kesadarannya. Tiba-tiba meledak, "Anak tolol! Lekaslah kau tolong gurumu! Eyang Guru dan gurumu Wirapati dalam bahaya!" Mendengar ucapan Fatimah, murid-murid Kyai Kasan Kesambi kaget bukan kepalang. Hampir serentak mereka menegas. "Mengapa?" "Itulah perkara dua pusaka," sahut Fatimah. Pandang matanya menatap Sangaji. Meneruskan, "secara kebetulan aku mendengar kasak kusuk mereka. Bilangnya, pendekar Kebo bandotan diam-diam mendaki padepokan Gunung Damar. Pendekar itu akan menculik gurumu yang luka parah untuk digunakan sebagai alat penukar dua pusakamu. Bukankah hebat?" Seperti diketahui, Fatimah berangkat me-ninggalkan benteng dengan Ayu Retnaningsih, setelah mengantarkan Ayu Retnaningsih sampai di batas kota, segera ia kembali. Pada saat itu, pertempuran antara pihak Pangeran Bumi Gede dan para pendekar sedang mencapai puncaknya. Tatkala memasuki daerah pertempuran, secara kebetulan ia melihat sesosok bayangan berkelebat lewat tak jauh daripadanya. Itulah pendekar sakti Kebo Bangah yang dahulu dikenalnya sewaktu berada dalam benteng bersama-sama rombongan Pangeran Bumi Gede. Ia jadi curiga dan segera menguntitnya. Tentu saja dia bukan tandingnya. Sebentar saja ia telah kehilangan jejak. Namun ia tak berputus asa. Menjelang fajar hari sampailah dia di batas tenggara kota Yogyakarta. Ia berhenti beristira-hat. Karena lelah, tak setahunya sendiri ia jatuh tertidur. Ia terbangun oleh derap kaki terge-sa-gesa. Cepat ia menyelinap di balik semak dan mengintip. Dilihatnya dua orang yang berperawakan tinggi besar dan pendek kecil. Mereka sedang berbicara dengan penolongnya. Yakni, Sanjaya.
"Kami adalah adik Aria Singgela!" kata yang tinggi besar. "Kami diutus berkabar kepada ayah Tuan, bahwa kedua pusaka sakti yang dijanjikan akan segera Tuan peroleh." "Bagaimana?" "Pada waktu ini, kakak kami berada di sekitar Gunung Damar. Dia bermaksud merabu Kyai Kasan Kesambi. Kalau rejeki ayah tuan sebesar gunung, kakak kami akan berhasil menculik Wirapati guru Sangaji. Bukankah alat penukar yang baik?" Sanjaya seorang pemuda yang cerdas. Segera ia mengerti maksudnya. Minta keterangan, "Lantas apa maksudnya mengirim utusan ke mari?" "Tuan! Kyai Kasan Kesambi bukanlah sem-barang orang. Meskipun belum tentu kalah, tetapi untuk merebut kemenangan dengan mudah tidaklah mungkin. Kakak kami membutuhkan bantuan ayah tuan!" kata orang yang berperawakan tinggi besar. Ia berhenti menunggu kesan. Mengira Sanjaya kurang mengerti maksudnya, segera ia menerangkan. "Anak-anak murid Kyai Kasan Kesambi pada hari-hari ini tiada di padepokan. Meskipun demikian, orang-orang kampung tidaklah boleh dibuat gegabah. Tetapi apabila ayah tuan mau mengerahkan pasukannya, Kyai Kasan Kesambi akan mati kutu. Dia boleh gagah perwira, namun menghadapi keroyokan masakan dia bisa berbuat banyak?" Sanjaya mendengarkan keterangan itu dengan berdiam diri. Sejenak kemudian ia membawa kedua orang itu menghadap ayahnya. Fatimah terus menguntitnya. Tatkala matahari sudah sepenggalah tingginya, ia melihat rombongan pendekar undangan berjalan bersama dua orang utusan Kebo Bangah. Rata-rata para pendekar Pangeran Bumi Gede nampak runyam. Pakaiannya kotor penuh lumpur dan darah. Terang sekali mereka habis bertempur. Melihat mereka menuju ke barat, Fatimah jadi gelisah. Dasar ia berwatak angin-anginan. Lantas saja ia mencegat mereka. "Kalian mau mendaki Gunung Damar. Huh... jangan harap!" katanya lantang. "Kalau berani, lawanlah dahulu anak cucu Kyai Kasan Kesambi." Mendengar kata-kata gadis itu, para pendekar melengak keheranan. Dari manakah gadis itu mengetahui, bahwa mereka lagi berjalan menuju Gunung Damar? Cocak Hijau yang berangasan terus saja meloncat maju. Dasar ia menaruh dendam besar, tanpa berkata lagi lantas menyerang. Tentu saja Fatimah bukanlah lawannya. Dalam dua puluh jurus, Fatimah kena ditangkap dan diikatnya kencang-kencang. "Kau dahulu menggaplok aku, karena mengandalkan kegagahan Adipati Surengpati. Tapi kau pernah mengampuni aku. Karena itu aku hanya ingin menggaplokmu sekali saja," kata Cocak Hijau. Pendekar itu membuktikan ucapannya. Fatimah digaploknya sekali dan dibantingnya ke tanah. Fatimah memaki-maki kalang kabut sambil menebarkan ludahnya. Pandangnya tetap garang dan tak mengenal takut. Sebaliknya Cocak Hijau sudah merasa puas. Ia meloncat mundur sambil tertawa mengejek. Mendadak saja di luar dugaan, kedua utusan Kebo Bangah menghampiri Fatimah. Terus saja mereka menerkam lengan dan kaki Fatimah. "Kau anak murid Gunung Damar? Bagus!" kata mereka berbareng. "Membabat rumput harus sampai ke akar-akarnya." Dengan tertawa dalam, mereka lantas saja mematahkan lengan dan kaki Fatimah. Kemudian melemparkan gadis itu menggelinding ke tebing sungai. Dasar nasib Fatimah masih baik, Sangaji yang memiliki panca indra bagai dewa menangkap tata pernapasannya. Kini oleh pertolongan para pendekar sakti, ia dapat disadarkan. Meskipun luka berat, tapi tak mengkhawatirkan lagi. Dengan perawatan tertentu, dua atau tiga bulan ia akan pulih kembali seperti sediakala. "Paman! Melihat keadaan Fatimah, Eyang Guru dalam bahaya. Bagaimanakah pendapat Paman?" Sangaji minta pertimbangan. "Kita harus segera menyusul mereka. Kalau kasep, akibatnya alangkah besar," sahut Ranggajaya. Gagak Handaka yang berwatak tenang berwibawa nampak berkhawatir juga. Teringat akan budi gurunya, ia jadi gelisah. Katanya perlahan, "Benar urusan ini tak boleh kita remehkan. Mari, kita harus berangkat secepat mungkin!" Dalam pada itu Ki Hajar Karangpandan yang tadi memeriksa lapangan telah tiba kembali. "Bangsat betul! Mereka tidak hanya menga-niaya gadis itu, tetapi merusak pula keten-traman penduduk. Bangsat itu benar-benar menuju ke barat. Mereka telah mendahului kita." Ki Hajar Karangpandan adalah seorang pendeta edan-edanan. Tapi cerdas dan bisa dipercayai. Karena itu Sangaji bertambah menjadi cemas. Agak gugup ia berkata memutuskan, "Guruku Wirapati luka parah, dan Eyang Guru hanya seorang diri. Kalau sampai terjadi sesuatu, kesalahanku seumpama sebesar gunung. Karena itu aku harus segera berangkat. Paman Hajar Karangpandan biarlah bersama aku berangkat terlebih dahulu. Aku titip guruku Jaga Saradenta. Bagaimana paman-paman nanti menyusul aku, kupercayakan penuh penuh kepada kebijaksanaan paman-paman sekalian." Terang sekali hati Sangaji dalam keadaan gelisah luar biasa. Ia merasa seolah-olah kese-lamatan gurunya Wirapati dan Kyai Kasan Kesambi berada dalam tanggung jawabnya. Maka tanpa menunggu persetujuan lagi, ia melesat terbang bagai garuda. Ki Hajar Karangpandanpun segera me-nyusulnya. Tiga belas tahun yang lalu kecepatannya berlari, pernah mengejutkan Wirapati sewaktu dia mengejar orang-orang Banyumas. Kali inipun demikian. Dengan dibarengi suara ilmu sakti—guntur sajuta ia melayang-layang secepat kilat. Itulah sebabnya, sebentar saja kedua orang sakti itu telah lenyap dari penglihatan orang. Sampai matahari condong ke barat, mereka terus berlari-lari kencang. Mula-mula Ki Hajar Karangpandan dapat mengimbangi. Tetapi lambat laun tenaganya mulai mengempes. Maklumlah, umurnya kini bukanlah seumur tiga belas tahun yang lalu. Meskipun ilmu saktinya kian tinggi, tetapi daya tahan tenaga jasmaninya tidaklah sesegar masa muda. Diam-diam Sangaji memikirkan cara penge-jaran itu. Kalau harus berlari-larian terus-menerus jangan-jangan tenaganya akan kurang sewaktu menghadapi hal-hal yang penting. Dia sendiri tak usah khawatir. Tetapi bagaimana halnya Ki Hajar Karangpandan? Karena itu dia berkata kepada Ki Hajar Karangpandan minta pertimbangan. "Paman! Bagaimana kalau kita membeli dua ekor kuda di depan sana?" Sesungguhnya Ki Hajar Karangpanpun mempunyai pikiran demikian, hanya saja tak enak untuk dinyatakan maka segera menyahut, "Anakku Sangaji! Untuk tawar-menawar membeli dua ekor terlalu membuang-buang waktu. Mari kita mencari jalan lain." Tak lama kemudian, secara kebetulan mereka melihat satu pasukan kompeni sedang meronda. Tanpa berbicara lagi Ki Hajar Karangpandan terus melompat maju dan sekali menjambret dua penunggang kuda di antara mereka kena diangkatnya dan dilemparkan ke tanah. Berbareng dengan itu ia berteriak, "Anakku Sangaji! Naik!" Sangaji berbimbang-bimbang terhadap kompeni dia tak mempunyai permusuhan. Karena itu perbuatan Ki Hajar Karangpandan dianggapnya sebagai suatu perbuatan kurang pantas. Pakartinya tak ubahnya sebagai seorang penyamun. Tetapi Ki Hajar Karangpandan lantas saja sudah berteriak nyaring. "Untuk suatu urusan besar janganlah engkau disibukkan pertimbangan-pertimbangan te-tek-bengek. Disini bukan tempat pesantren atau surau, tempat berkhotbah dan menimbang-nimbang baik-buruknya suatu pakarti. Ayo... kau tunggu apa lagi?" Sambil berbicara Ki Hajar Karangpandan merabu lainnya. Mereka boleh bersenjata senapan, tapi kena dirabu Ki Hajar Karangpandan yang dapat bergerak cepat, mereka semua mati kutu. Belum lagi tangannya berkesempatan menarik pelatuk, tahu-tahu tubuhnya telah terpelanting jatuh dari atas pelananya. Setelah menjatuhkan mereka, Ki Hajar Karnagpandan melompat menunggang kudanya. Sangajipun tanpa disadarinya sendiri naik pula ke punggung kuda. Belum lagi menarik kendali, mendadak ia diserang beramai-ramai. Secara wajar tangannya mengibas mempertahankan diri. Celakalah mereka yang kena tenaga saktinya. Tiba-tiba saja mereka terpental beberapa puluh meter dan jatuh bergedebrukan ke tanah. Seorang sersan yang bangun tertatih-tatih memaki-maki kalang kabut dan berteriak, "Hai! Kamu bandit-bandit dari mana?" Sangaji tak mau melibatkan diri terlalu lama. Bersama Ki Hajar Karangpandan ia keprak kudanya kencang-kencang menuju ke barat. Keruan saja sersan itu berteriak-teriak seperti babi terjepit. Tak lama kemudian daerah pegunungan Gunung Damar sudah nampak di depan hidungnya. Sekonyong-konyong dua sosok bayangan berkelebat di depannya. Tahu-tahu dua orang berdiri merintang di tengah jalan. Itulah dua orang pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Tak jauh dari mereka beberapa prajurit yang mengenakan pakaian serba putih berbaris di seberang menyeberang jalan. Sangaji lantas saja teringat kepada anak buah sang Dewaresi. "Minggir!" bentak Ki Hajar Karangpandan. Terus ia mengayunkan cemetinya ke pinggang orang sambil mengeprak kudanya. Salah seorang dari mereka menangkis sabetan itu dengan tongkatnya. Dan yang lain segera menyerbu masuk. Karena kaget, kuda Ki Hajar Karangpandan berjingkrak berdiri tegak. Pada saat itu barisan serba putih melompat berbareng dengan gesit. Melihat gerakan mereka, Ki Hajar Karangpandan tertawa terbahak-bahak. Berkata lantang kepada Sangaji, "Anakku Sangaji! Kau boleh terus melanjutkan perjalanan. Biarlah kawanan cacing ini aku bereskan sendiri." Melihat mereka bertujuan hendak merintangi bala bantuan yang mungkin datang ke Gunung Damar, terang sekali maksud mereka amat keji. Benar-benar padepokan Gunung Damar dalam keadaan bahaya. Sangaji mengenal ilmu sakti Ki Hajar Karangpandan. Untuk melayani mereka meskipun tidak gampang-gampang menang, tetapi tak bakal kena dikalahkan. Oleh pertimbangan demikian, ia melecut kudanya.
Dengan gagah ia menerjang dan terus terbang sekencang-kencangnya. Tetapi dua pendekar undangan Pangeran Bumi Gede bukanlah pula pendekar murahan. Sekonyong-konyong mereka melesat melompat dan menyabetkan senjatanya. Sangaji membungkuk miring. Ia papaki senjata mereka dengan satu kibasan. Cepat luar biasa ia merampasnya dan menimpukkan kembali. Seketika itu juga terdengarlah suatu jerit melengking. Mereka kena senjatanya sendiri. Kedua kaki mereka patah dengan berbareng dan roboh terjengkang di atas tanah. Sebenarnya Sangaji tiada bermaksud hendak melukai mereka. Hanya khawatir kalau Ki Hajar Karangpandan terlalu banyak menghadapi lawan, maka sebelum meninggalkannya ia membantu merobohkan dua lawan yang paling kuat. Dengan demikian, keadaan Ki Hajar Karangpandan tak perlu dikhawatirkan lagi. Gunung Damar terletak di Karesidenan Kedu. Gunung itu merupakan dinding penyekat jalan Purworejo - Magelang. Letaknya di sebelah barat jalan besar, diapit dua buah sungai. Kali Jali dan Kali Bogowonto. Sangaji datang dari arah timur. Sampai di desa Karangjati ia singgah di warung. Selain hendak mengisi perut, ia bermaksud menenangkan pikirannya pula. Tapi selagi ia makan, kudanya meringkik hebat. Tahu-tahu perut kudanya kena robek sebilah belati mengkilat. Sesosok bayangan berkelebat lewat. Terang sekali, musuh sudah mengenal dirinya dan dengan sengaja membunuh kudanya. Bukan main mendongkolnya Sangaji. Sekali melompat ia berhasil mencengkeram orang itu. Terus saja ia banting ke tanah dengan hati gusar. Karena tiada berkuda lagi, terpaksalah ia melanjutkan perjalanan. Untunglah, Gunung Damar tidak terlalu jauh lagi. Soalnya kini, ia harus bersikap waspada dan berhati-hati. Oleh pengalamannya tadi, nyatalah bahwa padepokan Gunung Damar sudah terkepung rapat. Namun diam-diam ia heran, karena bayangan pasukan besar-besaran tidak nampak. Apakah Pangeran Bumi Gede hanya mengirimkan beberapa puluh pendekar undangannya belaka? Di depannya terbentang Kali Bogowonto. Dan baru saja ia menyeberangi, sekonyong-konyong melompatlah beberapa orang dari gerombolan alang-alang. Terang sekali mereka hendak mencegat perjalanannya. Dengan mengumpulkan semangat ia melompat. Tak ubah sebatang panah, tubuhnya berkelebat melewati mereka. Orang itu mengucak-ucak matanya. Mereka merasa heran. Apakah salah melihat? Tadi seperti melihat manusia menyeberangi kali. Kini mendadak lenyap entah ke mana. DI SEBERANG JALAN, penjagaan kian menjadi keras. Sangaji segera menggunakan ilmu saktinya. Dengan matanya yang tajam ia menjelajahkan matanya. Dan beberapa kali kakinya menjejak tanah, terbang melewati gerombolan manusia yang bersembunyi di bawah pohon, di balik batu-batu atau mendekam di bawah rumput dan alang-alang. Setelah memasuki lereng pegunungan, tak berani lagi Sangaji berjalan di atas tanah. Terus saja ia melompat ke pohon dan kalau perlu bersembunyi di dalam mahkota daunnya, la bersikap sangat berhati-hati dan berwaspada. Saban-saban ia melompat dari dahan ke dahan sambil memperhatikan keadaan seberang menyeberang. Ia sadar, bahwa musuhnya sangat licin, pandai dan tangguh. Tak lama kemudian, ia telah melihat suatu pertempuran berkelompok. Dengan selintasan saja tahulah dia, bahwa cantrik-cantrik Gunung Damar mencoba menahan serbuan gelap itu. Tentu saja mereka bukan tandingnya anak buah Kebo Bangah dan para pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Sebentar saja mereka kena terpukul mundur. Rantai pertahanan mereka kacau-balau dan akhirnya berantakan. Tanpa mengeluarkan bunyi sedikitpun, Sangaji mendarat di seberang gerumbul. Kemudian melompat ke atas genting. Mengendap-endap ia melangkah maju. Waktu tiba di sebuah lorong penyambung, ia mendengar suara napas tertahan-tahan. Suara napas itu datang dari balik pintu kamar. Itulah kamar gurunya Wirapati. Dan teringat nasib gurunya yang malang, hatinya terharu bukan main. Kalau menuruti kata hatinya ingin dia terus memasuki kamar untuk memeluk gurunya yang dihormati dan dicintai. Tapi mengingat kelicinan Kebo Bangah dan Pangeran Bumi Gede yang banyak tata muslihatnya ia tak berani bergerak dengan gegabah. Sekonyong-konyong ia melihat berkelebatnya seseorang. Terus saja ia meloncat sambil menyambar. Orang itu tak dapat berkutik. Bahkan melepaskan suara-nyapun tak sempat, karena Sangaji membungkam mulutnya. Pemuda itu kini memiliki ketajaman panca indera luar biasa. Begitu melihat berkelebatnya manusia, segera ia mengenal siapa dia. Itulah Wirasimin, cantrik kesayangan gurunya Wirapati. "Pak Wira! Bagaimana?" Sangaji minta keterangan dengan berbisik seraya mengurangi dekapannya. Melihat Sangaji, seleret cahaya melintas pada wajah Wirasimin. Dengan meronta ia berkata setengah girang. "Ah! Gus Aji. Mana paman-paman gurumu?" Dalam benak cantrik itu, hanya teringat kepada murid-murid Gunung Damar yang tangguh dan sakti luar biasa. Dahulu Gunung Damar pernah dikerumuni manusia-manusia tak diundang pada ulang tahun Kyai Kasan Kesambi yang ke 83 . Mereka semua kena terpukul mundur oleh murid-murid Gunung Damar. Kinipun, padepokan Gunung Damar sedang kena bencana. Celakanya, Padepokan sedang sepi. Karena itu dalam seribu kerepotannya, cantrik itu mengharap-harap kedatangan mereka. Terhadap Sangaji dia belum menaruh suatu kepercayaan besar. Maklumlah, selain masih muda belia, perkembangannya yang terakhir sama sekali belum diketahui. Sangaji sendiri adalah seorang pemuda yang berhati sederhana. Terhadap pemikiran demikian, sama sekali tak dirasukkan dalam perbendaharaan hati. Dengan senang hati ia lalu menjawab, "Tenangkan hatimu. Sebentar lagi paman-paman akan tiba di padepokan. Menghadapi bangsa kurcaci, masakan perlu menunggu beliau sekalian. Nah, di manakah Eyang Guru?" "Eyangmu kedatangan seorang tetamu. Beliau lantas pergi mengikuti tetamu itu. Entah ke mana. Lalu... lalu... padepokan mendadak jadi neraka. Mereka bangsat-bangsat tak keruan hendak membakar padepokan. Tentu saja perbuatan mereka tak bakal diizinkan para cantrik. Tanpa mengingat kekuatan sendiri, para cantrik berusaha bertahan diri." "Dan guru?" potong Sangaji. "Dia masih dalam kamarnya." "Bagus!" seru Sangaji girang. Hatinya yang mencemaskan keadaan gurunya kini tak mempunyai alasan lagi untuk beresah hati. Dengan sekali berkelebat ia membuka pintu dengan hati-hati. Terus saja ia melongok. Dan di atas sebuah dipan dilihatnya gurunya menggeletak tak berkutik. Seluruh tubuhnya terbebat rapat-rapat. Hal itu membuktikan, bahwa eyang gurunya mencoba mengobati sebisa- bisanya. Sementara paman-paman gurunya berusaha mencari obat pemunah racun yang mengeram dalam tubuh gurunya. "Guru!" bisik Sangaji dengan hati terharu. Terus saja ia mendeprok  di tanah. "Demi untukku, Guru berkorban dan mengorbankan semuanya. Budi Guru setinggi gunung." Teringat kepada obat pemunah racun, ia meraba-raba kantungnya. Mendadak teringat pulalah dia, bahwa obat pemunah racun serta obat penyambung tulang berada di tangan paman-paman gurunya, la jadi termangu-mangu karena tak dapat melakukan sesuatu. Selagi dalam keadaan demikian, tiba-tiba ter-dengar suara bergelora di paseban. "Kalau tua bangka Kyai Kasan Kesambi yang sok agung-agungan bersembunyi seperti kura-kura, biarlah kita sembelih anak cucu muridnya dan para cantriknya dahulu. Aku kepengin melihat, apakah dia tetap tak berani keluar..." Suara itu bukan main kerasnya sampai atap pun ikut tergetar. Dan Wirasimin gemetaran. Hatinya jadi ciut dan nyaris berputus asa. Kemudian terdengar suara lagi yang bernada seperti burung betet. "Bagus! Tapi lebih baik kita bakar dahulu padepokan ini! Masakan akan kasep menyembelih babi-babi ini." "Bagaimana kalau tua bangka Kyai Kasan Kesambi ikut terbakar. Bukankah sayang? Mestinya kita harus menawannya dahulu. Lalu kita seret dia keluar. Kita pertunjukkan dia dahulu kepada semua golongan dan aliran orang-orang berilmu, agar mereka mengenal tampangnya." Jarak antara paseban dan kamar Wirapati, tidaklah jauh. Tetapi mereka berbicara sangat lantang dan kasar. Agaknya sengaja hendak memamerkan kehebatan tenaga saktinya. Tentu saja betapa sederhana hati Sangaji, mendengar nama eyang gurunya direndahkan demikian rupa jadi bergusar. Wirapati yang nampak tak berkutik di atas amben, mendadak saja terdengar menghela napas. "Hm. Coba ingin kulihat siapa mereka itu!" dengus Sangaji dalam dadanya. Terus saja ia melesat keluar kamar dengan gesit. Dan menyaksikan kegesitan Sangaji, Wirasimin yang belum menaruh kepercayaan kepadanya, terkesiap hatinya. Suatu kegirangan yang tak diketahuinya sendiri dari mana datangnya, membersit dalam lubuk hatinya. Terus saja ia ikut keluar dengan dada berdebar-debar. Paseban ternyata sudah penuh dengan manusia. Kurang lebih dua tiga ratus orang. Sangaji terus memasuki ruang paseban dengan langkah tenang. Tiba-tiba ia melihat dua orang berpakaian merah darah. Lantas saja teringatlah dia kepada keterangan Fatimah. Segera ia menduga, bahwa mereka inilah yang menganiaya gadis itu. Namun ia masih bersangsi. Melihat keluarnya Sangaji, dua orang itu jadi terheran-heran. Yang tinggi besar lalu berkata, "Manakah tua bangka Kasan Kesambi?" "Hm... untuk menghadapi bangsa cecurut seperti kalian, masakan perlu eyang guruku sampai bersusah-susah turun tangan. Aku cucu muridnya rasanya cukup menghadapi kalian." "Siapa kau?" bentak yang pendek kecil. "Aku Keyong buntet tak biasa menghadapi penghinaan begini. Apalagi adikku Maesasura ini. Dia paling benci kepada seorang pemuda yang bermulut besar dan menjual tampang." "Kalau benar demikian, alangkah menghe-rankan bahwa kalian yang mengaku diri golongan terhormat sampai hati menganiaya seorang gadis!" sahut Sangaji untung-untungan untuk mencari kepastian. Mendengar ucapan Sangaji, wajah mereka mendadak berubah hebat. Maesasura terus menggerung, sedang Keyongbuntet tertawa berkakakan dengan sekonyong-konyong. "Gadis tiada harganya dalam percaturan hidup ini, apa perlu dibicarakan di sini?" kata Keyongbuntet yang bisa berpikir cepat. Memang, mula-mula mereka terperanjat berbareng heran mendengar ucapan Sangaji. Dari manakah pemuda itu bisa mengetahui. Sebagai seorang pendekar yang sudah berpengalaman, lantas saja bisa menduga bahwa perbuatannya telah ketahuan. Siapa lagi yang bilang kalau bukan gadis itu sendiri. Memperoleh pikiran demikian tahulah mereka, bahwa gadis itu telah ketolongan. Diam-diam mereka menyesali diri sendiri, apa sebab gadis itu tak dibunuhnya sekali. Sebaliknya mendengar pengakuan Keyong-buntet, darah Sangaji meluap nyaris tak ter-kendalikan lagi. Dengan pandang berapi-api ia menatap mereka. "Hutang nyawa harus dibayar dengan nyawa pula. Malahan berikut bunganya sekali!" kata Sangaji dengan suara menggeletar menahan marah. Keyongbuntet bersikap adem. Matanya merem melek seolah-olah tak mengacuhkan kegusaran Sangaji. Dengan enak saja dia mendesak. "Kau anak kemarin sore yang banyak berlagak mau apa?" Belum lagi Sangaji menyahut, Maesasura menyambung, "Biarlah dia berlagak. Gadis itu memang gula-gulanya. Dan kalau dia sudi memperisterikan dia, ha—itulah baru cocok. Apa sih kelebihannya anak cucu murid tua bangka Kasan Kesambi? Kalau saja bininya bukan kambing, itulah sudah untung." Bukan main tajam kata-kata mereka. Sangaji yang berhati sederhana sampai tak tahan lagi mengendalikan diri. Terus saja ia menggeser kakinya, siap bertempur. Mendadak ia teringat sesuatu. Berkata tenang, "Kalian mendaki padepokan Gunung Damar bukankah bermaksud hendak merampas pusaka Bende Mataram? Nah, inilah pusaka itu!" Ia berhenti mengesankan sambil memperlihatkan Keris Kyai Tunggulmanik dan Kyai Bende Mataram. "Kalau kalian kini sudah mengetahui dengan jelas, selanjutnya per-kara pusaka ada padaku. Sekarang bagaimana?" Melihat kedua pusaka itu dengan tak ter-sangka-sangka, mereka terperanjat sampai mundur setengah langkah tanpa disadari sendiri. Yang lain-lainnya tak usah dibicarakan lagi. Mereka lantas saja berbisik-bisik ramai. "Hai bocah!" teriak Maesasura. "Kau mem-bawa-bawa kedua pusaka sakti. Apakah kau Sangaji?" "Benar. Mengapa?" Mendengar jawaban Sangaji, mendadak saja dia jadi gelisah. Keyong buntet bahkan menoleh ke belakang menebarkan mata. Mereka berdua adalah adik seperguruan pendekar Kebo Bangah. Kalau dibandingkan dengan Kebo Bangah, kegagahannya hanya kalah dua urat. Karena itu mereka jumawa. Meskipun demikian mereka kenal kegagahan murid-murid Gunung Damar. Tadi pagi mereka memperoleh keterangan, bahwa murid-murid Gunung Damar masih terkurung barisan kompeni. Menurut perhitungan, tak gampang-gampang mereka dapat meloloskan diri. Di luar dugaan, kini ia berhadapan dengan Sangaji. Bukannya mustahil, bahwa mereka-pun sudah tiba di padepokan dengan diam-diam. "Hai, bocah! Dengan seorang diri masakan kau sanggup melawan dua tiga ratus orang?" kata Maesasura. Ia licin. Ucapannya itu dimaksudkan untuk mencari kepastian apakah murid-murid Gunung Damar sudah tiba di padepokan. Sekiranya mereka benar-benar sudah berada di padepokan, diam-diam mereka bersiaga akan melihat gelagat. Sangaji adalah seorang pemuda yang jujur. Meskipun ilmu kepandaiannya kini sudah susah terukur tingginya, namun ia tak mengerti jebakan lawan. Dengan hati terbuka dia menyahut, "Untuk menghadapi kalian, masakan paman-paman guruku perlu hadir?" "Bagus!" Mereka berseru berbareng dengan girang. Meskipun pernah mendengar kegagahan Sangaji dari mulut kakak seperguruannya Kebo Bangah, mereka tak perlu berkecil hati. Pikir mereka: dia boleh gagah, tapi masakan bisa menghadapi keroyokan dua tiga ratus orang. Maka Keyong buntet lalu berkata lantang lagi, "Bocah! Kau bilang sendiri, bahwa pusaka Benda Mataram ada padamu. Dan selanjutnya urusan pusaka kau alihkan padamu pula. Baik! Mulai saat ini, biarlah tua bangka Kasan Kesambi menunda kematian-nya dahulu. Satu dua bulan lagi berurusan dengan dia, belumlah kasep. Nah, sekarang bagaimana? Kalau kau serahkan pusaka itu dengan baik-baik, kamipun mengenal kebaikan pula. Semenjak saat ini, kami akan menjaga ketenangan padepokan Gunung Damar. Kami tanggung takkan bakal ada lagi seseorang yang akan menginjakkan kakinya di sini. Sangaji diam-diam berpikir, "Bukan main banyaknya jago-jago yang berada di sini. Pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede nampak pula menyelinap di antara mereka. Hebat! Sungguh hebat pendekar Kebo Bangah. Dari mana dia bisa memperoleh jago-jago bukan sembarangan ini. Seumpama aku bisa mengalahkan beberapa orang di antaranya, pastilah mereka akan main kerubut. Agaknya susah juga menjaga keselamatan padepokan. Aku sendiri bisa meloloskan diri. Tapi bagaimana nasib guru? Eyang gurupun sampai sekarang belum jelas ke mana beliau pergi. Tetapi urusan sudah terlanjur jauh, biar bagaimana aku akan berusaha sedapat-dapatku..." Belum lagi ia mengambil keputusan, tiba-tiba terdengarlah suara tertawa riuh panjang dan seram luar biasa. Sesosok bayangan tahu-tahu telah menyelinap masuk. Gerak tubuh orang itu cepat bagaikan kilat. Dan seperti iblis, tiba-tiba saja sudah berada di belakang Maesasura. Terus menghantam dengan mendadak. Ilmu sakti Maesasura ternyata sangat hebat. Begitu merasakan kesiur angin, sadarlah dia bahwa dirinya sedang diserang dengan mendadak. Tanpa berpaling tangannya terus memapak ke belakang punggung dengan tujuan mengadu tenaga pukulan keras melawan keras. Tak terduga-duga orang yang tiba-tiba menyerang, menarik serangannya dengan cepat. Kemudian ganti mengarah •kepada Keyong buntet. Gesit luar biasa Keyong buntet berkelit seraya mengayunkan kakinya hendak membalas menendang perut lawan. Namun tahu-tahu orang itu sudah berganti sasaran lagi. Kali ini yang diserang adalah gerombolan pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Baru saja mereka hendak bergerak menangkis, sasaran serangan berganti arah lagi. Hanya sekejap saja, beruntun-runtun empat sasaran telah di-serangnya dengan mendadak dengan kecepatan yang susah dilukiskan. Meskipun serangannya tidak mengenai sasaran, tetapi terang dia mempunyai ilmu kepandaian yang susah dimengerti. Maesasura dan Keyongbuntet sadar, bahwa mereka sedang berhadapan dengan lawan tangguh. Cepat-cepat mereka mundur beberapa langkah bersiaga menghadapi kemungkinan. Orang yang menyerang dengan mendadak itu mengenakan jubah seorang pendeta. Tanpa menggubris lawan-lawannya dia terus berdiri di samping Sangaji. Ternyata dia bukan lain Ki Hajar Karangpandan, pendeta edan-edanan tapi berilmu tinggi. "Anakku Sangaji. Sebentar lagi paman-pa-manmu akan tiba," katanya lantang. Pendeta angin-anginan itu setelah menghajar perintang-perintangnya di tengah jalan, kini telah berada di padepokan dengan selamat. Memang ia sengaja berlaku sebat luar biasa dan merangsang musuh tanpa memedulikan keselamatannya sendiri untuk mengertak mereka. "Ah, engkaukah itu?" terdengar suara men-dongkol. Itulah suara Cocak Hijau dan Manyarsewu berbareng. Mereka berdua pernah bertempur mengadu kepandaian. Ilmunya setali tiga uang. Namun demikian, mereka kena dimundurkan karena diserang dengan mendadak. Keruan saja, diam-diam hatinya mendongkol. Ki Hajar Karangpandan tertawa berkakakan, katanya bergemuruh, "Ya, aku Hajar Karang-pandan. Kalian mau apa?" Mendengar Ki Hajar Karangpandan memper-kenalkan namanya, Maesasura menggeram dengan tiba-tiba. Meskipun belum kenal orang-nya, ia pernah mendengar namanya. Itulah gara-gara pusaka sakti Bende Mataram tatkala Ki Hajar Karangpandan membunuhi anak-buah sang Dewaresi tiga belas tahun yang lalu. "Hem... Hajar Karangpandan berani me-mamerkan adatnya di sini. Bagus! Inilah namanya pucuk dicinta ulam tiba. Sekali menepuk dua lalat mampus." Ki Hajar Karangpandan tertawa terkekeh-kekeh. Matanya yang berpengalaman lantas saja dapat menebak siapa dia. Terus mendamprat, "Memangnya aku manusia licik. Tapi selama hidupku belum pernah aku menganiaya seorang gadis dari angkatan muda." Dengan menggerung Maesasura melompat maju seraya membentak, "Ilmu guntur sa-juta apakah hebatnya. Biarlah aku menjajalnya." Mendengar ucapan lawan, diam-diam Ki Hajar Karangpandan terperanjat. Ilmu guntur sajuta adalah ilmu kebanggaan dan simpanannya. Jarang sekali dia menggunakan, apabila keadaan tidak memaksanya. Kini musuh mengetahui berapa ilmu simpanannya itu. Dari manakah dia mengetahui, pikirnya. Dan kalau dia begitu berani menantang ilmu simpanannya, pastilah sudah mempunyai pula pegangan kuat untuk melawannya. Memperoleh pertimbangan demikian, dia lantas bertanya, "Gajah mati meninggalkan gadingnya. Manusia mampus meninggalkan namanya. Nah, siapakah namamu?" Maesasura tertawa berkakakan. Dengan membusungkan dada terus menyahut, "Kau sudi mendengar namaku? Itulah bagus! Inilah Maesasura adik seperguruan pendekar sakti dari barat Aria Singgela." "Pantas! Pantas! Meskipun pendekar Kebo Bangah terkenal bengis dan jahat, tapi belum pernah aku mendengar ia menghina kaum muda. Sebaliknya engkau begitu enak saja menganiaya seorang gadis dari angkatan muda. Apakah perbuatan itu tidak menodai nama perguruanmu?" Diingatkan kembali tentang perbuatannya menganiaya Fatimah, Maesasura tak kuat lagi menahan marahnya. Terus saja ia membentak sambil melontarkan hantaman. Namun sedikit menggeser, Ki Hajar Karangpandan berhasil mengelak diri. Diapun lalu membalas pula. Ia tidak lantas mengeluarkan ilmu kebanggaannya guntur sajuta. Dalam hati ia bermaksud hendak menyelami dahulu ilmu kepandaian lawan. Dalam pada itu Maesasura terus mengumbar amarahnya. Dengan cepat ia menangkis sambil menyerang. Setelah beberapa jurus, serangannya makin lama makin cepat. Diam-diam Ki Hajar Karangpandan terperanjat. Terasa sekali bahwa pukulan-pukulan lawan membawa kesiur angin panas tak ubah bara. "Apakah ini yang disebut ilmu Maruta Dahana? Kabarnya ilmu itu telah lenyap dari percaturan manusia. Ternyata dia bisa menggunakan dengan baik." Dahulu dia pernah mendengar nama ilmu itu dari gurunya. Ilmu itu sangat jahat dan berbisa. Para cerdik pandai dari aliran bersih mengha-puskan ilmu itu dari ingatannya. Konon kabarnya, ilmu Maruta Dahana terjadi atas wejangan iblis kepada Warok Secadarma pada zaman Majapahit. Tak lama kemudian corak pertempuran mereka berubah. Sekarang tidak cepat lagi, tetapi kian melambat. Akhirnya seperti asal-asalan. Semua orang sadar, bahwa mereka sedang mengadu ketangguhan ilmu simpanannya masing-masing. Yang satu ilmu maruta dahana. Yang lain ilmu guntur sajuta. Pada saat itu sekonyong-konyong dari luar paseban tertebarlah suatu jala sangat besar. Jala itu berkembang di udara seolah-olah hendak menungkrap seluruh manusia yang berada di paseban. Sudah barang tentu peristiwa itu sangat mengejutkan semua yang berada di situ. Maesasura terpaksa mengelak sambil melontarkan pukulan. Hal itu berarti pula melepaskan perhatiannya kepada titik-tolak pertempuran. Kesempatan itu dipergunakan dengan sebaik-baiknya oleh Ki Hajar Karangpandan. Terus saja Ki Hajar Karangpandan memutar ke belakang dan meng-gablok Maesasura dengan ilmu guntur sajuta seketika itu juga terdengarlah suatu gemeretakan. Ternyata tulang belulang Maesasura patah berantakan. Takala itu dalam paseban bertambah seorang lagi. Dia seorang laki-laki berperawakan hitam lekam dan berkepala gede. Lalu berkata lantang, "Bagus kau Hajar! Itulah namanya bisa menggunakan kesempatan sebaik-baiknya." Ki Hajar Karangpandan tertawa riuh. Menyahut, "Otong! Terhadap manusia yang bisa berlaku kejam mematahi tulang seorang gadis, masakan perlu bersegan-segan lagi?" Ternyata yang merubah suasana pertempuran tadi adalah Otong Darmawijaya atau yang terkenal dengan nama Ki Tunjungbiru. Dia seorang pejuang Banten. Senjata andalannya berwujud sebuah jala, karena dia seorang nelayan semenjak kanak-kanak. Dengan Ki Hajar. Karangpandan pernah mengadu kepandaian sampai lima hari lima malam. Di luar dugaan, dialah penolong besar dalam menghancurkan ilmu Maruta Dahana yang merupakan pelawan ilmu guntur sajuta. Karena itu di dalam hati, diam-diam Ki Hajar Karangpandan berhutang budi kepadanya. Maesasura ternyata seorang laki-laki tangguh. Meskipun tulang sendinya kena dipatahkan, dia tak merintih. Hanya saja tenaganya sudah punah. Kakak seperguruannya Keyongbuntet lantas memapahnya dan diletakkan hati-hati di luar gelanggang. "Anakku Sangaji!" kata Ki Tunjungbiru. "Paman-pamanmu sudah sampai di kaki gunung. Karena itu menghadapi cecurut-cecu-rut macam mereka, tak perlulah beresah hati." Mendengar ucapan Ki Tunjungbiru, dalam hati Sangaji bersyukur. Dengan datangnya segenap pamannya tidaklah sukar untuk mempertahankan keselamatan padepokan Gunung Damar. Pendekar Keyongbuntet yang kemudian memasuki gelanggang sudah bersiaga. Dia seorang pendekar yang berperawakan pendek kecil. Mukanya buruk dan kering. Kepalanya botak tak berambut. Meskipun demikian ternyata dia lebih tangguh dari adik seperguruannya Maesasura. Dari ubun-ubunnya yang botak licin, tiba-tiba terlihatlah suatu uap kelabu. "Anakku Sangaji, awas!" teriak Ki Hajar Karangpandan terperanjat. "Rupanya engkaulah yang diincar. Itulah ilmu Maruta Dahana yang sudah mencapai puncaknya. Semua tubuhnya kini diliputi hawa beracun." Mendengar teriakan Ki Hajar Karangpandan, Ki Tunjungbiru menyahut: "Legakan hatimu. Kalau hanya racun saja, takkan dapat menga-pa-apakan anakku Sangaji. Kita boleh bertaruh!" Seperti diketahui, dalam tubuh Sangaji mengalir getah sakti Dewadaru. Racun betapa jahatnya di dunia ini, takkan dapat mempan. Sebaliknya Ki Hajar Karangpandan yang belum mengetahui latar belakangnya jadi gelisah. "Kau tak yakin?" kata Ki Tunjungbiru. Jangankan lagi terhadap anakku Sangaji. Akupun sanggup memapak pukulan ilmu Maruta Dahana. Boleh coba!" Setelah berkata demikian, Ki Tunjungbiru bergerak hendak memasuki gelanggang. Tetapi Sangaji mencegahnya sambil berkata tenang, "Biarlah aku yang menagih hutangnya terhadap Fatimah. Akupun tadi sudah berkata, bahwa mereka harus membayar bunganya pula." Dan mendengar ucapan Sangaji, Keyong-buntet menggerung tinggi. Gap ilmu Maruta Dahana kian lama kian menebal dan menebal. Tangannya berputaran di udara dan terus menghantam. *** WAKTU ITU DALAM PADEPOKAN TELAH TERJADI SUATU PERUBAHAN dengan cepat. Berturut-turut murid-murid Gunung Damar tiba seperti sedang berlomba. Yang terakhir adalah Jaga Saradenta dan Panembahan Tirtomoyo yang mendukung Fatimah. Dan melihat mereka, cantrik-cantrik bersorak gembira, terutama Wirasimin. Orang itu sampai berjungkir balik karena kegirangan. Sebaliknya anak buah Pangeran Bumi Gede jadi gelisah. Sedangkan begundal-begundal Maesasura dan Keyongbuntet mendongkol bukan kepalang. Diam-diam mereka merasa akan mengalami kegagalan. Cocak Hijau yang beradat berangasan lantas saja berteriak: "Keyongbuntet! Kalau kau mampu, lekaslah selesaikan bocah itu. Kalau tidak, kau bakal menghadapi keroyokan." "Monyongmu!" maki Ki Hajar Karangpandan. "Untuk menghadapi anak babi itu masakan perlu keroyokan segala. Sebaliknya kamulah yang mengandalkan tenaga banyak. Hayo, kau mau bilang apa?" Meskipun mendongkol, Cocak Hijau tak berani mengumbar adatnya. Ia kalah bukti. Keyongbuntet sendiri sudah tak menghiraukan percakapan itu. Dengan tulang-tulang bergemeletakan ia menyapu tulang rusuk Sangaji. Pikirnya, kuhantamnya sekali mampus. Masakan kulit dagingnya terdiri dari besi. la tak tahu, bahwa dalam darah Sangaji telah mengeram ilmu sakti yang sangat hebat. Jangan lagi dia, sedangkan pendekar Kebo Bangah kena dijungkir balikkan dalam mengadu tenaga. Itupun baru tenaga enam bagian. Coba waktu itu Sangaji sudah yakin benar, barangkali Kebo Bangah tinggal namanya belaka. Tetapi Sangaji tidak menyambut serangan Keyongbuntet dengan ilmu saktinya yang sangat hebat. Dalam hatinya, ia hendak menjaga nama Padepokan Gunung Damar. Karena itu teringatlah dia kepada ilmu ciptaan eyang gurunya, "Sura Dira Jayaningrat Lebur dening Pangastuti." Ilmu itu diciptakan Kyai Kasan Kesambi, tatkala dalam hati orang tua itu berderu rasa dendam menghancurkan lawan yang menganiaya muridnya Wirapati. Sebagai hasil pengendapan diri selama 12 tahun lebih. Murid-murid Kyai Kasan Kesambi sendiri belum pernah melihat corak ilmu ciptaan gurunya itu. Dahulu mereka tergesa-gesa turun gunung untuk mencari obat pemunah racun sekaligus mencari jenjak penganiaya Wirapati. Itulah sebabnya begitu melihat corak cara berkelahi Sangaji, mereka terkesiap. Dan dengan sungguh-sungguh mereka mengikuti gerak-geriknya. Sebenarnya Sangajipun belum dapat mene-mukan intisari ilmu ciptaan itu. Tetapi seperti diketahui, barang siapa sudah mencapai puncak kesempurnaan sesuatu ilmu akan dapat menyelami ilmu lainnya dengan mudah. Maka begitu melihat Keyongbuntet memukul mengarah pinggang, segera ia menyambut dengan jurus Gedong Mineb Jroning Kalbu. Itulah suatu tata berkelahi menutup diri. Gayanya seperti orang lagi menulis. Namun kedua kakinya ikut bergerak pula. Yang satu bertahan. Yang lain mengkait kaki lawan. Dan hasilnya sungguh mengagumkan. Tiba-tiba saja pukulan Keyongbuntet yang menyambar seperti kilat, punah di tengah jalan. Tenaga saktinya pudar dengan begitu saja. Kakinya kena terkait dan orangnya terus menyelonong ke depan dua langkah. Keruan saja semua yang melihat ikut terperanjat dan bersuara heran atas kejadian itu. "Ranggajaya! Bagus Kempong! Dan Suryaningrat," kata Gagak Handaka. "Amat-amati dengan cermat gerakan itu. Kelak masih ada kesempatan untuk minta penjelasan Guru." Gagak Handaka berbicara dengan sung-guh-sungguh dan sama sekali tidak mempunyai maksud lain, kecuali dengan setulus-tu-lusnya hendak menganjurkan adik-adik seperguruannya untuk menekuni ilmu ciptaan gurunya. Sebaliknya mereka yang mendengar lantas saja mengerti, bahwa tata berkelahi Sangaji adalah khas ciptaan perguruan Gunung Damar. Dan melihat hebatnya ilmu Gunung Damar diam-diam mereka jadi prihatin. Keyongbuntet sendiri kaget bercampur mendongkol. Selama hidupnya baru kali ini, dia kena terseret tenaga lawan. Biasanya ia selalu mengagul-agulkan tenaga jasmaninya dan ilmu Maruta Dahana. Kebo Bangah sendiri meskipun menang dua urat, masih segan menghadapi kepandaiannya. Memikir demikian terus saja ia melontarkan serangan kilat. Sekejap saja ia menghujani dua puluh lima pukulan. Melihat betapa cepat dan hebat gempuran Keyongbuntet, mereka semua diam-diam memuji dalam hati. Benar-benar sesama perguruan pendekar sakti Kebo Bangah tidak boleh dibuat gegabah. Pantaslah perguruannya merajai seluruh wilayah Jawa Barat.
Sebaliknya Sangaji sengaja hendak menjun-jung nama baik perguruan Gunung Damar. Ia belum mau menggunakan ilmu saktinya yang sudah dikuasainya semenjak mengalami pertempuran di kubu batu. Setiap tipu dan gerakannya tetap memakai ilmu ciptaan eyang gurunya Kyai Kasan Kesambi. Dengan begitu dengan tak disengaja sesungguhnya hampir merupakan suatu adu ilmu kepandaian antara ilmu perguruan Kebo Bangah dan Gunung Damar. Tatkala sampai pada jurus empat belas, tiba-tiba Sangaji merasa seperti sudah dapat menyelami intisari letak rahasia ilmu ciptaan Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang hebat itu. Gerak-geriknya jadi lancar berwibawa. Gayanya bagus tak tercela. Dan seketika itu juga, Keyongbuntet merasa dirinya terkurung di antara kedua tangan lawan. Anehnya, dia tak sanggup mengelak, menyingkir atau melawan. Terus-menerus ia seperti terlibat. Dan akhirnya ia terpaksa mengambil suatu keputusan hendak mengadu tenaga saktinya yang terakhir. Pikirnya: "Biarlah aku menangkis dengan tangan kiri. Kemudian kuhantamnya dengan tangan kanan. Meskipun aku terluka, diapun bakal terluka pula. Masakan dia tak mempan kena bisa ilmu Maruta Dahana yang bisa membakar tubuh. Tak terduga-duga Sangaji mendadak memutar kedua tangannya, sehingga tenaga putarannya mengeluarkan kesiur angin maha dahsyat. Keyongbuntet kena dibawa berputar. Akhirnya seperti tersedot. Dia berusaha bertahan mati-matian. Dia bisa terlepas dari sedotan itu, tapi tak mampu melepaskan diri dari jaringan pusaran. Tak dikehendaki sendiri, tubuhnya berputaran kencang tak ubah sebuah gangsingan. Meskipun akhirnya dia bisa bertahan setelah mengeluarkan segenap tenaganya, namun jelas sekali bahwa dirinya merupakan sebuah boneka permainan belaka bagi Sangaji. Maka bersoraklah cantrik-cantrik dan anak cucu murid Gunung Damar menyaksikan pe-ristiwa itu. Suryaningrat murid Kyai Kasan Kesambi kelima yang masih berdarah muda, terus saja berseru nyaring. "Tak kusangka ilmu ciptaan Guru begini hebat dan sakti! Aku ingin tahu, dia bisa berbuat apa?" "Bisa berbuat apa? Dia sudah berbuat hebat. Berputar seperti gangsingan!" sahut Ki Hajar Karangpandan dengan tertawa berkakakan. Mendengar olok-olok itu, Keyongbuntet bergusar setengah mati. Wajahnya merah padam. Mendadak terus menubruk dan menghujani pukulan dengan gerakan-gerakan kilat. Gerak-geriknya berubah-ubah. Kepalan, telapak tangan dan tutukan jari bekerja sangat cepat dan susah diduga-duga. Dasar Sangaji belum memahami ilmu ciptaan eyang gurunya dengan masak, maka ia masih bersangsi. Dengan dihujani pukulan begitu hebat, hatinya goyang. Tahu-tahu ujung bajunya kena sambar sehingga robek. Cepat-cepat ia melompat mundur. Tetapi Keyongbuntet terus memburu. Maka terpaksalah Sangaji mundur terus-menerus sambil mengelak. Kemudian berpikir, kalau terus-terusan main mundur sambil mengadu kecepatan bergerak saja, bukankah aku akan men-jatuhkan pamor perguruan Gunung Damar? Ilmu ciptaan Eyang Guru memang belum kupahami benar. Tapi masakan aku kalah tenaga dengan dia? Semalam aku berhasil mementalkan tenaga pukulan pendekar Kebo Bangah. Mustahil aku tak tahan menerima pukulan ilmunya yang diandalkan Memperoleh pikiran demikian, Sangaji segera membalikkan tangan dan segera hendak memapak pukulan lawan. Berbareng dengan itu, dia berkata nyaring: "Fatimah! Apakah orang ini yang menganiaya engkau?" Fatimah sudah semenjak tadi berada di paseban di samping Panembahan Tirtomoyo. Melihat Keyongbuntet, pandang matanya berapi-api. Karena itu, begitu mendengar pertanyaan Sangaji terus menyahut, "Bocah tolol! Masakan bertanya lagi? Itulah dia! Dan jangan lupakan si bangkotan pula yang menggeletak itu!" "Baiklah! Nah—lihat! Biarlah dia membayar pulang hutangnya bersama bunganya sekali..." Sangaji sudah mempunyai pegangan kuat. Kalau Kebo Bangah saja bisa terpental jungkir balik hanya kena benturan tenaganya enam bagian, apalagi kalau dikerahkan dengan sepenuh-penuhnya. Dan terhadap manusia keji ini, perlukah dia sungkan-sungkan lagi? Terus ia mengerahkan segenap tenaganya. Pada waktu itu, dengan gemas Keyongbuntet menyerang dahsyat. Maklumlah, dia merasa direndahkan. Tetapi hebat akibatnya. Kedua lengannya terdengar gemeretak. Tahu-tahu remuk tak berwujud lagi. Tubuhnya terpental menghantam adik seperguruannya Maesasura. Dan kedua-duanya terbang melayang jauh melintasi paseban. Kaki mereka menghantam pohon dan patah menjadi empat. Kemudian jatuh bergedebrukan di tanah tanpa berkutik lagi. Selama hidupnya, Sangaji belum pernah berlaku kejam terhadap lawan-lawannya meski betapa kejampun. Kalau ia mengerahkan segenap tenaganya tujuannya hendak menolak hawa beracun lawan. Kemudian akan menggempurnya, selintasan untuk menghajar adatnya yang bengis dan keji, agar tak semena-mena lagi menganiaya seorang gadis tak berdosa. Di luar dugaannya, ternyata tenaga jasmaninya luar biasa hebat. Benar dia pernah mencobanya tatkala menyusun kubu pertahanan, tetapi semenjak keluar benteng baru kali itulah dia menggunakan sepenuhnya untuk menghadapi lawan. Dan begitu melihat penderitaan lawan, hatinya yang mulia jadi iba. Segera ia hendak melompat menghampiri. Mendadak dari dalam paseban terdengarlah suara seperti gembreng pecah. "Nah kau lihat sendiri hai tua bangka! Dia mengaku sebagai anak cucu muridmu. Nyatanya dia jauh lebih hebat dari ilmu kepandaianmu sendiri. Kau sekarang mau bilang apa?" Itulah suara pendekar Kebo Bangah. Ia ternyata sudah berdiri berjajar dengan Kyai Kasan Kesambi di paseban dalam. Melihat mereka berdua, Sangaji berdiri tertegun. Pada pagi hari tadi, Kebo Bangah sampai di padepokan Gunung Damar. Terus saja ia minta bertemu dengan Kyai Kasan Kesambi. Niatnya sudah tetap, hendak menculik Wirapati sebagai alat penukar kedua pusaka sakti Bende Mataram yang berada dalam tangan Sangaji. Tetapi ia licin. Sebagai seorang pendekar kawakan, dia tahu menilai ilmu kepandaian Kyai Kasan Kesambi. Terhadap orang tua itu, dia tak berani berlaku semberono. Karena itu diam-diam ia hendak melakukan akal licik, la menantang orang tua itu bertukar pikiran mengenai ilmu kepandaian di suatu tempat yang agak jauh dari padepokan. Sementara itu, ia berharap anak buahnya dan pasukan Pangeran Bumi Gede menggerebek pade-pokan Gunung Damar pada siang hari dan terus menculik Wirapati. Tetapi akal liciknya ini tak gampang-gampang dapat dilaksanakan. Kyai Kasan Kesambi ternyata bukan lagi hidup sebagai seorang pendekar, la sudah menjadi seorang pendeta sampai kebulu-bulunya. Terhadap segala tetek bengek mengenai urusan keduniawian sudah tak sudi menghiraukan lagi. Maka cepat-cepat ia berganti arah. Terus saja ia membicarakan tentang ragam ilmu kepandaian di dunia ini, dengan tak berkepu-tusan. Sekali-kali ia sengaja memberi peluang kepada Kebo Bangah untuk minta pendapatnya, pertimbangannya dan petunjuk-petunjuknya, la memang seorang pendekar yang gila terhadap macam ilmu kepandaian di dunia ini. Pengetahuannya luas dan banyak akalnya pula. Itulah sebabnya meskipun lamban lambat-laun ia berhasil menarik perhatian Kyai Kasan Kesambi. Akhirnya minta agar Kyai Kasan Kesambi sudi melihat dan menilai ilmu kepandaiannya yang sudah ditekuni selama dua puluh tahun. Dahulu dia pernah kalah seurat melawan ilmu kepandaian Kyai Kasan Kesambi. Sekarang ia berbalik hendak menebus kekalahannya itu. Dan untuk memperli-hatkan ilmu saktinya itu, dia minta suatu tempat yang memencil. Kyai Kasan Kesambi meluluskan. Dan demikianlah, maka mereka berdua meninggalkan padepokan Gunung Damar menjelang tengah hari. Meskipun Kyai Kasan Kesambi kenal kelicinan Kebo Bangah, tapi ia tak menduga buruk. Dia hanya bersikap hati-hati dan berwaspada. Kebo Bangah sendiri bisa membawa diri. Dia bukan goblok pula. Setelah meninggalkan padepokan Gunung Damar cukup jauh, ia segera mengeluarkan semua kepandaiannya. Ia tak berani mengurangi sejuruspun. Sebab main akal di depan Kyai Kasan Kesambi tidaklah guna. Segera kecurangannya akan ketahuan. Tua bangka ini bukan main tajam matanya. Kalau sampai terbangkit rasa curiganya, urusan penculikan ini bisa gagal. Dia bersikap se-olah-olah tak sudi mengetahui urusan dunia. Tapi mengapa menerima lima orang murid? Diam-diam Kebo Bangah menimbang-nimbang dalam hati. Biarlah kucobanya. Kalau kuserang dia tak mau menangkis, itulah namanya mencari mampusnya sendiri. Setelah berpikir demikian, mendadak saja dia terus menyerang Kyai Kasan Kesambi dengan segenap tenaganya. Untung, jauh-jauh Kyai Kasan Kesambi sudah bersikap hati-hati dan berwaspada. Melihat mata orang, segera ia bersiaga. Begitu serangan Kebo Bangah tiba, ia memapakinya. Hebat akibatnya. Kedua-duanya mental dua langkah. Hanya saja Kyai Kasan Kesambi tetap berdiri tegak, sedang Kebo Bangah perlu berjungkir balik untuk memunahkan tenaga sendiri yang terkirim balik. Di sini ternyatalah, bahwa Kyai Kasan Kesambi betapapun juga menang tangguh. Dia tadi belum siap benar. Sebaliknya Kebo Bangah melakukan penyerangan dengan sadar. Meskipun demikian dia tak tergoyahkan. "Bagus! Kau tua bangka. Akhirnya ketahuan juga. Kau cuma bilang di mulut. Buktinya kau masih menyayangi nyawamu yang sudah bangkotan!" seru Kebo Bangah dengan tertawa riuh. Kyai Kasan Kesambi bersikap tenang-tenang. Dia hanya tersenyum menghadapi kekasaran Kebo Bangah. Ia tahu, lawannya bukan pendekar sembarangan. Dua puluh tahun yang lalu dia pernah mengadu kepandaian sampai berhari-hari lamanya. Untuk menghadapi dia, jauh-jauh ia sudah bersiaga. Ia tahu, ilmu kebanggaan Kebo Bangah bernama Kala Lodra. Untuk menghadapi ilmu Kala Lodra yang tangguh, ia sudah mempunyai jurus-jurus pemunahnya. Yakni Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti dengan dasar tenaga Pancawara yang dahsyat. Ilmu ciptaannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk menghadapi pendekar Kebo Bangah dan Adipati Surengpati. Kedua pendekar itu bengis, licin dan serba pandai. Kemudian secara kebetulan Sangaji mewarisinya. Meskipun belum sempurna, ia menduga pendekar Kebo Bangah sudah pernah melihatnya. Kalau tidak, masakan dia sampai naik padepokan Gunung Damar dan menantang mengadu ilmu kepandaian, pikirnya. "Kebo Bangah! Makin bertambah umur, rasanya makin runyam jalan pikiranku. Ciptaanku itu luar biasa jelek. Entah ada gunanya atau tidak untuk kautekuni," kata Kyai Kasan Kesambi dengan sabar. Terhadap Kyai Kasan Kesambi, Kebo Bangah tak perlu putar lidah, terus saja tertawa terbahak-bahak sambil menyahut, "Hai— apakah benar itu ciptaanmu? Aku belum pernah mencoba." Sehabis berkata demikian, langsung ia menyerang lagi dengan ilmu Kala Lodra yang sudah disempurnakan. Kedua orang itu dahulu pernah mengadu ilmu kepandaian sampai sepuluh hari lamanya. Kini mereka bertempur lagi setelah saling menekuni ilmunya masing-masing selama dua puluh tahun lebih. Masing-masing memperoleh kemajuannya sendiri. Karena itu tidaklah gampang-gampang dapat diputuskan siapakah yang lebih unggul dalam satu dua hari saja. Dan apabila dua harimau sedang bertarung, tidakkan selesai sebelum salah satu mati atau setidak-tidaknya terluka parah. Untung, Kebo Bangah tidak bermaksud untuk mengadu kepandaian dengan sungguh-sungguh. Begitu matahari sudah merangkak-rangkak mendekati petang hari, ia melompat ke luar gelanggang. Ia menduga, anak buahnya dan pasukan Pangeran Bumi Gede sudah berhasil menculik Wirapati. Dasar ia banyak akal dan licin, maka wajahnya sama sekali tak memperlihatkan suatu perubahan. Bahkan dengan tertawa berkakakan ia berkata, "Kau tua bangka, makin tua makin hebat! Namun, kalau jurusmu itu benar-benar hasil ciptaanmu, mengapa anak cucu muridmu lebih hebat dari kau sendiri." Kyai Kasan Kesambi tak mau terjebak. Segera menyahut, "Apa kubilang tadi. Bukankah ilmuku tiada gunanya untuk kautekuni?" Kebo Bangah tercengang. Ia memang berbicara dengan sebenarnya. Semalam ia kena pukul Sangaji. Teringat akan tenaga Sangaji yang hebat, bulu kuduknya meng-geridik. Tadi agaknya, Kyai Kasan Kesambi tak begitu menaruh perhatian. Dengan kenyataan itu teranglah, bahwa tenaga sakti Sangaji benar-benar diperolehnya bukan dari ajaran ilmu Gunung Damar. Teringat akan kedua pusaka sakti warisan, hatinya mendadak terguncang hebat. "Tua bangka! Aku berkata dengan sebenarnya. Aku tahu, jurusmu hebat. Aku tahu pula kau belum menggunakan ilmu saktimu Pancawara. Kalau sudah... hm... aku Kebo Bangah betapa bisa bertahan lebih lama lagi." Sekali lagi Kebo Bangah berkata dengan setulus hati. Tapi dasar ia terkenal licin dan banyak akal, maka Kyai Kasn Kesambi hanya tersenyum belaka. Menyahut, "Kau mengenal ilmu Pancawara, itulah bagus." "Betapa tidak? Aku pernah menyaksikan dengan mata kepala sendiri, sewaktu muridmu yang tertua mengadu tenaga dengan Adipati Surengpati. Bukan main tangguhnya ilmu itu, sampai Adipati Surengpati jadi prihatin." Mendengar keterangan Kebo Bangah, dalam hati Kyai Kasan Kesambi terperanjat. Meskipun dia seorang pertapa yang sudah sampai pada tataran bebas dan tiada terikat oleh semua bentuk masalah dunia, namun karena hubungan dengan muridnya bagai darah daging sendiri, tak urung ia cemas mendengar kabar tentang adu tenaga sakti antara Gagak Handaka melawan Adipati Surengpati. Dengan menguasai diri ia mencoba minta penjelasan. "Hm... Pancawara betapa bisa dimainkan oleh seorang untuk menghadapi Adipati Surengpati." "Kalau begitu, benar-benar hebat ilmu saktimu Pancawara," sahut Kebo bangah tak kalah cerdik. Sebagai seorang licin tahulah dia, bahwa hati Kyai Kasan Kesambi kena terguncang oleh kata-katanya. Teringat kepada rencana kepergiannya ke padepokan Gunung Damar, tak mau dia lama-lama terlibat persoalan dengan orang tua itu. Maka dengan perlahan-lahan ia kembali mengarah ke padepokan. Kemudian berbicara lancar. "Meskipun muridmu kalah ulet, tapi Adipati Surengpati tak mau gegabah. Dalam hati ia mengakui keunggulanmu." Kyai Kasan Kesambi tertawa perlahan, la sadar akan kelicinan lawan. Berkata, "Hebat! Engkau sampai bisa membaca hati orang." Kebo Bangah tertawa berkakakan. Sadar akan kecerobohannya, cepat-cepat ia mengalihkan pembicaraan. 'Tetapi selama hidupku... baru kali ini aku mengakui ketangguhan seorang. Itulah cucu muridmu sendiri. Hm... tak kusangka ia berani mengadu pukulan dengan aku. Dan hasilnya aku bisa dijungkir-balikkan." "Eh, masakan begitu. Kalau benar, mestinya engkau tak kan sampai di sini," Kyai Kasan Kesambi bersangsi. Kebo Bangah tak menyahut. Ia mempercepat larinya. Dan Kyai Kasan Kesambi menjaja-rinya. Makin lama lari Kebo Bangah makin cepat. Dalam hati ia hendak menguji kegesitan orang tua itu. Dahulu Kyai Kasan Kesambi terkenal kecepatan larinya. Kinipun ternyata tak kurang tenaganya. Bahkan terasa kian jadi masak. Langkahnya seperti ayal-ayalan. Tetapi cepatnya luar biasa. Itulah sebabnya seolah sekejap mata mereka berdua sampai di padepokan. Mendadak saja terdengarlah suatu kesibukan. Kedua-duanya terkejut dan masing-masing mempunyai kesan sendiri. Kebo Bangah yang mempunyai maksud buruk, segera bersiaga menghadapi segala kemungkinan. Sebagai seorang yang berpengalaman, tahulah dia bahwa rencananya tak berjalan dengan lancar. Dalam hati, ia mengutuk pasukan Pangeran Bumi Gede dan anak buahnya sendiri. Kenapa begini terlambat, pikirnya. Dia tak tahu, bahwa mereka terlalu berhati-hati sewaktu hendak mendaki Gunung Damar. Hampir sehari penuh, mereka sibuk mengatur penjagaan. Kecuali untuk merintangi bala bantuan, tujuannya untuk membendung arah larinya Kyai Kasan Kesambi pula. Kemungkinan Kyai Kasan Kesambi melarikan diri tidak perlu disangsikan lagi. Sebab meskipun gagah, masakan tahan menghadapi keroyokan dua tiga ratus orang. Dan apabila dia lari, pasti pula membawa Wirapati. Kyai Kasan Kesambi tak mempunyai dugaan terlalu buruk terhadap Kebo Bangah. Sekalipun dia tahu lawannya itu sangat licin, ia tak mau percaya bahwa sebagai seorang pendekar besar, Kebo Bangah akan sampai melakukan perbuatan-perbuatan rendah. Pastilah peristiwa kesibukan itu hanya secara kebetulan belaka berbareng dengan datangnya Kebo Bangah. Lalu berkata mencoba, "Sudah terlalu banyak rakyat yang tak tahu menahu urusan pemerintahan menjadi korban suatu kelaliman orang-orang tertentu. Bagaimana pendapatmu?" Kebo Bangah sangat licin. Sama sekali raut mukanya tak berubah. Dengan tenang ia men-jawab, "Aku ingin tahu pula, siapakah yang berani menghina padepokanmu." Setelah menjawab demikian, segera ia mempercepat larinya. Kyai Kasan Kesambi tak mau ketinggalan pula. Sewaktu datang di paseban, mereka melihat Sangaji sedang menyambut perlawanan musuh dengan ilmu Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti ciptaan Kyai Kasan Kesambi. "Nah, kau tak percaya omonganku tadi?" bisik Kebo Bangah. "Tenaga cucu-muridmu lebih hebat dari tenagamu sendiri. Lihat saja nanti akhirnya!" Mereka berdua bisa bergerak dan berbicara dengan leluasa tanpa ketahuan orang. Sebab semua orang di dalam paseban menumpahkan seluruh perhatiannya kepada pertempuran itu. Mendadak saja—setelah mengelak mundur —Sangaji berhasil menggempur Keyongbuntet sampai terpental keluar paseban. Dalam hati, Kebo Bangah tergetar melihat adik seperguru-annya runtuh di depan hidungnya. Tetapi Kyai Kasan Kesambi seolah-olah tidak memperhatikan peristiwa itu. Dahinya nampak ber-kerenyit. Dengan pandang seolah-olah tak mempercayai penglihatannya sendiri, dia menegur Kebo Bangah. "Bukankah itu adik seperguruanmu? Ah! Aku memang sudah pikun. Mengapa kau tak berkata terang-terangan di hadapanku." Kyai Kasan Kesambi adalah seorang pertapa yang sudah menyekap diri berpuluh-puluh tahun lamanya. Kata-kata demikian sudahlah merupakan ucapan sangat tajam penuh sesal. Keruan saja Kebo Bangah lantas saja menjadi sibuk. Tetapi diapun seorang pendekar besar pula. Selain sombong, angkuh, licin dan banyak akal, mempunyai kehormatan diri sangat besar. Begitu sadar bahwa kedoknya bakal terbuka, kehormatan dirinya tersinggung. Tanpa sungkan-sungkan lagi ia melompat mundur empat langkah. Dengan pandang berapi-api ia menyahut, "Siapa suruh kau mengeram dalam padepokan, siapa suruh anak cucu muridmu memiliki pusaka Bende Mataram segala. Memang aku datang untuk itu. Kau mau apa?" Mendengar ucapan Kebo Bangah, Kyai Kasan Kesambi sangat prihatin. Hatinya penuh sesal dan pedih. Karena tak biasa ia beradu ketajaman lidah, ia lantas tertawa perlahan-lahan. Namun pandang matanya berkilat-kilat. Gagak Handaka dan segenap adik sepergu-ruannya tahu, bahwa gurunya sedang bergulat melawan puncak kegusaran. Karena itu serentak ia membentak tajam. "Sungguh tak kami duga-duga, bahwa seorang pendekar besar bisa berlaku begini licik. Sebagai seorang ksatria mengapa tak berani terang-terangan memperlihatkan dadanya. Gagal atau berhasil bukankah soal lumrah dalam suatu tujuan?" "Kau anak kemarin sore menjual obrolan apa di hadapanku?" Kebo Bangah membalas membentak. Terus saja ia melesat sambil mengirim pukulan. Semua yang hadir di padepokan Gunung Damar tahu, bahwa tenaga Kebo Bangah tak boleh dibuat gegabah. Tenaga pukulannya bisa menghancurkan batu gunung setinggi rumah. Karena itu, sekalian murid Kyai Kasan Kesambi terkejut. Cepat-cepat mereka senyibak dan mengelakkan pukulan Kebo Bangah dengan bergulungan di lantai. Tiba-tiba saja nampaklah sesosok bayangan memapak pukulan itu. Plak! Waktu itu hari sudah gelap. Samar-samar Kyai Kasan Kesambi mengenal bayangan yang memapak pukulan Kebo Bangah. Itulah anak cucu muridnya Sangaji. Hatinya tercekat. Di luar kemauannya sendiri ia sampai bersuara kaget. Di dunia ini siapakah yang mampu menahan pukulan Kebo Bangah yang sedang mengumbar amarahnya? Tapi kenyataannya sungguh di luar dugaan. Masing-masing hanya tergetar mundur dua langkah dengan tubuh bergoyangan. Kebo Bangah sudah mengambil keputusan nekat. Dia tahu, pihaknya lebih menang jumlah. Dan kalau sudah memutuskan suatu tindakan, tak mau dia setengah-tengah lagi. Terus saja ia bersiaga. Bagus Kempong yang dapat memikir jauh segera berseru kepada Suryaningrat, "Nyalakan lampu dan jagalah kakakmu Wirapati. Bukankah mereka datang untuk menculik kakakmu Wirapati agar dapat dijadikan alat penukar dua pusaka milik keponakan muridmu?" Mendengar ucapan Bagus Kempong, diam-diam Kyai Kasan Kesambi menarik napas, la menyesali diri sendiri, mengapa begitu lengah menggerayangi kelicinan Kebo Bangah. Dalam pada itu Sangaji sudah siap bertempur pula. la menarik napas dalam-dalam. Tenaga murninya lantas saja bergerak berputar. Makin lama makin cepat dan tenaga perangsangnya bukan main besar. "Aku tak percaya di dunia ini ada suatu tenaga yang bisa menahan gempuran Kala Lodra!" teriak Kebo Bangah mengguntur. Dan setelah berteriak demikian, ia melompat sambil mengayunkan tangannya. Plak! Untuk kedua kalinya mereka beradu tenaga. Kini selisih tenaga masing-masing nampak jelas. Waktu itu lampu telah dinyalakan terang benderang. Kebo Bangah tergempur mundur dua langkah, sedang Sangaji masih berdiri tegak bagaikan batu karang. Sama sekali ia tak tergoyahkan. Keruan saja Kebo Bangah bertambah gusar sampai matanya melotot. "Kau tak bergeming? Bagus!" serunya garang. "Tapi jangan cepat-cepat berbesar hati, Kala Lodra bukan ilmu picisan. Sambutlah sekali lagi!" Benar-benar Kebo Bangah mengerahkan seluruh tenaga saktinya. Tulang belulangnya terdengar berpele-takan. Jangan lagi murid-murid Kyai Kasan Kesambi bahkan Kyai Kasan Kesambi sendiri terperanjat pula. Bagus Kempong tak kuat lagi menahan keguncangan hatinya, terus ber-teriak memperingatkan Sangaji. "Aji! Turun ta-ngan dahulu sebelum dia berhasil menghimpun tenaga!" Sangaji mengangguk sambil melangkah maju. Tetapi dia tak menyerang. Ia tunggu gerakan lawan dan begitu melihat Kebo Bangah berjongkok sambil mengangkat tangannya. Cepat-cepat ia menarik napas dalam-dalam. Hawa murninya segera bergolak. Kedua tangannya terus menapak. Suatu tenaga benturan bagaikan gugurnya sebuah gunung terdengar meledak: Blaaang! Pada saat itu terdengarlah jerit Kebo Bangah. Tubuhnya terpental seperti sebuah peluru batu terlepas dari sebuah bandringan raksasa. Tubuhnya menumbuk tiang dan terus menjebol dinding. Seketika itu juga gemuruhlah suara dinding runtuh dan atap paseban hancur berantakan berkepingan. Selagi semua orang tercengang-cengang kaget. Tiba-tiba masuklah seorang berkulit putih lewat lubang dinding yang bobol tadi. Dia datang dengan memapah tubuh Kebo Bangah. Dan lantas berkata, "Anak tolol! Pukulanmu bukan main besar sampai aku merasa kewalahan. Kau apakan bangsat ini?" Ternyata dia adalah Gagak Seta, pendekar sakti yang berwatak angin-anginan. Diapun mendaki Gunung Damar begitu mendengar kesibukan pasukan Pangeran Bumi Gede. Seperti diketahui, dia meninggalkan gelanggang pertempuran menjelang pertarungan seru antara para pendekar melawan pasukan Pangeran Bumi Gede. Dia seumpama seekor naga, kelihatan ekornya tapi tidak kepalanya. Gerak-geriknya bebas liar, tetapi matanya tajam luar biasa. Jangan lagi tentang gerakan pasukan yang dianggapnya sebagai musuh, sedangkan seorang penjahat licinpun tidak bakal terlepas dari pengamatannya. Itulah sebabnya, menguntit perjalanan para pendekar undangan Pangeran Bumi Gede bukan merupakan suatu hal yang sulit baginya. Walaupun agak terlambat, tetapi bukannya kasep. Bahkan tepat sekali. Kalau saja tubuh Kebo Bangah tak kena disambarnya, pastilah pendekar besar itu sudah tamat riwayatnya. Ternyata Kebo Bangah hanya pingsan saja. Tubuhnya yang luar biasa kuat bisa menahan gempuran ilmu sakti Sangaji. Namun urat syarafnya kacau balau tak teratur lagi. Jalan pernapasannya jungkir balik. Itulah sebabnya, ia kehilangan kesadarannya. "Eh, tua bangka!" kata Gagak Seta kepada Kyai Kasan Kesambi sambil meletakkan tubuh Kebo Bangah di lantai. "Kau masih kelihatan segar bugar. Nampaknya kau masih sanggup hidup seratus tahun lagi." Terhadap Gagak Seta, kesan Kyai Kasan Kesambi tidak buruk. Meskipun Gagak Seta seorang pendekar edan-edanan, tetapi berwatak ksatria. Apalagi kini ada hubungannya dengan cucu muridnya. Maka dengan tersenyum seri ia menyambut. "Kaupun masih gagah juga. Kalau tidak, masakan cucu muridku bisa menjadi orang." "Eh, eh! Siapa bilang?" Gagak Seta ter-sipu-sipu. "Aku bisa mengapakan dia? Malahan akulah kelak yang harus disulapnya menjadi seorang manusia yang ada gunanya hidup dalam dunia ini." Dengan runtuhnya pendekar besar Kebo Bangah, habislah sudah kegarangan pen-dekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Apalagi kini pendekar sakti Gagak Seta yang disegani orang gagah di seluruh penjuru nusantara, datang pula. Bisa dibayangkan sudah, apabila mereka berani banyak bertingkah lagi. Maka diam-diam mereka mengundurkan diri dan lari ngacir meninggalkan gunung. Kini tinggal gerombolan anak buah Kebo Bangah belaka yang jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang. Mereka tak berani bergerak, tetapi pula tak berani meninggalkan majikannya yang masih saja kehilangan kesadarannya. "Kebo bangkotan ini memiliki ilmu bukan sembarangan," kata Gagak Seta lagi. "Meskipun kita tak usah takut, untuk meruntuhkan dalam dua tiga gebrakan adalah mustahil. Tetapi melawan tenaga sakti cucu muridmu, dia mati kutu. Nah, kau mau bilang apa? Bukankah hidup ini selalu bersemi tiada berkeputusan? Hidup ini bagaikan gelombang samudera. Yang satu disusul lainnya. Yang lebih besar dan yang lebih dahsyat. Di kemudian hari tinggal kisah tentang tulang belulang kita yang kian jadi keropos." Setelah berkata demikian, Gagak Seta tertawa mengguruh. Dan diam-diam Kyai Kasan Kesambi berpikir, bocah ini memang besar rejekinya. Dia telah menemukan suatu mustika tiada taranya dalam dunia. Tenaga saktinya luar biasa dahsyatnya. Bakatnya kuat dan pengucapan hatinya bagus pula. Hanya saja meskipun hebat, belum terhitung luar biasa. Nanti, kalau dia sudah sadar apa arti kebajikan hidup untuk bangsa dan negaranya, itulah baru luar biasa. Sedikit banyak ia bisa menyumbangkan hamemayu hayuning jagat '. Meskipun berpikir demikian, Kyai Kasan Kesambi memanggut-manggut juga. Mendadak sinar matanya yang tenang beku, berki-latan tajam. Kemudian berkata seolah-olah kepada dirinya sendiri. "Betapa banyak rakyat jelata yang sudah menjadi korban keganasan bangsa asing dan suatu kelaliman, tak terhitung jumlahnya. Justru kini kudengar, rakyat seluruh Mataram sedang bergerak menegakkan keadilan. Dan kalau kita yang tua-tua ini bisa menyumbangkan sisa hidup untuk sekedar menyiramkan darah di atas bumi pertiwi ini, bukanlah sia-sia hidup kita ini.
Orang hidup semenjak dahulu siapalah yang tidak akan mati. Dan kita sudah bekerja sebisanya. Biarlah sedikit meninggalkan semangat hidup kepada angkatan mendatang." Mendengar ucapan Kyai Kasan Kesambi, Gagak Seta terkejut sampai tergetar hatinya. Panembahan Tirtomoyo, Ki Tunjungbiru, Ki Hajar Karangpandan, Jaga Saradenta dart para pendekar muda lainnya berubah pula wajahnya. Mereka semua adalah pejuang-pejuang keadilan. Karena itu tak mengherankan, hati mereka terhanyut dalam keharuannya masing-masing.
 "Semenjak dahulu, kita yang menamakan diri orang-orang gagah, merasa takluk padamu." kata Gagak Seta. "Seumpama engkau kini lebih muda lima enam puluh tahun lagi, hari ini akan kuajak turun gunung untuk berlomba memercikkan darah yang tak berharga ini." "Itulah tak perlu," potong Kyai Kasan Kesambi. "Engkau sudah bekerja sebisa-bisamu. Nyatanya engkau berhasil menyulap cucu muridku menjadi manusia lain." "Eh, eh! Siapa bilang? Siapa bilang?" Gagak Seta menolak pemberian jasa itu untuk yang kedua kalinya. "Kalau saja anakku Sangaji bisa menjadi manusia lain sebenarnya engkaulah yang berjasa. Kau tak percaya? Lihat!" Sehabis berkata demikian, mendadak saja ia melesat menyerang Sangaji. Sudah barang tentu Sangaji yang tak menduga sama sekali akan diserang gurunya, gugup setengah mati. Kalau saja Gagak Seta berniat jahat, dia akan kena hantaman telak. Meskipun tidak akan melukai, setidak-tidaknya bakal kesakitan juga. "Hai, tolol!" damprat Gagak Seta. "Mengapa kau diam saja? Dalam dunia ini, tidak semuanya berjalan lancar. Kau harus mengenal kelicikan dan kelicinan orang. Belum tentu gurumu, sanak saudaramu dan sahabatmu sejujur detak jantungmu. Kalau kaukena serangan mendadak, bukankah baru sadar setelah engkau memasuki liang kubur? Sekarang, siaplah!" "Guru!" kata Sangaji gugup. "Bagaimana bisa aku ..." "Aku ingin menguji ilmu kepandaianmu. Bukankah engkau sudah sanggup meruntuhkan pendekar besar Kebo Bandotan?" Setelah berkata demikian, kembali Gagak Seta menyerang dengan mendadak. Secara wajar, Sangaji mengelak cepat sambil berseru gap-gap: "Guru...! Bagaimana aku..." "Bocah tolol!" Gagak Seta mendamprat lagi. "Dalam suatu adu ilmu kepandaian, siapa yang lengah dia bakal tewas." Dalam hidupnya, orang yang memanggilnya dengan istilah tolol hanyalah empat orang. Gagak Seta, Titisari, Jaga Saradenta dan Fatimah. Karena itu mendengar Gagak Seta memanggilnya dengan istilah tolol, ia tak bersakit hati. Meskipun dia kini jauh berlainan daripada dahulu. Namun panggilan itu sendiri membuat ingatannya kembali kepada pertemuannya yang pertama dengan Gagak Seta. Karena itu hatinya lemas dengan sendirinya. "Kau memang anak tolol! Apakah engkau akan membiarkan dirimu kumakan mentah-mentah? Meskipun kau kini memiliki suatu keperkasaan, bukankah engkau terdiri dari darah dan daging? Tangkislah tolol! Aku hendak mengujimu, apakah tubuhmu benar-benar lebih keras dari sebatang pohon!"
Melihat sikap gurunya dan mendengar kata-kata menguji, Sangaji seperti memperoleh sebintik cahaya. Lantas saja ia hendak mencoba pula ilmu Kumayan Jati dengan dasar tenaga sakti yang sudah diperolehnya. Maka sebentar saja mereka telah berkelahi dengan cepat. Sambaran angin mereka hebat bukan main sampai atap paseban bergoyangan. Karena itu akhirnya mereka keluar halaman. Mereka semua lantas saja ikut lari keluar. Para cantrik pontang-panting menyalakan obor dan lampu. Dengan demikian gelanggang pertempuran jadi terang benderang. Diam-diam Gagak Seta bergirang hati melihat kemajuan muridnya. Tenaganya hebat, sampai ia tak berani menangkis dengan berhadapan. Pikirnya dalam hati, benar-benar berhasil dia melebur tenaga saktinya menjadi satu. Tapi kalau aku yang dikatakan berjasa, sama sekali tidak. Setelah berpikir demikian dia berseru, "Anak tolol! Kumayan Jati berasal dariku. Betapa hebat tenagamu kini, tapi kau tak bakal bisa berbuat banyak terhadapku. Kau adalah khas cucu murid Gunung Damar. Masakan eyang gurumu tak ikut berbicara dalam membentuk dirimu?" Diingatkan demikian, Sangaji terus merubah jurusnya. Kini ia menggunakan ilmu ciptaan eyang gurunya Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti. Sewaktu memunahkan dan menangkis serangan Kebo Bangah diapun menggunakan salah satu jurusnya dibarengi dengan dasar tenaga saktinya. Tetapi aneh. Meskipun menghadapi gurunya ia tak meng-gunakan tenaga penuh, namun jurus ilmu itu sendiri sama sekali tak dapat menyentuh. Bahkan menyambar selembar bulunyapun tidak. Semua yang hadir di situ adalah para pendekar jempolan. Merekapun tadi melihat dan menyaksikan sewaktu Sangaji menggempur Kebo Bangah. Karena itu mereka heran apa sebab ilmu itu macet menghadapi Gagak Seta. Apakah Gagak Seta lebih hebat daripada Kebo Bangah? Hanya seorang belaka yang tahu apa sebabnya. Yakni, Kyai Kasan Kesambi sendiri. Seperti diketahui, ilmu ciptaan itu terjadi sewaktu melihat nasib muridnya Wirapati yang remuk tulang belulangnya oleh aniaya musuh. Meskipun tak pernah terucapkan. tetapi orang tua itu teringat kepada lawan besarnya yang sangat licik, licin dan serba pandai. Itulah Kebo Bangah dan Adipati Surengpati. Terhadap Gagak Seta, ia tak mempunyai prasangka. Sebab meskipun berwatak angin-anginan Gagak Seta adalah seorang ksatria. Itulah sebabnya, maka cip-taannya itu merupakan ilmu pemunah dan penggempur kedua lawan besarnya. Sekarang Sangaji menggunakan ilmu ciptaannya melawan Gagak Seta. Tentu saja hilanglah daya gunanya. Gagak Seta dapat bebas bergerak tanpa rintangan. Untung tenaga sakti Sangaji bukan main hebatnya dan Gagak Seta sendiri tak berniat berkelahi dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian ilmu sakti Kuma-yan Jati dan Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, tak dapat saling menyentuh. Gagak Setapun akhirnya sadar. Terus saja ia melompat ke luar gelanggang dan menghampiri Kyai Kasan Kesambi. Lalu berkata nyaring, "Terang sekali, bahwa engkaulah yang berjasa membentuk anakku Sangaji menjadi manusia lain. Kalau tidak, masakan Kebo Bangah bisa terjungkal dengan gampang. Hebat! Sungguh hebat! Memang semenjak siang-siang aku merasa takluk. Engkaulah pendekar besar utama dalam zaman ini." "Belum tentu. Buktinya ilmu ciptaanku sama sekali tak berdaya menghadapimu," sahut Kyai Kasan Kesambi tenang. Tetapi Gagak Seta menggoyang-goyangkan tangan. Mau ia berkata lagi, sekonyong-konyong terdengarlah suara tertawa bergelora. Semua yang berada di situ terperanjat sampai menoleh. Itulah Kebo Bangah yang tiba-tiba memperoleh kesadarannya kembali. "Lho! Aku ini siapa?" Kebo Bangah berteriak, Ia mengawaskan Sangaji. "Hai! Kau selama ini ke mana? Dewaresi! Kau ini memang bandel, sampai setengah mati aku mencarimu. Kau harus tahu, ini zaman perang. Kau bisa dibunuh siapa saja. Kemari!" Pandangnya berkesan luar biasa kasih. Dan setelah berkata demikian, ia melompat meng-hampiri Sangaji. Semua yang hadir segera sadar, bahwa keadaan Kebo Bangah tak wajar. Dari ucapannya yang kacau, terang sekali ia kehilangan kewarasan otaknya. Itulah akibat gempuran Sangaji. Tenaga sakti Sangaji memang benar-benar ajaib. Kehebatannya di luar perhitungan manusia. Kebo Bangah boleh sakti atau kebal, namun tak tahan menangkisnya. Meskipun kulitnya tak terlukai, tetapi jalan darahnya jadi jungkir-balik. Urat syarafnya tergetar. Dan setelah memperoleh kesadarannya kembali, ia jadi gendeng. Suatu keajaiban lagi terjadi di luar dugaan manusia. Menurut perhitungan lumrah, pastilah ilmu sakti Kala Lodra akan ikut musnah kena pukulan itu. Sebaliknya bahkan terjadi suatu perkembangan baru. Seperti Sangaji dahulu tatkala kena cekek Bagas Wilatikta, mendadak saja jalan darahnya tertembus: Kini bisa berputar-putar cepat dan merayapi seluruh tubuhnya dengan bebas tanpa rintangan. Sudah barang tentu, tenaga Kebo Bangah jadi berlipat ganda seumpama seekor harimau memperoleh sayap. Peristiwa yang aneh itu, tidak segera nampak dari luar. Tetapi begitu Kebo Bangah melompat hendak menghampiri, suatu kesiur angin bergulungan dahsyat. Kyai Kasan Kesambi dan Gagak Seta kaget berbareng. Lalu berteriak memperingatkan, "Aji! Awas!" Sangaji sendiri, waktu itu seperti kehilangan diri sendiri. Anak muda itu terlalu mulia hatinya. Mendengar kata-kata Kebo Bangah memanggil nama Dewaresi, sekaligus teringatlah dia bahwa pendekar itu kena dibunuh Sanjaya di dalam benteng. Selama itu, ia tetap menganggap Sanjaya sebagai bagian dari hidupnya. Maka begitu teringat perbuatan Sanjaya, ia merasa diri seolah-olah ikut bersalah dan ikut pula memikul tanggung jawab. Karena itu, meskipun dia mendengar kesiur angin akibat tenaga lompatan Kebo Bangah, ia tak sampai hati membuat pendekar besar itu bersengsara lagi. Untung Kebo Bangah dalam keadaan tidak waras. Waktu itu ia benar-benar tak berniat jahat. Ia datang menghampiri dengan maksud hendak memeluk Sangaji yang dikiranya Dewaresi. "Ha—Dewaresi! Ayo pulang!" katanya nyaring. Oleh suara nyaring itu, Sangaji seperti ter-sadar. Secara wajar ia mengelak. Meskipun demikian masih kasep juga. Tahu-tahu lengan bajunya kena sambar. Bret! Ia terkejut. Tangannya lalu meliuk hendak mengadakan perlawanan. Sekonyong-konyong Kebo Bangah berkata seperti mengeluh. "Dewaresi! Kau tetap bandel juga? Bagaimana nanti ibumu kalau sampai meng-gerembengi aku?" Mendengar ucapan Kebo Bangah, tangan Sangaji turun lagi dengan lemas. Ia seperti menangkap nada keadaan hati orang itu yang sangat sengsara. Apakah dia sudah bisa menduga, bahwa anaknya tertimpa malapetaka, pikirnya. Sewaktu Sangaji dalam keadaan berbim-bang-bimbang, Kebo Bangah melesat mener-kamnya. Dalam pikiran Kebo Bangah, Dewaresi membandel emoh diajak pulang. Karena itu ia hendak memaksanya. Keruan saja, tenaga yang dikeluarkan berlipat ganda jadinya. Gagak Seta dan Kyai Kasan Kesambi terperanjat. Sebagai pendekar besar yang hampir mencapai puncak kesempurnaannya, tahulah mereka bahwa tenaga Kebo Bangah sangat berbahaya. Maka berbareng mereka maju mengulur tangan. Gagak Seta menggempur punggung Kebo Bangah, sedangkan Kyai Kasan Kesambi menarik Sangaji keluar gelanggang. Jalan darah Kebo Bangah telah menjadi bertentangan seluruhnya dan tenaganya berubah kuat berlipat ganda. Biasanya untuk menangkis gempuran Gagak Seta, ia perlu mengerahkan tenaga dahulu. Tetapi kini dalam keadaan linglung ia tak bersiap-siap. Meskipun demikian, ia hanya kena dijungkir-balikkan tanpa menderita luka sedikitpun. Inilah aneh, mengingat kehebatan ilmu Kumayan Jati yang bisa menumbangkan sebatang pohon sepelukan orang. Dan setelah kena gempuran, secara naluriah ia terus menyambar membalas menyerang. Kedua orang itu lantas bertempur dengan serunya. Kebo Bangah tidak lagi menggunakan ilmu Kala Lodra seperti biasanya. Ilmu itu nampak kacau. Jurus-jurusnya jungkir-balik tak keruan. Namun demikian hebatnya tak terkatakan. Gagak Seta kena didesaknya berulang kali dan hampir-hampir kena balasan. "Anakku Sangaji, kau mundur dahulu!" teriak Gagak Seta dengan nyaring. "Biarlah kulayani sendiri." Gagak Seta terus bertempur dengan sung-guh-sungguh. Mereka jadi berkelahi dengan berputaran. Sebagai seorang pendekar yang banyak pengalamannya dengan selintasan dapat melihat kelemahan lawan. Ia mengadu kegesitan. Itulah ilmu Ratna Dumilah yang pernah diwariskan kepada Titisari. Tetapi Ratna Dumilah dalam tangannya, jauh berlainan daripada kemampuan Titisari. Perbawanya dan kewibawaannya mengagumkan. Sekali-kali ia memukul dengan ilmu Kumayan Jati. Apabila terdesak, terus menggunakan ilmu petak untuk melejit lawan. Diam-diam Kyai Kasan Kesambi mengagumi ilmu kepandaian pendekar bule itu. Tatkala Gagak Seta hampir terjepit, mendadak bahkan bisa melepaskan pukulan telak Kebo Bangah kaget sampai menjerit. Tapi akhirnya benar-benar mengherankan. Bukan pendekar gendeng itu yang kena dipentalkan sebaliknya Gagak Seta sendiri, la sampai terhuyung mundur tiga langkah. Dan belum lagi tegak berdiri, Kebo Bangah sudah merabunya dengan pukulan-pukulan ilmu Kala Lodra yang bertentangan dengan biasanya. Cepat-cepat Gagak Seta menjejak tanah dan membebaskan diri dengan berjungkir-balik di udara. Ia turun ke tanah sambil melepaskan pukulan keras jurus kesembilan. "Ah, bagus!" Kyai Kasan Kesambi memuji. Kebo Bangah meloncat ke kiri dan secepat kilat melejit. Mendadak saja meludahi dan menyembur-nyemburkan gumpalan liur. Sudah barang tentu Gagak Seta tak sudi menerima semburan ludah itu. Dia tahu, meskipun hanya ludah, tetapi apabila kena mata bisa celaka. Sebab tenaga sakti lawannya bukan main besarnya. Dengan sebat ia menyambut dengan gerakan tangan sambil terus menyerang. Menghadapi orang kurang waras, bukanlah suatu hal yang gampang. Kebo Bangah bertempur dengan jurus-jurus yang bertentangan dengan hukum. Seringkah dia menumbukkan tubuhnya, miring, berdiri, merayap, merangkak, berjongkok atau merabu dengan tiba-tiba. Meskipun demikian, semua gerak-geriknya berbahaya. Daerah geraknya membawa kesiur angin dahsyat. Maka terpaksalah Gagak Seta melayani dengan hati-hati. Meskipun agak keteter, namun sekali-sekali bisa membalas menyerang juga. Diam-diam Kyai Kasan Kesambi memper-hatikan cara bertempur Kebo Bangah yang kacau. Di dalam hal penelitian, keseksamaan dan kesabaran dia menang daripada Gagak Seta. Diapun segera memperoleh jalan keluar. Lalu mengajari Gagak Seta bagaimana cara melawan. "Gagak Seta!" katanya tenang meyakinkan. "Kaupun harus memutar balikkan jurus-jurusmu. Anggaplah saja ini suatu latihan. Nah— coba serang bawah kaki. Pastilah dia akan bertahan dengan berdiri." Sebagai penonton, Kyai Kasan Kesambi dapat melihat dengan tegas sekali. Maka hasilnya benar-benar mengagumkan. Gagak Seta percaya benar kepada orang tua yang dihormatinya itu. Ia segera melakukan petunjuk-petunjuknya. Tetapi di dalam hati, ia merasa malu sendiri. Menghadapi Kebo Bangah, terpaksalah kali ini harus dikerubut. Pada suatu saat, Gagak Seta bisa memberi pukulan tepat, Kebo Bangah meludah lagi dengan tiba-tiba. Dengan demikian, Gagak Seta terpaksa membatalkan serangannya, la harus berkelit dahulu. Justru itu, sekonyong-konyong Kebo Bangah maju dan merabu dengan cepat. Gagak Seta melihat serangan itu. Ia tak sempat lagi untuk menangkis atau mengelakkan. Dalam seribu kerepotannya, ia hanya berhasil meneruskan kelitannya tadi. Ia hampir kena pukulan. Setelah berjumpalitan di udara, ia turun ke bumi sambil membalas menyerang. Kebo Bangah kena dimundurkan, tetapi diapun mundur terhuyung juga. "Nah, apa kubilang," katanya terus terang. "Aku tinggal mewariskan tulang-tulangku yang keropos kepada angkatan muda." "Tidak, tidak!" sahut Kyai Kasan Kesambi. "Kau belum kalah dan dikalahkan. Kalau kau mengaku kalah, akupun kalah pula. Kau tahu sendiri. Akupun tak bisa mengapa-apakan dia." Tetapi Gagak Seta adalah seorang pendekar besar yang berwatak ksatria. Dia tak sudi menyangkal kekalahannya. Lalu berdirilah dia tegak sambil membungkuk memberi hormat. Katanya, "Kebo Bangah! Aku si jembel bule dengan ini menyatakan kalah padamu." Setelah berkata demikian, ia menoleh kepada Kyai Kasan Kesambi dengan pandang murung. Berkata pilu, "Kyai Kasan! Maafkan aku, karena harus menyerahkan suatu kehormatan kepada seorang gila. Tetapi memang aku tak becus melawannya. Kalau engkau masih mempunyai nafsu untuk merebut nama besar, cobalah lawan. Aku sendiri—semenjak melihat Sangaji telah mewarisi ilmu sakti sudah mendaftarkan jadi muridnya." Nyaring dan terang ucapan Gagak Seta. Kyai Kasan Kesambi ternyata memanggut pula seraya merenungi Kebo Bangah. Dia sudah lama menyekap diri dalam pertapaan. Dalam hatinya, tiada lagi nafsu merebut nama besar. Sebaliknya murid-muridnya jadi penasaran. Masakan gelar kehormatan nomor wahid jatuh kepada Kebo Bangah yang kurang waras otaknya? Tetapi di dalam gelanggang terjadi pula suatu kejadian aneh. Begitu mendengar Gagak Seta menyebut ilmu sakti, tiba-tiba wajah Kebo Bangah berubah hebat. Wajahnya pucat lesi dan ia jadi termangu-mangu. Sejenak kemudian menjerit seperti ketakutan dan lari tunggang langgang meninggalkan halaman padepokan. Tatkala lewat di depan kedua adik seperguruannya, ia seperti diingatkan sesuatu. "Hai! Bukankah kau Keyongbuntet dan Maesasura? Di manakah Dewaresi? Apakah kalian bunuh?" Pendekar besar itu kacau jalan pikirannya. Kadangkala ia memperoleh kesadarannya kembali, mendadak tenggelam dan saling bertubrukan. Justru begitu, tangannya terangkat dan menghantam kepala Keyongbuntet dan Maesasura. Dan betapa besar tenaga sakti ilmu Kala Lodra kala itu susah untuk dilukiskan. Kepala Keyongbuntet dan Maesasura hancur berhamburan dengan berbareng. Mereka tewas seketika itu juga. Kebo Bangah tertawa berkakakan. Ia lari turun gunung dengan cepat. Anak buahnyapun cepat-cepat pula meninggalkan padepokan Gunung Damar setelah terhenyak sesaat menyaksikan peristiwa pembunuhan itu. Mayat Keyongbuntet dan Maesasura segera diangkutnya. Dengan demikian, dalam padepokan kini tinggal para pendekar dengan pikirannya masing-masing. Keadaan malam itu sunyi lengang menggeridikkan bulu roma. Pohon-pohon besar yang tumbuh sekitar halaman padepokan tumbang berserakan akibat angin gempuran-gempuran tenaga sakti. Di sana sini terlihat tanah amblong. Tetanaman lainnya tak usah diceritakan lagi. Serambi padepokan sendiri runtuh bereyotan. Dindingnya bobol dan hancur berpuingan. "Kyai Kasan," tiba-tiba Gagak Seta berkata. "Sampai di sini kita bertemu. Kau sekarang tahu, aku manusia tak berguna lagi. Tulang-tulangku sudah keropos." Kyai Kasan Kesambi berdiri tegak dengan takzim. Menyahut, "Kau terlalu pagi untuk berbicara tentang kalah dan menang. Aku masih melihat, engkau bakal mempunyai jalan keluar." Gagak Seta tertawa perlahan melalui hidung. Kemudian mengalihkan pandang kepada Sangaji. Berkata, "Anak tolol! Dalam dunia ini ternyata hanya pusaka Bende Mataram yang tinggal abadi. Kau melihat sendiri tadi. Begitu Kebo Bandot mendengar aku menyebut pusaka Bende Mataram, ia takut setengah mati. Karena itu, untuk selanjutnya engkaulah yang akan bertanggung-jawab kepada kekacauan dunia. Sebentar lagi, dunia ini akan kacau balau. Kekuasaan berada di tangan orang gila. Aku tak mampu mengatasi Kebo Bandot. Eyang gurumu tak sudi berebutan nama kosong. Mertuamu Adipati Surengpati, masih menganggap dirinya seorang pendekar nomor wahid. Hm... aku yakin, begitu ketemu Kebo Bandot bakal menumbuk batu." Teringat kepada Adipati Surengpati, mendadak Gagak Seta meninggikan alis. Lalu minta keterangan dengan suara tinggi. "Hai! Di manakah calon isterimu? Kau jangan semberono. Mertuamu bukan manusia baik-baik. Kalau kau membiarkan dia berada satu hari di sampingnya, kau bakal kehilangan. Dan kalau kau kehilangan Titisari, meskipun kau boleh gagah, tetapi engkau tak bisa bekerja. Aku pun bakal kehilangan segalanya." Sangaji terperanjat. Hatinya tergetar. Gap-gap ia hendak menyahut, tetapi Gagak Seta telah menghilang dari penglihatan. Padepokan jadi sunyi kembali. ***

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 33 KEBO BANGAH"

Posting Komentar