BENDE MATARAM JILID 20 HADIAH ULANG TAHUN KYAI KASAN KESAMBI


Mereka memasuki kamar Bagus Kempong. Waktu itu Bagus Kempong sedang melakukan semadi. Dengan tekun ia mengatur pernapasannya. Tanpa berbicara lagi, Gagak Handaka dengan Ranggajaya terus saja menempelkan tangannya masing-masing ke dada dan punggungnya. Kemudian dengan berbareng mereka menyalurkan anasir hawa lewat lubang urat syaraf dan urat tali jantung. Seperti diketahui, jasmaniah ini terbagi tiga anasir. Yakni: anasir api, bumi dan air. Masing-masing memiliki kadar gaib, yang selaras dan seimbang, hanya dalam saat-saat tertentu ketiga anasir itu bergolak oleh suatu pengaruh dari luar. Seseorang yang mengalami pergolakan bahan pokok ini, harus secepat mungkin bisa mengendalikan diri. Apabila tidak, kesehatannya akan terganggu. Setidak-tidaknya akan menderita penyakit urat syaraf yang sulit untuk dikembalikan seperti sediakala.

Sebagai anak murid Kyai Kasan Kesambi, Gagak Handaka dan Ranggajaya diajar mene-kuni asal bahan bagan manusia. Seringkali Kyai Kasan Kesambi merasukkan istilah-istilah anasir air, bumi, api ke dalam ingatannya. Sedangkan anasir angin atau hawa selalu ditaruh di belakang ketiga anasir tersebut seolah-olah suatu lampiran belaka yang tidak begitu penting. Memang, anasir hawa atau angin terjadi oleh suatu akibat pergeseran (percampuran) ketiga anasir itu. Karena itu, Kyai Kasan Kesambi menitikberatkan ajarannya kepada penguasaan ketiga anasir pokok. Seseorang yang sudah mahir menguasai ketenangan ketiga anasir tersebut, takkan gampang-gampang bisa terperosok ke dalam anasir angin yang penuh melagukan hawa nafsu, hawa amarah dan nafsu-nafsu kehendak lainnya. Sebaliknya, dia akan memperoleh manfaat besar karena sari-sari anasir ketiga tersebut akan saling terjalin merupakan benteng maha dahsyat. Tetapi apabila benteng itu sekali kena terpecahkan oleh suatu arus hawa dari luar, maka yang terpenting ialah mengimbangi arus desakan hawa itu dengan perlahan-lahan. Kemudian dengan teratur pula mengusirnya pergi.

Demikianlah, apabila Gagak Handaka dan Ranggajaya dengan berbareng menyalurkan anasir hawa dari sari-sari pergerakan ketiga anasir bumi, air dan api. Seketika itu juga, dalam diri Bagus Kempong terasa segar hangat. Perlahan-lahan racun hawa yang menggoncangkan daya tahan anasir tiga kena didesak mundur. Tak sampai satu jam lamanya, kesehatannya lantas saja pulih kem-bali. Butir-butiran keringat yang berasal dari tumpuan anasir hawa merembes, keluar lewat sumsum, tulang, darah, urat-urat, daging, kulit dan rambut.

"Ih!" Gagak Handaka mengerenyitkan kening sambil melepaskan tangannya. "Apabila aku tiada memperoleh bantuan Ranggajaya dan engkau sendiri, belum tentu aku dapat mengusir tenaga racunnya yang tersekam dalam tubuhmu."

Bagus Kempong masih belum berani berbicara, hati-hati ia menarik napas dan memeriksa ruas-ruas tulang sambung. Apabila benar-benar tiada gangguan lagi, baru dia berkata: "Selama hidupku selain Guru, baru kali itulah aku berhadapan dengan seseorang yang memiliki tenaga pukulan maha dahsyat. Memang tadinya sama sekali aku tak mengira, karena melihat dia kena dipukul Wirapati sekali rebah. Mendadak saja tatkala aku mengadu tenaga, suatu dorongan dahsyat menusuk urat nadi. Cepat-cepat aku hendak bertahan diri, tapi nampaknya telah kasep. Namun andaikatapun aku bersiaga sebelumnya, tenaga orang itu benar-benar bukan tandinganku."

Gagak Handaka meninggikan alis. Dengan sekuat tenaga ia mencoba menebak asal usul orang itu dengan titik tolak bekas pukulannya. Tetapi tetap saja, teka-teki itu tak dapat dipe-cahkannya. Ranggajaya yang masih sibuk mengusap keringatnya sekonyong mendengus.

"Apakah dia berberewok?"

Bagus Kempong dan Wirapati mengiakan dengan berbareng.

"Hm," dengusnya lagi. "Terang-terangan dia bermuka berewok, meskipun demikian kalian kena tuduh. Apalagi, seumpama orang-orang itu pernah mengenal tampangku."

Ranggajaya mukanya berbulu juga, sehing-ga oleh ujarnya itu sekalian saudara-saudara seperguruannya tertawa terbahak-bahak. Sangaji sendiri meskipun merasa diri dari angkatan muda diam-diam ikut tertawa pula. Pikirnya, pamannya seorang ini nampaknya angker dan keren, tetapi pandai pula berke-lakar meskipun bernada sungguh-sungguh.

Malam harinya, mendung padepokan Gunung Damar telah tersapu bersih. Maklumlah Wirapati telah kembali dan kesehatan Bagus Kempong sudah pulih. Semenjak sore hari, mereka duduk berkumpul memperbin-cangkan orang berberewok yang memiliki pukulan sakti itu. Mereka


mengingat-ingat tokoh-tokoh yang pernah diperkenalkan gurunya dan membawa-bawa pula tokoh utama pada zaman itu, tetapi tetap belum memperoleh kata sepakat. Terasa benar, bahwa asal usul orang itu tersekap di balik halimun kabut tebal yang susah ditembus. Karena membawa-bawa nama tokoh-tokoh sakti pada zaman itu, mendadak saja Sangaji terus berkata: "Paman sekalian. Sebenarnya dengan tak sengaja, aku telah menerima ilmu Kumayan Jati dari Paman Gagak Seta. Meskipun aku tiada mengangkatnya sebagai guru."

"Hai! Gagak Seta?" Gagak Handaka terkejut. Terus saja ia meraih tangannya dan didekapkan dengan hangat ke dadanya. Berkata mengesankan. "Anakku! Berbahagialah engkau! Berbahagialah! Engkau seperti dihampiri malaikat Jibril yang datang mengkaruniai suatu ilmu maha sakti. Mengapa engkau bersegan-segan? Apabila engkau telah menjadi murid Paman Gagak Seta, kedudukanmu sejajar dengan kami."

Mendengar ujar Gagak Handaka, Sangaji terkejut sampai tak terasa menarik tangannya. Ia merasa, di balik kata-kata itu pamannya menegurnya dengan tajam. Tetapi sebenarnya, Gagak Handaka berkata dengan jujur dan setulus-tulusnya. Dalam kebimbangannya, cepat ia menyiratkan pandang kepada gurunya untuk mencari kesan. Tetapi Wirapati memandangnya dengan manis sekali. Juga Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat. Oleh pandang mereka ia seperti terpaku. Wajahnya berubah hebat.

"Sangaji!" kata Wirapati. "Tentramkan hatimu. Benar-benar pamanmu tiada mencelamu. Bahkan aku pun sendiri menyesal, mengapa engkau tiada cepat-cepat mengangkat beliau sebagai guru. Coba andaikata engkau telah mengangkat beliau sebagai guru, pastilah engkau akan diwarisi sekalian ilmu saktinya. Pada zaman ini, beliau termasuk salah seorang tokoh maha sakti di samping Adipati Sureng-pati, Kebo Bangah dan guru kami."

"Guru! Tak berani aku berbuat demikian," potong Sangaji gugup. "Budi Guru terhadapku sebesar Gunung Semeru. Apabila aku tiada memperoleh asuhan Guru, apakah arti aku ini dalam percaturan hidup? Tidak! Tidak! Guru adalah pelita hidupku. Guru adalah seumpama mercu suar hidupku. Bagaimana aku berani mengambil sesuatu keputusan dengan melalaikan Guru, meskipun andaikata malaikatpun datang menawari aku kunci surga. Meskipun aku harus menyeberangi lautan pedang, apabila Guru yang menitahkan aku pun takkan menyesal dan beragu."

Bukan main hebat kesan ucapan Sangaji yang dilepaskan dari hati setulus-tulusnya, bagi pendengaran sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi. Seperti diketahui, anak murid Kyai Kasan Kesambi diajar untuk menghargai jiwa luhur di atas segalanya. Maka begitu mendengar ucapan pemuda itu, seketika mereka berdiri serentak. Bahkan Suryaningrat yang berperasaan halus, terus saja memeluknya dan menciumi dengan hati terharu.

"Anakku, anakku!" katanya berbisik, "Berbahagialah engkau! Karena engkau dilahirkan sebagai seorang ksatria sejati." Kemudian kepada Wirapati, "Andaikata aku mempunyai seorang murid begini tinggi nilainya, biarpun usiaku dikurangi dua puluh tahun, tiada kusesalkan. Ah, benar-benar tak tersia-sia keper-gianmu ke daerah barat. Kangmas Wirapati telah menemukan suatu butir mustika yang paling berharga pada zaman ini."

Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong dengan berbareng mengucapkan selamat pula kepada Wirapati. Sedangkan Sangaji sendiri, terlongoh-longoh keheranan menyaksikan perangai dan sikap mereka. Pemuda yang berhati sederhana itu jadi bi-ngung.

"Pantas! Pendekar-pendekar tadi menyebut majikannya kena pukul cucu murid guru. Alihkan anakku sendiri, Sangaji. Siapa yang mengira?" kata Ranggajaya penuh semangat. Kemudian ia minta keterangan tentang diri majikan para pendekar yang mengunjungi padepokan tadi siang.

Mereka semua bersikap terbuka hatinya. Maka lambat laun Sangaji dapat menguasai diri dan segera memberi keterangan. Bahkan ia tak kepalang tanggung lagi. Dikisahkan riwayat hidupnya dengan sejelas-jelasnya. Wirapati pun ikut menguatkan, menambahi dan membubuhi sehingga pembicaraan itu menjadi lancar sedap serta mengasyikkan. Tak terasa, larut malam


telah dilalui. Tetapi masih saja mereka tak mau melepaskan diri dari rangkaian cerita. Bahkan, manakala kisahnya mulai menyinggung warisan Pangeran Semono yang berupa Bende Mataram, Keris Kyai Tunggulmanik dan Jala Korowelang. Seketika wajah mereka berubah menjadi tegang. Betapa tidak? Kecuali cerita khayal itu benar-benar ada, mereka semua terlibat semenjak dua belas tahun yang lalu. Wirapati menghilang dari padepokan Gunung Damar karena munculnya peristiwa pusaka Pangeran Semono. Juga saudara-saudara seperguruan-nya direcoki orang terus menerus perkara pusaka itu. Dan oleh peristiwa perebutan pusaka itu pula, akhirnya gurunya lantas menyekap diri dalam pertapaan bertahun-tahun lamanya.

Sampai matahari terang benderang, mereka masih sibuk memperbincangkannya. Baik Bagus Kempong, Wirapati dan Sangaji tidak menghiraukan lagi rasa lelahnya setelah melalui perjalanan malam panjang. Dengan sungguh-sungguh dan senang hati mereka memberikan keterangan-keterangan dan kesaksian-kesaksian semua peristiwa yang dialami. Hal itu membuat Gagak Handaka, Ranggajaya dan Suryaningrat berpikir keras.

Demikianlah setelah lima hari mereka ber-kumpul dan berbicara maka datanglah saat yang mendebarkan hati. Biasanya sepuluhhari sebelum hari ulang tahun, guru mereka berkenan keluar dari pertapaan untuk menemui sekalian muridnya. Hari itu, jatuh pada hari Jumat Pahing. Sepuluh hari lagi, Kyai Kasan Kesambi akan merayakan hari ulang tahunnya yang ke-83. Tepat waktu matahari lagi mengintip di ufuk timur, Kyai Kasan Kesambi terdengar mendehem tiga kali. Orang tua itu berkesan gembira dan syukur, karena selama menyekap diri dalam perse-madian telah memperoleh suatu ilham sebagai bahan penciptaan ilmunya yang kelak akan menggoncangkan dunia. Ilmu itu bersumber kepada kodrat alam yang selalu bergerak dan berasa. Kelak ia menamakan ilmunya: Sukma Buwana Langgeng. Orang tua itu sengaja menggunakan istilah buwana dan bukan bawana sebagai lazimnya yang pernah di dengar orang semenjak lama. Karena dia hendak membedakan secara tegas antara pengertian buwana dan bawana. Buwana adalah kegiatan gaib (dalam), sedangkan bawana adalah gelar. Gntuk memperjelas kedudukan istilah itu dia menggambarkan, bahwa Buwana diperintah oleh Hyang Ismaya. Sedangkan Bawana diperintah Hyang Manikmaya. Di kemudian hari, dia berhasil pula menciptakan ilmu-ilmu sakti bersumber pada kodrat gerak dan rasa seperti: Cundamani ), Lumembak Kumambang, Rasa Sejati-sejatinya Rasa, Tulis tanpa papan dan Papan tanpa tulis, Terang tiada cahaya, Sangkan-paran ), Trisakti dan sebagainya. Dengan diketemukan kunci pengertian gaib itu, kini dia tiada merasa segan menghadapi ilmu-ilmu sakti lainnya semenjak zaman dahulu sampai pada dewasa itu. Tak usahlah dia malu dibandingkan dengan ilmu-ilmu sakti pendekar-pendekar Mangkubumi 1, Sultan Agung, Panembahan Senopati, Kebo Bangah, Pangeran Samber Nyawa, Kyai Haji Lukman Hakim, Gagak Seta atau Adipati Surengpati. Maka pagi hari itu, dengan dada lapang ia hendak menemui murid-muridnya.

Dengan mengibaskan tangan kanannya seperti gerak lambaian tangan wajar, ter-bukalah kamar persemadiannya. Sekonyong-konyong ia menjumpai suatu penglihatan yang nyaris tak dipercayai sendiri. Benarkah yang berdiri di depan ambang pintu adalah Wirapati muridnya keempat yang menghilang selama dua belas tahun lebih. Segera ia menguncak-uncak kedua matanya agar bisa melihat dengan tegas. Dan pemuda yang berdiri di depannya benar-benar adalah Wirapati.

Dalam pada itu, Wirapati terus saja me-nubruk kedua lututnya dan dengan suara parau berkata sambil menyembah.

"Guru! Muridmu keempat menghaturkan selamat."

Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat berturut-turut pula menghaturkan sembah takzim. Hampir berjanji mereka berkata: "Guru! Wirapati telah kembali pulang ke pangkuan Guru...

"Kyai Kasan Kesambi adalah seorang perta-pa yang berperawakan tinggi tegap. Umurnya kini


telah mencapai 83 tahun. Dan hampir 60 tahun, dia menyekap diri di atas pegunungan jauh dari persoalan dunia. Karena itu dia di sebut sebagai seorang pertapa suci. Hatinya bebas dan tiada terikat oleh semua bentuk masalah dunia. Meskipun demikian, karena hubungannya dengan kelima muridnya bagaikan ayah dan anak-anak, maka begitu melihat munculnya Wirapati mendadak saja terus memeluknya dan menciumnya dengan air mata berlinangan.

Kelima muridnya dengan cepat menyedia-kan pakaian bersih dan menolong pula mem-bersihkan badannya. Sambil membiarkan sekalian kelima muridnya menyatakan kasih sayangnya, ia terus saja berwawan-sabda de-ngan muridnya keempat, Wirapati. Wirapati sendiri bisa membawa diri. Agar tiada me-risaukan hati orang tua yang baru saja menyekap diri dalam pertapaan semadinya, ia hanya mengisahkan riwayat perjalanan selama dua belas tahun dengan singkat. Sama sekali tak menyinggung tentang pusaka warisan Bende Mataram yang menjadi pokok soal atau tentang orang berewok yang memukul Bagus Kempong. Katanya kemudian, "Guru! Siswa terlalu lancang, karena mengambil murid tanpa seijin Guru."

"Ha, ha, alangkah lucu ujarmu," tukas Kyai Kasan Kesambi.

"Engkau jauh terpisah dariku, masa menunggu sampai ada keputusanku? Eh, masa Kasan Kesambi mempunyai murid yang tak dapat mengambil keputusan dengan cepat?"

Wirapati lantas berlutut. Berkata lagi, "murid siswa adalah seorang pemuda sederhana. Dia seorang anak petani dan tiada berpendidikan..."

"Ih, apa bedanya? Biarpun seorang petani, bukankah manusia juga? Gurumu ini kaukira berasal dari mana? Gurumu ini dilahirkan di gunung dan selamanya menjadi orang gunung. Janganlah engkau bermodal pikiran terlalu sempit. Andaikata muridmu seorang yang tumpul otaknya, apakah celanya. Yang penting ialah dasar hatinya. Suatu kepandaian bisa dicari dan dipelajari, tetapi dasar hati adalah suatu pembawaan."

Diam-diam Wirapati bergembira mendengar ucapan gurunya. Memang ia sengaja meren-dahkan diri untuk memperoleh pandangan gurunya. Begitu ia mendengar tiap-tiap kata gurunya, masih ia mencoba, "Tetapi Guru murid siswa, tidaklah hanya siswa seorang. Dia pun murid Jaga Saradenta. Anak murid almarhum Kyai Haji Lukman Hakim. Dan akhir-akhir ini menerima ajaran ilmu sakti dari seorang tokoh liar Gagak Seta..."

"Apa kauhilang? Gagak Seta seorang tokoh liar?" damprat Kyai Kasan Kesambi, "Eh, me-ngapa pikiranmu mendadak menjadi sempit? Memandang rendah martabat seseorang merupakan suatu kesalahan terkutuk. Liar, sesat dan benar suci adalah surut berlalu. Semua tidak tetap dan tergantung kepada kebutuhan seseorang semata. Seseorang yang tadinya terkenal suci dan suatu kali berlaku sesat, dia sekaligus menjadi seorang yang ter-sesat. Sebaliknya, meskipun dia terkenal liar tetapi berbuat kebajikan, dialah seorang laki-laki sejati."

Kali ini Wirapati benar-benar girang bukan kepalang. Menurut lazim, seorang guru merasa kehormatannya tersinggung apabila muridnya tiba-tiba mengangkat guru lain. Bahkan tiada jarang, muridnya disuruh membunuh diri dengan istilah mengembalikan sekalian ilmu yang pernah diberikan. Tetapi Kyai Kasan Kesambi seorang tokoh maha besar pada zaman itu, ternyata mempunyai pendirian hati yang benar-benar luas dan tak terperikan. Tidak hanya ia memaklumi, bahkan segera menyuruh Wirapati bangkit berdiri sambil berkata: "Cucu muridku menjadi muridnya pula, anak murid almarhum sahabatku Kyai Haji Lukman Hakim adalah suatu karunia yang menggembirakan. Sama sekali tak terduga, bahwa sebagian kecil ilmu saktinya bisa bergabung pada tubuh cucu murid Kasan Kesambi. Coba seumpama ia bisa bangun dari liang kuburnya, pasti ia akan menutup kembali matanya dengan aman tentram. Dan pendekar sakti Gagak Seta, sudah lama aku kenal dirinya. Aku pun kagum kepada ilmu saktinya. Orangnya jujur pula, hanya tabiatnya aneh. Dia seperti burung rajawali yang datang pergi sesuka hatinya sendiri. Meskipun sepak terjangnya aneh, tetapi ia bukanlah manusia bermartabat rendah. Orang seperti dia, boleh menjadi sahabat sehidup semati."

Diam-diam  Gagak  Handaka,  Ranggajaya,  Bagus  Kempong  dan  Suryaningrat  berpenda-pat,


bahwa gurunya benar-benar amat kasih kepada Wirapati. Sampai-sampai meskipun lagak-lagu Gagak Seta berkesan liar menurut tata pergaulan lumrah dan merupakan momok yang sangat ditakuti orang, dipujinya serta dia pun bersedia mengangkat sahabat sehidup-semati.

Kyai Kasan Kesambi terus saja memerintah-kan memanggil Sangaji. Waktu itu Sangaji baru saja pulang mandi dari sungai yang mengalir melingkari padepokan. Begitu mendengar dipanggil kakek gurunya, segera lari memasuki rumah dengan gugup. Di ruang tengah, ia melihat keempat paman dan gurunya duduk menghadap meja panjang dengan santapan pagi. Dan tepat menghadap padanya, matanya tertumbuk pada seorang laki-laki berambut dan berkumis putih. Raut mukanya bersih bening dan perawakan tubuhnya tegap tinggi. Dialah Kyai Kasan Kesambi yang menyambut kedatangannya dengan pandang berseri.

"Suatu kesatuan tenaga yang dahsyat," kata Kyai Kasan Kesambi. "Hanya saja kurang la-tihan sehingga belum bisa menyelaraskan dan menserasikan. Cucuku, siapakah namamu? Bolehkah aku mengenal namamu?"

Suara Kyai Kasan Kesambi diucapkan de-ngan lembut seperti berbisik. Tetapi tiap-tiap kata seolah-olah dapat menembus tulang sumsum. Hal itu membuktikan, bahwa per-bawa Kyai Kasan Kesambi luar biasa kuat. Tenaga gendamnya susah diukur lagi atau dijajaki. Sangaji pernah bertemu dengan dua orang tokoh lainnya yang kedudukannya se-tingkat dengan Kyai Kasan Kesambi. Yang pertama, pendekar sakti Gagak Seta. Yang kedua ayah Titisari, Adipati Surengpati. Terhadap kedua orang sakti itu, dia mempu-nyai kesan-kesan tertentu.

Pribadi Gagak Seta, berkesan semberono dan agak liar. Tetapi penuh dengan pengucap-an seorang ksatria sejati. Tabiatnya aneh. Susah diraba dan susah pula dilayani. Meskipun demikian hatinya terbuka dan bukan merupakan seorang ksatria yang angkuh dan sombong. Berbeda dengan kesan Adipati Surengpati. Ksatria itu mempunyai perbawa menakutkan. Sepak terjangnya liar, galak dan bengis, la mudah tersinggung dan bisa mengambil keputusan tanpa dipikirkan panjang lagi. Sebaliknya, terhadap Kyai Kasan

Kesambi—Sangaji mempunyai kesan lain dari-pada mereka berdua. Orang tua itu benar-benar memancarkan rasa suci. Perbawanya sejuk menentramkan hati. Matanya bercahaya seolah-olah emoh terlibat oleh suatu duka cita. Terhadap sarwa benda yang dilihatnya terasa sekali betapa dia selalu memantulkan rasa kasih sayang. Maka pantaslah, murid-muridnya terkenal sebagai ksatria-ksatria luhur budi dan agung.

"Cucu murid bernama Sangaji. Dengan ini menghaturkan sembah," terus saja Sangaji berlari memeluk kedua betisnya.

Menyaksikan betapa Sangaji menghaturkan sembah dengan hati setulus-tulusnya, hati Kyai Kasan Kesambi runtuh seketika itu juga. Dengan penuh kasih sayang ia membangun-kan seraya berkata, "namamu Sangaji? Alang-kah bagus nama itu. Sangaji dari asal kata Sang Aji. Aji adalah ratu. Karena itu, hatimu harus pula secemerlang mustika ratu."

Kena raba Kyai Kasan Kesambi, Sangaji ter-peranjat. Pada saat itu, seluruh tubuhnya mendadak terasa hangat segar. Suatu hawa hangat menyusup lewat ketiaknya dan terus berputaran meraba urat-uratnya. Tahulah ia, bahwa orang tua itu diam-diam menolong menyempurnakan tata peredaran darahnya yang masih saja merupakan penghalang besar apabila sedang menghimpun tenaga lewat napas. Beberapa saat kemudian, setelah dia tegak berdiri, Kyai Kasan Kesambi berkata setengah heran.

"Hebat! Darimanakah engkau memperoleh tenaga murni sebagus ini?"

Tanpa segan-segan lagi Sangaji terus saja menuturkan perjalanan hidupnya mulai berte-mu dengan Wirapati sampai memperoleh petunjuk-petunjuk dari Ki Tujungbiru dan mendapat warisan ilmu Kumayan Jati dari Gagak Seta. Hanya pengalamannya terhadap Adipati Surengpati, sama sekali ia tak menyinggungnya.

"Hm," dengus         Kyai    Kasan Kesambi       sambil mengurut-urut        jenggotnya.   "Petunjuk          ksatrian


Banteng itu tidaklah buruk. Apabila engkau benar-benar menekuni ajarannya tata laku bersemadi akan besar faedahnya." la berhenti seperti lagi menimbang-nimbang. Tadi tatkala dia merasukkan hawa murni ke dalam tubuh si anak, ia mendapat perlawanan hebat sampai tangannya tergetar. Diam-diam ia mencoba menebak teka-teki itu. Bertanyalah dia mencoba, "Kecuali mereka berdua, pernahkah engkau memperoleh sesuatu ilmu dari seseorang yang sifatnya menghisap?"

Memperoleh pertanyaan itu, mendadak saja teringatlah Sangaji kepada daya sakti getah pohon Dewadaru. Maka berceritalah dia seje-las-jelasnya tentang pengalamannya yang aneh. Mendengar pengalaman Sangaji, seka-lian murid Kyai Kasan Kesambi kecuali Wi-rapati jadi sibuk memperbincangkan. Ternyata Kyai Kasan Kesambi tiada asing akan kesak-tian pohon tersebut. Meskipun belum pernah melihat, tetapi sebagai seorang mahaguru yang berpengetahuan luas, dia bisa mene-rangkan dengan sejelas-jelasnya. Bahkan lebih jelas daripada keterangan Sangaji atau Ki Tunjungbiru sendiri.

Tengah mereka berbicara sambil bersantap, masuklah seorang cantrik dengan tergesa-gesa.

"Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunegoro I dan Kanjeng Pangeran Arya Ngabehi mengirimkan serombongan utusan untuk menghaturkan oleh-oleh kepada sang Panembahan," katanya.

"Aha, apakah sudah waktunya aku meneri-ma segala hadiah istana untuk hari ulang tahunku yang kedelapan puluh tiga?" sahut Kyai Kasan Kesambi dengan tertawa. "Gagak Handaka, cobalah lihat macam pesalin apakah yang dihadiahkan kepadaku!"

Segera Gagak Handaka mengundurkan diri dari meja bersantap dan bergegas ke paseban. Suryaningrat yang masih berbau kanak-kanak, ikut pula sibuk. Terus saja dia mengikuti kakaknya seperguruan yang tua.

"Eh! Bukankah mereka utusan dari putera-putera almarhum Sultan Hamengku Buwo-no I?" tegur Ranggajaya. "Apakah mungkin pula ada sebuah pesanan dari bakal mertua Kanjeng Pangeran Panular?"

Mendengar godaan Ranggajaya, kecuali Sangaji semuanya jadi tertawa berbareng. Muka Suryaningrat merah padam. Meskipun demikian tetap saja dia mengikuti Gagak Handaka menjenguk paseban.

Terlihatlah di paseban dua orang laki-laki bermuka buruk berdiri tegak bagaikan patung. Di belakangnya berdiri pula sekelompok pengiring kurang lebih berjumlah sepuluh orang. Mereka semuanya mengenakan pakaian prajurit, kecuali dua orang tersebut.

"Terimalah hormat hamba yang rendah. Hamba berdua bernama Kasan dan Kusen. Dengan ini menghaturkan sembah kepada ksatria Wirapati yang telah pulang dengan selamat." Gagak Handaka dan Suryaningrat heran mendengar bunyi kata-kata mereka.

Menghaturkan sembah kepada Wirapati yang baru saja pulang? Meskipun demikian, mereka berdua lantas saja membalas hormat sambil mempersilakan duduk.

"Masuklah!" kata Gagak Handaka kemu-dian. Diam-diam ia mulai memperhatikan keadaan mereka berdua. Benarkah mereka bernama Kasan Kusen? Kasan-Kusen adalah nama dua ksatria pada zaman Majapahit. Biasanya nama itu dikenakan oleh dua orang saudara sekandung yang kembar. Melihat tampang mukanya, sama sekali mereka jauh berbeda. Terang sekali, mereka bukanlah saudara sekandung. Yang bernama Kasan, bentuk wajahnya mirip telur itik. Keningnya terdapat bekas luka sangat panjang sampai mencapai tepi mulut. Hidungnya gede dan bermulut lebar, sedangkan yang bernama Kusen mempunyai potongan muka bulat. Kedua pipinya melembung dan penuh ben-tong-bentong bekas penyakit cacar. Alis dan bibirnya tebal. Melihat kesan muka berdua, masing-masing berusia lebih dari 50 tahun.

"Tuan berdua datang bukankah atas nama Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkunegara 1 dan Kanjeng Pangeran Arya Ngabehi? Bagaimana keadaan beliau berdua?


Sebenarnya guru kami, tidak berani menerima bingkisan dari keluarga raja. Betul leluhur beliau berdua adalah sahabat karib guru kami, tetapi kedudukan masing-masing jauh berbeda," kata Gagak Handaka merendah.

Tetapi Kasan dan Kusen bersikap dingin seolah-olah tiada mendengarkan. Yang berna-ma Kasan lantas saja mengeluarkan daftar barang hantaran dan dipersembahkan kepada Gagak Handaka dengan kata-kata kaku.

"Yang mengutus kami berdua perkenankan menghaturkan selamat atas kedatangan ksa-tria Wirapati dan dengan ini menghaturkan bingkisan tak berharga kepada anak muridnya yang bernama Sangaji. Kami semua berharap sangat memperoleh petunjuk-petunjuknya yang berharga."

Mendengar kata-kata ulangan yang ditekan-kan, Gagak Handaka meninggikan alisnya. Terang sekali kedatangan mereka bukan untuk gurunya, tetapi untuk Wirapati dan Sangaji. Wirapati baru beberapa hari datang ke padepokan. Mengapa mereka telah mengetahui? Bahkan mereka mengenal nama murid Wirapati. Sekaligus timbulah kecurigaannya. Jangan-jangan mereka datang untuk memperoleh keterangan tentang pusaka Bende Mataram. Tetapi sebagai tuan rumah dengan menekan perasaannya sendiri, ia berkata mencoba. "Sebenarnya, Tuan-tuan sekalian utusan siapa?"

"Periksalah barang bingkisan ini dahulu," Kasan menyahut tak memedulikan.

Tak senang hati Gagak Handaka melihat sikap tamunya. Tetapi tatkala melihat barang bingkisan yang ditebarkan di atas meja ia menjadi terkejut. Ternyata barang bingkisan itu berjumlah kurang lebih 150 macam. Dan semuanya terdiri dari emas, intan atau berlian. Barang-barang demikian bukan main tinggi harganya pada dewasa itu. Agaknya yang mengutus mereka, sengaja memilihkan barang-barang yang berharga untuk sesuatu maksud tertentu.

Gagak Handaka benar-benar jadi sibuk. Segera ia berkata kepada Suryaningrat, "Coba panggillah kakakmu Wirapati! Bukankah bingkisan ini untuknya?"

Mendengar ujar Gagak Handaka, tiba-tiba saja Kasan dan Kusen terus saja membungkuk sambil berkata, "Tak usah tergesa-gesa. Kami akan pergi dahulu. Kelak saja pada hari ulang tahun guru Tuan, kami akan datang kembali untuk menerima petunjuk-petunjuk."

Setelah berkata demikian, mereka mengun-durkan diri. Dan sekalian orang-orangnya terus saja mengiringkan.

"Hai Tuan!" seru Suryaningrat. "Apakah artinya ini?"

"Hm, bukankah sudah jelas?" sahut Kasan tanpa menoleh. Diperlakukan demikian, Suryaningrat merasa tersinggung. Segera ia hendak mengejar, tetapi Gagak Handaka mencegah cepat.

"Biarlah mereka pergi. Kita usut hal ini de-ngan perlahan-lahan," katanya. Kemudian ia memanggil beberapa cantrik untuk mengurus bingkisan tersebut. Dan bersama-sama de-ngan Suryaningrat ia bergegas menghadap gurunya. Terus saja ia melaporkan tentang rombongan tamu yang mencurigakan. Kemu-dian terpaksa ia mengutarakan semua pe-ngalamannya menjaga pertapaan selama gurunya bersemadi.

"Guru!" ia mulai. "Orang-orang yang men-coba memperoleh keterangan tentang pem-bunuhan orang-orang Banyumas dua belas tahun yang lalu, ternyata mempunyai maksud lain yang jauh lebih penting. Yakni, hendak mencoba mencari jejak pusaka Bende Ma-taram. Ternyata pusaka tersebut benar-benar ada. Karena peristiwa pusaka itu pulalah, maka adinda Wirapati sampai meninggalkan perguruan selama ini."

Habis berkata demikian, segera ia menoleh kepada Wirapati. Dan mau tak mau Wirapati segera menuturkan riwayat perjalanannya dengan sejujur-jujurnya.


"E-hm," tukas Kyai Kasan Kesambi. "Meskipun pusaka yang kaukatakan itu belum tentu pusaka Bende Mataram tetapi pastilah kita bakal kebanjiran tamu. Kalian bakal jadi sibuk..."

Ulasan Kyai Kasan Kesambi ternyata benar. Semenjak hari itu, secara berturut-turut pade-pokan Gunung Damar kebanjiran tamu tak diundang. Mereka datang dengan dalih meng-hantarkan barang bingkisan untuk hari ulang tahun Kyai Kasan Kesambi. Ada pula yang terang-terangan menerangkan, bahwa keda-tangannya hendak bertemu dengan Wirapati dan Sangaji.

"Guru!" kata Sangaji kepada Wirapati pada suatu hari. "Terang sekali kedatangan mereka adalah untukku, karena kesalahanku dahulu membuka rahasia pesan almarhum Paman Wayan Suage di tengah lapangan terbuka. Tak kukira, bahwa kehadiranku ke mari akan membuat susah Eyang Guru dan sekalian paman. Bagaimana baiknya... apakah aku harus mengambil pusaka warisan itu dahulu dan kemudian kuserahkan kepada Eyang-Guru? Bukankah Eyang Guru belum yakin, bahwa kedua pusaka tersebut adalah pusaka Bende Mataram? Dengan kedua pusaka ada pada tangan Eyang Guru, terserahlah eyang-guru hendak mengadili..." la berhenti sejenak menunggu pertimbangan gurunya.

Waktu itu Wirapati sedang mengaduk kapur dinding. Hari itu ia hendak mengapur dinding bersama dengan Suryaningrat, agar pade-pokan kelihatan bersih. Dan begitu mendengar ujar muridnya, seolah-olah ia memperoleh ilham. Katanya kemudian, "aha, bagus penda-patmu. Sekiranya kedua pusaka itu telah berada di sini, kita sekalian bisa menentukan sikap. Jika bukan pusaka Bende Mataram maka selesailah persoalannya. Apabila memang benar-benar pusaka Bende Mataram masakan eyang gurumu akan membiarkan pusaka tersebut terampas dari tanganmu. Sebab, engkau adalah hak warisnya."

Sehabis berkata demikian, pandang mata Wirapati berseri-seri. "Sudahlah, tenangkan hatimu! Aku akan membicarakan hal itu de-ngan sekalian paman-pamanmu..."

Pada saat itu, tiba-tiba terdengar Surya-ningrat berseru, "Kangmas Wirapati! Cepatlah engkau mengaduk kapur!" Lalu dengan tertawa ia menyambung lagi, "siapakah yang suruh Kangmas pandai mengapur dinding.

Heh, Aji! Barangkali baru hari ini kauketahui, bahwa gurumu pandai mengapur dinding..." "Aku pun akan mencoba-coba belajar me-ngapur," sahut Sangaji.

"Tak usah. Lebih baik kau memimpin sekalian cantrik-cantrik menebang pohon untuk kayu bakar!"

Hari itu sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi sibuk mengapur dinding dan meng-atur rumah tangga. Sedangkan Sangaji de-ngan rajinnya mematahkan beberapa pohon dengan ilmu Kumayan Jati. Hal itu membuat gempar seluruh penduduk pertapaan, sampai-sampai Kyai Kasan Kesambi berkenan menyaksikan. Sudah barang tentu Sangaji jadi ersipu-sipu. Maklumlah, tadi dia hanya bermaksud sekedar melatih diri merubah tata peredaran darah sebagai titik tenaga dorong, setelah memperoleh penyempurnaan dari eyang gurunya dahulu hari.

Pada malam harinya, Wirapati segera be-runding dengan sekalian saudara-saudara se-perguruannya hendak mengambil kedua pusa-ka warisan Bende Mataram. Sebenarnya mereka tidak menyetujui sebelum memperoleh izin gurunya. Tetapi mengingat suasana bertambah hari bertambah gawat, mereka jadi menyetujui. Bahkan mereka berharap, agar kedua pusaka keramat itu kelak bisa merupakan hadiah ulang tahun gurunya yang ke-83.

Dengan dalih hendak mengatur penyambut-an tamu di gunung, Wirapati mohon restu dari Kyai Kasan Kesambi. Kemudian berangkatlah dia turun gunung dengan diantarkan sekalian saudara seperguruannya. Selagi mereka ber-pisahan di kaki gunung, mendadak datanglah Sangaji dengan berkata nyaring. "Paman! Apakah artinya ini?"

Sangaji menyerahkan sebuah lencana terbuat dari perak dan sehelai panji-panji kecil, kepada Gagak Handaka. Tatkala Gagak Handaka memeriksa lencana dan panji-panji itu, kedua alisnya

terus saja terangkat. Keningnya berkerut-kerut dan terloncatlah perkataannya.

"Hai, bukankah ini lencana tanda pengenal utusan Kanjeng Pangeran Arya Blitar? Blitar bukan dekat. Ini adalah suatu kehormatan tak kecil artinya."

"Sebaiknya apabila Kanjeng Pangeran Arya Blitar datang, Guru sendiri kelak yang harus menyambut," sambung Ranggajaya. Mereka kemudian cepat-cepat memberi laporan kepa-da Kyai Kasan Kesambi.

Seminggu kemudian tepat pada hari ulang tahun Kyai Kasan Kesambi datanglah Kanjeng Pangeran Arya Blitar dengan dua belas pengiringnya.

"Ksatria sakti itu kabarnya tak pernah menginjak daerah Jawa Tengah. Mengapa dia bisa mengetahui hari ulang tahun seorang pendeta tak berarti?" kata Kyai Kasan Kesambi menebak-nebak setelah memperoleh laporan datangnya tamu agung. Segera ia memanggil Gagak Handaka, Ranggajaya dan Bagus Kempong dan membawa mereka ke paseban. Ia nampak gopoh, sehingga tak melihat ketidak-hadiran muridnya yang keempat Wirapati.

Maka terlihatlah seorang laki-laki gagah berpakaian hitam. Lengan dan celananya pan-ang dengan ditutupi kain pembebat bagaikan dodot. Nyata sekali bahan pakaiannya terbuat dari kain sutra yang mahal harganya. Dia berdiri gagah. Wajahnya sabar, tenang dan berwibawa, tidaklah memalukan, apabila dia terkenal sebagai keluarga yang memusuhi pemerintah Belanda. Namanya termasyhur di seluruh tanah air dan disegani pula. Di belakangnya terdiri dua belas pengiringnya, yang diketuai oleh ksatria lndrajaya dan Indrasakti. Kedua ksatria itu berasal dari Pulau Sumatera.

Berulang kali Kyai Kasan Kesambi mengu-capkan terima kasih sambil mengangguk tanda hormat. Sedangkan Gagak Handaka segera memimpin adik-adik seperguruannya membuat sembah berdiri. Dan dengan gopoh pula Kanjeng Pangeran Arya Blitar membalas hormat mereka sambil berkata, "Nama Kyai Kasan Kesambi sangat tenarnya bagaikan bintang kejora bergetar di angkasa raya. Masa kami berani menerima hormat sang Panembahan dan sekalian anak muridnya."

Dan baru saja mereka dipersilakan duduk, masuklah seorang pelayan yang mengabarkan bahwa di luar padepokan terdapat lima orang tetamu. Mereka memperkenalkan diri sebagai tokoh ksatria yang datang dari pinggang Gunung Muria. Mereka sengaja datang hendak mengucapkan selamat ulang tahun ke-83, Kyai Kasan Kesambi.

Pada waktu itu, nama Arya Lumbung Ami-sena dari Gunung Lawu, Arok Kudawa Neng-pati dari Bulukerto, ksatria Watu Gunung dari Gunung Tangkubanprahu dan Adipati Sosro-kusuma dari Pesantrenan sangat tenar, melebihi ksatria sakti lainnya. Masing-masing memiliki anggota yang disebutnya siswa. Kemudian selain mereka, terhitung pula sang Dewaresi dan Kyai Wuker dari Bangil. Selanjutnya barulah anak buah Putut Pranolo dari Gunung Muria. Demikianlah apabila dibandingkan, tataran cikal bakal siswa-siswa dari Gunung Muria (Putut Pranolo) samalah derajat dengan Gagak Handaka. Begitu pula tataran sang Dewaresi dan Kyai Wuker. Bahkan mereka ini pun, tingkatannya tak melebihi Wirapati. Meskipun demikian, Kyai Kasan Kesambi sangat ramah dan bersikap merendahkan diri. Segera dia berkata menyambut, "Ksatria Putut Pranolo datang pula. Biarlah aku sendiri yang mempersilakan duduk."

Putut Pranolo dengan keempat muridnya dengan tersipu-sipu membungkuk hormat dan segera memasuki paseban. Kanjeng Pangeran Arya Blitar ikut berdiri menghormati pula, tetapi hanyalah mengangguk kecil. Setelah itu datanglah orang-orang dari Banyumas. Pemekaknyawa dari Tuban, Lio Bun Tan dari Cirebon dan beberapa pendekar undangan Pangeran Bumi Gede yang berturut-turut menyatakan ingin mengucapkan selamat ulang tahun.


Sebenarnya tetamu-tetamu yang datang dengan bermaksud menghaturkan selamat hari ulang tahun, tidaklah lazim pada zaman itu. Tahun yang lalu, hari ulang tahui Kyai Kasan Kesambi hanya dirayakan dalam lingkungan sendiri. Siapa mengira, banwa hari ulang tahun kali ini begitu banyax dacunjungi tetamu-tetamu dari jauh dan bahkan masih asing pula. Keruan para anak murid Kyai Kasan Kesambi jadi repot melayani. Persediaan kursi tak cukup lagi.

Gagak Handaka dan ketiga adik seperguruannya jadi bingung. Sangaji kemudian terpak-sa membongkar batu-batu pegunungan dan ditaruh di paseban sekedar sebagai kursi-kursi darurat. Meskipun demikian, masih saja kurang cukup. Maka terpaksalah tempat duduk yang disediakan hanya untuk para pemimpin belaka. Sedangkan para siswanya harus berdiri atau duduk di atas batu-batu. Cangkir dan piring habis pula. Terpaksa pulalah, Sangaji dan sekalian pamannya menyediakan tempu-rung-tempurung sebagai mangkok.

Diam-diam Suryaningrat mengedepi Bagus Kempong agar masuk ke dalam kamar.

"Kangmas Kempong, bagaimana kesan Kangmas? Adakah suatu tanda-tanda yang mencurigakan?"

"Agaknya kedatangan mereka sudah saling berjanji dahulu. Setidak-tidaknya, masing-masing mempunyai rencana tertentu," kata Bagus Kempong dengan tenang.

"Benar. Kedatangan mereka tiada sungguh-sungguh hendak menghaturkan selamat hari ulang tahun kepada guru. Terang sekali dengan dalih itu, mereka menyembunyikan maksud hati masing-masing."

"Apakah engkau bisa membaca maksud mereka?" Bagus Kempong berganti bertanya. Suryaningrat adalah murid Kyai Kasan Kesambi yang kelima. Meskipun sikapnya masih berbau kekanak-kanakan, tetapi otaknya cerdas dan cekatan. Dalam kebanyakan hal, ia pandai mengambil kesimpulan dengan cepat dan tepat. Hal itu disebabkan, karena dia memiliki pembawaan prarasa yang kuat. Maka menjawablah dia. "Kukira mereka datang bukan untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun. Juga bukan mengungkat-ungkat peristiwa pembunuhan orang-orang Banyumas dahulu. Tetapi kedatangan Kangmas Wirapati dan Sangaji yang membawa-bawa dongengan pusaka warisan Bende Mataram, bukankah suatu peristiwa yang amat menarik?"

"Ah betul," puji Bagus Kempong. Seko-nyong-konyong beralih, "di manakah anak Sangaji kini berada? Bawalah dia masuk ke dalam dan jangan perkenankan sembarangan muncul di paseban. Mengingat pengalamanku dahulu, di antara mereka pasti ada yang lagi mengincar dirinya."

Suryaningrat terus saja keluar kamar dan memanggil salah seorang ketua siswa. Setelah menyampaikan perintah agar membawa Sangaji masuk ke dalam, dia kembali meng-hadap Bagus Kempong. Berkata lagi minta pertimbangan. "Apakah yang harus kita lakukan kini?"

Bagus Kempong adalah seorang ksatria yang tenang sikapnya, berhati-hati dan senantiasa berwaspada. Tak sembarangan dia bertindak menuruti ungkapan pemikiran yang meletus dengan mendadak apabila hatinya belum yakin. Maka setelah merenung-renung sejenak, dia berkata mengandung keputusan, "'Biarlah kita berlaku hati-hati dahulu dan jangan ceroboh menentukan sikap. Asalkan kita bersatu-padu, kekuatan kita takan mengecewakan. Anak murid Kyahi Kasan Kesambi sudah terlalu sering mengalami gelombang badai, masakan takut menghadapi mereka?"

Suryaningrat jadi ikut berpikir pula. Jumlah mereka kini tinggal empat orang, tetapi masih mempunyai Sangaji yang memiliki ilmu sakti tak beda dengan mereka. Di samping dia, masih ada pula Kyai Kesambi yang ilmu kepandaiannya sudah mencapai tingkatan kesempurnaan. Hanya saja, dia harus mempertimbangkan usianya yang sudah tua. Dalam menghadapi suatu kekerasan yang maha besar, sedapat mungkin orang tua itu harus berada di luar garis. Betapa tinggi ilmunya tetapi usianya yang sudah tua itu tak mengizinkan otaknya terlalu keras bekerja.


Cukuplah sudah, dia memberi petunjuk-petunjuk saja yang akan diselesaikan oleh anak muridnya. Oleh pertimbangan ini, Suryaningrat nampak berpikir makin keras. Sadarlah dia, bahwa urusan hari ini tidaklah gampang diselesaikan dengan begitu saja. Maklumlah, jumlah mereka sangat besar dan nampaknya seia-sekata dalam satu tujuan tertentu. Dapatkah dia berlima menandingi mereka? Bagaimanapun juga akibatnya, anak murid Kyai Kasan Kesambi akan mempertahankan pamor perguruan. Namun sulitnya bukan kepalang.

Dalam pada itu Gagak Handaka dan Ranggajaya berdua, terus mendampingi gurunya tanpa beristirahat. Diam-diam mereka bercuriga juga dan mencoba menebak maksud kedatangan para tamu. Menyaksikan tamu datang tiada berputusan, mereka jadi bertam-bah heran. Belum lagi mereka berhasil menebak maksud kedatangan mereka, kem-bali lagi penjaga padepokan datang melapor.

"Gusti Ayu Kistibantala datang atas nama Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono II. Beliau datang dengan tiga puluh pengiring dengan membawa bingkisan raja."

Suryaningrat yang mendengar bunyi lapor-an itu, terus saja keluar dari kamar. Keruan saja Bagus Kempong, Gagak Handaka, Ranggajaya tersenyum memaklumi. Hati siapa tak tergerak mendengar kekasih yang dirindukan tiba pula tanpa diundang. Sudah barang tentu muka Suryaningrat merah padam. Sikapnya mendadak saja jadi kaku.

"Mari, mari kita berdua menyambut dia," ajak Bagus Kempong.

Gusti Ayu Kistibantala, ternyata seorang wanita yang berperawakan padat berisi, gagah dan berwibawa. Perbawanya tak kalah dengan seorang pria. Tatkala melihat Suryaningrat, terus saja kepalanya menunduk. Pandang matanya berseri-seri. Wajahnya menjadi merah jambu. Suatu tanda, bahwa hatinya ikut berbicara.

Segera Bagus Kempong maju dengan memberi hormat serta mempersilakan masuk ke paseban. Suryaningrat sendiri, sikapnya makin kaku. Tak berani dia memandang kekasihnya.

Tetapi tatkala sekalian tamu berdiri memberi hormat, diam-diam ia mencuri pandang. Secara kebetulan pula, Gusti Ayu Kistibantala menoleh. Begitu pandang mereka bertemu, masing-masing tergetar hatinya. Tiba-tiba Ranggajaya berdehem. Keruan saja mereka berdua jadi tersipu-sipu. Tertawalah Rangga-jaya dan terus saja berkata, "Eh, tak kukira bahwa dehemku mengejutkan kalian. Mari kupilihkan tempat duduk sebaik-baiknya."

Suryaningrat tercekat hatinya, la khawatir, kakaknya seperguruan akan mencarikan sebuah tempat duduk panjang yang sengaja diperuntukkan baginya. Bukankah dia lantas akan merupakan pengantin di tengah para tamu? Tetapi, ternyata kakaknya seperguruan hanya bergurau belaka. Dengan begitu tenteramlah hatinya. Tatkala melihat pengiring kekasihnya yang berjumlah tiga puluh orang, hatinya jadi bersyukur. Katanya dalam hati, dia membawa tiga puluh pengiring. Apabila terjadi suatu kekerasan, masakan dia tak mau membantu kita?

Begitulah dalam setengah hari saja, tetamu dari berbagai daerah datang tak berkeputusan. Nama Kyai Kasan Kesambi sesungguhnya sangat tenar dalam pergaulan luas. Namun kedatangan para tamu ini benar-benar luar biasa dan tidak sewajarnya. Anak-anak murid dan sekalian cantrik Gunung Damar jadi repot luar biasa. Persiapan-persiapan perjamuan sama sekali tiada. Karena harus menyuguh tamu, mau tak mau mereka terpaksa hanya menyediakan semangkok nasi dengan sedikit sayur dan tempe godok. Berulang-ulang kali Gagak Handaka atas nama gurunya menyatakan diri sangat menyesal, karena tak mampu menghidangkan sesuatu yang lebih baik lagi.

Tatkala itu Ranggajaya dan Bagus Kempong memperhatikan tetamu-tetamu mereka. Mereka melihat para pemimpin atau ketuanya bisa menghargai diri sendiri tanpa membawa senjata. Tetapi diantara anak murid atau pe-ngiringnya dengan diam-diam menyembu-nyikan senjata di balik baju dan kainnya. Hanya anak murid Purut Pranolo dan pengi-ring-pengiring Pangeran Arya Blitar dan Gusti Ayu Kistibantala yang benar-benar datang dengan bertangan kosong.


Ranggajaya yang berwatak keras, mendongkol menyaksikan mereka yang diam-diam menyembunyikan senjata. Ini adalah suatu perbuatan rendah dan kotor. Mestinya mereka harus meninggalkan senjata mereka tatkala hendak mendaki gunung. Meskipun demikian, ia tak bisa berbuat lain kecuali menelan kenyataan pahit.

Maklumlah, mereka adalah tamu. Dan Kyai Kasan Kesambi tiada mengadakan peraturan menanggalkan senjata apabila hendak mene-mui dirinya. Hal itu hanya diserahkan kepada pertimbangan keluhuran budi masing-masing belaka.

Hadiah-hadiah dan bingkisan-bingkisan mereka pun hanya terdiri dari barang-barang lumrah yang mudah diperoleh di pasar terbuka atau kedai-kedai jalan. Hadiah dan bingkisan demikian tidaklah pantas dipersembahkan kepada Kyai Kasan Kesambi yang termasyhur sebagai guru besar pada zaman itu. Hanya bingkisan dari Kanjeng Pangeran Arya Blitar dan Gusti Ayu Kistibantala saja yang benar-benar di nilai. Atas nama Sri Sultan Hamengku Buwono II, Gusti Ayu Kistibantala membawa satu peti penuh dengan 200 macam barang. Kecuali itu, masih ada pula 10 potong jubah pertapaan, dari bahan sutra Tionghoa.

"Jubah pertapaan ini adalah hasil pekerjaan para dayang. Meskipun karya sangat kasar, tetapi oleh dorongan hati yang sembrono, kami memberanikan diri mempersembahkan sebagai bingkisan ulang tahun sang Panembahan," kata Gusti Ayu Kistibantala.

Senang sekali Kyai Kasan Kesambi mendengar kata-kata Gusti Ayu Kistibantala. Dengan tertawa ia menyahut, "Almarhum ayahanda Sri Paduka Sultan Hamengku Buwono 11, adalah sesembahanku pada zaman Perang Giyanti. Sekarang puteranya masih ingat memberi anugerah jubah pertapaan kepada seorang pendeta tak berarti yang bermukim di pinggang Gunung Damar. Benar-benar suatu anugerah tak ternilai harganya."

Dalam pada itu, Suryaningrat yang banyak tipu muslihatnya, melihat para tetamu sering melihat keluar paseban seolah-olah menunggu kedatangan jagonya. Diam-diam ia jadi heran dan curiga. Pikirnya, bala bantuan yang mana lagi yang mereka tunggu? Celakalah keadaan guru. Karena tak mengira bakal tertumbuk suatu permusuhan dalam selimut, sampai tak sempat memberi kabar kepada sahabat sejatinya. Seumpama guru mengerti akan mengalami peristiwa demikian masakan sahabat-sahabatnya seperti Paman Gagak Seta, Adipati Surengpati dan Kebo Bangah tak diundang hadir. Dengan kehadiran tiga tokoh sakti itu, tidaklah perlu menggubris sepak terjang mereka.

Sekonyong-konyong Bagus Kempong mem-bisiki, "Suryaningrat! Apakah kakakmu Wira-pati belum ada kabar beritanya?',

Memperoleh pertanyaan itu, Suryaningrat terperanjat. Pikirnya, ya, mestinya Kangmas Wirapati harus sudah datang. Dia telah pergi selama satu minggu. Masakan belum sampai ke tujuan? Dengan berpikir demikian, ia menggelengkan kepala.

Bagus Kempong nampak menghela napas panjang. Berkata dengan berbisik, "mereka datang untuk dia. Dengan membawa pusaka Bende Mataram atau tidak, pastilah mereka akan menerbitkan gara-gara sebagai alasan untuk mengompres keterangan dari mulut kakakmu dan Sangaji. Yah, urusan sudah jadi begini, terpaksa kita lawan mereka sekuat tenaga."

Di antara kelima murid Kyai Kasan Kesambi, pribadi Bagus Kempong adalah selalu bersungguh-sungguh. Jarang sekali dia bergurau. Dan apa yang telah terucapkan pasti mempunyai alasan kuat. Boleh jadi, mereka semua akan mengalirkan darah di atas padepokan yang mendidik dan membesarkannya. Di antara para tamu, apabila satu lawan satu kecuali Pangeran Arya Blitar, mungkin tiada yang mampu menandingi anak murid Kyai Kasan Kesambi. Tetapi perbandingan mereka adalah satu lawan 40. Maka bergegas Suryaningrat mengajak Bagus Kempong masuk ke dalam kamar lagi. Kemudian memanggil pula Sangaji. Bagus Kempong menurut ajakan adiknya yang bungsu, karena adiknya ini kerap kali mempunyai akal dan tipu muslihat.


"Kangmas Bagus Kempong," ia berkata, "sebentar apabila terjadi suatu kekerasan, biarlah kita berusaha satu melawan satu. Hanya saja mereka nampaknya mempunyai tujuan yang sama. Dalam suatu kebutuhan yang sama pastilah mereka akan melakukan keroyokan, apabila kita mencoba melawan."

"Ujar Dimas Suryaningrat sedikit pun tak salah," sahut Bagus Kempong. "Hanya saja kuusutkan agar Sangaji meninggalkan gunung. Mereka datang untuk dia. Dengan hilangnya dia, tujuan mereka jadi sia-sia. Siapa tahu, mereka lantas saling menyalahkan dan kemudian terbit suatu permusuhan. Dengan demikian, darah kita ada harganya untuk kita percikkan di atas bumi."

Mendengar Bagus Kempong berkata demikian, Sangaji jadi terkejut. Terus saja dia menyahut. "Paman! Manakala sekalian Paman tewas berlumuran darah, masakan aku akan ngacir meninggalkan gunung? Meskipun aku bukan berasal dari Gunung Damar, tetapi guruku diasuh di pertapaan ini."

"Anakku yang baik," tukas Suryaningrat, "ucapanmu, senang aku mendengarkan. Tetapi engkau harus bisa berpikir lebih jauh. Jika engkau sampai tewas pula di sini, siapa lagi yang akan membalaskan dendam kami?"

Sangaji tergugu mendengar kata-kata Sur-yaningrat. Memang dia pun tak pandai berde-bat atau mengemukakan pikiran dengan ce-pat. Maka sekaligus terbungkamlah mulutnya.

"Kangmas Bagus Kempong," kata Surya-ningrat sejurus kemudian, "aku mempunyai akal untuk menghadapi mereka. Hanya saja terlalu keji dan berbahaya."

"Coba katakan, kudengarkan," perintah Bagus Kempong.

"Begini. Kita masing-masing mengincar seorang lawan tertentu. Sekali gebrak, kita harus dapat menawannya dalam satu jurus. Dengan menawan mereka, kawan-kawan mereka takkan sembarangan bergerak."

Bagus Kempong diam menimbang-nimbang. Pikirnya, sekali gebrak harus bisa menawan? Kalau gagal, besar bahayanya...

"Kangmas Bagus Kempong, janganlah takut gagal" Suryaningrat seakan-akan bisa mem-baca hati. "Biarlah kita menggunakan ilmu Pamekak Manikem!"

Mendengar Suryaningrat mengucapkan nama ilmu itu, sekujur badan Bagus Kempong jadi meremang. Sangaji yang belum mengenal ilmu itu, jadi keheran-heranan. Terus saja dia bertanya, "Ilmu apakah itu?"

Dengan beragu Suryaningrat memandang Bagus Kempong untuk minta pertimbangan. Melihat Bagus Kempong masih saja diam ter-paku, lantas saja dia berkata menerangkan.

"Anak Sangaji, sebenarnya ilmu Pamekak Manikem ini tak boleh kukabarkan kepadamu. Tetapi menimbang, bahwa engkau termasuk golongan kami, biarlah kuterangkan kepa-damu. Hanya saja, janganlah berharap bahwa salah seorang dari kami akan mengajari. Sebab, ilmu tersebut sangat keji."

Sesungguhnya ilmu Pamekak Manikem tersebut adalah ciptaan Ranggajaya. Gerakan-nya mencengkeram, menangkap dan menu-bruk. Ciptaan itu berdasarkan ilmu ciptaan Kyai Kasan Kesambi yang bernama, ilmu Pamekak Nyawa. Jurusnya terdiri dari 14 macam. Dan merupakan ilmu perguruan Gunung Damar yang berbahaya dan sangat hebat. Tetapi Ranggajaya yang berdarah muda, masih pula menambahi dengan tujuh jurus. Tatkala dia memperlihatkan ilmu cip-taannya kepada gurunya, ternyata hanya disambut dengan anggukan kecil belaka.

Memperoleh kesan, bahwa gurunya hanya mengamini belaka, Ranggajaya mengira bah-wa ilmu ciptaannya kurang sempurna. Maka dengan bertekun dia memperlengkapi dan menguatkan titik-titik kelemahannya. Bebera-pa bulan kemudian dia mempertunjukkan kembali di depan gurunya. Namun sekali lagi Kyai Kasan Kesambi tidak begitu bersemangat


menyambut ciptaannya. Dengan menghela napas, orang tua itu berkata: "Ranggajaya! Tujuh jurus ciptaanmu adalah jauh lebih berbahaya daripada ilmu Pamekak Nyawa. Biarlah kunamakan Ilmu Pamekak Manikem. Hanya saja, titik seranganmu mengarah pada ping-gang dan bawah perut. Siapa yang kena kau-cengkeram, akan habislah keturunannya. Karena itu aku menamakan Manikem. Apakah ilmu ciptaanku yang berterus terang, kurang cukup kuat, sehingga engkau perlu membuat lawan tak bisa berkutik selama-lamanya?"

Keringat Ranggajaya terus saja merembes keluar setelah mendengar celaan gurunya, la hendak membuang ilmu ciptaannya. Tetapi seminggu kemudian, saudara-saudara seperguruannya dipanggil gurunya. Kata orang tua itu, "Tujuh jurus ilmu ciptaan Ranggajaya adalah hasil karya tak mudah. Dengan tak mengenal lelah, ia berusaha menciptakan suatu ilmu sebagai penambah ilmu Pamekak Nyawa. Sebenarnya sangatlah sayang untuk dibuang dengan begitu saja, karena ilmu ciptaannya itu akan merupakan ilmu tunggal dalam jagat ini. Bolehlah kalian minta belajar kepadanya. Hanya saja, ilmu itu jangan kalian pergunakan di sembarang tempat, apabila tiada terpaksa benar. Sebab orang yang kena cengkeraman ilmu ciptaan Ranggajaya, akan hancur benih keturunannya."

Gagak Handaka, Bagus Kempong, Wirapati dan Suryaningrat lalu mempelajari ilmu terse-but dengan pedoman gurunya. Selamanya belum pernah mereka menggunakan ilmu tersebut. Hari itu, keadaan sangat memaksa, maka Suryaningrat teringat akan ilmu itu. Meskipun demikian, Bagus Kempong masih beragu.

"Benar ilmu Pamekak Manikem akan meng-hancurkan bibit keturunan, tetapi aku mempunyai akal. Kita pilih saja, mereka yang sudah tua, atau yang menjadi pendeta."

Bagus Kempong tersenyum, sedang Sangaji lantas jadi ikut berpikir dengan sibuknya.

"Engkau sangat nakal dan pandai mencari akal," ujar Bagus Kempong sejurus kemudian.

"Baiklah, apabila kita terjepit, atas usulmu akan kami lakukan jurus-jurus ilmu Pamekak Manikem."

Setelah memperoleh keputusan, mereka berdua terus membisiki rencana itu kepada Gagak Handaka dan Ranggajaya. Mereka berdua diam-diam terperanjat, tetapi dengan diam-diam mereka mulai memilih sasaran juga. Hanya Sangaji seorang yang tak dapat melakukan jurus-jurus ilmu Pamekak Mani-kem, karena sama sekali buta. Tetapi dalam hatinya ia berjanji hendak berjuang sekuat tenaga untuk mengusir bahaya.

Sehabis makan dan pelayan telah member-sihkan meja, Ranggajaya yang menciptakan ilmu Pamekak Manikem jadi tak enak sendiri. Segera ia mempersilakan Gagak Handaka untuk memperoleh pertimbangan. Katanya, "Keadaan kita agaknya memang terjepit, sehingga mau tak mau kita harus memikirkan menggunakan ilmu itu. Tetapi masakan ilmu sekejam itu terpaksa digunakan pada hari ulang tahun guru yang ke-83? Bukankah akan mengotori usia guru yang suci? Cobalah Kangmas carikan jalan yang lebih sempurna lagi!"

Memang dalam hati, Gagak Handaka beragu juga. Maka setelah merenung sebentar suatu bayangan berkelebat dalam benaknya. Terus berkata, "Ranggajaya! Bukankah Wirapati sudah satu minggu meninggalkan perguruan?"

Diingatkan tentang kepergian Wirapati, hati Ranggajaya tergerak. Segera ia mengetahui maksud kakak seperguruannya. Ya, seumpa-ma Wirapati telah berada diantara mereka, kesulitan ini akan dapat diselesaikan. Karena Wirapati akan bisa memberi penjelasan. Apabila dia datang membawa pusaka Bende Mataram, gurunya pun akan bisa bertindak bijaksana, suatu pertempuran bisa dihindarkan dengan lebih gampang.

Cepat ia memanggil Bagus Kempong dan Suryaningrat. Lalu dikabarkan tentang diri Wirapati yang sudah satu minggu belum pulang ke gunung.

"Andaikata Wirapati sudah berada di sini, tak usahlah kita berusah-payah lagi. Apa pen-dapatmu kalau salah seorang di antara kita menyusul dia?"


Bagus Kempong dan Suryaningrat me-nyetujui pendapatnya. Hanya saja, siapa yang harus menyusul, inilah soalnya. Mereka semua tak boleh meninggalkan paseban, mengingat gawatnya suasana. Kecuali itu, mereka tak mengetahui tempat tujuan Wirapati dengan sejelas-jelasnya. Satu-satunya orang yang bisa menyusul Wirapati dengan cepat adalah Sangaji sendiri. Teringat akan saran Bagus Kempong bahwa Sangaji harus meninggalkan gunung apabila nanti terbit suatu pertempuran, Suryaningrat lantas berkata: "Baiknya anakku Sangaji saja yang menyusul. Bukankah ini suatu alasan yang bagus pula untuk menjauhkan dia dari persoalan gawat? Kita tak usah bercemas hati lagi memikirkan keselamatannya. Demikian, kita bisa bertempur dengan lebih tenang dan mantap."

Ranggajaya dan Bagus Kempong menyetujui pendapat itu. Maka Sangaji terus saja dipanggilnya dan diperintahkan turun gunung menyusul Wirapati. Mereka sendiri terus kembali ke paseban menemui tetamunya kembali.

Dalam pada itu, di paseban telah terjadi suatu perubahan. Gagak Handaka yang sela-ma itu hanya bersikap membisu dan seolah-olah tiada pedulian atas kehadiran para tetamu yang datang tiada diundang, seko-nyong-konyong mengambil tindakan di luar dugaan. Dengan berdiri tegap, ia mem-bungkuk tiga kali dan terus berkata nyaring.

"Tuan-tuan yang mulia, para sahabat perkenankan kami atas nama guru meng-haturkan terima kasih atas kehadiran Tuan-tuan sekalian pada hari ulang tahun ke-83 guru kami. Seluruh penghuni perguruan Gunung Damar amat gembira dan berbesar hati. Hanya saja, sayang dalam pelayanan kami kurang memuaskan dan terlalu sederhana. Untuk itu, kami mohon dimaafkan. Memang kehadiran Tuan-tuan sekalian di luar dugaan kami. Guru sendiri, tiada berencana memberi kabar kepada Tuan-tuan sekalian. Sebaliknya, kami pun sadar bahwa kedatangan Tuan-tuan sekalian ini, kecuali hendak mengunjungi hari ulang-tahun Guru, ingin pula mendengar kabar tentang diri adik kami seperguruan Wirapati. Adik kami seperguruan Wirapati lenyap dari perguruan selama 12 tahun. Dia datang dengan membawa kabar yang menggemparkan Tuan-tuan sekalian. Yakni, membawa pusaka warisan Bende Mataram yang semenjak zaman bahari sudah menjadi pembicaraan ramai dan menjadi bahan perebutan pula. Sebenarnya, pada bulan depan kami akan mengundang Tuan-tuan sekalian. Kemudian adik kami seperguruan Wirapati akan kami persilakan untuk me-nerangkan tentang pusaka warisan tersebut. Karena itu, kedatangan Tuan-tuan sekalian pada hari ini pasti akan kecewa. Betapa tidak?

Pertama kali, adik kami seperguruan belum bersiaga untuk memenuhi kehendak Tuan-tuan sekalian. Kedua, kami semua mempersiapkan diri untuk mengatur perjamuan tersebut. Baiklah kita mundurkan beberapa waktu dahulu, sementara ini, untuk mengganti kekecewaan Tuan-tuan sekalian, kami semua bersedia mengantarkan Tuan-tuan sekalian berkeliling menikmati pemandangan Gunung Damar yang berdiri megah semenjak zaman dahulu di antara bukit-bukit Geger Menjangan, Jambu dan Sundoro Sumbing."

Hebat kata-kata Gagak Handaka. Terdengar sederhana dan wajar, tetapi sebenarnya lang-sung menikam tenggorokan mereka. Pertama secara tidak langsung ia menegaskan, bahwa Kyai Kasan Kesambi dan sekalian anak-muridnya sebenarnya sudah dapat menebak maksud mereka sesungguhnya di balik bingkisan dan ucapan-ucapan selamat. Kedua, mencegah mereka memaksa Wirapati menerangkan rahasia pusaka warisan Bende Mataram. Ketiga, menitik-beratkan kepada arti hari ulang tahun. Karena itu apabila ada yang membuat keruh akan berarti sengaja menerbitkan permusuhan. Dengan demikian apabila anak-murid Kyai Kasan Kesambi mengambil tindakan, adalah wajar.

Seketika itu juga, para tetamu nampak gelisah. Nyatalah kini, bahwa kedatangan mereka benar-benar bukan untuk mengucap-kan kata-kata selamat hari ulang tahun kepada guru besar Kyai Kasan Kesambi, tetapi hendak memperoleh keterangan tentang berita pusaka Bende Mataram. Meskipun mereka tiada bersekutu, tetapi tujuan kedatangannya adalah sama. Hanya


saja mereka tak berani bertindak ceroboh, mengingat nama perguruan Kyai Kasan Kesambi termasyhur di seluruh Nusantara. Masing-masing takut menanggung akibatnya apabila dengan terang-terangan hendak menerbitkan bibit permusuhan. Tetapi seumpama mereka seia-sekata dalam suatu tindakan, rasanya ada juga yang berani tampil ke muka sebagai pembukaan jalan. Maklumlah, jumlah mereka melebihi seratus orang. Masakan mereka tak bisa merobohkan Kyai Kasan Kesambi dengan sekalian anak muridnya, andaikata sampai terjadi suatu pertumpahan darah. Maka beberapa saat, mereka saling memandang minta pertimbangan. Akhirnya, saling berbisik menyatakan gerutu hatinya.

Setelah mereka saling berbisik dan ber-bicara, tampillah seorang laki-laki berpera-wakan pendek gemuk. Dia bercambang agak tebal. Matanya bulat dan wajahnya berkesan keruh. Dialah pendekar undangan Pangeran Bumi Gede berasal dari Blora yang datang dengan membawa enam pendekar undangan lainnya. Namanya Wongso Udel, seorang sakti yang ternama di daerahnya. Kedatangannya entah sepengetahuan Pangeran Bumi Gede entah atas kehendak sendiri, tidaklah terang. Dengan membusungkan dada agar bisa mem-peroleh suara nyaring, ia berkata lantang,

"Rekan Gagak Handaka yang kami hormati. Rasanya tak perlu lagi, kami main bersembu-nyi-sembunyian. Biarlah kami berkata dengan terus-terang. Maksud kedatangan kami yang pertama, memang untuk ikut merayakan hari ulang tahun guru besar Kyai Kasan Kesambi. Di samping itu, kami ingin mencari keterangan tentang tempat persembunyian pusaka Bende Mataram. Kami sadar, bahwa permintaan itu sangat pantas, mengingat pusaka itu bukan milik perguruan Gunung Damar atau milik siapapun juga. Tetapi milik umum. Katakanlah, milik dunia. Berikanlah kami kesempatan untuk mengadu untung. Atas budi Tuan, kami takkan melupakan. Jika di kemudian hari ada perkembangannya, bukankah nama-nama Tuan akan tercantum sebagai tokoh-tokoh percaturan negara?"

"Bagus! Bagus! Setuju!" Terdengar suara sokongan dari beberapa penjuru.

Suryaningrat, murid kelima Kyai Kasan Kesambi yang masih berdarah muda, mendongkol mendengar suara mereka. Lantas saja dia meledak.

"Bagus! Pantas! Pantas! Inilah tamu yang pantas dihormati."

Mendengar kata-kata Suryaningrat, pendekar Wongso Odel terperanjat. Sebentar ia menjadi bingung hendak menentukan sikap. Kemudian berkata seolah-olah minta kete-rangan, "Apakah ada yang kurang pantas?"

"Hm semula aku mengira, kalian datang semata untuk menghaturkan atau mengucapkan selamat ulang tahun Guru. Mendadak saja aku heran, sewaktu menyaksikan dan melihat di antara kalian ada yang membawa senjata. Apakah kalian hendak membawa hadiah senjata kepada Guru?" sahut Suryaningrat. "Timbulah kini pertanyaanku, beginikah tamu-tamu yang harus kuhormati?"

"Lihatlah yang terang! Lebarkan matamu dan tebarkan penglihatanmu!" Wongso Udel meledak. "Seorang anak muda janganlah membiasakan diri gampang menuduh. Buktikan di antara kami, siapakah yang membawa senjata?"

"Bagus! Memangnya aku tak mampu mencari bukti!" ejek Suryaningrat. Dan berbareng dengan ucapannya, terus saja Suryaningrat menyambar dua orang tetamu sekaligus. Dalam satu gerakan, pinggang kedua orang itu kena ditarik. Seketika itu juga, jatuhlah dua golok pendek bergeroncangan di atas lantai dari pinggang mereka. Melihat jatuhnya senjata, semua yang hadir jadi terbungkam. Dengan gugup pendekar Wongso Udel berkata gagap, "Ya... ya... benar! Senjata! Tapi... maksud mereka... apakah salahnya menggunakan senjata, seumpama kakakmu seperguruan Wirapati tak sudi menjelaskan tempat beradanya pusaka warisan itu."

Menggigillah tubuh Suryaningrat karena menahan marah. Sewaktu hendak mendamprat, tiba-tiba terdengarlah suara bersahutan dari tiga penjuru, kemudian menyerukan salam,

"Assalamualaikum..."

Suara seruan mereka terdengar sangat nyaring, terang dan berkumandang, padahal tubuh mereka belum nampak. Keruan saja para tetamu yang hadir terperanjat. Karena apabila seseorang belum mencapai ilmu sakti sedemikian tinggi, tidaklah mampu bersuara dari jauh seolah-olah hanya berhadap-hadapan saja. Maka seperti saling berjanji, mereka bercelingukan mencari arah datangnya.

"Kami datang berempat," seru mereka lagi. "Lumbung Amiseno dari Gunung Lawu, Warok Kudawenengpati dari Bulukerto, Watu Gunung dari Gunung Tangkubanperahu dan Adipati Pesantrenan Sosrokusumo. Kami datang untuk mengucapkan selamat hari ulang tahun Kyai Kasan Kasambi."

Mendengar ucapan mereka, Kyai Kasan Kesambi lalu membalas seruan dengan ilmu Peliritan untuk mencapai jarak jauh.

"Silakan! Silakan datang! Kami akan menyambut kedatangan Tuan-tuan bersama anak murid kami."

Nampaknya suara itu diucapkan dengan wajar belaka tetapi bisa menembus lapisan alam, sehingga mengejutkan sekalian tetamu. Mereka semua lantas saja berhati ciut.

Kanjeng Pangeran Arya Blitar yang selama itu berdiam diri, mendadak saja berdiri sambil berseru girang.

"Benar-benarkah mereka datang? Jika begitu, kedatanganku kemari bukanlah sia-sia."

Pangeran ini pun memiliki ilmu Peliritan, sehingga dapat berbicara seakan-akan berhadap-hadapan saja. Keruan, para tetamu yang menyaksikan kesaktian itu diam-diam kagum dalam hati. Sebaliknya waktu itu Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat lantas berpikir, apakah tokoh-tokoh sakti itu pun datang untuk kepentingan pusaka Bende Mataram? Apabila benar, teranglah sudah bahwa pusaka Bende Mataram benar-benar ada dan bukan meru-pakan dongeng belaka. Mengingat tanda-tan-danya, agaknya tak gampang kita dapat menyelesaikan.

"Kalian datanglah segera! Aku Arya Blitar berada pula di sini..." seru Kanjeng Pangeran Blitar lagi.

Tak lama kemudian, munculan empat orang yang tiba di halaman paseban hampir berbareng. Yang datang dari arah utara berperawakan tinggi semampai. Dialah Adipati Pesantrenan Sosrokusumo. Orangnya berkumis, pandang matanya berkilatan. Suatu tanda, bahwa dia telah memiliki ilmu sakti yang sukar diraba tingginya.

Yang datang dari arah barat, berperawakan pendek ketat. Rambutnya sudah hampir memutih semua. Dia mengenakan pakaian hijau muda dan memperkenalkan diri dengan nama Watu Gunung. Melihat bentuk dan pakaiannya serta namanya orang lantas mem-bayangkan sebuah batu berlumut.

Yang datang dari arah timur dua orang, Perawakan mereka tinggi besar dan seram. Mereka mengenakan pakaian pendeta daerah dan bangga pula akan pakaiannya. Nama mereka Lumbung Amiseno dan Warok Kudawanengpati.

Begitu melihat Kyai Kasan Kesambi menyongsong sampai di halaman, mereka terus saja berdiri menghormat, kata mereka hampir berbareng: "Selamat! Selamat! Kami percaya, Tuan akan bisa hidup 200 tahun lagi!"

Kyai Kasan Kesambi membalas hormat dengan takzim kemudian memperkenalkan kepada sekalian tetamu yang berada di paseban. Karena jumlah tetamu sangatlah banyak, maka setelah mengambil tempo agak lama, barulah mereka duduk pada suatu tempat dekat Kanjeng Pangeran Arya Blitar. Maklumlah, meskipun mereka bukan keturunan orang ningrat, tetapi tingkatan mereka sejajar dengan Kanjeng Pangeran Arya Blitar.


Diam-diam Suryaningrat memperhatikan keadaan tetamunya kembali. Kemudian berpikir, mereka sekarang tak lagi mengarahkan perhatiannya ke luar. Apakah mereka inilah yang ditunggu-tunggunya?

Tentang siapakah Adipati Pesantrenan, Watu Gunung, Lumbung Amiseno dan Warok Kudawanengpati, semua anak-murid Kyai Kasan Kesambi pernah mendengar kabarnya dari gurunya.

Mereka adalah sesama-perguruan dan sengaja bermukim di tiga penjuru dalam mengabdi cita-cita masing-masing. Guru mereka dahulu, konon kabarnya seorang sakti dari Gunung Semeru bernama Resi Buddha Wisnu. Nama itu pernah mengguncangkan pendekar-pendekar ulung pada zamannya. Dikabarkan bahwa Resi Buddha Wisnu pernah menyeberang Pulau Bali dengan hanya berkendaraan setangkai daun alang-alang. Pernah membunuh seekor naga di telaga Rengel Tuban seorang diri dengan bersenjatakan sepotong kain sutra. Dan termasyhur ilmu ketabibannya pula. Karena itu, meskipun orang belum pernah menyaksikan—murid-muridnya yang berjumlah empat orang tersebut kabarnya sakti pula. Mereka telah mewarisi kepandaian gurunya. Maka namanya disegani dan dimalui segenap orang di seluruh Nusantara.

Jarang sekali mereka menampakkan diri dalam pergaulan umum, apabila tiada sesuatu alasan penting yang memaksa mereka keluar dari pertapaan masing-masing. Kali ini, mereka bahkan datang berbareng dengan men-dadak. Keruan saja, peristiwa demikian gam-pang ditebak. Mau tak mau memaksa sekalian anak murid Kyai Kasan Kesambi meninggikan kewaspadaan. Sebentar lagi permainan pasti akan dimulai dan dengan hati-hati mereka menunggu sambil bersiaga.

"Hari ini padepokan Gunung Damar kebanjiran tetamu. Sama sekali tak terduga, bahwa rekan Lumbung Amiseno, Watu Gunung, Kudawanengpati dan Adipati Pesantrenan sudi melelahkan diri mengunjungi pertapaan orang tak berarti," kata Kyai Kasan Kesambi dengan tertawa merendahkan diri.

Apabila ditinjau tentang perbedaan umur mereka dengan Kyai Kasan Kesambi paling tidak selisih 20-30 tahun. Namun Kyai Kasan Kesambi menyebut mereka sebagai rekan. Suatu bukti, bahwa Kyai Kasan Kesambi seseorang yang begitu kokoh memegang tata cara umum dan bahkan bersedia merendahkan diri. Tetapi merekapun bisa membawa diri. Dengan agak segan-segan, mereka berbicara dan tiada berani membawa sikap angkuh.

"Kyai Kasan Kesambi! Kalau menurut usia, kami berempat terhitung angkatan muda daripada Kyai Kasan Kesambi. Dengan begitu, sebenarnya setingkat dengan anak murid perguruan Gunung Damar. Sebaliknya mengingat nama guru kami Resi Buddha Wisnu yang pernah menduduki tempat teratas dalam percaturan zaman yang telah lampau, maka kami atas namanya pula ingin memperoleh keterangan yang terus terang kepada Kyai Kasan Kesambi. Kami mengharap, semoga Kyai Kasan Kesambi jangan merasa tersinggung."

Tabiat Kyai Kasan Kesambi sesungguhnya senang berterus terang. Itulah sebabnya, begitu mendengar kata-kata tetamunya, segera ia berkata: "Apakah kedatangan empat orang sakti dari tiga penjuru ini, mempunyai kepentingan dengan tibanya murid kami yang keempat Wirapati setelah merantau dari pertapaan selama dua belas tahun?"

"Benar," sahut Lumbung Amiseno. "Inilah celakanya, mengapa dahulu kami berempat menyanggupkan diri untuk memenuhi pesan terakhir guru kami Resi Buddha Wisnu. Yang pertama, kami diwajibkan untuk dapat mendengarkan dimanakah pusaka Bende Mataram berada. Dan yang kedua, bagaimana asal mula pusaka Bende Mataram tersebut diketemukan. Sebab bagi kami, pusaka tersebut merupakan mustika yang paling berharga dan bernilai. Pusaka tersebut bahkan merupakan jiwa kami, mercu suar kami, matahari kami dan akhirnya lambang kejayaan tanah air. Konon ditambahkan bahwa pada pusaka warisan itulah diselipkan suatu rahasia besar untuk dapat mengatur kesejahteraan tanah air. Itulah sebabnya tolonglah


kami memperoleh keterangan tersebut. Hal ini bukan berarti, kami berempat kemaruk kekuasaan. Melainkan semata-mata untuk memenuhi janji guru. Kyai Kasan Kesambi, pasti mengerti arti pesan seorang guru."

Halus dan cukup sopan kata-kata pendekar Lumbung Amiseno. Tetapi dibalik itu terasa, betapa dia mengadakan desakan tajam. Suryaningrat yang berdarah panas karena usianya masih muda, lantas saja menjawab dengan lantang.

"Paman Lumbung Amiseno! Menurut pengakuan Paman sendiri, kedudukan kami berlima adalah sederajat serta setingkat dengan paman sekalian. Karena itu, tak usahlah Guru kami bersusah payah menjawab pertanyaan dan permintaan Paman. Cukuplah kami, Suryaningrat, murid termuda guru kami, Kyai Kasan Kesambi."

"Eh! Engkau hendak berkata apa?" damprat pendekar Watu Gunung yang merasa diri ber-usia lebih lanjut.

"Kakakku seperguruan Wirapati, memang telah datang kembali ke perguruan setelah menghilang dua belas tahun lamanya. Tetapi alasan kepergiannya bukanlah karena hendak merebut atau karena ingin memiliki pusaka Bende Mataram. Selama hidup, kami semua memperoleh didikan dan diasuh Guru. Meskipun bodoh, namun tak berani membohong atau menjual omongan yang bukan-bukan. Karena itu tenangkan hatimu, bahwa apa yang kukatakan adalah benar belaka. Mengenai pertanyaan di manakah kini pusaka Bende Mataram tersebut berada dan asal mula diketemukan pusaka tersebut, memang kakakku Wirapati mengetahui. Tetapi ketahuilah paman sekalian, bahwa pusaka tersebut sebenarnya sudah menjadi milik seseorang dan tiada seorangpun di dunia ini yang berhak memaksa agar menyerahkan dengan begitu saja. Siapa yang mewarisi pusaka tersebut, terus-terang saja, kakakkupun mengetahui. Namun sebagai seorang ksatria, tidak akan dia sudi menerangkan. Mengingat kesan ancaman paman-paman sekalian dan tetamu lainnya. Meskipun dipenggal kepalanya atau teraduk isi perutnya, kakakku Wirapati pasti takkan mau membuka mulut. Itulah pernyataan kami."

Dengan jawaban yang cukup lantang, jelas dan terus terang itu, pendekar sakti Lumbung Amiseno jadi beragu.

Diam-diam hatinya tergetar juga mendengar suara Suryaningrat yang penuh semangat dan tiada gentar menghadapi segala.

"Hong Wilaheng," tiba-tiba Warok Kudawa-nengpati menyahut, "nampaknya apa yang dikatakan tiada berdusta. Hm, lalu bagaimana ini cara menyelesaikan?"

Semua tetamu terdiam dengan pikirannya masing-masing. Setelah hening beberapa saat lamanya. Adipati Pesantrenan Sosrokusumo berkata minta keterangan.

"Baiklah. Kami sudah mendengar keterangan pendekar Suryaningrat, sekarang per-kenankan kami bertemu dan berbicara de-ngan pendekar Wirapati yang manakah orangnya?"

Mendengar pertanyaan Adipati Pesantenan, tetamu lainnya seperti tergugah. Ya semenjak tadi, mereka belum diperkenalkan dengan anak murid Kyai Kasan Kesambi yang keempat. Kyai Kasan Kesambi yang semenjak tadi belum melihat Wirapati, diam-diam seperti diingatkan pula. Tadinya ia mengira, bahwa muridnya yang keempat itu barangkali sibuk mengurusi pekerjaan belakang. Tetapi meng-ingat kesibukan di paseban, masakan dia tinggal mendekam di dapur.

Ranggajaya yang selama itu hanya berdiam diri, tampil ke muka dan berkata, "Terus terang saja, adikku seperguruan Wirapati tiada berada di sini."

"Ha!" gumam sekalian tetamu. Mereka sa-ling memandang dan menggerutu. Di antara para siswa atau pengiring mereka terdengar suara menuduh. "Siang-siang dia sudah melarikan diri. Dia seorang pengecut..."

"Apakah salahnya?" Ranggajaya seperti bisa menebak perasaan mereka masing-masing. "Dunia ini cukup lebar, dan manusia sebagai penghuni dunia bebas pula bergerak ke mana saja dia hendak pergi. Apakah ada undang-undangnya melarang seseorang bepergian? Apakah ada


undang-undang yang mewajibkan adikku Wirapati harus menemui kalian? Apakah ada undang-undang yang mengharuskan adikku Wirapati memberi keterangan dan meluluskan permintaan kalian? Cobalah katakan! Kami ingin mendengar!"

Ranggajaya selama beberapa tahun belakangan ini sudah pandai berbicara dan berdebat sebagai suatu kemajuan. Dan begitu mendengar kata-katanya, sekalian yang hadir terbungkam.

"Bagus! Bagus!" seru Lumbung Amiseno mendongkol. Dalam hatinya, ia mengakui kebenaran ucapan Ranggajaya. Tetapi masakan kepergiannya kali ini akan sia-sia belaka? Maka mau tak mau, ia mencoba juga hendak memaksa. Katanya lagi, "Biara kami bukan dekat. Kau tahu, bahwa kami datang dari jauh. Apakah jahatnya hendak ikut mendengar tentang berita munculnya pusaka Bende Mataram? Bukankah pusaka itu bukan pula haknya perseorangan?"

"Menurut kabar, almarhum Resi Buddha Wisnu adalah seorang sakti bagaikan Buddha sendiri. Anak muridnya pun telah mewarisi seluruh kepandaiannya. Mengapa mesti memperebutkan suatu warisan pusaka yang belum tentu ada gunanya. Dengan menggunakan kedua belah tangan saja, paman sekalian sudah bisa malang melintang ke seluruh penjuru tanah air tanpa tandingan. Karena itu pernyataan Paman amat mengherankan," kata Ranggajaya menyindir.

Disindir demikian, wajah Lumbung Amiseno berubah menjadi merah. Dengan sulit ia mem-pertahankan diri.

"Nanti dahulu! Janganlah engkau buru-buru menuduh yang bukan-bukan. Sama sekali, kami tiada serakah untuk memiliki pusaka Bende Mataram itu. Hal ini kami lakukan semata-mata untuk memenuhi pesan almarhum guru kami."

Gagak Handaka yang diam memperhatikan keempat pendekar sakti, tiba-tiba berkata mengejek. "Benarkah ucapanmu?"

"Mengapa tidak?"

"Hm, seumpama adikku Wirapati saat ini memperlihatkan pusaka Bende Mataram tersebut, benar-benarkah Paman tiada sudi memiliki? Guru Paman sudah lama menutup mata. Apakah Paman akan memendam pusaka tersebut ke dalam kuburan guru Paman sebagai pernyataan bakti Paman sekalian?"

Pendek kata-kata Gagak Handaka, tetapi mengenai tepat ke lubuk hati empat pendekar sakti tersebut. Sekaligus Gagak Handaka tiada percaya akan kata-katanya yang nampaknya manis merdu. Bahkan dengan halus membuka kedok mereka sesungguhnya, bahwasanya mereka memang ingin mengangkangi pusaka Bende Mataram. Dengan arti kata, mereka serakah, tamak dan kemaruk keduniawian.

Keruan saja, Lumbung Amiseno yang selamanya mengagul-agulkan diri sebagai seorang pendeta dan untuk memperkuat kesan dia selalu mengenakan pakaian pendeta, bukan main gusarnya mendengar ucapan Gagak Handaka. Karena tiada tahan menelan ejekan itu, dia menggempur meja. Seketika itu juga, sebuah meja besar berkaki empat patah berantakan kena gempurannya. Ternyata tenaganya sangat besar dan mengagumkan, sehingga mengejutkan sekalian tamu. Kemudian membentak, "Sudah lama kami mendengar ilmu Kyai Kasan Kesambi yang sakti tiada terlawan. Sudah lama kami mendengar kabar keper-wiraannya dan kehebatannya. Hanya saja, belum pernah kami membuktikan benar-tidaknya. Hari ini, biarlah kami mencoba memberanikan diri menguji ilmu Kyai Kasan Kesambi di hadapan para ksatria di seluruh jagad ini. Mari kita bertempur menguji diri!"

Mendengar tantangan Lumbung Amiseno, seketika itu juga gemparlah sekalian yang hadir. Mereka semua tahu, Kyai Kasan Kesambi termasyhur semenjak 60 tahun yang lalu. Dan termasuk salah seorang tokoh utama dari tujuh orang sakti pada zaman itu. Lawan-lawannya dahulu sebagian besar sudah meninggal dunia. Betapa tinggi ilmunya, bagi dunia luar hanya tersiar sebagai suatu berita atau dongeng mengagumkan. Kalau kelima muridnya saja sudah


bisa mengguncangkan dunia, apalagi gurunya. Namun begitu, pertimbangan itu masih merupakan teka-teki belaka.

Kepandaiannya yang sesungguhnya belum pernah disaksikan sekalian tamu yang hadir. Kecuali kelima muridnya. Itulah sebabnya tantangan Lumbung Amiseno terhadap Kyai Kasan Kesambi, membersitkan suatu kegem-biraan dalam hati mereka masing-masing. Diam-diam mereka berdoa, semoga terjadilah adu kepandaian itu. Dengan demikian tak sia-sialah kehadirannya dari jauh. Karena mereka pasti akan menyaksikan cara bertem-pur seorang tokoh wahid pada zaman itu. Maka dengan tegang mereka melemparkan pandang kepada Kyai Kasan Kesambi, menunggu-nunggu penentuan sikapnya.

Tak terduga, Kyai Kasan Kesambi hanya tersenyum selintasan. Dia tetap duduk dengan tenang. Sama sekali tak bersuara atau berniat membalas tantangan itu, seolah-olah tiada mendengar.

"Ilmu sakti Kyai Kasan Kesambi tiada bandingannya di seluruh dunia. Kami berem-pat merasa bukan tandingan Kyai Kasan Kesambi," kata Lumbung Amiseno lagi. "Hanya karena terpaksa, kami mengajukan suatu tantangan. Dalam suatu pertengkaran antara dua golongan, apabila tiada diselesaikan dengan mengadu kepandaian, pastilah susah diselesaikan. Nah, marilah kita mulai. Untuk menghormati Kyai Kasan Kesambi yang kedudukannya berada di atas tingkatan kami, biarlah kami berempat melawan Kyai Kasan Kesambi berbareng."

Mendengar kata-kata Lumbung Amiseno, para tamu lainnya yang bersikap di luar garis menggerutu dalam hati, ih, enak benar suara mulutmu. Kau licin dan licik! Meskipun ilmu Kyai Kasan Kesambi setinggi langit, namun seseorang yang sudah berusia lanjut belum tentu tahan melawan tenaga persatuan.

Gagak Handaka yang tadi menyalakan api kemarahan Lumbung Amiseno lantas berkata lantang.

"Hari ini adalah hari ulang tahun guru kami yang ke-83. Bagaimana beliau boleh bergebrak dengan tetamu..."

Tepat sekali alasan itu. Tetapi bagi tamu yang mengharap-harap jadinya suatu pertempuran, menuduh dalam hati. Ah, ternyata anak didik Gunung Damar tak berani meneri-ma tantangan anak-murid Resi Buddha Wisnu...

Di luar dugaan, Gagak Handaka meneruskan kata-katanya, "kalian berkata, bahwa tingkatan guru kami berada di atas tingkatan kalian. Karena itu, apabila benar-benar bergebrak melawan kalian, dunia luar akan mendesas-desuskan suatu berita, bahwa seorang dari angkatan tua mau menang sendiri dengan menghina angkatan muda. Tetapi anak murid Resi Buddha Wisnu sudah menantang, terpaksalah anak murid Kyai Kasan Kesambi tampil ke muka. Sebagai tuan rumah, sudah selayaknya mengiringkan ke-hendak tetamunya. Kalian berempat, kami pun berempat."

Kembali para hadirin gempar mendengar ujar Gagak Handaka yang gagah berani. Mereka saling berbisik dan saling meramalkan akhir pertempuran nanti.

Anak murid Resi Buddha Wisnu bukan pendekar-pendekar sembarangan. Mereka sakti, tangguh dan pandai. Melawan salah seorang di antaranya, belum tentu menang. Apalagi melawan tenaga gabungan, pikir mereka.

Gagak Handaka bukan pula seorang yang tak tahu melihat gelagat, la tahu bahwa anak murid Resi Buddha Wisnu bukan merupakan lawan enteng dan murahan. Dalam hal keuletan dan ketabahan, jauh melebihi semua anak murid Gunung Damar. Kalau seorang melawan seorang, ia yakin dirinya bisa memenangkan. Hanya saja ia harus memperhitungkan tenaga Bagus Kempong, yang baru saja sembuh dari lukanya. Melihat ketangguhan lawan, belum tentu bisa memenangkan apabila harus memeras tenaga jasmaniah berlebih-lebihan. Suryaningrat, mungkin tak bisa memenangkan. Tetapi dia bisa mengadu kegesitan bergerak. Dengan


mengandalkan kegesitannya, pastilah dia takkan bisa terpukul jatuh sampai dia sendiri dapat membantu.

Sudah barang tentu, Lumbung Amiseno yang sudah berpengalaman bisa menimbang-nimbang kekuatannya sendiri. Memang selama hidupnya, belum pernah salah seorang di antara saudara seperguruannya mengadu kekuatan melawan anak murid Kyai Kasan Kesambi. Tetapi sekilas pandang tahulah dia, bahwa anak murid Kyai Kasan Kesambi tak boleh dipandang enteng. Apalagi berada di dekat gurunya. Masakan orang tua itu akan membiarkan anak muridnya menanggung malu di hadapan para tetamu. Pastilah dia akan ikut mempertahankan pamor perguruan. Kalau tidak ikut bertempur, setidak-tidaknya memberi nasihat atau membantu dengan diam-diam. Inilah bahaya! Maka terpaksa dia berkata menyabarkan diri.

"Jika Kyai Kasan Kesambi tak sudi menerima tantangan kami, biarlah kami mengadu keuletan dengan anak murid Gunung Damar. Kami akan bertempur seorang melawan seorang dalam empat babak. Kalah dan menangnya akan ditentukan dalam tiga babak."

Pandai dan licin Lumbung Amiseno. Kata-katanya langsung mempunyai dua keuntungan. Yang pertama, dengan terus terang meminta agar Kyai Kasan Kesambi jangan ikut campur. Kalau sudah menyetujui, masakan akan menarik kata-katanya di depan para ksatria. Kedua, ia yakin, bahwa ketiga saudara seperguruannya pasti bisa memenangkan anak murid Gunung Damar andaikata dia sendiri sama unggul melawan Gagak Handaka. Ketiga, saudara seperguruannya pasti bisa memperoleh tiga kemenangan. Setidak-tidaknya dua kemenangan, sudah cukup.

"Bagus," tiba-tiba Suryaningrat menyahut, "seorang melawan seorang, memang pantas. Tetapi betapa pun juga, jumlah kita berlebih seorang, yakni guru kami. Karena itu, sebaiknya kita maju berbareng. Pertama-tama, jumlahnya seimbang. Kedua, bisa memperoleh penyelesaian jauh lebih cepat."

"Setuju!" Ranggajaya menguatkan, "sekiranya anak murid Gunung Damar kalah, biarlah adikku Wirapati menerangkan di mana pusaka Bende Mataram berada. Andaikata sudah berada di tangannya, biarlah kami suruh menyerahkan. Sebaliknya, apabila anak murid Resi Buddha Wisnu sudi mengalah, kami persilakan membawa teman-teman, sahabat, handai taulan yang berpura-pura datang menghaturkan selamat hari ulang tahun, agar cepat-cepat turun gunung."

Sekalian anak murid Gunung Damar tahu akan arti tantangan Suryaningrat yang diperkuat Ranggajaya. Kyai Kasan Kesambi mempunyai ilmu simpanan yang diberi nama, Pancawara. Nama pancawara diambil dari istilah taufan dahsyat yang sanggup mengguncangkan segala. Sewaktu masih muda, Kyai Kasan Kesambi pernah mempunyai penga-laman diserang badai. Seluruh dusun sekitar Gunung Damar hancur berderai. Rumah sepanjang Desa Loano, Sejiwan, Maron, Kali-nongko, Karangjati tersapu bersih oleh badai yang datang tiba-tiba. Setelah badai reda, ia berdiri tegak memandang bukit-bukit yang berdiri mengelilingi Gunung Damar. Heran ia, melihat bukit-bukti itu tetap berdiri di tempatnya. Sama sekali tiada goyah atau terguncang. Mestinya, bukit-bukit itu sudah seringkali mengalami badai dahsyat. Ia heran pula memikirkan kedahsyatan dan kecepatan badai. Dia datang bergemuruh bergulungan dan hilang pula dengan suatu kecepatan yang mengagumkan. Tiba-tiba saja, ia memperoleh suatu ilham. Dengan tekun ia mempelajari dua sifat yang bertentangan. Yang pertama, gesit, bergemuruh, bergulungan dan dahsyat. Yang kedua, tenang, tegak, anteb dan ulet. Maka beberapa bulan lamanya, ia menekuni. Dan akhirnya terciptalah suatu ilmu bertahan dan menyerang yang sangat dahsyat. Untuk memperingati titik tolak terciptanya ilmu tersebut, maka mengambil nama, Pancawara. Kebetulan sekali, ilmu itu harus dikerjakan oleh lima tenaga dengan berbareng (Panca = lima, wara = badai).

Lima unsur kekuatan alam itu, manakala dipergunakan oleh seorang akan sangat bagus. Sebab tenaganya bisa berubah menjadi tenaga seorang sakti kelas utama. Jika dilakukan oleh dua orang, akan merupakan tenaga gabungan sekuat empat orang sakti. Manakala ditambah seorang lagi, menjadi enam belas tenaga sakti. Ditambahkan seorang lagi, menjadi tiga puluh


dua tenaga sakti. Dan apabila lima orang maju berbareng, merupakan tenaga gabungan dari enam puluh empat orang sakti. Samalah kekuatannya de-ngan 10 ekor gajah yang sedang mengamuk. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya.

Kini, Wirapati tiada hadir. Tetapi dengan empat orang saja, tenaga gabungan mereka akan berubah menjadi 32 tenaga sakti. Itulah sebabnya, Suryaningrat berani menerima tan-tangan bertempur melawan empat orang sekaligus. Dengan demikian—dalam hal tenaga—anak murid Kyai Kasan Kesambi tak usah khawatir. Padahal pada zaman itu, tokoh-tokoh yang terhitung sakti tiada melebihi 30 orang jumlahnya. Seumpama, anak-murid Kyai Kasan Kesambi dikerubut 100 tetamu, belum tentu bisa dikalahkan dengan gampang. Mengingat semua yang hadir belum dapat digolongkan tokoh-tokoh kelas satu.

Lumbung Amiseno ternyata seorang pendeta yang cerdik dan pandai berpikir. Begitu melihat nyala mata Suryaningrat yang berapi-api dan suaranya penuh semangat, ia jadi curiga. Maka cepat-cepat ia berseru nyaring. "Kurang baik? Kurang baik?" Tetapi kekurangan dalam hal apa, dia sendiri kurang terang. Hanya perarasanya yang menyuruh mulutnya berteriak demikian, sambil menggeleng-geleng kepala. Sebaliknya, mereka berdua mengira, Lumbung Amiseno gentar menerima tantangan. Betapa boleh begitu? Bukankah sikap demikian akan menurunkan pamor anak murid Buddha Wisnu? Maka dengan mengandalkan keberanian dan tenaga sendiri, terus saja mereka maju berbareng seraya membentak. "Coba terimalah pukulan ini."

Serangan mereka datang dengan tiba-tiba dan tak terduga sama sekali, meskipun baru tinggal menunggu nyala apinya. Gesit dan tangkas adalah Gagak Handaka dan Ranggajaya, begitu mereka melihat bahaya, terus saja mereka melontarkan tenaga gabungan. Suatu benturan dahsyat terjadi. Hebat akibatnya. Warok Kudawanengpati dan Watu Gunung terpental sampai sepuluh langkah. Wajahnya berubah menjadi pucat lesi. Kemudian duduk terjongkok sambil melontarkan darah segar.

Sebaliknya Gagak Handaka dan Ranggajaya tetap berdiri dengan tenang bagaikan dua bukit yang mengelilingi perguruan Gunung Damar. Mereka sendiri heran atas tenaga sendiri yang begitu dahsyat. Memang selama mereka menjadi murid Kyai Kasan Kesambi, belum pernah sekali juga menggunakan tenaga gabungan ilmu Pancawara. Karena itu belum bisa menilai kedahsyatannya. Maka begitu melihat hasilnya, kepercayaan akan tenaga sendiri kian kuat.

"Bagus! Bagus! Tapi kurang baik," seru Lumbung Amiseno dengan terperanjat. Para hadirin lainnya terperanjat pula. Sama sekali mereka tak menduga bahwa anak-murid Resi Buddha Wisnu bisa diruntuhkan dalam satu gebrakan saja. Maka mereka yang diam-diam berdoa untuk kemenangan anak-murid Resi Buddha Wisnu merasa seperti terdorong ke pojok.

Tetapi anggapan, bahwa anak-murid Resi Buddha Wisnu bisa dikalahkan dengan gampang adalah terlalu tergesa-gesa. Karena tak lama kemudian, Warok Kudawanengpati dan Watu Gunung telah bangun kembali dengan tegap. Terus saja mereka menggabungkan diri dengan dua saudara perguruan lainnya. Lalu mengambil tempat tertentu dengan menduduki segi gerak tiga penjuru.

Seketika itu juga, teganglah suasana paseban. Masing-masing sedang bersiaga memasuki gelanggang. Mendadak saja selagi ke-adaan menjadi hening sunyi terdengarlah suara tersekat-sekat dari bawah tanjakan.

"Eyang! Paman! Guru kena hantaman dari belakang! Lihat!"

Semua tetamu di paseban terkejut sampai tak terasa mereka menoleh hampir berbareng. Mendadak saja Bagus Kempong dan Surya-ningrat terus melesat ke luar paseban sambil berteriak mengandung kecemasan.

"Sangaji? Siapa yang kena hantaman dari belakang?"

Memang yang datang ialah Sangaji. Dengan memapah seseorang, ia lari mendaki tanjakan. Mukanya penuh keringat dan darah. Setelah menyibakkan para tetamu terus saja ia berlutut di


hadapan Kyai Kasan Kesambi seraya berkata tersekat-sekat! "Eyang....! Rupanya Guru kena pukulan keji dari belakang...!"

Gagak Handaka, Ranggajaya, Bagus Kempong dan Suryaningrat terperanjat bukan kepalang. Karena yang dipapah Sangaji ada-lah Wirapati. Wajahnya pucat lesi bersemu kuning. Matanya meram. Tubuhnya bermandikan darah.

* * *

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 20 HADIAH ULANG TAHUN KYAI KASAN KESAMBI"

Posting Komentar