BENDE MATARAM JILID 19 PUKULAN BESI TULANG



MENYAKSIKAN kepergian Pringgasakti, Sanjaya berdiri tegak dengan hati ciut, bagaimana tidak? Kini dia tak mempunyai andalan lagi untuk menghadapi Wirapati, Bagus Kempong dan Sangaji. Yuyu Rumpung yang dijagoi terenggut tenaganya oleh pukulan sakti Sangaji. Dia sendiri, sudah kehilangan tenaga himpun ilmu sakti Karimun Jawa. Kini tinggal empat orang pembantunya yang belum boleh diandalkan. Yakni Abdulrasim, Sawung-rana, Manyarsewu dan Cocak Hijau. Meskipun Wirapati dan Bagus Kempong telah kehilangan senjata, tetapi pukulan sakti Sangaji tak boleh dipandang ringan. Pringgasakti sendiri tak dapat melawannya. Memperoleh pikiran de-mikian, mau tak mau ia harus memaksa diri menelan kenyataan pahit. Maka dengan kepa-la menunduk ia berjalan melintasi lapangan menghampiri kudanya. Ternyata kelima pendekar undangan ayahnya, pandai juga melihat gelagat. Merasa tak ungkulan melawan pihak Wirapati, mereka cepat meninggalkan lapangan tanpa memedulikan kehormatan diri.

"Aji!" kata Wirapati setelah mereka mening-galkan lapangan. "Sungguh berbahaya! Adik-angkatmu terdidik di tengah-tengah keluarga agung. Kau bisa memaafkan, itulah baik. Tetapi untuk selanjutnya, engkau harus berhati-hati menghadapinya."

Sangaji menoleh. Belum dapat ia menangkap maksud gurunya. Karena itu, pandangnya tak beralih.

Wirapati tersenyum. Berkata, "Apakah kau kira sudah selesai persoalan kita pagi ini? Hm, mereka seumpama angin laut, sebentar pergi sebentar datang pula dengan tak ter-duga-duga. Apakah kau kira adik-angkatmu bekerja untuk kepentingan diri? Hm, bagai-mana dia bisa menguasai pendekar-pendekar sakti begitu banyak. Aku yakin bahwa di belakang punggungnya ada yang mengendalikan. Karena itu, seumpama dia sadar akan kekeliruannya, tidaklah gampang-gampang dia membebaskan diri dari orang yang me-ngendalikan."

Sangaji mengerenyitkan dahi. Masih saja dia belum bisa mengerti. Wirapati yang mengenal kesederhanaan otaknya, lantas saja mene-rangkan dengan sabar,

"Baiklah kuberi tahu, bahwa adik angkatmu itu dipelihara oleh musuh besarmu."

"Siapa?"

"Siapa lagi kalau bukan Pangeran Bumi Gede?"

Mendengar gurunya menyebutkan nama Pangeran Bumi Gede, pemuda itu terperanjat. Bukankah dia yang membunuh ayahnya? Teringat akan nasib ayahnya, tanpa disadari sendiri seluruh tubuhnya menggigil.

"Akan kucari dia! Akan kutuntut kekejamannya membunuh Ayah!" Sangaji meledak. "Tetapi

apa hubungannya dengan pusaka warisan Paman Wayan Suage?"

"Ah bocah, dengarkan. Kematian ayahmu dahulu disebabkan pula karena memiliki pusaka Pangeran Semono," sahut Wirapati cepat.

Pendekar Bagus Kempong yang semenjak tadi berdiam diri, tertarik perhatiannya oleh pembicaraan itu. Serentak dia minta keterangan, "Adikku Wirapati. Kau membicarakan perkara pusaka Pangeran Semono. Apakah yang pernah dikabarkan oleh guru kita sebagai warta takhayul?"

Wirapati tertawa perlahan. Dengan meng-genggam tangan kakak seperguruannya erat-erat, ia membawa berteduh di tepi lapangan.

"Biarlah kuterangkan, apa sebab kakak menjumpai aku sedang bertempur melawan kerubutan mereka."

Kemudian berceritalah dia tentang pengala-mannya dua belas tahun yang lalu, tentang peristiwa perebutan pusaka sakti Pangeran Semono sampai kembalinya ke daerah Jawa Tengah. Setelah berpisah dengan Sangaji di batas kota Pekalongan, segera ia berangkat dengan Nuraini ke Desa Karangtinalang. Dua hari lamanya ia menunggu kedatangan Sa-ngaji. Karena iseng, diam-diam berangkatlah dia menjejak pengalamannya dahulu tatkala bertempur melawan orang-orang Banyumas di tepi sebuah petak hutan sebelah tenggara Desa Karangtinalang. la mencoba mengingat-ingat tempat Wayan Suage dahulu disembunyikan di dalam semak belukar untuk menghindari orang-orang dari Banyumas. Tetapi tempat itu susah ditemukan lagi. Maklumlah, semuanya sudah berubah. Waktu itu hutan terbakar. Mestinya semak belukar itu pun ikut terbakar pula. Memperoleh kenyataan demikian, segera ia mencari sungai yang berlumpur.

Dahulu dia menceburkan diri ke dalam su-ngai berlumpur itu agar dapat bebas dari ancaman api. Ternyata sungai itu tak berubah. Hanya saja untuk menduga-duga di mana Wayan Suage menyembunyikan benda pusaka Pangeran Semono adalah sulit sekali. Timbul pulalah dugaannya, bahwa tiada mus-tahil Wayan Suage menyembunyikan benda tersebut ke tempat lain.

Waktu pulang ke pondok pada sore harinya, mendadak saja Desa Karangtinalang penuh dengan laskar Pangeran Bumi Gede. la men-coba mencari Nuraini. Ternyata Nuraini berpindah tempat juga. Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu kedatangan Sangaji di tempat lain. la yakin, bahwa kedatangan laskar Pangeran Bumi Gede pasti mengenai benda warisan Wayan Suage. Karena itu, ia lebih tekun menebak-nebak di manakah kiranya benda tersebut disembunyikan Wayan Suage. Tetapi usahanya gagal. Tatkala pada hari itu dia mencoba menjenguk tepi sungai, para pendekar undangan Pangeran Bumi Gede yang diperintahkan menjaga petak lembah sungai memergoki. Dan terjadilah suatu pertempuran berat sebelah. Gntung, kakak seperguruannya kala itu kebetulan lewat di daerah itu, sehingga ia memperoleh bantuan.

"Dua belas tahun kita berpisah ternyata kakak banyak berubah," kata Wirapati sambil mengamat-amati Bagus Kempong. Tadi karena terlibat dalam suatu pertempuran, ia tak sempat memperhatikan kakak-seperguruan-nya dengan saksama.

"Apakah yang berubah?" sahut Bagus Kempong.

"Rambut pelipismu sudah memutih. Jidat-mu bertambah pula dengan beberapa guratan. Pastilah selama ini, kakak cukup sibuk dalam suatu darma perguruan kita. Hm, aku berun-tung bisa hidup kembali dari suatu pengem-baraan dan kini dapat berjumpa kembali dengan kakak... sungguh-sungguh aku..."

"Wirapati, adikku," Bagus Kempong terharu mendengar luapan ucapan Wirapati yang terbesit dari lubuk hatinya. "Memang kami semua berprihatin memikirkan engkau yang tiada kabar beritanya. Kami semua diperin-tahkan turun gunung untuk mencari beritamu.

Tetapi engkau seperti terselimuti bumi, lenyap tiada bekas."

Mereka lantas saja berpelukan erat. Dan Sangaji jadi perasa. Pikir anak muda itu, "Dua belas tahun guru mengembara hanya untukku, dengan meninggalkan semua yang dicintai. Alangkah besar budinya terhadapku. Budi besar setinggi gunung itu, entah bagaimana caraku membalas..." Tak terasa, air mata anak muda mengembeng pada gundu matanya. Mendadak saja, Wirapati berkata kepadanya.

"Kau mengerti sekarang, bahwa api ben-cana itu dinyalakan oleh Pangeran Bumi Gede. Dialah yang menghancurkan kebahagiaan rumah tangga orangtuamu. Dialah yang membunuh orangtuamu dan akhirnya mencelakakan pamanmu, Wayan Suage. Dan dia pulalah yang menaruhkan jurang dalam antara engkau dan adik angkatmu. Itulah sebabnya kukatakan, bahwa engkau harus bersikap hati-hati terhadap adik-angkatmu. Karena dia dididik dalam keluarga agung, yang terang-terang menjadi musuh keluargamu."

Sekarang barulah jelas bagi Sangaji maksud gurunya memperingatkan sikapnya terhadap Sanjaya. Mengingat persahabatan orang tuanya, memang dia harus bisa bersikap memaafkan dan lapang dada. Tetapi apakah Sanjaya memiliki pandangan dan sikap hidup demikian, hanyalah setan dan malaikat-malaikat yang tahu.

"Guru," akhirnya dia berkata dengan hati-nya. "Apakah faedahnya memperebutkan suatu pusaka yang bukan hakku? Pusaka Pangeran Semono itu entah kelak jatuh kepa-da siapa, apa peduliku?"

Mendengar ujar muridnya, Wirapati tertawa perlahan melalui dada. Teringatlah ia, bahwa dahulu ia pernah mengucapkan kata-kata itu terhadap Wayan Suage dan Ki Hajar Karang-pandan. Tak terduganya bahwa muridnya kini mewarisi sikapnya yang perwira dan bersih sehingga mau tak mau ia jadi terharu juga.

"Aji!" katanya menggurui, "Tak malu rasa-nya aku mempersembahkan terhadap guru sebagai cucu-muridnya. Hanya saja, meng-ingat benda pusaka itu telah merenggutkan nyawa orangtuamu dan pamanmu, alangkah akan sia-sia apabila engkau bersikap dingin tak memedulikan. Lantas apakah arti korban ayah dan pamanmu? Ingatlah, bahwa almar-hum pamanmu mempercayakan benda ke-ramat tersebut kepadamu. Di alam baka be-tapa dia memperoleh ketenteraman, apabila engkau mensia-siakan pesannya terakhir." Ia berhenti mencari kesan. Meneruskan, "Tentang siapa yang berhak memiliki pusaka tersebut, baiklah kita serahkan kepada kakek-gurumu. Biarlah Beliau yang menentukan. Keputusan kakek gurumu tak pernah salah."

"Adikku Wirapati!" tiba-tiba Bagus Kempong menyahut.

"Benar-benar aku merasa keripuhan men-dengar semua ujarmu. Engkau berbicara perkara pusaka Pangeran Semono, pembi-nasaan orang-orang Banyumas dan kepen-tingan muridmu memperebutkan benda ter-sebut. Eh, apakah pusaka itu benar-benar ada dalam percaturan hidup ini?"

Wirapati menoleh perlahan-lahan kepada kakak seperguruannya. Memang dahulu gu-runya pernah mengabarkan adanya benda keramat itu. Tetapi sebagai benda keramat yang benar-benar ada, betapa kakak sepergu-ruannya akan dapat dibuat mengerti serta yakin? Karena itu dia berkata menegaskan, "Dua belas tahun lamanya aku pergi tanpa berpamit Guru, meskipun bukan perkara benda keramat tersebut, tetapi itulah yang menyebabkan. Apakah hal itu belum meyakinkan Kakak?"

"Hm, melihat engkau begini sungguh-sung-guh, mestinya aku harus percaya. Tetapi apakah kata guru nanti setelah mendengar kisah pengembaraanmu, inilah yang sulit untuk meyakinkan."

"Ya, aku tahu dan justru aku akan mengabarkan kepada Beliau. Apa kabar guru kita?" "Ehm..." sahut Bagus Kempong. Kemudian lama ia tak membuka mulut. Dan Wirapati jadi


cemas. Dengan pandang tak berkedip ia mengawasi kakak-seperguruannya. Hatinya sibuk menduga-duga. Maklumlah, dua belas tahun yang lalu gurunya sudah berusia 70 tahun lebih. Ia khawatir, kakak seperguruan-nya akan mengabarkan bahwa gurunya sudah meninggal dunia.

Beberapa saat kemudian, Bagus Kempong berkata, "Guru masih sehat wal-afiat. Bahkan tubuhnya nampak kian segar bugar. Hanya saja, Beliau sudah meninggalkan urusan du-nia. Sehingga kukhawatirkan bahwa kisah pengembaraanmu tiada didengarkan. Bukan-kah hal itu akan membuatmu kecewa? Masa perjuangan selama 12 tahun, bukanlah mu-rah."

Mendengar jawaban Bagus Kempong, hati Wirapati lega seperti seseorang memperoleh seteguk air dalam saat-saat dahaga kering. Lantas saja menyahut, "Meskipun seumpama Guru tiada mendengarkan sepatah kataku, apa peduliku? Aku bisa hidup dengan selamat dan bisa bertemu kembali dengan Guru, bukankah suatu karunia yang mahal dibeli?"

Mata Wirapati lantas saja jadi berseri-seri penuh syukur. Tetapi Bagus Kempong nampak menundukkan kepala, sehingga mau tak mau ia sibuk lagi menebak-nebak.

"Adik Wirapati! Bahwasanya engkau mengi-ra, aku bertambah putih rambutku karena kesibukan bekerja adalah benar belaka. Ketahuilah setelah engkau pergi tiada kabar berita—perguruan kita sering didatangi orang-orang sakti hendak menuntut dendam!"

"Mengapa?" Wirapati terkejut.

"Dua belas tahun yang lalu, di lembah su-ngai ini kedapatan delapan orang lebih tewas bekas teraniaya. Orang-orang mengabarkan, bahwa mereka pernah melihat dirimu berada di antara hutan yang terbakar. Meskipun kami—saudara-saudara seperguruan—sama sekali tiada percaya, bahwa engakaulah yang membinasakan mereka, tetapi tuduhan anak-keluarganya kian lama kian keras. Sekarang-setelah aku mendengarkan keterangan dari mulutmu sendiri bahwa itulah perbuatan pendekar dari Karangpandan, aku bertambah yakin akan kebersihan dirimu."

"Ih!" Wirapati terperanjat sampai berjing-krak. Tak kukira bahwa sepeninggalku, pergu-ruan justru kena noda begini jahat. Lantas siapakah mereka yang berkurang-ajar menda-tangi perguruan? Pikir Wirapati dalam hati.

Bagus Kempong tertawa mendongak. Menjawab, "siapa yang datang, apa perlu kau-ributkan? Perkaramu adalah perkara kita bersama. Kalau sekarang aku melihat engkau datang dengan kebersihan hati, sudahlah suatu tebusan yang mahal harganya. Dan legakan hatimu, bahwa saudara-saudaramu tetap berkukuh, bahwa tuduhan itu tiada beralasan."

Mendengar kata-kata Bagus Kempong, Wirapati jadi terdiam. Dan Sangaji jadi bertambah perasa. Anak muda itu lantas saja berpikir lagi, ternyata Guru tidak hanya mempersembahkan keperwiraannya belaka untukku, tetapi benar-benar telah mengorbankan kehormatan perguruannya juga. Siapa mengira, bahwa kepergiannya membawa pula suatu malapetaka sendiri. Memperoleh pikiran demikian, ia merasa lebih kecil. Sebentar tadi ia resah memikirkan kepergian Titisari. Maklumlah, ia kenal perangai dan watak Titisari yang manja dan agak liar. Dadanya penuh dengan api. Apa yang dikatakan harus saja dilakukan tanpa pertimbangan. Kini, entah ke mana perginya hanya setan-setan belaka yang tahu. Dan apabila dibandingkan dengan kisah pengembaraan gurunya, alangkah sekerdil biji asam. Diam-diam ia merasa malu sendiri. Lantas saja terdengarlah suara gurunya Jaga Saradenta yang galak dahulu. "...Ih! Kau laki-laki, bukan perempuan. Seorang laki-laki masakan takut mati segala!"

Mendadak saja, Wirapati berkata kepada-nya, "Aji! Marilah cepat-cepat mendaki Gunung Damar. Pertama-tama, ingin aku memperkenalkan engkau kepada guruku. Kedua, ingin


benar aku melihat kesehatan beliau. Tentang sahabatmu Titisari, perlahan-lahan bisa kita urus. Aku percaya, meskipun perangai Adipati Surengpati bukan seperti manusia lumrah, tetapi pasti tidak akan menyakiti puterinya. Kulihat tadi, dia terlalu menyayangi."

Mendengar ujar gurunya, Sangaji gugup. Karena waktu itu, justru dia lagi memperban-dingkan persoalannya dengan kebesaran jiwa gurunya.

"Guru, perkara Titisari tak usahlah Guru ikut memikirkan. Dia sudah pulang ke rumahnya. Hatiku senang dan bersyukur. Yang penting sekarang aku harus ikut Guru ke mana Guru pergi," kata Sangaji dengan terbata-bata.

Wirapati puas mendengar ucapan muridnya. Segera ia memberi isyarat kepada Bagus Kempong, untuk meneruskan perjalanan. Waktu itu, matahari telah condong ke barat. Angin senja sudah mulai meraba tubuh.

Mereka berjalan mengarah ke timur menyekat punggung pegunungan. Kiranya sifat Bagus Kempong nampak keras di luartapi nampak panas di dalam. Di antara murid Kyai Kasan Kesambi, dialah yang jarang benar bergurau. Wirapati dan Suryaningrat dahulu agak segan kepadanya. Bahkan agak ketakut-takutan. Lebih takut menghadapinya daripada kakak perguruannya yang tertua, Gagak Handaka dan Ranggajaya. Padahal hubungan

kekadangan mereka sangat erat melebihi saudara sekandung. Tatkala Wirapati menghilang dengan tiba-tiba, diam-diam Bagus Kempong berduka tak terkatakan. Hanya lahirnya saja ia berlaku tenang seperti tiada terjadi sesuatu. Ia minta izin gurunya hendak menyelidiki daerah lembah Sungai Jali yang dikhabarkan orang-orang pernah melihat adik-seperguruannya itu. Selama dua belas tahun, terus-menerus ia menghisap berita dengan tak mengenal bosan. Mendadak saja, pada hari itu ia bertemu dengan tak terduga-duga. Hatinya girang bukan kepalang, namun masih saja ia menyembunyikan perasaan. Rasa girangnya tak dibiarkan meluap-luap. Sekali-kali ditutupi dengan kata-kata keras dan berwibawa. Dengan kata-kata kering dia berkata, "Wilayah lembah Sungai Jali, ternyata luas juga. Dua belas tahun aku mencoba menjejakmu. Hm ..."

Wirapati yang kenal akan pribadinya, segera mengetahui bahwa di balik kata-katanya yang kering sederhana itu bersembunyi suatu luapan doa terima-kasih kepada Tuhan, maka dia jadi terharu.

"Kangmas Bagus Kempong! Apakah benar sanak-keluarga orang-orang Banyumas yang dibinasakan Ki Hajar Karangpandan mencari balas kepada perguruan kita? Peristiwa ini benar-benar membuat hatiku tiada enak sekali."

"Apa sebenarnya yang terjadi dalam pertempuran itu?" potong Bagus Kempong.

Kembali Wirapati menceritakan pengala-mannya sewaktu dia melindungi Wayan Suage dari buruan orang-orang Banyumas yang menginginkan pusaka Pangeran Semono dan cara Ki Hajar Karangpandan membinasakan mereka. Dia sendiri segera meninggalkan Wayan Suage sewaktu hutan terbakar. Dengan demikian tiada berhasil pula menyelamatkan pusaka keramat Pangeran Semono.

Setelah mendengar penjelasan itu, Bagus Kempong minta keterangan pula tentang ben-tuk pusaka keramat Pangeran Semono, yang dahulu dikabarkan gurunya hanya sebagai dongeng belaka. Setelah Wirapati dapat me-nerangkan dengan jelas, diam-diam ia mulai merenungkan. Akhirnya berkata dengan me-lepaskan endapan napas.

"Ih, kiranya begitu. Apabila kami sudah mengetahui kejadiannya sejelas ini, pastilah saudara-saudaramu bisa menentukan sikap tegas. Dan Guru tak usah pula menyekap diri dalam bilik persemedian untuk mencari kebeningan dalam suatu kekeruhan kedunia-wian. Hm, tapi seumpama engkau tiada pulang, pasti persoalan ini akan mengganjel pada saudara-saudara seperguruanmu sepan-jang zaman."

"Ki Hajar Karangpandan sebenarnya bukanlah manusia jahat, biadab atau seorang yang


ingkar kepada sendi-sendi ksatrian. Bahkan dia seorang ksatria sejati yang menganggap ringan nyawanya sendiri demi suatu hal yang diakui sebagai darma," kata Wirapati.

Kemudian ia menerangkan, betapa Ki Hajar Karangpandan berjuang merebut kesejahte-raan keluarga Made Tantre dan Wayan Suage hanya untuk suatu perkenalan dalam masa tak lebih dari satu jam belaka. Dan mendengar ujar Wirapati ini. Bagus Kempong mengangguk-angguk dengan hatinya. Katanya dalam hati, hebat pendeta itu! Dan kalau Wirapati bisa mengimbangi kebesaran jiwanya, bukanlah berarti pula menjunjung nama Guru, nama perguruan dan saudara-saudaranya dengan sekaligus? Lantas berkata memuji, "Baiklah, ternyata kepergianmu selama dua belas tahun tidaklah sia-sia. Siapa mengira, bahwa engkau pergi dengan memikul papan nama perguruanmu.

Hari ini aku mengucapkan terima-kasih. la berhenti mengesankan. Meneruskan. "Cara Ki Hajar Karangpandan membunuh sesama hidup sesungguhnya keji dan ganas. Tetapi dia seorang laki-laki hebat. Tahukah ilmu apa yang digunakan?"

"Mula-mula aku heran mendengar gelora suaranya yang gemuruh."

"Itulah ilmu Guntur Sejuta!" Bagus Kempong menyekat.

"Hanya saja betapa tupai pandai berlompat, sekali-kali akan terjatuh juga. la mengira, su-dah berhasil membinasakan semuanya. Tetapi sesungguhnya masih ada seorang yang sela-mat."

"Siapa dia?" Wirapati heran.

"Salah seorang di antara mereka masih bisa menyenakkan napas. Siapa namanya, tiada seorangpun dapat mengenalnya. Hanya saja sebelum melepaskan napasnya yang peng-habisan, dia menyebut-nyebut namamu."

"Ah!" Wirapati terperanjat. Teringatlah dia kepada peristiwa pengepungan dahulu. Mere-ka mengancam dan menggertak. Sebagai murid keempat Kyai Kasan Kesambi bagai-mana bisa menerima gertakan itu tanpa mem-balas. Tiada mustahil bahwa dia pun mem-perkenalkan nama perguruannya untuk men-jaga kehormatan diri.

"Berita beradu di antara mereka, lantas saja tersebar ke seluruh persada bumi. Tapi kami semua tiada percaya, bahwa engkaulah yang membinasakan mereka begitu keji dan ganas. Sepanjang pengetahuan kami, Guru belum pernah menurunkan ilmu Guntur Sejuta. Tetapi bagaimana bisa kami meyakinkan mereka dengan alasan itu," kata Bagus Kempong dengan dahi mengerenyit. "Mereka yang datang kebanyakan terdiri dari orang-orang daerah Banyumas. Namun lambat-laun, orang sakti dari seluruh penjuru pada datang juga. Dari Ungaran, Bagelen, Maospati, Ponorogo, Madura, Surakarta, Kediri dan Banyuwangi. Kejadian inilah yang membuat Guru dan sekalian saudara-seperguruanmu keheran-heranan. Masakan mereka semua adalah sanak-keluarga yang terbinasakan? Dua belas tahun lamanya, hal itu merupakan suatu teka-teki besar. Dan pada hari inilah baru jelas.

Ternyata di balik kedatangannya bersembu-nyilah sesuatu maksud. Penuntutan balas di-alihkan hanya sebagai dalih belaka. Kiranya mereka,... tahukah engkau apa maksud mere-ka sesungguhnya?"

Wirapati diam menduga-duga.

"Orang-orang Banyumas dahulu menge-pung Wayan Suage perkara pusaka Pangeran Semono, ... Ah! Apakah mereka mengira, aku menggondol pusaka keramat Pangeran Semono."

Dengan melemparkan penglihatan di jauh sana, Bagus Kempong menyahut, "Sekiranya hari ini tak kudengar dari mulutmu tentang adanya pusaka Pangeran Semono, sampai mati pun tiada jelas bagiku."

Wirapati terdiam. Pikirnya, ya, aku pun dahulu berpikir demikian juga. Malah, ingin aku


melihat bagaimana sikap Guru apabila aku mengisahkan tentang adanya pusaka keramat itu.

Tengah Wirapati memikirkan tentang orang-orang yang datang berbondongan di perguruannya dengan berpura-pura mengaku sebagai sanak keluarga orang-orang Banyumas yang dibinasakan Ki Hajar Karangpandan sebagai dalih. Mendadak Bagus Kempong berkata lagi, "Biarlah mereka datang lebih sering lagi, apapeduli kita? Hanya saja, kemudian tahukah engkau siapa lagi yang datang pada hari-hari ini?"

Wirapati melengak ). Tak dapat ia menebak, sehingga terpaksa ia meninggikan alisnya. Dan berkatalah Bagus Kempong, "Gtusan Sri Sultan Hamengku Buwono II."

"Sri Sultan?" Wirapati terperanjat. Sangaji pun yang berjalan di belakangnya ikut terpe-ranjat pula.

8) melengak : tercengang-cengang.

"Meskipun tidak terang-terangan, tetapi utusan Sri Sultan seringkali menjenguk perguruan kita. Kemudian utusan-utusan Patih Danurejo pula. Seperti kauketahui, ibukota kerajaan kini sedang meruncing. Antara keluarga garwa padmi83) dan para selir seringkali timbul fitnah-fitnah dan bentrokan-bentrokan. Akhir-akhir ini bahkan mulai pula timbul suatu pertempuran terang-terangan antara pihak Patih Danurejo dan Sri Sultan. Dan semenjak itu, Guru lantas saja mengundurkan diri dari persoalan keduniawian. Nampaknya Beliau sangat kecewa lalu menenggelamkan diri dalam sanggar semadi. Beliau hanya muncul sekali satu tahun di hadapan kita."

Mendengar kabar itu, Wirapati jadi bere-nung-renung. Alangkah banyak perubahan yang terjadi selama dia meninggalkan perguruan. Tak terasa terlontarlah perkataannya, "Tak kusangka, bahwa kepergianku tanpa pamit itu membawa suatu akibat demikian besar."

"Ah, semua itu bisa terjadi di atas kemam-puan manusia," sahut Bagus Kempong. "Siapa saja bisa dan pernah mengalami peristiwa-peristiwa yang tak terduga sama sekali."

Wirapati menghela napas dalam.

"Sebenarnya, apakah yang mendorong mereka untuk merebut pusaka itu? Bukankah pusaka tetap sebagai benda mati?"

"Ha, justru aku ingin memperoleh keterang-anmu, karena engkau telah memperoleh kesempatan mengenal benda perebutan itu," sahut Bagus Kempong cepat.

Tentang daya guna pusaka Pangeran Semono itu, sama sekali ia tak menaruh per-hatian. Ia hanya mendengar suatu kabar bela-ka, bahwa barangsiapa memiliki kedua pusaka tersebut akan sakti tanpa guru, kebal dari sekalian senjata dan kelak bisa menguasai nusantara. Ia menganggap kabar itu sebagai dongeng kanak-kanak belaka yang tak masuk akal. Tetapi oleh pertanyaan Bagus Kempong, sekonyong-konyong ia teringat sesuatu. Cepat ia menoleh kepada Sangaji dan bertanya,

"Aji! Kau dahulu pernah berkata kepadaku, bahwa engkau memperoleh kisikan beradanya benda tersebut dari almarhum pamanmu. Benarkah itu?"

Sangaji yang semenjak tadi berdiam diri, dengan gugup menjawab,

"Benar. Tatkala paman hendak bertempur melawan laskar Pangeran Bumi Gede ia mem-bisiki sesuatu kepadaku."

"Apa katanya?"

"Begini," kata Sangaji mengingat-ingat. "Anakku, tak dapat aku berbicara berkepan-jangan kepadamu, mengapa semuanya ini mesti terjadi. Tetapi ingat-ingatlah pesanku ini! Sesampaimu di desa tempat engkau dilahirkan, lekas-lekaslah engkau berangkat ke tenggara. Di sana engkau akan melihat sepetak hutan dan suatu perkampungan baru. Dahulu hutan itu terbakar habis. Kini tinggal sisa-sisanya belaka. Meskipun demikian


bekas-bekas kelebatannya belum juga hilang. Di sana engkau akan melihat sebuah sungai berlumpur yang melingkari hutan itu. Carilah di antara tebingnya suatu penglihatan penuh batu-batu. Turunlah engkau ke bawah. Di dasar sungai itu, engkau akan menemukan pusaka warisanmu. Dua buah jumlahnya. Kuwariskan kedua-duanya pula kepadamu."

Sekonyong-konyong berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan, terdengarlah suatu gemeresak mahkota daun kemudian berkelebatlah sesosok bayangan yang terus saja meluncur ke tanah.

Wirapati dan Sangaji terperanjat. Sekaligus Umbulah kecurigaannya. Dan hampir berba-reng mereka terus meloncat hendak mengejar.

Mendadak Bagus Kempong menyanggah dengan nyaring.

"Jangan mau dikecohkan! Itulah akal memancing harimau dari sarangnya, lihat seberang!"

Wirapati dan Sangaji terheran-heran. Segera mereka menebarkan pandangnya, tetapi tiada sesuatu yang mencurigakan. Diam-diam mereka berpikir, "Apakah salah penglihatan?"

Bagus Kempong adalah murid Kyai Kasan Kesambi yang ketiga. Kecuali memperoleh pendidikan menajamkan indera, diberi pula ajaran menggunakan pra rasa naluriah. Rasa bagi Kyai Kasan Kesambi menjadi dasar sendi utama dalam menurunkan ilmunya. Karena menurut pengertiannya ketajaman indera adalah suatu akibat belaka. Wirapati sebe-narnya menerima pula ilmu itu. Hanya saja dia meninggalkan perguruan selama dua belas tahun tanpa penilikan Guru. Karena itu agak ketinggalan daripada Bagus Kempong. Maka itu, belum lagi habis menduga-duga, Bagus Kempong telah berkata menggurui.

"Di balik semak-semak itu, bersembunyi delapan orang. Mereka bersenjata semua. Lihatlah gemerlap senjatanya." Dan kembali Wirapati dan Sangaji terheran-heran. Mereka mengamat-amati barisan semak-semak, tetapi gemerlap senjata sama sekali tak dilihatnya. Tetapi sekonyong-konyong terdengarlah suatu desing suara. Sebatang anak panah menyibak udara. Kemudian muncullah tiga orang, empat, lima dan akhirnya delapan kepala mencongakkan diri dari balik semak-belukar. Dan barulah Wirapati dan Sangaji terperanjat. Sambil melesat mengelakkan diri dari sambaran angin, diam-diam mereka mengagumi ketajaman rasa Bagus Kempong.

Ke  delapan  orang  yang  bersembunyi  di  balik  belukar  itu,  ternyata  mengenakan  kedok.

Yang kelihatan hanya dua gundu matanya. Terang mereka, tak mau dikenali orang. "Kangmas Bagus Kempong!" seru Wirapati kagum. "Benar-benar aku merasa takluk!" Bagus Kempong seperti tak mendengarkan ucapannya. Dia terus berteriak nyaring.

"Kawan dari manakah yang berada di depan? Kami Bagus Kempong dan Wirapati anak murid Kyai Kasan Kesambi menyam-paikan salam."

Namun mereka yang mencongakkan diri dari balik semak-semak tiada menyahut sama sekali seolah-olah tuli. Bahkan mereka terus bergerak mengepung. Tiba-tiba Bagus Kempong terus saja sadar. Katanya setengah terperanjat, "Celaka! Mereka hendak mem-bakar alang-alang! Kita akan dibakar hidup-hidup!"

Tepat dugaan pendekar yang sudah berpe-ngalaman ini. Kira-kira lima belas langkah di depan mereka, nampak api mulai menyala membakar alang-alang. Melihat nyalanya api. Bagus Kempong tertawa dingin. Terus saja dia berjalan tanpa bersuara menghampiri mereka. Tahu-tahu, tubuhnya melesat secepat kilat. Tiga orang sekaligus kena disambarnya. Kakinya menendang dan ketiga-tiganya ter-pental di udara.

Orang keempat kaget setengah mati menyaksikan serangan Bagus Kempong menyambar betis. Orang itu kena ditariknya dan dilemparkan pula ke udara.

Bagus Kempong tiada berniat membunuh. Dia hanya hendak menunjukkan gigi belaka, agar mereka tiada memandangnya terlalu ren-dah. Karena itu, orang keempat yang dilem-


parkan ke udara dibiarkan berjumpalitan dengan merdeka. Tetapi orang itu nampaknya tiada mau mengerti akan kelapangan dada Bagus Kempong. Begitu kakinya menancap di atas tanah, lantas saja melesat sambil menikam.

Bagus Kempong tiada terkejut sama sekali. Memang, dia adalah salah seorang murid Kyai Kasan Kesambi yang canggih. Ilmunya jauh di atas Wirapati. Sewaktu bertempur melawan pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede, dia hanya mengiringi maksud dan tujuan Wirapati. Karena itu dia hanya bertahan dan bermaksud melindungi Wirapati belaka. Tapi kini, dia berkelahi dengan bisa mengambil keputusannya sendiri. Maka begitu ia ditikam musuh, dengan sebat ia menangkap lengan tanpa mengelak. Sikunya terus menyodok dan tahu-tahu orang itu jatuh terkapar di atas tanah dengan melontakkan darah kental. Berbareng dengan terkaparnya lawan, ia berseru kepada Wirapati.

"Lihat di sana! Rupanya kita dihadang barisan yang berjumlah cukup banyak. Kita sudah mentaati peraturan. Tapi mereka tak memedulikan. Karena itu, terjang!"

Wirapati melepaskan pandang ke depan. Kira-kira lima puluh langkah di depannya, berdirilah belasan orang yang berjalan mem-bentuk setengah lingkaran. Terang sekali, mereka hendak mengepung rapat.

Waktu itu matahari belum tenggelam. Karena itu senjata mereka nampak meman-tulkan cahaya gemerlapan. Yang sebelah kiri bersenjatakan pedang dan yang kanan golok, panah dan cempuling.

Tiba-tiba seorang laki-laki yang menge-nakan kedok juga dan bertubuh tegap, menghunus pedangnya dan memberi isyarat aba-aba agar berhenti. Kemudian dia maju tiga langkah dan dijajari dua orang pada tiap sisinya. Orang itu membungkuk pendek seba-gai tanda memberi hormat. Pedangnya di-tusukkan ke bawah.

Bagus Kempong membalas hormat sekali, lalu berjalanlah dia maju. Ternyata Bagus Kempong tak diusiknya. Mereka bahkan menyibakkan diri memberi jalan. Tetapi begitu Bagus Kempong keluar dari kepungan, segera barisan menutup pintu lagi sehingga Wirapati dan Sangaji kini terkurung di tengah-tengah. Serentak mereka menghunus pedangnya dan ditelentangkan ke titik tengah.

"Apakah kalian menghendaki Wirapati?" dengus Wirapati sambil tertawa dingin. Ter-ingat, bahwa pedangnya telah kena dipatah-kan Adipati Surengpati, ia merasa agak kuwa-lahan. Tetapi sebagai seorang pendekar, tak sudi ia memperlihatkan kelemahannya. Itulah sebabnya dia berkata lagi, "Agaknya Tuan-tuan hendak mengkerubut aku. Benar-benar Tuan-tuan menghargai aku sampai main kerubutan."

Laki-laki bertubuh tegap itu nampak berbimbang-bimbang. Sekonyong-konyong ia mengacungkan ujung pedangnya ke tanah lagi sebagai tanda memberi jalan.

"Aji! Berjalanlah engkau dahulu!" kata Wirapati kepada Sangaji.

Sangaji terus melangkah maju. Tetapi baru saja melangkah mendadak sinar pedang berkelebat. Tahu-tahu empat pedang telah mengancam dadanya. Karena terkejut, Sangaji cepat mundur. Namun keempat pedang itu pun ikut bergerak. Malahan ujungnya terus menggetar siap menikam.

Melihat Sangaji terancam senjata, Bagus Kempong tiba-tiba meloncat masuk ke dalam kepungan lagi dengan melintasi pagar manu-sia. Kedua tangannya lantas bekerja. Dengan mengeluarkan tepukan, tahu-tahu empat pedang itu terpental ke udara. Tepukan tangan empat kali beruntun itu, benar-benar luar biasa sampai keempat pedang bisa terbang ke udara dengan berbareng. Dan belum lagi mereka tersadar dari rasa terkejut dan kagum, tangan Bagus Kempong yang cekatan telah menyambar pergelangan tangan laki-laki bertubuh tegap yang masih menggenggam pedang. Ia heran sampai tercengang-cengang, karena pergelangan tangan itu begitu empuk dan lunak. "Hai! Apakah dia seorang wanita,"


dia berpikir sibuk. Tetapi dia terus bekerja. Kelima jarinya mencengkeram nadi pergelangan. Dan pedang terlepas dari tangan dan jatuh dengan gemerincing. di tanah.

Karena senjata yang bertubuh tegap terlepas dari tangan, keempat orang yang mendampingi mundur dengan berbareng. Tapi mendadak saja dari arah samping berkelebatlah sinar pedang dan menusuk tiga kali beruntun. Itulah suatu serangan pedang berbau ajaran Barat.

"Ilmu pedang Kepatihan Danurejan...! Apakah mereka laskar Patih Danurejo?" Diam-diam Bagus Kempong menduga. Ia menunggu tusukan yang penghabisan. Tatkala ujungnya hampir menancap di dada, cepat luar biasa ia menyurutkan diri. Tangannya memutar danterus menepuk ke datan pedang dengan dibarengi tusukan jari.

Menepuk sambil berputar serta menusukkan jari, nampaknya sederhana dan mudah dilakukan. Tetapi sebenarnya ia lagi menggunakan ilmu sejati ajaran Kyai Kasan Kesambi. Dalam kalangan pendekar, ilmu tenaga itu di sebut gendam. Seseorang untuk memiliki tenaga gendam, harus menghimpun secara teratur paling tidak tiga tahun lamanya. Sesat dan bersih tergantung belaka kepada ajaran yang ditekuni.

Ajaran Kyai Kasan Kesambi tak pernah ter-lepas dari pokok soal. Yakni, mengutamakan rasa kemanusiaan yang disenduknya dari ku-bangan rasa sejati. Geraknya lancar halus ba-gaikan air, mengingat jasmaniah ini asalnya dari zat-zat air. Tetapi barangsiapa kena ben-turannya akan tergetar seluruh sendi tena-ganya. Karena betapa sakti orang itu, bukankah salah satu anasir yang menjadikan dia seorang manusia berasal dari anasir air? Maka begitu pedang tadi kena sampok ) seketika seluruh tubuhnya terasa menjadi lemah-lunglai dan seolah-olah terselimuti bulu beleter ). Tahu-tahu, tak terasa pedang itu telah tercabut dari genggamannya. Dia hendak bertahan, namun aneh! Mendadak saja tubuhnya limbung sampai terhuyung ke belakang beberapa langkah. Terus saja terbanting di atas tanah dengan melontakkan darah. Inilah kehebatan ilmu gendam perguruan Kyai Kasan Kesambi, kekuatan badai yang susah dibayangkan.

Menyaksikan kegagahan Bagus Kempong, orang yang bertubuh tegap tadi serentak memberi aba-aba, "Mundur!" Suaranya nya-ring merdu. Terang sekali-dia seorang wanita. Dan begitu mendengar aba-aba itu, semua yang mengepung memutar tubuh. Tak usah menunggu waktu lama, tubuh mereka cepat menghilang di balik semak-semak belukar.

Melihat mereka lari mengundurkan diri, Bagus Kempong berdiri tegak dengan sikap menghormat. Kemudian berseru nyaring, "Sampaikan sembah Bagus Kempong dan Wirapati kepada Gusti Patih Danurejo. Dengan ini kami berdua memohon maaf sebesar-besarnya atas kelancangan kami."

Yang memimpin mereka tidak menjawab. Ia hanya menoleh, kemudian memberi senyum.
Setelah itu lenyap dari penglihatan.

"Dia seorang wanita!" tukas Sangaji. "Guru, siapakah dia?"

Wirapati mengerenyitkan dahi. Dia menoleh kepada Bagus Kempong meminta keterangan. Katanya,

"Apakah mereka utusan Patih Danurejo?"

"Bukan! Mereka utusan Sri Sultan," sahut Bagus Kempong.

"CItusan Sri Sultan?" Wirapati menegas dengan heran.

"Tetapi mengapa Kangmas berkata me-nyampaikan sembah kepada Gusti Patih Danurejo?"

"Pertama-tama mereka mengenakan kedok semenjak semula. Hal itu berarti, bahwa mere-ka tak ingin dikenal. Kedua, gerakan pedang mereka adalah tipu-tipu serangan Danurejan yang berbau barat. Jadi terang sekali mereka memalsukan diri agar tiada dikenal. Karena


itu aku harus menghargai dan melindungi maksud mereka dengan menyebutkan sebagai laskar Patih Danurejo."

"Dari manakah Kangmas mengetahui, bahwa mereka utusan Sri Sultan? Apakah ada di antara mereka yang kau ketahui?"

"Tidak," jawab Bagus Kempong. "Aku me-ngenal mereka, karena kepandaiannya masih dangkal. Agaknya yang dikirimkan Sri Sultan ke wilayah Gunung Damar ini, bukanlah jago-jago pilihan. Terang sekali, tugas mereka bukan untuk menggempur lawan. Tetapi mungkin hanya bertugas menghisap berita atau pengintaian belaka. Tadi sewaktu aku menepuk mereka, mendadak saja mereka mencoba bertahan. Lapis tenaga pertahanan mereka lunak pula. Dan dalam dunia ini yang memiliki tenaga gendam sejati hampir sama adalah guru kita dan almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono 1. Memang, untuk meniru-kan gerak-tipu ilmu perguruan lain adalah mudah. Tetapi apabila sekonyong-konyong dipaksa untuk mengadu tenaga, mau tak mau terpaksa berlindung ke bentengnya terakhir. Yakni dasar ajaran perguruannya yang sejati. Pada saat itulah kedok mereka terbuka."

Mendengar keterangan Bagus Kempong, tiba-tiba saja Sangaji merasa bahagia, la kagum dan bangga atas keluhuran budi sesama perguruan gurunya. Dan dia termasuk salah seorang anggotanya.

"Kangmas Bagus Kempong!" kata Wirapati setelah berdiam sejenak. "Sebenarnya, mereka tak bisa bertahan tatkala engkau menepuk pedangnya. Dengan demikian, kedoknya takkan kauketahui. Memang menurut guru dahulu, ilmu warisan Sri Sultan Hamengku Buwono 1 tak kalah hebatnya. Hanya saja, apabila masih dangkal bisa membahayakan diri sendiri manakala bertahan terhadap suatu tenaga gendam yang jauh di atasnya. Seperti tadi, andaikata Kangmas menganggap mereka sebagai lawan benar, pastilah orang yang menyerang dari samping akan kena kau-rubuhkan dengan sekaligus. Gntung, Kangmas hanya menggunakan beberapa bagian saja, sehingga dia hanya lontak darah dan terjungkal selintasan." Ia berhenti berpikir lagi. Tiba-tiba berkata penuh teka-teki. "Aneh! Benar-benar aneh! Almarhum Sri Sultan Hamengku Buwono I adalah sahabat karib guru kita sewaktu Perang Giyanti. Mengapa kini keturunannya mengganggu?"

"Eh, apakah engkau lupa kepada kisah pe-ngalamanmu sendiri perkara pusaka Pangeran Semono?" sahut Bagus Kempong. "Apakah engkau tak dapat menerka, mengapa mereka memalsukan diri sebagai laskar Danurejan?"

"Ah! Wirapati terperanjat. Suatu ingatan berkelebat dalam benaknya. "Benar-benar mengherankan, bahwa Sri Sultan pun meng-inginkan pula pusaka kramat itu.

"Setidak-tidaknya garwo padmi atau salah seorang anggota kerajaan," potong Bagus Kempong. "Hanya saja, mula-mula mereka salah duga. Kita dikiranya laskar Danurejan. Mestinya mereka tahu, bahwa utusan Patih

Danurejan berkeliaran di daerah lembah Sungai Jali. Lantas mereka mengikuti jejak. Mungkin pula, diam-diam mereka telah mengetahui pula terjadinya pertempuran antara kita dan pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Tetapi apabila mereka mendengar ucapan salamku, seketika berubahlah terkaannya." Meskipun demikian, mereka tetap hendak minta keterangan lebih jelas lagi dari mulut Sangaji.

Sangaji terkejut, tak terduga sama sekali, bahwa ujarnya mengenai tempat penyim-panan pusaka warisan Wayan Suage, telah kena diintip orang. Pastilah hal ini akan masih ada ekornya, memperoleh pikiran demikian, dia merasa bersalah. Mendadak saja. ia melihat lima batang pedang yang terlempar di atas tanah. Cepat ia membungkuk dan hendak menjamahnya.

"Jangan pegang senjata mereka!" kata Bagus Kempong. "Siapa tahu hulu pedang ter-ukir namanya. Bila sampai demikian, tak bisa lagi kelak kita berpura-pura tak tahu menahu."


Terhadap kepandaian Bagus Kempong, diam-diam Sangaji kagum luar biasa. Karena itu ia tak membantah atau mencoba memper-oleh keterangan. Ia percaya, pastilah paman-nya itu telah mempunyai perhitungan jauh.

"Marilah kita pergi saja!" kata Bagus Kempong lagi.

Dengan berdiam diri, Wirapati dan Sangaji mengikut' Bagus Kempong. Mendadak saja, mereka mendengar suara kuda. Tatkala menoleh, ternyata Willem dan kuda putih Titisari tertambat pada sebuah pohon. Sangaji terus saja berseru girang.

"Willem! Eh... siapakah yang mengan-tarkan?"

Karena masih terpengaruh sepak terjang Adipati Surengpati dan luapan girang gurunya, Sangaji sampai lupa kepada kudanya. Kini sekonyong-konyong berada di depannya. Pastilah ada seseorang yang sengaja mengantarkan jasa-jasa baik. Siapa dia? Sangaji tahu, bahwa si Willem tak gampang bisa didekati seseorang yang belum dikenalnya. Memperoleh pikiran demikian, sekaligus ia menduga kepada Titisari. "Apakah dia selama ini mengikutinya dengan diam-diam?"

Sebaliknya Bagus Kempong tak tahu, bahwa Sangaji membawa kuda. Begitu melihat kegirangan Sangaji, alisnya terus saja terangkat. Pikirnya, anak ini berhati sederhana, tetapi agak sembrono. Kuda dan pesan warisan pusaka yang sedang diperebutkan agaknya tiada meresap dalam hatinya benarbenar. Tetapi ia tak berkata. Sebaliknya, Wirapati yang kenal akan tabiat kakak-seper-guruannya, terkejut melihat kesan mukanya. Dengan sekali pandang, tahulah dia apa arti tergeraknya deretan alis. Maka dengan menarik napas dia berkata kepada muridnya.

"Aji! Ambillah kudamu!"

Sangaji terus saja melompat menghampiri kudanya. Kemudian, berkatalah Wirapati kepada Bagus Kempong.

"Agaknya, kita terpaksa berpisah lagi."

"Mengapa?" Bagus Kempong terkejut ber-bareng heran.

"Muridku sama sekali belum memperoleh pengalaman dalam percaturan hidup. Ia begitu semberono mengucapkan kata-kata terakhir Wayan Suage di tengah lapang terbuka. Seumpama nasi sudah menjadi bubur, biarlah aku mengejar kelalaian ini. Bawalah dia menghadap Guru dahulu. Aku akan mencari kedua pusaka warisan itu sampai ketemu. Dengan begitu, muridku tak mensia-siakan pesan terakhir seseorang yang telah menaruhkan kepercayaan besar terhadapnya."

"Wirapati!" Bagus Kempong memotong dengan raut muka sungguh-sungguh. Kemu-dian dengan menggenggam tangannya erat-erat ia meneruskan, "Ikrar saudara seperguruan kita selamanya berbunyi hidup-mati bersama sampai akhir zaman. Tentang maksudmu mencari pusaka warisan itu, mengapa tidak kita lakukan bersama-sama? Kesalahan muridmu itu pun tiada terlalu besar."

Kering kata-kata Bagus Kempong, tetapi mengandung ungkapan rasa yang susah untuk dilukiskan. Maka dengan terharu Wirapati terus menyahut.

"Kangmas Bagus Kempong, tak berani aku meminta kepadamu agar ikut memikul kewa-jiban ini. Sebaliknya, mendengar ujarmu, tak berani pula aku menolak. Dengan begitu, teri-malah ucapan terima kasihku. Kangmas berkata muridku tiada melakukan kesalahan terlalu besar, apa maksudmu?"

Sambil menguraikan genggaman tangan-nya, Bagus Kempong tertawa perlahan. Dengan pandang berseri-seri ia berkata, "Tepatlah amanat Guru tentang dirimu. Itulah sebabnya engkaulah yang dipilih guru menjadi ahli waris perguruan kita."

"Hai!" Wirapati terkejut.

"Benar." Bagus Kempong mengesankan.

"Apakah alasan Beliau?"

"Dengarkan, kata beliau. Berbicara tentang mutu ilmu yang kaumiliki kini, mungkin engkau kalah setingkat dengan saudara-saudara seperguruanmu. Maklumlah, selama itu engkau merantau tiada kabar berita sepuluh tahun lebih. Tetapi seorang ahli waris Kyai Kasan Kesambi mempunyai kewajiban berat. Seseorang tidak cukup hanya mengutamakan ilmu-warisan belaka untuk menjadi ahli-waris-nya. Tetapi terutama, jiwa besar, jujur dan pengalaman yang luas. Syarat inilah yang kelak menjadi sendi utama untuk memperkembangkan ilmu warisan Guru," ia berhenti mengesankan. Meneruskan, "dengan berbekal jiwa besar, jujur dan pengalaman luas, engkau akan sanggup melayani kemukjizatan sesuatu ilmu lebih mendalam lagi. Guru yakin, bahwa kejujuran dan kebersihan hatimu kelak akan dapat mengatasi noktah-noktah hati yang ren-dah jahat. Setelah itu, engkau akan maju lagi satu langkah dengan tanpa kausadari sendiri, karena engkau kelak akan bisa mengusir pen-jajah dan menegakkan negara. Itulah cita-cita guru. Apabila kelak engkau bisa mewujudkan, alangkah menggirangkan dan membesarkan hati. Hal itu berarti, bahwa engkau telah berhasil menunaikan kewajiban azas perguru-an. Itulah sebabnya, Guru lebih mengutama-kan keadaan jiwa untuk menjadi ahli warisnya. Kemudian baru bakat. Tentang kebesaran jiwa, bagaimana kami berempat dapat menandingimu. Engkau pun memiliki bakat yang jauh lebih bagus daripada kami. Soalnya, karena engkau agak lama merantau. Tapi kami yakin, apabila engkau telah kembali ke perguruan, engkau akan bisa melampaui kami berempat."

Mendengar ujar Bagus Kempong, Wirapati terperanjat sampai berjingkrak. Dengan menggeleng-gelengkan kepala berbareng dengan menggoyangkan tangan, dia berkata nyaring setengah gugup.

"Tidak! Tidak! Bagaimana aku bisa menjadi ahli-waris guru. Guru berbicara demikian, semata-mata oleh rasa rindunya terhadapku. Hm, kemampuanku tak dapat menandingi sekalian saudara seperguruan." "Wirapati! Itu semua adalah amanat Guru." "Baik. Andaikata benar, aku pun tak berani menerimanya."

Bagus Kempong tersenyum. Berkata me-maklumi. "Ucapanmu ini pun menunjukkan kejujuran dan kebesaran jiwamu. Engkau merasa diri rendah, itulah bagus. Memang saat ini demikianlah keadaanmu, sehingga belum sanggup menilai kesalahan muridmu. Muridmu memang masih hijau, sehingga semberono dalam mengungkapkan sesuatu hal. Tetapi dikatakan melakukan kesalahan besar, tidaklah kena. Karena, orang yang melompat dari mahkota daun tadi bukankah temannya berjalan?"

"Temannya berjalan?" Wirapati keheran-her-anan. Terang sekali ia tadi melihat sesosok tubuh melesat turun dari pohon. Gerak-geriknya cekatan dan gesit. Meskipun tidak jelas jenisnya, tetapi masakan dia Titisari?

Bagus Kempong seperti dapat menebak kesibukan hatinya. Dengan tepat ia berkata, "Siapa lagi kalau bukan dia? Diapun yang menambatkan kuda. Mampaknya gadis itu menaruh perhatian besar terhadap muridmu, sehingga ia berani memikul akibatnya dengan sengaja membuat suara gemeresak. Pastilah dia bermaksud memberi peringatan, karena di balik belukar bersembunyi orang-orang terten-tu yang lagi mengintai perjalanan kita. Aku pun mula-mula menaruh syak kepadanya. Mendadak kudengar langkahnya yang ringan dan gerakan tangan seolah-olah menuding. Itulah salah satu jurus ilmu Karimun Jawa yang sering dibicarakan Guru. Hanya saja, dia mengubah kibasan tangan dengan gerakan menuding."

Mendengar keterangan Bagus Kempong, Wirapati benar-benar merasa takluk. Pikirnya, benar-benar maju pesat ilmu Kangmas Bagus

Kempong. Dalam satu detik, dia bisa menebak lawan atau kawan. Berbareng pula mengku-


mandangkan aba-aba sandi. Bukankah kecerdasan otaknya jauh lebih cekatan dan cerdas daripadaku? Betapa aku bisa menerima pencalonan guru menjadi ahli warisnya? Terang sekali, guru berkata demikian karena rindu semata-mata kepadaku.

Memang ketangkasan berpikir Bagus Kem-pong benar-benar mengagumkan. Bahkan apabila dia mau mengutarakan dengan sebe-nar-benarnya, hati Wirapati bisa menjadi kecil. Sebab sesungguhnya, jauh-jauh Bagus Kempong telah mengetahui bahwa di belakang mahkota daun bersembunyi seseorang. Seper-ti diketahui dia sudah memiliki ilmu rasa sejati. Meskipun panca inderanya belum bekerja, rasa sejatinya telah mengkisiki. Ia mendengar pula tata-napasnya. Sebagai salah seorang murid Kyai Kasan Kesambi yang telah menerima pula ajaran menyelami ilmu sesuatu perguruan lainnya, sekaligus pikirannya bekerja. Teringatlah dia nada tata napas itu. Bukankah tata-napas yang dimiliki Adipati Surengpati dan puterinya tatkala mengadu kepandaian dengan Sangaji? Pada saat itu pula, ia mendengar gemeresek belukar tak jauh dari pohon. Maka begitu Titisari melesat turun ke tanah, dengan sengaja ia berseru kepada Wirapati dan Sangaji agar melepaskan perhatiannya ke arah lain. Ia berseru seolah-olah Titisari termasuk salah seorang dari mereka yang mengintai di balik belukar. Dengan demikian ia memberi kesan pula kepada mereka yang mengintai, bahwa Titisari bukan termasuk salah seorang rombongannya. Inilah yang dinamakan ilmu sekali menepuk dua lalat mati.

Tengah Wirapati sibuk mengagumi ketang-kasan Bagus Kempong, terdengarlah Sangaji berteriak nyaring, "Guru! Lihat! Lihat dia menyediakan tiga ekor kuda!"

Wirapati terus saja melesat menghampiri sebatang pohon yang terukir dengan beberapa deret huruf. Bunyi huruf itu, "di depan patroli kompeni."

"Hai! Benar-benar dia." Dengus Wirapati "... patroli kompeni? Mengapa kompeni berke-luyuran sampai di wilayah ini?"

Sangaji terus membagi kuda tunggangan. Bagus Kempong memperoleh seekor kuda hitam. Terang sekali itulah salah seekor kuda pendekar-pendekar undangan Pangeran Bumi Gede. Entah dengan cara bagaimana, Titisari ternyata bisa merampasnya. Dan kuda putih ditunggangi Wirapati. Sangaji sendiri tetap berada di atas punggung Willem.

"Peringatan ini, baiklah kita perhatikan," kata Bagus Kempong. "Agaknya Patih Danurejo benar-benar berhasrat merebut pusaka sakti itu sampai minta bantuan kom-peni. Inilah suatu kesalahan. Dengan menge-rahkan tenaga kompeni berarti memberi kesempatan kompeni pula untuk mengenal daerah-daerah yang bersembunyi di balik pegunungan."

Semenjak di Jakarta, Wirapati sudah mem-buktikan dengan mata kepalanya sendiri, bahwa Patih Danurejo bekerjasama dengan kompeni untuk dapat memenangkan per-soalannya. Hal itu bukanlah suatu kabar baru. Yang diherankan ialah bahwa dalam waktu yang hampir bersamaan, ia menjumpai dua kekuatan besar yang nampaknya saling bersaing. Daerah lembah Kali Jali benar-benar merupakan ajang pertempuran yang sebentar atau lama akan meletuskan suatu pertempuran menentukan. Terhadap Patih Danurejo, ia memperoleh kesan buruk pertama-tama sepak-terjang Pangeran Bumi Gede dan beker-jasamanya dengan kompeni. Karena itu diam-diam ia mengkhawatirkan pihak utusan Sri Sultan Hamengku Buwono II yang tadi kena dilukai kakak seperguruannya beberapa orang di antaranya.

"Nampaknya, jejak kita sudah mereka ketahui," kata Wirapati. "Kita kembali ke tepi sungai atau meneruskan perjalanan ke Gunung Damar sama saja bahayanya. Aji! Kalau kelak bertemu dengan Titisari, sam-paikan salamku kepadanya."

Mendengar gurunya menyebut nama Titisari, berserilah mata Sangaji. Tetapi tak berani membuka mulut. Memang, ia sudah menduga bahwa tentang beradanya tiga ekor kuda di tempat itu adalah berkat jasa Titisari. Samar-samar dia bisa menebak maksud gadis pujaannya itu, agar cepat-cepat meninggalkan daerah yang dianggapnya berbahaya.


"Benar," sahut Bagus Kempong. "Kita pasti menjumpai rintangan-rintangan perjalanan. Mengingat pesan almarhum yang dirahasia-kan, sebaiknya janganlah kita memperlihatkan diri apabila tidak terpaksa. Hm, hampir saja aku kesalahan tangan."

Nyata sekali, Bagus Kempong merasa menyesal karena melukai utusan Sri Sultan meskipun tidak dengan sengaja. Diam-diam Sangaji berpikir, "Paman hanya menggunakan tenaga selintasan saja. Tujuannya tidak melu-kai lawan. Semata-mata mempertahankan diri. Mereka terluka, karena kesalahannya sendiri. Meskipun demikian Paman begitu ber-duka. Alangkah mulia dia. Kelak, aku pun akan meniru dia. Jika tak terpaksa, jangan sekali-kali menggunakan ilmu Kumayan Jati." Memperoleh pikiran demikian, mendadak teringat dia bahwa ia belum mengabarkan tentang ilmu Kumayan Jati kepada gurunya. Serentak berkatalah dia hati-hati, "Guru! Maafkan kelalaianku. Karena Guru tadi masih sibuk . berbicara dengan Paman, tak berani aku mengganggu. Sesungguhnya, aku hendak mengabarkan bahwa di tengah perjalanan bertemulah aku dengan seseorang yang mena-makan diri Gagak Seta. Meskipun aku belum berani mengangkat guru kepadanya sebelum memperoleh ijin Guru, tetapi aku telah meneri- 1 ma delapan bagian ilmunya. Untuk ini..."

"Aji! Tahukah engkau azas perguruan kita?" potong Wirapati. "Semenjak kanak-kanak, aku diwajibkan menghafal tujuh deret kalimat hingga meresap dalam lubuk hati. Yakni, menghormati Tuhan semesta alam, bumi kelahiran, orang tua, guru, saudara tua, pergaulan dan sesama hidup. Mengapa selain Tuhan, bumi kelahiran, orang tua, guru dan saudara tua, aku diharuskan menghormati pergaulan dan sesama hidup pula? Karena sekalian satwa alam ini adalah ayat Tuhan itu sendiri. Gagak Seta adalah seorang dari angkatan tua yang setaraf dengan kakek-gurumu. Hanya bertemu saja dengan dia, sesungguhnya merupakan suatu kehormatan besar. Apalagi sampai menurunkan suatu ilmu. Apabila engkau tidak berkenan dalam hatinya, meskipun engkau lahir sampai tujuh kali, takkan orang tua itu demikian murah hati terhadapmu. Karena itu, di kemudian hari apabila engkau dapat bertemu kembali dengan dia, sampaikan pula hormatku kepadanya. Hendaklah engkau menekuni ilmu warisannya dengan sungguh-sungguh. Dengan demikian, kau tak mensia-siakan jerih payahnya. Aku sendiri berharap, mudah-mudahan engkau bisa mengambil manfaatnya, sehingga di kemudian hari engkau bisa menciptakan suatu ilmu gabungan antara ilmu perguruanku dan ajarannya. Syukur pula, apabila engkau bisa mengambil sari-sari ilmu gurumu Jaka Saradenta. Karena gurumu sesungguhnya adalah murid almarhum Kyai Haji Lukman Hakim."

Betapa gembira hati Sangaji, tak terperikan mendengar ucapan gurunya. Gurunya ternyata tiada bersakit hati atau menyesali. Tapi bahkan menganjurkan pula. Inilah di luar dugaannya. Sesungguhnya apabila dia se-orang pemuda yang encer otaknya, mestinya sudah dapat menebak keadaan hati gurunya semenjak tadi. Sebab apabila gurunya tiada menyetujui, pastilah dia akan kena tegur, tatkala habis bertempur melawan Pring-gasakti. Bukankah dia bertahan dan melawan kegagahan iblis itu dengan ilmu ajaran Gagak Seta? Ternyata kakak seperguruannya, guru-nya tiada pula menaruh keberatan. Bahkan tiba-tiba ikut berkata, "Sangaji! Kulihat gerakanmu masih menemukan suatu rintangan tertentu. Tunggulah sampai engkau meng-hadap kakek gurumu. Siapa tahu, engkau bisa memperoleh suatu petunjuk-petunjuk yang berharga."

Arah perjalanan mereka kini berubah lagi. Tepat bersamaan dengan tenggelamnya mata-hari, mereka menghadap ke arah barat daya. Sangaji mengikuti Guru dan pamannya tanpa minta keterangan. Seluruh hatinya benar-benar takluk kepada keluhuran budi mereka berdua. Pada suatu desa, mereka berhenti mengisi perut di sebuah kedai. Memang semenjak pagi hari tadi, mereka hampir melalaikan kepentingan jasmaninya. Itulah sebabnya, meskipun hidangan yang disajikan sangat sederhana, mereka menelannya dengan lahap.

Dalam  pada  itu  malam  hari  telah  merangkak  dengan  diam-diam.  Sekonyong-konyong


terdengarlah beberapa orang berlari-lari melintasi jalan. Salah seorang melihat mereka dan dengan gugup melambaikan tangan,

"Raden(suatu sebutan semacam tuan)!, masuklah kekampung! Serdadu-serdadu kompeni mulai membunuh orang."

"Membunuh orang? Mengapa?" sahut pemi-lik kedai dengan muka berubah.

"Siapa yang tahu? Kabarnya mereka me-maksa penduduk agar menunjukkan Desa Karangtanggung, Singajaya, Gowong dan entah apa lagi. Siapa sudi berkeluyuran begini malam hari sepanjang lembah Kali Jali. Salah-salah matilah digigit ular."

Setelah berkata demikian, orang itu terus saja menghilang di balik perkampungan. Seperti teman-temannya, ia mengira memper-oleh keamanan apabila sudah bersembunyi dalam kampung.

"Raden! Nampaknya Raden tak beruntung. Di depan serdadu-serdadu kompeni yang kabarnya begitu jahat. Aku sendiri terpaksa menutup warung," kata pemilik kedai kepada Wirapati, Bagus Kempong dan Sangaji. Benar-benar ia nampak gugup, hingga tangannya gemetaran.

Selamanya, anak murid Kyai Kasan Kesambi benci bukan kepalang kepada istilah serdadu. Maklumlah, Kyai Kasan Kesambi adalah bekas pejuang penentang penjajah. Dahulu ia merupakan salah seorang pembantu kepercayaannya Pangeran Mangkubumi 1 dalam Perang Giyanti. Karena itu, sikap hidupnya ini ditanamkan dalam lubuk hati sekalian murid-muridnya. Meskipun demikian, Kyai Kasan Kesambi melarang keras melakukan pembunuhan terhadap kompeni apabila tidak terpaksa. Soalnya, karena bagaimanapun alasannya melaksanakan pembunuhan adalah suatu perbuatan yang berlumuran darah. Sebaliknya jika sudah terlanjur demi membela keamanan, dia tak pernah mengomeli. Malah seringkali dipuji. Ia hanya memberi saran agar lebih berhati-hati. Jika bersua dengan petroli kompeni yang berjumlah dari 20 orang lebih baik menyingkir. Tetapi, kalau jumlahnya tak lebih dari 15 orang—apabila berbuat sewe-nang-wenang tehadap rakyat— bolehlah mencoba-coba mengadu untung.

Kini, Bagus Kempong dan Wirapati men-dengar sepak terjang serdadu-serdadu kom-peni. Keruan saja, darahnya langsung men-didih serentak mereka melompati kudanya dan mengaburkan ke arah utara. Sangaji pun tak mau ketinggalan. Dengan menunggang Willem, ia bisa gampang mengejar mereka berdua. Hanya saja hatinya agak segan ber-lawan-lawanan dengan kompeni. Maklumlah, hampir lima tahun, ia manja di dalam tangsi Belanda di Jakarta.

Kira-kira dua pai jauhnya, terdengarlah kesibukan-kesibukan di depan sana. mereka mendengar jerit ngeri. Cepat-cepat mereka mengeprak kudanya. Apabila sudah dekat dengan gemas mereka melihat dua orang ser-dadu Bumiputera sedang menghajar seorang anak berumur 10-12 tahun. Terdengar mere-ka membentak-bentak.

"Kau mau tidak mengantarkan kami?"

Anak itu tak kuasa membuka mulutnya. Kedua orang tuanya mencoba membela. "Lepaskan dia! Biar kita berdua menjadi penunjuk kalian."

Mendengar ujar mereka, kedua serdadu itu tertawa mendongak hampir berbareng. Men-dadak saja anak itu terus diangkat ke udara dan ditendang dijungkir-balikkan. Sudah ba-rang tentu anak itu menjerit kesakitan selagi masih berjungkir-balik di udara. Begitu jatuh tengkurap di atas tanah, serdadu yang lain menyambarnya dan ditendang lagi ke udara. Kini mengarah ke dalam barisan. Serdadu-serdadu yang lain segera menyambutnya dan dilemparkan pula ke udara seperti bola keranjang.

Melihat sepak terjang mereka, darah Sangaji mendidih juga. Teringatlah dia akan nasibnya dahulu tatkala diperlakukan demi-kian oleh Mayor de Groote. Maka dengan gusar ia terus


melabrak maju. Tapi belum sampai ia sempat menerjang, ternyata guru-nya sudah turun tangan. Anak murid Kyai Kasan Kesambi yang keempat itu dengan tangkas meloncat dari kudanya selagi kakinya belum menginjak tanah, tangannya sudah menyambar. Seorang serdadu yang lagi sibuk hendak menyambut anak malang itu, tiba-tiba saja terjungkal di tanah dengan memuntahkan darah. Sedangkan si anak terus dilemparkan perlahan kepada Bagus Kempong.

Melihat Wirapati menyerbu dengan men-dadak, serdadu-serdadu yang lain terperanjat. Mendadak terdengar pekik pemimpin regu, "Hai! Bukankah mereka ini yang kita cari?"

Berbareng dengan pekikannya pemimpin regu itu terus menusukkan bayonetnya. Dia adalah seorang sersan. Meskipun hari remang-remang gelap, nyata sekali bahwa dia seorang Belanda.

"Guru, awas!" Teriak Sangaji terkejut. "Hm," dengus Wirapati tenang. "Kausaksikan bagaimana gurumu menghajar serdadu-serdadu. Empat tahun di Jakarta, tangan gurumu tersekap dalam kantong celana demi keselamatanmu."

Dengan tertawa Wirapati menghadapi serangan sersan Belanda itu. Bayonet tinggal belasan centi saja dari dadanya. Mendadak tangan kirinya membalik dan terus menangkap laras senapan. Berbareng dengan itu, tangannya menyodok. Laras senapan yang berbayonet itu membalik 180 derajat oleh tepukan tenaga dorong. Belum lagi sersan itu sadar akan artinya, dadanya tertembus bayo-netnya sendiri. Dengan sekali menjerit ia ter-jungkal di tanah tanpa berkutik lagi.

Menyaksikan ketangkasan Wirapati, ser-dadu-serdadu lainnya berteriak-teriak menyerbu rapat. Mereka bersenjatakan pedang dan tombak. Nyata sekali, bahwa dalam suatu patroli hanya serdadu bangsa Belanda saja yang bersenjatakan senapan. Lainnya yang berbangsa Bumiputera hanya bersenjatakan pedang panjang, tombak atau penggada.

Tanpa bicara lagi, Sangaji terus meloncat turun dari kudanya. Cepat ia rebut pedang salah seorang serdadu. Dengan tenaga sakti ilmu Kumayang Jati, ia memutar pedang itu secepat kitiran. Dua kali ia membabat dan dua serdadu kena tebas.

Melihat gelagat buruk, serdadu-serdadu yang lain terus melarikan diri dengan tung-gang-langgang. Lari mereka berpencaran. Meskipun demikian, mereka masih sempat pula melampiaskan dendamnya pada rakyat yang tadi dipaksa ke luar dari rumah. Karena itu, banyak di antara penduduk yang kena tikaman pedang atau kemplang penggada. Sehingga suara jerit ketakutan dan kesakitan mengiang ke udara.

Bagus Kempong yang lagi menolong si anak, mendidih darahnya melihat sepak terjang begundal-begundal kompeni Belanda. Dengan berteriak nyaring ia berkata, "Jangan biarkan mereka lari berpencaran!"

Berbareng dengan teriaknya, ia lari melesat ke jurusan barat menghadang empat serdadu. Sekali bergerak, keempat serdadu itu jatuh berdeburan di atas tanah. Maklumlah, mereka tiada memiliki suatu kepandaian yang berarti. Bagi Bagus Kempong merupakan makanan empuk belaka.

Dalam pada itu, Sangaji berkelahi pula dengan penuh semangat. Hatinya tidak segan-segan lagi melabrak sekalian serdadu, karena gemas menyaksikan kekejaman menghajar seorang anak. Dengan pedang rampasannya ia merangsak. Dengan tinjunya yang bertenaga ia menghajar kalang kabut.

"Bagus!" puji Wirapati gembira. Ia tak me-ngira, bahwa muridnya mau berkelahi juga melawan golongan kompeni. Sekonyong-konyong ia melihat seorang serdadu berewok menyerang dari timur. Cepat ia menangkis dan dengan sekali gempur, sedadu itu jatuh tertelungkup. Tetapi mendadak saja, tahu-tahu serdadu itu melesat dan berhasil menangkap pergelangan tangan Sangaji.


Sangaji terperanjat. Tanpa berpikir lagi, ta-ngannya terus menghantam dengan jurus ilmu sakti Kumayan Jati. Serdadu itu menggeliat mundur tiga langkah sambil terpekik heran. Kemudian dengan gerakan aneh, ia menyerang lagi. Kali ini lebih dahsyat dan tangkas. Tangan Sangaji kena ditangkapnya dan terus ditarik maju.

Bagus Kempong dan Wirapati heran menyaksikan keperkasaan serdadu itu. Tenaga Sangaji bukanlah suatu tenaga dorong murahan. Setiap pukulannya mengandung tenaga ilmu Kumayan Jati. Namun serdadu itu kuat bertahan seolah-olah kebal dari suatu pukulan betapa sakti pun. Mereka terperanjat, tatkala melihat lengan Sangaji kena tangkap pula.

Maka tanpa berpikir lagi, Bagus Kempong melesat maju sambil melontarkan gempuran. Serdadu itu kaget. Ia tahu bahaya. Cepat ia melepaskan cengkramannya dan menangkis gempuran Bagus Kempong. "Plak!" Bagus Kempong terkejut bukan kepalang. Ia merasa tenaga pukulan lawan begitu kuat bagaikan gugurnya sebuah bukit batu. Tubuhnya sam-pai tergeliat mundur.

Sebaliknya serdadu itu pun tak tahan menangkis gempuran Bagus Kempong. la tergeliat sampai tubuhnya berputar kemudian kabur dan lenyap di gelap malam.

"Jangan kejar! Berbahaya," Bagus Kempong berteriak memperingatkan.

Wirapati terkejut. Paras Bagus Kempong ternyata pucat lesi, terang sekali terluka tiada enteng. Cepat Wirapati membopongnya. Se-baliknya, Sangaji nampak duduk bersimpuh di atas tanah. Lengannya berdarah terkena cengkeraman serdadu tadi. Maka cepat-cepat ia menyalurkan napas dan darahnya, agar terhindar dari suatu kemungkinan terkena racun.

"Tolong muridmu dahulu!" bisik Bagus Kempong lemah. Dia sendiri terus duduk menenangkan diri di atas tanah.

Waktu itu, Wirapati melihat tiga orang ser-dadu sedang datang mengepung Sangaji.

Dengan sebat Wirapati menyambar senja-tanya. Sekali tusuk, dua orang mati ter-jungkal. Lainnya segera melarikan diri. Tetapi Wirapati sedang marah. Pedang rampasan terus ditimpukkan dengan sekuat tenaga. Agaknya hatinya bergejolak hebat karena marah melihat kakak seperguruannya terluka oleh akal licik seorang serdadu. Tenaga lontarannya kuat luar biasa sehingga mem-bawa suara mendesing. Maka terdengarlah suara gedebrukan. Serdadu itu mati tertancap lontaran pedang seperti terpantek di atas tanah.

Wirapati lantas menolong muridnya dan dibawa berdiri menghampiri Bagus Kempong. Pada waktu itu para serdadu sudah meninggalkan kampung. Bagus Kempong masih memejamkan mata mengatur perna-pasannya. Kemudian, merogoh sebutir ra-muan obat buatan gurunya, wajahnya yang tadi pucat perlahan-lahan bersemu merah kembali.

"Tenaga pukulan luar biasa kuat," katanya lemah berbarengan dengan menyenakkan mata. Mendengar kakak seperguruan sudah dapat berbicara tenang, hati Wirapati lega bukan main. Meskipun demikian, belum berani ia mengajak berbicara lebih banyak lagi.

"Apakah orang itu benar-benar mening-galkan kita?" Bagus Kempong menegas dengan lemah.

"Ya, bagaimana keadaan Kangmas?"

"Tak usahlah kau bercemas hati," sahut Bagus Kempong. Tangannya menggapai pun-dak Wirapati. Dengan memejamkan mata ia merenung-renung. Sejenak kemudian ia mem-buka matanya kembali sambil berkata, "Tak dapat aku menebak siapa dia. Terang sekali ia seorang pendekar yang menyamar sebagai serdadu murahan dengan menyembunyikan maksud-maksud tertentu. Melihat dia hendak menculik Sangaji, pastilah dia mengincar pula pusaka keramat. Aih, tak kukira begini besar pengaruh pusaka keramat Pangeran Semono. Baiklah... marilah kita pulang ke gunung, kita minta keterangan Guru dari cabang kesaktian manakah orang itu."


Mendengar ujar Bagus Kempong, tahulah Wirapati bahwa kakak seperguruannya meng-hendaki agar dia membatalkan maksudnya mengambil pusaka warisan. Mengingat di antara mereka yang memperebutkan pusaka sakti terdapat orang-orang sakti. Sedangkan kakak seperguruannya terluka pula, maka ia menerima baik saran itu. Cepat ia memapah Bagus Kempong dan dengan hati-hati di-dudukkan di atas pelana kuda. Ia sendiri terus melompat naik di belakangnya. Dengan demikian, ia dapat memeluk tubuh kakak-seperguruannya. Sangaji sendiri, tak perlu memperoleh bantuan. Pemuda itu sudah bisa menguasai diri. Meskipun demikian, Wirapati minta keterangan kepadanya, "Sangaji! Bagaimana dengan lukamu?"

Dengan menggelengkan kepala Sangaji menjawab, "Hanya luka tak berarti. Anehnya tubuhku merasa jadi panas."

Mereka menderapkari kudanya perlahan-lahan menuju ke timur kembali. Sampai di Desa Salatiyang mereka berhenti di sebuah gardu penjagaan. Khawatir sisa serdadu-serdadu tadi masih berusaha mengejarnya, maka Wirapati menutup pintu gardu dengan selembar sarung. Setelah itu ia mendampingi kakak-seperguruannya mengatur tata-napas. Sekali-kali ia meraba kening muridnya pula yang berubah menjadi panas seperti seseorang terserang penyakit demam.

Menjelang tengah malam, Bagus Kempong sudah pulih sebagian tenaganya. Ia berjalan mondar-mandir melemaskan urat tulangnya. Kemudian berkata, "Wirapati, adikku! Selama hidupku kecuali guru belum pernah kukete-mukan seorang jago seperkasa orang tadi."

Wirapati mendengarkan kata-kata kakak-seperguruannya dengan cermat. Tapi sewaktu ia menggempur serdadu itu, nampaknya begitu lemah. Dengan sekali gempur, ternyata ia rebah. Setelah dipikir-pikir pulang balik, sadarlah dia bahwa orang itu sebenarnya hanya berpura-pura untuk mengincar mangsa yang dikehendaki. Merasa berhasil mengungkap mangsa yang dihendaki, dengan mati-matian ia mencoba hendak mempertahankan. Sayang sekali baik Wirapati, Sangaji maupun Bagus Kempong tidak begitu mengamat-amati bentuk tampangnya. Maklumlah, kecuali hari gelap, dalam suatu pertempuran seru bagaimana sempat pula memperhatikan perawakan lawan seorang demi seorang. Samar-samar mereka hanya teringat, bahwa orang itu berperawakan agak pendek. Mukanya penuh bulu.

Diam-diam dia berpikir dalam hati. Kangmas Bagus Kempong lebih kuat dari-padaku, meskipun demikian kena dilukai. Hm, pastilah bukan orang sembarangan. Dia pun mengincar Sangaji. Aih, agaknya pesan terakhir Wayan Suage yang diungkapkan Sangaji, sudah bukan menjadi suatu rahasia lagi. Jangan-jangan, dia pun termasuk salah seorang yang menyelundup dalam barisan utusan Sri Sultan, sehingga dapat mendengar kata-kata Sangaji. Bagus! Jika bangsat itu berani datang kembali dengan mengancam nyawa Sangaji, biarlah aku mengadu nyawa. Karena ini, segera ia berkata kepada Bagus Kempong, "Kangmas, apakah keadaan badanmu sudah pulih kembali?"

Persaudaraan seperguruan mereka sudah dipupuk semenjak kanak-kanak, sehingga suatu isyarat mata atau suatu gerakan tangan sudah cukup untuk saling memahami kehendak hati masing-masing. Maka Bagus Kempong lantas saja bisa menerima, bahwa adik-seperguruannya mengkhawatirkan keadaannya.

"Aku hanya hendak melemaskan urat belikat belaka."

Setelah berkata demikian, kembali ia duduk bersemadi menenangkan hati. Ia duduk dekat Sangaji. Teraba oleh suhu tubuh Sangaji yang agak tinggi, ia menyenakkan mata. Sebentar ia memperhatikan paras pemuda itu, kemudi-an memejamkan mata kembali. Sebagai se-orang pendekar yang berpengalaman tahulah dia dengan sekali pandang, bahwa luka Sangaji meskipun teraba oleh sesuatu racun tidak akan membahayakan nyawa.


Dalam gardu itu lantas saja terselimuti suatu kesenyapan. Angin mendesir lembut meraba kain sarung yang terpancang menjadi tirai. Bulan di luar nampak remang-remang. Suasana damai terasa meraba sekitar lembah pegunungan. Wirapati jadi bermenung-menung. Dua belas tahun yang lalu, seringkali dia lewat sekitar Dusun Salatiyang. Meskipun kini belum berubah, tetapi pengalamannya sehari tadi mempunyai kesan tertentu. Daerah lembah Gunung Damar yang dahulu aman tenteram, ternyata mulai dikunjungi orang-orang tertentu yang mengandung maksud jahat.

Selagi ia bermenung, mendadak saja kain sarung yang terpancang di depannya menggelembung lembut seperti teraba suatu tangan. Tajam ia mengamat-amati. Benar juga. Perlahan-lahan sarung itu tersingkap. Kemudian muncullah kepala seseorang men-jenguk ke dalam. Ia bersangsi dan mau men-duga, bahwa orang itu mungkin seorang pe-ronda kampung atau salah seorang penduduk. Mungkin pula seorang pengembara yang kebetulan lewat. Tetapi aneh! Mengapa pendengarannya yang tajam tiada mendengar langkahnya. Memperoleh pertimbangan ini, ia jadi curiga. Cepat ia bersiaga menghadapi kemungkinan.

Orang yang menyingkap sarung itu, seorang laki-laki berperawakan tinggi tipis. Ia menge-nakan baju dan celana pendek. Tangannya menggenggam cambuk, mirip seorang sais. Begitu melihat siapa yang berada di dalam gardu, terus mundur dengan tertawa melalui hidung.

Melihat gerak-gerik orang itu. Wirapati yakin bahwa maksudnya tidak baik. Hatinya menjadi mendongkol, mendengar nada tertawanya dan kekurangajarannya. Tatkala sarung itu turun dan bergelombang ke luar, ia membarengi dengan menyodokkan tangan dengan tenaga gendam.

Seketika itu juga, tirai sarung itu terbang dan tepat mengenai dada. Laki-laki itu kaget sampai memekikkan suara. Tubuhnya terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh tertengkurap. Ia mencoba tertatih-tatih bangun. Begitu dapat berdiri tegak mendadak saja berlari kabur sambil berteriak, "Bangsat! Ajal kalian sudah di depan mata, masih berani berlagak sok pendekar?"

Bagus Kempong sudah tentu mengetahui peristiwa itu, tetapi dia tetap tak bergerak dari tempatnya. Sebaliknya Wirapati terus berkata kepadanya, "Sejiwan sudah berada di depan. Apakah kita tidak berangkat saja?"

Tidak!" sahut Bagus Kempong cepat dan tegas. "Malam ini biarpun badai turun dengan dahsyat, kita tak perlu meninggalkan tempat ini. Esok pagi biarlah kita berangkat bersama dengan merangkaknya matahari."

Mendengar kata-kata Bagus Kempong, Wirapati dengan cepat dapat memahami. Se-mangat keperwiraannya lantas saja berkobar-kobar. Katanya bergelora, "Ya, benar. Jarak perjalanan ke Sejiwan tinggal enam-tujuh pai. Betapapun kita berdua tak becus menghadapi mereka masa harus merosotkan papan nama perguruan. Masakan di kaki Gunung Damar, kita masih menempuh perjalanan pada malam hari untuk menghindari mereka?"

"E-hm." Bagus Kempong berdehem. "Jejak kita terang sudah ketahuan orang-orang ter-tentu. Biarlah mereka menyaksikan bagai-mana cara murid Kyai Kasan Kesambi meng-hadapi ajalnya."

Sangaji mendengarkan ucapan guru dan pamannya dengan jelas. Gurunya sama sekali tiada menyinggung dirinya. Pamannya pun demikian, seolah-olah dia tidak termasuk hitungan. Di sini ternyata, bahwa guru dan pamannya tak menginginkan dia terlibat dalam kesukaran. Bahkan mereka bersiap-sedia, mengorbankan nyawa bila perlu demi menjaga keselamatan dirinya. Tetapi bagai-mana dia mau diperlakukan demikian? Meski-pun dia tahu maksud baik guru dan paman-nya, tetapi diam-diam ia sudah mengambil keputusan,


"Jika orang semalam datang kem-bali mengganggu Guru dan Paman karena menginginkan diriku, biarlah aku mengadu nyawa."

Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Waktu itu matahari telah sepenggalah tingginya. Angin meniup sejuk membawa hawa pegunungan. Mereka meneruskan perjalanan dengan berkendaraan kuda. Bagus Kempong tak membutuhkan bantuan tenaga Wirapati, meskipun kesehatan dan tenaganya belum pulih seperti sediakala. Itulah sebabnya pula, kudanya hanya dibiarkan berjalan perlahan-lahan.

Baru saja melampaui dua pai, mereka telah disusul satu rombongan berkuda. Tidak jauh di sana, kira-kira seratus langkah di depan mereka berdiri empat penumpang kuda pula yang bersiaga menghadang di tepi jalan. Dengan demikian, mereka terjepit dari belakang dan depan.

Dengan sikap tak memedulikan, Bagus Kempong lewat di depan mereka. Sedangkan

Wirapati menjajari di sampingnya dengan waspada. Mereka yang menghadang ternyata terdiri dari seorang kakek, seorang wanita muda yang cantik dan dua perwira yang mengenakan pakaian seragam.

Wanita muda itu memegang pedang pan-jang dan dengan isyarat mata ia memberi pe-rintah kepada si kakek agar menghadang dengan melintangkan kudanya. Kedua perwira yang mendampingi ikut pula melintangkan kudanya sambil tersenyum-senyum meren-dahkan.

Wirapati terus saja lari mendahului Bagus Kempong, sedangkan Sangaji menjaga di belakang. Dengan menahan gejolak hati, Wirapati memberi hormat dari atas kudanya. Kemudian menyapa,

"Terimalah hormat kami berdua. Bagus Kempong dan Wirapati anak murid Kyai Kasan Kesambi. Tuan-tuan telah mengunjungi daerah kami dan ternyata kami lalai meng-adakan penyambutan. CJntuk kelalaian kami harap dimaafkan. Sekiranya Tuan-tuan berla-pang dada, dapatkah kami mengetahui nama-nama Tuan yang mulia?"

Wanita muda itu hanya tersenyum belaka sebagai balasan. Sedangkan kedua perwira yang mendampingi, meludah ke tanah.

Kemudian si kakek yang berambut gimbal membalas dengan kasar.

"Siapa sudi menerima hormatmu. Cukup serahkan saja bocah itu dan kami takkan mempersulit kalian berdua."

"Bocah ini adalah murid kami. Dan kami adalah murid Kyai Kasan Kesambi. Biarlah beliau yang memutuskan. Lagi pula apakah keuntungannya Tuan membawa murid kami. Sekiranya Tuan membutuhkan petunjuk atau keterangan tentang tempat-tempat yang Tuan kehendaki, lebih berhasil apabila membawa kami berdua," sahut Wirapati yang dengan menahan marah. Tetapi di dalam hati dia sibuk menimbang-nimbang, terang sekali mereka mencari perkara. Sangaji hendak dibawanya supaya bisa dipaksanya menunjukkan pusaka warisan. Hm, Kangmas Bagus Kempong menderita luka tak enteng. Tetapi masa aku harus menyerah mentah-mentah di daerahku sendiri?

Tengah dia sibuk menimbang-nimbang, Kakek itu berkata dengan nada merendahkan.

"Pikirlah masak! Kakakmu seperguruan ter-luka berat. Bocah itu pun kurang sehat. Tinggal kau seorang diri. Masa kamu mampu melawan kami?"

"Apakah kamu akan mengadu jumlah banyak?" Wirapati tak sabar lagi. Dengan pan-dang tajam ia melepaskan kata-kata tajam pula.

"Bagus! Telah lama aku mendengar kabar, bahwa murid-murid Kyai Kasan Kesambi tak gampang-gampang bisa diruntuhkan.

Pagi ini biarlah kita mencoba-coba, seru Kakek itu sambil mencabut tongkat galih pohon


jambe ). Tongkat itu bentuknya seder-hana tetapi berkepala ular dan terus diputar-putar sehingga mengeluarkan suara berdesing.

Di antara anak murid Kyai Kasan Kesambi, Wirapati adalah salah seorang murid yang ahli dalam menggunakan senjata panjang. Dia terkenal dengan sebutan Aria Sada Lanang ). Tatkala menerima ajaran ilmu senjata ia diperkenalkan oleh gurunya tentang berma-cam-amcam aliran yang menggunakan senjata sebagai sendi kekuatannya. Maka pengetahuannya tentang perguruan-perguruan yang mengajar ilmu senjata cukup luas.

Demikianlah, tatkala melihat bentuk senjata kakek itu hatinya jadi tercekat. Teringatlah dia, bahwa gurunya pernah memperkenalkan adanya suatu aliran yang berpusat di sekitar Gunung Liman, yang mahir menggunakan tongkat berkepala ular sebagai senjatanya yang ampuh. Cara bertahan dan menyerang aliran Gunung Liman agak berbeda dengan ajaran gurunya. Tetapi lebih ganas dan keji. Sebab kecuali dilumurui racun jahat, tiap jurusnya tak memberi kesempatan kepada lawan untuk bernapas barang sekejap pun. Cikal bakal aliran itu bernama Hewa. Apakah Hewa suatu sebutan atau gelar, gurunya tak dapat menjelaskan. Memperoleh ingatan ini, Wirapati mencoba menguasai diri. Seperti diketahui, dia diajar untuk menghormati angkatan tua oleh gurunya, maka segera ia berkata penuh hormat.

"Apakah Kakek berasal dari Gunung Liman? Barangkali Kakek kenal dengan seorang sakti bernama Hewa, sampaikan salamku."

Mendengar kata-kata Wirapati, Kakek itu terperanjat. Tak pernah diduganya, bahwa Wirapati semuda itu sudah mempunyai penge-tahuan luas sehingga mengenal asal-usulnya. Sesungguhnya Kakek itulah yang di sebut He-wa. Namanya yang lengkap, Hajar Sandihewa. Jabatannya ketua aliran sakti dari Gunung Liman. Kedatangannya ke Gunung Damar ialah atas undangan Patih Danurejo dan dijanjikan akan memperoleh upah besar apabila berhasil membawa pulang pusaka sakti

Pangeran Semono. Beberapa bulan lamanya ia mencoba mengumpulkan berita. Selama itu, tak pernah ia memperkenalkan namanya atau memperlihatkan macam kepandaiannya. Tak tahunya, baru saja ia muncul telah dikenal oleh seorang pemuda layak cucunya. Karena itu, terpaksa ia menjawab, "Legakan hatimu. Akulah sendiri yang bernama Hewa. Lengkap-nya Hajar Sandihewa."

"Golongan kalian selamanya tak pernah berhubungan atau bergaul dengan kami dalam percaturan hidup. Mengapa tiba-tiba Kakek berada di Gunung Damar? Apabila kami pernah melakukan suatu kesalahan, tolong berilah penjelasan."

Hajar Sandihewa tersenyum merendahkan, mendengar ucapan Wirapati.

"Memang antara golonganku dan golongan-mu tak pernah terjadi suatu permusuhan. Aku pun pernah mendengar berita, tentang kegagahan anak murid Kyai Kasan Kesambi. Tetapi kedatanganku kemari sesungguhnya hanya menginginkan bocah itu agar memberi keterangan tentang pusaka Pangeran Semono."

Terdengarnya ia berbicara pantas. Tetapi nadanya berat dan mendesak. Bahkan dengan lambaian tangan, ia memberi aba-aba kepada rombongan yang mengikuti dari belakang agar mengepung lebih rapat. Terang sekali, ia hendak memutuskan perkara itu dengan suatu kekerasan.

Mau tak mau, Wirapati mendongkol menyaksikan sikapnya. Karena itu mendadak saja, ia berkata kaku.

"Seumpama aku bersitegang dan menolak kehendakmu apakah yang akan kaulakukan?"

"Ilmu Kyai Kasan Kesambi termasyur di seluruh jagad. Siapa yang tak kenal? Aku pun termasuk salah seorang di antara mereka yang tak berani meremehkan anak muridnya. Kebetulan sekali, kudengar kakak seperguru-anmu terluka dan bocah itu keracunan.


Kesempatan ini sangat baik untuk kupergu-nakan memaksa kau dengan mengandalkan jumlah banyak. Seumpama kau membandel, akan kami persilakan engkau pergi dengan bebas. Hanya saja, kakakmu dan bocah itu harus kutahan."

Heran Wirapati mendengar kata-kata Hajar Sandihewa yang hendak mempergunakan kesempatan itu untuk kepentingannya. Nyata sekali, betapa rendah budinya. Karena itu, tak ada guna faedahnya berlaku hormat kepada-nya. Maka serentak ia menegakkan kepala dan membentak, "Bagus! Jika begitu, terpaksa aku memberanikan diri mencoba-coba ilmu sakti dari Gunung Liman. Tapi andaikata engkau terpaksa mengalah satu dua jurus ter-hadapku, bagaimana selanjutnya?"

"Jika aku kalah, sudah tentu kami beramai-ramai akan maju mengkerubut," sahut Hajar Sandihewa dengan tertawa riuh. "Habis inilah suatu kesempatan bagus yang belum tentu kuketemukan dalam sepuluh tahun. Sebaliknya, andaikata tiba-tiba saudara-saudara seperguruanmu secara kebetulan berada di sini, kalian boleh mengkerubut kami. Dengan demikian, bukankah adil?"

Terang sekali, Kakek itu tahu—Wirapati hanya seorang diri, namun ia mencoba men-cari kata-kata imbangan dengan mengumpa-makan anak murid Kyai Kasan Kesambi tiba-tiba datang. Maksudnya hendak mempertahankan kehormatan dirinya sebagai seorang dari angkatan tua. Sebaliknya, Wirapati jadi sadar bahwa tiada gunanya mengadu mulut lagi. Tetapi hatinya sibuk memikirkan keselamatan kakaknya seperguruan dan Sangaji yang lagi terserang sesuatu racun. Cepat ia berpikir, biarlah kubekuknya dia untuk kujadikan sandera memaksa kawan-kawannya mengadakan kerubutan. Dengan cara mengancam nyawanya, bukankah kawan kawannya terpaksa membatalkan maksudnya hendak mengkerubut aku dan Kangmas yang sedang terluka parah? Memperoleh keputusan itu, segera ia meloncat dari kudanya dengan enteng sekali. Kemudian, ia meminjam pedang Sangaji hadiah Willem Erbefeld. Berkata menantang, "Mari! Kau adalah tamuku. Silakan menyerang dahulu."

Hajar Sandihewa dengan gesit melompat turun dari kudanya. Mendadak saja terus menyerang dengan keji dan ganas. Benar-benar serangannya tak mengenal ampun dan segan-segan. Wirapati dengan cepat mengelak tiga kali beruntun-runtun sambil berpikir dalam hati, hari ini aku bertempur dengan keselamatan Kangmas, perguruan dan Sangaji. Jika aku sampai gugur, rasanya tak sia-sia hidupku di dunia. Tapi, hm. Sangaji belum memenuhi tekadnya hendak membalas dendam ayahnya. Apakah dia harus tewas dalam pertempuran ini.

Pada saat itu ia melihat tongkat Hajar Sandihewa menyambar dahsyat. Segera ia menangkis dan mencoba mengadu tenaga. Terlintaslah suatu pikiran. Biarlah aku berpura-pura kalah tenaga. Dengan begitu, dia berpikir tak perlu minta bantuan teman-temannya.

Apa yang terlintas dalam benaknya segera dilakukan. Begitu ia terbentur tongkat Hajar Sandihewa, ia mundur tergeliat. Karuan Hajar Sandihewa yang tadi beragu menghadapi anak-murid Kyai Kasan Kesambi, menjadi girang dan berbesar hati.

Ha, katanya anak-murid Kyai Kasan Kesambi hebat tak terkalahkan. Ternyata hanya berilmu dangkal. Tenaganya tak mele-bihi pekerja kampungan. Tahulah aku se-karang, mungkin orang-orang itu hanya me-ngibul belaka, pikirnya. Setelah itu berseru kepada kawan-kawannya! "Kalian tak usah membantu. Biarlah aku membereskan bocah ini seorang diri."

Secepat kilat ia menyodokkan tongkatnya. Wirapati menangkis dengan susah payah. Sekali-sekali ia menyerang juga, tapi nampak sekali tak berdaya. Karena itu, hati Hajar Sandihewa kian menjadi besar. Sekaligus tim-bullah angan-angannya hendak mempergu-nakan kesempatan ini untuk mengangkat nama. Maka dengan tertawa riuh meren-dahkan lawan, ia menyambar pulang-balik bagaikan burung sikatan.

Meskipun  dia  bergerak  demikian  cepat,  namun  tiap  serangannya  selalu  kena  ditangkis


lawan. Memperoleh kenyataan itu, hatinya jadi panas. Dengan menjejak tanah, ia hendak mengadu kegesitan. Tongkatnya terus menyambar, menyodok, memukul, menebas dan memotong jurus tangkisan dan serangan.

Wirapati terus bermain mundur. Otaknya yang cerdas dan penglihatannya yang tajam, segera menyelami ilmu Gunung Liman. Dan tak usah lama, ia telah memperoleh kesim-pulan. Benar gerak-gerik Hajar Sandihewa cepat, ganas dan ruwet. Tetapi banyak me-ngandung lubang kelemahan. Tetapi ia masih belum mau membalas. Ia menunggu sampai lawannya dimabukkan semangat menang yang berlebih-lebihan. Pada saat yang ditung-gu-tunggu sewaktu Hajar Sandihewa mulai bertempur dengan membentak-bentak, segera ia merubah tata-berkelahinya. Kemudian ber-kata, "Hajar Sandihewa! Apakah hanya ini ilmu kepandaianmu? Hm, bagaimana kau berani berkeluyuran memasuki wilayah Gunung Damar hanya dengan berbekal ilmu kepandaian murahan begini. Lihat pembalasanku!"

Mendadak saja pedang Wirapati berputar seperti kitiran, kemudian mengalun tinggi-ren-dah bagaikan gelombang laut merabu daratan. Hajar Sandihewa kena dilihatnya. Terus saja ujungnya menusuk dan di tengah jalan tangan kirinya menyodok tulang rusuk. Tak ampun lagi. Hajar Sandihewa runtuh ke tanah sambil berteriak tinggi. Belum lagi ia sempat bangkit kembali, gagang pedang Wirapati telah menyodok tulang lehernya. Seketika itu juga, kakinya terus berlutut dan ia jatuh menu-lungkupi bumi.

"Hai, Hajar Sandihewa! Lihat! Mestinya beginilah gerakanmu!" kata Wirapati. Terus saja ia menirukan gerakan lawan. Pedangnya bergetar lembut dan menghamburkan pantul-an gelombang pendek. Tiba-tiba menusuk empat puluh lima kali pada tubuh Hajar Sandihewa.

"Waduh!" teriak Hajar Sandihewa. Seluruh tubuhnya menjadi pedih dan nyeri. Ia kagum luar biasa. Pikirnya, sekalipun dia tak berkisar dari tempatnya, aku pun takkan sanggup menusuk sampai melebihi lima kali. Tapi dia bisa menghamburkan satu serangan 45 kali tusukan dengan sekaligus. Biarlah aku menjadi muridnya, kepandaianku masih selisih jauh ... hm ... mataku lamur sampai tak bisa menilai ketangguhannya.

Melihat Hajar Sandihewa kena dijatuhkan, kawan-kawannya yang mengepung serentak turun dari kudanya dan siaga menyerbu. Cepat Wirapati mengancamkan pedangnya ke teng-gorokan Hajar Sandihewa sambil membentak.

"Lekas kalian enyah dari Gunung Damar.

Begitu kalian lenyap dari penglihatan, Hajar Sandihewa akan kubebaskan."

Dengan mengancam keselamatan nyawa Hajar Sandihewa, Wirapati mengira mereka akan terpaksa tunduk kepada kehendaknya. Tak terduga, wanita cantik yang tadi memberi isyarat mata kepada Hajar Sandihewa agar melintangkan kudanya, menegakkan pedang-nya ke udara sambil berseru nyaring, "Kawan-kawan serbu! Tawan mereka yang terlukai"

"Siapa berani maju selangkah, akan kubunuh Hajar Sandihewa!" gertak Wirapati.

Siapa mengira, ternyata wanita cantik itu tiada menggubris ancamannya. Dengan memutar pedangnya, ia malahan mendahului menerjang. Sudah barang tentu bawahannya ikut pula menerjang. Seperti wanita itu, mere-ka tak memedulikan keselamatan Hajar Sandihewa.

Sesungguhnya, wanita muda itu adalah salah satu keluarga ningrat di Yogyakarta. Puteri siapakah dia, sejarah tak memperke-nalkan. Dia adalah pemimpin pasukan penyerbu itu. Tujuannya hendak menculik Sangaji untuk memperoleh keterangan tentang pusaka Pangeran Samono. Hajar Sandihewa merupakan jago undangan belaka. Syukur dia bisa berhasil memenuhi undangan dengan janji upah besar. Apabila tidak, matipun tak menjadi soal.

Keruan saja dalam hal ini, Wirapatilah yang jadi keripuhan. Rencananya sekaligus gagal. Dengan cepat tahulah dia, bahwa Hajar Sandihewa tak dapat dibuatnya suatu sandi-wara. Membunuhnya pun tiada guna. Tatkala melihat delapan orang hendak menyerang Bagus


Kempong yang masih duduk bercokol di atas kudanya, cepat ia berkisar hendak menghadang. Tetapi dia kena dilibat tujuh orang yang menyerang dari samping. Terpaksa ia mempertahankan diri dan berusaha memusnahkan. Hatinya jadi gelisah. Apalagi dari arah lain, menyerbu suatu gerombolan yang sedang mengepung Sangaji.

"Aji! Apakah kamu belum bisa bergerak?" tanyanya lantang. Belum lagi Sangaji men-jawab, mendadak terdengar Bagus Kempong berseru lantang.

"Suryaningrat! Mengapa masih menong-krong di atas pohon? Apalagi yang kautung-gu? Tolong kakakmu!"

Mendengar seruan Bagus Kempong, Wira-pati heran. Apakah kakaknya seperguruan lagi main gertak? Ternyata untuk kesekian kalinya, ia kagum kepada ketajaman indera kakaknya seperguruan. Karena berbareng dengan kalimat seruan yang penghabisan, sekonyong-konyong terdengarlah suatu suitan nyaring di udara. Seseorang melesat dari mahkota daun sambil berteriak nyaring.

"Kangmas Wirapati! Baik-baikkah engkau? Aku benar-benar rindu padamu!"

Seorang pemuda berperawakan tinggi tegap, turun di atas tanah dengan mencabut pedang. Dialah Suryaningrat anak murid Kyai Kasan Kesambi kelima. Dia tadi bersembunyi di balik pohon yang berada kira-kira dua puluh langkah dari medan pertempuran. Dan Bagus Kempong bisa mendengar pernapasannya. Itulah suatu tanda betapa tajam ilmu panca-inderanya.

Mendengar suara Suryaningrat, sudah ba-rang tentu Wirapati girang bukan main. Dengan hati meluap-luap ia menyambut.

"Suryaningrat! Engkaukah itu?"

Suryaningrat tertawa nyaring. Dalam pada itu pedangnya bergetar lembut dan tiba-tiba menerjang gerombolan yang datang me-nyerang Bagus Kempong, tubuhnya melesat ke sana ke mari bagaikan bayangan.

Dan terdengarlah suara gemelontangan. Ternyata pedang mereka yang menyerang terenggut dari tangannya masing-masing.

Wanita muda yang memimpin penyerbuan terperanjat menyaksikan kegesitan lawan. Cepat ia membagi anak buahnya agar mem-bendung. Dengan demikian ia bisa leluasa menawan Sangaji atau Bagus Kempong. Tetapi usahanya sia-sia belaka. Sangaji yang dikiranya telah punah tenaganya oleh suatu racun, ternyata bisa pula melontarkan tenaga dahsyat sekali dua kali.

Sedangkan pemuda yang datang membantu itu, bergerak luar biasa gesit. Belum lagi ia sempat mengatur perlawanan, pedangnya sendiri kena dilontarkan ke udara.

Wirapati kagum bukan kepalang menyak-sikan kegesitan dan ilmu pedang Suryaningrat. Diam-diam ia girang. Katanya dalam hati, ah, agaknya ilmu Mayangga Seta sudah diturunkan kepada Suryaningrat dan kini dirubah menjadi sendi ilmu pedang. Kemudian berseru nyaring, "Bagus! Guru sudah berhasil mencip-takan ilmu pedang Mayangga Seta."

Sesungguhnya ilmu pedang yang dimainkan Suryaningrat adalah sendi-sendi ilmu Mayangga Seta yang sudah diturunkan kepada sekalian muridnya dua belas tahun yang lalu, tatkala Wirapati sedang menempuh perjalanan ke daerah Barat. Jurusnya hanya meliputi empat belas macam. Gerakannya sederhana. Tetapi mengandung tenaga getar yang dahsyat dan perubahan-perubahan bidang gerak yang susah diduga. Dua belas tahun yang lalu, tatkala Wirapati tiada kembali ke perguruan, Kyai Kasan Kesambi segera memanggil sisa muridnya, la merundingkan kemungkinan sendi-sendi ilmu Mayangga Seta untuk dijadikan dasar penciptaan ilmu pedang. Mula-mula Kyai Kasan Kesambi memperoleh kesulitan-kesulitan, karena ilmu Mayangga Seta sebenarnya adalah suatu ilmu pelipatan diri. Tetapi ternyata kini, semua kesulitan bisa diatasi. Suryaningrat sudah


dapat mempertunjukkan kehebatannya. Dan tiada seorang jago pun undangan Patih Danurejo mampu mengadakan suatu perlawanan dalam tiga gebrakan.

Karena kagumnya. Wirapati sampai melon-cat mundur ke luar gelanggang. Dengan cer-mat ia menonton bagaimana Suryaningrat me-mainkan pedangnya. Dengan hanya melon-tarkan lima jurus serangan belaka, tujuh belas orang jaguan undangan Patih Danurejo, kena dilukai. Lebih mengherankan lagi, bahwa senjata mereka masing-masing tiba-tiba saja terlepas dari tangan.

"Mundur!" seru wanita muda itu. Segera ia melompat ke atas kudanya dan kabur ke utara.
Begundal-begundalnya ikut pula lari tunggang-langgang berpencaran.

Wirapati kemudian membebaskan Hajar Sandihewa. Senjata tongkatnya yang runtuh di tanah dipungutnya dengan hormat dan diselipkan ke pinggang pemiliknya. Sudah barang tentu, wajah Hajar Sandihewa merah karena malu. Cepat-cepat ia lari dan kabur tanpa keblat.

Dalam pada itu, Suryaningrat telah me-nyarungkan pedangnya kembali. Kemudian menghampiri Wirapati dan berkata penuh girang sambil menggenggam tangan.

"Kangmas Wirapati, apakah engkau jatuh dari langit?"

"Betapa rinduku kepadamu."

"Suryaningrat! Kau sudah begini besar. Tubuhmu tumbuh menjadi tegap tinggi," sahut Wirapati tertawa. Tatkala mereka berpisah dahulu, Suryaningrat lagi berusia 17 tahun. Selang dua belas tahun, ia berubah menjadi seorang pemuda masak yang gagah dan ganteng. Maka dengan menggandeng tangannya, Wirapati membawa ke arah Sangaji. Pemuda itu yang masih terganggu kesehatannya itu, dengan memaksakan diri turun dari kudanya.

"Siapa dia?" Suryaningrat heran.

"Dialah kemenakan muridmu. Namanya Sangaji."

"Ah! Dialah yang menolong muridku Retno-ningsih?" Suryaningrat terbeliak. "Pantas! Meskipun terkena racun, tinjunya masih dahsyat."

Kini, Wirapatilah yang jadi keheran-heranan. Tanyanya menegas, "Engkau seperti sudah mengenal dia."

"Aku kenal namanya, karena muridku yang memperkenalkan," ujar Suryaningrat. Kemu-dian dia menjelaskan mengapa tiba-tiba bisa datang ke tempatnya. Sesungguhnya, waktu itu dia menerima kabar bahwa muridnya ber-ada di Desa Gebang. Segera ia menyusul, karena mengkhawatirkan keselamatannya. Dugaannya benar. Di tengah jalan ia bertemu dengan Sondong Majeruk yang mengabarkan bahwa Gusti Retnoningsih hampir saja kena bahaya. Gntunglah, dia ditolong oleh seorang pemuda yang bernama Sangaji. Sebagai anak murid Kyai Kasan Kesambi yang diajar meng-hargai budi, segera ia menyusul jejak Sangaji untuk menyatakan terima kasih. Di luar dugaan, ia melihat kakaknya seperguruan ter-ancam bahaya. Ia heran kakaknya seperguru-an itu memperoleh seorang pembela yang gagah berani sepak terjangnya. Sama sekali tak diduganya, bahwa pembela kakaknya seperguruannya adalah Wirapati. Maka ia bersembunyi di atas pohon agar bisa menga-mat-amati lebih cermat lagi. la heran, menga-pa gerak gerik penolong itu mengingatkannya kepada kakaknya seperguruan Wirapati. Baru saja ia hendak mencongakkan diri. Bagus Kempong sudah bisa mencium dirinya.

"Betapa pun cermat engkau bersembunyi, Kangmas Bagus Kempong sudah mengetahui keberadaanmu semenjak tadi. Aku sendiri sa-ma sekali tak tahu," potong Wirapati dengan tertawa. "Suryaningrat!" sambung Bagus Kem-pong. "Kakakmu ternyata kian segar-bugar. Rupanya belum berumah-tangga pula. Hm-bukankah kita dahulu mengira, dia bersembunyi untuk memelihara seorang bidadari?"


Suryanignrat tertawa cekikikan. Mau tak mau Wirapati tertawa juga kemalu-maluan. Kata Bagus Kempong lagi, "Tetapi tahukah engkau adikku Wirapati? Sebentar lagi, engkau bakal mempunyai adik-ipar. Karena itu pulangmu adalah kebetulan sekali. Pertama-tama, kita sudah bersiap sedia merayakan hari ulang tahun guru yang ke-83. Setelah itu ikut pula mengecap sepotong paha ayam malam perayaan perkawinan Suryaningrat. Bukankah bagus?"

"Hai Bagus! Bagus! Bagus sekali!" seru Wirapati girang sambil bertepuk-tepuk tangan. "Siapakah mempelai wanitanya? Pastilah seorang puteri jempolan."

Muka Suryaningrat merah-padam sampai tak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Buru-buru Bagus Kempong menolong, "Calon adik-iparmu adalah puteri kesayangan Kanjeng Pangeran Arya Panular. Siapa namanya, baiklah kita tak usah tergesa-gesa minta keterangan."

"Wah... kalau begitu apabila Suryaningrat berani nakal seperti dahulu, dia bisa dikeroyok keluarga Sri Sultan," sahut Wirapati.

Bagus Kempong tersenyum. Mendadak wajahnya berubah muram dan nampak lesu. Katanya setengah berbisik* "Calon adik-ipar-mu terkenal dengan nama Gusti Ayu Kistibantala. Apalah itu namanya yang benar, tak tahulah aku. Tetapi dia seorang puteri yang berjiwa ksatria. Seringkali dia ikut dalam pasukan-pasukan keamanan. Hm—mudah-mudahan saja puteri berkedok yang kita jumpai kemarin petang, bukan dia."

Wirapati terkesiap. Terloncatlah perkataan-nya, "Apakah dia seorang wara prajurit?" Bagus Kempong mengangguk.

"Tetapi dara yang kita jumpai, kepandaian-nya masih dangkal. Kurasa bukan diajeng Kistibantala. Bila benar dia, celakalah aku. Orang bisa menuduh aku membela engkau dan tak mau memihak Suryaningrat dengan melindungi kekasihnya. Betapa seorang kakak-seperguruan bisa berlaku kurang adil."

Wirapati terdiam. Diam-diam ia khawatir, "Jangan-jangan puteri yang berkedok kemarin adalah kekasih Suryaningrat." Tetapi Surya-ningrat nampak ayem. Pemuda itu berkata tenang-tenang sambil tertawa perlahan, "Terima kasih terima kasih atas perhatian Kangmas sekalian. Kangmas sekalian cukup cerdik dan cerdas. Hanya satu hal yang mungkin belum pernah diperhitungkan."

"Apakah itu?" Wirapati menungkas.

"Kata orang, seorang calon mempelai sudah jauh-jauh hari dipingit. Nah, legakan hati Kangmas sekalian. Dua hari yang lalu, aku datang dari Yogya. Itulah sebabnya aku mendengar kabar tentang beradanya muridku di Gebang."

"Ah!" Bagus Kempong tersentak girang. Pa-ras mukanya berubah seketika itu juga. "Nah, marilah kita angkat tangan dalam hal ini."

Buru-buru Suryaningrat menolak maksud itu. Segera ia menghampiri Sangaji dan terus meraba lengannya, la bermaksud hendak membalas budi dengan menolong mengusir racun. Tetapi ia heran benar, karena lengan Sangaji ternyata tiada luka.

"Kangmas Wirapati!" serunya kagum. "Terang sekali bekas cengkeraman ini mengandung racun. Tetapi muridmu sama sekali kebal dari racun."

Suryaningrat tak tahu, bahwa Sangaji per-nah menghisap getah sakti pohon Dewadaru. Karena itu kebal dari segala racun. Kalau semalam badannya menjadi panas, adalah disebabkan karena cengkeraman itu merubah letak urat-uratnya.

Wirapati segera datang pula memeriksa. Begitu melihat lengan Sangaji, dengan sebat ia lantas bekerja. Suryaningrat tak mau ketinggalan. Dengan ilmu ketabiban yang diperoleh

dari gurunya, ia mengurut-urut letak urat. Sebentar saja Sangaji telah pulih kembali.

"Hm, semenjak kemarin petang kita senanti-asa diuber-uber suatu ketegangan, sampai melalaikan dia," kata Wirapati penuh sesal.

"Siapakah orangnya yang bisa melukai Kangmas Bagus Kempong?" tanya Surya-ningrat heran.

Wirapati tak segera menjawab, la segan ter-hadap kakaknya seperguruan yang terang kena dilukai. Tetapi Bagus Kempong dengan dada terbuka menyahut, "Orang itu memiliki tenaga pukulan besi sampai bisa menembus tulang. Nanti kita tanyakan kepada Guru. Dan bahwasannya Sangaji masih bisa bertahan dan hanya salah urat, bukankah berarti lebih tangguh daripadaku sendiri?"

Suryaningrat tercengang sejenak. Kakaknya yang satu itu selamanya tak pernah memuji orang. Dia jarang berbicara dan tak pernah bergurau. Setiap perbuatan dan kata-katanya mengandung kesungguhan. Itulah sebabnya, lantas saja ia menyiratkan pandang kepada Sangaji. Kemudian kepada Wirapati.

"Jika demikian, tak sia-sialah Kangmas Wirapati meninggalkan perguruan selama itu. Dia sudah menemukan ahli warisnya."

Sambil berbicara mereka melanjutkan per-jalanan. Karena Sejiwan sudah di depan mata, maka belum lagi lewat luhur telah sampai. Sepanjang perjalanan Wirapati nampak gembira, meskipun agak prihatin juga mengingat luka Bagus Kempong. Maklumlah, dua belas tahun lamanya dia meninggalkan perguruan seperti terenggut dewa sakti. Kini bisa kembali tanpa kurang suatu apa. Diam-diam ia membayangkan betapa girangnya dapat bertemu kembali dengan saudara-saudara seperguruannya, terutama gurunya yang dipuja sepanjang zaman.

Sampai di atas gunung, mereka melihat di luar pagar perguruan empat ekor kuda ter-tambat pada pohon-pohon kelapa. Keempat kuda itu terang bukan milik perguruan. Maka terloncatlah perkataannya, "Hai, kuda siapa ini?"

"Marilah kita lewat belakang. Agaknya kita mempunyai tamu," kata Suryaningrat. "Di se-rambi belakang kita lebih tenang memperbin-cangkan orang yang menyamar sebagai ser-dadu yang melukai Kangmas Bagus Kempong. Siapa tahu, Kangmas Gagak Handaka dan Kangmas Ranggajaya kebetulan berada di belakang."

Rupanya, diam-diam Suryaningrat mencoba meraba-raba asal-usul orang yang menyamar sebagai serdadu itu. Tetapi, tetap ia tak ber-hasil.

Rumah perguruan mereka berada di atas dataran sebuah bukit. Bukit itu bernama Kalinongko. Lengkapnya orang menyebut dengan Gunung Damar Kalinongko. Tanahnya terdiri dari bongkahan batu dan tanah liat. Karena itu apabila hujan, licinnya bukan kepalang.

Sambil memapah Bagus Kempong, Sur-yaningrat mendahului berjalan. Sedangkan Wirapati berjalan di belakangnya diikuti Sangaji. Sebentar-sebentar Wirapati mene-rangkan kesan kanak-kanaknya kepada mu-ridnya. Tatkala tiba di dapur, semua penghunipadepokan ) jadi sibuk. Pertama-tama melihat Bagus Kempong pulang dengan terluka parah. Kedua, kembalinya Wirapati setelah hilang tiada kabar-beritanya selama dua belas tahun lebih. Para cantrik, pembantu rumah tangga dan pelayan-pelayan girang bukan main. Mereka segera merubung menanyakan kesehatannya. Seorang pelayan bernama Wirasimin yang melayani Wirapati semenjak kanak-kanak menangis kegirangan. Tanpa segan-segan lagi terus saja dia memeluk dan mencium kakinya. Tatkala Wirapati menanyakan tentang gurunya, cepat ia menjawab.

"Sang Panembahan masih dalam semadi. Apakah perlu hambamu membangunkan?" Wirapati segera menyanggah. Dengan berjingkit-jingkit ia memasuki ruang tengah dengan


diikuti Sangaji. Mereka langsung ke paseban dan mengintip tiap kamar saudara-saudara seperguruannya.

"Dimanakah Kangmas Gagak Handaka dan Kangmas Ranggajaya? Apakah mereka sedang turun gunung?"

"Mereka sedang menemui tamu di paseban," jawab Wirasimin.

"Eh, tamu macam apakah sampai mereka menemui dengan berbareng?" Wirapati heran. "Semuanya empat orang. Galaknya bukan main. Tampangnya seperti tukang landeng."

Tatkala itu, Suryaningrat telah menidurkan kakaknya seperguruan, kemudian bergegas mencari Wirapati. Begitu mendengar kakak-nya minta keterangan tentang tamu yang datang segera ia memberi penjelasan.

"Mereka mengaku sebagai hamba kadipaten Bumi Gede. Dan memperkenalkan diri dengan nama, Manyarsewu, Sawungrana, Abdulrasim dan Cocak Hijau,"

Mendengar nama mereka. Wirapati terper-anjat. Begitu pulalah Sangaji. Ih, cepat benar mereka menyusul, pikirnya.

"Eh, mengapa mereka bisa-bisa berada di sini?" Wirapati menegas.

"Katanya anak Pangeran Bumi Gede terluka. Mereka minta pertanggungan jawab," kata Suryaningrat dengan tertawa. "Kangmas Wirapati! Semenjak engkau meninggalkan perguruan, kita seringkali dibuat sibuk oleh tetamu-tetamu yang kurang terang asal-usul-nya. Tetapi kebanyakan mereka cepat-cepat mengundurkan diri apabila telah berhadapan dengan Kangmas Gagak Handaka. Barangkali mereka segan, berhadapan dengan pribadi Kangmas Gagak Handaka."

"Mengapa tidak?" sahut Wirapati cepat.

"Pribadi Kangmas Gagak Handaka seperti Sultan Agung. Tenang penuh perwira."

Setelah berkata demikian, timbullah rasa rindunya kepada kakaknya seperguruan yang tertua itu. Maka ia mengintip dari belakang sintru ). Dilihatnya Gagak Handaka dan Ranggajaya sedang menghadapi keempat tamunya. Gagak Handaka mengenakan jubah pertapaan. Meksipun dia bukanlah seorang pendeta, tetapi dandanannya sedang meniru gurunya. Dia kini sudah nampak sebagai seorang ayah. Wajahnya bercahaya tenang dan sabar seperti sediakala. Hanya saja, rambut pelipisnya sudah memutih. Perawakan tubuhnya agak kegemuk-gemukan. Namun tetap gagah perkasa. Sedangkan Ranggajaya tetap seperti dahulu. Perawakan tubuhnya tinggi tipis. Bulu jenggotnya hampir memenuhi mukanya sehingga jadi seorang berewok. Pandang matanya tajam berwibawa. Dia adalah seorang yang selalu bersungguh-sungguh, sehingga nampak kini menjadi lebih tua daripada Gagak Handaka.

"Kalau kakakku berkata satu adalah satu, berkata dua adalah dua. Masa kalian tak per-nah mendengar watak Gagak Handaka?" katanya dengan suara keras.

Diam-diam Wirapati berpikir, tabiat Kang-mas Ranggajaya yang keras dan kasar ternya-ta tidak berubah. Mengapa dia membentak tamunya? Pastilah ada alasannya.

Memperoleh pikiran demikian, segera ia mengalihkan pandang kepada tamunya. Tak usah lama, segera ia mengenal siapa mereka. Manyarsewu, Cocak Hijau, Sawungrana dan Abdulrasim berdiri sejajar dengan wajah te-gang. Cocak Hijau yang berwatak berangasan segera berkata kepada Gagak Handaka se-olah-olah tidak mendengarkan ucapan Rang-gajaya.

"Jika Gagak Handaka sudah berkata demi-kian, bagaimana kami berani menganggap sepi. Hanya saja, tolong kami diberitakan kapan kedua adik seperguruan Tuan datang!"

Mendengar Cocak Hijau menyinggung dirinya, Wirapati terkejut. Hm, kedatangan mereka benar-benar perkara diriku. Pastilah mereka menghendaki Sangaji. Mereka hanya hendak


memperoleh kepastian, apakah aku dan Sangaji sudah berada di pertapaan. Apabila sudah memperoleh kepastian, hm— bukankah lebih mudah untuk merencanakan suatu perlawanan tertentu? pikirnya.

Tatkala itu Ranggajaya berkata keras lagi. "Meskipun kepandaian dan ilmu sakti kami berlima jauh dibandingkan dengan perguruan-perguruan ternama lainnya, tetapi dalam hal pengertian apa yang dinamakan kebajikan dan keadilan, rasanya tidak pernah ketinggalan. Berkat gelaran yang diberikan masyarakat, maka kami berlima terkenal dengan gelar para pandawa. Padahal gelar tersebut amat memalukan. Sebenarnya tak berani kami menerimanya...."

Wirapati tersenyum geli mendengar kata-kata kakak-seperguruannya yang kedua itu. Dua belas tahun tak bertemu, ternyata Kangmas Ranggajaya yang sok uring-uringan sudah begini pandai berbicara. Dahulu dalam satu hari, belum tentu dia berbicara sepatah katapun jua. Rupanya semua memperoleh kemajuan, kecuali aku, pikir Wirapati.

Dalam pada itu terdengar Ranggajaya berkata lagi, "Dan kalau kami telah dibebani gelar seberat itu, meskipun merasa diri tak sanggup, sedapat mungkin harus juga mengimbangi. Karena itu dalam setiap gerak-gerik kami, selalu kami perhitungkan dan jangan sampai berbuat sesuatu hal yang kurang pantas. Bagus Kempong dan Wirapati adalah adik-seperguruan kami yang paling halus perasaannya. Tak mungkin mereka berdua melukai seorang tanpa alasan yang kuat."

"Nama murid-murid Kyai Kasan Kesambi yang gilang-gemilang siapa yang tak pernah mendengar?" tungkas Cocak Hijau, "Karena itu, apa perlu anak murid Kyai Kasan Kesambi meniup-niup diri sendiri. Bukankah nama anak murid Kyai Kasan Kesambi sangat besar seperti bunyi guntur meledak di siang hari?"

Mendengar kata-kata Cocak Hijau yang bernada mengejek dan menyindir, wajah Ranggajaya berubah tegang. Katanya cepat, "Sebenarnya kalian bermaksud apa mengun-jungi pesanggrahan kami? Katakanlah terus terang!"

Cocak Hijau hendak membalas mendam-prat, mendadak saja Manyarsewu yang lebih bisa mengendalikan diri berkata mendahului.

"Anak-murid Kyai Kasan Kesambi apabila berkata satu pastilah satu. Berkata dua pasti-lah dua. Tetapi masakan mata kami berempat salah lihat? Kami berempat waktu itu lagi mendampingi majikan kami, nDoromas Sanjaya yang kena pukulan tinju cucu murid Kyai Kasan Kesambi."

"Cucu murid?" Ranggajaya heran.

"Tiba-tiba saja kami diserbu." Manyarsewu tak mengindahkan.

"Sepuluh orang di antara kami dilukai."

"Siapa yang melukai?"

"Hm, biarpun muka anak-murid Kyai Kasan Kesambi ditutupi dengan berewok tebal masakan kami tak mengenal gaya pu-kulannya?"

Mendengar ucapan Manyarsewu, Wirapati terkejut sampai tubuhnya bergetaran. Sekonyong-konyong sesosok bayangan berkelebat di dalam benaknya. Seketika berpikirlah ia, apakah bukan dia yang menya-mar sebagai serdadu?

"Selamanya tak pernah kami menyamar," bantah Ranggajaya, "Kami dididik berjiwa ksa-tria. Menang dan kalah bukanlah suatu soal utama bagi perguruan kami."

"Bagus!" seru Cocak Hijau tinggi. "Menye-rang di waktu kami sedang tidur lelap, apakah itu suatu perbuatan ksatria? Bagus Kempong! Wirapati! Hm... benar-benar ksatria-ksatria jempolan!"

Di belakang pintu angin, Suryaningrat men-dadak saja menjadi gusar. Tak senang hatinya


mendengar orang mengejek dan menyindir kakak seperguruannya. Rasanya lebih rela ia kena tampar daripada mendengar ejekan demikian terhadap kakak sepergurannya. Cepat ia menoleh kepada Wirapati. Tetapi

Wirapati tetap tenang. Diam-diam dia berpikir dalam hati, ... Kangmas Wirapati benar-benar menjadi ksatria yang sabar dan tenang. Pantas guru selalu memuji padanya dan percaya kepada kebijaksanaannya.

Waktu itu Ranggajaya nampak berdiri tegak. Dengan suara lantang ia membentak, "Dua belas tahun lebih adikku Wirapati le-nyap dari padepokan. Engkau telah menyebut namanya. Mudah-mudahan, dia bisa pulang dengan selamat. Inilah kabar gembira bagi kami. Tapi tentang tuduhan itu, nanti dulu! Semenjak adikku hilang dari padepokan, orang terus menerus menuduh yang bukan-bukan terhadapnya. Dahulu orang menuduh dia melakukan pembunuhan keji terhadap sepasukan laskar dari Banyumas. Kini, kalianpun datang-datang terus menghu-jani tuduhan-tuduhan keji, seolah-olah dia melukai rekan-rekanmu yang sedang tidur pulas. Baiklah! Aku Ranggajaya dan Gagak Handaka mati dan hidup bersama dengan Wirapati dan Bagus Kempong. Apabila kalian mencari permusuhan dengan mereka berdua, timpakan kepadaku! Mereka berdua tiada di sini, dan anggaplah aku mewakili mereka. Terus terang saja kepandaianku masih kalah jauh daripada mereka berdua. Karena itu,untunglah bahwa kalian hanya berhadapan dengan aku."

Cocak  Hijau  yang  berwatak  brangasan  beta-pa  tahan  mendengar  sumbar  Ranggajaya.

Terus saja dia berdiri tegak dan dengan mata melotot dia membentak.

"Hari ini, aku Cocak Hijau, berani mendaki Gunung Damar tanpa mengukur kekuatan diri sendiri. Pastilah aku ditertawakan sekalian pendekar seluruh pelosok tanah air. Tetapi Cocak Hijau bukanlah makhluk yang berkem-ben ) sutera. Mati hidup apa perlu dipersoalkan, demi piutang yang belum terbayar. Sepuluh orang di antara kami, bakal hidup cacat karena pukulan anak-murid Kyai Kasan Kesambi yang terkenal bajik. Dalam sewaktu pertempuran, mati atau luka-luka bukanlah menjadi soal. Tetapi anak murid Kyai Kasan Kesambi memukul lawan dengan cara licik. Mula-mula diselomoti obat bius, kemudian merusak sendi tulang belulang dalam keadaan setengah sadar. Apakah itu suatu laku seorang ksatria?" Setelah berkata demikian terus saja ia melangkah maju.

Semenjak tadi, Gagak Handaka berdiam saja. Kini apabila melihat Ranggajaya dan Cocak.

Hijau akan bergerak benar-benar, ia menyanggah dengan tangannya. Kemudian berkata dengan tersenyum, "Kalian datang ke mari dengan tetap menuduh kedua adikku seperguruan berbuat sesuatu hal yang kotor dan keji. Kudengar kalian menyebut-nyebut pula Wirapati salah seorang adik seperguru-anku yang menghilang dua belas tahun yang lalu. Baiklah, jika demikian, pastilah adikku itu sebentar lagi akan tiba di padepokan. Kuharap kalian bersabar barang sebentar menunggu kedatangannya. Pada saat itulah kalian dan kami bisa menentukan siapakah yang benar-benar bersalah."

Abdulrasim, pendekar dari Madura—yang mengepalai mereka, mendadak saja membuka mulut.

"Manyarsewu! Cocak Hijau! Sawungrana! Baiklah kita mendengarkan saran pendekar Gagak Handaka. Mari kita duduk dengan te-nang-tenang. Manaka a Bagus Kempong dan Wirapati belum pulang ke gunung, bagaimana kita bisa memperoleh keterangan yang benar. Tetapi ketahuilah hai pendekar Gagak Han-daka yang kami hormati, sesungguhnya kami mengalami suatu kejadian yang sangat menusuk hati. Biarlah kami terangkan lebih jelas lagi, agar Tuan memperoleh gambaran.

Kemarin pagi, kami berempat habis mengadu senjata dengan kedua adik-seperguruan Tuan. Oleh suatu peristiwa ganjil, terpaksa kami berpisah. Kami membawa pulang nDoromas Sanjaya putra Pangeran Bumi Gede yang terluka parah. Malam itu, kami beristirahat dengan sepuluh pendekar undangan lainnya dalam suatu pesanggrahan. Tak

tahunya, malam itu pesanggrahan kami digerayangi orang."

"Orang itu menyebar bius, sehingga kami tidur pulas. Tetapi untunglah, kami tidaklah selemah dugaannya. Lapat-lapat, kami berem-pat melihat sesosok tubuh yang mengenakan muka samaran. Terang sekali, dia adalah anak-murid Kyai Kasan Kesambi. Orang itu dengan kejinya mematahkan sendi tulang-tulang rekan-rekan kami. Terus sesumbar dengan melepaskan pukulan khas ajaran perguruan Tuan."

"Pukulan keluaran perguruan kami, bukan-lah suatu ajaran yang sulit dan rahasia. Setiap orang apabila mempunyai kepandaian sedikit, pasti bisa menirukan," potong Gagak Handaka.

"Benar! Tetapi apabila bukan anak-murid Kyai Kasan Kesambi, mengapa bisa meng-ungkat-ungkat peristiwa perkelahian kemarin pagi?" menungkas Abdulrasim dengan cepat.

"Dia mengejek kami dengan mengatakan, bahwa kami berlindung di balik kedatangan Adipati Surengpati dan iblis Pringgasakti."

"Adipati Surengpati?" Gagak Handaka ter-kejut.

"Nah, Tuan pun terkejut pula. Sesungguh-nya apabila bukan dia, masakan mengetahui suatu peristiwa kemarin pagi tatkala Adipati Surengpati muncul dengan tiba-tiba. Karena hal ini menyangkut pula tentang nama Adipati Surengpati, maka perkenankan kami meng-hadap Kyai Kasan Kesambi. Kyai Kasan Kesambi adalah seorang tokoh tertinggi pada zaman ini. Tiap ksatria di seluruh jagat me-ngagumi dan percaya kepadanya. Kami ingin memperoleh peradilannya. Masakan orang tua itu akan berlaku berat sebelah karena mem-bela muridnya."

Meskipun kata-kata pendekar Abdulrasim sangat beralasan dan agak segan-segan, tetapi sebenarnya bernada mendesak. Sudah barang tentu, Ranggajaya dapat menangkap maksudnya. Jawabnya tenang, "Guruku sedang bersemadi. Sampai sekarang belum keluar dari pertapaan. Lagi pula, perkara keduniawian diserahkan kepada Kangmas Gagak Handaka. Kecuali, apabila tetamu itu adalah seorang tokoh penting pada zaman ini, mungkin guruku sudi menemui."

Terang sekali maksud ucapan Ranggajaya anak-murid Kyai Kasan Kesambi yang berwatak angkuh itu hendak berkata kepada mereka, bahwa mereka belum berharga untuk dapat menemui gurunya. Karuan saja Cocak Hijau yang berangasan dan mudah tersinggung sekaligus berdiri tegak sambil tertawa dingin. Berkata tajam, "Sungguh! Semua peristiwa

.dalam dunia ini nampaknya terjadi dengan kebetulan. Baru saja kami datang, gurumu Kyai Kasan Kesambi lantas saja menutup pintu karena sibuk bersemadi. Bagus! Tetapi masakan utang nyawa harus disudahi sampai begini saja, karena Tuan rumah beralasan sedang bersemadi? Cuh!"

Mendengar ucapan Cocak Hijau yang tajam itu cepat-cepat Manyarsewu mengedipi mata agar menguasai diri. Tetapi nasi sudah menjadi bubur. Seketika itu juga, Ranggajaya terus saja membentak karena tersinggung.

"Jadi kaumaksudkan guruku sengaja berdalih bersemadi karena takut menghadapi tampangmu?"

Cocak Hijau adalah seorang pendekar ber-adat kaku dan kukuh. Meskipun seorang berangasan-sekali menentukan sikap-tak sudi mengalah. Maka dengan tertawa melalui hidung ia menentang pandang Ranggajaya dengan mata tak berkedip.

Dalam keadaan demikian, betapa Gagak Handaka terkenal sebagai pendekar sabar dan pendiam, tertusuk juga hatinya mendengar nama baik gurunya direndahkan seseorang. Semenjak menjadi murid Kyai Kasan Kesambi, belum pernah ia mendengar dan melihat seseorang menghina gurunya dengan ucapan-ucapan kasar. Maka dengan menahan diri dia berkata, "Kalian datang dari jauh dengan mengenggam tujuan beralasan. Tetapi kami


tak ingin menyusahkan kalian. Silakan pergi saja dengan selamat!" Setelah berkata demikian, dengan sengaja ia mengibaskan lengan bajunya. Seketika itu juga, angin keras menyambar ke depan. Pendekar Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau sekonyong-konyong terjengkang ke belakang. Ternyata kibasan lengan pendekar Gagak Handaka yang nampaknya halus, dan ringan saja, di luar dugaan membawa suatu tenaga tindasan yang keras luar biasa. Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau bukanlah sekelompok pendekar murahan. Tetapi kena sapu kibasan lengan Gagak Handaka dada mereka menjadi sesak. Terasa napasnya nyaris putus. Cepat-cepat mereka menghimpun tenaga hendak bertahan, tetapi angin kibasan Gagak Handaka cepat datang-nya dan menghilang pula dengan cepat. Segera himpitan tenaga yang menindas dada lenyap tak berbekas. Dengan lega, mereka bisa menghirup napas kembali.

Wajah Abdulrasim dan Sawungrana nampak merah membara karena malu. Sedangkan Manyarsewu dan Cocak Hijau menjadi pucat kuyu. Sungguh tak terduga, bahwa Gagak Handaka benar-benar sakti. Andaikata Gagak Handaka berniat jahat, sekali mengibaskan lengannya untuk yang kedua kalinya, pastilah mereka akan terluka parah. Salah-salah bisa mampus seketika itu juga. Diam-diam bulu romanya menggeridik tak setahunya sendiri. Sekarang sadarlah mereka, bahwa pendekar yang bersikap tenang, sabar dan halus gerak-geriknya itu memiliki suatu kepandaian yang susah diukur.

Di antara keempat pendekar undangan Pangeran Bumi Gede, Mayarsewu tergolong salah seorang pendekar yang jujur. Serentak ia membungkuk sambil berkata penuh hormat.

"Terima kasih atas kemurahan Tuan Gagak Handaka. Perkenankan kami mengundurkan diri."

Dengan membungkuk hormat pula, Gagak Handaka membalas.

"Terima kasih pula atas kunjungan Tuan-tuan. Entah kapan, kami akan memerlukan mengunjungi Tuan diistana Bumi Gede sebagai pembalasan."

Waktu itu Manyarsewu, Abdulrasim, Sawungrana dan Cocak Hijau sudah bergerak mengundurkan diri. Gagak Handaka segera pula mengantarkan mereka sampai ke seram-bi depan.

"Sudahlah! Tak perlu Tuan mengantarkan kami," kata Manyarsewu. Diam-diam ia kagum dan menaruh hormat kepada Gagak Handaka. Ternyata Gagak Handaka tidak hanya tinggi ilmu kepandaiannya, tetapi juga amat sopan santun. Oleh sikapnya itu, rasa permusuhannya sekonyong-konyong lenyap dua pertiga bagian.

Selagi mereka saling mengucapkan kata-kata merendah, masuklah Suryaningrat dengan tergesa-gesa. Kemudian berkata kepada Gagak Handaka, "Kangmas! Kangmas Bagus Kempong dan Wirapati telah kembali. Kangmas Bagus Kemong luka parah. Dia kena pukul seorang laki-laki berperawakan pendek tegas dan bermuka berewok. Kudengar mereka membicarakan tentang laki-laki berewok itu, barangkali kita bisa memperoleh keterangan."

Mendengar ujar Suryaningrat, Gagak Handaka dan Ranggajaya terperanjat.

"Bagus Kempong terluka? Benarkah itu?"

Gagak Handaka dan Ranggajaya benar-benar terperanjat sehingga berubahlah wajah mereka. Segera mereka menoleh kepada tetamunya. Dengan agak gugup Gagak Handaka berkata, "Silakan Tuan-tuan menunggu. Mereka ternyata sudah datang. Bagus Kempong bahkan terluka."

Abdulrasim, Sawungrana, Manyarsewu dan Cocak Hijau saling memandang. Meskipun tiada saling berkata, mendadak saja mereka bisa percaya kepada keterangan Gagak Handaka. Melihat dan menyaksikan sikap Gagak Handaka yang tenang dan sabar kini mendadak bisa menjadi agak gugup, pastilah bukan suatu permainan sandiwara. Dan apabila Bagus Kempong benar-benar terluka oleh seseorang yang bermuka berewok,

bukankah tuduhan mereka jadi tak beralasan? Daripada akan menanggung malu dan mungkin pula akan menghadapi hal-hal yang kurang enak ditambah tingkatan kepandaiannya yang tak nempil bila dibandingkan dengan kepandaian anak-anak murid

Kyai Kasan Kesambi,serentak mereka mengambil keputusan untuk cepat-cepat meninggalkan padepokan. Setelah saling memberi isyarat, Abdulrasim terus berkata.

"Tak usahlah kami mengganggu Tuan-tuan lebih lama lagi. Rupanya Tuan-tuan lagi mem-peroleh kesibukan dan biarlah kami melapor-kan peristiwa ini kepada atasan. Bagaimana kelak diputuskan terserahlah yang berwenang."

Setelah berkata demikian, Abdulrasim men-dahului keluar halaman dengan diikuti ketiga rekannya. Gagak Handaka dan Ranggajaya menunggu sampai mereka lenyap di bawah gundukan tanah, kemudian mereka berkata berbareng kepada Suryaningrat minta kete-rangan.

"Suryaningrat! Kakakmu Wirapati benar-benar telah kembali pulang ke gunung? Di manakah dia?"

Suryaningrat heran. Ternyata kedua kakak-nya seperguruan benar-benar merindukan Wirapati, sampai seolah-olah tak memper-hatikan keadaan Bagus Kempong yang terluka oleh sesuatu pukulan dahsyat.

Waktu itu Wirapati telah muncul dari balik pintu angin. Segera ia lari menyongsong Gagak Handaka dan Ranggajaya.

"Kangmas Gagak Handaka! Kangmas Ranggajaya! Aku datang kembali!" serunya terharu.

Gagak Handaka adalah seorang yang sa-ngat mengutamakan Yudanegara ). Meskipun hatinya terguncang melihat adik sepergu-ruannya yang hilang tiada kabar berita selama dua belas tahun, masih saja dia bersikap penuh tata cara. Dengan memanggut kecil ia menyambut menguasai diri.

"Wirapati, adikku! Selamat, selamat! Akhir-nya engkau kembali juga."

Sebaliknya, Ranggajaya yang beradat kaku, mendadak saja terus berkata sambil me-nerkam lengan.

"Wirapati! Keempat orang itu menfitnah dirimu begitu kurangajar. Bukankah kamu tidak melukai rekan-rekan mereka dengan cara licik? Hm, pastilah kau telah mendengar semua tuduhannya. Heran! Ternyata kau jauh lebih sabar daripadaku sendiri. Benar-benar tepat pujian Guru terhadapmu. Engkau calon seorang pendekar besar pada zaman yang akan datang."

"Peristiwa itu sulit untuk diterangkan. Dengan sungguh-sungguh kukatakan, bahwa aku sama sekali tak melakukan perbuatan terkutuk itu. Kangmas Bagus Kempong pun tidak. Bahkan dia menjadi salah seorang kor-ban di antara mereka. Dia pun kena pukulan orang bermuka berewok yang gerak-geriknya sangat samar-samar dan susah ditebak."

Gagak Handaka dan Ranggajaya girang mendengar ujar Wirapati. Dengan demikian tak sia-sialah mereka mempertahankan kebersihan namanya. Meskipun demikian, Ranggajaya masih minta ketegasan, "Orang-orang Banyumas, bukan pula kau yang membinasakan?"

"Seorangpun aku tidak membunuhnya. Meskipun dalam keadaan terjepit masih saja aku tak melupakan ajaran guru. Bahwasanya murid Kyai Kasan Kesambi dilarang keras membunuh sesama bangsa apabila tidak ter-lalu terpaksa."

"Bagus!" seru Ranggajaya girang. "Hm, dua belas tahun kami terus-menerus dikeroyoki urusan pembunuhan itu. Tetapi aku yakin, bahwa bukan kau yang melakukan pem-bunuhan itu. Sekarang ternyata benar belaka."

Setelah itu, Gagak Handaka minta keterangan tentang diri orang bermuka berewok yang ..


memukul Bagus Kempong. Segera Wirapati menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Tetapi baik Gagak Handaka atau Ranggajaya tidak juga dapat menebak siapakah orang itu yang memiliki pukulan dahsyat sampai bisa melukai Bagus Kempong.

"Biarlah nanti kita minta petunjuk guru, setelah beliau selesai bersemadi," akhirnya Gagak Handaka memutuskan. Kemudian ia membawa sekalian adik-adiknya seperguruan menjenguk Bagus Kempong. Mendadak di tengah jalan ia melihat Sangaji. Heran ia menoleh kepada Wirapati minta penjelasan.

"Ah, hampir lupa aku." kata Wirapati ter-sipu-sipu. "Sesungguhnya, aku telah mem-punyai seorang murid."

"Murid?" Gagak Handaka dan Ranggajaya menyahut berbareng.

"Ya," Wirapati menjawab dengan agak segan. Kemudian dengan singkat ia mengi-sahkan riwayat perjalanannya sampai bertemu dengan Sangaji.

"Bagus! Bagus!" kata Gagak Handaka dan Ranggajaya berbareng pula. "Kita kini mem-punyai seorang kemenakan murid."

"Kabarnya Dimas Suryaningrat mempunyai murid pula," Wirapati minta ketegasan. "Ya," ujar Ranggajaya. "Dan sudah barang tentu seorang bidadari pilihan."

Mendengar ujar Ranggajaya, Suryaningrat merah mukanya. Mereka lantas saja tertawa berkakakan. Gagak Handaka terus menggan-deng Sangaji dan diajaknya pula masuk ke dalam. Sebagai seorang pendekar, dengan cepat ia mengetahui bahwa Sangaji bukanlah seorang pemuda sembarangan. Cepat ia mengamat-amati, kemudian tersenyum se-nang sambil berkata, "Sangaji! Tenaga jas-manimu luar biasa kuat. Apakah gurumu benar-benar hanya seorang belaka?"

Semenjak ikut mengintip di belakang pintu angin, diam-diam Sangaji telah mengagumi pribadi Gagak Handaka yang agung dan bijak-sana. Maka begitu ia memperoleh pertanyaan dengan mendadak, sekaligus berubahlah mukanya.

"Paman!" katanya sulit. "Selain Guru, aku masih mempunyai seorang guru lagi. Namanya Jaga Saradenta. Tetapi kecuali mereka berdua, sesungguhnya di tengah jalan aku berjumpa dengan seorang tokoh sakti. Meskipun aku belum mengangkatnya sebagai guru, tetapi dia..."

"Baiklah... kelak engkau bisa dengan perla-han-lahan menerangkan hal itu semua kepada sekalian paman-pamanmu," tungkas Gagak Handaka. Pendekar yang agung pribadinya itu tahu, bahwa Sangaji agak susah hendak menjelaskan. Terasa pula bahwa anak muda itu bersikap hendak membela diri. Maka cepatcepat ia mengalihkan pembicaraan. "Kabarnya kota Jakarta amat ramainya. Pastilah jauh berlainan dengan keadaan di gunung. Biasa-kanlah hidup sunyi di atas gunung ini. Pastilah, kelak engkau akan memperoleh keindahannya di tengah kesunyian..."

* * *

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 19 PUKULAN BESI TULANG"

Posting Komentar