BENDE MATARAM JILID 16 SENJATA RAHASIA




"Aku berbicara denganmu," BENTAK KI HAJAR KARANGPANDAN dengan muka merah-padam.
"Kau sangka apa aku ini, sampai kamu membentak-bentak seperti penyamun?"
"Apa kaubilang?"
Tanpa meladeni Ki Hajar Karangpandan, Ti-tisari lantas saja berputar hendak melangkah pergi. Jaga Saradenta yang berwatak beranga-san, lalu berkata nyaring, "Nona! Mengapa ka-mu bersikap tak menghargai orang-orang tua?"

"Hm! Seseorang yang belum saling berkenalan dan tiada hubungan sanak-keluarga, lalu membentak-bentak kepada seorang gadis belia di tengah lapangan dan di dekat jenazah seorang, pantaskah di sebut orang tahu harga diri?"

Tajam kata-kata si gadis, sehingga mereka semua terkejut dan merasa malu. Ki Hajar Karangpandan sebenarnya tidak bermaksud menghina atau kurang tata-santun. Kalau saja berbicara membentak-bentak penuh luapan amarah, adalah semata-mata kerena teringat akan sepak terjang muridnya yang sangat menyakitkan hatinya. Sebaliknya Sangaji yang berwatak sederhana, polos, dan jujur sama sekali tak menyangka—bahwa Titisari berani mengadu ketajaman lidah mereka yang dihormati dan dihargai. Itulah sebabnya, lantas saja ia ikut membentak.

"Titisari! Jangan berkurangajar!"
Mendengar tegoran Sangaji, gadis itu lalu menundukkan mukanya ke tanah, la seperti minta maaf dan bersedia mengakui kesalahannya.

Wirapati yang berwatak lebih lapang daripada kedua rekannya, kemudian berkata."Eh, Nona. Sebenarnya aku hendak menyatakan terima kasih kepadamu. Karena telah menolong nyawa kami."

Wirapati memang tiada bermusuhan dengan Pringgasakti. Kalau ia sampai ikut berkelahi, adalah semata-mata karena ikrar setia kawan. Lagi pula, ia jujur. Dengan sebenarnya ia merasa tak ungkulan melawan Pringgasakti. Sebaliknya Jaga Saradenta tidaklah demikian. Si tua berangasan itu sudah menaruh dendam kesumat terhadap si iblis semenjak zaman mudanya. Meskipun lawannya itu berilmu tinggi, bagaimana ia sudi mengakui kelemahan diri. Serentak ia menyahut cepat, "Eh, apa kau bilang? Gadis itu telah menolong nyawa kita? Mana bisa aku sudi menerima budinya? Biar kita berkelahi sampai mampus, apa pedulinya?"

"Hm" dengus Titisari. Hatinya kembali menjadi panas dan mendongkol melihat lagak Jaga Saradenta. Katanya tajam, "Kamu berbicara perkara budi? Siapa pula yang kesu-dian memberi budi kepadamu? Kalau aku mengusir si Abu, semata-mata karena kepentinganku sendiri. Waktu itu aku melihat Sangaji dalam bahaya. Ingin aku menolong dia, karena di antara semua ini hanya dia seorang yang kukenal dengan baik. Nah, kalian mau bilang apa?"

"Sangaji?" mereka mengulang serentak. Seperti saling berjanji mereka menoleh ke arah Sangaji. Sudah barang tentu, anak muda itu menjadi kikuk. Mereka seolah-olah berkata kepadanya, "Hm... semenjak kapan kamu berkenalan dengan seorang gadis?"

Dengan agak gugup, lantas saja Sangaji membungkuk hormat terhadap mereka seraya berkata, "Maaf... mestinya siang-siang aku harus sudah memperkenalkan. Dia adalah sahabatku."

"Sahabatmu?" Jaga Saradenta heran.
 "Ya, sahabatku. Aku berkenalan dengannya di tengah jalan."
"Eh, begini gampang kamu mengikat persahabatan," gerutu Jaga Saradenta.

Mendadak Panembahan Tirtomoyo tertawa terkekeh-kekeh. Katanya kepada Sangaji, "Anak baik! Kemarin kamu berbicara mengenai seorang sahabat yang mempermain-mainkan orang-orang Banyumas. Bukankah sahabatmu seorang pemuda? E-hem... apakah dalam waktu semalam saja kamu menemukan seorang sahabat lain? Sahabat... sahabat..."

Merah-padam muka Sangaji mendengar ujar Panembahan Tirtomoyo. Meskipun tak diucapkan dengan terang, tetapi Sangaji merasa seperti diejek. Maklumlah, Titisari dikiranya sahabat yang baru dijumpainya semalam belaka. Maka buru-buru, ia memberi penjelasan siapakah Titisari sebenarnya.

Orang itu lantas saja mengerinyitkan dahi dengan sungguh-sungguh. Teringatlah dia, tatkala Titisari mempermainkan anak buah sang Dewaresi ia mempunyai kesan buruk. Gerak-geriknya mencurigakan. Ilmu apa yang dipergunakan, belum dapat diterkanya.

Sekarang ia menyaksikan pula, bahwa si gadis mempunyai hubungan rapat dengan Pringgasakti. Keruan saja diam-diam meningkatlah kecurigaannya. Dalam benaknya ada sesuatu yang berkelebat, tetapi apakah itu ia belum mengerti.

"Anak yang baik," katanya. Tetapi ia menelan kata-katanya yang hendak diucapkan. Sebagai seorang pendeta yang saleh, ia berbeda jauh dengan adik-seperguruannya Ki Hajar Karangpandan.

Tak mau ia menyakiti hati atau menusuk perasaan orang. Tetapi Ki Hajar Karangpandan yang masih terikat kuat kepada masalah keduniawian dengan segera tahu bahwa kakaknya seperguruan telah mempunyai pendapat yang tak jadi diucapkan. Maka ia berkata mendesak, "Kamu mau berkata apa? Berkatalah!"

Panembahan Tirtomoyo bangkit tertatih-tatih. Ramuan obat yang baru saja ditelannya benar-benar menolong kesehatannya dengan cepat. Dengan mata tajam ia merenungi Titisari, tetapi mulutnya tetap terkunci rapat-rapat. Ia hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau mau berkata apa?" desak Ki Hajar Karangpandan lagi.
Karena desakan itu, akhirnya dengan menarik napas panjang ia berkata minta keterangan, "Titisari... bukankah begitu namamu?"

Titisari mengangguk. Ia nampak tenang tetapi sikapnya seperti seorang yang siap untuk bertempur.
"Titisari!" Panembahan Tirtomoyo melanjutkan. "Kami semua adalah orang-orang tua yang sudah pikun. Tolong terangkan, apakah hubunganmu dengan Pringgasakti. Sebab antara kami dan dia mempunyai tali persoal-an yang kuat, semenjak kamu belum lahir."

Titisari mendengus sekali. Kemudian menjawab, "Apakah Tuan-tuan sekalian mempunyai hak mendesak aku agar memberi keterangan?"
Sangaji yang selalu menghargai dan menghormati orang-orang lebih tua daripadanya, terkejut mendengar ujar si gadis. Sekarang ia bisa membenarkan dugaan Panembahan Tir-tomoyo bahwa sahabatnya memiliki sifat-sifat liar. Maka gugup ia berkata mencoba, "Titisari! Baiklah kukenalkan siapakah mereka. Beliau adalah Panembahan Tirtomoyo yang kukatakan padamu semalam. Kemudian... kemudian beliau berdua itu adalah guruku. Sedangkan beliau ini, Ki Tunjungbiru dan..."

"Dia adik-seperguruanku. Namanya Ki Hajar Karangpandan. Dia seorang pendeta pula. Hanya agak galak," sahut Panembahan Tirtomoyo.
Terhadap Sangaji, gadis itu mempunyai kesan sendiri. Begitu ia mendengar ujar Sangaji, sikapnya lantas menjadi lunak.

"Dengan si iblis dan si jahanam itu, mestinya tak sudi aku berbicara." Mendengar kalimat permulaan keterangan Titisari, mereka yang mendengar jadi heran tertarik. Seleret cahaya terang, berseri pada wajah mereka masing-masing. Mereka mulai berkesan baik terhadapnya. Dan tanpa disadari, mereka berdoa mudah-mudahan Titisari tiada hubungan sanak-keluarga dengan iblis itu. Ini semua demi kelancaran persahabatan Sangaji—anak-didiknya dan anak yang berkesan baik. Dengan demikian, kan tidak akan sampai menerbitkan gelombang yang kurang enak dalam dada mereka masing-masing.

"Aku kenal dengan mereka semenjak masih berumur enam tahun," Titisari mulai.
"Mereka?" Panembahan Tirtomoyo memotong.
"Ya, mereka—Abu dan Abas. Entah di mana Abas sekarang berada. Mereka dulu berguru pada ayahku. Tetapi mereka bukan membalas budi pada ayah. Bahkan air susu dibalas dengan air tuba. Mereka mencuri kitab pusaka ayah. Karena peristiwa itu, ibuku meninggal dunia dengan sedih. Maklumlah, kitab itu adalah kitab pusaka turun-temurun dari keluarga kami."

Panembahan Tirtomoyo mendadak sadar, bahwa iblis itu mestinya berjumlah dua orang yang dahulu terkenal dengan sebutan Pringgasakti dan Pringga Aguna. Ki Hajar Karangpandan, Ki Tunjungbiru, Jaga Saradenta dan Wirapati, mestinya juga tahu. Hanya saja ia heran, mengapa mereka tak berkesan sesuatu tatkala menyinggung nama Abas alias Pringga Aguna. Orang tua itu belum mengerti, bahwa Pringga Aguna telah mampus di Jakarta. Sedangkan Ki Hajar Karangpandan yang berwatak acuh-takacuh tak ambil pusing terhadap hal-hal yang membutuhkan pengamatan yang seksama.

"Karena hilangnya kitab pusaka itu juga, perangai ayah lantas berubah. Dia menjadi pendiam luar biasa dan menjadi seorang pemarah," Titisari melanjutkan. "Semua nelayan dan para pegawai dihukumnya kejam.

Sedangkan terhadapku, ia tak memperhatikan lagi seperti dahulu. Jarang sekali ia berbicara manis kepadaku dan sering bepergian entah ke mana. Barangkali berusaha merebut kembali kitab pusaka kami. Karena itu dalam hatiku, aku selalu berdoa semoga iblis itu bisa ter-bekuk lehernya. Sayang, aku telah berjumpa dengan dia di sini. Sedangkan Ayah entah berada di mana kini. Sekiranya Ayah mengetahui tempat beradanya, alangkah..."

"Siapakah ayahmu itu, Nona?" Panembahan Tirtomoyo memotong lagi.

Gadis itu menyiratkan pandang kepada Sangaji. Kemudian menjawab, "Ayahku seorang adipati di kepulauan Karimun Jawa. Namanya Surengpati Mesgapati. Mengapa?"
Mendengar nama Adipati Surengpati, mereka semua jadi terkejut. Wajah mereka berubah hebat seperti seorang anak melihat momok yang menakutkan. Sangaji heran tak kepalang menyaksikan perubahan mereka. Lantas saja dia jadi sibuk menebak-nebak.

Terhadap Adipati Surengpati, sesungguhnya mereka semua mempunyai kesan setengah baik setengah tidak. Sebagai pejuang-pejuang pembela bangsa, mereka kenal tokoh Surengpati sebagai seorang ksatria anti Belanda. Dia dahulu berada di salah satu istana keluarga ningrat di Yogyakarta. Tetapi karena bencinya terhadap Belanda, ia memilih mengasingkan diri dan bermukim di seberang lautan. Karena sikapnya itu, semua pejuang menaruh hormat kepadanya. Tetapi sebagai manusia Adipati Surengpati terkenal sebagai seorang yang berwatak angkuh, tinggi-hati, sombong, mau menang sendiri dan kejam. Terhadap para pejuang-pejuang bangsa, ia bersikap merendahkan. Karena ia menganggap ilmunya jauh lebih tinggi daripada semua manusia yang hidup di persada bumi ini. Gmurnya kini belum melampaui 50 tahun. Tetapi menurut kabar, ilmu kepandaiannya benar-benar patut dikagumi. Kalau tidak masa seorang iblis semacam Pringgasakti sampai berguru kepadanya. Dan kalau si iblis Pringgasakti saja sudah susah dilawan, mereka bisa membayangkan bagaimana tinggi ilmu kepandaian Adipati Surengpati. Mereka sadar, bahwa ilmu kepandaian Adipati Surengpati sudah mencapai suatu taraf yang susah untuk dijajaki.

"Bagus-bagus," tiba-tiba Ki Hajar Karangpandan berkata setengah bersorak. "Tulang-belulang boleh berserakan tapi tulang-belulang itu pada suatu kali pasti berkumpul juga."

Mereka semua heran mendengar ujar Ki Hajar Karangpandan, karena tak tahu maksudnya.
Melihat mereka sibuk menebak-nebak arti kata-katanya, pendeta edan itu senang luar biasa.
Lantas saja dia berkata lagi, "Bukankah cukup terang? Lihat! Muridku yang murtad berguru kepada iblis itu. Dan anak didik kalian—Sangaji—bersahabat dengan anak guru si iblis. Ha, apakah bukan setali tiga uang?"

Jaga Saradenta si penaik darah, serentak mendamprat, "Mana bisa begitu? Muridmu murtad dan menjadi murid iblis. Muridku hanya berkawan dengan anak guru si iblis. Di manakah ada titik persamaannya?"

"Eh—masa kalian tak kenal siapakah Adipati Surengpati? Sekali muridmu berkawan dengan anaknya, masa si Jangkrik Bongol akan membiarkan anak-didikmu luput dari pengamatannya?"

Adipati Surengpati memang mendapat sebutan gelar Jangkrik Bongol, karena dia seorang pendekar yang ulet dan berani bertanding tak mengenal lelah kepada siapa saja, seperti seekor jangkrik bongo. Panembahan Tirtomoyo, Ki Tunjungbiru, Wirapati dan Jaga Saradenta kenal perangai Ki Hajar Karangpandan yang ugal-ugalan dan edan-edanan. Tetapi dibalik ke-edan-edanan-nya itu, sesungguhnya ia seorang pendekar yang cerdik. Dia pandai bertanding tenaga dan mengadu mulut. Sekiranya tidak demikian, bagaimana dia bisa menjerat Jaga Saradenta dan Wirapati dalam suatu perjanjian edan-edanan pula dengan memutar lidah belaka. Teringat akan ini, sebenarnya Jaga Saradenta sudah jeri, tapi dia seorang pendekar yang berangasan dan gampang naik darah. Karena itu bagaimana sudi membiarkan diri dipilin orang.

"Apakah kamu berani bertaruh denganku?" tantang Jaga Saradenta.

Mendengar kata-kata bertaruh itu, hati Jaga Saradenta berdegupan. Maklumlah karena terikat oleh suatu pertaruhan dahulu, terpaksalah ia meninggalkan rumah-tangganya selama dua belas tahun. Apakah kali ini ia akan mengalami kepahitan itu lagi? Meskipun ia mempunyai pikiran demikian, sebagai seorang ksatria lantas saja dia membusungkan dadanya. Tetapi tatkala ia hendak berkata, mendadak Panembahan mengalihkan pembicaraan.

"Hai! Kalian ini terlalu memikirkan kepentingan diri. Bagaimanakah dengan jenazah sahabat kalian ini? Apakah dia akan kalian biarkan terbaring di sini? Lihat, semua penduduk Pekalongan mengawaskan kita semua."

Karena ujar Panembahan Tirtomoyo, semua jadi terkejut. Ki Tundjungbiru yang pendiam-pun, ikut tersadar. Sebagai seorang kesatria, tadi ia tertarik benar kepada kata-kata Ki Hajar Karangpandan dan Jaga Saradenta. Teringatlah dia dahulu pada zaman Perang Giyanti. Juga di Kota Pekalongan inilah dia pernah bertempur lima hari lima malam melawan si pendeta edan perkara pantat. Dan akhirnya saling berjanji tidak akan kawin sepanjang hidupnya.

Mereka kemudian duduk dengan takzim kembali. Ki Hajar Karangpandan segera menghampiri Nuraini dan berkata dengan penuh perasaan.

"Bagaimana menurut pendapatmu Nona? Di manakah ayah-angkatmu hendak kaukebu-mikan?"

Nuraini benar-benar nampak berduka. Matanya berkaca-kaca. Dengan menunduk dia menjawab, "Dia berasal dari Desa Karang-tinalang. Biarlah kubawanya pulang ke kampung halamannya."

Mendengar ujar gadis itu, semua jadi kaget. Sebab Desa Karangtinalang bukan dekat letaknya. Belum tentu satu bulan bisa dicapai dengan perjalanan kaki. Segera mereka membujuk Nuraini agar dikebumikan saja di Kota Pekalongan. Tetapi Nuraini tetap kukuh. Katanya, "Ayah-angkatku berasal dari Bali dan beragama Hindu. Menurut pantas jenazahnya harus dibakar. Kemudian abunya akan kubawa pulang ke kampung halaman."

Teringat akan upacara penguburan seseorang yang beragama Hindu, mereka jadi berpikir lain dan menyetujui pendapat Nuraini. Mereka lantas saja bekerja. Sebagai kesa-tria-kesatria yang sudah banyak berpengalaman, mereka dapat bekerja cepat. Segera jenazah Wayan Suage dibawa ke luar kota dan dibakar di pinggir hutan. Mereka menunggu sampai api padam. Dan apabila abunya telah diserahkan kepada Nuraini, maka masing-masing berpamit hendak melanjutkan perjalanannya masing-masing.

Panembahan Tirtomoyo sudah hampir sembuh. Bersama Ki Hajar Karangpandan dan Ki Tunjungbiru, mereka berangkat ke Timur menuju padepokannya. Sedangkan Jaga Saradenta hendak pulang menjenguk kampung-ha-lamannya dahulu yang sudah lama ditinggalkan. Baginya, tugas memenuhi perjanjian sudah diselesaikan dengan baik.

"Engkau pasti akan kembali dahulu ke Sejiwan, bukan?" tanyanya kepada Wirapati.

Pendekar muda itu mengangguk. Kemudian berkata pula, "Pekerjaan kita sudah selesai. Hanya saja, masih ada urusan lain. Anak-didik kita, bukankah akan menunggu jenazahnya. Dengan demikian, kita tak boleh membiarkan dia bekerja seorang diri. Karena itu, setelah kamu menjenguk kampung-halaman barang dua tiga bulan, cepatlah menyusul ke Sejiwan! Sangaji akan kubawa ke sana dan biarlah kita menunggumu di sana pula."

Mereka berpisah dengan rasa haru dan gembira. Maklumlah, mereka sudah berkumpul dan merasa senasib sepaham selama dua belas tahun. Rasa kawan lebih cenderung kepada rasa saudara-sekandung belaka. Dan rasa gembiranya terjadi, karena masing-masing akan melihat kampung halamannya yang sudah dirindukan semenjak lama.

Wirapati hendak menyertai Nuraini pulang ke Desa Karangtinalang. Ia memilih arah jalan yang pernah dilalui dua belas tahun yang lalu, tatkala habis mengunjungi padepokan Kyai Lukman Hakim di Cirebon. Sangaji dan Titisari hendak dibawanya serta pula.

Mendadak Sangaji teringat akan kudanya si Willem. Maka ia minta izin hendak mengambilnya dahulu, kemudian akan menyusul secepat mungkin.

"Sangaji! Selama hidupmu baru kali ini kamu menginjak daerah Jawa Tengah dengan sadar. Pastilah kamu belum paham akan lika-liku jalannya menuju ke Karangtinalang. Lebih baik, kamu langsung saja menuju ke Sejiwan. Kamu bisa lewat Semarang, Magelang, kemudian mengambil jalan jurusan Kedungkebo. Sebelum kamu sampai di Purworejo, tanyalah kepada salah seorang penduduk di mana letak Desa Loano. Dan kamu pasti akan diantarkan sampai ke Sejiwan."

Tetapi di luar dugaan, Sangaji menolak sarannya. Katanya, "Sebenarnya senang aku boleh berjalan seorang diri sambil mencari pengalaman. Hanya saja aku harus menjenguk kampung Karangtinalang."

"Mengapa?" Wirapati dan Titisari minta keterangan berbareng. Kemudian Titisari meneruskan, "Melihat Karangtinalang, mengapa mesti tergesa-gesa?"

"Ya, mengapa begitu?" Wirapati menegas. "Kamu harus menghadap kakek-guru dahulu.

Setelah memperoleh nasehat-nasehatnya, barulah bersama-sama menjenguk kampung Karangtinalang. lngat-ingatlah, kamu masih harus menempuh perjalanan lagi ke timur untuk menuntut dendam kepada Pangeran Bumi Gede. Dan lawanmu itu bukan lawan yang empuk. Nasihat-nasihat kakek-guru harus kauperhatikan benar-benar."

Sangaji menundukkan kepala. Kemudian berkata setelah berbisik, "Guru! Sebenarnya... sewaktu aku berada dengan Paman Wayan Suage di pondokan, beliau berpesan agar aku mencari dua pusaka warisanku yang dipendamnya pada suatu tempat dekat Desa Karangtinalang."

Sangaji kemudian menerangkan dengan jelas semua kalimat Wayan Suage tentang dua pusaka yang disimpannya di dekat tebing sungai sebelah timur desa Karangtinalang, sebagai pusaka warisan. Pusaka apakah itu, sama sekali dia tak mengerti. Sebagai seorang yang berhati jujur dan sederhana, sebenarnya tiada nafsunya untuk mewarisi pusaka segala. Ia hanya ingin melakukan pesan orang yang sudah mati dengan sebaik-baiknya.

Mendengar tentang dua pusaka itu, sebaliknya Wirapati jadi tertegun. Pada saat itu juga, teringatlah dia kepada kejadian dua belas tahun yang lalu, tatkala sedang menolong Wayan Suage. Dia pernah bertengkar mengenai pusaka itu yang menerbitkan malapetaka belaka. Ia bahkan menyarankan diberikan kepada gerombolan orang-orang Banyumas agar tak usah menanggung derita. Tetapi Wayan Suage tetap mempertahankan, malah lantas mencurigai dirinya hendak merebutnya. Maka teranglah, bahwa kedua pusaka itu pasti termasuk suatu persoalan yang penting. Ki Hajar Karangpandan pun menyinggung pula tentang kedua pusaka itu, tatkala hendak menetapkan suatu perjanjian.

Pendeta itu menghendaki, barangsiapa menemukan kedua pusaka tersebut harus mengembalikan kepada pemiliknya yang syah. Yakni, kepada anak-anak Wayan Suage dan Made Tantre. Dan selama dua belas tahun, tak pernah lagi ia mempersoalkan kedua pusaka tersebut. Ki Hajar Karangpandan pun tiada menyinggung-nyinggung sama sekali. Mendadak saja kini persoalan kedua pusaka timbul lagi. Keruan saja, hatinya jadi tegang kembali. Dasar ia berwatak usilan dan berjiwa seorang kesatria besar. Apabila sudah mau bekerja tak mau pula bekerja kepalang-tanggung. Maka mendengar tentang di mana beradanya kedua pusaka tersebut, lantas saja timbullah keinginannya hendak menyelesaikan persoalan itu sama sekali. Pekerjaan itu dipandangnya sebagai suatu kewajiban pula.

Hm, biarlah pendeta edan itu lebih menghargai jerih payah kita berdua. Kalau kedua pusaka itu bisa kukembalikan kepada yang berhak, bukankah aku dapat memerintahkan dia membungkuk hormat dan menyembah tiga kali? Mendapat pikiran demikian, terbesitlah kegembiraannya, pikir Wirapati. Segera dia menepis, "Benarkah Wayan Suage mewariskan kedua pusaka itu kepadamu?"

Sangaji mengulangi tiap kalimat Wayan Suage lagi tatkala berada di pondokan. Dan diam-diam Wirapati merasa bersyukur. Sebab, jika kedua pusaka tersebut menjadi milik Sangaji, bukankah benar-benar ia berhasil merebut kemenangan mutlak?

"Apakah dia tidak menerangkan macam kedua pusaka itu kepadamu?" tanya Wirapati lagi.

Sangaji menggelengkan kepala. Memang Wayan Suage sama sekali tidak menerangkan macamnya, karena waktu itu dia tak sempat lagi. Rumah penginapan sudah terkepung rapat oleh pasukan-pasukan Pangeran Bumi Gede.

Sekonyong-konyong Titisari menyahut, "Apakah itu bukan pusaka Pangeran Semono? Eh, mestinya bukan. Pusaka Pangeran Semono berjumlah tiga."

"Engkau berkata apa, Nona?" Wirapati menegaskan. Muka Titisari tiba-tiba nampak terkesiap, seperti seorang yang kelepasan rahasia. Didesak Wirapati guru Sangaji yang dihormati, terpaksa ia berkata lagi, "Aku hanya mengira... barangkali pusaka Pangeran Se-mono."

"Mengapa kamu bisa menduga demikian?"
"Semalam—waktu kami berkeliaran di dalam halaman kadipaten mencari ramuan obat, aku tersesat di serambi belakang. Kulihat mereka sedang berkumpul membicarakan suatu rahasia. Karena besar rasa ingin tahuku, kuberanikan diri mengintip pembicaraan mereka. Dan kudengar mereka membicarakan pusaka Pangeran Semono."

Tentang pusaka Pangeran Semono semua pendekar yang bermukim di Jawa Tengah mengetahui belaka. Wirapati mendengar pusaka keramat itu dari gurunya. Dan dahulu, karena tertarik kepada persoalan pusaka tersebut ia sampai mengikuti rombongan penari yang aneh dari Banyumas dan ternyata sedang memperebutkannya. Hanya saja tiada rangsangnya hendak memiliki. Kalau saja ia menceburkan diri ke dalam persoalan itu, sematamata hanya panggilan naluriahnya. Tak rela ia melihat kelaliman dan kerusuhan bermain di depan kelopak matanya. Meskipun, sekarang persoalannya adalah sama, tetapi panggilan hidupnya berseru lain. Besar hasratnya hendak membahagiakan murid dan menentramkan arwah yang sudah pulang ke alam baka.

Titisari terus saja menceritakan semua yang didengarnya semalam di ruang belakang kadipaten. Tak lupa pula ia menggambarkan bagaimana sang Dewaresi mendesak Pangeran Bumi Gede, tentang tempat beradanya Ki Hajar Karangpandan. Karena itulah orang yang dahulu pernah merampas pusaka Pangeran Semono.

"Tetapi... mereka menyebutkan jumlahnya tiga buah. Sebuah Jala, Keris dan Bende. Andaikata benar... masa berada di tangan Wayan Suage selama itu, tanpa diketahui orang?" kata Titisari menyatakan pertimbangannya.

Wirapati menaikkan alis. Dengan sungguh-sungguh ia mendengarkan tiap kata Titisari yang menceritakan kembali pengalamannya semalam. Kemudian ia berpaling kepada Sangaji.

"Apakah Wayan Suage tidak menyebut macam bentuk pusaka itu?"

Sangaji menggelengkan kepala sambil menjawab, "Waktu aku minta keterangan, ia tak sempat lagi berbicara. Rumah penginapan telah terkepung rapat."

Kembali Wirapati menaikkan alis. Dido-ngakkan kepalanya ke udara dan lama ia tak-berbicara. Benaknya seolah-olah lagi berjuang merangkaikan semua pengalamannya dan apa yang pernah didengarnya tentang pusaka Pangeran Semono.

"Baiklah. Kamu boleh mengambil kudamu. Aku dan Nuraini akan berangkat dahulu. Aku akan memberi tanda jalan bagimu, agar kamu mudah menyusul kami," kata Wirapati memu-tuskan.

Mereka lantas berpisah. Wirapati membimbing Nuraini yang dibawanya berjalan cepat mengarah ke pegunungan yang berdiri berderet di sebelah selatan. Mereka akan menempuh perjalanan yang panjang. Mungkin pula satu bulan belum tentu tiba di Sejiwan. Maklumlah, waktu itu hutan rimba masih padat memenuhi persada Pegunungan Sumbing-Sundoro-Dieng.

Sangaji berdiri terhenyak untuk beberapa saat lamanya, la heran menyaksikan gurunya begitu nampak tergesa-gesa. Mengapa mesti begitu, pikirnya. Otaknya yang sederhana belum juga dapat menebak, bahwasanya pada dewasa itu semua orang gagah sedang mengincar pusaka warisannya. Gntung dia mem-punyai seorang kawan yang cerdik dan cerdas. Dan nampaknya akan setia mendampingi di mana saja dia berada.

"Aji," kata kawan itu. "Ayo kita cepat-cepat pergi dan menyusul gurumu."
"Mengapa cepat-cepat?" Masih saja ia minta keterangan.
Titisari tidak menjawab. Dengan tersenyum lebar sambil menarik tangan, ia memperlihatkan cahaya matanya yang berkilat-kilat.

"Kamu memang seorang yang berhati mulia," katanya kemudian. "Itulah sebabnya aku senang berkawan denganmu. Ayo! Ayo kita berjalan menyusuri pantai mencari karang. Lantas menggarungi sawah mencangkul ladang. Nanti dua, tiga bulan lagi baru menyusul."

"Eh! Mengapa kamu berkata begitu?" Sangaji terkejut, la benar-benar nampak tolol. Kemudian minta penjelasan cepat, "Titisari! Otakku memang bebal. Maukah kamu menerangkan sejelas-jelasnya, mengapa kita harus cepat-cepat menyusul guru? Apakah guru berangkat akan menempuh bahaya?"

"Ya dan tidak," jawab Titisari berteka-teki. "Tetapi aku tak berani bertaruh, bahwa gurumu itu telah memperoleh pegangan kuat untuk bertindak secepat mungkin. Eh... apakah benar rejekimu begini besar?"

"Rejeki apa?" ulang Sangaji. "Titisari! Mengapa kamu bicara tak karuan?"

"Sekiranya kamu menjadi raja... hm... berapa jumlah permaisurimu?" Titisari tak perduli. Dan Sangaji jadi blingsatan. Gugup dia memotong dengan suara tinggi. "Raja? Raja apa? Raja kera?"

Titisari tertawa nyaring dan terus lari menuju ke kota. Karuan saja Sangaji mau tak mau harus memburunya seperti seorang sopir menancap gas.

"Hai! Hai! Kau harus menerangkan! Kau berbicara tentang rejeki dan raja. Apa sih maksudmu?"
"Aku berkata sungguh-sungguh! Bukan main-main," sahut Titisari. Tetapi ia tak mau memberi penjelasan. Bahkan larinya kian dipercepat.
Menjelang senja hari, mereka telah tiba di penginapan. Pelayan penginapan girang melihat datangnya Sangaji dan Titisari.

"Tuan Muda baik-baik saja, bukan? Apa terlalu lelah? Boleh nanti hamba pijat."

Pelayan itu mengira, Sangaji mendapat seorang teman berjalan semalam suntuk sebagai lazimnya pemuda bongor pada zaman itu. Sebaliknya Sangaji tak berpikir sampai sejauh itu. Otaknya lagi dikusutkan oleh ucapan Titisari yang terus melengking-lengking tiada hentinya dalam pendengarannya. Dengan berdiam diri ia melemparkan beberapa potong uang dan memerintahkan mengemaskan pakaiannya. Karuan saja pelayan itu bergirang hati sampai mau meloncat-loncat seperti anjing. Lalu mendobrak kamar melakukan perintah.

"Pendeta tua tadi pagi keluar dari penginapan tanpa pamit. Karena kami memandang Tuan Muda, kami biarkan dia pergi tanpa meninggalkan uang sepeserpun."

Sangaji tahu, yang dimaksudkan pendeta tua itu adalah Panembahan Tirtomoyo yang merendamkan diri semalam dalam pengaron. Serentak ia menyahut, "Hm... bukankah kamar ini aku yang menyewa?"

"Bukan perkara kamar, Tuan. Tetapi kami sudah terlanjur menyediakan masakan-masakan yang empuk. Kami berbelanja sendiri, agar tak mengecewakan Tuan."

Sangaji tahu, pelayan penginapan itu ingin menunjukkan jasa. Maka segera ia membayar semua harga masakan beserta persenannya dan meninggalkan penginapan. Kembali lagi si pelayan jadi bergirang hati. la mengantarkan tamunya sampai ke luar jalan. Kemudian berkata takzim. "Sebentar lagi senja hari tiba. Di manakah Tuan akan menginap. Apakah... apakah..." ia mengerling kepada Titisari dengan berkulum senyum.

Merah muka Sangaji mendengar dan melihat laku pelayan itu. Ingin ia mendamprat, tetapi tidak menemukan kata-kata. Maklumlah, tak biasa ia mengumbar mulut. Maka dengan berdiam diri ia berjalan di samping Titisari yang telah mendahului.

"Aji! Mengapa tak kau puntir hidungnya?" tegur Titisari. Tiba-tiba ia mengangsurkan segenggam uang. Katanya, "Ini. Dengan pelayan semacam itu, tak perlu kamu bermu-rah hati."

Sangaji terperanjat, karena uang itu adalah uang pembayaran penginapan, masakan dan persen. Gugup ia berkata, "Kau... kau... "

"Aku mengambilnya kembali dari kantung tanpa bunga. Apa salahnya?" potong Titisari tanpa perasaan. Sangaji jadi terbungkam. Pikirnya, gadis ini benar-benar mempunyai sifat-sifat liar. Tetapi pelayan itu memang pantas dihukum demikian. Mendakwa seorang gadis suci sebagai bunga jalan adalah keterlaluan.

Sebelum petang hari tiba, si Willem telah diketemukan. Mereka meneruskan perjalanan ke arah selatan. Pada waktu itu masa bulan purnama. Bulan telah tersembul di udara berbareng dengan tenggelamnya matahari. Ombak laut berdebur dahsyat dan meniupkan angin segar ke daratan.

Willem ternyata seekor kuda yang gagah perkasa. Meskipun dibebani dua orang majikan, langkahnya tetap kuat dan tegar.

"Aji!" tiba-tiba Titisari berkata sambil mengibaskan rambutnya.
Sangaji duduk di belakang punggung Titisari. Karena Titisari mengibaskan rambutnya, pipinya kena geser sehingga darahnya jadi terkesiap, jantungnya lantas saja berde-gupan. Tatkala hidungnya mencium harum wewangian yang membersit dari rambut si gadis, mulutnya mendadak saja seperti tergagu.


"Hai! Kau lagi melamunkan siapa? Nuraini?" tegur Titisari sambil tertawa. Mendengar teguran itu, keruan saja Sangaji jadi terperanjat setengah mati. Gugup ia menjawab, "Mengapa kamu mendakwa yang bukan-bukan?"

"Tadi kamu berbicara perkara rejeki -dan raja. Sekarang perkara... Tak bisakah kamu membicarakan yang lain?"
"Baik—kamu tak suka membicarakan, justru aku ingin membicarakan," sahut Titisari cepat. Bukankah gadis itu..."
"Mengapa?" potong Sangaji. Cepat ia mengingat-ingat peristiwa pagi hari tadi, sewaktu Wayan Suage meninggalkan pesan penghabisan kepada Ki Hajar Karangpandan dan gurunya, Wirapati. Teringat, bahwa Titisari kala itu belum muncul hatinya agak jadi tenang.

Titisari tertawa perlahan sambil mendongakkan kepala.
"Belum selesai aku berbicara, kenapa kamu begitu gugup? Aku hanya ingin menyatakan kesan hatiku, bahwa mulai hari ini dia menjadi seorang anak yatim-piatu. Siapa yang bakal melindungi?"

Mendengar kata-kata itu, Sangaji bersyukur dalam hati. la jadi geli melihat kegelisahannya sendiri. Lantas menyahut, "Dia yatim-piatu atau tidak, apa peduliku?"
Sangaji bermaksud mau membersihkan diri dengan kata-kata tajam. Tapi ia lupa, bahwa gadis yang duduk di dekatnya adalah seorang gadis yang cerdas dan cerdik luar biasa pada zaman itu. Kalau saja, ia berkata penuh perasaan seperti watak aslinya, pastilah si gadis tiada menaruh curiga. Sebaliknya oleh kata-katanya yang keras, Titisari jadi keheran-heranan. Dengan tiba-tiba saja raut muka Titisari berubah hebat. Dahinya berkerinyit dan matanya membersitkan sedikit air. Sangaji tak melihat perubahan itu, karena dia berada di belakang punggungnya. Hanya saja ia melihat si gadis menundukkan kepala seakan-akan sedang berpikir keras.

"Titisari... apakah kata-kataku ada yang salah?" kata sangaji hati-hati.

"Tidak! Kamu tak bersalah. Sama sekali tak bersalah," sahut Titisari dengan berbisik. Kemudian memandang jauh ke depan. Dan lama ia berdiam diri.

Sangaji jadi gelisah. Dasar ia berhati polos dan jujur, lantas saja merasa salah. Ia menyangka dan percaya, bahwa Titisari sudah bisa menebak peristiwa tadi pagi. Terhadap Titisari ia sudah merasa takluk semenjak bertemu di restoran Cirebon. Tetapi kalau dikatakan ia menerima pesan Wayan Suage dengan sungguh-sungguh adalah tidak benar. Maka ia berkata, "Nuraini memang patut dikasihani, la tak berayah-bunda lagi. Tetapi antara aku dan dia tidak ada hubungan keluarga. Apakah menurut pendapatmu, aku harus mendampingi pulang ke kampung halaman dan mencarinya sampai... Titisari, kalau kemarin pagi aku berkelahi melawan Sanjaya begitu mati-matian, sebenarnya aku mengharapkan agar dia tak disia-siakan pemuda itu."

"Benarkah itu?" tiba-tiba Titisari memotong dengan suara riang. "Ya, mengapa?"
"Seumpama... ada seseorang yang hendak memisahkan persahabatan kita ini, apa yang akan kaulakukan?"
Sangaji jadi tercengang-cengang mendengar ucapan Titisari. Dan bagaimana goblok pun seorang pemuda, samar-samar pasti dapat menebak maksud hati seorang gadis yang berkata demikian.

Dengan suara bergetar ia menyahut, "Eh, kamu ini ngomong apa? Siapa yang akan memisahkan kita?"

"Seumpama gurumu?"
"Guruku orang berbudi. Tak bakal mereka memisahkan kita."
"Gurumu yang lain, begitu galak. Aku tak senang melihat congornya."


Sangaji terkejut. Selamanya ia menghargai dan menghormati gurunya lebih daripada siapa saja, mendadak Titisari berani men-congor-congorkan. Tentu saja, hatinya ter-kesiap sampai sekujur tubuhnya menjadi dingin.

"Titisari! Kaumaksudkan guruku Jaga Saradenta? Biarpun dia galak, tidaklah segalak seekor binatang. Mengapa kamu..."

"Eh, aku bersakit hati? Antara dia dan kamu memang ada hubungannya. Tapi denganku, sama sekali tidak ada hubungan sanak-keluar-ga. Tetapi mengapa dia memandangku seperti anak siluman? Kalau dia menyebutku setali tiga uang dengan iblis—karena aku anak siluman dan adik Abu dalam suatu perguruan—apa salahnya aku menyebut mulutnya sebagai congor? Orang boleh memakiku dengan istilah iblis, kenapa aku tak boleh memaki dia dengan istilah congor?"

Sangaji terdiam karena tak pandai berdebat. Meskipun bisa dibenarkan tata-sikap si gadis, tetapi ia merasakan sesuatu yang kurang tepat. Hanya saja, tak pandai ia mengungkapkan kesan rasa itu. Akhirnya dia berkata, "Kamu adalah sahabatku yang tak terpisahkan. Kupinta janganlah berkata demikian terhadap guruku yang kuhormati dan kujunjung tinggi. Lagi pula, dia tadi tak langsung menyebutmu iblis. Dia hanya menirukan ucapan pendeta Ki Hajar Karangpandan untuk membela diri."

"Baik. Terhadapmu memang aku bersedia takluk buat selama hidupku," sahut Titisari. "Hanya saja, gurumu itu tak terkesan baik kepadaku."
"Barangkali, karena dia benci kepada Pringgasakti."
"Pringgasakti bukan aku. Aku bukan Pringgasakti. Mengapa mesti dipersangkut-paut-kan? Nah, andaikata dengan alasan itu dia memisahkan persahabatan kita ini, apakah yang akan kaulakukan?"

Dengan semangat berkobar-kobar Sangaji meledak.

"Aku hendak menggenggam tanganmu dan kubawa menghadap padanya. Dan aku akan berkata, Ini adalah Titisari. Dia bukan iblis atau keluarga iblis. Dia manusia baik."

Terdorong oleh semangatnya yang berkobar dalam dada, tanpa terasa ia menggenggam pergelangan tangan Titisari dan ditarik ke dadanya.

Mula-mula Titisari tersenyum geli menyaksikan laku Sangaji. Tapi mendadak hatinya tergetar karena Sangaji begitu sungguh-sungguh.
"Aji! Gurumu itu mungkin dapat kauberi pengertian. Tetapi terhadap pendeta gila yang menyebutku iblis, belum tentu kamu berhasil," katanya perlahan.
"Titisari!" suara Sangaji gemetaran. "Kalau dia hendak memisahkan kita... biarlah kita minggat ke Jakarta."

"Kalau dia tetap memburu?"
"Biarlah kita mati. Apa kamu takut mati?"

Semangat Titisari terbangun. Hatinya berdebar-debar, karena terharu mendengar ucapan Sangaji yang sederhana tetapi sungguh-sungguh. Benar! Paling baik kita mati, pikirnya. Apakah ada yang melebihi mati? Lantas ia menjawab, "Aji! Mulai detik ini aku akan mendengarkan tiap patah katamu. Mati pun bukan soal bagiku. Karena itu selama-lamanya kita tak akan berpisah."

"Memang! Kita takkan berpisah untuk selama-lamanya. Sudah kukatakan kemarin malam di pantai, bahwa kamu adalah seorang gadis yang termanis."

"Betulkah itu?" Titisari tertawa nakal.

Muka Sangaji terasa menjadi panas. Meskipun demikian ia mengangguk. Di waktu itu semangatnya sedang berkobar-kobar dengan dahsyat, sehingga tak ingatlah dia bahwa tunangannya di Jakarta masih setia menunggunya. Pemuda itu sama sekali tak menduga^kalau Sonny de Hoop di kemudian hari akan me-rupakan sumber keruwetan dan kesulitan tak terhingga.

Demikianlah perjalanan mereka  lantas saja    menjadi lancar. Bulan makin Nampak gede. Sinarnya bersemarak menentramkan hati dan penglihatan.

Kira-kira menjelang tengah malam, mereka berhenti mencari penginapan. Maklumlah, mereka kini merasa capai karena semenjak kemarin benar-benar tidak tidur sekejap pun, meskipun hati mereka girang luar biasa. Lagi pula tanda jalan yang dijanjikan Wirapati takkan dapat terlihat pada malam hari.

Willem dilepaskan dengan begitu saja. Dan mereka menghempaskan diri di atas tanah kering, berselimut udara dan berbantal batu. Dinyalakan suatu perdiangan kecil dan sebentar saja telah tertidur lelap.

Menjelang pagi hari, angin meniup begitu tajam dan dingin. Suasana hening dan sunyi. Mendadaklah terdengar suara sebongkah batu menggelinding ke bawah. Kaget mereka menyepakkan mata dan seolah-olah sudah saling berjanji, pandang matanya saling memberi isyarat. Perlahan-lahan mereka menegakkan kepala. Mereka melihat Willem lagi menggaruk-garuk tanah. Mengira, suara tadi datangnya dari perbuatan si Willem, mereka berbaring kembali. Perdiangan yang sudah lama padam, dibiarkan tak menyala.

Waktu subuh hampir lewat, kembali mereka terbangun oleh suara yang mencurigakan. Kini, mereka benar-benar bersiaga. Serentak mereka menegakkan punggung dan menjela-jahkan mata. Mereka melihat si Willem terbaring tak jauh daripadanya. Binatang ini pun mendadak saja menegakkan kepala dan serentak bangkit berderakan. Mereka kian jadi curiga. Hati-hati mereka mengadu punggung dan memperhatikan sekelilingnya. Tetapi sua-sana menjelang fajar hari tetap hening dan sunyi menyayat. Meskipun demikian, tak berani mereka lengah sedikit pun. Sampai matahari timbul di udara, mereka tetap siaga.

Karena tempat sekitarnya tidak ada mata air, mereka meneruskan perjalanan ke selatan mengikuti tanda jalan yang ditinggalkan Wirapati.

"Titisari! Apakah kamu mempunyai firasat diikuti seseorang?" Sangaji minta pertimbangan.
"Tidak hanya semalam," sahut Titisari. "Semenjak kita berpisah dengan gurumu, perasaan itu telah kurasakan."

"Mengapa?"
"Kedua pusaka warisanmu itu bukan sembarang pusaka."
"Masa begitu?" Sangaji tak yakin. "Seumpama semalam ada orang jahat, kenapa tidak mencuri si Willem?"

"Justru itu, dugaanku kian kuat. Orang yang semalam menjenguk kita, bukan seorang penjahat murahan atau maling kuda. Pastilah jejak kita akan diikuti, sampai kamu berhasil meng-ambil pusakamu. Dan pada saat itu, tiba-tiba saja kamu telah terkepung rapat."

Mendengar ulasan Titisari, bulu roma Sangaji menggeridik. Tetapi ia membungkam mulut.
Tatkala matahari telah sepenggalah tingginya, mereka sampai di sebuah dusun agak ramai yang berada di kaki Gunung Sumbing. Sangaji membeli seekor kuda putih untuk Titisari. Dan mereka melanjutkan perjalanan lagi. Sebenarnya Titisari lebih suka menunggang kuda berbareng. Tetapi Sangaji merasa kikuk oleh pandang orang dan merasa kurang leluasa. Mau tak mau Titisari menerima alasan itu.

Tak lama kemudian mereka sampai di sebuah sungai yang jernih airnya. Segera mereka mencencang kudanya dan terjun ke dalam sungai.

Biarpun Sangaji dibesarkan di Jakarta, belum pernah sekali juga berenang di laut atau di sungai. Karena itu ia berdiri di tepian setinggi dada. Sebaliknya Titisari terus saja menyelam di dasar sungai dan timbul di seberang sana. la berenang gesit dan cekatan seperti seekor ikan.

Wajahnya riang luar biasa.
"Aji!" serunya. "Selama hidupku aku berada di antara air. Ayo kuajari kau berenang."

Sangaji menggelengkan kepala. Ia takut air. Sekiranya tak teringat semenjak pagi tadi belum mandi, takkan gampang-gampang ia mencelupkan tubuhnya ke dalam sungai.
Titisari seorang gadis yang nakal. Segera ia menghampiri dan berkata nyaring. "Idddiiih... anak laki-laki, masa tak bisa berenang?"

Belum lagi Sangaji menangkis ejekannya. Mendadak ia menyelam. Sangaji bercelinguk-an mencarinya, tapi gadis nakal itu lama tak muncul-muncul. Karuan saja, hati Sangaji ber-debar-debar. Hampir saja ia mengira, Titisari hilang disambar buaya atau mendapat bahaya lainnya, mendadak kakinya serasa dibetot orang. Kaget ia meronta, tetapi ia kena seret terus. Ketika ia melihat, bahwa dirinya diseret ke tengah, ia takut setengah mati.

"Hai! Hai!" ia berteriak sambil memukuli air.
Pada waktu itu, ia seperti terlempar berputaran dan Titisari muncul di permukaan sambil tertawa nyaring. Karuan saja, Sangaji gelagapan sampai meneguk air beberapa kali.

"Pukulkan tanganmu dan jejakkan kakimu! Air sekelilingmu pandanglah sebagai musuhmu!" teriak Titisari menasihati.

Mau tak mau Sangaji tunduk pada nasihatnya, meskipun hatinya mendongkol bukan main. Tetapi aneh setelah tangan dan kakinya berserabutan tak karuan juntrungnya, tubuhnya tidak tenggelam lagi. Bahkan ia bisa berputar-putar dan maju membungkuk-bung-kuk seperti katak bangkotan.

Titisari tertawa         terpingkal-pingkal.  Kemudian     mulai  mengajar      bagaimana harus          berenang. Setelah itu cara mengatur napas.

Bagi Sangaji pelajaran mengatur napas dengan memukul tangan dan kaki adalah mudah. Pertama-tama ia mengenal ilmu tata-ber-kelahi dan ilmu pernapasan dari Ki Tunjung-biru. Maka dua jam kemudian, ia sudah bisa berenang seperti seorang ahli berenang kelas empat. Dia sudah bisa mulai berputar-putar mengikuti Titisari ke mana gadis itu berenang. Dan lambat-laun ia mendapat suatu kegembiraan baru yang belum pernah dirasakan selama hidupnya.

Dia tak mengenal lelah sampai waktu luhur telah lewat. Sekarang Titisari yang jadi repot. Sama sekali ia tak menduga kalau muridnya begitu giat dan tak mengenal lelah. Maka cepat-cepat, ia berseru, "Aji! Apa kita mau tidur dan makan di dalam air?"

"Kenapa?"
"Aku lapar! Ayo tolong aku mencari ikan." Sehabis berkata demikian, cepat ia menyelam dan menguber-nguber ikan sampai hampir menjelang senja. Mereka kemudian berbaring di tepi sungai sambil membakar ikan. Titisari ternyata pandai memasak. Dengan cekatan ia memetiki daun-daun dan dimasak menjadi sayur berikan.

Sangaji sudah memeras tenaga hampir sehari penuh dalam kubangan air, maka ia menggerumuti masakan itu seperti kuda.

"Kalau saja kita membekal nasi, alangkah sedap," katanya.
Mendapat ingatan itu, lantas saja mereka berbelanja di dusun. Membekal beras dan bumbu.
Kemudian melanjutkan perjalanan lagi.
Demikianlah, empat hari telah dilampaui dengan senang dan tidak ada halangan. Hanya saja pada malam hari, mereka selalu berjaga, karena suara yang pernah didengar senantiasa berada di dekatnya. Pada hari kelima, langit hitam tebal. Lalu terdengarlah suara dentuman guruh saling menyusul.

"Kamu takut, Titisari?" tanya Sangaji.
"Dulu aku pernah takut pada guruh. Dalam bayanganku, seolah-olah naga besar melingkar dan menyusur mega hitam. Kini... apa lagi sekarang, sama sekali tidak takut."

"Kenapa?"
"Karena aku dekat denganmu. Biarpun guruh itu benar-benar seekor naga raksasa sakti, aku tidak gentar. Karena apakah yang melebihi mati? Sekiranya naga itu menyerang, pasti kamu melawan sekuasa-kuasamu dan kalau kamu terpaksa gugur, akupun akan menuntut bela. Sekiranya aku bisa membunuh naga itu, aku akan mendaki gunung setinggi-tingginya sambil memapah jenazahmu. Kemudian akan kubawa meloncat ke jurang. Nah, dengan begitu kita akan selalu bersama dan tidak ada sesuatu kekuatan apa pun juga yang akan memisahkan kita."

Hebat pengaruh kata-kata itu yang diucapkan dalam suasana jagad dalam keadaan remang-remang hampir hujan. Sangaji begitu terharu, sampai menekan pergelangan tangan Titisari dan hampir saja diciumnya.

Hujan benar-benar turun sangat derasnya. Mereka tak memedulikan. Terus saja mereka melanjutkan perjalanan. Tapi tatkala malam hari tiba, mereka berteduh di sebuah gua (sebenarnya lebih merupakan kubangan tebing gunung) dan cepat-cepat mengeringkan pakaian. Titisari segera memasak air dan menanak nasi. Kemudian membakar beberapa ekor ikan sungai.

Tatkala hendak menyambal ikan itu akan dipenyetkan dalam sambel dengan jeruk pecel, mendadak ia mendengar suara langkah di luar mulut gua. Belum lagi ia memberi isyarat, Sangaji telah memipitkan diri di belakang dinding mulut gua. Tahu-tahu di depannya muncul seorang laki-laki berkepala botak yang terus saja tertawa menyeringai. Dialah Yuyu Rumpung penasihat sang Dewaresi.

"Hm... begini besar rejekimu sampai masih bisa masak ikan segala," katanya.
Sangaji terkejut setengah mati, sampai mulutnya tergugu. Sebaliknya Titisari lantas saja mendamprat.
"Eh... jadi baru malam ini kamu muncul terang-terangan. Rupanya hujan besar membuatmu gagal menepati siasatmu. Kamu terpaksa membatalkan rencanamu menguntit kami, bukan?"

"Hai bocah edan! Siapakah kawanmu ini? Begini cantik. Apakah dia bisa diganyang pula seperti ikan yang dibakar?"
Panas hati Sangaji, mendengar ucapan Yuyu Rumpung yang menghina Titisari. Biarpun sadar tenaga sendiri tiada unggulan, lantas saja ia menyerang.

Yuyu Rumpung kini telah pulih kembali seratus persen, tetapi sembilan bagian telah dimiliki. Karuan saja, begitu Sangaji melontarkan serangan dengan tertawa besar ia menangkap pergelangan tangannya dan dilontarkan balik.

Tubuh Sangaji terpental masuk ke dalam gua menubruk Titisari.

"Cepat minggir!" serunya gugup, karena merasa tak dapat menguasai diri.
"Mengapa mesti minggir?" sahut Titisari sambil menyambut. "Bukankah tidak ada yang bisa melebihi mati?"

Karuan saja, kena benturan tubuh Sangaji yang terpental karena dorongan tenaga Yuyu Rumpung, Titisari terpelanting sampai menumbuk dinding gua. Meskipun demikian, ucapannya menimbulkan semangat berjuang yang menyala dahsyat dalam dada Sangaji.

"Bagus! Tidak ada kekuatan manapun yang mampu memisahkan kita," seru Sangaji. Dan terus saja dia kembali menyerang.

Ia memang berwatak ulet, tabah dan tahan uji. Meskipun kena gempuran Yuyu Rumpung setiap kali ia menyerang, masih saja dia tidak jera. Bahkan dia berusaha sekuat tenaga agar bisa membobol mulut gua.

Titisari pun tak tinggal diam. Hanya saja dia cerdik. Dengan cekatan ia menerkam kayu pembakar dan hendak dipergunakan sebagai senjata, la tak memperdulikan ikan-ikan yang sedang dibakarnya. Sekonyong-konyong berkelebatlah bayangan putih. Bayangan putih itu, terus saja menyanggah maksud Titisari sambil berkata, "Eh—eh, sayang Nona! Sayanglah pada ikan-ikan itu!"

Terus saja bayangan putih itu sibuk menyalakan api dan menaruh ikan-ikan dengan hati-hati di atas bara. Titisari heran berbareng terkejut. Dengan tajam ia mengamat-amati bayangan putih itu. Ternyata ia adalah manusia yang berkulit putih.

"Ai... sayang-sayang! Rupanya Nona pandai membakar ikan! Teruskan membuat pecel lele! Jangan pedulikan bangsa cecurut itu."

Mendengar ucapan orang berkulit putih itu, sepercik harapan timbul dalam hatinya. Dasar ia cerdik dan cerdas, lantas saja bisa menebak bahwa orang berkulit putih itu bukan kawan Yuyu Rumpung. Pikirnya, di mulut gua Yuyu Rumpung berjaga-jaga dengan kuat dan sedang mengadu tenaga dengan Sangaji. Bagaimana orang ini tiba-tiba saja bisa melesat memasuki gua? Apa dia memiliki ilmu siluman?"

Mendapat pikiran demikian lantas dia berkata mencoba.
"Perkara membuat pecel lele, itu sih gampang. Tapi kawanmu itu mengotori gua dengan abu tanah begini rupa."
"Kawan yang mana?" dengus orang berkulit putih.
"Yang botak itu."

"Hm... orang seperti anjing kudisan itu, bagaimana bisa jadi kawanku? Suruh dia pergi dan menjauhi gua. Bilang aku si jembel tua yang memerintahkan!"

Titisari berbimbang-bimbang. Melihat Titisari berbimbang, orang berkulit putih itu lantas berkata lagi, "Bilang, burung gagak berbulu putih yang menghendaki."

Mendengar ucapan orang berkulit putih itu, sekonyong-konyong mata Titisari menyala berkilat-kilat. Serentak ia meloncat maju sambil membentak.

"Hai botak tua! Kamu diperintahkan pergi menjauhi gua. Gagak Seta yang perintah!"

Mendengar nama Gagak Seta, benar saja Yuyu Rumpung lantas saja berdiri tegak. Mukanya berubah hebat. Pucat dan ber-gemetaran.

"Apa kau bilang?" katanya dengan suara tertahan.

Belum lagi Titisari menjawab, Gagak Seta yang masih saja membungkuki ikan-ikan bakaran menyahut.

"Kau anjing, enyahlah cepat-cepat! Aku si jembel tua mau makan. Dan kau anak muda, wakili aku menggaplok botaknya tujuh kali."

"Menggaplok?" Sangaji menegas heran.
"Aku bilang gaplok, gaploklah! Tak bakal dia berani membalas atau mampu membalas."
Benar juga. Tatkala Sangaji mencoba-coba meraba pipinya, si botak tak berani berkutik. Maka ia benar-benar menggaplok. Kali ini lebih keras sampai mulut si botak mengeluarkan darah. Dan pada gaplokan yang ke enam, tiba-tiba Titisari berteriak, "Nanti dulu! Akupun tadi kena dipelantingkan, karena itu dia harus membayar."

Setelah berkata demikian, ia bukan lagi menggaplok tetapi menghantam dada Yuyu Rumpung pulang-balik sampai pendekar itu meringis kesakitan.

"Bagus! Bagus!" seru orang berkulit putih dengan gembira. "Kamu begitu bersemangat dan aku senang melihat seorang yang bersemangat. Nah, sekarang suruhlah dia pergi jauh-jauh!"

Tanpa diperintah lagi, Yuyu Rumpung lantas mengundurkan diri, setelah membungkuk dua kali. Sangaji heran luar biasa. Ia tahu, pendekar itu sangat galak dan ganas. Mengapa tiba-tiba dia menjadi begitu jinak? Apakah orang yang lagi membungkuki ikan itu majikannya?

"Hai Nona kecil! Apa kamu akan membiarkan ikan-ikanmu terbakar hangus?" teriak orang berkulit putih.

Sangaji menoleh ke Titisari dan ia tercengang-cengang lagi melihat kawannya itu begitu penurut. Percaya, kalau Titisari yang cerdik dan cerdas otak pasti sudah menemukan sesuatu hal yang beralasan, segera ia datang membantu. Tetapi baru saja, ia hendak berjongkok tiba-tiba orang yang menamakan diri Gagak Seta itu menolaknya.

"Jangan sampai kau sentuh ikan-ikan itu. Tanganmu akan mengotori dan merubah selera."
Kena dorong itu, Sangaji terkejut. Ia merasakan suatu tenaga dahsyat yang halus sehingga tiba-tiba saja tubuhnya sudah kena digeser pergi sampai memepet dinding. Teringat akan sikap Yuyu Rumpung yang tiba-tiba jadi jinak oleh suatu gertakan saja dan ia sendiri merasakan pula tenaga orang itu begitu dahsyat, mau tak mau ia harus bisa menempatkan diri.

"Paman! Apakah benar-benar Paman doyan sambel lele?" tiba-tiba Titisari berkata dengan suara riang dan ikhlas.
"Apa kamu merasa kurugikan?"
"Tidak! Sama sekali tidak! Aku hanya ingin minta ketegasanmu. Kalau Paman doyan ikan lele, biarlah esok hari aku menangkap yang lebih banyak lagi. Dan aku akan memasakkan Paman yang istimewa."

"Eh Nona kecil! Aku singgah kemari karena kebetulan saja. Sewaktu aku lagi mengutuki hujan tiba-tiba aku mencium bakaran ikan."

Dengan cekatan Titisari melayani orang itu. Ia membakar terasi yang segera menusuk hidung sangat tajam, sampai orang kulit putih itu mulutnya jadi berliur.

"Wah cepat! Cepat!" orang itu menjerit-jerit. "Aku bisa mati kausiksa."

Titisari tertawa geli menyaksikan perangai orang kulit putih itu. Tatkala ia mendengar, bahwa orang itu bernama Gagak Seta, teringatlah dia akan tutur-kata ibunya. Orang itu pernah bertanding melawan ayahnya mengadu kepandaian. Masing-masing tiada yang kalah atau menang. Tadi, sewaktu ia melihat orang bule bisa masuk ke dalam gua seperti kelelawar sampai bisa menerobos penjagaan Yuyu Rumpung, ia sudah curiga.

Karena ciri khas pribadi Gagak Seta itu ialah warna kulitnya yang putih. Ayahnya sering menyebutnya sebagai si jembel bule. Ia adalah salah seorang dari tujuh tokoh sakti pada zaman itu. Pertama, Kyai Kasan Kesambi. Kedua, Pangeran Mangkubumi I. Ketiga, Adipati Surengpati. Keempat, Kyai Haji Lukman Hakim. Kelima, Gagak Seta. Keenam, Kebo Bangah. Dan ketujuh, Raden Mas Said yang terkenal dengan Pangeran Samber Nyawa. Mengingat dia menduduki urut nomor lima, bisa dibayangkan betapa tinggi kepandaiannya bahkan kini, sesudah Pangeran Mangkubumi I, Kyai Haji Lukman Hakim dan Pangeran Samber Nyawa sudah wafat, ia menduduki nomor urut yang ketiga. Sebenarnya nomor urut itu adalah tutur-kata orang belaka. Andaikata keempat tokoh sakti itu saling bertempur mengadu kepandaian tidak salah seorang yang bisa memperoleh tingkat tertinggi. Masing-masing memiliki gegebengan sendiri yang sudah mencapai tingkat sempurna.

Waktu itu Titisari selesai mempenyet tiga ekor ikan lele dan diserahkan dengan senyum ikhlas kepada Gagak Seta. Ternyata Gagak Seta seperti orang sebulan tidak makan. Begitu dia mencium bau ikan, terus saja tangannya menyambar dan dengan serakah dijejalkan ke dalam mulutnya, la makan begitu bernafsu, sampai ketiga ekor lele itu lenyap hingga ke tulang-tulangnya.

"Bukan main! Bukan main!" serunya memuji. "Entah kau ini anak iblis, anak setan atau anak malaikat! Tanganmu begitu sedap, sampai aku benar-benar merasa takluk. Hai, bagaimana kamu bisa membuat ikan kali ini begini nikmat? Setua ini, belum pernah aku merasakan suatu kenikmatan seperti hari ini."

Titisari tertawa dan ia menyodorkan dua ekor ikan lagi yang sebenarnya adalah bagiannya dan bagian Sangaji.

"Ah! Bagaimana aku..." Gagak Seta menolak. "Kamu berdua belum makan..." Tetapi mulutnya berkata demikian, tangannya sudah menyambar dan sebentar saja dua ikan lele itu telah habis digerogoti. Setelah itu dia berjungkir-balik sambil menekan perutnya.

"Hai perut edan! Perut bangsat! Bagaimana kamu berani menggaglak milik orang!"

Mula-mula Sangaji heran menyaksikan perangai orang itu. Berdiam diri ia beradu pandang dengan Titisari. Tetapi begitu mendengar ucapannya, mau tak mau ia tersenyum geli.

"Hai anak muda!" tiba-tiba Gagak Seta berdiri tegak di depannya sambil merogoh kantongnya, ia berkata lagi, "Kulihat tadi, kamu belum kebagian. Berapa aku mesti bayar?"

"Aku bukan seorang penjual makanan," jawab Sangaji sederhana. "Seumpama aku pun seorang penjual makanan, terhadapmu tak bakal kuminta uang. Kamu kuanggap sebagai sahabat."

"Eh, mana bisa begitu? Malam ini hujan badai. Malam begini ini, enaknya makan serba hangat dan minum."
"Aku takkan mati kelaparan, karena tidak makan ikan lele sekali saja." Sangaji tersenyum.
Gagak Seta tertawa lebar. Dengan agak sungkan, ia berkata, "Inilah sulit. Selama hidupku, tak pernah aku menerima budi seseorang. Meskipun aku seorang jembel."

"Apakah arti lima ikan lele? Lagi pula kami tidak membelinya. Kami hanya mengambil dari sungai. Kalau kamu ingin membalas budi, nah lemparkan uangmu ke dalam sungai."

Gagak Seta terkekeh-kekeh. Mendadak Titisari menyambung.

"Kamu tadi ingin menikmati minuman hangat pada malam hari begini? Bagus! Tunggulah barang sebentar! Aku akan memasak kopi untukmu."

"Hai! Hai! Jangan! Jangan! Bagaimana aku bisa menerima pemberianmu?" teriak Gagak Seta. Tetapi sekali lagi mulutnya mengucap demikian, tangannya lantas saja mengeluarkan tempurung usang dari dalam ikat pinggangnya dan terus diangsurkan kepada gadis itu.

Titisari tersenyum geli sambil mengerlingkan mata kepada Sangaji. "E-hem! Anak muda!" kata Gagak Seta kepada Sangaji. "Apakah dia isterimu?"
Merah muka Sangaji mendengar pertanyaan itu. Belum lagi dia menjawab, Gagak Seta meneruskan. "Dia begitu pintar dan cekatan. Kau sangat beruntung! Hm... sekiranya dulu ada yang sudi jadi istriku dan kemudian mempunyai anak gadis seperti dia, tanggung kukantongi selama hidupku. Kau tak bakal bertemu, anak muda. Eh, siapa namamu?"

Sangaji hendak membuka mulut, tetapi sekali lagi Gagak Seta memotong.
"Kulihat tadi kedua kudamu kehujanan di luar. Apa kamu mau membiarkan binatang-binatang itu sakit perut?"

Teringat akan kudanya, Sangaji terkejut. Ya, kedua kudanya tadi belum lagi diteduhkan ke dalam gua. la hanya mencencangnya begitu saja di bawah mahkota dedaunan. Sama sekali tak terpikirkan, kalau mahkota dedaunan belum tentu dapat melindungi deras hujan turun terus-menerus tiada hentinya. Serentak ia meloncat dan melesat ke luar gua. Hujan deras tak diacuhkan, Pakaiannya yang kotor kena debu gua sewaktu berkelahi tadi, cepat jadi basah kuyup.

Gagak Seta mengawaskan dengan meng-urut-urut jenggotnya yang berwarna kelabu. Berkata kepada Titisari, "Apa dia suamimu?"

Tadi Titisari mendengar Gagak Seta menegas kepada Sangaji tentang hubungannya. Gadis itu ingin sekali mendengarkan jawaban Sangaji. Kini, di luar dugaannya dia pun menghadapi suatu pertanyaan yang mestinya mudah, tapi tiba-tiba begitu sulit. Sampai otaknya yang cerdaspun tak kuasa menjawab. Mau dia mengiakan, mendadak saja jantungnya ber-degupan.

Gagak Seta tidak mendesak. Ia hanya tertawa perlahan sambil berputar menghadap padanya. "Anak muda itu seperti tabiatku."

"Apakah yang sama?" Titisari menyahut sulit mengatasi perasaannya.
"Agak ketolol-tololan, seperti masa mudaku. Mungkin otaknya bebal. Coba lihat! Terhadap binatang saja, dia berani membiarkan dirinya kehujanan. Apakah kekuatan tubuhnya jauh lebih kuat daripada kuda?"

Orang tua itu lantas tertawa terkekeh-kekeh.
"Justru demikian, aku senang berkawan dengan dia," Titisari membela.
"Hai! Kawan?"
"Mengapa? Kalau terhadap binatang saja dia begitu memperhatikan, terlebih-lebih terhadap seorang manusia."
"Bagus!" Gagak Seta tertawa menggelora.
"Mengapa kamu tertawa?"

"Aku ingin tertawa dan tertawalah aku. Siapakah yang melarang orang tertawa?" Gagak Seta menyahut cepat. Kemudian berkata kepada dirinya sendiri. "Alangkah untung kawanmu itu... eh suamimu... eh kawanmu. His! His! Kurangajar mulut ini."

Tahulah Titisari, bahwa orang tua itu sedang menggoda padanya. Sekaligus merahlah mukanya dan hatinya jadi mendongkol. Hanya aneh, dalam hati kecilnya terbersit rasa syukur yang membahagiakan. Tetapi seorang perempuan bukanlah perempuan, apabila tak bisa main sandiwara. Maka dengan wajah cemberut ia mengangsurkan tempurung Gagak Seta kepada pemiliknya kembali.

"Baik. Terimalah harta-bendamu ini kembali. Aku tak mau memasakkan kopi bagimu."
"Hai! Hai! Mengapa?" Gagak Seta terkejut.
"Tak senang aku kauolok-olok."
"Siapa yang mengolok-olok?"
"Kau tadi ngomong apa?"
"Itu kan mulutku. Dan mulutku bukan aku!"

Gagak Seta membela diri sungguh-sungguh. Dan mau tak mau Titisari tertawa geli juga dalam hati, menyaksikan perangai orang itu yang aneh. Pikirnya, memang benar kata orang. Bahwasanya orang yang berilmu tinggi seringkali mempunyai tabiat-tabiat dan kebiasaan-kebiasaan yang aneh serta edan-edan-an. Maka ia mengurungkan niatnya dan segera ia membungkuki perdiangan memasak kopi.

Dalam pada itu, Sangaji telah memasukkan kedua kudanya. Karena tiada tonggak atau batu yang mencongakkan diri dari dinding gua, terpaksa ia menghunus pedang pemberian Mayor Willem Erbefeld dan ditancapkan ke tanah dengan sekali tetak. Kemudian ia mengikat kendali kedua kudanya sekaligus.

"Hai anak muda! Apa kamu mau tidur bersama kuda?"
"Apakah sekiranya mengganggu Paman?" balas Sangaji bertanya.

"Tidak! Tidak! Sama sekali tidak!" Gagak Seta menyahut dan terus berbaring di tanah. Sebentar saja ia mendengkur bagaikan babi hutan.
Heran Sangaji mengamat-amati. Kemudian dengan berjingkat-jingkat ia menghampiri. Sekali lagi ia memeriksa dan mengamat-amati. Dan benar-benar orang tua itu tidur mendengkur.

Aneh, pikirnya, la habis berbicara dengan suara kuat. Lalu dengan tiba-tiba bisa tertidur begitu gampang. Ilmu apakah ini? Tertarik kepada tingkah-laku Gagak Seta yang aneh itu.

"Kukira dia benar-benar tidur," kata Titisari yakin. "Ayahku pernah membicarakan tentang suatu ilmu penutup panca-indera yang bisa tahan terhadap segala senjata tajam atau racun. Ilmu itu namanya Keyong Buntet. Aku sendiri belum pernah menjumpai seseorang yang berilmu demikian. Tetapi mengingat dia pernah bertempur berkali-kali melawan Ayah, pastilah ia bukan orang sembarangan."

"Dia?"
Titisari mengangguk.
"Apakah perkaranya?" Sangaji minta keterangan.

"Itulah soal orang-orang tua. Kamu kenal nama-nama tokoh sakti pada zaman ini? Yang pertama, Kyai Kasan Kesambi. Kemudian ayahku. Kemudian dia—Gagak Seta. Dan keempat, Seorang tokoh dari perbatasan Jawa Barat. Nama gelarnya Kebo Bangah."

Hai! Apakah dia Gagak Seta yang pernah dibicarakan guruku? pikir Sangaji. Hatinya terkesiap. Lantas saja dengan hormat ia menjauhi. Berkata pada Titisari setengah berbisik, "Dulu aku pernah mendengar Ki Tunjungbiru menyebut-nyebut namanya tatkala berjumpa dengan kedua guruku. Ah! Inilah anehnya!"

"Apakah di jagad ini ada sesuatu peristiwa yang kebetulan? Kenapa aku bisa berjumpa dengan dia?"

Titisari tidak menjawab. Dengan berdiam diri ia menyiduk air panas dengan tempurung Gagak Seta. Kemudian menghampiri orang tua itu.

"Hai, kau mau apa?" Sangaji terkejut.
"Ingin kutahu, apakah benar-benar Gagak Seta dan apakah dia benar-benar memiliki ilmu Keyong Buntet," sahut Titisari. "Sekiranya dia berilmu Keyong Buntet, pastilah kulitnya tidak mempan dan dia pun tidak bergeming, sekiranya tidak memiliki, pastilah dia bisa menghindari sebelum air mendidih ini menyiram tubuhnya."

Dan berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan ia menyiramkan air panas itu. Sangaji terkesiap bukan kepalang. Mau ia meloncat mencegah sedapat-dapatnya. Mendadak saja ia melihat suatu keanehan. Orang tua itu seperti tak mempunyai rasa. la tetap tidur mendengkur dan tubuhnya tak bergeming.

Semenjak kanak-kanak, Sangaji hidup di Jakarta dan bergaul rapat dengan kompeni-kompeni Belanda. Sedikit banyak, cara berpikir orang-orang Barat terekam juga dalam benaknya. Terhadap ilmu-ilmu sakti, tak pernah ia mendengar kabar. Kecuali tatkala bertemu dengan Panembahan Tirtomoyo dan mendapat keterangan daripadanya. Namun demikian, tak pernah ia yakin bahwa ilmu yang disebutkan Titisari benar-benar bisa membuat kulit daging begitu kebal. Pikirnya, apakah benar ilmu itu yang melindungi tubuhnya atau dia penjelmaan siluman?

Sambil berjalan kembali ke perdiangan, Titisari berkata, "Aji! Barangkali kamu belum pernah melihat wayang kulit."

"Ya. Kenapa?"
"Kalau kamu sekali melihat, kutanggung akan tertarik. Sebab di sana kamu akan mengenal banyak sekali tokoh-tokoh sakti yang disebut orang, Ksatria. Seorang ksatria mengutamakan kegesitan yang kecerdasannya apabila bertempur melawan raksasa. Dia cekatan dan berusaha jangan sampai kena sentuh. Itulah ilmu yang kita pelajari dan kita kenal pula. Tetapi di samping itu, ada pula suatu ilmu sebagai pagar diri. Yakni, ilmu kekebalan yang disebut ilmu Kedotan. Barangsiapa memiliki ilmu itu tak gampang-gampang bisa dilukai senjata. Itulah yang belum pernah kaukenal. Kau percaya tidak?"

Perlahan-lahan Sangaji duduk berjongkok sambil mengamat-amati tubuh Gagak Seta. Berkata setengah berbisik, "Pernah aku mendengar pengertian itu dari Panembahan Tirtomoyo."

"Dan kamu sangsi, bukan?"
"Ya."
"Sekarang kamu telah menyaksikan kejadian aneh di depan matamu. Bagaimana penda-patmu?"

Sangaji tak cepat menjawab, la seperti lagi bergulat penuh selidik. Akhirnya berkata sambil melepas napas.

"Titisari! Entahlah! Otakku bebal dan aku merasa dungu. Bagiku... kalau aku sendiri belum memiliki dan merasakan sendiri pula, rasanya aku belum bisa mengiyakan. Entahlah... mengapa aku mempunyai pendapat demikian? Tak salah bukan?"

Titisari meruntuhkan pandang ke perdi-angan. la membungkam. Meskipun otaknya cerdas luar biasa, bagaimana dia bisa mengadili ucapan Sangaji yang dinyatakan dengan jujur. Sangaji sendiripun tak pernah mengira kalau pernyataan itu dikemudian hari akan terjadi. Dia tidak hanya memiliki ilmu semacam itu, bahkan akan memiliki suatu ilmu tertinggi di jagad ini.

Waktu itu, air telah mendidih benar-benar. Dengan cekatan Titisari mengaduk bubuk kopi. Harum kopi mengasap ke seluruh ruang goa. Mendadak saja, hidung Gagak Seta ber-gerak-gerak. Belum lagi Titisari selesai mengadukkan gula, orang tua itu sudah melesat dan sekaligus menyambar tempurungnya.

"Harum! Harum! Eh, Hidungku! Hm... kau percaya tidak anak muda? Hidungku ini nyaris kupotong sendiri karena begitu galak."

Sangaji dan Titisari terperanjat. Sama sekali mereka tak mengira, orang tua itu bisa bangun dengan sekonyong-konyong. Tadi ia tak bergeming karena siraman air panas. Tapi dengan hawa kopi hangat belaka, hidungnya bisa mengajak bangun. Ini aneh dan menggelikan.

Mau tak mau, kedua pemuda itu sibuk menduga-duga pribadi pendekar sakti tersebut.
"Ah, Nona kecil! Benar-benar aku takluk padamu," kata Gagak Seta setelah menghirup kopinya. "Hm, begini lezat. Sepuluh tahun lamanya aku pernah mengaduk-aduk dapur istana Kasunanan dan Kasultanan. Tak pernah sekali juga, aku menikmati kopi sehebat ini. Barangkali benar-benar kamu anak iblis."

Setelah berkata demikian, ia tertawa terkekeh-kekeh. Kemudian dengan mulut se-rabutan ia mencoba menghirup habis kopinya.

Titisari waktu itu membuat tiga tempurung kopi. Sebenarnya satu untuk Sangaji dan lain untuknya sendiri. Tetapi ketika melihat keserakahan Gagak Seta, ia menyerahkan kopinya. Bahkan Sangaji dengan hormat berbuat demikian juga.

"Hai! Apa kalian akan menyuapku?" tegur Gagak Seta seperti uring-uringan. Tetapi ia menerima juga suguhan. Dan dengan sekali hirup, ia menghabisi riwayat kopi hangat pada malam hari itu.

"Hai! Hai! Perutku!" Gagak Seta menyesali perutnya sendiri. Lantas ia mengeluarkan seonggok tembakau dan seikat kelobot.

Dengan penuh kepuasan, ia menggulung sebatang rokok raksasa dan disumpalkan ke dalam mulutnya. Sangaji melompat ke perdiangan menolong menyalakan, kemudian duduk dengan takzim di depannya.

"Hm," dengus Gagak Seta sambil mengepulkan asap ke udara. "Aku tahu, kalian begini bersikap baik kepadaku karena mempunyai maksud yang tidak baik. Kalian mau menyuapku, agar aku sudi mengajari sesuatu ilmu bukan?"

Sangaji hendak membantah, mendadak ia melihat pandang mata Titisari memberi isyarat kepadanya. Karena itu ia batal sendiri.

"Baiklah! Tak mengapa. Aku telah menenggak kopi dan semua ikan kalian. Rasanya kurang adil, jika aku tak membayar dengan sepantasnya. Nah, aku ingin kalian memperlihatkan kepandaian macam apa kepadaku."

Sangaji menoleh kepada Titisari minta pertimbangan. Gadis itu mengangguk kecil. Dan mereka berdua lantas berdiri.

"Paman!" tiba-tiba Titisari berkata, "Sama sekali tak kuduga bahwa Paman seorang jahat."

"Jahat?" Gagak Seta heran. "Paman berpura-pura tidur untuk mendengarkan pembicaraan kami bukan?"

Sebentar Gagak Seta terhentak. Kemudian menangkis, "Baik. Aku mendengar semua pembicaraanmu, Apa salahnya?"

"Bagus!" Titisari membalas. "Kami pun menyuguh seseorang sekedarnya, karena kami hanya mempunyai beberapa ekor ikan lele, sambel dan kopi. Tapi Paman mengatakan tidak baik. Manakah yang tidak baik."

Kembali Gagak Seta terhenyak. Kemudian tertawa meledak.

"Iblis kecil! Kau benar-benar licik!" serunya, "Baiklah, aku mengaku kalah. Tetapi seumpama orang membayar, aku masih kurang satu lagi. Aku menggerogoti ikan-ikanmu dan kalian sudah menagih bayarannya dengan menyiram air panas. Aku telah menghirup habis kopimu... Nah, untuk ini aku belum membayar. Sekarang mau kutebus dan kubayar hutang itu. Karena aku tak sudi berhutang budi pada kalian."

"Paman sudi membayar, juga baik. Tidak membayar pun, baik pula."
"Kenapa?"
"Sebab dalam hal ini tidak ada jual-beli. Kalau aku menyiram air panas, bukan maksudku menagih bayaran. Sama sekali tidak! Tapi semata-mata, karena ingin mendapat keyakinan apakah Paman benar-benar tokoh sakti bernama Gagak Seta."

"Apa ada yang bakal memalsu?" Gagak Seta memotong.
"Apa ada Gagak Seta palsu?" Titisari tak mau mengalah.
"Di manakah Gagak Seta palsu?" Gagak Seta tersinggung.

"Kalau Paman sudah yakin tidak Gagak Seta palsu, mengapa Paman membicarakan perkara palsu dan tulen?"

Untuk  ketiga  kalinya,  Gagak     Seta  terhenyak,  la  mengamat-amati  Titisari  secermat-cermat.
Kemudian tertawa berkakakan.

"Belut kecil! Benar-benar kamu seperti anak iblis!" serunya kagum. Kemudian mengalihkan pembicaraan, "Baik! Nah, kamu anak muda, siapakah namamu?"

Sangaji yang semenjak tadi berdiam diri, kemudian menjawab, "Namaku Sangaji. Dan dia Titisari."
"Hm, nama bagus! Kamu mau minta pelajaran ilmu apa? Bilang! aku akan mengajarimu sejurus dua jurus sampai bisa."

Sangaji diam berpikir. Tak tahu dia apakah yang harus dikemukakan. Dalam soal ilmu kepandaian tata-berkelahi sesungguhnya pengetahuannya kurang luas. Maklumlah, dia hanya menjadi murid Jaga Saradenta dan Wirapati dalam waktu empat tahun saja.

Selama itu—karena tergesa-gesa, kedua gurunya tak pernah memberinya pengertian tentang macam ilmu yang berada di persada bumi ini.

"Paman Gagak Seta." Tiba-tiba Titisari menolong dia berbicara. "Dia ini seorang laki-laki yang sok uring-uringan. Dia gampang marah. Kalau dia kalah bertanding melawanku, dia menggeremengi aku sepanjang hari sampai kupingku ngeri dibuatnya."

"Hai! Kapan aku pernah menggere-mengimu... ?" Sangaji memotong tergegap-gegap. Tetapi kakinya terus digencet Titisari, sehingga tahulah dia bahwa kawannya itu sedang mengarang cerita burung. Maka terpaksa ia membungkam mulut.

Gagak Seta tertawa. Sebagai seorang tokoh sakti tahulah dia, bahwa gadis cilik itu sedang mencari alasan untuk menutupi kedunguan Sangaji dalam lapangan ilmu berkelahi. Tetapi ia berdiam membungkam mulut.

"Kulihat gerak-gerik kalian, bukan seorang segoblok kerbau. Paling tidak, kalian sudah pernah belajar berkelahi lima tahun. Sekarang, coba kalian bertempur! Ingin aku melihat."

Titisari segera mengajak Sangaji berkelahi. "Ayo, Aji! Kita bertempur."
"Bertempur?" Sangaji berbimbang-bimbang.
"Ya. Bertempur! Kalau kamu tak memperlihatkan seluruh kepandaianmu, bagaimana Paman Gagak Seta sudi mengajarimu?"

Sangaji menyahut setelah sejurus diam menimbang-nimbang.
"Tetapi... kalau aku tak becus, janganlah menyalahkan guruku. Semua itu terjadi karena ketololanku. Paman Gagak Seta, berilah aku petunjuk-petunjuk yang berguna bagiku."

Gagak Seta tersenyum menjawab, "Memberi petunjuk satu dua jurus, tak mengapa. Tetapi memberi petunjuk lebih dari lima jurus, itu lain perkara."

Sangaji heran mendengar jawaban orang itu. Tetapi belum sempat ia berpikir, mendadak saja Titisari telah menyerangnya sungguh-sungguh.

"Awas!" gertaknya.
Sangaji benar-benar diserangnya bertubi-tubi. Karena tidak berniat berkelahi bersungguh-sungguh, maka ia kena gebuk empat kali beruntun.

"Berkelahilah yang sungguh-sungguh! Paman Gagak Seta bukan orang sem-barangan. Dia tahu, kamu berkelahi dengan sungguh-sungguh atau tidak," bisik Titisari.

Karena bisikan itu, terbangunlah semangat Sangaji. Maka ia terus saja menangkis si gadis dan sekali-kali melepaskan serangannya. Dalam hal tenaga dan keuletan, Sangaji menang jauh daripada Titisari. Maklumlah, selain watak asli, Sangaji telah menghisap getah pohon Dewadaru. Gerakannya gesit dan kuat. Setiap pukulannya mengandung per-bawa. Tetapi Titisari pun bukan seorang gadis sembarangan. Dia anak Adipati Karimun Jawa Surengpati. Meskipun belum sempurna setidak-tidaknya ia pernah mendapat didikan dan asuhan ayahnya. Karena itu, gerak-geriknya luar biasa aneh dan gesit, la mengenal macam-macam ilmu. Tatkala ia kena desak, mendadak saja dua tangannya ditarik seolah-olah meringkaskan diri. Kemudian di luar dugaan, ia menyapu tubuh Sangaji dari bawah.

"Bagus!" puji Gagak Seta gembira. "Kamu siluman cerdik."

Sangaji kena hantam beberapa kali, tetapi ia belum mampu membalas. Maka ia mau mendesak Titisari dengan sungguh-sungguh. Tenaganya berlipat ganda. Dalam tubuhnya seakan-akan ada suatu bendungan air yang hendak membobol tanggul. Hanya sayang, ia belum pandai menyalurkan. Itulah sebabnya, tenaga yang dahsyat hanya tersekap dalam tubuh seperti air bergolak. Sekalipun demi-kian, ia nampak bersemangat. Beberapa kali ia merangsak dan mendesak. Kini, Titisari benar-benar repot. Seumpama bertempur benar-benar ia akan dapat dikalahkan Sangaji dalam waktu tiga jam lagi. Maklumlah, tena-ganya takkan mampu menandingi tenaga getah Dewadaru. Gagak Seta sendiri, diam-diam heran, pikirnya, anak goblog ini seperti punya mukjizat. Eh, mukjizat apa yang dimi-likinya?

Sejalan dengan pikirannya, ia melihat Titisari kena desak Sangaji sampai ke pojok. Mendadak saja di luar dugaan, gadis itu me-ngeluarkan ilmu simpanannya ajaran khas dari ayahnya. Itulah ilmu "Meninju Odara Kosong" yang terkenal dengan sebutan "Ilmu Gora Mandala." Seseorang yang sudah mahir ilmu ini akan dapat mementalkan seekor kerbau dari jarak dua puluh langkah._ Bisa diba-yangkan betapa dahsyat ilmu ini. Konon pada zaman dulu, yang terkenal

memiliki ilmu ini adalah pahlawan Majapahit Kasan-Kusen dan Adipati Jipang Panolan Arya Penangsang. Mereka diceritakan bisa menggugurkan gunung dengan sekali hantam dari jarak jauh.

Itulah sebabnya, begitu Titisari mengeluar-kan ilmu dahsyat simpanannya, lantas saja ia bisa mengatasi kekalahannya. Untung, dia belum mahir. Bahkan belum menguasai sepertujuh bagian. Karena itu hanya dapat membuat Sangaji repot karena gerakan-gerakan dan jurus-jurus yang aneh luar biasa. Enam kali ia berhasil menghantam tubuh Sangaji. Kemudian meloncat ke luar gelanggang sambil tertawa.

"Titisari, kamu hebat!" Sangaji kagum. Matanya berkilat-kilat karena girang.
Waktu itu Gagak Seta mengerenyitkan dahi.
"Ayahmu memiliki ilmu kepandaian yang jarang ada tandingnya di jagad ini. Mengapa kamu menghendaki aku mengajar dua tiga jurus kepadamu? Apa kamu mau mengolok-olokku?" katanya dengan suara dingin.

Titisari terperanjat. Pikirnya, darimana dia mengenal ilmu ayahku? Bukankah Ilmu Gora Mandala ciptaan ayah sendiri? Sehabis berpikir demikian, segera ia bertanya, "Paman! Apakah Paman kenal ayahku?"

"Mengapa tidak?" sahut Gagak Seta dengan suara agak keras. "Dia iblis! Siluman dari Ka-rimun Jawa. Sedangkan aku dijuluki orang Gagak Seta. Meskipun namaku sebenarnya, Saring. Kami pernah bertempur setiap setahun sekali untuk menguji kepandaian."

Titisari heran. Sebagai anak Adipati Surengpati tahulah dia, bahwa ayahnya sangat ditakuti orang. Ilmunya tinggi dan belum pernah bertempur melawan seseorang melebihi tiga jurus. Karena itu diam-diam ia berpikir, dia pernah bertempur beberapa kali melawan Ayah. Dia masih tetap segar bugar. Kalau tak memiliki ilmu tinggi, bagaimana mungkin bisa bertanding melawan Ayah. Kemudian ia mencoba.

"Paman! Bagaimana Paman bisa mengenalku?"

"Kalau aku belum mengenalmu sebelumnya, bagaimana aku berani menyebut dirimu sebagai anak iblis. Coba, larilah kamu ke danau. Jengukkan mukamu ke permukaan air. Pandang matamu, bentuk mukamu dan alismu, bukankah seperti wajah siluman dari Karimun Jawa? Apa lagi setelah melihat cara berkelahimu. Hm, meskipun belum pernah aku berjumpa denganmu, tetapi ilmu Gora Mandala itu takkan muncul di depan mataku, apabila bukan keluarga siluman dari Karimun Jawa. Di seluruh jagad ini, hanya ayahmu yang memperdalamnya."

Titisari mendongkol, mendengar Gagak Seta selalu menyebut ayahnya sebagai siluman, tetapi ia tahu kalau sebutan itu sebenarnya adalah tata-sikap menghargai ayahnya. Maka ia bisa berlagak tak menghiraukan.

"Paman selalu menyebut ayahku sebagai siluman. Maksud Paman hendak berkata bahwa ayahku hebat bukan?"

"Memang ayahmu hebat!" sahut Gagak Seta dingin. "Tetapi dia bukanlah nomor wahid di kolong langit ini."

Titisari melompat kecil karena girang dan bangga, katanya nyaring.

"Kalau begitu, Pamanlah orang nomor wahid di kolong langit ini."

"Itu pun bukan," bantah Gagak Seta. "Pastilah kamu pernah mendengar, bahwa di kolong langit ini ada tujuh orang yang terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti. Bih! Inilah gelar berlebih-lebihan. Kami, Kyai Kasan Kesambi, Mangkubumi 1, Pangeran Samber Nyawa, Kebo Bangah, Kyai Haji Lukman Hakim, ayahmu dan aku adalah manusia-manusia biasa yang terdiri dari darah dan daging. Kami hanya memiliki suatu kepandaian sedikit dan pada suatu kali pernah mengadu kepandaian. Ternyata yang kami akui nomor satu ialah Kyai Kasan Kesambi. Dan kedua Pangeran Mangkubumi 1."

"Siapakah Kyai Kasan Kesambi?" Titisari minta keterangan.
"Apakah ayahmu tak pernah membicarakan dia?" Titisari menggelengkan kepala.
"Aku tahu," tiba-tiba Sangaji menyela.
Titisari dan Gagak Seta menoleh padanya. Mereka nampak heran.
"Darimana kamu tahu!" Titisari bertanya.
"Guruku bernama Wirapati. Menurut guru, Kyai Kasan Kesambi adalah gurunya. Jadi dia adalah kakek-guruku."

"Hai!" Gagak Seta terperanjat. "Jika demikian, kalian ini minum air dari suatu sumber hebat! Mengapa kalian minta pengajaran dari-padaku?"

"Benar ayahku seorang berilmu tinggi, tapi dia terlalu angkuh," kata Titisari. "Aku bahkan diusirnya pergi."

"Hai! Hai! Siluman itu bertambah hari bertambah sesat!" maki Gagak Seta.
Titisari tak senang mendengar Gagak Seta memaki ayahnya.

"Dia adalah ayahku. Tak senang aku mendengar Paman memaki Ayah sebagai siluman sesat."

Gagak Seta tercengang mendengar teguran Titisari. Kemudian tertawa berkakakan sambil berkata, "Bagus! Bagus! Inilah namanya si anak berbakti kepada orangtua. Tetapi orang-tua menyia-nyiakan si anak."

Sehabis berkata demikian, ia menoleh kepada Sangaji. "Hai anak tolol! Kamu mengaku cucu-murid Kyai Kasan Kesambi. Tapi kamu tak dapat berkelahi dengan baik. Entah kakekmu itu hendak mendidikmu sebagai pendeta atau memang kamulah yang goblok."

"Akulah yang goblok," sahut Sangaji.
Gagak Seta terhenyak heran. Sebentar ia mengamat-amati pemuda itu. Kemudian berkata sambil memanggut-manggut kecil.

"Tahulah aku kini. Anak murid Kyai Kasan Kesambi sudi mengambilmu sebagai murid, karena kamu seorang berhati jujur. Tapi sayang... menjadi seorang pendekar tidak hanya mengutamakan kejujuran belaka, la harus sanggup mengatasi segala hal. Tidak hanya yang nampak terang, tetapi yang busuk pun harus bisa melihat dan mengatasi dengan sekali pandang. Bakatmu sangat miskin. Karena itu aku heran, mengapa puteri seorang Adipati Karimun Jawa sudi berkawan dengan-mu.

Sangaji tak bersakit hati. Dia malah tertawa. Titisari pun tidak tersinggung pula. Dengan merendahkan diri dia menyahut, "Paman! Justru dia tolol, aku senang bila dia bisa berkawan dengan Paman. Ayahku belum pernah melihat dia. Kelak apabila melihatnya, pastilah kawanku ini bisa membanggakan diri sebagai teman Paman Gagak Seta. Aku tanggung, ayahku akan segan begitu mendengar kawanku menyebut nama Paman Gagak Seta."

"Iblis kecil!" maki Gagak Seta. "Kepandaian ayahmu belum kauwarisi sepersepuluh bagian. Tetapi sifat iblisnya telah kauwarisi seluruhnya. Apakah aku begitu tolol sampai kena kausan-jung puji? Kau berdua tak pantas menjadi kawanku. Yang satu goblog dan yang lain anak iblis. Selamat malam."

Sehabis berkata demikian, dengan suatu kesehatan luar biasa ia menyambar tempurungnya.
Dan tahu-tahu tubuhnya telah melesat ke luar gua.
Sangaji tercengang-cengang sampai mulutnya terlongoh. Dia berdiri tertegun mengawasi melesatnya Gagak Seta.
"Titisari!" katanya sejurus kemudian. "Benar-benar dia seorang yang luar biasa. Tabiatnya pun luar biasa pula."
"Sebenarnya dia seorang yang baik hati. Hatinya mulia pula," sahut Titisari sambil duduk terhenyak seperti menghempaskan diri. Tetapi sesungguhnya dia seorang gadis yang cerdik luar biasa. Dengan ketajaman matanya, ia melihat kuping Willem dan kawannya tegak. Suatu tanda, bahwa binatang itu melihat sesuatu.

Telah diketahui bahwa ketajaman indera binatang jauh lebih tajam daripada indera manusia. Maka ia menduga, kalau Gagak Seta belum meninggalkan gua sungguh-sungguh. Mempunyai dugaan demikian lantas saja dia berkata seperti menyesali diri.

"Aji! Dengan sebenarnya kukatakan kepadamu, ilmunya lebih tinggi daripada Ayah. Sayang, dia terlalu cepat meninggalkan kita..."

Sangaji heran.
"Kamu belum pernah menyaksikan macam kepandaiannya. Mengapa kamu bisa berkata demikian?"
"Ayahku sering berkata kepadaku."
"Apa katanya?"

"Ayahku berkata, bahwa pada zaman ini orang yang bisa mengalahkan dia hanya Paman Gagak Seta seorang. Kyai Kasan Kesambi pun tak mampu. Sebab orang tua itu sudah menarik diri dan hidup sebagai pertapa belaka. Sayang! Sungguh sayang! Sekiranya kita bisa memperoleh warisan kepandaiannya, ayahku yang mengusirku akan terkejut bila melihat ke-pandaianku. Pasti dia tak berani sembrono lagi mengusirku."

Dugaan Titisari benar-benar tepat. Gagak Seta belum meninggalkan gua. Memang tadi, ia hendak meninggalkan gua. Tetapi hujan belum lagi reda dan ia tahu, kalau sekitar tempat itu tidak ada gua lagi. Maka dia memepet dinding mulut gua sambil memasang telinga. Inginlah dia tahu, apa yang dibicarakan anak iblis itu. la yakin, bahwa Titisari dan Sangaji takkan mengetahui dirinya. Tetapi orang pandai pun kadang-kadang bisa salah duga. la tak memperhitungkan tentang kedua kuda anak-anak muda itu yang mempunyai indera jauh lebih tajam daripada kodrat manusia. Maka ia kena dipermainkan Titisari.

Pikir orang tua itu, eh—nampaknya Adipati Surengpati tak pernah mengagumi diriku. Tak tahunya, di dalam hatinya ia menghormati dan menghargai aku. Siapa menyangka demikian? la menjadi berbesar hati, bangga dan puas. Hatinya berubah menjadi senang. Sama sekali tak diduganya pula kalau Titisari sebenarnya lagi mereka-reka cerita.

"Aji!" kata Titisari. "Kukatakan kepadamu, bahwa ayahku memang seorang pendekar tiada bandingnya. Kau pasti sudah pernah mendengar kemasyhuran namanya."

"Ya. Pernah aku mendengar nama ayahmu disebut-sebut Ki Tunjungbiru," sahut anak muda itu dengan sungguh-sungguh.

"Hanya sayang, aku belum pernah berguru kepadanya. Ilmu yang kutuntut daripadanya, hanya sekelumit. Inilah kesalahanku sendiri. Semenjak kanak-kanak, aku senang diman-jakan. Kurang rajin dan senang bermain-main mencari ikan 'dengan para nelayan. Coba, kalau aku tidak begitu, pasti aku sudah bisa menghajar orang-orang macam Yuyu Rumpung dan begundal-begundal Pangeran Bumi Gede." Sampai di sini Titisari nampak bermu-rung. Pandangnya diruntuhkan ke tanah dan seolah-olah dia benar-benar sedang berduka. Tapi sebenarnya dia lagi bermain sandiwara. Kemudian meneruskan, "Tadi sewaktu aku bertemu dengan Paman Gagak Seta, hatiku yang penuh sesal sekaligus bisa tersapu bersih. Kenapa? Sebab aku berpengharapan bisa berguru kepadanya. Ilmunya lebih tinggi daripada Ayah. Jika aku pulang membekal tiga, empat ilmunya saja sudah berani berlagak di depan Ayah. Sayang... sungguh sayang! Apakah kata-kataku menyinggung perasaan hati Paman Gagak Seta?"

"Titisari! Perasaanku tak sehalus kamu. Sama sekali tak dapat menjelaskan, apakah kamu tadi menyinggung perasaan Paman Gagak Seta," sahut Sangaji gugup sebab anak muda itu melihat kedua mata Titisari nyaris menitikkan air mata.

"Ah! Pasti aku telah menyinggung perasaannya. Baik kusadari maupun tidak. Sebab dia adalah seorang pendekar yang berhati mulia. Jika tidak tersinggung perasaannya, mengapa sampai meninggalkan kita?"

Titisari nampak berduka benar. Mendadak saja dia menangis. Hebat permainan sandiwaranya. Sebaliknya Sangaji jadi gugup benar. Dengan sekuasa-kuasanya, ia mencoba menghiburnya dengan memeluk lehernya. Karena hiburan dan pelukan Sangaji itu, tiba-tiba Titisari menjadi bersedih hati benar-benar. Tangisnya kian naik. Kali ini benar-benar menangis terharu, karena merasa diri anak yatim-piatu. Ibunya telah tiada dan ia berada jauh di rantau orang.

Gagak Seta yang berdiri memepet dinding gua, menjadi tertarik hatinya. Orang tua itu mengira, bahwa gadis itu lagi menangisi dirinya.

"Aji!" kata Titisari tersekat-sekat. "Ayah pernah berkata kepadaku, bahwa Paman Gagak Seta mempunyai suatu ilmu sakti tiada bandingnya di kolong langit ini. Menurut ayah, ilmunya itu sangat disegani rekan-rekannya. Sampai Kyai Kasan Kesambi dan Pangeran Mangkubumi segan pula kepadanya. Kabarnya Raden Mas Said gelar Pangeran Samber Nyawa itu pun, takut kepadanya. Tapi ilmu apakah itu... ah aku lupa. Hm... kalau kita berdua bisa mewarisi ilmu itu... o, betapa goncang dunia ini. Ah... hm... ilmu apakah itu? Mengapa aku kini jadi pelupa?"

Titisari berlagak seperti menyesali kebebalan ingatannya. Sebaliknya Gagak Seta masih belum juga sadar, bahwa dirinya lagi dipermainkan orang. Karena Titisari terlalu memuja ilmunya dan memuji dirinya begitu berkali-kali dan nampak bersungguh-sungguh, ia jadi tak kuat menahan hati. Lantas saja ia melesat memasuki gua, sambil berkata menerangkan.

"Ilmu itu bernama Kumayan Jati."
Titisari terkejut bukan kepalang. Tetapi ia girang luar biasa. Segera menyahut, "Ya benar! Benar!"
Sehabis berkata demikian, ia berdiri dan melompat-lompat setengah menandak sambil merangkul leher Sangaji. Sudah barang tentu, anak muda itu jadi kelabakan. Ia sudah terperanjat oleh kedatangan Gagak Seta kembali, kini ditambah dengan tingkah-laku Titisari yang bisa berubah mendadak dari menangis jadi girang luar biasa. Dia yang berhati polos dan jujur, bagaimana bisa mengerti permainan sandiwara itu.

"Eh—ayahmu bisa juga berkata terus-te-rang," kata Gagak Seta bersyukur dalam hati.
"Tadinya kusangka, ia akan mengangkat diri menjadi seorang sakti nomor satu di kolong langit ini, setelah Kyai Kasan Kesambi menarik diri dan Pangeran Mangkubumi I wafat. Tak tahunya... eh kamu berdua... lekaslah memasak kopi lagi. Aku mau tidur di sini."

Dan belum lagi mendapat jawaban, orang tua itu lantas saja merebahkan diri, sebentar kemudian angan-angannya telah amblas entah ke mana. Dengkurnya keras luar biasa seakan-akan tidak memedulikan gunung gugur.

Titisari segera mengambil bubuk kopi. Dengan kerlingan mata ia minta pertolongan Sangaji agar membantunya menyalakan perdiangan. Ia sangat gembira, sampai pandang matanya berkilat-kilat.

"Aji! Bersyukurlah pada Dewa atau Tuhan atau siapa saja yang kausujudi," bisiknya. "Esok hari, kita akan menjadi orang lain... "

Waktu itu telah jauh malam hujan agak reda. Kini angin meniup dengan kerasnya. Rasa dingin menyelinap ke seluruh tubuh. Untung mereka dekat dengan perdiangan api sehingga dingin angin itu membuat rasa menjadi aman.

Mereka tiada berkata-kata lagi. Rasa kantuk mulai menggerumuti tubuh. Apabila Titisari telah menyediakan kopi Gagak Seta, mereka berdua kemudian duduk saling berdekatan. Dan tanpa dikehendaki sendiri, kedua-duanya telah tertidur lelap.

Keesokan harinya, mereka terbangun hampir berbareng. Yang pertama dilihatnya adalah tubuh Gagak Seta yang meringkas seperti landak. Dengkurnya masih saja kuat luar biasa. Hanya saja anehnya, kopi yang disediakan semalam telah ludas. Pastilah orang tua itu diam-diam telah bangun dan menikmati kopi hangat seorang diri. Melihat mereka tidur, tak sampai hati dia mengganggu. Kemudian balik kembali keperaduannya dan meneruskan impiannya di jagad lain.

Sangaji segera melepaskan kedua kudanya, sedang Titisari terus saja menyelam ke dalam sungai berburu ikan. la anak seorang adipati yang bermukim di tengah lautan. Karena itu, sudah biasa bergaul dengan air.

Tatkala Sangaji sedang asyik mengamat-amati kedua kudanya merenggut rerumputan, sekonyong-konyong pundaknya terasa kena raba. Ia kaget luar biasa. Karena sebagai anak murid Wirapati dan Jaga Saradenta, ia sudah diajar dan diasuh meng-gunakan ketajaman pendengaran. Tapi si pendatang kali ini tidak dapat tertangkap oleh pendengarannya. Suatu bukti bahwa ilmunya sudah mencapai taraf kesempurnaan yang susah untuk dinilai. Waktu ia menoleh, dilihatnya Gagak Seta berdiri merenungi dirinya.

"Eh, bocah! Dalam hal kecerdikan dan bakat, kamu kalah jauh daripada kawanmu. Tapi dalam hal kejujuran barangkali aku memilihmu, kawanmu itu mempunyai sifat-sifat berbahaya. Tak bisa aku lekas-lekas percaya kepadanya. Karena itu, kemarilah! Aku akan mewariskan suatu ilmu khusus bagimu," katanya.

Dengan gembira Sangaji menghadap padanya. Kemudian Gagak Seta berkata melanjutkan, "Sekarang cepatlah kamu bersumpah kepadaku, bahwa tanpa seijinku kamu kularang mewariskan ilmu ini kepada siapa saja. Juga terhadap bakal isterimu yang licin sebagai belut itu. Nah, bersumpahlah!"

Sangaji yang sudah jadi bergembira, sekonyong-konyong nampak pudar. Pandang mukanya jadi resah.

"Paman! Aku tak dapat bersumpah demikian terhadapmu. Sebab kalau Titisari meminta agar aku mengajarkan ilmu Paman, tak dapat aku menolak."

Tapi ilmuku ini bukan ilmu murahan. Bakal berimu itu cerdik luar biasa dan mempunyai s -at-sifat liar. Kalau kamu tak pandai menjaga diri, di kemudian hari kamu bakal bisa ditak-lukkan dan disusahkan."

Sangaji diam menimbang-nimbang. Sejurus kemudian menjawab, "Jika demikian, biarlah Paman tak usah mengajariku. Tak ingin aku belajar sesuatu ilmu yang kelak akan merisaukan hati. Biarlah Titisari jauh lebih gagah daripadaku."

"Hai! Mengapa?"

"Sebab kalau dia minta kuajari, tak dapat aku menolaknya. Inilah sulit. Aku akan mengkhianati Paman. Sebaliknya kalau kutolak, rasanya kurang menyenangkan. Tak sampai hatiku, melihat dia akan bermurung sedih karena aku."

Mendengar keterangannya, Gagak Seta tertawa lebar. Gerutunya, "Anak goblok! Biar otakmu bebal, hatimu mulia dan matamu tajam. Kau jujur sekali. Rasanya tak gampang-gampang pula, bertemu dengan seorang pemuda seperti kamu. Baiklah! Biarlah aku menyulapmu menjadi tandingan anak Adipati Surengpati Karimun Jawa." la berhenti mengesankan diri. Meneruskan, "Kamu tahu, ayah calon isterimu itu angkuh luar biasa. Ganas, kejam dan gagah perkasa. Kegagahannya sebanding dengan Arya Penangsang pada zaman Kerajaan Bintara. Dia merasa diri menjadi orang sakti nomor satu di jagad ini. Aha ... nah, biarlah dia menyenakan mata. Kamu akan kuwarisi ilmuku Kumayan Jati. Tapi entah kaumampu atau tidak. Sebab untuk bisa memiliki ilmu itu, kamu harus berani bertapa paling tidak tujuh bulan..."

Sehabis berkata demikian, dia lantas berputar sambil menekuk lutut. Kemudian tangannya menyodok. Dan tiba-tiba sebatang pohon yang berdiri tegak dua puluh langkah di depannya, patah berantakan. Dan dengan suara gemeretak, pohon itu tumbang sekaligus.

Sangaji kagum luar biasa. Hatinya bergetar. Dahinya pucat, karena terperanjat dan tercekam suatu perbawa yang luar biasa kuat. Sama sekali tak disangkanya, kalau dengan suatu sodokan yang nampaknya begitu sederhana bisa menumbangkan sebatang pohon sebesar tubuhnya. Kalau saja itu seorang manusia, bisa dibayangkan bagaimana akan hancur berkeping-keping. Tiba-tiba saja insyaflah dia, apa arti julukan dan gelar orang sakti itu. Benar-benar bukan suatu gelar kosong melompong.

"Pohon itu adalah suatu benda tak bergerak," Gagak Seta menjelaskan dengan sederhana. "Jika dia manusia tidaklah semudah itu kena bidik. Sebab dia bisa maju mundur, mengelak, meloncat tinggi atau mengendapkan diri. Karena itu, tata-berkelahi Ilmu Kumayan Jati adalah lain daripada yang lain. Kamu harus bisa mendesak musuh demikian rupa, sehingga dia tak dapat bergerak lagi seolah-olah terdorong ke pojok. Kemudian kauhantam dengan pukulan itu. Kalau dia bergerak hendak menangkis, nah itulah maksud pukulan Kumayan Jati sesungguhnya. Sebab begitu dia menangkis, dia akan runtuh seperti tumbangnya pohon tadi."

Sekali lagi. Gagak Seta melontarkan pukulan Ilmu Kumayan Jati ke arah suatu pohon yang lebih besar. Pohon itu pun lantas saja gemeretak patah berantakan dan tumbang ke tanah.

"Tapi Ilmu Kumayan Jati itu tidaklah hanya berupa suatu pukulan tunggal belaka. Sekiranya hanya satu macam pukulan belaka, akan cepat diketahui lawan. Lalu lawan akan berusaha menciptakan suatu daya pertahanan sehingga Ilmu Kumayan Jati tidak berguna lagi. Sekarang lihat!"

Gagak Seta memutar tubuh untuk yang ketiga kalinya. Tiba-tiba tangannya bergerak seperti mengusap, ke arah sebatang pohon. Sehabis bergerak demikian, ia berdiri tegak sambil tersenyum puas.

Sangaji heran mengapa orang tua itu tersenyum puas. Dilihatnya pohon yang menjadi sasaran bidiknya masih saja segar-bugar. Tidak nampak suatu perubahan. Ingin ia minta penjelasan, tiba-tiba Gagak Seta berkata memerintah.

"Mengapa berdiri tegak seperti batu? Dekatilah dan lihat!"
Dengan kepala kosong, Sangaji menghampiri pohon itu. Sesampainya di depan pohon itu, tak tahulah dia apa yang harus dilakukan.

"Dorong!" Perintah Gagak Seta dari kejauhan.
Sangaji mendorong pohon itu dengan telapak tangannya. Mendadak saja, pohon itu roboh hancur berkeping seperti rapuh.

"Hai! Mengapa begini rapuh?" serunya heran.
Gagak Seta tertawa berkakakan.
"Kamu masih belum percaya? Nah, cobalah pilih sebatang pohon yang terkuat!"

Di seberang-menyebrang jalan, banyak terdiri batang-batang pohon liar. Maka dengan mudah Sangaji bisa memilih pohon kuat sentosa. Ia mencoba memeriksa dengan suatu dorongan dan depakan. Yakin, bahwa pohon itu tangguh sentosa, maka segera ia berkata nyaring.

"Inilah pilihanku."
"Bagus! Sekarang minggirlah cepat dan sedikit menjauh!" perintah Gagak Seta.
Dengan cepat Sangaji melompat ke samping. Ia berdiri tegak mengawaskan gerak-gerik Gagak Seta yang sedang berputar mengayunkan tangan kemudian seperti tadi, ia mengusapkan tangannya. Setelah itu berdiri tegak sambil tersenyum. Perintahnya, "Periksalah!"

Dengan kepala menebak-nebak dan jantung berdegupan, Sangaji menghampiri pohon itu. Ternyata pohon itu sekaligus roboh berantakan begitu kena raba. Orat-uratnya hancur seperti terhangus. Kulitnya remuk berkeping seperti abu. Sudah barang tentu, anak muda itu heran terlongoh-longoh seperti kanak-kanak menonton permainan sulap.

"Nah, ke marilah!" perintah Gagak Seta. "Dengarkan kuberi kamu suatu penjelasan."

Dengan rasa takjub, kagum, hormat dan takluk, Sangaji datang menghampirinya. Orang tua itu lantas saja memberi penjelasan.

"Itupun adalah satu macam pukulan Ilmu Kumayan Jati. Pokoknya terbagi menjadi dua.

Pukulan Keras dan pukulan Lemas. Kedua-duanya adalah pukulan mematikan. Setiap sasaran yang kena bidik kedua macam ilmu itu, bisa kamu bayangkan bagaimana akibatnya. Soalnya sekarang ialah, bagaimana cara memperoleh bidikan itu sampai dia tak dapat bergerak. Caranya ialah, kita harus berusaha mem-pengaruhi, menjebak, mengurung, mencekam, menangkap, menjaring, melibat dengan tata-berkelahi bermacam ragam. Dan tata-berkelahi ini tidak boleh terlalu berbelit. Sederhana saja tapi harus mengandung suatu siku-siku mata angin yang bisa merupakan pedang penggiring atau cemeti pelipat. Dengan demikian, musuh bisa kita kelabui. Ia mengira ilmu tata-berkelahi Kumayan Jati begitu sederhana. Tak tahunya jika sekali kena libat, takkan gampang-gampang dia bisa membebaskan diri. Nah, anakku! Masing-masing ragam tata-berkelahi kedua macam pukulan Ilmu Kumayan Jati itu berjumlah sembilan. Jadi jumlah semuanya delapan belas jurus. Ayunan lontaran enam jadi seluruhnya berjumlah dua puluh empat. Sanggupkah kamu mentelaah Ilmu Kumayan Jati ini adalah semata-mata tergantung pada nasibmu belaka. Sebab, orang takkan bisa mempelajari ilmu ini hanya mengandalkan kecerdasan otak. Dan hanya dapat memperoleh kulitnya saja. Karena itu, orang harus berani bertapa agar mendapat kekuatan alam yang mumi. Paling tidak tujuh bulan. Kausanggup?"

Selama hidupnya, Sangaji belum pernah berpuasa. Tentang istilah bertapa itu baru didengarnya untuk yang pertama kali dari Panembahan Tirtomoyo. Maka begitu ia mendengar tuntutan Gagak Seta, mulutnya bungkam seribu bahasa.

Gagak Seta tidak mendesaknya lagi. Dengan sikap acuh tak acuh ia berkata, "Hai! Mengapa kamu tergugu seperti katak? Biar kamu berdiam diri seribu hari, tahulah aku kalau kamu takkan mampu menerima warisan ilmu ini. Hal itu bukan kesalahanku. Aku sudah membuka tangan dan sekarang tergantung pada bakatmu belaka. Bukankah aku berkata, bahwa bakatmu sangat miskin dan kalah jauh dari anak iblis itu?"

Sehabis berkata demikian, ia kemudian mengajari Sangaji cara mengatur dan menguasai napas.

"Napas itu adalah tali hidup. Meskipun napas itu bukan menentukan hidup dan matinya orang, tetapi termasuk alat yang penting dan kuat."
"Apakah Paman ingin berkata, orang bisa hidup tanpa napas?" Sangaji heran. "Benar."
"Masa orang bisa hidup tanpa napas?"

"Ah, kau bocah tolol! Sewaktu kamu dulu di kandung ibumu dalam perut, apakah kamu sudah bisa bernapas? Apakah kamu sudah mempunyai hidung dan jantung? Itulah suatu bukti, kalau dalam diri manusia ini bersemayam suatu tenaga rahasia yang menghidupi napas itu sendiri. Jika kamu bisa menemukan tenaga itu, kamu akan bisa menguasai seluruh alam ini. Sekarang carilah tenaga itu, lewat pernapasanmu. Jika kautekun, mudah-mudahan kamu berhasil."

Dua jam kemudian, Sangaji bisa mengatur dan menguasai napas. Maklumlah, dia pernah mendapat ajaran Ki Tunjungbiru. Tapi sewaktu menginjak ke tataran selanjutnya, dia heran dan kaget. Ajaran tarikan napas Gagak Seta itu jauh berlainan dengan ajaran tarikan napas Ki Tunjungbiru. Lagi pula mempunyai daya guna yang aneh. Tiba-tiba saja, ia merasa dalam dirinya ada suatu tenaga yang bergolak. Itulah tenaga getah pohon Dewadaru yang kena tersedot ke luar. Tenaga getah itu lantas saja bergolak dan berputar bergulungan ke seluruh tubuh. Baik Sangaji dan Gagak Seta sendiri tak pernah mengira, kalau daya guna ilmu napasnya bisa membangunkan tenaga uapan getah sakti. Pemuda itu jadi kaget luar biasa.
Mukanya lantas menjadi merah membara dan matanya jadi berkunang-kunang.

"Hai, kamu kenapa?" Gagak Seta terkejut. "Kosongkan angan! Tebarkan semangat! Jangan kaupusatkan seperti orang bersemedi."

Sangaji ingin mengiyakan  tetapi  mulutnya seperti      terkunci. Maka        ia hanya mengangguk. Mukanya kian nampak makin membara.

Gagak Seta menghampiri sambil memijit uratnya, la menggoncang-goncangkan tubuhnya. Terasa keras bukan kepalang seperti sebongkah batu. Pikirnya, semua berjalan lancar menurut bunyi ajaran. Tapi kenapa bocah ini? Bagaimana bisa sesat?"

Sebagai seorang pendekar yang sudah mendapat gelar sakti, ia merasa terpukul melihat kenyataan itu. Ingin ia mendapat jawabannya dan menyelidiki secermat-cermatnya.

"Sekarang lepaskan semuanya! Tengadahkan mukamu ke angkasa. Buka mulutmu! Cepat!"

Suara Gagak Seta agak menggeletar. Karena melihat anak muda itu biru pengap. Perlahan-lahan Sangaji dapat menguasai diri. Dengan cermat ia mengikuti petunjuk Gagak Seta. Tak lama kemudian, rongga dadanya menjadi lega. Ia bisa bernapas seperti sediakala. Hanya terengah-engah seperti seseorang yang tengah lepas dari cengkraman binatang galak.

Dalam pada itu Gagak Seta mondar-mandir mencari kunci jawabannya.
"Apakah kamu telah melepaskan semua anganmu?" tanyanya penuh selidik.
Sangaji mengangguk.
"Telah kautebarkan semangatmu?"
"Ya."
"Kau kosongkan dirimu?" "Ya."
"Kausalurkan semua deburan darahmu ke seluruh urat nadi?" Sangaji mengangguk.

"Aneh!" ia bergumam. Ia yakin, kalau Sangaji menjawab dengan sebenarnya. Karena tadi, ia telah memeriksanya. Pikirnya, ya, semua telah berjalan seperti semestinya. Apakah yang mengganggu? Memang pada zaman dahulu orang hampir menyamakan Ilmu Kumayan Jati dengan Ilmu Bayu Sejati. Meskipun bersumber sama, tetapi lakunya jauh berlainan. Ilmu Bayu Sejati mengutamakan kekuatan urat nadi, tulang-belulang yang bersandar pada napas. Tetapi Ilmu Kumayan Jati biarpun mengutamakan tenaga napas, tetapi hanya bersifat sebagal penyalur. Napas itu hanya dipergunakan sebagai pengungkap daya kekuatan yang terpendam." la terus merenung. Tiba-tiba suatu pikiran berkelebat dalam benaknya.

"Eh bocah tolol! Apakah kamu pernah mendapat pelajaran ilmu bernapas?"
Sangaji mengiakan. Melihat pemuda itu mengangguk, seleret cahaya tersembul pada raut muka Gagak Seta. Ia mau menduga, bahwa Sangaji pernah tersesat dalam pelajaran. Maka ia menguji penuh selidik.

"Coba bagaimana kamu melakukan ilmu bernapas itu!"
Sangaji kemudian menghapal dua belas kata petunjuk bersemedi ajaran Ki Tunjungbiru. Mendengar bunyi hapalannya, Gagak Seta yang sudah mempunyai dugaan yang bukan-bukan jadi merenung-renung lagi.

"Siapa yang mengajarimu bersemedi?" ia masih mencoba.
"Ki Tunjungbiru."
"Siapa dia?"
"Menurut kabar, dulu dia bernama Otong Darmawijaya."

"Eh, kau bilang apa?" Gagak Seta terkejut. Dahinya berkerenyit. "Apakah dia belum mati? Ih! Benar orang itu belum tinggi ilmu bergumulnya, tetapi dia memiliki tenaga ajaib.


Apakah... apakah... kamu... hai, kenapa kamu mendapat ajaran daripadanya? Orang itu tak gampang-gampang menerima murid."

"Dia bukan guruku. Dan aku tak pernah pula berguru kepadanya." Sangaji menerangkan. "Aku menerima petunjuknya berkat jasaku menyedot getah pohon Dewadaru sebagai pembalas dendamnya."

"Getah pohon Dewadaru? Apa itu?" Gagak Seta heran.
Sangaji kemudian menerangkan dengan singkat tentang sifat pohon sakti itu menurut pendengarannya saja tatkala Ki Tunjungbiru berbicara di dalam perahu dahulu. Gagak Seta mendengarkan dengan penuh perhatian. Lantas berkata, "Eh! Apakah di dunia ini ada suatu macam pohon ajaib-ajaib demikian rupa? Inilah aneh!" ia berhenti menimbang-nimbang. Berkata lagi memutuskan, "Baiklah! Coba ulangi lagi menarik napas menurut ajaranku. Kemudian tirukan semua gerakanku."

Sangaji segera melakukan ilmu menarik napas ajaran Gagak Seta, kemudian menirukan gerakan selanjutnya. Waktu itu Gagak Seta menekuk lutut sambil meliukkan tubuh. Tiba-tiba menyodok ke arah suatu pohon.

"Bidik!" perintahnya.
Sangaji cepat-cepat menyodok. Ternyata batang pohon yang berdiri di depannya bergoyang.
Mahkota daunnya runtuh berhamburan.

"Bagus! Bagus!" seru Gagak Seta kagum. "Inilah hebat! Tanpa bertapa kamu sudah bisa menguasai setengah jurus Ilmu Kumayan Jati, meskipun lagi menggoyang-goyang tupai!"

la berjalan mondar-mandir kembali seperti sedang menghadapi satu soal yang belum mendapatkan kunci jawabannya. Sekonyong-konyong kepalanya mendongak dan berputar menghadap Sangaji.

"Aji! Coba gempurlah aku!"
Sangaji tadi heran menyaksikan pukulannya sendiri yang sudah mempunyai prabawa, sampai hatinya tak mau percaya. Ia belum mendapat pegangan darimanakah asal tenaga dorong sekuat itu. Tetapi diam-diam hatinya bangga dan bersyukur. Mendadak Gagak Seta memerintahkan agar menggempur padanya.. Keruan saja, ia jadi bingung berbimbang-bimbang. Pikirnya, mahkota dedaunan bisa kuron-tokkan. Apakah dia yang terdiri dari darah dan daging bisa bertahan? Gagak Seta rupanya bisa menebak kata hatinya. Maka orang tua itu berseru nyaring, "Pukulanmu lagi bisa menggoyangkan pohon. Takkan mampu menewaskan aku."

Mendapat penjelasan itu, anak muda itu jadi berlega hati. Segera ia menarik napas menurut ilmu ajaran Gagak Seta. Tubuhnya meliuk, lutut ditekuk dan sambil berputar ia menjodok. "Dak"

Gagak Seta tergetar sedikit. Matanya menutup rapat.

Mulutnya kemudian mengulum senyum. Katanya, "Eh—lumayan juga. Sekarang gunakanlah ilmu tarikan napas yang pernah kautekuni. Dan gempurlah aku!"

Heran Sangaji mengawasi orang tua itu. Hatinya beragu lagi. Apakah pukulanku tadi salah, sehingga tidak ada pengaruhnya?— pikirnya sibuk. Ia tak tahu, kalau pukulannya tadi seujung rambut pun tak berbeda dengan pukulannya yang pertama sewaktu memukul pohon. Hanya saja, keputusan Gagak Seta mengumpankan diri sendiri untuk memperoleh jawaban, adalah luar biasa. Jika tidak mempunyai pegangan kuat, bagaimanapun juga takkan berani menerima pukulan Sangaji.

"Hai tolol!" bentak Gagak seta. "Pukulanmu hebat! Tak beda dengan tadi. Hanya saja belum bisa menewaskan aku! Kaudengar? Nah—jangan tergugu seperti orang linglung!

Sekarang kerjakan apa yang kuperintahkan tadi. Aku ingin mengetahui titik perbedaannya." Puaslah hati Sangaji mendapat penjelasan ini. Diam-diam hatinya kagum kepada orang-tua itu.

Benar-benar hatinya merasa takluk. Apakah tubuhnya lebih kukuh daripada sebatang pohon? pikirnya lagi. Tak sempat lagi ia menunggu jawabannya. Dalam dirinya terasa ada semacam hawa hangat yang merayap memenuhi tubuhnya. Kemudian ia maju menggempur Gagak Seta.

Hebat suara itu. Tetapi Gagak Seta seperti tak merasakan sesuatu. Matanya merem-me-lek seperti seseorang yang lagi menikmati makanan lezat.

"Telah kuduga! Telah kuduga!" serunya girang. Kemudian ia tertawa berkakakan sambil mendongakkan kepala.

"Bocah tolol! Dengarkan penjelasanku! Apa yang pernah kaupelajari itu adalah bait-bait Ilmu Bayu Sejati. Itulah suatu ilmu yang mengutamakan tenaga semata untuk daya pertahanan. Apakah orang yang mengajarimu, pernah menerangkan nama ilmu itu?"

Sangaji bergeleng kepala.
"Ah! Sekarang tahulah aku, mengapa kau begitu ulet, tabah dan makin lama makin gagah tatkala kau tadi bertempur melawan calon isterimu. Itulah berkat ajaran ilmu tarikan napas Bayu Sejati. Dasarnya adalah sama. Yakni bersandar pada tenaga sakti kodrat manusia. Eh—eh ... bocah tolol! Siapa mengira, kamu mempunyai tenaga sakti getah pohon Dewadaru. Itulah karunia alam yang hebat bukan kepalang," kata Gagak Seta girang. Kemudian ia merebahkan diri ke tanah dan berbaring merenungi angkasa.

"Sekiranya di kemudian hari kau berhasil menjalin dua ilmu ini sebagai satu pengucapan, alangkah kamu akan jadi gagah perkasa. Tapi sekarang—di bawah asuhanku— kamu kularang mengingat-ingat ilmu ajaran yang lalu. Sebab lakunya jauh berlainan. Ilmu ajaranmu dahulu, adalah ilmu buat perempuan, bukan buat laki-laki. kalau kamu diserang, kamu hanya mampu bertahan. Sekiranya lawanmu menggenggam senjata tajam, apakah kamu hanya menerima hajarannya belaka tanpa bisa membalas? Eh—bocah tolol! Akhirnya kamu hanya jadi bakaran sate kambing!" ia berhenti mengesankan. "Karena itu, meskipun kelak kamu mahir dengan ilmu ajaran dahulu, paling-paling kamu hanya bisa menjadi seorang ahli olahraga belaka. Paling-paling kamu hanya pandai meloncati jurang, memanjat pohon seperti kera dan tahan berenang di lautan seperti ikan."

Gagak Seta tertawa berkakakan. Sangaji jadi heran terkejut. Mula-mula ia memang agak tersinggung mendengarkan ulasan orang tua itu yang begitu menusuk. Tetapi apa yang dikatakan adalah benar. Teringatlah dia, bagaimana Ki Tunjungbiru pernah mem-pamerkan kepandaiannya menangkap dua ekor kera, meloncat jurang dan bersampan di atas lautan menembus derum angin dan gelombang. Dia pun hanya mengesankan, bahwa ilmu ajarannya hanya berguna untuk membantu menelan ajaran ilmu kedua gurunya.

"Memang Ki Tunjungbiru hanya berkata, kalau ilmu itu adalah ilmu untuk bersemedi. Bukan untuk berkelahi." Sangaji mencoba untuk mempertahankan.

"Bagus!" Sahut Gagak Seta cepat. "Aku pun tak mencela ilmu itu. Tapi kau tahu apa arti bersemedi itu? Semedi itu adalah perempuan waktu hamil. Dia tak bisa bergerak cepat. Tak bisa makan terlalu kenyang. Tak bisa minum sebanyak sediakala. Tak bisa tidur tengkurap atau miring terlalu lama. Pokoknya serba kurang dan tanggung. Laripun dia tak mampu.

Apa lagi berkelahi. Karena itu aku berkata, ilmu semedi itu adalah ilmu perempuan! Kamu sakit hati?"

Sebenarnya Sangaji mendongkol mendengar semua kata-kata Gagak Seta. Tapi karena kesannya lucu, diam-diam ia tersenyum geli.

"Lantas? Apakah yang harus kulakukan?" Ia mengalihkan pembicaraan.

"Berlatih dan berlatih, tolol!" damprat Gagak Seta. "Rejekimu sudah terlalu besar. Bahwasanya tanpa bertapa, kamu sudah memiliki tenaga sakti yang ajaib. Dulu aku pun tak bisa memiliki suatu bekal seperti kamu. Aku cuma bisa menghapal jurus-jurusnya belaka. Tenaga saktinya, harus kutempuh dengan bertapa selama tiga tahun terus menerus."


Sangaji tak berkata lagi. Ia memilih sebatang pohon yang berdiri tak jauh daripadanya. Kemudian ia berlatih. Mula-mula ia mengatur napas dan memusatkan ke urat nadi menurut ajaran Gagak Seta. Setelah itu menekuk lutut, berputar dan meliuk tubuhnya. Lantas menyodok dengan menumpahkan seluruh tenaga napasnya yang tersekam. Dan batang pohon di depannya lantas saja bergoyang-goyang.

"Hai! Bocah tolol!" damprat Gagak Seta. "Mengapa mengoyang-goyangkan pohon?

Apa kamu mau menangkap tikus? Kamu harus bisa menggempur musuh dengan sekali pukulan. Bukan untuk mengitik-ngitik biar kegelian."

Sangaji tertawa menyeringai. Mukanya merah kebiru-biruan karena tercekat hatinya. Segera ia minta petunjuk-petunjuk.

"Dengar!" kata Gagak Seta. "Sudah kukatakan tadi, kalau aku akan menyulapmu menjadi tandingan anak siluman Karimun Jawa. Kamu harus sadar, bahwa bakal isteri-mu itu cerdas otaknya. Bakatnya pun lebih besar daripadamu. Ia mengenal bermacam-macam ilmu. Gerak-geriknya cekatan. Tapi hanya penuh gertakan-gertakan belaka. Janganlah kamu sampai kena dipengaruhi. Tunggu saja, sampai dia memukul benar-benar! Jika pukulannya tiba, nah— papakilah dengan pukulanmu. Dia pasti kalah."

"Apa hanya itu saja?"

"Apa kau bilang?" bentak orang tua itu. "Sudah kukatakan ia memiliki ilmu bermacam ragam. Gerak-geriknya, pasti sukar kauduga. Sekali kena pukul, dia akan bisa membalas dengan ilmu tangkisan yang lain lagi. Sebab yang baru kaupelajari ini, hanya satu macam ilmu saja. Di kolong langit ini, kamu akan me-nemukan ratusan macam ilmu sakti."

Sangaji diam merenung-renung. Sekarang ia merasa dirinya kecil. Tadinya ia mengira, sesudah mendapat ilmu ajaran gurunya rasanya cukup buat bekal merajai orang. Tak tahunya, ilmu sakti di dunia ini banyak ragamnya. Pantas, kedua gurunya tak mampu mengalahkan Pringgasakti meskipun dikerubut empat orang.

"Sekarang yang penghabisan," kata Gagak Seta.

"Sesudah ini, tak mau lagi aku berbicara. Tadi kujelaskan, kalau kamu harus berusaha menggiring lawan ke suatu pojok tertentu. Jepitlah dia dengan gerakan-gerakan begitu rupa sampai dia tak mampu bergerak. Kemudian hantamlah dengan Ilmu Kumayan Jati. Atau tunggu saja lawanmu sampai memukulmu. Begitu ia memukul, sambutlah ia dengan suatu pukulan pula."

"Jika demikian aku harus bisa bergerak cepat dan sebat," potong Sangaji.

"Tentu saja, tolol!"

Sangaji tertawa geli. Istilah tolol yang diucapkan orang tua itu terlalu sering, lambat-laun terdengar sedap juga. Bagaikan seorang minta sambal dalam suatu perjamuan makan.

"Telah kukatakan kepadamu, kalau semua jurus ajaranku berjumlah delapan belas dan enam ayunan. Pukulan keras ini terbagi menjadi sembilan. Tentu saja ada perubahan-perubahannya. Setiap jurus aku beri nama, agar memudahkan ingatanmu yang tolol. Kautahu?"

Sangaji mengangguk.

"Bagus! Seperti seorang belajar menari atau menabuh gender. Tiap-tiap bagian ada namanya. Umpamanya dalam ilmu menabuh gender atau clempung terdapat istilah-istilah, Jarik-Kawung, Kutut Belut, Gantungan, Petih, Ayu Kuning dan sebagainya. Nama-nama itu boleh diciptakan sesuka hati oleh yang mengajar. Pokoknya memudahkan untuk penelitian dan ingatan. Juga pukulan kuberi nama. Yang kautekuni tadi kuberi nama, Cacing Gering. Kemudian perubahannya kuberi nama, Congor Babi, Anjing Buduk, Sate Gangsir, Terpedo Kambing, Telur Kerbau, Sambel Goreng... hai! hai! Mana isterimu? Aduh, aduh perutku! Perutku!"

Sehabis berkata begitu, ia menekan-nekan perutnya yang tiba-tiba jadi keruyukan. Lantas lari berserabutan memasuki gua. Rupanya begitu menyebut jenis masakan, teringatlah dia kepada masakan itu sendiri. Kebetulan sekali, semenjak tadi pagi perutnya belum terisi sebutir nasi pun. Karuan saja, ia jadi blingsatan.

Mau tak mau Sangaji tersenyum geli. Siapa mengira, orang sesakti dia, mempunyai tabiat doyan makan dan menggelikan. Sebentar ia mengawasi larinya Gagak Seta yang pontang-panting memasuki gua, kemudian segera dia berlatih.

Waktu itu, Titisari telah mulai memasak di dalam gua. Ia tahu Gagak Seta sedang menurunkan ilmu saktinya kepada Sangaji. Diam-diam ia bersyukur dalam hati. Ia berdoa, moga-moga Gagak Seta berkenan menurunkan seluruh ilmu saktinya dan Sangaji sanggup pula menerima warisannya. Untuk ikut menyatakan terima kasih, dengan sungguh-sungguh ia memasak beberapa resep masakan yang istimewa. Pikirnya, biarlah Paman Gagak Seta tahu, kalau kami tahu apa arti terima-kasih. Tapi selagi ia membumbui beberapa ekor ikan dan sedang pula dibakar, di luar dugaan asapnya meruap sampai ke luar gua. Tahu-tahu, Gagak Seta sudah berada di sampingnya sambil mencak-mencak.

"Masakan apa ini? Masakan apa ini?"

Belum lagi Titisari dapat menjawab, tangannya sudah menyambar dua ekor ikan sekaligus dan digerogoti sampai tulang-tulangnya.

"Bukan main! Bukan main!" pujinya berulang kali. Mulutnya terus dijejali penuh-penuh, sampai tak kuasa berbicara lagi. Sekaligus menghabiskan enam ekor ikan sebesar lengan kanak-kanak.

Ketika keenam ekor ikan tadi sudah habis dikunyahnya, barulah ia teringat kepada Sangaji yang perutnya belum terisi sebutir nasi juga. Lantas ia berkata menyesali diri sendiri.

"Ai! Ai! Perut edan! Perut gendeng! Mana kawanmu si bocah tolol itu! Suruh berhenti dulu! Masa mau berlatih sampai mati?"

Tetapi Titisari hanya membalasnya dengan senyum. Bahkan tanpa berbicara ia menyodorkan dua ekor ikan bakaran lagi. Gagak Seta jadi perasa, la jadi sungkan sendiri. Meskipun demikian, tangannya menerima pemberian itu.

"Masakanmu benar-benar hebat!" ia mengalihkan pembicaraan untuk menyembunyikan rasa sungkannya. "Masakan apa ini namanya?"

"Sebenarnya, kalau Paman agak bersabar sedikit, akan kumasakkan semacam masakan khas dari Karimun Jawa," sahut Titisari seolah-olah menyesali.

"Ah!" Gagak Seta terhenyak. Mendadak mulutnya berliur tak karuan. Dan mau tak mau, Titisari geli juga menyaksikan pera-ngainya.

"Baiklah! Biarlah aku menangkap beberapa ekor ikan lagi dan aku ingin mencoba masakan Karimun Jawa."

"Tak usah tergesa-gesa," potong Titisari membesarkan hati. "Aku percaya, Paman pandai menangkap ikan. Tapi aku yakin Paman belum pandai memilih jenis ikan."

Gagak Seta diam menimbang-nimbang. Kemudian berkata mengakui.

"Ya, benar. Bagaimana aku bisa melawanmu dalam hal memilih jenis ikan."

Titisari kemudian mengalihkan pembicaraan.

"Kulihat muridmu tadi sudah bisa mematahkan batang pohon dalam sekali tumbuk."

Gagak Seta menggelengkan kepala sambil berkata, "Belum! Belum bisa dia mematahkan batang pohon. Paling-paling hanya menggoyang-goyangkan sampai melengkung. Sebenarnya, dia harus sanggup mematahkan sebatang pohon sebesar lengan dengan sekaligus. Mengingat ia telah memiliki rejeki besar dalam dirinya."

"Apakah itu?"

"Dia memiliki semacam tenaga ajaib dalam dirinya. Katanya, itulah getah pohon sakti Dewadaru," sahutnya sungguh-sungguh. "Pastilah kamu mengerti, bahwa untuk memi-liki pukulan sakti, orang harus berlatih dulu sampai memiliki dasar tenaga murni. Inilah dasar utama. Sebab sekali pun orang memiliki macam ilmu silat yang sebagus-bagusnya, tetapi tidak ada tenaga di dalamnya adalah semacam hembusan angin menyerak-nye-rakkan dedaunan. Itu tidak ada gunanya." Ia berhenti dengan dahi berkerenyit seakan-akan berpikir keras. Tiba-tiba bertanya, "Hai Nona kecil, apa dia suamimu?"

Titisari adalah seorang gadis yang cerdas dan cerdik. Meskipun demikian, mendapat pertanyaan Gagak Seta, ia terbungkam. Orang tua itu lantas tertawa terbahak-bahak.

"Eh! Eh! Apakah aku salah omong? Ah, akulah yang tolol! Bukankah kalian sedang berpacaran melulu? Baiklah! Aku kenal watak ayahmu. Seumpama kamu sudah menyetujui pemuda itu, dan ayahmu merintangi, aku tak bakal diam. Aku akan tampil ke depan mengurus perjodohan kalian. Andaikata ayahmu menentang, biarlah aku bertempur satu tahun sampai salah seorang mati."

Entah apa sebabnya, Titisari bahagia mendengar kata-kata Gagak Seta. Hatinya tiba-tiba menjadi senang dan tentram sampai air matanya hampir membersit dari kelopak mata. Maka cepat-cepat ia menundukkan pandang ke tanah sambil mencari sisa ikan lainnya, hendak dibakarnya dengan segera.

Gagak Seta adalah laki-laki yang sudah banyak makan garam. Dengan sendirinya, tahulah dia menebak keadaan hati si gadis. Maka dengan lancar ia berkata, "Dengarkan, Nona manis. Bakal suamimu itu, meskipun bakatnya kalah jauh daripadamu tetapi berkat getah sakti itu, dia kelak akan menjadi seorang pendekar ajaib yang sakti luar biasa. Tadi kulihat keajaiban terpancar dari dirinya. Apabila kemudian hari, ia bisa melebur kedua macam ajaran mengatur napas dan menghimpun tenaga yang dimiliki, tubuhnya akan kebal dari segala. Bahkan apabila kena serangan dahsyat, maka yang menyerang itu akan terpental balik. Sekarang tinggal melatih dan memasaknya sampai kokoh benar. Siapa tahu, kedua macam ilmu mengatur napas dan menghimpun tenaga akan bisa pula membersihkan otot-otot urat saraf, sehingga pada suatu hari akan menjadi seorang manusia yang cerdas luar biasa. Mengapa? Karena pada hakekatnya, Ilmu Bayu Sejati dan Kumayan Jati itu seumpama sepasang suami istri yang saling memberi rasa asmara."

Titisari bersyukur dalam hati, mendengar tutur Gagak Seta. Ia percaya, kalau ketajaman mata seorang ahli seperti yang cerdik, ia pandai menyembunyikan kesan hatinya. Pandangnya tetap murung. Bahkan ia bisa berkata dengan nada Gagak Seta tak mungkin salah. Tetapi sebagai seorang gadis kurang senang.

"Bagus! Tapi dasar Paman berat sebelah. Seumpama dia menghinaku, apakah yang akan Paman lakukan?"

Gagak Seta hendak mengambil hati si gadis. Mengapa dia berlaku demikian, tidak seorang-pun di dunia ini yang bisa menerangkan. Dia sendiri tak pandai membaca perasaan hatinya. Yang terasa dalam hati ialah ia senang melihat Titisari, seolah-olah gadis itu bagian dari dirinya sendiri. Barangkali karena tingkah lakunya begitu lincah dan cekatan. Lagi pula bisa melayani dirinya. Kecuali itu pandai memasak pula. Rasanya, dia segan mau berpisah daripadanya.

"Nona manis! Janganlah kamu bersedih. Coba katakan, apa yang kaupinta? Seyogyanya aku hanya mengajar bakal suamimu satu dua jurus semata?" katanya.

"Tidak! Tidak!" Sahut Titisari cepat. "Bahkan Paman harus mengajarkan dengan sungguh-sungguh. Syukur bisa menerima seluruh kepandaian Paman. Hanya saja, Paman harus pula memberi ilmu simpanan kepadaku, yang bisa memenangkan dia."

"Eh, anak siluman. Kamu benar-benar licin seperti ayahmu."

"Baiklah. Memang aku tak punya anak dan merindukan seorang anak selincah kamu. Rasanya tidak ada ruginya, mengabulkan permintaanmu. Moga-moga dikemudian hari— kalau tulang belulangku sudah rontok—kau sudi mengurusi." Ia berhenti mengesankan. Meneruskan, "Bakatmu lebih baik daripada calon suamimu itu. Sebelum dia bisa memahami semua ilmu yang kuberikan kepadanya, kamu akan kuberi suatu ilmu. Aku percaya, kamu akan cepat mengerti sebelum dia paham ekornya. Ilmu itu merupakan tenaga imbangan dahsyat dari Kumayan Jati.

Namanya, Ratna Dumilah. Konon kabarnya—menurut cerita—ilmu itu berasal dari Sanghyang Tunggal yang diberikan kepada putranya kedua, Sanghyang lsmoyo. Ilmu itu khusus untuk melawan Ilmu Kumayan Jati yang diberikan Sanghyang Tunggal kepada putranya ke empat, Sanghyang Manikmaya.

Tetapi karena kalian berdua adalah calon suami-isteri, maka akan kubuat sedemikian rupa sehingga kalian berdua tak bisa saling menyentuh dan melukai. Kau mengerti maksudku?"

Sehabis berkata demikian dan belum lagi Titisari membalas pertanyaannya, ia meloncat dan bersilat berputaran cepat luar biasa. Gerak-geriknya cekatan, gesit luar biasa sampai bisa mengaburkan penglihatan. Tapi anehnya, tidak menerbitkan suatu tenaga dahsyat yang membahayakan. Setelah ia berhenti bersilat, Titisari sudah bisa mengingat-ingat separah.

"Seluruhnya berjumlah 36 jurus," kata Gagak Seta. 'Tetapi mempunyai silang perpecahan tujuh sudut tiap jurus. Jadi berjumlah 7 x 36, ditambah dengan delapan penjuru. Utara, barat, selatan, timur, kemudian tenggara, barat daya, timur laut dan barat laut. Jadi keseluruhan berjumlah 7 x 36 x 8 = 1008 jurus pecahan. Meskipun nampaknya tidak bertenaga, tetapi ilmu itu memiliki daya lingkaran rahasia dan daya libatan rahasia. Dalam sekali putaran, ilmu itu membawa pengaruh hawa tertentu. Sudut anginnya tajam luar biasa, bagaikan sebilah pedang. Karena Ismoyo itu artinya dunia, maka gerakannya berputar terus menerus seperti arus samudra dan arus angin yang mengitari jagad. Kau sudah paham?"

Titisari lantas berdiri. Terus ia bersilat menirukan gaya Gagak Seta. Dasar otak terang dan memiliki bakat keturunan yang luar biasa, hampir saja dia bisa melakukan gerakan-gerakan Ilmu Ratna Dumilah dengan sempurna. Dia hanya membutuhkan beberapa petunjuk dan penjelasan. Selang tiga jam, dia sudah hapal seluruhnya. Tinggal memahirkan belaka.

Kala itu, matahari hampir condong ke barat. Segera mereka teringat kepada Sangaji yang masih saja berlatih di luar gua. Bergegas Titisari memanggilnya. Dan ketika anak muda datang kepadanya, Titisari menyongsongnya dengan tertawa bangga.

"Aji! Sekarang kau bisa memenangkan ilmumu. Makanlah! Aku akan mandi dahulu."

Setelah berkata demikian, gadis itu benar-benar pergi mandi. Ia melompat ke sungai dan berenang ke sana kemari dengan gembira.

"Bakal isterimu itu cerdik luar biasa." Kata Gagak Seta menemani Sangaji makan.

"Ya," sahut Sangaji sederhana. "Tadi kulihat Paman sedang menurunkan suatu ilmu begitu dahsyat. Kucoba melihat dari jauh. Mendadak penglihatanku kabur. Ilmu apakah itu?"

Gagak Seta tertawa. Ia tidak melayani pertanyaan Sangaji. Bahkan ia kemudian merebahkan diri dan tidur mendengkur seperti babi hutan.

Tak berani Sangaji mengganggunya. Sehabis makan, diam-diam ia melatih mengatur napas menurut ajaran Gagak Seta. Tetapi seperti tadi pagi. Darahnya seperti bergolak dengan sekonyong-konyong. Seluruh tubuhnya bergetar. Napasnya jadi sesak dan matanya berkunang-kunang. Khawatir akan salah laku, cepat-cepat ia membuka mulutnya sambil mengendorkan semangat. Dan perlahan-lahan ia bisa menguasai diri lagi. Tapi dasar dia berwatak ulet dan tabah. Tak gampang-gampang menyerah kalah. Sekali lagi ia mencoba dan mencoba. Dan setiap kali ia merasa aliran darahnya terganggu cepat-cepat ia melepaskan semangat. Begitulah ia berulangkali mencoba ilmu Gagak Seta. Mendadak saja, sekilas pikirannya menusuk dalam benaknya. Cepat-cepat ia memperbaiki diri. Kemudian berlatih mengatur napas


menurut ajaran Ki Tunjungbiru. Dalam dirinya lantas timbul semacam hawa hangat yang nyaman luar biasa. Hawa itu bergerak dengan halusnya dan meraba seluruh urat-uratnya. Mendapat perasaan ini, ia gembira. Kemudian ia berpikir, kalau sekarang aku menggabungkan ilmu ajaran Gagak Seta, apakah akibatnya? Hatinya berdegup hendak mencobanya. Tetapi segera ia mengendapkan degupan hati dan dengan hati-hati, ia menarik napas menurut ajaran Gagak Seta sedikit demi sedikit. Tiba-tiba ia merasa ada suatu gumpalan hawa yang muncul dalam perutnya. Gumpalan hawa itu makin lama makin membeku. Anehnya, kian lama kian mengembang. Tak lama kemudian, hawa hangat menurut ajaran Ki Tunjungbiru menghampiri. Mendadak saja tubuhnya berguncang hebat. Karena kedua hawa yang berlainan sifat itu saling bertubruk dan hisap-menghisap. Kedua hawa itu lantas berputar- putar sambil tarik-menarik sehingga memenuhi seluruh tubuh. Seperti diketahui, menurut Gagak Seta ajaran Ki Tunjungbiru adalah ilmu bertahan diri. Itulah intisari dari Ilmu Bayu Sejati. Sebaliknya, ajaran Gagak seta bersifat merangsak dan menghimpun tenaga. Karena dasar tenaga Sangaji berpijak kepada kesaktian getah pohon Dewadaru, maka kedua kekuatan yang berlainan sifat itu saling berebut hendak mengambil bahan tenaga. Yang satu merangsak dan yang lain bertahan. Karena dasarnya sama kuat, maka tenaga getah sakti Dewadaru lambat-laun terasa berubah sebagai bola yang berputar-putar dan meluncur ke sana ke mari tiada tentu. Andaikata Sangaji sudah bisa meluncurkan tenaga raksasa itu ke dalam urat-uratnya, alangkah akan besar gu-na-faedahnya. Sayang, ilmu demikian belum dimiliki. Karena itu, yang terasa dalam perutnya semacam bongkahan batu mengganjel perut. Bongkahan itu kadang tersekam dalam pusat, kadang-kadang naik menyodok ketiak dan menutupi rongga dada. Meskipun demikian, bongkahan hawa itu tiada menyakiti dirinya seperti tadi. Dia hanya merasa geli dan bulu romanya meremang kalang-kabut. Karena lambat-laun rasa geli itu menyeluruh sampai bulu-bulunya, ia tidak tahan lagi. Cepat ia melepaskan kedua tenaga sakti yang saling berbenturan. Di luar dugaan, begitu ter-lepas dari gangguan itu, mendadak saja tubuhnya menjadi lemas tak berdaya.

Ia kaget luar biasa. Tatkala sadar akan kecerobohannya, Titisari sedang memasuki gua dengan membawa serenteng ikan. Gadis itu terperanjat ketika melihat muka Sangaji berubah menjadi bersemu hijau. Cepat ia meraba pergelangan tangan dan dengan berteriak agak keras ia mencoba membangunkan Gagak Seta.

"Paman! Apakah yang salah?"

Sebenarnya menurut pantas, orang yang sedang tidur berdengkur semacam Gagak Seta takkan mendengar pekikan Titisari. Tapi Gagak Seta adalah seorang yang mahasakti pada zaman itu. Hampir berbareng dengan kalimat Titisari yang penghabisan, ia sudah meloncat bangun terus menyambar perge-langan tangan Sangaji.

"Anak tolol!" makinya sungguh-sungguh. "Kamu mau bunuh diri? Bukankah sudah kunasihatkan, agar tak mengingat-ingat ajaranmu yang dulu?"

Meskipun mulutnya memaki kalang kabut. Tapi segera dia bekerja. Dengan bantuan tenaga saktinya, ia dapat mengendapkan pengaruh getah Dewadaru yang dibangunkan oleh Ilmu Bayu Sejati. Apalagi dikala itu Sangaji telah melepaskan pengaruh kedua tenaga ajaran saktinya. Maka dalam beberapa saat, ia telah pulih kembali. Mukanya yang bersemu hijau, kembali menjadi merah dan lambat-laun nampak segar seperti sediakala.

"Apa yang telah kaulakukan?" bentak Gagak Seta.

"Aku mencoba membangunkan ajaran yang lalu dengan ajaran Paman," jawab Sangaji gugup. "Goblok! Tolol!" maki Gagak Seta. "Otakmu tumpul. Kau harus menginsyafi, tahu?"

"Ya, memang otakku tumpul." Sangaji mengaku. Karena pengakuannya, mendadak timbullah suatu iba dalam diri Gagak Seta. Mulutnya yang sudah siap-siap hendak memaki lantas saja batal. Bahkan, timbullah rasa sayangnya. Sebentar kemudian ia berkata menasihati.


"Memang, aku berharap kamu bisa melebur kedua ilmu itu. Tapi, jangan sekarang! Sebab masing-masing belum kaupahami benar, sehingga kamu belum punya pegangan titik imbangnya. Coba kalau tidak cepat-cepat ketahuan, tubuhmu sudah hangus terbakar. Karena dalam dirimu tersekam tenaga sakti yang dah-syat."

Titisari mempunyai kesan tertentu terhadap Sangaji. Mendengar Gagak Seta memakinya, jadi tidak senang hati. Menungkas, "Hai Paman! Kau mau merasakan kelezatan masakan Karimun Jawa tidak?"

"Tentu saja! Tentu saja!" Gagak Seta menebak-nebak.

"Nah, tolong aku membersihkan ikan-ikan. Dan jangan lagi memaki muridmu di hadapanku." Sebentar saja orang tua itu terhenyak. Kemudian tertawa terbahak-bahak. "Eh! Jadi, aku salah omong? Baiklah aku minta maaf. Ayo, ayo kutolong."

Sangaji jadi perasa. Dengan sungguh-sungguh ia memotong.

"Semua ini akulah yang menerbitkan gara-gara. Biarlah Paman meneruskan tidur. Aku akan membantu Titisari. Dan aku berjanji, aku tidak akan mengulangi kesem-bronoanku semacam tadi."

Dengan cekatan ia menyambar serenteng ikan-ikan tangkapan Titisari dan bergegas keluar gua. Setelah itu, ia menyalakan perdiangan. Dan pada malam harinya, mereka bertiga menggerumuti masakan Titisari yang benar-benar terasa lezat luar biasa.

"Kamu ini memang anak iblis benar," kata Gagak Seta kagum. "Tanganmu membawa kelezatan luar biasa. Selama hidupku baru kali inilah aku merasakan masakan Karimun Jawa. Pantas, ayahmu betah tinggal di suatu kepu-lauan jauh di seberang."

"Tak usah Paman mengeranyangi milik orang kampung. Kami membekal beberapa ringgit. Asalkan Paman setuju, kita meneruskan perjalanan mendekati perkampungan, ayam-ayam dan itik-itik akan kita peroleh."

"E-hem. Itu pun cara yang baik pula. Eh, ke mana sebenarnya tujuan kalian?" Titisari mengalihkan pandang kepada Sangaji. Pemuda itu lantas menjawab.

"Ke selatan. Ke Desa Karangtinalang. Di desa itulah, aku dahulu dilahirkan. Tapi aku dibesarkan di Jakarta."

Gagak Seta merenunginya, kemudian rrenguap lebar dan tanpa berpamitan ia memiringkan tubuh dan merebahkan diri, belum lagi lima pernapasan, dia telah mendengkur ribut. Dan mau tak mau kedua muda-mudi itu segera memilih tempat berbaring masing-masing.

Menjelang tengah malam, Titisari telah tertidur lelap. Tinggal Sangaji seorang diri yang masih bolak-balik di atas tanah. Dengan berdiam diri ia merenungi perdiangan yang masih menyala terang. Pengalamannya berlatih mengaatur napas sehari tadi sangat mengesan dalam dirinya. Dasar wataknya ulet dan tabah, tak: dapat ia menyerah kalah dengan kenyataan sehari tadi. la mencoba memecahkan persolannya. Pikirnya, apa yang dikatakan Paman Gagak Seta benar belaka. Tapi mustahil ia dapat merasakan apa yang kurasakan dalam diriku. Tetapi sewaktu kulepas, tubuhku lantas saja terasa menjadi lemah lunglai.

Apakah hal ini tidak disebabkan karena aku terus melepaskan tenaga dengan sekaligus? Jika kukendalikan sedikit demi sedikit, apakah sama juga pengaruhnya? Baiklah kucoba."

Mendapat pikiran demikian, maka dengan diam-diam ia duduk bersila. Kemudian mengatur napas menurut ajaran Ki Tunjungbiru. Ketika sudah merasa kokoh, segera ia menyedot napas menurut ajaran Gagak Seta. Mendadak saja terdengar Gagak Seta menggerutu.

"Tolol! Jangan terlalu banyak mencampur-adukan, perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit!"

Ia terkejut bukan kepalang, karena sama sekali tak mengira pendengaran Gagak Seta sedemikian tajam. Tapi diam-diam ia bergi-rang hati, karena Gagak Seta lebih condong menasihati. Maka dengan tekun dan penuh semangat, ia menjalankan semua nasihatnya. Napas yang tersedot terlalu kuat, cepat-cepat dikurangi sehingga terasa enteng merata. Dan ajaib! Pengaruhnya tidak begitu tajam. Yang terasa kini, seolah-olah ada selembar lapis hawa merata ke seluruh kulit dagingnya.

"Bagus!" Gagak Seta setengah girang. "Sekarang coba pertebal! Tapi jaga jangan sampai bergelombang. Sedikit bergelombang, kamu akan merasa pengaruhnya. Sebab gelombang itu akan membeku dan menjadi gumpalan tenaga yang harus kaulepaskan cepat-cepat."

Perlahan-lahan dan hati-hati, Sangaji mencoba melakukan nasihat itu. Tetapi bagaimanapun juga, dia belum mendapat pengalaman banyak. Keseimbangan antara tenaga napas ajaran Ki Tunjungbiru dan ajaran Gagak Seta, belum dapat dikuasai. Maka di luar kemampuannya sendiri, mendadak saja terasalah tenaga Kumayan Jati mendesak tenaga Bayu Sejati. Sudah barang tentu Bayu Sejati berusaha mempertahankan diri sebisa-bisanya. Karena itu, terjadilah suatu pergumulan yang menimbulkan riak gelombang. Muka Sangaji lantas bersemu hijau. Waktu itu, perdiangan dalam gua belum padam seluruhnya, maka warna hijau itu cukup terang bagi penglihatan seorang ahli seperti Gagak Seta.

"Tolol! Apakah kamu mau bunuh diri!" bentak Gagak Seta.

Bentakan itu sangat dahsyat, sehingga Titisari terbangun sekaligus. Melihat Sangaji dalam kesulitan, gadis yang cerdas itu cemas hatinya.

"Kendorkan perlahan-lahan!" perintah Gagak Seta. "Terlebih dulu Kumayan Jati. Kemudian Bayu Sejati cepat tarik!"

Sebagai gadis yang terang otaknya. Titisari lantas bisa menebak persoalannya. Tanpa disadari, terloncatlah ucapannya.

"Bagaimana kalau Bayu Sejati yang ditambah?"

Sebenarnya, ia tak tahu tentang sifat Bayu Sejati dan Kumayan Jati yang bertentangan. Ia hanya menarik kesimpulan dari kata-kata Gagak Seta belaka, yang memerintahkan agar menarik Kumayan Jati dan kemudian Bayu Sejati. Tapi memang dia ditakdirkan sebagai seorang gadis yang sangat cerdas pada zaman itu. Ayahnya, seorang ahli ilmu alam, ilmu falak, ilmu ukur, ilmu siasat perang dan tata-berkelahi. Dalam hal ilmu tata-berkelahi, ia kurang menaruh perhatian, sehingga tak mau mewarisi kepandaian ayahnya. Tetapi dalam hal ilmu-ilmu lainnya, ia hampir sejajar. Tak bosan-bosannya ia mengadakan percobaan mencampur adukkan ramuan-ramuan tertentu, sehingga ia ahli dalam hal membuat racun, membuat ramuan obat-obatan dan memasak. Karena itu, begitu mendengar istilah Kumayan Jati dan Bayu Sejati yang terlompat dari mulut Gagak Seta, sekaligus ia dapat menebak.

Sangaji sendiri, sudah semenjak lama merasa takluk kepada kecerdasan Titisari, maka begitu ia mendengar suaranya cepat-cepat ia melakukan sarannya tanpa was-was lagi. Karena ajaran Ki Tunjungbiru telah terlatih masak dalam dirinya, maka tak soal menambah atau mengurangi daya gunanya.

Bukan merupakan sulit baginya. Hasilnya sungguh mengagumkan. Sebab dengan menambah tenaga Bayu Sejati, dengan sendirinya ia melepaskan tekanan arus Kumayan Jati. Dengan demikian kekuatannya jadi berimbang. Tetapi seperti dirasakan semula, ia belum menguasai keseimbangannya. Sehingga menambah tenaga Bayu Sejati dan terlalu melepaskan arus Kumayan Jati yang agak berlebihan, melahirkan suatu per-paduan yang timpang. Seketika itu juga, warna mukanya yang tadi bersemu hijau kini jadi menghitam.

"Apa yang salah?" seru Titisari cemas.

Gagak Seta merenungi. Kemudian berkata penuh selidik.

"Kaulakukan saran bakal isterimu?"

Sangaji hanya kuasa mengangguk.

Kembali Sangaji mengendorkan tenaga Bayu Sejati dan menambah arus Kumayan Jati.

Tak lama kemudian, seluruh tubuhnya merasa nyaman. Tetapi karena kedua tenaga sakti itu belum bisa melebur menjadi satu dan ditambah pula dengan getah sakti Dewadaru, maka tetap saja merupakan unsur yang selalu bertentangan. Sulitnya ialah, karena tak dapat terlihat oleh indera mata. Sehingga keseimbangannya hanya berdasarkan rasa belaka. Maka kembali ukuran arus Kumayan Jati terlalu kuat. Seketika itu juga, seluruh tubuhnya menggigil dan mukanya berwarna hijau tua sampai kelopak matanya hijau pengap pula. Segera Gagak Seta memberi aba-aba dahsyat. "Lontarkan pukulan!"

Sangaji mencoba bangun, tetapi tubuhnya seperti terpaku. Ia mencoba menggeliat. Lengannya pun terasa menjadi kaku pula.

"Tambah Bayu Sejati dan coba lontarkan pukulan!" teriak Titisari tegang. Ia tahu kalau Sangaji lalai sedikit tubuhnya bisa kaku menjadi arca.

Karena jerit Titisari, hati Sangaji terkesiap. Sesungguhnya bibit cinta kasih mulai tersenyum dalam hati nuraninya. Dan orang tahu, apa arti cinta yang tumbuh dalam hati seorang pemuda sebaya dia. Itulah cinta sejati yang berani berkorban dalam segala hal. Maka dengan mati-matian, ia mengendorkan arus Kumayan Jati dan menambah tenaga daya tahan arus Bayu Sejati. Begitu ia merasa mendapat peluang, segera ia menggeliat dan melontarkan pukulan gaya Gagak Seta. Pukulan itu dilontarkan dengan membabi buta dan tepat mengarah dinding gua. Maka seketika itu juga, terjadilah suatu keajaiban luar biasa.

Gua itu sekaligus runtuh berantakan dengan suara gemuruh.

"Bagus! Hebat!" puji Gagak Seta. Tapi berbareng dengan itu, cepat-cepat ia menolong keadaan Sangaji yang jatuh terkulai.

Setelah pulih kembali, mulailah anak muda itu insyaf benar-benar. Karena bagaimanapun juga, kedua unsur ilmu sakti itu masih saja berdiri sendiri. Sifatnya bertentangan dan seo-lah-olah sedang berlomba. Mau tak mau ia harus mendengarkan nasihat Gagak Seta agar melupakan ajaran Ki Tunjungbiru untuk sementara sebelum mendapat jalan keluar.

"Paman! Pukulan yang tadi kulontarkan, benar-benar mengagumkan. Aku hampir-hampir tak percaya. Tetapi mulai sekarang, aku akan tunduk kepada setiap patah kata Paman ...

Gagak Seta waktu itu masih saja memijat-mijat seluruh tubuhnya, la berdiam diri dan se-patah kata pun tiada terbintik keluar dari mulutnya. Suasana dalam gua itu lantas saja menjadi tegang luar biasa.

Kesokan harinya, mereka meneruskan perjalanan mengarah selatan. Perjalanan mereka kini mulai mengitari punggung Gunung Sumbing. Pemandangan seberang-menye-berang sangatlah indahnya. Apa lagi, waktu itu habis hujan. Mahkota daun-daunan nampak segar bugar. Dan sawah-sawah penduduk yang bermukim di atas pegunungan berkesan meriahkan hati.

Gagak Seta menunggang kuda putih, sedangkan Sangaji dan Titisari membebani punggung Willem. Mereka cukup kenal kekuatan Willem, sehingga tak usah meragukan kesanggupannya. Sepanjang jalan Titisari mengobrol tentang bermacam-macam resep makanan sampai mulut Gagak Seta yang keranjingan makan enak, jadi meliur tak keruan. Hatinya bertambah kepencut dan takluk kepada si gadis. Dengan demikian, orang tua itu sama sekali tak sadar sudah menjadi tawanannya.

"Paman!" tiba-tiba Titisari mengalihkan pembicaraan. "Mengapa semalam Sangaji begitu sengsara mencoba memanunggalkan dua ilmu saktinya?"

Dalam keadaan biasa, tak mungkin Titisari memperoleh jawaban. Tapi karena Gagak

Seta sudah terlalu kepencut kepada masakannya, maka tak ingin dia menyakiti hatinya. Segera orang tua itu meloncat ke tanah sambil meraup tiga butir batu. Kemudian ia meloncat kembali ke atas kudanya, la membagi kedua batu kepada Titisari dan Sangaji, sedangkan dia sendiri menggenggam sebutir.

"Batu yang digenggam bakal suamimu itu seumpama ilmu Bayu Sejati. Yang kugenggam ini seumpama Ilmu Kumayan Jati. Dan yang kaugenggam adalah getah sakti Dewadaru. Getah sakti Dewadaru adalah dasar tenaga murni Sangaji, yang dahulu kucapai dengan bertapa tiga tahun lamanya. Meskipun sifatnya berbeda, tapi dalam hal ini ada persamaannya. Yakni suatu himpunan tenaga ajaib menurut kodrat alam."

"Apakah getah sakti Dewadaru itu, Paman?" potong Titisari. Dia belum pernah mendengar tentang riwayat getah sakti itu. Maka Sangaji lantas saja memberi penjelasan dan menceri-takan pengalamannya tatkala menghisap getah sakti pohon Dewadaru di Pulau Edan. Dengan kening berkerut-kerut, Titisari mendengarkan cerita Sangaji dengan sungguh-sungguh. Bulu kuduknya ikut meremang, tatkala cerita Sangaji sampai pada perjuangan menghisap getah. Tanpa disadari terlompatlah rasa kagumnya.

"Sungguh ajaib! Masa di dunia ini ada semacam pohon demikian? Aji! Kenapa kamu tak mengajakku ke sana? Aku mau menghisap seluruh pohon sampai perutku bulat seperti perut babi!"

Seperti diketahui, tatkala Sangaji menghisap getah pohon sakti Dewadaru, perutnya lantas saja menjadi bulat penuh keputih-putihan dan Gagak Seta lantas saja menyahut.

"Hai iblis cilik! Tiga puluh tahun lagi, kalau kamu sudah kehilangan kelangsinganmu, tanpa menghisap getah Dewadaru perutmu akan segemuk babi juga." Setelah berkata demikian, orang tua itu tertawa terbahak-bahak. Dan mau tak mau Sangaji ikut pula tertawa. Titisari lantas saja menjadi dengki. Maklumlah, dalam benaknya tak pernah dia percaya, kalau pada suatu kali kelangsingan dan kecantikan tubuhnya bisa larut digulung umur.

"Baik, baik!" katanya menggigit. "Biar aku kelak menjadi seekor babi, apa pedulimu?" Kemudian cepat-cepat mengalihkan pembicaraan untuk mengelakkan kesan yang tak enak baginya. Katanya, "Apakah pengaruh getah sakti Dewadaru bagi muridmu itu? Bukankah tidak mengganggu?"

"E-hem." Gagak Seta mendehem, la diam sebentar menimbang-nimbang. "Ilmu Bayu Sejati dan Ilmu Kumayan Jati bersumber sama. Meskipun berlainan sifat, tapi pada hakikatnya bersandar pada suatu tenaga mumi seseorang. Dalam hal ini tenaga sakti Dewadaru. Dengan demikian, sesungguhnya getah Dewadaru merupakan bahan yang diperebutkan. Mana yang lebih kuat, dialah yang menang."

"Tapi mengapa, jika Sangaji mengendorkan dan melepaskan kedua unsur ilmu itu, lantas menjadi lemah lunglai? Padahal getah Dewadaru masih tetap berada di dalam tubuh."

"Dewadaru mempunyai sifat menghisap. Itulah sifatnya yang ajaib. Apabila dia telah ditimbulkan, kemudian sandaran hisapan tiba-tiba menghilang, apakah bukan lantas menghisap tenaga tubuh? Kau mengerti?"

Titisari yang cerdas lantas saja dapat memahami. Sebaliknya, Sangaji yang berotak sedikit bebal belum juga dapat mengerti. Maka segera dia minta penjelasan lagi.

"Ah tolol!" damprat Gagak Seta. "Lihat! Bayu Sejati dan Kumayan Jati saling berebut untuk mendapatkan tenaga Dewadaru. Sebaliknya, Dewadaru juga menghisap kedua unsur ilmu sakti itu, karena sifatnya memang menghisap apa saja yang bersentuh. Mendadak saja kamu melepaskan kedua ilmu saktimu. Karena Dewadaru kehilangan sumber hisapan, bukankah lantas saja menghisap sekenanya belaka? Dengan sendirinya yang menjadi sasaran adalah tenaga tubuhmu. Jelas?"

Baru Sangaji dapat memahami persoalannya. Sekonyong-konyong Titisari menimbrung.

"Paman sudah tahu sifat masing-masing. Apakah tidak ada akal untuk melebur dan menunggalkan?"

"Hm, inilah yang masih menjadi soal bagiku," jawab Gagak Seta dengan jujur. Sekiranya ayahmu berada di sini, pastilah bukan soal sulit lagi."

Titisari menghela napas, ketika diingatkan akan kepandaian ayahnya. Sebentar ia bere-nung-renung, kemudian berkata lagi, "Semalam Sangaji berhasil menggempur dinding gua. Dia pun masih jatuh lunglai juga. Bukankah yang dilontarkan adalah tenaga sakti Bayu Sejati dan Kumayan Jati?"

"Bukan! Bukan! Sudah kuterangkan tadi kalau pokok dasarnya ialah berpijak pada kesaktian getah Dewadaru."

"Ah, tahulah aku!" jerit Titisari setengah girang. "Yang dilontarkan, bukankah tenaga sakti getah Dewadaru?"

"Otakmu memang terang," puji Gagak Seta. "Karena itu, aku menganjurkan kepada bakal suamimu agar menggunakan salah satu ilmu sakti saja untuk menghemat tenaga saktinya. Di kemudian hari jika sudah berhasil dilebur, itu lain halnya.

Jika Kumayan Jati dan Bayu Sejati berhasil dilebur ke dalam getah sakti Dewadaru, alangkah dahsyat hasilnya. Aku pun barangkali takkan tahan pukulannya."

"Kenapa?"
"Sebab Dewadaru bukan lagi menjadi bahan, tetapi merupakan gudang penghimpun tenaga sakti Bayu Sejati dan Kumayan Jati sekaligus," jawab Gagak Seta sungguh-sungguh. "Itulah pula sebabnya, aku menganjurkan agar bakal suamimu memupuk daya sakti Ilmu Kumayan Jati terlebih dahulu. Karena Kumayan Jati, pada hakikatnya menghimpun tenaga murni. Sedangkan jurus-jurusnya adalah ilmu pelontaran dan perangsangnya."

Tanpa merasa, mereka telah memasuki lembah Gunung Sumbing sebelah selatan. Dusun Kidang dan Arca sudah dilalui. Kini sudah mendekati Dusun Butuh. Mereka kemudian mencari sebuah gubuk yang berada di luar desa. Di sanalah mereka hendak berhenti dan beristirahat. Kebetulan sekali, gubuk itu menghadap ke barat laut. Pemandangannya sangat indah. Di sana berdiri pegunungan Butak dan Prahu yang samar-samar merupakan latar belakang kemegahan Gunung Sundara. Kali Bregota yang bermata air di kaki Gunung Sumbing, terjun berdesakan melintasi batu-batu alam yang mencongakkan diri di persada bumi. Seleret petak hutan terhampar sepanjang tebingnya. Dan dengan sendirinya, angin yang turun dari pinggang gunung terhisap bening sebelum sampai ke lembah. Terasa hawanya segar-bugar menyegarkan pernapasan.

Sangaji lantas saja memasuki tepi hutan hendak berlatih. Ilmu Kumayan Jati hendak ditekuninya sungguh-sungguh. Ia telah mem-bekal tiga jurus pukulan sakti. Tapi kali ini, dia tidak lagi membutuhkan sasaran batang pohon. Maksudnya hendak memahirkan rahasia lika-liku jurusnya. Baru saja ia berlatih lima puluh kali, keringatnya sudah membasahi seluruh tubuhnya. Tetapi diam-diam ia bergirang hati, karena terasa kedua lengan dan kakinya menjadi kokoh kuat. Ia kemudian beristirahat di bawah rindang pohon sambil mensiasati letak rahasia ilmu sakti itu.

Sekonyong-konyong ia mendengar suara langkah berderapan. Terdengar suara seseorang. "Guru! Kami kira sudah mendekati tempat tujuan."

Sejurus kemudian terdengar jawaban. "Matamu awas juga. Hm, meskipun aku belum puas menyaksikan ilmu larimu, tetapi jika dibandingkan dengan dulu ada kemajuannya juga."

Sangaji terperanjat, la kenal suara itu. Cepat ia mengintip. Dan benar juga. Dia adalah Yuyu Rumpung yang sedang berjalan melintasi hutan dengan diiringkan empat orang muridnya. Keempat murid Yuyu Rumpung itupun, telah dikenalnya, Yakni: Kartawirya, Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek, Setan Kobar dan Maling. Melihat mereka, Sangaji mengeluh. Maklumlah dia seorang diri dan berada agak jauh dari pondokan. Dan terhadap Yuyu Rumpung ia segan bukan main. Maka cepat-cepat ia melompat menerjang gerombolan belukar dan lari sekuat-kuatnya.

Tetapi Yuyu Rumpung bukan anak kemarin sore. Begitu melihat Sangaji lari seorang diri, lantas saja dia membentak.

"Bangsat! Kamu mau lari kemana?" setelah membentak demikian, terus saja dia lari mengejar. Kini dia telah sembuh benar seperti sediakala. Karena itu tidak lagi ia segan-segan seperti dulu. Kecuali itu, terhadap Sangaji bencinya setengah mati. Pertama-tama gagal menangkapnya sewaktu berada di kadipaten Pekalongan dan di alun-alun kena hajar kedua gurunya juga. Kemudian masih mendapat rintangan dari Gagak Seta, sewaktu menyergap di guanya. Sekarang, dia mendapat kesempatan bagus. Keruan saja, lantas memburu mati-matian.

Keempat muridnya bukan pula orang sem-barangan. Merekapun mempunyai dendam. Teringatlah mereka, bagaimana kawan pemuda itu menggantungnya di pohon dan mem-permain-mainkannya di tengah lapangan di depan orang banyak. Itulah sebabnya, seperti saling berjanji mereka serentak mengejar dan hendak menghajarnya sampai mampus.

Sangaji terus saja lari. Ia sadar akan bahaya. Tapi ketika sudah melintasi tebing kali, pondok tempat Gagak Seta beristirahat sudah dekat. Pastilah Gagak Seta akan mendengar suara perkelahiannya. Ia berharap akan mendapat bantuan.

"Bangsat! Jangkrik! Babi!" Maki Yuyu Rumpung kalang kabut. "Kamu mau minggat ke mana?"

Jarak antara Yuyu Rumpung dan Sangaji sudah dekat. Maka dengan terpaksa, Sangaji sekaligus berhenti. Cepat ia berputar dan menekuk lutut sedikit. Itulah gaya lontaran pukulan Kumayan Jati ilmu sakti Gagak Seta.

Kartawirya, Cekatik, Setan Kobar, dan Maling, sama sekali tak mengira, bahwa Sangaji akan berhenti dengan tiba-tiba, meskipun itulah yang mereka harapkan. Karena itu, mereka terus saja nyelonong. Pada saat itu, pukulan Sangaji tiba. Hebat akibatnya, Setan Kobar, Maling dan Cekatik mencoba menangkis. Justru itulah letak sasaran yang dikehendaki Ilmu Kumayan Jati. Maka begitu menangkis, mereka terpental sepuluh langkah dan kedua lengan mereka patah sekaligus. Mereka jatuh pingsan tak sadarkan diri.

Yuyu Rumpung kaget bukan kepalang. Untung tadi, dia sempat menghindari. Meskipun demikian, lengannya terasa panas juga. Sewaktu diperiksa, kulitnya lecet.

Sangaji pun heran bukan kepalang. Sama sekali tak diduganya, bahwa Ilmu Kumayan Jati begitu hebat. Padahal ia hanya menggunakan lima bagian tenaganya. Sebentar ia ter-cengang-cengang. Ketika telah sadar kembali, segera ia meneruskan berlari cepat-cepat.

"Awas! Bocah itu mempunyai ilmu siluman."

Teriak Yuyu Rumpung setinggi langit. "Kartawirya rawat saudara-saudaramu. Biar kupegatnya sendiri, jahanam itu."

Kartawirya tadi berada di pinggir sebelah utara. Ia hanya kena sambar angin pukulan Sangaji karena itu selamatlah dia, meskipun lengannya pegal bukan main.

Dalam pada itu, Yuyu Rumpung telah berhasil mencegat larinya Sangaji. Seperti binatang galak, lantas saja ia menghadang dengan jurus yang mematikan.

Sangaji terperanjat, tanpa berpikir lagi, terus saja ia menekuk lutut dan mengirimkan pukulan Ilmu Kumayan Jati lagi.

Yuyu Rumpung kaget. Selama merantau nampir seluruh kepulauan Jawa, belum pernah ia melihat pukulan aneh semacam itu. ^telihat siku-siku gerakannya nampak berbahaya, ia tak berani sembrono. Cepat ia berguling ke tanah. Inilah pengalamannya yang pertama bertanding melawan seseorang sampai Dergulingan. Tapi mau tak mau, ia harus ne-buat begitu jika ingin selamat.

Melihat pukulan meleset, Sangaji segera sa£ar. Cepat ia berputar dan meneruskan nya. Tapi Yuyu Rumpung dengan sigap terus melompat, berdiri sambil mengejar.

"Titisari! Titisari!" teriak Sangaji ketakutan.

"Tolong panggil Paman Gagak Seta. Aku dirampok orang."

Yuyu Rumpung terkesiap mendengar Sangaji menyebut nama keramat itu, tapi kemudian ia berpikir, eh masa Gagak Seta terus menerus berada di antara mereka. Dia laksana angin yang sebentar datang dan pergi. Hm..., apa kamu mau menggertakku? Mendapat pikiran demikian, lantas saja dia menggertak.

"Bangsat cilik! Kau jangan jual lagak!"

Titisari mendengar seruan Sangaji. Ia melongok dari pintu gubuk. Ketika melihat Yuyu Rumpung datang menguber-uber Sangaji, timbullah watak nakalnya. Pikirnya, Paman Gagak Seta lagi tidur mendengkur. Biarlah aku menguji ilmu Ratna Dumilah. Kemudian berteriak membalas seruan Sangaji: "Aji! Janganlah takut lawanlah dulu, nanti kubantu."

Sangaji cemas, mengapa Titisari tidak minta bantuan Gagak Seta. Sebaliknya Yuyu Rumpung girang dan bertambah yakin, kalau Gagak Seta sesungguhnya tidak ada di antara mereka. Dengan tertawa lebar dia membentak.

"Hurdah! Hurdah! Kalian Kelinci-kelinci muda, ayolah kemari. Kalian mau menggertakku, jangan harap!"

Habis membentak demikian, tenis saja Yuyu Rumpung merangsak cepat. Sangaji menjadi gugup. Maklumlah, dia kenal dan tahu kegagahan lawannya. Tanpa berpikir lagi, tiba-tiba tubuhnya berputar dan meliuk. Itulah jurus kedua ilmu Kumayan Jati. Terus tangannya menyodok.

Yuyu Rumpung sudah mendapat pengalaman. Tapi ia ingin mencoba kekuatan pukulan pemuda itu. Maka ia hanya minggir satu langkah. Mendadak saja ia merasakan arus angin sekuat batang balik menyodok dadanya. Gugup ia memiringkan tubuh. Tetapi tak urung lengannya kena sambar dan panas bukan main. Tentu saja ia jadi keheran-heranan. Pikirnya, baru beberapa hari aku berpisah dengan bocah ini, mengapa ilmunya berubah begini hebat.

Sangaji melihat lawannya mengelak, lantas saja mengulangi serangannya. Tapi kali ini Yuyu Rumpung tak berani lagi mencoba-coba. Dengan meloncat ke samping, ia mendamprat sambil merendahkan.

"Huh bangsat kecil! Kamu hanya mempunyai satu jurus pukulan, jangan harap kau bisa menaklukanku."

Sangaji seorang pemuda yang jujur. Ia tak tahu, kalau Yuyu Rumpung agak jera dan hati-hati, ia ingin benar mengetahui kekuatannya. Tanpa curiga dia menyahut.

"Aku mempunyai tiga jurus. Meskipun demikian, kau tak mampu menangkis dan berani mengadu tenaga." Setelah berkata demikian terus menyerang dengan jurus ketiga.

Yuyu Rumpung terkesiap. Tapi ia ingin melihat ketiga jurus lawannya. Begitu melihat Sangaji berputar-putar melepaskan serangan, cepat ia melompat dan berhasil. Dengan pukulan ini, lantas saja ia mengenal ketiga jurus Sangaji. Yang pertama tatkala di tepi hutan, kemudian yang kedua dan ketiga yang baru dilontarkan. Diam-diam ia bergirang. Pikirnya, asal cepat-cepat menjaga diri masakan bisa kena pukulan. Mendapat pikiran demikian, tanpa ragu-ragu lagi ia merangsak.

Sangaji jadi kerepotan. Berulang-ulang kali ia kena hajar, tetapi selalu saja kena dielakkan. Lengannya lambat-laun jadi pegal juga. Meskipun demikian, seleret cahaya terlintas dalam benaknya sebagai suatu pengalamannya yang berharga untuk kemudian hari. Yakni mulai meresap peringatannya tentang maksud Gagak Seta membuat sasaran pukulan sedemikian rupa sampai tak bisa bergerak. Mendapat peringatan demikian, sadarlah dia akan arti jurus-jurus Ilmu sakti Kumayan Jati yang berjumlah 24 jurus. Pikirnya, sambil berkelahi aku baru mendapat tiga jurus. Seumpama seperempat bagian saja dari semua jurus Ilmu Kumayan Jati sudah kukua-sai, Yuyu Rumpung bukan lagi lawanku yang berarti.

Titisari tatkala itu menonton dari luar gelanggang. Ingin dia mengetahui, sampai di mana kemajuan Sangaji. Begitu lambat-laun melihat Sangaji terdesak segera ia berseru, "Aji! Ming-gir! Biar aku yang melawan."

Berbareng dengan seninya, ia melompat memasuki gelanggang perkelahian. Tubuhnya gesit dan melayang seperti seekor burung bangau. Begitu kakinya mendarat, lantas saja tin-junya bekerja. Di luar dugaan, kedua kakinya ikut pula merangsak cepat luar biasa. Itulah salah satu jurus Ilmu Ratna Dumilah.

Yuyu Rumpung kaget. Cepat-cepat ia berkisar dan mundur beberapa langkah. Inilah hebat, sebab selamanya, belum pernah ia kena desak mundur lawannya dalam satu gebrakan saja. Sebaliknya Sangaji jadi bergirang hati. Diam-diam ia bersyukur melihat kehebatan gadisnya. Maka ia melompat keluar gelanggang dan menjadi penontonnya.

Titisari ternyata lincah dan cekatan menggunakan Ilmu Ratna Dumilah. Hanya sayang, dia belum mampunyai tenaga dasar murni. Andaikata dasar tenaga murninya seperti Sangaji, Yuyu Rumpung dapat dijungkirkan dalam beberapa gebrakan saja. Karena itu, sekalipun pukulannya sering mengenai sasarannya, tetapi lawannya belum juga dapat dijungkalkan. Maklumlah, Yuyu Rumpung adalah penasehat sang Dewaresi dan menjadi guru besar anak-anak buah Banyumas. Selain ilmunya hebat, kulitnya kebal pula dengan senjata.

Beberapa jurus kemudian, ia nampak dapat mendesak Titisari. Dua-tiga kali Titisari kena hajar. Ontung hanya tersambar lintasan. Jika kena telak, sudah semenjak tadi ia dijatuhkan, mengingat Panembahan Tirtomoyo saja tidak tahan menerima pukulannya.

Dalam pada itu Kartawirya sudah datang pula dengan memapah Cekatik, Setan Kobar dan Maling bisa berjalan sendiri, meskipun kakinya pincang dan lengannya patah sebelah. Mereka berdiri di pinggir gelanggang. Melihat gurunya menang, mereka bergembira walaupun mukanya masih pucat lesi.

Sangaji jadi resah. Mau tak mau ia harus segera membantu Titisari. Mendadak ia mendengar Titisari berkata nyaring. "Hai setanbotak! Kamu begini kurang ajar berani mendesakku. Apa kamu tak takut Gagak Seta?"

Yuyu Rumpung tertawa terbahak-bahak, "Hm, kamu mau menggertakku? Jangan harap."

"Kau tak percaya Gagak Seta berada di sini?"

"Meskipun dia berada di sini apa kau kira aku takut padanya?"

"Bagus! Jadi kamu berani melawan Gagak Seta?" Titisari girang. Sebab dalam hatinya, ia lagi mencari siasat memancing lawan agar menantang Gagak Seta yang lagi tidur berdengkur dalam gubuk.

"Kamu kira apa aku ini?" Damprat Yuyu Rumpung sengit.

"Bagus! Jadi kamu tak takut, kalau tiba-tiba Gagak Seta muncul di depanmu?"

"Apa yang kutakuti?"

"Kau tak takut kegarangannya?"

"Bih! Masa aku takut? Biarpun dia bule seperti Baladewa. Aku takkan bisa kejangkitan bulenya? Ohooo..."

"Bagus! Kamu menghina pamanku. Dia berada dalam gubuk!" gertak Titisari. Tetapi

Yuyu  Rumpung  sudah yakin semenjak  tadi, kalau Gagak  Seta tidak  ada di antara mereka.
Itulah sebabnya dia begitu berani. Maka dengan membusungkan dada, ia meledek.

"Kalau benar, suruhlah dia keluar! Seribu Gagak Seta suruhlah mengkerubutku dan aku takkan mundur selangkah pun juga."

Berbareng dengan kalimatnya yang penghabisan, terdengar suara orang mendehem dari dalam gubuk. Itulah dehem Gagak Seta yang terbangun oleh caci-cercanya. Maka terdengar suara Gagak Seta nyaring.

"Nona manis! Tolong hajar pipinya si Monyet meloncat parit terenggut Babi Buduk kesodok Anjing Kencing!"

Titisari heran mendengar ucapan Gagak Seta. Tapi dasar ia cerdas, mendadak saja tahulah dia maksud orang tua itu. Bukankah Monyet melompat parit itu adalah nama jurus Ilmu Ratna Dumilah yang berbunyi, Amangkurat Mas melintasi perbatasan-perbatasan? Dan arti terenggut Babi Buduk adalah nama jurus dipegat Opsir Belanda. Sedangkan istilah kesodok Anjing Kencing, maksudnya dihancurkan Ontung Surapati. Hanya saja istilah-istilah nama jurus Ilmu Ratna Dumilah itu diganti demikian rupa, agar tak diketahui lawan sambil menghinanya.

Titisari jadi geli setelah dapat menebak maksud Gagak Seta. Waktu itu ia melihat, Yuyu Rumpung sedang bersiaga hendak melancarkan serangan. Ia berbimbang-bimbang. Pikirnya, dia menyuruhku menggunakan tiga jurus Ratna Dumilah dengan sekaligus. Apakah dia sudah bisa menebak maksud lawan. Percaya kepada kehebatan ilmu Gagak Seta, gadis itu lantas saja melancarkan serangan jurus pertama sebagai kelinci percobaan. Hasilnya sungguh mengagumkan. Mendadak saja Yuyu Rumpung gugup merubah jurus serangannya menjadi suatu pertahanan. Keruan saja, Titisari terus memberondong dengan dua jurus berikutnya. Di luar kesadarannya sendiri tangannya mendadak saja sudah menggaplok pipi kanan Yuyu Rumpung. Untung, tangannya belum bertenaga. Meskipun demikian, sebagai pendekar besar Yuyu Rumpung malu bukan main.

"Monyet!" makinya. "Apa kamu sudah sekarat?"

Terdengar suara Gagak Seta dari dalam gubuk, "Kuda Binal mendupak pantat, tercebur dalam kubangan Kopi, kena sambar geledek Tikus, keserobot Babi Gering."

Titisari jadi tertawa cekikikan mendengar kalimat-kalimat pengganti istilah jurus Ratna Dumilah. Ia kini percaya benar, kalau orang tua itu dengan tepat dapat menebak kemauan musuh, garis pertahanannya dan jurus-jurus serangannya. Maka tanpa ragu-ragu lagi, ia terus mendesak.

Yuyu Rumpung mendengar pula ucapan Gagak Seta. Ia sibuk menduga-duga. Maka begitu melihat serangan Titisari, cepat ia bersiaga. Sebagai seorang pendekar kawakan, ia tak menjadi gugup menghadapi macam serangan bagaimanapun hebat dan anehnya. Hanya saja ia heran, mengapa dia tadi bisa kena tamparan. Padahal dia sudah ber-siaga-siaga pula. Bahkan diam-diam sudah mempersiapkan suatu serangan balasan. Apakah orang yang mengkisiki gadis itu mempunyai mata dewa, pikirnya menebak-nebak.

Tapi kali ini pun dia kena jebak pula. Jurus-jurus yang sudah dipersiapkan jadi macet. Sebaliknya, gerakan Titisari seperti mempunyai mata. Dengan gesit, kedua tangan dan kakinya berserabutan. Dan hati-hati Yuyu Rumpung melayani. Ia mencoba berlaku seksama. Tapi aneh! Masih saja lututnya kena sapu. Meskipun tak sampai jatuh, namun tubuhnya tergetar juga.

"Kurangajar!" makinya kemudian berkata nyaring mengarah ke gubuk, "Tolong! Siapa orang cendekiawan yang bersembunyi dalam gubuk?"

Sampai sekian lama ternyata dia belum juga mengenal suara siapa yang bersembunyi dalam gubuk. Sebaliknya, Gagak Seta tak mengindahkan. Waktu itu dia lagi menggerayangi masakan Titisari yang sudah disiapkan di atas tanah. Dia makan seperti kuda keranjingan. Menghantam daging, menggerogoti paha ayam. Mencicipi sayur dan menyikat habis gorengan ikan sungai.

Yuyu Rumpung jadi penasaran. Sebagai seorang penasehat sang Dewaresi yang berwibawa di daerah Banyumas, ia merasa terhina. Maka dengan tak segan-segan lagi, ia mendesak Titisari sampai keripuhan. Berkali-kali gadis itu terancam bahaya. CJntung dia gesit, sehingga senantiasa dapat menghindari semua pukulan. Sebaliknya, Sangaji jadi cemas. Tanpa mengukur kepandaian sendiri, ia melompat kembali ke gelanggang.

"Sekarang aku minta sambel goreng dan bergedel anjing," seru Gagak Seta dari dalam gubuk.
Ternyata sambil menikmati makanan, orang tua itu masih bisa juga memberi nasihat-nasihat.

Titisari segera tahu maksud Gagak Seta. Cepat  luar  biasa, ia  mendorong  Yuyu

Rumpung ke suatu sudut tertentu. Kemudian ia memberi isyarat kepada Sangaji agar memukulnya. Dan tanpa ragu-ragu lagi, Sangaji terus saja melontarkan pukulan sakti Ilmu Kumayan Jati jurus pertama dan jurus kedua dengan sekaligus.

Yuyu Rumpung terkejut luar biasa. Ia kenal, kehebatan pukulan Sangaji. Karena itu, dengan mati-matian ia mengelak dan menjatuhkan diri bergulungan di atas tanah. Setelah dapat berdiri kembali, segera ia berseru nyaring.

"Tuan yang bersembunyi di dalam gubuk. Sudilah Tuan memperkenalkan nama Tuan, agar aku tahu diri."

Tapi sekali lagi, Gagak Seta tak mempedu-likan. Enak saja, dia menggerumuti makanan sambil memberi petunjuk-petunjuk dari dalam dinding.

Titisari dan Sangaji heran bukan kepalang. Semua jurus-jurus yang dianjurkannya selalu tepat. Dia seperti sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan lawannya. Itulah sebab-nya, kerjasama mereka bertambah yakin dan yakin.

"Bangsat! Babi!" maki Yuyu Rumpung kalang kabut. Segera dia berusaha mendesak, tapi selalu saja dapat digagalkan olehjurus-jurus kedua anak muda yang terpimpin dari jauh. Kartawirya yang menonton dari luar gelanggang jadi penasaran pula. Ingin dia membantu, tapi segan kepada gurunya. Sebab kalau dia terus menceburkan diri dalam gelanggang tanpa seizinnya adalah bagai merendahkan derajat sang guru. Karena itu, seperti cacing terinjak ia bergelisah seorang diri.

Setelah cukup menghajar Yuyu Rumpung pulang-balik, akhirnya Gagak Seta berkata, "Nona manis! Tolong kisikkan kepada binatang itu, siapakah sebenarnya yang berkata ini dan bilang, agar dia jangan berkisar dari tempatnya."

Mendengar perkataan Gagak Seta, Titisari segera berkata sambil mendesak, "Hai kau binatang botak! Tahukah siapa yang berada di dalam gubuk itu? Dialah Paman Gagak Seta yang sudah kuberitahukan kepadamu terlebih dahulu. Dia minta agar kamu jangan berkisar dari tempat."

Mendengar ujar Titisari, Yuyu Rumpung masih saja belum percaya, la berbimbang-bimbang.

Dengan mata melotot ia men-damprat.

"Hm... kaukira apa aku ini, sampai bisa kaugertak?" Titisari hendak membalas dampratan itu, mendadak ia mendengar Gagak Seta berkata nyaring.

"Nona manis! Kemarilah sebentar! Dan biarkan anak tolol itu melayani anjing buduk itu. Suruhlah menggempurnya dengan tiga jurus terus-menerus. Dan tak bakal dia berani mendekat."

Benar juga. Ketika Sangaji terus-menerus menggempur Yuyu Rumpung dengan tiga jurus ilmu sakti Kumayan Jati, tak berani pendekar botak itu mendekati. Ia melompat mundur dan berdiri dalam jarak sepuluh langkah. Dengan begitu, lambat-laun pertempuran jadi berhenti sendiri.

Dalam pada itu, Titisari datang memasuki gubuk. Dan tak lama kemudian, keluar lagi dengan membawa sebatang tongkat terbuat dari baja putih ). Tongkat baja putih itu berkilauan, tatkala kena pantulan surya. Dan itulah kelebihannya ketika dibandingkan dengan tongkat yang terbuat dari kayu atau besi atau baja hitam. Selain itu tidak ada keistimewaannya lagi. Meskipun demikian, ketika Yuyu Rumpung melihat tongkat tersebut, lantas saja menjadi pucat lesi.

Tubuhnya menggigil. Sangaji dan Titisari tidak heran lagi, mengapa Yuyu Rumpung kemudian menjadi ketakutan. Mereka sudah menyaksikan tatkala Yuyu Rumpung kena gertak Gagak Seta dalam gua dua hari yang lampau. Hanya saja, mereka tak mengira pendekar botak itu sampai menggigil tubuhnya.


Paman Gagak Seta berkata, "Kamu binatang disuruh memilih macam hukuman. Apakah hukuman seperti di Gombong atau menerima pukulan kawanku ini," kata Titisari.

Mendengar ujar Titisari, Yuyu Rumpung sekaligus menjatuhkan diri di atas tanah. Ia menyembah berulang-kali ke arah gubuk. Kemudian berkata minta dikasihani.

"Kasihanilah hambamu. Jika paduka sudi mengampuni hamba, mulai detik ini takkan lagi berani bertemu dengan paduka..."

Titisari segera balik ke gubuk. Berapa saat lagi, ia datang kembali seraya berkata, "Karena kamu berani berkata, maka Paman Gagak Seta memutuskan begini, kau tetap belajar kenal dengan pukulan kawanku ini ditambah mulai detik sekarang, jangan mengusik kami berdua. Jika melanggar dua larangan itu, nyawamu akan dicabut dari sedikit demi sedikit. Nah, jawablah tanpa kata-kata! Suaramu terlalu berisik."

Yuyu Rumpung tahu arti kata mencabut nyawa sedikit demi sedikit. Yakni hukum picis, biasanya orang yang kena hukum picis, tubuhnya diikat pada suatu pohon. Lantas kulitnya dirusak. Setelah itu dikupas. Kemudian anggota tubuhnya dipagasi satu demi satu. Isi perut dan jantungnya akan dikeluarkan dan baru ditikam sampai mati. Karena itu, tubuhnya bertambah menggigil. Kejadian itu menunjukkan, betapa berwibawa nama Gagak Seta di depan matanya. Padahal dia termasuk salah seorang pendekar sakti undangan Pangeran Bumi Gede.

"Nah, bagaimana?" gertak Titisari seraya mengacungkan tongkat Gagak Seta.

Tanpa berani melepaskan sepatah kata, Yuyu Rumpung memanggut-manggut sambil mencium tanah.

"Bagus!" seru Titisari girang. Segera ia mengedipi Sangaji, agar melepaskan satu jurus ilmu sakti Kumayan Jati. Tapi Sangaji berbimbang-bimbang. Anak muda yang jujur hati itu, kemudian lari memasuki gubuk, berkata kepada Gagak Seta, "Paman! Ampuni dia!"

"Apa kau bilang! Ampuni?" bentak Gagak Seta. Selama bergaul beberapa hari itu, belum pernah Sangaji mendengar dan melihat Gagak

Seta membentak begitu garang. Biasanya orang tua itu, gemar bersenda-gurau dan melucu. Karena itu, hatinya terkesiap dan samar-samar tahulah dia mengapa Yuyu Rumpung bisa ketakutan setengah mati terhadapnya. Pastilah orang tua itu, di saat-saat tertentu bisa berbuat kejam luar biasa.

"Ya... aku memintakan ampun baginya," ujar Sangaji. "Karena memukul orang tanpa perlawanan adalah suatu perbuatan pengecut."

"Hm, kau tahu apa perkara pengecut dan tidak. Perkara perbuatan ksatria dan tidak. Dia orang jahat! Sekiranya tidak ada aku, bagaimana bisa dia membiarkan kamu hidup utuh? Pastilah tubuhmu akan dicincang dan dijadikan bergedel. Nah, lakukan perintahku! Kau nanti tahu, siapakah dia sebenarnya."

Diingatkan akan perangai Yuyu Rumpung, mau tak mau Sangaji harus mengangguk. Memang, orang itu kejam luar biasa. Hampir saja dia mampus tatkala kena tindih di halaman kadipaten Pekalongan dahulu. Teringat akan perlakuan orang itu terhadap Panembahan Tirtomoyo, hatinya menjadi mendongkol pula. Karena itu, meskipun hukuman Gagak Seta terasa kurang berkesan perwira baginya, setidak-tidaknya apa yang dikatakan tentang dasar watak Yuyu Rumpung sebagian besar meyakinkan hatinya.

Perlahan-lahan dia mendekati Yuyu Rumpung yang sudah berdiri tegak menunggu hukuman. Benar-benar orang tua itu tak berani berkutik. Tapi matanya melototi penuh kegusaran kepada Sangaji dan Titisari. Kartawirya pun yang berada di luar gelang-gang, tak dapat berbuat sesuatu untuk meringankan hukuman guru besarnya. Cekatik dan Maling, terpaksalah dia menyaksikan pelaksanaan hukuman itu.

"Hai    manusia       mencari        gebuk!"         kata    Titisari girang.         "Kamu sudah melukai Panembahan Tirtomoyo, kakek kawanku itu. Kecuali itu, sudah untuk sekian lamanya menguber-uber dan mengusik ketenteramannya. Dosamu sudah terlalu besar. Apa lagi berani menghina dan menantang Paman Gagak Seta. Kalau saja, kepalamu masih bisa menancap di atas lehermu, sudah merupakan suatu karunia besar."

Yuyu Rumpung tak berani membalas. Hanya, kedua matanya melotot begitu hebat seakan-akan mau copot. Hatinya geram bukan main seumpama tidak ada Gagak Seta, entah apa yang akan dilakukan untuk men-cingcang kedua muda-mudi itu.

Titisari kemudian memberi isyarat kepada Sangaji.

"Sekarang hukuman akan dilakukan. Awas, jangan berani kamu mengelak. Paman Gagak Seta mengintip dari balik dinding."

Terhadap Gagak Seta, Yuyu Rumpung sudah takluk sampai ke bulu-bulunya. Tapi terhadap Sangaji, bagaimana dia bisa mengaku kalah? Meskipun demikian, tak berani dia membantah. Mau tak mau dia harus menerima semua perlakuan Sangaji dan Titisari.

Waktu itu, Sangaji sudah meliukkan tubuh. Tadi, dia hendak menggunakan sebagian tenaganya saja. Tapi karena mendengar ancaman Titisari bahwasanya Gagak Seta mengintip dari balik dinding, terpaksa ia menggunakan seluruh tenaganya. Lututnya lantas saja menekuk dan terlepaslah pukulannya. Dan hebat akibatnya. Tubuh Yuyu Rumpung nampak bergo-yang-goyang, la seperti kebal dari pukulan Kumayan Jati. Ia tersenyum menunggu kepu-tusan. Mendadak saja, dia Iontak darah dan tubuhnya jadi sempoyongan. Dengan begitu, perlakuannya terhadap Panembahan Tirtomoyo telah terbalas. Titisari jadi girang. Dengan bertolak pinggang ia lantas berkata, "Itulah hukumanmu yang setimpal. Sekarang, enyah dan jangan lagi berani mencoba mengganggu kami berdua."

Dengan memaksakan diri, Yuyu Rumpung membungkuk ke arah gubuk sambil berkata, "Terima kasih atas kemurahan Paduka..."

Setelah itu melototi Sangaji dan Titisari. Kemudian berjalan tertatih-tatih meninggalkan gelanggang bersama keempat muridnya yang sudah bangkit.

Titisari kagum kepada daya tenaga pukulan Sangaji yang bisa merontokkan jantung Yuyu Rumpung. Ia memuji dan girang menyaksikan kemajuannya. Tetapi tatkala menghadap Gagak Seta, orang tua itu nampak bersungut-sungut.

"Mestinya, kamu harus bisa merontokkan tulang-belulangnya," katanya menyesali. "Tapi jika dibandingkan dengan tenaga pukulanmu kemarin, sekarang nampak ada kemajuannya."

Mereka bertiga kemudian menghadapi hidangan. Tadi Titisari sudah selesai memasak hidangan-hidangan yang direncanakan untuk hari itu, kini tinggal sisa-sisanya belaka, kare-na sebagian besar sudah disikat habis oleh Gagak Seta. Tetapi kedua muda-mudi itu tak mengambil pusing, sebab hidangan itu memang sengaja diperuntukkan baginya. Kalau Gagak Seta bisa terus menerus tertawan oleh suatu hidangan-hidangan tertentu, dapat diharapkan sudi berada bersama mereka lebih lama lagi. Artinya, mau tak mau ilmu Gagak Seta bisa dikorek sedikit demi sedikit.

"Paman!" ujar Titisari. "Yuyu Rumpung si binatang botak tadi terkejut setengah mati, tatkala aku menyebutkan hukuman seperti Gombong. Mengapa?"

"Tentu saja," sahut Gagak Seta sambil tertawa. Kalau kera buduk itu berani membantah, aku akan memperlakukannya seperti tatkala di Gombong. Peristiwa itu terjadi kira-kira pada lima belas tahun yang lalu. Kera buduk itu percaya kepada suatu kepercayaan, bahwa seorang laki-laki bisa mempertahankan kemudaannya, jika sekali-kali merusak kesucian gadis-gadis belasan tahun..."

"Apanya yang dirusak?" Titisari minta keterangan.

Titisari  adalah  seorang  gadis  yang  polos.  Umurnya  lagi  menginjak  delapan  belasan  tahun.


Belum banyak ia hidup dalam masyarakat, karena baru untuk pertama kalinya ini dia hidup berpisah dari orangtua. Semenjak kanak-kanak, ia hidup di samping orang tuanya jauh di seberang lautan. Sama sekali, ia tak mengenal arti pergaulan antara pemuda dan pemudi. Dia hanya mendengar kabar, bahwa pada suatu kali orang mesti kawin. Di Karimun Jawa pun seringkali dia melihat penduduk setempat saling kawin dan kemudian mempunyai anak. Mengapa semuanya itu terjadi, otaknya yang masih kanak-kanak belum sampai mempersoalkan. Dalam sehari-harinya, ia hanya menekuni pelajaran-pelajaran dan pendidikan dari ayahnya. Tatkala ibunya meninggal gara-gara perbuatan Abu dan Abas, hatinya lantas menjadi gelisah. Ayahnya tidak lagi seramah dahulu. Dia, hanya nampak uring-uringan dan menghajar semua pegawainya. Terhadap dirinya, tak lagi ayahnya menaruh perhatian. Karena merasa sebal, lantas ia minggat. Pada saat itulah dia mulai mengenal arti penghidupan sebenarnya. Pengalaman-pengalamannya cukup pahit karena dia harus berjuang sendiri mencari sesuap nasi. Mula-mula dia mengan-dalkan harta benda yang dibekalnya. Setelah habis, mulailah dia menanggung sengsara. Kemudian bertemulah dia dengan Sangaji. Ia senang bergaul dengan pemuda itu. Di luar kesadarannya sendiri, ia merasakan suatu kesedapan rasa yang manis luar biasa. Perasaan naluriahnya lantas tumbuh tanpa diketahui sendiri. Rasanya ia enggan berpisah dengan pemuda itu biar seujung rambut pun.

Tatkala berpisah beberapa hari dengan Sangaji, hatinya terasa menjadi sepi. Maka berpikirlah dia tentang pengertian suami-isteri. Menurut jalan pikirannya, seorang isteri takkan pisah lagi dari suaminya. Karena tak ingin berpisah lagi dari Sangaji, ia merasa dirinya menjadi isterinya. Dengan sendirinya Sangaji adalah suaminya. Selebihnya dia masih gelap.

Gagak Seta terdiam sejenak, ketika mendengar pertanyaan Titisari. Sulit ia menjawabnya. "Kelak saja, jika kamu pulang kembali ke rumah tanyalah hal itu kepada ibumu." "Ibu sudah lama meninggal," sahut Titisari.

"Oh..." Gagak Seta terdiam lagi. Kemudian seperti memutuskan, "Baiklah... jika demikian, beberapa tahun lagi kamu akan mengerti. Suatu kali, kalau aku menghadiri perayaan perkawinanmu... pastilah kamu akan mengerti tanpa penerangan lagi..."

Muka Titisari jadi merah dadu. Bukan disebabkan soal khayal perhubungan suami-isteri, tapi karena arti perkawinan itu sendiri. Ia malu terhadap Sangaji, karena orang tua itu seolah-olah membongkar kehendak hatinya.

"Baiklah, jika Paman tak sudi menerangkan," katanya.

Gagak Seta menjadi lega hati mendengar ujarnya. Lantas meneruskan ceriteranya.

"Pokoknya, si kera buduk itu mempunyai 45 gadis-gadis yang diperolehnya dari hasil penyerobotan, paksaan dan ancaman. Mereka semua hendak dikawini. Kautahu?"

Samar-samar Titisari mulai mengerti. Mendengar Yuyu Rumpung hendak mengawini 45 orang gadis, hatinya menggeridik. Seumpama Sangaji isterinya sebegitu banyaknya, pastilah dia tak terpandang lagi. Dan itu bukan tujuannya.

"Ih!" serunya. "Bagaimana mengurusnya?"

"Bukan diurusnya lagi. Hanya dikumpulkan belaka. Mereka tersiksa lahir batinnya. Coba bayangkan, seumpama Sangaji mempunyai isteri sekian banyaknya, bagaimana perasaan-mu?"

Titisari terkejut. Terasa suatu kepahitan menggigit hatinya. Tanpa merasa, air matanya jadi berlinang.

"Aku mendengar kabar itu," Gagak Seta meneruskan. "Mula-mula kuanggap sebagai dongeng. Ketika benar-benar terjadi, dia segera kubekuk dan kuhajar sampai kepalanya botak. Setelah itu dia kusuruh telanjang. Kedua lengannya kuikat erat dengan tongkat itu. Kemudian kupaksa mengantarkangadis-gadis itu pulang kembali ke kampung halamannya dengan telanjang bulat.

Bisa kaubayangkan bagaimana hatinya tersiksa oleh hukuman itu..."

Gagak Seta tertawa gelak terkenang oleh peristiwa itu. Ujarnya lagi, "Hatiku belum puas juga. Tubuhnya lantas kusiram air gula dan kuborehi ) daging mentah. Setelah itu, ku-kerumunkan pula segenggam semut merah dan serangga. Sudah barang tentu, dia mencak-mencak ribut tak keruan. Sebab seluruh tubuhnya lantas saja menjadi gatal kena gigit semut merah dan panas diserang serangga..."

Sangaji ngeri membayangkan hukuman itu. Sebagai seorang laki-laki dapatlah dia merasakan bagaimana hebat siksaan batin Yuyu Rumpung tatkala melakukan hukuman itu. Kecuali malu bukan main, tubuhnya tersengat hebat oleh bisa serangga dan semut merah. Belum lagi, disoraki orang sepanjang jalan dan harus pula mengantarkan pulang 45 orang gadis yang tempat tinggalnya berpencaran di kotanya masing-masing. Tapi Titisari berkesan lain. Gadis itu bahkan bersyukur dalam hatinya, mendengar kabar siksaan hati Yuyu Rumpung. Katanya setengah bersorak,

"Mestinya dia harus Paman siksa berjalan terbalik. Nah, itu namanya baru pantas..."

"Tidak! Tidak!" bantah Gagak Seta penuh kemenangan. "Hukuman itu lebih berat daripada dihukum mati."

"Ah! Apakah begitu?" gadis itu heran.

"Ya. Dan dia kuancam lagi. Apabila sampai bertemu aku kembali, nyawanya akan kucabut sedikit demi sedikit. Itulah sebabnya. Ia ketakutan setengah mati."

Titisari diam seperti lagi memikirkan sesuatu.

"Tongkat Paman seperti mempunyai keramat. Tahulah aku sebabnya, karena dia pernah terikat erat-erat pada tongkat itu. Begitu melihat tongkat itu, lantas saja ia teringat siapa pemiliknya. Tetapi... sebaliknya kejadian tadi merupakan soal rumit bagi kami berdua. Bukankah kita tak bakal hidup bersama-sama untuk selanjutnya? Aku tahu, pada suatu kali Paman pasti meninggalkan kami. Bagaimana kalau dia kemudian membalas dendam dan melampiaskan amarahnya kepada kami?"

Gagak Seta tertawa terbahak-bahak sambil menyahut, "Otakmu memang cerdik seperti iblis benar. Aku tahu maksudmu. Kau ingin aku mewariskan seluruh Ilmu Kumayan Jati kepada bakal suamimu sampai bisa danberbareng memberi ilmu lain kepadamu. Baiklah! Apa boleh buat, aku sudah kepincut dengan masakanmu. Nah, carilah resep makanan dan masakan kira-kira seratus macam. Selama itu, kukira kalian berdua sudah bisa menaklukkan orang-orang gagah di seluruh kepulauan Jawa ini."

Mendengar ujar Gagak Seta, Titisari girang luar biasa. Lantas saja ia menyambar perge-langan tangan Gagak Seta dan dibawanya lari ke pinggir hutan. Di sana Gagak Seta menurunkan dua ilmu sakti lagi kepadanya. Sedangkan kepada Sangaji, ia mewariskan sembilan jurus ilmu sakti Kumayan Jati sekaligus dengan pecahan-pecahannya. Dengan demikian, pada hari itu juga Sangaji sudah memiliki ilmu sakti Kumayan Jati yang terbagi menjadi dua bagian. Yakni keras dan lunak.

Tetapi mempelajari gaya jurus ilmu Kumayan Jati, bukanlah mudah. Sangaji diajar melompat tinggi di udara. Di sana dia harus bisa berputar dan turun ke bawah dengan melontarkan serangan. Menyerang dari atas mempunyai daya tekanan dua kali lipat. Tatkala Gagak Seta memberi contoh, tanah yang jadi sasaran bidikan sekaligus am-blong ) menjadi kubangan sedalam dua langkah seorang laki-laki. Bisa dibayangkan bagaimana hebat tenaganya.

Untuk memahami kesembilan jurus ilmu sakti Kumayan Jati ini, Sangaji membutuhkan waktu sepuluh hari lamanya. Selama itu. Titisari melayani selera Gagak Seta dengan secermat-cermatnya. Orang tua itu merasa puas dan tak habis-habisnya memuji keahliannya.

Tujuh hari kemudian, Sangaji mulai dapat menguasai pecahan-pecahannya kesembilan jurus sakti Kumayan Jati. Memang Ilmu Kumayan Jati bukan ilmu sembarangan. Nampaknya sederhana tetapi mengandung rahasia pukulan luar biasa bagusnya. Kecuali itu, memiliki segi-segi bidikan yang dapat menyekat dan menguasai semua penjuru bidang gerak. Inilah keistimewaannya.

Sesungguhnya Ilmu Kumayan Jati adalah ilmu andalan Gagak Seta hasil dari ciptaannya sendiri. Ilmu itu berdasarkan kunci sari-sari Ilmu Kawrastan, Pangabaran Sepi Angin, Pemepesan, Bandung Bondowoso, Lebur-seketi, Gimeng, Lindupanon dan Narantaka. Konon menurut cerita, ilmu-ilmu itu adalah milik Syanghyang Wenang, Syanghyang Tunggal, Resi Abiyasa, Manikmaya, Hanuman, Gondomono, Drestarata, Kasipu, Resi Seta,

Pandudewanata dan Harjuna. Gagak Seta berhasil meleburnya menjadi satu. Setelah ditekuni bertahun-tahun lamanya, ia berhasil menciptakan ilmu sakti luar biasa yang diberinya nama, Kumayan Jati. Dulu ia mengadu kesaktian melawan Kyai Kesambi, Kyai Haji Lukman Hakim, Pangeran Mangkubumi I, Adipati Surengpati, Kebo Bangah dan Pangeran Samber Nyawa. Ilmu Kumayan Jati belum rampung diciptakan. Seumpama sudah rampung pasti dia merebut gelar pendekar sakti nomor satu. Meskipun demikian, ilmunya yang belum paripurna sudah memperoleh pujian hebat dari semua yang hadir. Bahkan mereka semua mengagumi dan menyegani. Dengan demikian, Sangaji merupakan seorang yang kejatuhan rejeki tak ternilai har-ganya. Karena ialah satu-satunya orang sepanjang sejarah yang kelak dapat mewarisi Ilmu Kumayan Jati seluruhnya.

Titisari pun tercatat pula oleh sejarah sebagai seorang wanita suku Jawa satu-satunya yang memiliki ilmu prajurit ). Dialah sebe^ narnya yang berhak mendapat julukan Srikandi untuk yang pertama kalinya. Dari Gagak Seta ia mewarisi beberapa ilmu sakti yang bercampur aduk. Yakni: Ilmu Pameling, Mundri, Panitisan, Pranawajati, Pramanajati, Condobirowo, Pangabaran, Poncosona, Panra-wangan dan Pengesanan. Dan dari ayahnya ia mewarisi ilmu siasat ilmu alam, ilmu falak dan ilmu pelarutan.

Dalam sebulan saja, mereka berdua sudah menjadi manusia-manusia baru. Mereka kini, bukan lagi seperti sepasang muda-mudi yang dahulu. Tubuhnya menjadi kekar, cekatan, gesit dan padat. Otaknya mendadak saja menjadi cerah dan terang. Sangaji sendiri yang sering di sebut sebagai seorang pemuda tolol tiba-tiba saja tersulap menjadi seorang pemuda yang cerdas. Inilah berkat pengkajian dan usaha keseimbangan antara sari-sari Ilmu Bayu Sejati dan Kumayan Jati yang bersandar pada daya sakti Dewadaru.

Pada suatu hari, mereka telah berada dekat Dusun Karangtinalang. Selama bergaul satu bulan itu, mereka selalu berpindah-pindah tempat mendekati tujuan. Gagak Seta kini bersikap lain kepada Sangaji. Meskipun bukan seperti guru, namun sikapnya lebih ramah daripada dahulu.

Waktu itu sore hari, matahari hampir tenggelam di balik gunung. Gagak Seta memanggil

Sangaji dan Titisari menghadap padanya. Orang tua itu kemudian berkata, "Anak-anak! Kita sudah berkumpul lebih dari satu bulan lamanya. Sudah tiba waktunya kita berpisah."

Mereka berdua sudah barang tentu terkejut mendengar berita itu. Serentak Titisari berkata tinggi.

"Paman! Jangan Paman meninggalkan kami. Aku masih mempunyai beberapa resep masakan yang harus Paman nikmati..."

"Anakku," kata Gagak Seta penuh kasih. "Ingat, tidak ada pesta yang tidak bubar. Kautahu, biasanya aku tak pernah mengajar orang lain lebih dari tiga hari. Tetapi terhadap kamu berdua, sudah melebihi satu bulan lamanya. Aku tak bisa tinggal lebih lama lagi."

"Kenapa?" Titisari minta keterangan dengan cemas.

"Ilmuku akan kalian kuras habis..."

"Ah, Paman! Paman seorang yang berbudi. Hati Paman begini mulia dan baik. Dahulu pernah aku mendengar pepatah bahasa dari Ayah. Bunyinya begini, 'Sekali kamu berbuat suatu kebajikan, pertahankan kebajikan itu selama hayatmu dikandung badan', " kata Titisari mengambil hati. "Paman sudah menurunkan kesembilan bagian ilmu sakti Kumayan Jati. Itu baru separuhnya. Jika

Paman menurunkan yang sembilan jurus lagi, bukankah akan lengkap jadinya. Dengan demikian, sejarah Paman ada bekasnya. Karena Sangajilah orang yang akan memupuk dan mengagungkan ilmu Paman."

Gagak.Seta tertawa terbahak-bahak sambil meludah ke tanah. Katanya tak senang hati, "Janganlah kamu mendongeng tentang suatu kebajikan. Aku bukan orang berbudi. Aku bekerja menurut kemauanku sendiri dan takkan membiarkan diriku diperintah siapapun juga. Biar malaikat pun, apa peduliku. Sekarang aku mau pergi dan pergilah aku."

Sehabis berkata demikian, dengan sebat ia menyambar tongkatnya. Kemudian terus saja bangkit dan pergi meninggalkan mereka.

Titisari dan Sangaji bingung bukan kepalang. Mereka saling pandang dan tak tahu lagi, apakah yang harus dilakukannya. Seperti saling memberi isyarat, mereka kemudian lari menyusul. Tetapi Gagak Seta bukan orang sembarangan. Sekali berkelebat, tubuhnya telah lenyap.

"Paman! Paman!" teriak Sangaji. "Aku ' adalah muridmu... Sekian lama aku mengabdi padamu belum pernah aku menyatakan sebagai muridmu. Kini dengan saksi bumi dan langit, aku mengakui Paman sebagai guruku.

Dan Paman sudah menurunkan ilmu sakti kepadaku. Sedangkan aku belum dapat membalas budi. Paman! Dengarkan suaraku ini. Aku ingin membalas jasa dan budi Paman. Katakan, apakah yang harus kulakukan!"

Sangaji adalah seorang pemuda yang kukuh hati, sehingga tak gampang-gampang ia mengakui seorang sebagai gurunya. Meskipun andaikata orang itu kepandaiannya melebihi kedua gurunya. Dahulu dia pernah menolak pula kehendak baik Gagak Seta, tatkala akan menurunkan ilmu saktinya dengan janji tidak diperkenankan berkabar kepada Titisari. Itulah suatu bukti, kalau dia bukanlah seorang pemuda yang serakah atau mudah kepencut. Tetapi kini, di luar dugaannya tiba-tiba menyebut diri sebagai murid dan mengakui Gagak Seta sebagai gurunya. Hal itu membuktikan, kalau dia benar-benar menaruh hormat kepada orang tua itu.

Tetapi di luar dugaan pula, Gagak Seta mendadak muncul kembali sambil menggertak.

"Apa kau bilang? Benar-benar aku mengajarmu rahasia ilmu sakti Kumayan Jati, tetapi bukan karena aku sudi menerimamu sebagai murid dan aku sebagai gurumu. Tapi semata-mata karena aku telah menggerogoti masakan kalian. Karena itu pula, antara aku dan kalian tiada hubungan sama sekali sebagai murid dan guru. Nah, selamat tinggal."

Sangaji terperanjat mendapat jawaban demikian. Sebentar dia termangu-mangu, kemudian dengan cepat terus saja hendak berjongkok melakukan sembah. Tetapi baru saja ia menekuk lutut, sekonyong-konyong tubuhnya menjadi kaku. Ia melihat Gagak Seta menyentilkan dua jari. Tahulah dia, bahwa orang tua itu sedang menyerangnya dengan sentilan rahasia Ilmu Kumayan Jati yang bisa dibidikkan dari jauh. Kemudian orang tua itu bersembah sambil berkata, "Ingat-ingatlah kejadian ini. Di antara aku dan kamu tiada pernah menerima sembah sebagai suatu peng-hormatan. Tadi kamu mau bersembah. Kini aku telah membalasnya. Jadi tiada lagi hutang-piutang. Aku bukan gurumu dan kamu bukan muridku..."

Sampai di sini Gagak Seta mengungkurkan Sangaji dan terus saja meloncat hilang sambil menyentilkan jari. Seketika itu juga, Sangaji dapat bergerak. Ia heran benar-benar menyaksikan perangai pendekar sakti itu. Tak tahulah dia, apa yang harus dilakukan. Segera ia menoleh kepada Titisari untuk minta bantuan. Tetapi gadis itu pun yang diakui cerdik luar biasa, hanya membungkam mulut. Nampak dia sedang menghela napas panjang. Kesan mukanya muram mengibakan hati.

Di luar dugaan, tiba-tiba terdengarlah suara Gagak Seta di kejauhan, "Ih!" Dan tahu-tahu sudah muncul kembali di depan mereka. "Awas!" katanya dengan pandang sungguh-sungguh. "Tabuan Kelingking!"

Titisari menghampiri orang tua itu. Tak tahu-lah dia, apakah maksud Gagak Seta. Pandangnya menebak-nebak. Mendadak saja Gagak Seta menolak pundaknya, hingga dia membungkuk tanpa dikehendaki sendiri. Dan kemudian dipentalkan sampai mundur tujuh langkah.

* * *

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 16 SENJATA RAHASIA"

Posting Komentar