BENDE MATARAM JILID 4 PENGEJARAN



LAMBAT laun Wirapati dan Jaga Saradenta menemukan titik pertemuan. Mereka lantas dapat bekerja sama dengan rapi. Wirapati menyerang bagian atas dan sanggup mengadu kegesitan. Sedangkan Jaga Saradenta meliuk-liuk rendah mengancam bagian bawah dada. Hajar Karangpandan tercengang-cengang. Apa mereka berasal dari satu perguruan? pikirnya. Hajar Karangpandan tak pernah berpikir, Jaga Saradenta bersahabat dengan guru Wirapati Kyai Kasan Kesambi. Dalam perang Giyanti Jaga Saradenta seringkali mendampingi Kyai Kasan Kesambi dan sudah mengenal liku-liku ilmunya. Meskipun belum keseluruhannya, tetapi dasar pokoknya tidak asing baginya. Itulah sebabnya, setelah memperhatikan gerak-gerik Wirapati teringatlah dia akan sepak-terjang sahabatnya. Segera ia dapat mengimbangi dan menyesuaikan diri.

Wirapati berotak encer. Begitu melihat permainan Jaga Saradenta, lantas saja Wirapati memperkuat diri. Dasar dia merasa tak sanggup melawan Hajar Karangpandan seorang diri, maka oleh ketinggian hatinya ia ingin menang mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya.

"Bangsat!" maki Hajar Karangpandan. Benar-benar kalian kawanan bangsat jempolan. Eh, siapa mengira umur setua ini berjumpa dengan kalian."

Dia meloncat mundur dua langkah. Wirapati dan Jaga Saradenta lantas memburu. Itulah yang diharapkan. Begitu mereka berdua menerjang jebakannya, ia lantas menggempur dengan tangannya berbareng. Jaga Saradenta kena terhantam dadanya. Seketika itu juga dia terpental tiga langkah dan lontak darah. Wirapati kena dihajar pundaknya dan jatuh terbanting di tanah. Tetapi Hajar Karangpandan juga terkena serangan mereka. Serangan Jaga Saradenta mengenai ujung lehernya, sedangkan kaki Wirapati tepat menendang pinggang. Ia berteriak kesakitan dan jatuh tertelungkup.

Ketiga-tiganya lantas duduk bersemedi. Pernapasannya diaturnya cepat-cepat sambil menajamkan pendengaran untuk berjaga-jaga menghadapi segala kemungkinan. Sesaat kemudian, Jaga Saradenta mulai bicara. "Nanti dulu Saudara, tahan sebentar. Kita bicara dulu."

"Apa yang hams dibicarakan," sahut Hajar Karangpandan angkuh. Tetapi hatinya sesungguhnya menghendaki istirahat barang seben¬tar.

"Aku seorang tua bernama Jaga Saradenta, Gelondong Desa Segaluh. Aku mau berbicara."

"Bicaralah! Apa perlu memperkenalkan nama." Jaga Saradenta tak mendengarkan ocehan Hajar Karangpandan.

"Kukira dalam hal ini, terjadi salah paham. Coba aku minta penjelasan, kenapa kamu bertempur dengan anak muda ini?"

"Hm!" Hajar Karangpandan menyibirkan mulut. "Dia bangsat muda, menculik sahabatku. Bagiku, kalau aku sudah mengaku bersahabat dengan seseorang... Mengorbankan nyawa bukanlah suatu perbuatan yang sok gagah. Sejak dulu, orang menghargai suatu persahabatan sejati. Bersedia mengorbankan nyawa merupakan dasar tali persahabatan. Sekarang sahabatku dibunuh orang. Masa aku tinggal berpeluk tangan belaka."

"Kata-katamu benar-benar suara seorang kesatria sejati," sahut Jaga Saradenta. "Tetapi benarkah anak muda ini menculik sahabatmu? Lihat, aku belum berkenalan dengan dia. Meskipun begitu aku mau bicara. Tidak ada keuntunganku sama sekali dalam hal ini, kecuali besar keinginanku untuk mengikis kesalah pahaman kalian berdua."

Wirapati mendongkol campur geli melihat lagak Hajar Karangpandan. Di antara ketiga orang, dialah yang terluka ringan. Pundaknya hanya terasa kaku. Setelah beristirahat sebentar, ia dapat bergerak dengan agak leluasa lagi.

"Aku memang bangsat muda penculik sahabatmu," katanya sengit. "Rumahnya, akulah yang membakar. Pusakanya akulah yang merampas. Lantas kau mau apa?"

Hajar Karangpandan tercengang-cengang mendengar ucapannya. Dia seorang sembrono dan ugal-ugalan . Tapi justru mendengar kata-kata Wirapati yang bernada sembrono dan tinggi hati, malahan dia jadi tertarik.

"Apa kamu bilang?" ujarnya agak lunak.

"Kaubilang aku bangsat muda yang men¬culik sahabatmu. Memang aku bangsat muda penculik sahabatmu."

"Kaubilang pembakar rumah juga?"

"Ya. Malahan akulah si bangsat perampas pusakanya. Sekarang kamu mau apa? Ayo, bertempur dua bulan lagi," lantas Wirapati berdiri tegak.

Hajar Karangpandan adalah orang yang tidak tahan disumbari orang. Tapi ia mulai bisa berpikir, ketika mendengar Wirapati mengakui sebagai pembakar rumah. Sedangkan dia mendapat keterangan, kalau orang-orang Banyumas yang berbuat begitu. Bukankah mereka juga yang membakar hutan?

"Bangsat! Apa kamu kira aku jera padamu?" bentak Hajar Karangpandan. Dan ia memaksa diri mau berdiri. Tetapi Jaga Saradenta menengahi.

"Tahan! Kauanggap apa aku ini?" teriaknya nyaring.

Hajar Karangpandan mengurungkan niatnya. Kemudian Jaga Saradenta berpaling kepada Wirapati. "Kau heran kenapa aku datang membantu. Sebenarnya tidak ada niatku mencampuri soal ini. Tetapi kudengar kau menyebutkan nama sahabatku Kyai Kasan Kesambi. Kau menyebut pula sebagai muridnya. Makanya aku tak bisa tinggal diam. Bukankah bersedia mengorbankan nyawa adalah dasar mutlak bagi suatu persahabatan sejati seperti kata Ki Hajar itu?"

Mendengar Jaga Saradenta adalah sahabat gurunya, Wirapati jadi bersabar hati. Per lahan-lahan dia duduk kembali. Tetapi pandang matanya tak beralih dari Hajar Karangpandan.

"Sekarang perkenankan aku bertanya kepadamu, anak muda," kata Jaga Saradenta lagi. "Bagaimana mula-mula kamu ada di tempat ini?"

"Aku datang dari Cirebon diutus guruku. Kebetulan melintasi Desa Karangtinalang. Kudengar tentang peristiwa pusaka sakti. Maka kuculik sahabatnya dan kubakar hidup-hidup di dalam hutan."

"Ah! berkatalah yang benar."

"Bukankah aku sudah mengatakannya?"

"Bangsat! Iblis!" Maki Hajar Karangpandan kalang kabut. Sekarang tahulah dia, hatinya sedang dipermainkan pemuda itu. Diam-diam ia menyesali hatinya sendiri yang masih saja mudah meluap.

"Tiba-tiba kau menyerang, masa aku sudi mendengarkan ocehanmu?" Wirapati membalas dengan sengit.

"Nah, apa kubilang," potong Jaga Saraden¬ta. "Kalian salah paham. Aku juga. Ini semua gara-gara si biadab Kodrat. Dia memang kemenakanku, tapi dalam soal ini tidak ada lagi sanak saudara. Siapa yang bersalah harus di hukum".

Jaga Saradenta langsung menoleh mencari kemenakannya. Tetapi Kodrat tak nampak batang hidungnya. "Bangsat! Mana dia?" Ia terkejut.

Darahnya lantas saja naik ke leher. Tubuhnya menggigil, karena hatinya serasa hampir meledak. "Kurang ajar! Dia melarikan diri, selagi kita bertempur," teriaknya tinggi.

"Hm," Hajar Karangpandan mencibirkan bibir. "Kamu tua bangka berlagak melindungi. Tapi kaudengar kata-kataku semalam. Kalau benar-benar dia berada di rumahmu, akan kuhabisi seluruh keluargamu. Sekarang kau mau bicara apa?"

Jaga Saradenta tak sanggup berbicara lagi. Hatinya penuh pepat. Siapa mengira, kemenakannya ternyata licik dan sampai hati membiarkan dirinya menanggung malu. Padahal tadinya ia mengharapkan keterangan keme¬nakannya akan menghapus kesalahannya semalam. Setelah itu, dia akan meminta maaf. Tak tahunya, dirinya sekarang kian terperosok ke dalam masalah.

Hajar Karangpandan tertawa terbahak-bahak. Senang hatinya, melihat orang keripuhan.
"Ayo bicaralah! Kamu kan laki-laki juga?" ujarnya.

"Tak sanggup lagi aku menelan peristiwa ini. Kaulah yang bicara. Kalau tidak mau, ya sudah kita bertempur lagi sampai mati," sahut Jaga Saradenta. Kalau tadi ia ingin menghindari pertempuran mati-matian, kini sebaliknya.

Wirapati jadi perasa, ia dapat merasakan gejolak hati Jaga Saradenta, karena tadi dia juga mengalami gejolak rasa begitu juga, tatkala dihujani tuduhan Hajar Karangpandan.
"Hai pendeta edan," katanya, "belum tentu kami berdua yang kautuduh menjadi biang keladi terbunuhnya sahabatmu, kalah bertem¬pur melawan tampangmu. Tapi dalam hal berbicara kamu menang. Nah, bicaralah! Kami berdua akan tunduk pada keputusanmu."

Ih, pemuda ini berwatak kesatria, kata Hajar Karangpandan dalam hatinya. Kukira dia benar-benar tidak menurunkan tangan jahat kepada sahabat-sahabatku. Baiklah aku bicara perlahan-lahan. Siapa tahu, ia bisa kuajak serta membalas budi pada kedua sahabatku itu.

Berpikir demikian, ia lantas berkata, "Kamu berdua kuanggap mempunyai mulut laki-laki. Kautahu bukan, harga mulut laki-laki senilai seribu nyawa manusia. Nah, sekarang aku mau berbicara. Tapi aku minta tiga syarat."

"Sebutkan!" kata Wirapati dan Jaga Sara¬denta berbareng.

"Syarat pertama: kalian harus menjawab pertanyaanku dengan sebenar-benarnya. Syarat kedua: kalian harus patuh dan mentaati tiap-tiap keputusanku. Syarat ketiga: kalian tidak boleh mengingkari janji. Sangsinya kalian akan digerumuti setan sampai tujuh turunan. Dan di alam baka, kalian akan diuber-uber sampai terbirit-birit sepanjang zaman. Nah, bagaimana?"

Mendengar ujar Hajar Karangpandan, mereka berdua mendongkol campur geli hati. Tetapi mereka terpaksa mengangguk.

"Bagus. Sekarang syarat pertama. Dengarkan, aku bicara," Hajar Karangpandan mulai. "Hai, kau anak muda, tahukah kamu bagai¬mana peristiwa ini mula-mula terjadi?"

Wirapati menggelengkan kepala sambil menjawab, "Aku hanya mendengar mereka saling memperebutkan dua buah pusaka. Kebetulan aku menguntit perjalanan orang-orang Banyumas yang menyamar sebagai rombongan penari. Kulihat pula, mereka bertempur dengan seorang pemuda sebelum sampai ke tempat tujuan."

"Siapa pemuda itu?"

"Hanya setan yang tahu. Dialah yang mem bunuh salah seorang sahabatmu dengan senjata rahasia sewaktu berada dalam rumah. Kukira, mayat sahabatmu itu hangus terbakar oleh api yang dinyalakan oleh orang-orang Banyumas. Pemuda itulah yang membawa lari anak isteri salah seorang sahabatmu." "Ke mana dia melarikan mereka?" "Tanyalah pula kepada setan dan iblis!" Mendengar jawaban Wirapati, melonjaklah amarah Hajar Karangpandan. Hatinya bergolak. Diayunkan tinjunya ke udara. Kemudian menggempur tanah berhamburan.

Setelah menggempur tanah ia menunduk dalam. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya bergetar. Wirapati dan Jaga Saradenta mengawasi dengan hati menebak-nebak. Melihat perangai Hajar Karangpandan yang aneh, mereka berjaga-jaga. Siapa tahu, Hajar Karangpandan lantas saja menyerang mereka untuk melampiaskan marahnya. Tetapi Hajar Karang¬pandan diam saja. Matanya malahan menutup rapat. Dan perlahan-lahan napasnya mulai teratur. Terdengar dia mengeluarkan bunyi dengkur parau.

Mereka berduapun diam-diam menjadi ka-gum. Itulah cara yang sempurna untuk mengurangi tekanan guncangan hati. Gejolak darah dapat disalurkan juga. Kalau seseorang tidak mempunyai kesadaran yang dalam, bagaimana ia dapat berbuat begitu. Sebab perbuatan itu untuk menenangkan diri.

Mendadak Hajar Karangpandan mendongakkan kepala. Raut mukanya yang tadi nampak bengis, telah sirna. Matanya memancarkan pandangan yang tajam dan lembut. la menghela napas dalam, katanya, "Anak muda, kulihat di dalam rumah itu empat mayat menggeletak bertebaran selain mayat sahabatku. Siapa mereka?"

"Mana kutahu," sahut Wirapati. "Waktu aku memasuki rumah, mereka berdiri tegak saling mencurigai. Kukira, mereka habis bertempur. Napasnya masih terengah-engah."

"Jahanam itu saling memperebutkan pusaka," potong Hajar Karangpandan.

"Tepat dugaanmu. Tatkala sahabatmu yang mati itu kena senjata rahasia, mereka lantas datang berebut. Dua orang mati kena hantaman sahabatmu yang lain. Dua orang lainnya terpatahkan lengan dan kakinya oleh si pemu¬da. Kemudian terjadilah kekacauan itu. Rumah dibakar. Si pemuda membawa lari anak dan isteri salah seorang sahabatmu. Dan aku menggendong sahabatmu yang luka parah."

"Kenapa luka parah?"

"Mata kakinya kena senjata si pemuda. Gntuk mencegah menjalarnya racun, kupagas betisnya."

"Hm."

"Tetapi dia kehilangan banyak darah. Ketika kusembunyikan di gerumbulan dalam hutan ini, beberapa kali dia jatuh pingsan. Sayang, sebelum aku sempat menolongnya hutan terbakar. Aku terpelesat jauh. Kucoba menghampiri, tetapi panas api tak dapat kutahan. Maafkan. Aku orang tak berguna ..."

"Tidak! Akupun tak tahan berenang dalam lautan api," potong Hajar Karangpandan. "Cuma sahabatku yang bernasib buruk. Tetapi ... tetapi semuanya ini akulah yang mendatangkan gara-gara. Kalau aku tak menyerahkan kedua pusaka kepada mereka ..."

Ja tak meneruskan. Mendadak dia berdiri dan lari menghampiri batas hutan. Kemudian dia bersujud rendah sampai mencium tanah. Tatkala kepalanya menegak lagi, ia berteriak nyaring sampai menggetarkan tanah, "Wayan Suage! Wayan Suage! Dengarkan kata-kataku! Kau seorang laki-laki sejati. Sayang, akulah yang menjerumus kanmu ke dalam lumpur malapetaka. Aku bersumpah kepadamu, akan kucari anak-isterimu sepanjang hidupku. Akan kurawat dan kuasuh anakmu seorang itu. Semoga rohmu di alam baka melindungi aku. Kuharapkan pula kamu mengampuni kesalahanku."

Dia berdiri tegak. Membungkuk. Kemudian berputar mengarah Wirapati dan Jaga Saradenta. "Sekarang, marilah kita bertempur. Inilah syarat kedua," katanya meledak.

Mendengar ucapannya itu, sudah barang tentu Wirapati dan Jaga Saradenta dibuat terkejut. Sama sekali tak diduganya, Hajar Karangpandan tiba-tiba menantang mereka bertempur setelah nampak berlaku begitu lemah dan sabar.

Tetapi sebagai seorang kesatria, meskipun sedang menderita luka, takkan sudi memperlihatkan kelemahan diri. Segera mereka berdiri tegak dan bersiaga.

"Eh, kalian mau apa?" damprat Hajar Ka¬rangpandan.

"Bukankah kamu tadi menantang kami bertempur?" Wirapati heran.

"Betul! Tapi aku belum habis bicara. Syarat kedua belum lagi kuuraikan. Duduklah!"

Wirapati dan Jaga Saradenta saling meman dang. Kalau menurut tabiatnya, mereka merasa dipermainkan orang ini. Bagaimana bisa menerima hinaan itu. Tetapi mereka kalah janji. Terpaksalah mereka duduk kembali dengan hati memaki-maki.

"Kau Gelondong Segaluh, tak usah lagi aku bertanya kepadamu. Kamu sudah dikelabui si bangsat Kodrat. Cuma, kamu diberi kesempatan Tuhan melihat anak-isteri salah seorang sahabatku. Siapa yang dilarikan si Kodrat dan siapa pula yang dilarikan si pemuda jempolan itu, aku pun tak tahu. Tapi kita bertiga pernah mendengar atau melihat mereka yang kena malapetaka, maka kitapun tak dapat membuta tuli. Kebajikan seorang kesatria semenjak dulu cuma satu. Yakni, ingin bekerja sekali berarti kemudian mati. Kau setuju tidak kata-kataku yang belakangan ini?"

"Bicaralah! Jangan kau berlagak seperti guru!" bentak Jaga Saradenta.

"Tapi kalian harus menerima keputusan setiap kata-kataku. Itulah celakanya!" Hajar Karangpandan kemudian tertawa senang. "Sekarang, aku menantang kalian berdua berkelahi sampai mampus."

"Bagus!" potong Jaga Saradenta dan Wirapati berbareng.

"Nanti dulu, dengarkan!" teriak Hajar Ka rangpandan. "Aku belum habis bicara. Perkelahian sampai mati itu harus dilakukan dalam jangka panjang."

"Apa kita berkelahi mengadu racun?" Wirapati tak sabar.

"Racun cuma bisa bertahan paling lama dua bulan," jawab Hajar Karangpandan. "Sebaliknya aku menghendaki masa lebih lama lagi. Yakni, selama dua belas tahun."

"Gila!" jerit Jaga Saradenta sambil membanting tangan. "Aku sudah berumur tujuh puluhan tahun. Belum pernah kudengar orang berkelahi sampai mati dalam waktu dua belas tahun. Barangkali cuma dongeng belaka. Cerita Bharatayuda dalam wayang purwapun cuma 18 hah. Ini syarat edan! Syarat gendeng! Syarat gila!"

"Ah, kalau begitu kalian ini kesatria-kesatria kosong mlompong." Hajar Karangpandan membakar hati. "Tak sudi lagi aku bicara."

Dibakar demikian, Jaga Saradenta lantas saja meledak. "Bangsat! Kau tak usah memancing kemarahanku. Cepat katakan, apa maumu!"

"Bagus!" puji Hajar Karangpandan. "Kita ini bangsa kesatria sejati, bukan kesatria kampungan. Kalau kita bertaruh, masakan bertaruh gampang-gampangan seperti anak anak kampung. Sekali kita ingin mendaki gunung, pilihlah gunung yang tertinggi di dunia. Sekiranya kita terpeleset mampus ke dalam jurang, nama kita sedikit bisa diagungkan orang-orang. Hai, apa pendapatmu anak muda?"

Wirapati yang semenjak tadi diam, kaget mendapat pertanyaan itu. Sebagai anak muda, memang ia tertarik dengan omongan Hajar Karangpandan yang penuh teka-teki. Hatinya sedang menduga-duga tentang perkelahian sampai mati dalam jangka dua belas tahun. Karena pertanyaan mendadak itu, ia mengangguk kosong.

"Ah, inilah calon kesatria jempolan," kata Hajar Karangpandan sungguh-sungguh. "Sekarang dengarkan baik-baik. Telinga harus kalian lebarkan benar. Jangan sampai kalian kehilangan tiap patah kata. Kalian akan rugi sendiri. Karena kata-kataku ini kelak akan menentukan di kemudian hari."

"Monyet, cepatlah!" potong Jaga Saradenta tak sabar. Ia terbatuk-batuk kecil dan menyemburkan segumpal darah. Hajar Karangpandan merenungi, kemudian katanya, "Kita sudah berjanji akan bertempur sampai mati dalam jangka dua belas tahun. Adapun corak pertempuran itu begini. Kita mengadu kepandaian sejati. Yang kumaksudkan kepandaian sejati, bukan mengadu tinju dan tendangan. Bahkan bergerak sedikitpun tabu. Mengadu tinju dan tendangan, mengadu kekebalan kulit dan senjata tajam itu perbuatan gampang. Kalau hanya begitu semua orang yang berilmu sekarang ini pasti bisa melakukannya."

"Lantas!" Jaga Saradenta dan Wirapati ternganga-nganga.

"Kita bertiga ini, setidak-tidaknya termasuk manusia-manusia yang bisa malang-melintang di seluruh jagad tanpa halangan dan rintangan. Marilah kita mencukil sejarah yang lain daripada anak-anak yang bakal dilahirkan."

"Kaubilang, kita bakal bertempur sampai mati, apa maksudmu?" potong Jaga Sara¬denta.

"Untuk mengambil keputusan, siapa di antara kita yang menang."

"Tapi kaubilang, kita tak boleh menggunakan tangan, kaki, kekebalan kulit dan senjata. Lantas apa yang kau mau?" Wirapati menyahut.

Hajar Karangpandan membusungkan dada. Dengan bersikap agung ia menjawab, "Aku akan melawan kalian berdua. Dalam jangka dua belas tahun, kita akan memutuskan siapakah yang menang. Tetapi kecuali mengadu kepandaian, kita mengadu pula kesabaran dan akal budi."

Wirapati yang tadi bersikap tenang, mendadak kehilangan kesabaran. Lantas saja mendamprat.

"Apa kita mengadu mulut? Atau mengadu betah-betahan bertapa? Atau mengadu membuat jimat-jimat sakti? Atau mengadu membuat obat dan racun untuk dapat menghidupkan kedua sahabatmu itu? Baiklah, aku menyerah.

"Bukan! Bukan!" sahut Hajar Karangpandan seraya tertawa riuh.

"Lantas?" sambung Jaga Saradenta. "Apa kauingin kita mengadu mencuri ayam, mencopet atau menculik perempuan?"

"Bukan! Bukan!" tertawa Hajar Karang¬pandan kian meriuh.

"Cepat katakan! Jangan berputar tak keruan juntrungannya!" bentak Jaga Saradenta mendongkol.

"Baiklah kukatakan," akhirnya Hajar Ka¬rangpandan berkata perlahan. "Kalau kita berputar kembali mengapa kita sampai berkelahi ini adalah semata-mata urusan berbuat suatu kebajikan kepada dua orang sahabatku. Kalian tahu, anak-isteri yang dibawa lari Kodrat itu kukira anak isteri Made Tantre. Sebab mereka berdua dilarikan setelah gerombolan bangsat Banyumas menyerbu rumah. Bukankah begitu, anak muda."

Wirapati mengingat-ingat.
"Si pemuda jempolan itu menyambar seorang perempuan yang berdiri memipit dinding. Sedangkan isteri sahabatmu yang mati, kulihat jatuh pingsan di sampingnya. Akulah yang mendorongnya agak menjauh, tatkala hendak memeluk mayat suaminya."

"Tepat dugaanku," Hajar Karangpandan berlega hati. "Kalian berdua sudah pernah melihat juga. Dan siapa yang membawanya lari, telah diketahui pula oleh Gelondong Jaga Saradenta."

"Betul. Kemenakanku yang membawanya la¬ri," kata Jaga Saradenta. "Tetapi kalau kau bilang aku kenal betul raut mukanya, masih kurang tepat. Aku hanya melihat dia selintas saja."

"Tetapi sekutumu anak muda ini, cukup lama mengenal raut mukanya. Jadi kuanggap kalian berdua sudah mengenal baik-baik. Sebaliknya meskipun aku baru mengenal muka isteri Wayan Suage selintasan pula, kuanggap diriku telah mengenal baik-baik juga. Nah, kita berlaku adil. Kalian harus tahu, kalau aku bersahabat dengan mereka berdua baru berlangsung kemarin sore dalam waktu beberapa jam saja."

Wirapati dan Jaga Saradenta saling memandang. Sama sekali mereka berdua tak
menduga, persahabatan Hajar Karangpandan itu baru berjalan seperempat hari. Melihat dan menyaksikan sepak terjangnya, mereka lantas saja menghargai keluhuran budinya. Sekarang, mana bisa mereka mengalah dalam soal keluhuran budi? Maka dengan diam-diam, mereka sudah mulai mengadu panggilan keluhuran budi.

"Tentang nasib anak-isteri Wayan Suage, serahkan kepadaku. Aku akan mencarinya sampai ketemu, biar pemuda itu bersembunyi di ujung langit. Itulah dasar syarat kedua."

"Eh ... jadi kita berdua kausuruh mencari anak-isteri Made Tantre sebagai syarat pertaruhan?"

"He-e."

"Siapa yang lebih dulu berhasil, dia yang menang. Begitulah maksudmu?"

"Baru separoh menang," ujar Hajar Karang¬pandan dengan tersenyum. "Sebab kalau hanya bertaruh macam begitu, adalah pekerjaan yang mudah. Tetapi yang separoh lagi, itulah baru bernapas pertaruhan sejati."

"Apa itu?" Jaga Saradenta dan Wirapati berseru berbareng.

"Hai… itulah syarat ketiga. Dengarkan kujelaskan. Seperti kalian ketahui, Wayan Suage dan Made Tantre masing-masing mempunyai seorang anak laki-laki. Anak mereka masing-masing dibawa lari kedua bangsat itu yang mempunyai arah bertentangan. Aku akan mendidik dan mengajar anak Wayan Suage yang dilarikan oleh si pemuda jempolan. Dan kalian berdua mendidik dan mengajar anak Made Tantre. Mah, bagaimana?"

Jaga Saradenta dan Wirapati ternganga keheranan. Mereka belum dapat menangkap maksud Hajar Karangpandan. Maka mereka berdua membungkam mulut.

"Kita menunggu waktu sampai dua belas tahun lagi," kata Hajar Karangpandan meneruskan. "Anak mereka kini sudah berumur kurang lebih tujuh tahun. Jadi dalam masa dua belas tahun lagi, mereka sudah berumur 19 tahun. Cukuplah sudah kita golongkan orang-orang dewasa. Mereka berdua kemudian kita ajak ke mari. Ke tempat ini. Kita mengundang pula orang-orang gagah pada jaman ini sebagai saksi. Kemudian mereka berdua kita adu. Di saat itulah kita bisa mengambil keputusan, siapa di antara mereka berdua yang menang. Kalah dan menangnya ma¬sing-masing samalah juga kalah dan me¬nangnya kita bertiga."

"Mengapa bukan kita yang bertempur?" dengus Wirapati.

"Kalau kita bertempur, jumlah kita berlebih seorang. Seumpama kalian berdua memenangkan aku, itupun bukan suatu kemenangan terhormat. Sebab jumlah kalian lebih banyak. Sebaliknya kalau aku memenangkan kalian, juga bukan suatu kemenangan yang mentereng. Sebab setelah dua belas tahun Gelondong Jaga Saradenta sudah jadi orang pikun. Sedangkan si anak-muda, sudah sewajarnya aku menang karena umurku jauh lebih tua dan berpengalaman."

"Kaubilang sampai mampus, apa maksudmu?"

"Kalau kalian tidak sungguh-sungguh mendidik dan mengajar anak Made Tantre, maka orang-orang gagah di kolong langit ini akan kusuruh mencincang kalian berdua sampai mampus. Mayat-mayatmu akan kulemparkan ke kali itu. Nama kalian kusuruh menyoraki dan menghapuskan dari ingatan setiap orang. Nah, jadi setan pun kalian tak punya tempat."

Wirapati tercengang-cengang, sedang Jaga Saradenta tertawa cekakakan karena geli dan mendongkol. Tapi mereka sudah berjanji akan patuh dan mentaati setiap kata-kata Hajar Karangpandan yang sudah diputuskan. Maka mereka tak berdaya sedikitpun untuk meringankan atau mengurangi.

"Kurangajar! Kau licin seperti belut!" maki Jaga Saradenta kemudian. "Kau cuma melepaskan beberapa patah kata-kata ugal-ugalan dan kau memaksa kami berdua memeras keringat selama dua belas tahun. Ini gila."

Wajah Hajar Karangpandan berubah. Memang ia bisa merasakan kebenaran ujar Gelondong Jaga Saradenta. Tetapi ia harus mengatasi kesan itu, demi menebus dosa kepada kedua sahabatnya. Maka ia tertawa panjang dengan pandang menghina.

"Mengapa kamu tertawa? Mana yang lucu?" damprat Jaga Saradenta.

"Bagaimana aku tidak tertawa. Meskipun aku belum pernah berkenalan dengan kalian, tapi telah lama kudengar nama kalian yang harum. Wirapati, murid keempat Kyai Kasan Kesambi Gunung Daman Tiap orang tahu ketenarannya. Jaga Saradenta Gelondong Segaluh, bekas perajurit Pangeran Mangkubumi. Tiap orang tahu pula kegagahannya. Tak tahunya, hari ini Tuhan mempertemukan aku dengan kalian. Kulihat ketenaran nama kalian yang gagah-agung-mulia, sama sekali tak cocok dengan ... hi hi hi ... ha ha ha ..."

Gelondong Jaga Saradenta kena dibakar hatinya. Darahnya lantas saja panas mendidih. la menggempur tanah, tatkala hendak membuka mulut. Hajar Karangpandan mendahului, "Orang gagah sejati akan memandang enteng setiap janji yang telah diucapkan. Pengorbanan jiwa, bukanlah suatu soal untuk kebajikan. Gajah Mada, Narasuma, Sawung Galing, Mundingsari, jayaprana, Trunajaya, Untung Surapati, Hasanudin, mereka semua adalah orang-orang gagah yang bersedia mengorbankan nyawa untuk suatu kebajikan. Mengapa kita yang hidup di atas bumi tempat mereka hidup tidak menerima warisan sedikitpun juga? Ini mengherankan! Barangkali karena hati kita ini sekerdil katak bangkotan."

Wajah Jaga Saradenta menjadi pucat. Begitu juga Wirapati. Tubuhnya menggigil seperti menahan arus air. Sejurus kemudian mereka menundukkan kepala.

"Kau benar. Memang aku bangsa kerdil. Baiklah kucoba kebajikan ini. Kalau di kemu¬dian hari aku menang bertaruh, itulah nasib baik." Kata Jaga Saradenta galau.

"Perkataan seorang laki-laki sejati!" sahut Hajar Karangpandan cepat. la menjadi gembira karena merasa menang. Kemudian berpaling ke Wirapati. "Selesailah sudah perjanjian ini. Kau bagaimana, anak muda?"
Wirapati mengangguk.

"Bagus. Cuma aku ingin bicara sepatah kata lagi." Hajar Karangpandan mengesankan. "Di antara kita bertiga, hanya kita berdua yang pernah melihat kedua pusaka Pangeran Semono."

"Mengapa hal itu dibicarakan juga?" potong Wirapati tak senang. "Biar orang menghadiahkan pusaka itu kepadaku, tak sudi aku menerimanya."

"Aku tak menuduh buruk kepadamu. Sekiranya kamu mau merampas, pastilah sudah berada dalam genggamanmu. Itu aku tahu. Cuma aku ingin titip sepatah kata. Seumpama nasibmu bagus dan pada suatu hari kautemukan kedua pusaka Bende Mataram dan keris Kyai Tunggulmanik, berjanjilah kepadaku kalau kedua pusaka itu harus kauberikan kepada kedua anak-anak asuhan kita. Siapa yang pantas memiliki Bende Mataram dan siapa pula yang pantas memiliki keris Kyai Tunggulmanik, bukanlah soal."

"Aku berjanji."

"Nah, tak usah kita pikirkan pusaka itu lagi. Kita berpisahan di sini. Ingat! Dua belas tahun lagi kita bertemu di tempat ini," kata Hajar Karangpandan. la berdiri dan mendadak melesat pergi.

"Ayo kita pergi," ajak Gelondong Jaga Saradenta. "Lebih cepat kita cari, lebih baik."

"Biarlah kususul dia seorang diri," sahut Wirapati.

"Jangan! Kau belum mengenal jalan ke barat. Lagi pula, kau tak punya bekal cukup. Mari singgah ke Segaluh. Setelah kuserahkan kekuasaan pemerintahan dusun kepada wakilku, kita berangkat bersama-sama. Mati hidup kita mulai sekarang ada di tangan kita berdua."

Mereka berangkat ke barat. Jaga Saradenta tidak berani berlari karena luka dalamnya masih perlu perawatan beberapa hari lamanya. Sedang Wirapati melangkahkan kaki dengan setengah hati. Teringatlah dia kepada saudara-saudara seperguruannya. Bulan depan mereka akan menerima ajaran Ilmu Majangga Seta. Dapatkah dia ikut serta? Memikirkan hal itu, hatinya lemas. Tetapi apabila dia dapat menyelesaikan masa mencari anak-isteri Made Tantre barang seminggu, rasanya masih belum ketinggalan. Semangatnya muncul kembali. Ingin ia lari secepat-cepatnya, kalau tak ingat luka Jaga Saradenta.

Kodrat waktu itu telah meninggalkan Desa Segaluh. Tatkala Jaga Saradenta ikut bertempur, ia merasa mendapatkan kesempatan. Ia bersyukur kepada Tuhan atas kemurahannya. Segera terbanglah dia menuju Desa Segaluh. Sepanjang jalan dia berpikir. Ke manakah aku mau lari? Kembali ke Banyumas, tidaklah mungkin. Sang Dewaresi mana bisa mengampuni aku, kecuali kalau aku membawa pusaka. Ia sangat sedih. Ia kutuk Hajar Karangpandan sampai tujuh turunan. Ia maki si pemuda Wirapati yang menolong melarikan Wayan Suage. Ia kutuk pula pamannya, yang hampir membuatnya susah.

Mendadak timbullah pikirannya, baiklah aku lari ke Jakarta. Di sana aku akan menggabungkan diri kepada kompeni. Rukmini biarlah kubawa ke Jakarta untuk oleh-oleh. Pastilah serdadu-serdadu Belanda akan berterima kasih kepadaku. Siapa tahu, aku lantas diberi pangkat sebagai upah jasa.

Mendapat pikiran demikian, tegarlah hati¬nya. Larinya kian dipercepat. Sebentar saja sampailah dia ke rumah pamannya. Rukmini dan Sangaji masih terkunci rapat dalam bilik. Ia bersyukur setinggi langit. Kemudian dengan dalih mengantarkan Rukmini pulang ke kampung halamannya, ia diizinkan bibinya meneruskan perjalanan.

"Ke mana pamanmu?"

"Dia lagi melayani si pendeta cabul. Sebentar lagi juga pulang," katanya.

Dia terus menuju ke barat. Sangaji digendongnya sebagai umpan Rukmini. Di Dusun Kotawaringin ia mengambil jalan air. Dibelinya sebuah rakit dan terus menuju ke utara. Tiba di Dusun Wonosari ia memaksa seorang penambang menukar rakit. Mula-mula penambang rakit menolak. Tetapi dengan diancam belati, terpaksa dia menyerah.

Pada senja hari sampailah dia di persimpangan Kali Klawen. Legalah hatinya, karena yakin pamannya tidak mengejarnya lagi. Tetapi ia salah duga. Setelah Jaga Saradenta menyerahkan kekuasaan pemerintahan kepada wakilnya, segera dia berangkat. Ia berpesan kepada isterinya agar jangan mengharap-harap kedatangannya sebelum membekuk si Kodrat.

Mula-mula mereka berdua melalui jalan besar. Sampai di Kota Waringin, mereka mulai ragu. Kebetulan sekali mereka mendengar kabar tentang seseorang yang membeli rakit. Peristiwa itu jarang terjadi. Segera mereka menduga-duga. Maka diputuskan hendak meneruskan perjalanan melintasi air.

Sepanjang jalan mereka berunding dan menduga-duga ke mana arah perginya si Kodrat. Sampai di Wonosari jejak Kodrat kian nyata. Pemilik rakit yang diancam Kodrat, menjual berita kepada seluruh penduduk. Ramailah orang membicarakan. Jaga Sara¬denta dengan mudah mendapatkan keterangan. Cepat-cepat dikayuhnya rakit ke barat. Waktu itu senja hari mulai tiba. Jarak mereka sebenarnya sudah sangat dekat dengan Kodrat. Kira-kira lewat petang hari, mereka semua akan bertemu.

Mendadak Kodrat mempunyai pikiran lain. Rakitnya ditepikan. Kemudian dibakarnya, setelah itu ia membawa Rukmini berjalan lewat daratan, mengarah ke barat-daya. Melintasi desa-desa dan pegunungan.
Rukmini merasa sangat lelah. Lelah semuanya. Baik tenaga maupun hatinya. Ia mengajak berhenti. Kodrat terpaksa menuruti, meskipun hatinya uring-uringan. Syukur, meskipun kasar dia bukan pemuda bangor. Angan-angannya hanya merindukan derajat dan pangkat tinggi. Itulah sebabnya, tak pernah terlintas dalam pikirannya hendak mengganggu Rukmini.

Mereka menginap di sebuah gubuk. Pada fajar hari perjalanan dilanjutkan. Kali ini lewat air untuk menghemat tenaga. Pada petang hari meneruskan perjalanan lewat darat. Demikianlah terus-menerus dilakukan sampai hampir dua minggu lamanya. Akhirnya sampailah mereka di kota Cirebon. Mereka menginap di sebuah penginapan. Hati Kodrat mulai tak tenteram. Ia berpikir untuk mencari tempat tinggal. Sebab bekal perjalanan mulai tipis. Lagi pula berkelana tanpa berhenti, rasanya kurang menyenangkan. Rukmini atau si bocah bisa terserang sakit. Kalau sampai begitu, akan gagallah rencananya.

Hari itu selagi dia berada di dalam kamar penginapan, mendadak didengarnya suara pamannya yang tengah berbicara dengan pemilik penginapan. Dia lagi mencari keterangan tenang dirinya.

la kaget bukan kepalang. Segera ia mengintip. Di samping pamannya berdiri seorang pemuda berperawakan gagah tetapi mukanya agak kusut. Itulah Wirapati yang dulu bertempur dengan Hajar Karangpandan.

Melihat mereka berdua, hatinya ciut. Cepat-cepat ia mengajak Rukmini meninggalkan penginapan. Rukmini menolak, karena merasa kejatuhan bintang penolong. Dia hendak menjerit. Mendadak Kodrat menubruk Sangaji dan mengancamkari belatinya. Terpaksalah ia mengurungkan niatnya dan mau tak mau mengikuti Kodrat meninggalkan penginapan lewat pintu belakang.

Sepanjang jalan Kodrat memaki-maki dan memukuli Rukmini yang dapat membahayakan nyawanya. la mengancam akan membunuhnya bila laku itu diulangi sekali lagi. Tetapi Rukmini tak mengenal takut. Hatinya sudah terlalu pepat. Lagi pula semenjak suaminya meninggal, hatinya sudah menjadi kosong. Kalau saja tak ingat akan nyawa anaknya, sudah lama ia ingin bunuh diri.

Demikianlah, pada suatu hari dia diajak menginap di sebuah losmen. Rukmini sengaja mengusut-usutkan rambutnya agar menarik perhatian orang. Kodrat dongkol bukan main. Ia menghunus belatinya dan benar-benar ingin menikamnya mati. Rukmini lantas saja berdoa dalam hati memanggil suaminya, "Kuserahkan keselamatan anakmu kepadamu. Lindungilah dia. Aku akan mati bersama jahanam itu."

Setelah berdoa, ia menubruk maju. Kodrat terkejut bukan main. Sama sekali tak diduganya, kalau Rukmini akan berlaku demikian. Karena terkejut, belatinya sampai jatuh ke tanah. Mereka lantas saja berebutan mencapai belati. Tetapi Rukmini seorang perempuan. Selain kalah tangkas, kalah tenaga pula. Sangaji pun waktu itu merisaukan hatinya. Dia menangis ketakutan.

Lemah lunglailah sekujur badannya. Ia membiarkan Kodrat mencapai belatinya. Dadanya kemudian dihadapkan. Tetapi Kodrat tidak menikamnya.
"Janganlah kau menggoda hatiku, Rukmini. Aku berjanji takkan bersikap kasar lagi kepadamu. Tetapi janganlah kamu mencelakakan aku," kata Kodrat melunak.

Kodrat kemudian membawa Sangaji pergi meninggalkan losmen. Rukmini terpaksa mengikuti demi anaknya. Kini, perjalanan tidak lewat darat lagi. Untuk mengurangi gangguan Rukmini, Kodrat membeli sebuah perahu. la bermaksud meneruskan perjalanan lewat laut. Seorang nelayan yang lagi menjala di pinggir laut diajaknya serta.

"Bantulah aku mengayuh perahu ini sampai pantai Jakarta. Sesampainya di Jakarta, pe¬rahu kuberikan kepadamu," bujuk Kodrat.

Sudah barang tentu si nelayan itu gembira. Kebetulan pula, ia seorang nelayan yang lagi rudin . Perahu ikannya digulung gelombang pada beberapa bulan yang lalu. Sekarang datanglah suatu rejeki tak terduga. Bagaimana ia dapat membiarkan kesempatan bagus ini berlalu begitu saja.

Demikianlah setelah berlayar selama satu minggu, sampailah mereka di Jakarta. Kodrat amat gembira. Begitu kakinya menginjak pantai, ia berloncat-loncatan dan menandak-nandak. Rasanya, ia seperti dilahirkan kembali ke dunia. Di Jakarta Kodrat segera mencari sebuah pondokan. Di pondokan itu ia beristirahat selama tiga hari tiga malam untuk melemaskan otot-ototnya dan ketegangan hatinya. Ketika telah merasa sehat kembali, ia mencari hubungan ke tangsi-tangsi kompeni Belanda. Kebetulan waktu itu, kompeni Belanda sedang membutuhkan tenaga tentara Bumiputera. Kodrat diterima lamarannya sebagai serdadu. Ia mendapat gaji lumayan jumlahnya. Bahkan, ia mendapat sebuah kamar pula.

Segera pulanglah dia ke pondokan dengan membawa warta gembira. Tetapi sesampainya di pondokan, Rukmini dan Sangaji tidak ada. Ditanyakan mereka kepada tetangga sebelah-menyebelah. Tetapi tetangganya tidak ada yang dapat memberi keterangan. Maklumlah, Rukmini seorang pendatang baru.

Kodrat jadi uring-uringan. Ingin dia mencarinya sampai ketemu. Tetapi ia sayang kepada pekerjaannya yang baru. Baiklah aku bersabar dulu, pikirnya. Dia seorang perempuan lagi membawa anak pula. Pastilah tidak dapat meninggalkan kota asing ini. Perlahan-lahan kucari, pasti ketemu. Seminggu dua minggu, ia berusaha mencari setiap kali habis dinas. Namun usahanya sia-sia. Akhirnya ia mendongkol dan penuh dendam. Ia berjanji dalam hati, hendak membunuh mereka berdua.

Hari terus merangkak-rangkak tiada henti. Bulan Agustus 1792 telah tiba. Dunia dalam keadaan terguncang. Di Eropa timbul masalah-masalah persengketaan. Di Negeri Belanda pun tak terkecuali. Negeri-negeri jajahan menjadi suatu ajang pembicaraan ramai. Perebutan-perebutan kekuasaan antara pemilik-pemilik modal dan para pangeran kian menja¬di sengit.

Kedudukan VOC di Jakarta mulai pula berbicara. Kegelisahan-kegelisahan terjadi. Pemimpin-pemimpin militer kini menunjukkan giginya kepada para pengusaha. Masing-ma-sing saling memperkuat diri. Maka tenaga kesatuan militer Bumiputera makin banyak dibutuhkan untuk mempertahankan hak-hak tertentu.
Orang-orang Belanda mulai memperhatikan kesetiaan dan kesanggupan begundal-begun-dalnya. Hadiah-hadiah dan pangkat-pangkat dibagikan dengan murah.

Kodrat yang menyerahkan seluruh hidupnya kepada pekerjaannya sudah semenjak lama berusaha memperoleh perhatian layak. Tidaklah mengherankan, kalau dalam masa tiga bulan saja ia kejatuhan bintang cemerlang.


Pangkatnya naik menjadi Kopral dan ia dipindahkan di bagian pasukan berkuda. Selain itu ia dipilih pula sebagai pengawal pribadi Mayor Nieuwenhuisz.

Mayor Nieuwenhuisz seringkali keluar daerah. Ia selalu diajak serta. Sebagai seseorang yang biasa menghamba, maka dengan cepat juga ia dapat mengambil hati majikannya yang baru. Ia dijanjikan pangkat sersan apabila dapat bekerja dengan baik pada masa tiga bulan lagi. Janji itu alangkah menyenangkan dan membesarkan hatinya.

Pada suatu hari, Mayor Nieuwenhuisz mengirimkan VOC ke Cirebon dengan tugas mengawasi keluarga Sultan Kanoman. Ada berita, kalau rakyat Cirebon dengan diam-diam menyusun suatu pemberontakan.

Kodrat ditugaskan memimpin regu penggempur di samping mengatur pengawalan. Tugas kali ini tak menyenangkan hatinya. Ia takut berangkat ke Timur. Wirapati dan pamannya, masih saja merupakan momok baginya. Ia sadar dan mengenal watak pamannya Orang tua itu takkan berhenti mengikuti jejaknya selama dia belum berhasil meringkus dirinya. Tetapi ia tak berdaya menolak tugas itu. Maka berangkatlah dia dengan 250 serdadu berkuda. Kudanya berderap gagah de¬ngan diiringi tetabuhan dan genderang. Kesannya menggairahkan hati. Desa-desa yang dilewati kaget terbangun. Penduduknya berlari-larian ke jalan, berdiri mengagumi.

Pada tanggal 24 Agustus 1792, pasukan berhenti dan berkemah di Jatibarang. Mereka memilih sebuah lapangan luas. Tenda-tenda kemudian didirikan. Penjagaan-penjagaan diadakan dengan waspada, karena mereka akan memasuki daerah pemberontakan.

Selama itu hati Kodrat tidak tenteram. Ia merasa seperti diincar pamannya dan Wirapati. Tetapi entah di mana mereka berdua berada, tak dapat dia menduganya.

Prarasa manusia kerapkali benar. Itulah karunia alam sebagai pelengkap jasmaniah tiap manusia dalam hukum mempertahankan jenis. Sungguh! Waktu itu Jaga Saradenta dan Wirapati benar-benar tidak jauh daripadanya.

Mereka berdua telah menjelajah seluruh daerah Cirebon selama tiga bulan lebih. Mereka tak mengenal lelah mencari keterangan tentang jejak Kodrat. Hanya tak pernah terlintas dalam pikirannya, kalau Kodrat melintasi lautan. Itulah sebabnya, perjalanannya berlarut-larut tanpa pedoman yang pasti.

Pada hari itu mereka berdua sampai di Jatibarang, bertepatan dengan kesibukan penduduk kota mewartakan datangnya pasukan kompeni Belanda. Sebagai dua orang yang berpaham menentang penjajahan mereka tertarik kepada berita itu. Ingin mereka menyaksikan kekuatan kompeni dari dekat. Siapa tahu pengalaman itu kelak ada gunanya di kemudi¬an hari.

Mendadak, mereka melihat seorang kopral bangsa Bumiputera, Jaga Saradenta lantas saja mengenal siapa dia. Cepat ia membisiki Wirapati.

"Apa benar dia Kodrat?" Wirapati minta keyakinan.

"Hm. Biar dia berganti rupa seribu kali sehari, aku tak bisa dikecohnya. Semenjak kanak-kanak, akulah yang mengasuh dan merawatnya," sahut Jaga Saradenta. Tetapi setelah berkata demikian, ia jadi bersedih hati. Teringatlah dia masa kanak-kanak kemenakannya.

Pada malam harinya, mereka berdua mulai bekerja. Waktu itu bulan gede telah lampau beberapa hari. Dunia jadi gelap pekat. Keadaan demikian menolong pekerjaan me¬reka.

Di tengah lapang, kompeni-kompeni sedang menyalakan api unggun. Angin malam mulai menyelinapi tubuh. Itulah sebabnya, maka serdadu-serdadu banyak yang meninggalkan tendanya.

Menjelang tengah malam, mereka mulai mengundurkan diri. Rasa lelah karena perjalanan panjang mulai berbicara. Kodrat mendapat giliran jaga malam. la memimpin dua belas orang serdadu. Jaga Saradenta dan Wirapati yang mengintip dari luar menemui kesukaran. Mereka mengusahakan diri agar jangan terlibat dalam suatu perkelahian. Biarpun mereka kuat, masa kuasa melawan kompeni sebanyak itu.

Karena pertimbangan itu maka mereka menunggu saat yang tepat. Tiga empat jam mereka menunggu. Kodrat tidak juga terpisah dari teman-temannya. Malahan seringkali dia berada di dalam tenda penjagaan. Hal itu menjengkelkan hati Jaga Saradenta dan Wirapati. Tetapi sampai fajar hari harapan mereka tak terkabul. Terpaksalah mereka melepaskan buruannya.

Keesokan harinya mereka mencoba lagi. Pada tengah malam dikunjunginya perkemahan kompeni dengan diam-diam. Kodrat tidak nampak. Dia habis mendapat giliran jaga malam. Maka malam itu dia istirahat. Kembali mereka gagal.

Pada malam ketiga habislah sudah kesabar-annya. Mereka bertekad mau menerjang masuk. Tenda-tenda dijenguknya. Tatkala bersua dengan seorang penjaga mereka membekuknya dan dibawanya lari ke suatu tempat. Mereka mengorek keterangan tentang di mana Kodrat. Serdadu itu disiksanya. Mau tak mau terpaksa memberi penjelasan.

Serdadu itu kemudian diikat erat-erat pada sebatang pohon. Mereka kembali menyusup tenda perkemahan yang berada di sebelah timur. Kodrat waktu itu baru saja datang dari berunggun api. Tadi dia menyanyi dan menari sebagai penghibur hati. Kesan itu masih dibawanya saat pulang ke tenda. la bersiul-siul kecil serta berdendang lemah. Mendadak terasalah kesiur angin memasuki tenda. la menoleh. Tahu-tahu mulutnya kena bungkam dan teringkuslah Kodrat tanpa bisa membuat perlawanan.

Dua tiga kawannya yang masih bangun kaget bukan kepalang. Mereka lantas saja berteriakan. Jaga Saradenta segera mengambil tindakan cepat. Digempurnya merekabersama. Dalam sekejap saja, mereka terpental ke tanah dan jatuh pingsan.

Tetapi teriakan mereka membangunkan seluruh kesatuan militer. Terompet tanda bahaya melengking di tengah malam. Serdadu-serdadu berlari-larian dan dengan cepat bersiaga penuh.

Wirapati dan Jaga Saradenta menemui kesulitan kini. Dengan cepat mereka menerobos ke utara. Tetapi serdadu-serdadu yang berada di perkemahan utara sudah pada keluar dengan senjatanya masing-masing.

"Cepat ke kandang kuda!" kata Wirapati nyaring sambil memapah Kodrat.

Mereka berdua lantas saja menghampiri kan¬dang kuda dan melepaskan kuda-kuda. Kegaduhan segera terjadi. Kuda-kuda lari berserabutan dan menerjang tenda-tenda kalang-kabut. Terpaksalah serdadu-serdadu kompeni membagi perhatiannya. Mereka digulung-gulung oleh suatu kesibukan terkutuk. Dengan mempergunakan kegaduhan itu Jaga Sara¬denta dan Wirapati berhasil meloloskan diri.

Sekarang mereka telah berada jauh dari perkemahan. Mulailah mereka mengkompes mulut Kodrat tentang di mana beradanya Rukmini dan anaknya. Kodrat mengharapkan suatu ampunan. Dikisahkan riwayat perjalanannya dengan terus terang. Diterangkan pula maksudnya melarikan Rukmini dan Sangaji. Tetapi ia gagal, karena mereka berdua melarikan diri tidak ada beritanya lagi.

"Kodrat!" kata Jaga Saradenta menegas. "Aku ini pamanmu. Semenjak kanak-kanak kau kuasuh dan kudidik. Kenapa sekarang kamu tega membuat aku mendapat kesulitan. Kenapa?"

Kodrat mengenal watak pamannya. Segera ia menjatuhkan diri sambil meratap. "Paman! Kalau aku membawa lari Rukmini dan anaknya, semata-mata karena terpaksa demi tugas. Dulu aku diberi tugas sang Adipati Dewaresi merampas kembali pusaka itu. Pusaka itu ternyata hilang. Bukankah satu-satunya jalan untuk mendapat keterangan adalah dari mulut salah seorang anggota keluarga mereka?"

"Jahanam! Karena kamu gila kedudukan, mereka kaubuat susah begitu rupa. Mereka sudah cukup dihancurkan malapetaka. Mengapa kau sampai hati membebani kesedihan lagi ke anak-isteri mereka. Apa kau mau memperkosanya?"

"Tidak, sama sekali tidak! Tuhan menjadi saksi," sahut Kodrat cepat.

Jaga Saradenta merenungi. Ia melihat pandang mata kemenakannya sungguh-sungguh. Dia ingin percaya. Kemudian berpaling kepada Wirapati minta pertimbangan.

"Wirapati, sesungguhnya dia tidak begitu berdosa. Tidak ada bukti, ia tidak berniat mencelakakan keluarga Wayan Suage dan Made Tantre. Perbuatannya hanya terdorong karena rasa tugas belaka. Untuk ini aku bisa mengampuni. Dan, diapun tidak merusak kehormatan Rukmini atau menyiksa Sangaji. Bagaimana pendapatmu?"

Wirapati sudah lama menaruh dendam. Masa ajaran Ilmu Mayangga Seta yang dirindukan semenjak lama, tak dapat dicapainya lagi. Ini semua gara-gara si Kodrat. Seumpama Kodrat tidak melarikan Rukmini dan Sangaji, pastilah masih ada harapan untuk mengejar waktu. Tetapi diapun sebenarnya bukan manusia bengis. Hati nuraininya penuh dengan pengucapan-pengucapan kemanusiaan. Sebaliknya membebaskan Kodrat tanpa hukuman, rasanya kurang memuaskan hatinya.

"Kita berdua telah susah payah. Lagi pula tidak gampang memergoki dia, sekiranya Tuhan tak menaruh belas-kasih. Seumpama kita berdua tiada melihat dia pada hari ini, perjalanan kita bisa jadi mengalami waktu empat lima tahun. Aku telah kehilangan suatu kesempatan bagus. Karena itu aku menuntut ganti kerugian." Kata Wirapati tegas.

"Apa itu?" Jaga Saradenta berlega hati. Sebab bagaimanapun juga tak sampai hati ia mengadili kemenakannya.

"Dua bulan yang lalu mestinya aku telah menerima ajaran suatu ilmu sakti dari guruku. Tapi gara-gara ini, gagallah aku. Untuk minta pengajaran ulangan di kemudian hari tidaklah gampang."

"Lantas?"

"Kemenakanmu kini menjadi serdadu. Nampaknya dia mantap."

"Biar mantap, tak sudi aku mempunyai kemenakan jadi begundal Belanda!" teriak Jaga Saradenta.

"Bagus! Kupinta dia mulai hari ini menanggalkan pakaian kompeni. Kemudian ikut kita berdua mencari Rukmini dan Sangaji. Ini baru adil."

"Kaudengar Kodrat! Betul-betul adil keputusan itu." Jaga Saradenta lantas saja menguatkan.

Kodrat menundukkan kepala. Wajahnya berubah pucat. Keputusan itu sangat berat baginya. Bagaimana dia dapat melepaskan pangkatnya. Ke mana dia lantas hendak pergi?

Dia merasa telah kehilangan tempat. Kehilangan pelindung pula. Kalau Adipati Dewaresi tiba-tiba datang menagih kesetiaan-nya, apa yang akan diandalkannya. Tetapi ia sadar, dirinya berada dalam kekuasaan mereka. Ia tak berani membantah biar sepatah katapun.

"Nah sekarang tanggalkan pakaian begundalmu!" perintah Jaga Saradenta garang.

Kodrat terpaksa menurut. Tiba-tiba suatu pikiran menusuk benaknya.

"Paman! Aku adalah kemenakan Paman. Pekerjaan menjadi serdadu Belanda ini, karena terpaksa. Aku takut pada hukuman Paman. Tak tahunya Paman memberi ampun begini besar kepadaku. Tetapi aku adalah keturunan kesatria. Tak dapat aku meninggalkan kesatuan kompeni secara kasar dan liar. Apa Paman sampai hati nama kemenakanmu menjadi omongan orang. Biar yang mengomongkan orang-orang Belanda," katanya.

Jaga Saradenta adalah seseorang yang mengutamakan nama dalam pergaulan hidup. Ia dapat menerima kata-kata kemenakannya. "Lantas?" katanya.

"Biarlah aku minta keluar dengan terus terang kepada komandanku." "Apa dalihmu?"
"Aku akan membuang senjataku. Dengan dalih aku kalah berkelahi melawan Paman sehingga senjataku terampas, sudahlah cukup kuat. Aku akan dihukumnya terlebih dahulu. Itu pasti. Tapi pada malam hari, kuharap Paman datang mengunjungi perkemahan lagi. Bawalah aku lari."

"Hm. Masa aku segoblok pendapatmu," damprat Jaga Saradenta. "Kompeni sekarang akan mempertebal kewaspadaannya setelah peristiwa semalam."

"Kalau begitu, berusahalah Paman mengikuti perjalanan mereka."

Jaga Saradenta melemparkan pandang kepada Wirapati. Ia menimbang-nimbang. Akhirnya menyetujui. Kodrat bergembira. Segera ia mencium lutut pamannya dan cepat-cepat kembali ke perkemahan.

"Janganlah Paman meninggalkan tempat ini. Sehari ini pasti mereka berusaha menangkap Paman," serunya.

Jaga Saradenta mengiakan. Ia menunggu di tempat itu dengan Wirapati sambil memperbincangkan cara mencari Rukmini dan Sangaji secepat mungkin agar tak menghabiskan waktu. Harapan demikian terasa tebal dalam hatinya, mengingat Kodrat telah menyanggupkan diri untuk menyertai.

Waktu itu fajar hari mulai tiba. Dingin pagi mulai pula meresapi tubuh. Mereka berbaring di rerumputan sambil memandang bintang-bintang di langit. Kemudian kelelahan terasa datang dengan diam-diam. Tertidurlah mereka tanpa dikehendaki sendiri seperti kena bius.

Berapa lama mereka tidur hanya alam sekitarnya yang dapat menerangkan. Tiba-tiba me¬reka bangun terkejut. Pendengarannya yang tajam mendengar derap kuda yang mendekat. Tahu-tahu mereka telah terkepung rapat. Dua puluh serdadu mengancamkan pandang bengis. Mereka bersenjata pedang. Ada pula yang memperlihatkan tiga empat pucuk senapan.

Jaga Saradenta dan Wirapati serentak bangkit berdiri. Mereka menyapukan pandangan. Mendadak dilihatnya Kodrat berada di antara mereka sambil tersenyum menusuk hati. Melihat Kodrat, Jaga Saradenta lantas saja dapat menebak. Sekujur badannya meng-gigil. Hatinya terasa hampir meledak. Dengan pandang menyala ia membentak. "Kodrat! Apa artinya ini?"

Kodrat seolah-olah tak mendengar bentakannya. Ia menoleh kepada pasukannya. Memberi perintah, "Maju! Kepung rapat. Kalau bisa, tangkaplah pengacau itu hidup-hidup. Bila melawan habisi nyawanya."

Bukan main gusarnya Jaga Saradenta sampai mulutnya tak bisa berbicara. la mengerling pada Wirapati. Pandangnya minta maaf dan belas kasih. Tapi Wirapati nampak tenang. la berdiri tegak. Melihat para serdadu datang mendekat, ia berkisar dari tempatnya.

"Apa dia Kodrat?" katanya pada Jaga Saradenta.

"Bukan! Bukan!"

"Dulu kaubilang, biar dia berganti rupa seribu kali sehari kau takkan terkecoh."

"Aku menyesal. Mataku buta. Otakku tumpul. Hatiku gelap. Apa perlu aku hidup lebih lama lagi. Hari ini, biarlah aku mati untuk menebus kegoblokanku itu," sahut Jaga Saradenta. Hatinya penuh sesal, pedih dan malu. Dua kali, ia kena diakali kemenakannya. Hati siapa takkan meledak.

Pada saat itu para serdadu sudah menerjang. Mana bisa mereka berdua menyerah dengan begitu saja. Secepat kilat mereka melesat membuka gelanggang.

"Wirapati! Saksikan aku menghajar begundal Kodrat," kata Jaga Saradenta. Lantas saja dia merangsak mengarah kepada keme¬nakannya.

Wirapati tersenyum pahit. Ia meloncati dua orang serdadu yang sedang mengayunkan pedang berbareng kepadanya. Tangan kirinya membalik cepat, terus menerkam gagang pedang. Sedang tangan kanannya menyodok tulang-rusuk serdadu yang lain. Sekali dia menyerang, pedang lawan dapat dirampasnya sambil melukai yang lain. Menyaksikan kegesitan itu serdadu-serdadu mundur berserabutan. Tetapi mereka berada di atas kuda. Tak mudah mereka bergeser tempat. Itulah sebabnya sebelum mereka dapat menguasai diri, Wirapati sudah berhasil menikam tiga orang dengan pedang rampasan. Mengejutkan.

Mereka kini melindungi diri rapat-rapat. Pedangnya diputar kencang. Wirapati undur selangkah. Kemudian meloncat dan menyambar dua serdadu sekaligus. Mereka terjungkal ke tanah. Yang membawa senapan cepat-cepat mengisi bubuk mesiu. Mereka berjumlah empat orang.

Wirapati bermata tajam. Secepat kilat ia merapat dan bersembunyi di belakang gerombolan serdadu. Melihat Wirapati berlindung di belakang tubuh teman-temannya, mereka tak dapat memetik senapannya.
Di tempat lain, Jaga Saradenta mengamuk seperti banteng. Ia berhasil pula merebut pedang seorang serdadu dan terus merangsak. Kodrat melihat gelagat buruk, hatinya menjadi jeri. Segera ia menjejak perut kudanya hendak melarikan diri. Jaga Saradenta gusar sekaligus meledak. "Jangan biarkan anjing itu lari!"

Wirapati mendengar teriakan Jaga Sara¬denta. Cepat ia meninggalkan gerombolan serdadu. Ia mencegah larinya kuda. Di luar dugaan kuda Kodrat melesat sangat cepat. Wirapati tak menjadi gugup. Tangannya menyambar ekor kuda, terus menjejakkan kaki. Ia terbang ke udara, tangan kanannya membalik menghantam punggung.

Kodrat terkejut bukan kepalang. Cepai-cepat ia menangkis. Tetapi mana bisa ia menahan gempuran Wirapati. Seketika itu juga ia terpental dan jatuh berjumpalitan ke tanah. Tatkala berdiri tegak tahu-tahu tinju Jaga Saradenta mendarat di dadanya.

Kena hantaman tinju pamannya ia lontak darah. Tangan kanannya menggapai pistol. Ia kalah cepat. Lehernya kena gempuran lagi. Seketika itu juga ia jatuh terjungkal.

Mendadak Jaga Saradenta terkesiap. Bebe-rapa orang serdadu datang menyerang. Sekejap saja ia melihat di antara mereka membidikkan senapan. Melihat gelagat buruk, tanpa berpikir panjang lagi diangkatlah tubuh kemenakannya. Senapan meletus dan tubuh Kodrat dibuatnya perisai.

Kodrat menghembuskan napas tanpa sempat berteriak lagi. Tubuhnya berlumuran darah. Ia dilemparkan ke tanah. Derap kuda datang tidak dapat dikendalikan lagi. Tubuh¬nya lantas saja tergulung-gulung dan terinjak-injak kuda.

Jaga Saradenta menutup mata. Tak tahan ia menyaksikan kemenakannya akhirnya mati begitu hina. Tetapi justru saat ia menutup mata datanglah bahaya. Ia diterjang beberapa orang serdadu. Pundaknya tersabet pedang. Ia ter¬kejut dan cepat-cepat melesat pergi.

Wirapati segera datang menolong. Ia me-ampas kuda dan menghampiri cepat.

"Lompat!" teriak Wirapati.

Tetapi Jaga Saradenta menderita luka yang cukup parah. Dadanya mulai terlumuri darah. Kepalanya pusing berputaran, tangannya menggapai. Gntung, Wirapati tahu keadaannya. Disambarnya tangan itu dan ditariknya ke atas.

"Tembak! Tembak!" teriak serdadu-serdadu yang berusaha mengejar mereka.

Dua tembakan meletus di udara. Kemudian disusul satu kali lagi dan sekali lagi.

SAPARTINAH kaget waktu kena sambar si pemuda. Ingat akan anaknya ia mendekapnya kencang. Ia menutup mata. Terasa hawa panas menusuk dirinya. Tetapi hanya sekejap. Itulah waktu dia dibawa terbang si pemuda melintasi api yang menyala-nyala sekitar rumah.

"Akan kaubawa ke mana aku?" ia memekik.

Si pemuda tidak menjawab. Dia hanya membekam mulutnya. Kemudian berhenti sejenak. Sanjaya digendongnya di atas punggung, sedang dia sendiri segera dipapah tanpa dapat berdaya sedikitpun.
Sapartinah kaget dan ketakutan. Ia sedih dan lelah pula. Seharian tadi dia sibuk bekerja di dapur memasak empat ekor ayam. Kemudian datanglah malapetaka itu. Suaminya bertempur melawan orang-orang Banyumas. Dan pada petang hari terjadi pulalah peristiwa perebutan pusaka.

Kejadian demikian belum pernah dialaminya selama hidup 22 tahun di dunia. Sekarang mendadak ia dipapah seseorang. Sedang anaknya nampak sangat ketakutan. Saking takutnya sampai tak bisa berteriak atau menangis. Ia terharu, sedih, pedih, kesal dan kaget. Karena rumun gejolak hati ia jatuh pingsan.

Malam hari bergantilah pagi. Perlahan-lahan ia membuka mata. Pertama-tama yang tampak di depan matanya adalah atap sebuah kamar. Dirinya terang berada di dalam kamar. Berselimut dan terbaring di atas dipan. Ia menoleh. Dilihatnya Sanjaya tidur mendengkur. Hatinya dingin oleh rasa syukur.

Mendadak ia mendengar langkah lembut. Sapartinah berpaling cepat. Di tepi dipan berdiri seorang pemuda yang memandangnya dengan wajah manis. Pemuda itu berkata lembut padanya, "Kau terlalu lelah. Kenapa bangun sepagi ini?"

Ia merenungi pemuda itu. Teringatlah kemu¬dian peristiwa yang telah dilaluinya. Suatu bongkahan rasa menusuk dadanya. Ia menjatuhkan kepala.

"Mana Suage? Mana Tantre? Mana Rukmini?" ia berkata berbisik seperti mengigau. Kemudian merintih sedih. Akhirnya menangis sesak tersekat-sekat.

Pemuda itu pandai membaca hati. Perlahan-lahan ia mengundurkan diri. Di ambang pintu ia berdiri menimbang-nimbang. Mendadak ia mendekatinya lagi dan meraba-raba pundak Sapartinah. Keruan Sapartinah kaget. Serentak ia bangkit menegakkan diri seraya memandang si pemuda dengan tajam.

"Mengapa kau ..." damprat Sapartinah.

"Ssst," potong si pemuda. "Aku tidak bermaksud mengganggumu. Kupikir kamu sangat letih. Aku ingin menolongmu memijat pundakmu."

Bibir Sapartinah gemetaran karena menahan kegusaran hatinya.

"Mengapa kamu menggangguku ... mengganggu keluargaku ... mengganggu ..." Serentak dia berkata garang.

"Jangan salah paham, Nyonya," si pemuda memotong lagi dengan suara lembut. "Tidak ada maksudku mengganggu keluarga Nyonya. Kebetulan sekali aku lewat dan mengetahui orang-orang jahat yang menyamar sebagai rombongan penari. Kuhadang mereka dan salah seorang pemimpinnya telah kubunuh. Tak kuduga sama sekali kalau mereka masih saja memusuhi keluarga Nyonya. Hanya saja, Nyonya ... aku salah duga. Kukira yang berada di dalam rumah adalah kawanan mereka. Karena itu aku melepaskan tangan jahatku. Sadar akan kekeliruanku, cepat-cepat aku menyambar Nyonya. Seperti Nyonya ketahui ... rumah dalam keadaan bahaya."

"Bohong! Aku tahu kaubohong!" teriak Sapartinah sengit.

"Ssst! ... jangan bicara terlalu keras! Kita berada di rumah orang."

Sapartinah sebenarnya seorang wanita yang mengutamakan sopan-santun, meskipun ia rada genit. Mendengar teguran itu, lantas saja ia mengendapkan gejolak hati.

"Kita ini ada di mana?"

Si pemuda tersenyum menyaksikan tata-pengucapan hati Sapartinah. Dengan lembut ia menjawab, "Kita ada di rumah seorang penduduk Desa Besaran."

"Besaran?" Sapartinah terkejut. Tahulah dia, Desa Besaran letaknya dekat Kota Magelang. Dengan demikian, desanya Karangtinalang sudah jauh ditinggalkan.

"Mengapa aku kaubawa ke mari?"

"Nyonya, Nyonya dalam bahaya. Kawanan orang-orang Banyumas terus mengejar kita."

"Apa peduliku?"

Si pemuda mengela napas. Seraya berdiri undur. "Baiklah, kalau aku kaupersalahkan. Tadi aku bermaksud meminta maaf padamu, karena salah duga aku membunuh salah seo¬rang sahabatmu. Tetapi aku tak bermaksud jahat padamu. Lihat, anakmu tak kuusik selembar rambutnya." Ia berhenti mengesankan. "Sekiranya Nyonya masih menimpakan kesalahan ini tanpa pemaafan, biarlah aku pergi."

Sapartinah jadi bimbang. la dan anaknya berada di suatu desa yang belum dikenal pojoknya. Sikapnya yang kaku mereda lagi. Meskipun demikian ia masih berusaha berkata garang.

"Dimanakah suamiku?"

"Siapa suami Nyonya?"

"Suage. Wayan Suage. Apakah dia ... dia ..."

"Nyonya, janganlah Nyonya gelisah," hibur si pemuda. "Lebih baik istirahatlah. Perjalanan kita masih jauh."

"Masih jauh? Masih jauh?" Sapartinah terkejut. "Mau kaubawa ke mana aku? Aku isteri seseorang!"

Si pemuda menundukkan kepala. Menjawab dengan sangat hati-hati.

"Nyonya ... biarkanlah aku menebus dosaku. Kulihat tadi, suamimu mati dibunuh jahanam-jahanam yang membakar rumahmu. Karena aku merasa diri ikut bersalah, perkenankan aku mengasuh anakmu sampai dewasa."

Mendengar berita kematian suaminya Sapartinah kehilangan keteguhan hatinya. Sekujur badannya seperti terlolosi. Ia jatuh lunglai. Kemudian memiringkan diri sambil memeluk anaknya.

Sanjaya jadi menggeliat. Matanya liar menatap ke atap. Ketika menoleh dilihatnya ibunya memeluknya erat-erat sambil menangis tertahan.

"Sanjaya. Ayahmu ..." bisik ibunya tersekat-sekat.

Si pemuda menunggu sampai tangis itu reda.

"Kawanan bangsat yang berkeliaran di luar sudah kembali ke barat. Mari kita berangkat."

"Berangkat?"

"Ya, berangkat. Apa Nyonya ingin kembali ke kampung? Apa yang Nyonya cari? Rumah sudah terbakar habis. Suamimu ... dan kawanan bangsat mana mau meninggalkan desa. Mereka masih dendam kepadamu."

"Mengapa aku?"

"Karena Nyonya termasuk keluarga mereka yang menyembunyikan pusaka."

"Kamu pun ingin merebut pusaka itu."

"Hm," si pemuda menyenak. "Apa untungnya mempunyai pusaka itu?"

Terasa dalam hati nurani Sapartinah, kalau si pemuda berbohong sejak tadi. Tetapi kata-katanya manis dan enak didengar. Selain itu bisa menyejukkan hatinya.

Si pemuda meninggalkan kamar. Mau tak mau Sapartinah membangunkan anaknya. Hati-hati ia membimbing anaknya keluar kamar. Di depan pintu dua orang perempuan menyambutnya dengan sangat hormat. Mereka menunjukkan kamar mandi yang terbuat dari dinding keropos. Kamar mandi itu berada di samping rumah.

Sapartinah membasuh mukanya. Tak ingin dia mandi seolah-olah begitulah cara dia menyatakan duka-cita atas kematian suaminya. Sanjaya pun tak dimandikan pula.

Di luar rumah, si pemuda meninggalkan beberapa keping uang perak kepada pemilik rumah. Dua ekor kuda telah tersedia. Sapartinah dan Sanjaya datang dengan pandang berteka-teki. Si pemuda menyambut kedatangannya dengan ramah. la menghampiri Sanjaya. Kedua tangannya diulurkan. Entah bagaimana, Sanjaya tiba-tiba maju mendekati. Segera ia dipondong.

Sapartinah hendak mencegah, tetapi si pemuda membisiki."Maafkan aku Nyonya ... dengan Iancang terpaksa aku mengakui Nyonya isteriku dan dia ..."

Sapartinah berubah wajahnya menjadi merah jambu. Untung, pemilik rumah menduga lain. Ia menduga mereka berdua lagi membisikkan kata-kata bercumbu.

Dengan penuh kasih si pemuda menolong menaikkan Sapartinah di atas pelana. Kemudian ia sendiri bersama Sanjaya naik ke atas kuda lainnya. Begitulah, maka mereka meneruskan perjalanan. Sepanjang jalan Sapartinah mulai menebak-nebak diri si pemuda. Pikirnya, Orang ini dihormati penduduk sepanjang jalan. Siapa dia?

Sapartinah tak tahu, kalau uang dapat pula menjunjung derajat dan martabat. Tetapi, memang penduduk yang bersua dengan si pemuda lantas saja pada menyibak. Yang mengenakan caping di atas kepala, buru-buru membuka sambil mengangguk.

"Sebenarnya, ke mana aku mau kaubawa?" tanya Sapartinah.

"Yang penting sekarang, kita membebaskan diri dari incaran kawanan bangsat," jawab si pemuda. "Kalau keadaan sudah tenang kembali, perlahan-perlahan kita cari jenazah suamimu. Kemudian aku akan mencari sarang kawanan bangsat itu, untuk menuntut dendam. Hm ... coba kalau tidak ada mereka, tak bakal aku salah duga sehingga harus berbuat jahat kepada seorang sahabat Nyonya."

Sapartinah lemah hatinya. Ia rada genit, karena itu gampang tertarik oleh kata-kata mesra. Lagi pula hati dan otaknya sederhana. Tak dapat ia menduga-duga seseorang lebih mendalam. Sekarang mendengar omongan si pemuda yang beralasan ia malahan bersyukur dalam hati.

"Sanjaya! Cepatlah menjadi dewasa," katanya kepada anaknya. "Kemudian kita berdua membalas budi, eh ..."

"Membalas budi?" potong si pemuda gembira. Matanya berkilat-kilat. "Akulah yang berhutang kepada Nyonya"

"Tidak," sahut Sapartinah. "Kalau kupikir-pikir, kamu tak bersalah pada keluargaku. Tentang pembunuhan itu ... barangkali tiap orang bisa berlaku demikian, jika terjadi salah duga."

Si pemuda bersyukur dalam hati. Tetapi ia licin. Segera menyembunyikan perasaan itu dengan kata-kata seperti merasa bersalah.

"Nyonya! Mulai sekarang kuserahkan seluruh tubuhku kepada Nyonya. Meskipun aku hancur lebur, takkan aku menyesal. Aku akan selalu menyertai Nyonya ke mana Nyonya pergi. Aku akan selalu tunduk dan patuh pada semua kata-kata Nyonya."

Dua hari mereka berjalan. Pada suatu sore mereka berada di atas jalan besar. Tujuan mereka mengarah ke selatan. Selama itu si pemuda selalu mengaku suami Sapartinah bila sedang menginap di rumah orang.

Diam-diam hati Sapartinah mulai tenteram. Meskipun demikian ia selalu berwaspada. Senjata si pemuda yang berupa tongkat selalu diawasi. Tekadnya, bila si pemuda kurang ajar terhadapnya, ia akan merebut senjata itu, ia akan menyerangnya atau bunuh diri. Tetapi si pemuda bersikap sopan-santun.

Tata-susilanya tak tercela. Inilah suatu kelicinan yang lembut. Sapartinah tak pandai meraba lebih dalam.
Pemandangan seberang menyeberang sangat indah. Tetanaman ladang hijau meriah. Melihat tetanaman itu Sapartinah teringat suaminya. Ia lantas berduka.

Mendadak di kejauhan tampaklah debu mengepul tebal di udara. Sepasukan kuda mendatangi sangat cepat. Pemimpinnya yang berada di depan berteriak-teriak nyaring.

Sapartinah ketakutan. Tubuhnya lantas saja menggigil. Kesan malapetaka yang menimpa ketenteraman rumah tangganya mengamuk dalam dirinya. Tanpa sadar, ia lantas menjajari kuda si pemuda.

Si pemuda nampak tenang-tenang. Wajahnya tidak berubah. Pandangnya tajam ke depan. Dahinya yang lebar menggerenyit sedikit. Ia seperti berpikir, tetapi mulutnya tidak mengucapkan sepatah katapun. Pasukan kuda dengan cepat telah berada di depan mereka. Serentak kuda-kuda lari berpencaran dan mengepung. Sapartinah takut bukan main. la menoleh kepada si pemuda mencari kesan. Tetapi si pemuda tetap tenang. la bahkan menjejak perut kudanya dan beriari maju.

"Siapa pemimpinmu!" serunya nyaring.

Sapartinah heran melihat keberaniannya. Diam-diam perhatiannya terhadap si pemuda bertambah baik.
Pada waktu itu perjalanan mereka mencapai batas kerajaan Yogyakarta. Pasukan berkuda itu adalah pasukan pengiring raja dari Yogyakarta. Begitulah tatkala mereka mendengar seruan si pemuda sekonyong-konyong terjadilah suatu perubahan. Kuda-kuda beriari berputaran. Salah seorang yang berkuda di antara mereka lantas menghampiri.

"Siapa yang berani kurang ajar ini? Apa kau termasuk kawanan perusuh?" bentaknya.

"Kawanan perusuh macam apa?" si pemuda heran. "Kamu dari pasukan mana?"

"Kami dari pasukan raja, sedang mengejar beberapa kawanan perusuh penentang raja ."

"Hm." Si pemuda memotong. Sambil menegakkan tubuh, "Sekarang tebak, siapa aku?"

"Jangan kau berteka-teki. Siapa sudi mendengarkan omonganmu."

"Keparat! Kamu mengaku pasukan pengawal dari raja. Kelompok mana? Kelompok Pangeran Natakusuma atau Ratu Kencono Wulan. Bilang!"

"Bangsat!" maki orang itu. Pandangnya mencurigai si pemuda. "Pasti kamu tadi yang memasuki istana kepatihan."

Si pemuda kini menjadi kaget. Pandangnya berubah. la merogoh sesuatu benda. Sambil memperlihatkan benda itu, "Kau bisa membaca, tidak? ... kau bisa mengenal tanda ini tidak?"

Mendadak setelah melihat benda itu, orang itu lantas saja meloncat dari kudanya. Dia terus bersujud. Tubuhnya agak gemetaran.

"Maaf. Hamba kira siapa. Kiranya Pangeran Bumi Gede."

Sapartinah yang menyaksikan peristiwa itu dari jauh, terguncang hatinya. Apa artinya ini semua? Selama dalam perjalanan, ia ragu pada si pemuda yang masih asing baginya. Kalau ia ikut serta, semata-mata karena merasa diri ti¬dak berteman dan berkeluarga lagi. Mau ke mana? Ia merasa diri menjadi seorang janda kini. Rasanya tabu mengikuti seorang pemuda. Tetapi di luar dugaan, sikap pemuda itu lembut dan berkesan keningrat-ningratan.

Mendadak sekarang dengan mata kepalanya sendiri ia menyaksikan, bagaimana pemimpin pasukan berkuda itu lantas saja meloncat dari kudanya dan bersujud.

Terdengar kemudian orang itu berseru nyaring, "Semuanya turun! Pangeran Bumi Gede!"
Mereka yang berkuda cepat-cepat meloncat dari atas kudanya. Semuanya lantas mendekat dan berdiri hormat.

"Pangeran Bumi Gede?" pikir Sapartinah. "Siapakah dia!" ia mencoba menebak-nebak.

"Gusti. Sebenarnya hambamu patut dihukum," kata orang itu. "Tapi kami mendapat perintah Gusti Patih Danurejo untuk mengejar seorang perusuh yang menyusup ke Istana Kepatihan."

"Hm. Siapa jahanam itu?" sahut si pemuda yang ternyata adalah Pangeran Bumi Gede.

"Menurut laporan, orangnya bukan sembarangan. Dengan seorang diri dia merusak istana dan menggempur penjagaan. Ia lenyap dengan tiba-tiba. Kata orang, ia lagi mencari seseorang."

Mendengar ucapan orang itu, Pangeran Bumi Gede terkesiap. Ia menduga sesuatu. Jangan-jangan salah seorang dari kawanan rombongan penari telah mengenal dirinya. Kemudian salah seorang memasuki kota hendak membalas dendam.

"Kami menduga barangkali kaki-tangan raja ," kata orang itu menambahi. "Karena itu atas ijin Gusti Patih kami menggunakan pasukan berkuda kepatihan atas nama raja."

Mendadak terdengarlah derap kuda berputaran. Orang itu menoleh. Ia terkesiap . Dilihatnya salah seorang meloncati kuda dan hendak melarikan diri.

"Celaka! Itu si Wongsokaryo."

"Siapa dia?"

"Sudah lama hamba curiga. Dia mata-mata Pangeran Natakusuma, mungkin pula kaki-tangan Ratu Kencono Wulan. Ah, pengkhianat! Setelah mendengar pembicaraan kita ini, dia akan mengadu kepada majikannya. Bukan mustahil kepada Sri Sultan juga. Celaka!" orang itu berbicara gopoh setengah mengeluh. Kemudian dengan tergagap-gagap memberi perintah kepada pasukannya. "Kejar! Tangkap!"

Mendengar perintahnya, seluruh pasukan berkuda jadi sibuk. Karena yang dikejar sudah berada sepuluh langkah jauhnya, mereka jadi kelabakan. Lakunya tergopoh-gopoh dan melompati kudanya asal jadi. Untung tadi, kuda si pelari bukan kuda jempolan. Kalau tidak, mana mungkin mereka mengejarnya.

"Ih, pasukanmu belum teratur. Bagaimana kalian berani memusuhi raja!" Kata Pangeran Bumi Gede dengan tenang. Orang itu tak berani membuka mulut.

"Biarlah kutolong!" kata Pangeran Bumi Qede, karena dia merasa berkepentingan pula. la menjejak kudanya sambil memeluk Sanjaya erat-erat. "Sanjaya! Lihat, bagaimana aku menghajar seorang jahanam."

Kudanya meloncat, karena terkejut dua puluh langkah dia berderap. Tongkat rahasianya dicabut. Tahu-tahu dengan suatu gerakan aneh ia menjepret. Orang yang melarikan diri jatuh terjungkal dari atas kudanya.

Seluruh pasukan berkuda terkejut sampai mulutnya melongo. Mereka lantas berhenti serentak.

"Mengapa berhenti? Kepung! Kepung!" teriak si pemimpin pasukan dengan membanting-bantingkan kakinya.

Sapartinah kagum menyaksikan kegesitan Pangeran Bumi Gede. Diam-diam ia memuji dalam hati, hebat, gagah pemuda ini. Dan tanpa disadari sendiri, ia menarik kendali ku¬danya dan maju menyongsong. Ia sadar waktu sudah berada di depan Pangeran Bumi Gede. Cepat-cepat ia membelokkan perhatiannya kepada Sanjaya.

"Semestinya kamu ikut Ibu!" Kata Sapar¬tinah pura-pura menyesali.

Pangeran Bumi Gede tersenyum. Sahutnya mewakili si anak, "Dia seorang laki-laki. Sudah sepantasnya dia mengikuti jejak seorang laki-laki. Begitu kan, Nak?"

Sanjaya tak dapat menyatakan perasaan hatinya. Tetapi matanya berkilat-kilat menerjemahkan isi lubuk hatinya.

Sapartinah berbesar hati menyaksikan anaknya mempunyai benih keberanian. Tapi justru teringat hal itu, ingatannya melayang kepada ayah si bocah. Wajahnya lantas saja berubah.

Pada saat itu, pasukan berkuda sibuk merubung orang yang jatuh terjungkal. Mereka kaget berbareng kagum. Orang itu ternyata telah mati terjengkang. Di antara mereka lan¬tas mendatangi pemimpinnya dan melaporkan keadaan si pelari.

"Bagus! Bawa dia masuk ke kota! Laporkan kepada Gusti Patih, dia ditewaskan si perusuh yang memasuki istana."

Yang diberi perintah membungkuk hormat dan memutar kudanya.

Bulu kuduk Sapartinah mendadak menggeridik sendiri. Tak dapat ia menelaah peristiwa pada sore hari itu. Tetapi hatinya merasa seperti melihat suatu permainan kotor dan licik. Permainan apa itu, ia tak mengerti. Karena itu ia diam.

Orang yang memimpin pasukan berkuda itu bersikap tambah hormat kepada Pangeran Bumi Gede.

"Gusti. Hamba ingin membicarakan keadaan negeri."

Pangeran Bumi Gede tersenyum. Ia mem¬ber] isyarat dengan mengerlingkan mata kepa¬da Sapartinah.

"Tak ada waktu aku mendengarkan segala tetek-bengek. Aku ingin cepat pulang ke Bumi Gede. Apa malam ini aku bisa menginap di suatu kelurahan?"

Orang itu mengerti maksud Pangeran Bumi Gede.

"Tentu, tentu! Mengapa tidak? Kami akan ..."

"Nah! Pergilah kalian menangkap jahanam itu. Dia sudah lama membuat susahku. Sekiranya memungkinkan tangkaplah hidup-hidup. Kalau melawan kalian tahu cara menyelesaikannya. Aku senang, jahanam itu kaubayarkan kepadaku untuk jasaku tadi."

Sehabis berkata begitu, ia memutar kudanya dan mengajak Sapartinah meninggalkan pasukan berkuda. Kini perjalanan mereka mengarah ke timur.

Si pemuda nampak merenung. Hatinya tak tenteram, memikirkan perusuh yang memasuki istana kepatihan. Dia tak dapat menebak siapa orang itu. Kalau tadi mengira salah seorang kawanan rombongan penari, hanyalah karena pikiran selintas yang berkelebat dalam benaknya. Lambat-laun setelah dipikirkan bolak-balik hatinya jadi bimbang.

Tak lama kemudian perjalanan sampai ke kota. Itulah kota Yogyakarta.

"Nyonya, di sini banyak orang menjual pakaian," kata Pangeran Bumi Gede. "Kita cari penginapan dulu, lalu beli dua atau tiga perangkat pakaian. Pakaian Nyonya kelihatan banyak debunya. Juga pakaian Sanjaya. Alangkah enak dipandang mata sekiranya Nyonya mengenakan pakaian baru."

Sapartinah memeriksa pakaiannya. Benar, pakaiannya kelihatan berdebu dan usang. Tetapi masa dia harus menerima pakaian pemberian orang. Ia ingin menolak, tiba-tiba si pemuda berkata lagi.

"Keadaan di kota jauh berlainan dengan di desa. Orang harus pandai merawat diri. Wajah seperti Nyonya, kuranglah pantas jika hanya mengenakan pakaian bahan murahan. Bukankah itu berarti menyia-nyiakan karunia Tuhan?"

Sapartinah terkejut mendengar ucapan itu. Tapi diam-diam ia senang mendapat pujian tentang kecantikannya. Ia menundukkan kepala. Kemudian mengerling kepada si pemuda hati-hati. Ingin ia menyelidiki arah ucapan si pemuda. Tetapi ia tak mendapatkan kesan lain yang mencurigakan. Si pemuda benar-benar berkata dengan setulus hati. Karena kesan itulah ia menjadi tak enak sendiri, terus mencurigai kawan seperjalanan.

"Kudengar tadi kau seorang Pangeran," ia mengalihkan pembicaraan. "Tak pantas aku berjalan bersama seorang pangeran. Biarlah kami ditinggalkan di sini. Karena aku bisa mencari penghidupan dalam kota ini."

"Eh, apa kata Nyonya?" si pemuda kaget. "Kenapa Nyonya bisa mempunyai pikiran begitu. Apa Nyonya ingin melupakan dendam suami Nyonya." Diingatkan perkara suaminya, Sapartinah jadi lemah hati dan berkata menyerah.

"Aku seorang perempuan. Apa dayaku mau membalaskan dendam. Kurasa lebih baik aku memusatkan diri kepada ajaran dan pendidikan Sanjaya sebagai balas budi."

"Itupun pendirian mulia. Tetapi bagaimana Nyonya sampai hati menyiksa arwah suami Nyonya di alam baka."

"Mengapa aku menyiksa dia?" Sapartinah terkejut.

"Kita belum membalaskan dendamnya," jawab si pemuda.

"Karena itu berilah kesempatan padaku, untuk membalaskan dendamnya atas nama Nyonya. Sekali pukul aku telah menebus dua nyawa sekaligus."

Mendengar alasan si pemuda masuk akal, Sapartinah kian tunduk. Air matanya berlinang untuk sesuatu perasaan tanpa alamat. Mendadak terdengarlah Sanjaya berseru-seru heran. Dengan menuding-nuding ia menyatakan rasa herannya melihat pemandangan yang baru dilihatnya pertama kali. "Bu! Apa itu?"

Sapartinah sendiri baru untuk pertama kali memasuki kota Yogyakarta. Banyak peman¬dangan baru yang masih asing baginya. Ia tak pandai menerangkan. Maka si pemuda menolong menerangkan keheranan si bocah dengan lancar dan cekatan. Sikapnya tak beda seperti kata-kata seorang ayah belaka. Kesan itu meluluhkan hati Sapartinah. Dia bersikap sopan kepadaku. Ternyata sayang juga kepada Sanjaya, baiklah aku ber¬sikap mengimbangi. Apa salahnya aku ber¬sikap demikian terhadap seorang pangeran. pikir Sapartinah.

Pada jaman itu penduduk memandang sangat tinggi martabat orang-orang ningrat. Kalau ditimbang-timbang adalah suatu kebetulan belaka Sapartinah dapat berjalan berjajar dengan si pemuda. Sekiranya tidak ada peristiwa pusaka sakti, sekiranya wajah Sapar¬tinah tidak cantik manis, sekiranya si pemuda tidak tertambat hatinya untuk melihatnya yang pertama kali, takkan mungkin terjadi pergaulan sebebas itu.

Maka tatkala mereka menginap di sebuah penginapan mahal, Sapartinah diperlakukan sebagai isteri seorang ningrat. la mendapat pelayanan-pelayanan luar biasa buat ukurannya. Maklumlah, semenjak bayi ia dilahirkan di alam pedusunan. Menjadi dewasa dan bersuamikan seorang penduduk biasa yang memilih hidup sebagai petani. Ia biasa bekerja sendiri tanpa seorang pembantu pun.

Tak heran ia malahan merasa tersiksa oleh pelayanan-pelayanan itu. Meskipun otaknya sederhana, tetapi ia mulai lagi menduga-duga, mengapa pangeran itu memperlakukan dirinya begitu baik. Meskipun alasan yang dikemukakan adalah masuk akal, samar-samar ia merasakan sesuatu. Perasaan samar-samar itu menggugah dan mengingatkan hatinya kepa¬da suaminya yang sangat mencintainya. Ia merasa diri menjadi bagian hidup suaminya. Kini secara tiba-tiba direnggutkan oleh sesuatu nasib. Teringat akan cintanya kepada suaminya, berpura-puralah dia berbaring memeluk Sanjaya. Diam-diam ia menangis sedih sekali.

Dalam pada itu, Pangeran Bumi Gede berangkat ke bagian kota yang ramai dengan membekal uang. Ia melihat penduduk kota masih saja merayakan hari penobatan raja. Mereka berbelanja, berhias dan berbicara melebihi kebiasaannya. Gerak-geriknya halus dan menyenangkan hati.

Pangeran Bumi Gede adalah seorang pange¬ran yang mempunyai cita-cita besar. Ia bersekutu dengan Patih Danureja II. Dengan sendirinya dalam hatinya memusuhi Sultan Hamengku Buwono II. Maksud persekutuan itu ialah untuk sesuatu tujuan tertentu. Pertama -tama ia melihat Patih Danureja II berpengaruh besar dan luas. Kompeni Belanda berada di belakangnya. Kedua, ia mengagumi kecakapan Patih Danureja II. Jika ia pandai menempelkan diri kepadanya, tak urung di kemudian hari akan ke bagian rejeki.

Dia sendiri seorang bupati daerah Bumi Gede. Tetapi ia ingin menjadi seorang Bupati Mancanegara seperti Raden Rangga Prawiradirja III. Siapa tahu, malahan bisa diangkat menjadi pangeran penuh yang memerintah negara agung . Siapa tahu pula, bahwa oleh pengaruh Patih Danureja II dia bisa dicalonkan sebagai pengganti raja. Inilah cita-cita gilanya, tetapi mungkin pula terjadi. Sebab Patih Danureja II benar-benar lawan Sultan Hamengku Buwono II sampai ke bulu-bulunya ...

Dengan tenang dan rasa puas bangsawan itu berjalan menyusur tembok-tembok kota. Maklumlah, hari itu ia memperoleh tanda-tanda Sapartinah telah dapat dikuasainya. Ia seorang bangsawan yang teliti dan halus sepak-terjangnya. Gejolak hati sebenarnya tidaklah nampak dari penglihatan. Jika ia mempunyai tujuan, sepak terjangnya kian lembut. Perempuan sesederhana Sapartinah bagaimana dapat menebak maksud hatinya.

Selagi ia melamunkan rencana-rencananya terhadap Sapartinah, mendadak didengarnya derap kuda. Ia tertarik dan menjadi heran. Bagaimana tidak? Jalan yang dilalui tidaklah cukup leluasa bagi seseorang yang berkuda. Lagi pula waktu itu banyak orang berjalan hilir mudik. Di tepi jalan pedagang-pedagang kain, makanan, dolanan dan pikulan-pikulan sayur. Lantas siapa orang itu? Mestinya salah seorang keluarga raja. Mendapat pikiran demikian cepat-cepat ia menepi.

Tak usah dia lama menunggu, maka nampaklah seekor kuda berwarna putih melesat mendatangi. Kuda itu gagah, tegap dan cepat larinya. Ia mengagumi kuda itu. Tetapi ia heran pula penunggangnya. Dia bukan anak seorang pangeran atau salah seorang keluarga raja. Melainkan seseorang yang mengenakan pakaian pendeta.

Tampaknya seperti orang gila. Ia bercokol di atas pelana tanpa memegang kendali. Perawakan orangnya agak pendek, tapi tubuhnya berisi.

Menyaksikan kuda lari demikian cepat tanpa dikendalikan, Pangeran Bumi Gede menjadi cemas juga. Tetapi ajaib. Meskipun berlari begitu liar, kuda itu tak pernah menyinggung orang. Pikulan-pikulan dilompatinya dengan gesit. Orang-orang yang tidak sempat menyibakkan diri dilintasi dengan teliti. Kuda itu seperti berlari di tengah lapang tiada rintangan. Larinya merdeka dan pandai menghindari rintangan-rintangan semacam orang bersilat.

Pangeran Bumi Gede tak percaya, kalau kuda itu Iari tanpa dikuasai penunggangnya. Karena itu tanpa sadar ia kagum dan heran.

"Bagus!" Ia memuji penunggangnya. "Kalau bukan seorang ahli bagaimana dia sanggup melintasi jalanan begini sesak dan kacau."

Penunggang kuda itu tatkala hampir melin¬tasi Pangeran Bumi Gede sekonyong-konyong menoleh. Pandang matanya tajam seperti lagi mengancam. Tak terasa tersiraplah darah Pa¬ngeran Bumi Gede.

Ih! Mengapa dia memandangku seperti itu? pikirnya menggeridik.

Sekonyong-konyong dari simpang jalan nampaklah dua kanak-kanak lari menyeberang jalan. Orang-orang menjerit kaget. Tak terkecuali Pangeran Bumi Gede. Penunggang kuda lantas saja menarik kendali sambil menjejak punggung. Ia terloncat ke atas dengan berjumpalitan. Kudanyapun seperti ikut tertarik. Ia ter¬loncat dan melintasi kepala dua kanak-kanak itu tanpa menyinggung sehelai rambutnya. Tatkala kakinya turun ke jalan, si penunggang turun dari udara dan jatuh tepat di atas pelana.

Pangeran Bumi Gede tercengang-cengang. Siapa dia? ia menebak-nebak. Kenapa harus melarikan kudanya seperti setan?

Karena itulah ia segera mempercepat jalannya. Ia ingin tahu ada apa. Dia seorang pemuda yang gesit dan tangkas. Sebentar saja ia dapat mengejar larinya kuda dengan jarak tetap. Tetapi orang-orang yang dilalui pada heran. Mereka mengira, dialah pemilik kuda yang sedang mengejar si pencuri.

Pangeran Bumi Gede tak menghiraukannya. Perhatiannya terpusat kepada si penunggang kuda. Kalau aku belum mengetahui jelas siapa dia, biar aku berlari-lari sepanjang malam. Sayang, kalau seseorang sepandai itu berada di pihak raja. Dia harus dapat kutarik ke pihakku, pikirnya.

Makin lama makin menggilalah lari si kuda putih. Ia jadi khawatir akan kehilangan jejak. Sekonyong-konyong di depan Istana Kepatihan kuda putih itu berhenti. Penunggangnya lantas saja melompati penjagaan dan meng-gempur penjaga-penjaga.

"Ih!" Pangeran Bumi Gede terkejut. "Meng¬apa memusuhi kepatihan? Apa dia yang bikin onar dalam Istana Kepatihan?"

Ia lantas berdiri menonton di pinggir jalan. Waktu itu si penunggang kuda menyerang penjaga-penjaga dengan cepat. Sebentar saja belasan orang penjaga jatuh berserakan di atas tanah. la tak terkalahkan. Bahkan sekarang berdiri tegak menghadap gapura. Berkata nyaring, "Hai kalian begundal-begundal Belanda! Inilah Hajar Karangpandan! Kalau kalian sakit hati kejarlah aku!"

Setelah berkata demikian ia melompati kudanya lagi dan melesat pergi. Penjaga-pen¬jaga yang berada di dalam gapura membunyikan genta tanda bahaya. Tak lama kemudian sepasukan tentara berkuda keluar dari ga¬pura memburu Hajar Karangpandan. Tetapi mereka tak dapat mengejarnya. Melihat bayangannya saja tidak sempat.

Pangeran Bumi Gede berdiri tertegun menyaksikan kejadian itu. Hebat! Hebat orang itu, pikirnya. Ternyata dia benci kepada orang-orang yang bekerja sama dengan Belanda.
Patih Danureja memang bersahabat dengan kompeni. Dan aku bersekutu dengan Patih Danureja. Bukanlah setali tiga uang? katanya di dalam hati. Ih! Kalau aku kepergok orang itu ... akupun akan ...
Ia mendapat firasat buruk. Teringatlah dia akan Sapartinah. Maka cepat-cepat ia kembali ke penginapan. Lega hatinya saat melihat Sapartinah masih ada di dalam kamarnya. Keesokan harinya ia menyuruh Sapartinah berganti pakaian dan bersolek secara isteri orang ningrat. Kemudian disewanya sebuah kereta. Ia khawatir terlihat oleh si penunggang kuda semalam. Siapa tahu orang itu mengganggu Sapartinah. Urusan bisa runyam nanti, pikirnya. Biarlah kuantarkan pulang dulu Sapartinah, katanya di dalam hati. Setelah beres kucari orang itu. Sayang! Sungguh sayang jika orang itu terlepas dari tanganku. Kalau aku bersikap bijaksana pasti dia dapat kutarik ke pihakku.

Memikir demikian hatinya tenteram kembali. Sapartinah dan Sanjaya dinaikkan ke dalam kereta tertutup. Dia tetap menunggang kuda mengamat-amati dari jauh.

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 4 PENGEJARAN"

Posting Komentar