BENDE MATARAM JILID 11 SI PEMUDA KUMAL



Tujuh hari lamanya mereka berjalan. Pada malam hari mereka menginap di losmen-los-men. Sekiranya tidak ada, mereka bertiduran di alam terbuka. Inipun merupakan suatu pengalaman baru yang menyenangkan hati Sangaji. Rasa petualangannya lantas saja membersit dari hati. Pada hari kedelapan sampailah mereka di perbatasan kesultanan Cirebon. Waktu itu tengah hari telah terlampaui. Sangaji mengkaburkan kudanya terus-menerus. Kedua gurunya mengawaskan dari belakang.

“Di luar dugaanku, kuda itu benar-benar kuda jempolan,” dengus Jaga Saradenta.
Wirapati tertawa senang mendengar Jaga Saradenta memuji kuda Sangaji.

“Aku lantas ingat kepada cerita-cerita kuno tentang primbon kuda,” ujarnya lagi. “Bahwasanya kuda-kuda itu mempunyai ciri-ciri yang baik dan tidak. Diapun akan menyeret pula nasib majikannya. Kautahu tentang itu?”

“Tak pernah aku mempunyai kuda,” sahut Wirapati.
“Ah! Itulah kekuranganmu.”

Jaga Saradenta merasa menang. “Kalau begitu kau tak pernah mendengar cerita tentang kuda. Pada jaman dahulu raja akan memperebutkan kuda jempolan. Dia berani mengorbankan semuanya, kalau perlu. Kadang kala pecahlah suatu perang besar hanya perkara kuda bagus.”

“Masa begitu goblok?” potong Wirapati. “Apakah harga nyawa seekor kuda lebih ber-harga daripada nyawa manusia?”
“Hm, dengarkan. Aku pernah mendengar cerita perkara kuda dari seorang sahabatku bangsa Tionghoa. Dia Lotya di Banyumas. Dia bisa mendongeng dan menunjukkan bukunya tentang perang besar memperebutkan kuda-kuda jempolan di negeri Tiongkok. Buku itu, kalau tak salah namanya Hikayat Jaman Han. Diceritakan tentang seorang kaisar bernama Han Bu Tee yang pada suatu kali mengirimkan Jendral Besarnya bernama Lie Kong untuk memperebutkan kuda raja negeri Ferghana. Jendral itu membawa pasukan puluhan ribu orang banyaknya. Mereka bisa dihancurkan dan dibinasakan. Baru setelah mendapat bala-bantuan, maka tercapailah angan-angan Kaisar Han Bu Tee untuk memiliki kuda Ferghana yang jem-polan.”

“Itu gila! Kalau memang cerita itu benar-benar kejadian, maka Kaisar Han Bu Tee akan bersedia tidur bersama kuda.”

“Hooo...! Nanti dulu! Soalnya lantas saja berubah menjadi masalah kehormatan bangsa.” “Itulah yang benar. Jadi bukannya berperang perkara merebut kuda.” “Tapi mula-mula perkara kuda,” Jaga Saradenta mengotot.

“Menurut buku itu, Kaisar Han Bu Tee mengirimkan utusan kepada raja Ferghana untuk minta seekor kuda. Permintaannya ditolak, lantas saja timbullah suatu peperangan besar yang membinasakan puluhan ribu manusia.”

“Apakah kira-kira masalah permintaan kuda itu, bukan suatu dalih belaka untuk suatu alasan berperang?”

Didebat begitu Jaga Saradenta diam menimbang-nimbang. Kemudian mencoba meng-atasi. “Tapi memang sejarah dunia ini banyak mengisahkan hal-hal yang tak masuk akal. Kuda jempolan kurasa patut direbut dengan perang. Kalau dipikir, banyak cerita-cerita yang mengisahkan tentang hancurnya suatu kerajaan hanya karena gara-gara seorang perempuan. Haaa ... seseorang yang tahu apa arti kuda, kerapkali menilai seekor kuda jauh lebih berharga daripada seorang perempuan. Kau percaya tidak?”

Selagi Wirapati hendak menyahut, tiba-tiba terlihatlah serombongan penunggang kuda yang mengenakan pakaian serba putih. Rombongan itu terdiri dari enam orang pemuda tampan. Pakaiannya bersih dan gerak-geriknya tangkas. Mereka datang dari arah Selatan, terus memotong jalan dan mengarah ke Timur.

Sangaji yang berada jauh di depan memberhentikan kudanya. Kelihatan ia sedang me-ngawaskan mereka dengan penuh perhatian. Sampai mereka melewatinya, masih saja dia berdiam diri. Ia menunggu kedatangan kedua gurunya. Lalu berteriak, “Guru! Mereka me-ngenakan pakaian putih. Kulit mereka kuning lembut. Mereka mengerling padaku dan mem-perhatikan kudaku.”

“Buat apa mereka memperhatikan kudamu? Yang diawasi itu kantung uangmu!” sahut Wirapati tajam.

“Belum tentu!” Jaga Saradenta menungkas. “Kalau mereka ahli kuda, bukan mustahil mereka ngiler melihat kuda Sangaji. Siapa tak kenal kehebatan kuda pahlawan Arabia Hamzah? Sekiranya kuda Amir Hamzah masih hidup sampai kini, kurasa dunia akan berpe-rang terus-menerus untuk memiliki kuda itu.”

Wirapati melengos. Ia menjepit perut kudanya dan mengkaburkan sekencang-ken-cangnya. Sangaji heran melihat kelakuan gurunya. Segera ia mengejar dengan diikuti Jaga Saradenta. Mereka bertiga jadinya seperti lagi beriomba dalam pacuan kuda. Debu berhamburan di udara menutupi alam sekitarnya. Meskipun demikian, mereka seakan-akan tak mempedulikan. Mereka terus melarikan kudanya hingga hampir matahari tenggelam.

Tatkala senja rembang tiba, mereka berhenti di dalam sebuah rumah makan yang luma-yan besarnya. Segera mereka memilih tempat dan memesan makanan. Mereka minta tolong pada salah seorang pembantu rumah makan untuk mencarikan rumput dan serbuk kasar. Tak lama kemudian, terdengarlah kuda berde-rapan. Enam orang pemuda berpakaian putih datang ke rumah makan itu. Mereka bukan rombongan yang pertama tadi, tapi merupakan rombongan kedua.

Sangaji heran melihat mereka begitu tampan dan bergerak sangat lincah. Mereka me-ngenakan ikat kepala berwarna ungu dan duduk bersama di pojok sebelah kanan. Pikir Sangaji, Mereka merupakan rombongan yang teratur. Apa ada pemimpinnya? Tatkala hendak minta keterangan tentang siapa mereka, terdengar Wirapati berkata kepada Jaga Saradenta dengan suara lantang menyegarkan pendengaran, “Kau tadi bilang perkara kuda Amir Hamzah. Kenapa kauanggap kuda jempolan?”

“Ah! Kamu mau berdebat lagi perkara kuda?” Jaga Saradenta tertawa berkakakkan. Sambil menunjuk kuda Sangaji ia berkata meyakinkan. “Lihat Willem! Apakah kuda itu bukan kuda bagus? Delapan hari dia dilarikan si bocah edan-edanan, tapi masih nampak segar-bugar seolah-olah tidak mengenal lelah. Coba, kalau aku bukan orang tua si bocah, pasti akan kurampas. Begitu pula, kuda Amir Hamzah terkenal sebagai kuda jempolan. Kuda itu bernama Kalisahak. Menurut cerita, dia dahulu milik Nabi Iskak. Dengan cara gaib, Amir Hamzah dan Gmar bisa mendapatkan selagi mereka berdua bermain-main memanjat pohon di tengah hutan. Kuda Kalisahak bisa berlari secepat kilat. Dia tak takut hujan, guntur, sungai, rawa-rawa, hujan panah dan api. Selain itu, dia bisa melindungi majikannya. Di kala Amir Hamzah menderita luka parah sewaktu perang dengan Raja Kaos, Kalisahak membawa dia lari ke luar gelanggang. Dia terus lari dan lari, siang dan malam tiada hentinya sampai mencapai sebuah dusun yang aman tenteram. Di dusun itulah Kalisahak menyerahkan majikannya kepada seorang penduduk agar mendapat rawatan. Dia sendiri tetap berdiri di samping majikannya sampai majikannya sembuh. Apakah itu bukan kuda jempolan?”

Sangaji tertarik pada cerita gurunya. Sewaktu mengerlingkan mata kepada enam pe-muda berpakaian putih, dilihatnya mereka menaruh perhatian pula.

“Kalisahak mati karena usia tua,” Jaga Saradenta meneruskan. “Bukan mati karena sen-jata lawan seperti dikabarkan.”
“Bagaimana cerita itu?” Wirapati minta penjelasan.

“Itu terjadi dalam suatu peperangan yang dahsyat. Kalisahak kena bidikan panah lawan dan kena sabetan pedang. Dia jatuh terjengkang. Amir Hamzah melindungi mayatnya sambil menangis meraung-raung. Kemudian Kalisahak dikubur dengan upacara kerajaan.”

“Eh, kedengarannya cerita ini yang lebih mengasyikkan daripada mati tua. Matinya lebih terhormat dan patut menjadi kenangan orang.”

Jaga Saradenta diam seperti lagi mempertimbangkan. Ia menyenak napas seraya men-jawab, “Sesukalah.”

“Sesukalah bagaimana?”
“Kalau kau suka mendengar cerita itu, ada baiknya. Tak ada orang yang bakal memban-tah. Akupun tidak. Tapi aku lebih suka, dia mati karena usia tua. Artinya, dia mati dengan tentram. Bukan mati karena penasaran.”

“Mati tua artinya mati pensiun,” Wirapati menggoda.

“Baik, baik. Mati pensiun artinya dia pensiun jadi kuda. Kemudian naik ke langit menjadi dewa. Mungkin menjadi dewa. Mungkin jadi malaikat, karena sudah pensiun jadi kuda,” Jaga Saradenta jadi uring-uringan.

Wirapati tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan rekannya yang cepat mendongkol. Sangaji sendiri sekalipun tak berani terang-terangan, ia tertawa peringisan.

“Lantas? Apa Amir Hamzah tak punya kuda lagi?” Wirapati mengalihkan kesan.

“Mana bisa seorang pahlawan tanpa kuda,” Jaga Saradenta menyahut cepat. “Setelah Kalisahak mati, mula-mula memang dia tidak mau naik kuda lagi. Karena di dunia ini mana ada kuda seperti Kalisahak. Tapi akhirnya Tuhan kasihan padanya. Pada suatu hari, isteri tukang perawat Kalisahak melahirkan seekor kuda setengah raksasa setengah binatang.”

“Eh, mana bisa manusia mampunyai anak seekor kuda? Manusia kan bukan kuda?” Wirapati membantah.
“Ini kan cerita,” Jaga Saradenta mendongkol. “Mungkin maksudnya untuk menge-sankan mutu kuda Amir Hamzah yang kedua itu.”

Mendengar jawaban Jaga Saradenta yang masuk akal, Wirapati mau mengalah.
“Kuda itu diberi nama Sekardiyu,” Jaga Saradenta meneruskan. “Sekar artinya kembang atau anak. Diyu artinya raksasa. Jadi maksudnya, anak raksasa. Dan kuda itu sendiri, memang kuda yang perkasa dan kuat seperti raksasa. Dia seekor kuda jempolan yang pantas dibeli dengan darah. Mengapa? Dalam tiap-tiap pertempuran, Sekardiyu ikut berjuang. Ia menerjang lawan, mendepak dan menggigit. Setiap barisan lawan pasti bubar-berderai apabila kena diterjang Sekardiyu. Teringat akan kuda seperti Sekardiyu, tertariklah perhatianku kepada si Willem kuda Sangaji. Menyaksikan gerak-gerik dan tenaganya, diapun bagaikan anak raksasa ...”

Sangaji mendengar kudanya dipuji gurunya yang sok uring-uringan itu. Diam-diam ia melirik kepada enam tetamu yang duduk bersama di sudut kanan. Mereka mengarahkan pandangnya kepada si Willem pula.

Jaga Saradenta sendiri lantas berhenti bercerita, karena waktu itu masakan yang telah dipesan tiba. Mereka kemudian menikmati masakan sambil membicarakan mutunya.

Wirapati nampaknya mengamini, tapi sebenarnya ia memasang kuping. Dia adalah murid Kyai Hasan Kesambi yang keempat. Pendengarannya tajam luar biasa dan bertabiat usilan. Melihat rombongan mengenakan pakaian serba putih dan mempunyai gerak-gerik yang serba aneh, lekas saja hatinya tertarik. Diam-diam ia menyelidiki. Dia seorang pendekar kelana yang sudah berpengalaman, karena itu sikapnya tak kentara dan berlaku cermat.

Enam orang pemuda itu nampak duduk dengan merapat dan berbicara kasak-kusuk, tapi pendengaran Wirapati dapat menangkap tiap patah kata mereka. Lalu ia menggeser tempat duduknya mengungkurkan -mereka agar tak menerbitkan kecurigaan. Sambil menggeru-muti makanan, ia mendengar mereka berbicara.

“Rombongan Kartawirya tadi melepaskan tanda udara. Apakah mereka ini yang dimak-sudkan? Melihat kudanya dan orangnya, memang pantas untuk diawasi,” berkata yang duduk di sudut kiri.

“Buat apa kuda? Pasti kakak telah melihat sesuatu yang lebih berharga dari pada kuda itu.”
“Belum tentu. Apa kau tak mendengar tutur-kata orang tua bongkotan itu? Dia memuji kuda itu setinggi langit.”
“Ha, aku tahu maksudmu. Kalau kau dapat menghadiahkan kuda itu kepada Kartawirya, Setidak-tidaknya kau dapat keleluasaan menaksir adiknya.”

Lalu mereka tertawa berkikikan. Pemuda yang kena sindiran, tak senang hati. Tapi ia tak berdaya. Terpaksa ia menerima sindiran itu dengan hati mendongkol.

Wirapati mulai berpikir. Ia mencoba mengingat-ingat nama Kartawirya. Mendengar bunyi namanya, segera ia mengetahui kalau Kartawirya orang Jawa Barat. Paling tidak wilayah Cirebon bagian barat daya.

Tapi siapa orang itu? Karena belum mendapat kepastian, dia mempertajam pendengar-annya. Pemuda yang menyindir berkata lagi, “Memang Kartawirya tahun ini sedang terang bintangnya. Bisa kejadian sang Dewaresi mengambilnya ipar. Dasar ia perkasa, pribadi agung dan otaknya cerdas. Cuma saja doyan perempuan.”

Kembali lagi mereka tertawa berkikikan. Pemuda yang kena sindiran mencoba membela diri sebisa-bisanya. Katanya, “Biar dia doyan perempuan, apa sih hubungannya dengan diriku. Beberapa hari ini, sang Dewaresi lagi sibuk mengatur persiapan untuk suatu persekutuan besar. Pangeran Bumi Gede, sedang mengundang beberapa orang gagah di seluruh pelosok Pulau Jawa. Sang Dewaresi sadar, kalau yang diundang pasti bukan orang-orang semba-rangan. Masing-masing tentu akan memperlihatkan perbawa dan kewibawaannya. Sekiranya, sang Dewaresi memiliki kuda itu, dia bisa memiliki muka. Dengan sendirinya akan menaikkan derajat kita sekalian. Apa masalah kuda itu, bukan pula kepentingan kita bersama?”

Wirapati terkejut. Dia pernah mendengar nama sang Dewaresi yang disebut-sebut mere-ka.
Hanya saja, dia belum ingat di mana dan kapan nama sang Dewaresi itu pernah dide-ngarnya.

“Aku tetap kurang yakin, kalau tanda udara Kartawirya cuma perkara kuda. Kuda Banyumas pun tak kalah jempolan. Coba, pikir lagi yang lebih teliti. Mungkin, Kartawirya melihat penunggangnya mempunyai sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kuda,” ujar pe-muda yang menyindir.
Selama mereka berbicara, suaranya ditekan benar-benar sehingga hanya setengah berbi-sik. Jika seseorang tak mempunyai pendengaran tajam, tidak bakal dapat menangkap kata-kata mereka sejauh lima langkah saja. Tapi Wirapati dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas dalam jarak kurang lebih sepuluh-lima belas langkah. Hal itu membuktikan betapa tajam pendengarannya. Begitu ia mendengar kata-kata Banyumas, lantas saja terbuka ingatannya. Katanya dalam hati, Ah! Apa sejarah akan berulang kembali? Bukankah sang Dewaresi pemimpin rombongan penari aneh, dua belas tahun yang lalu? Celaka! Dulu aku kenal nama sang Dewaresi lewat mulut si bangsat Kodrat. Kini lewat mulut pemuda itu. Siapa dia?

Mengingat pengalamannya yang mengerikan, sehingga terpaksa dia hidup berlarut-larut sampai dua belas tahun di rantau orang, bulu kuduknya lantas saja menggeridik. Kalau ia berusil lagi, siapa tahu bakal mengalami peristiwa serupa. Tapi dasar dia usilan dan berjiwa kesatria luhur, sebentar saja ia melupakan kepentingan diri. Dia sudah mendapat kesan buruk terhadap rombongan penari aneh begundal-begundal sang Dewaresi. Karena itu, terhadap mereka pun ia menduga tidak ada bedanya. Orang itu pasti mempunyai tujuan setali tiga uang seperti dulu. Mendadak saja ia merasa wajib untuk mengikuti persoalannya.

“Baiklah,” sahut pemuda yang kena sindir tadi. “Mari kita berlaku hati-hati dan menyelidiki maksud tanda-udara secermat-cermatnya. Tapi ingat, kita harus menjaga nama kita baik-baik. Kali ini kita bekerja demi keharuman nama. Kita akan bertanding melawan orang-orang bukan sembarangan yang bakal datang dari seluruh penjuru Pulau Jawa. Sekiranya melaksanakan tanda-udara saja tak becus, mana bisa kita punya muka.”

Sehabis itu, mereka tidak berkata-kata lagi. Masakan dan minuman yang mereka pesan, mulai datang. Lalu mereka sibuk menikmati makanan dan menghirup minuman.

Wirapati mulai berpikir keras. Jelas sekali, mereka hendak datang memenuhi undangan Pangeran Bumi Gede. Kalau dihubungkan dengan kedatangan Pangeran Bumi Gede empat tahun lalu di Jakarta, bukanlah mustahil kalau undangan kepada orang-orang gagah di seluruh Pulau Jawa, merupakan langkah kelanjutan dari suatu rencana tertentu. Tapi rencana apa itu, Wirapati tak dapat menebak, meskipun memeras otak. Maklumlah, dua belas tahun lamanya dia meninggalkan daerah Jawa Tengah. Dengan sendirinya tak mengetahui sama sekali tentang perkembangan sejarah. Ia bagaikan orang buta yang ingin mengetahui segalanya dengan meraba-raba belaka.

“O ya, apa kalian sudah mendengar kabar?” mendadak salah seorang dari mereka ber-bicara. Orang itu duduk tepat di bawah jendela. Orangnya nampak pendiam. Raut mukanya bersungguh-sungguh. Mendengar dia membuka mulut, yang lain segera menaruh perhatian. Terang, ia dihormati dan disegani oleh kawan-kawannya. Kata orang itu, “Ada kabar tentang seorang pemuda gagah. Pemuda itu mengenakan pakaian mentereng. Lagak dan sikapnya keningrat-ningratan. Tapi dia memiliki bermacam-macam ilmu yang sukar diduga orang. Beberapa kali ia menjatuhkan orang-orang gagah.”

“Siapa dia?” mereka bertanya hampir berbareng.
“Namanya kurang terang. Tapi dia sering muncul di sekitar Cirebon atau perbatasan Te-gal. Rupanya dia seperti diwajibkan untuk menghadang orang-orang gagah yang diundang Pangeran Bumi Gede sebelum memasuki Pekalongan. Dengan begitu Pangeran Bumi Gede dapat memperoleh kepastian, kalau mereka yang bisa datang ke Pekalongan adalah orang-orang pilihan! Menurut kabar hanya satu di antara sepuluh orang yang dapat masuk Pekalongan. Karena itu, hendaklah kalian cukup berwaspada dan hati-hati.”

Sekali lagi, Wirapati mencoba menebak tentang keperwiraan pemuda keningrat-ningratan yang dibicarakan. Juga kali ini, dia tak berhasil. Sebab kecuali nama pemuda itu belum dikenal mereka, mestinya umurnya jauh lebih muda dari umurnya sendiri. Tentang perkembangan anak-anak muda angkatan mendatang tak dapat dikenalnya. Dan cacat itu se-mata-mata disebabkan keberangkatannya ke Jakarta dengan tak sekehendaknya sendiri. Walaupun begitu, tidak ada tanda-tanda ia menyesali nasibnya yang buruk.

Sehabis makan dan minum, enam orang pemuda berpakaian putih itu segera berangkat. Wirapati menunggu sampai mereka meninggalkan rumah makan jauh-jauh, lalu ia minta pertimbangan kepada Jaga Saradenta, “Bagaimana pendapatmu, apa meraka lebih bahaya daripada rombongan penari yang aneh dahulu?”

“Rombongan penari yang mana?” Jaga Saradenta minta penjelasan.
“Rombongan penari yang dibinasakan Hajar Karangpandan.”
“Apa hubungannya dengan mereka?” Jaga Saradenta heran.

“Mereka termasuk bawahan sang Dewaresi,” sahut Wirapati. Kemudian ia mulai mene-rangkan keadaan mereka dan bagaimana dia dapat mendengarkan percakapan mereka. “Yang penting bukan perkara kuda atau kantong uang Sangaji. Tapi maksud mereka hendak menghadiri undangan Pangeran Bumi Gede di Pekalongan. Mereka bersikap rahasia dan berhati-hati. Agaknya keadaan negara ada suatu perkembangan yang kurang menyenangkan. Kupikir, kita harus berangkat ke sana. Hal itu tidak boleh dibiarkan saja tanpa sepengetahuan kita.”

“Tetapi masa pertandingan sudah hampir tiba.” Kata Jaga Saradenta memperingatkan, meskipun dia menyetujui pikiran Wirapati.

Wirapati terdiam. Memang urusan pejanjian pertandingan yang sudah dirintis dengan susah payah semenjak dua belas tahun yang lalu, tidak boleh terbengkalai oleh urusan baru. Namun sebagai seorang pendekar yang sadar akan arti kebangsaan dan negara, dia tak dapat membiarkan diri membuta pada perkembangan keadaan. Jaga Saradenta adalah bekas pejuang pula. Meskipun usianya sudah lanjut, namun semangatnya masih muda. Kalau tidak begitu masakan dia mau membiarkan dirinya berlarat-larat sampai ke Jakarta tanpa memperhitungkan kepentingan diri.

“Kalau begitu, biarlah Sangaji berangkat lebih dulu.” Akhirnya Wirapati memutuskan. “Apa dia harus berangkat seorang diri?”
“Benar,” Wirapati menjawab sambil mengangguk. “Kemudian kita menyusul. Kurasa dalam satu bulan kita sudah bisa sampai ke tujuan.”

Jaga Saradenta diam menimbang-nimbang. Lalu berkata menguatkan, “Itupun baik. Sangaji memang harus mempunyai pengalaman sendiri. Pengalaman harus diperolehnya sendiri, karena tak dapat dipelajari dalam rumah perguruan. Mendapat pengalaman akan banyak faedahnya.” la berhenti sebentar. Kemudian berkata kepada Sangaji, “Keputusan gurumu banyak faedahnya bagimu. Kalau sebelum bertanding, kamu punya pengalaman, kami berdua tak usah mencemaskan kekalahanmu.”

Mendengar keputusan kedua gurunya, Sangaji tak senang. Segera ia menyatakan ke-beratannya berpisah dengan mereka.

“Bocah! Kau sudah besar! Sebesar kerbau bongkotan! Kau harus belajar berdiri sendiri. Kalau kami mampus, apa kau mau ikut mampus juga?” damprat Jaga Saradenta. “Lagi pula kau ini muridku! Muridku tak boleh mempunyai hati sekecil cacing!”

Wirapati yang bisa bersabar hati, lalu membujuk. “Pergilah dulu menunggu barang satu bulan. Tunggulah kami di Kota Magelang. Seumpama kami berdua menghadapi urusan pelik, salah seorang dari kami akan datang mengurusimu. Hal itu janganlah kaurisaukan.”

Sangaji lebih mendengarkan kata-kata pertimbangan Wirapati. itulah sebabnya, sekali-pun hatinya berat terpaksa dia menerima. Kemudian Wirapati dan Jaga Saradenta sibuk menggambarkan peta sejadi-jadinya untuk menunjukkan letak Kota Magelang.

“Dua rombongan berpakaian putih yang terdiri dari dua belas orang tadi hendak merampas kuda atau kantong uangmu. Kau tak usah meladeni mereka. Hindarilah mereka. Kau bisa mengandalkan dirimu kepada kecepatan si Willem. Jika kau tak lengah, kamu bisa me-ninggalkan mereka jauh-jauh.”

Jaga Saradenta senang mendengar ujar Wirapati. Pikirnya, “Rasakan, akhirnya kamu mengakui betapa pentingnya seekor kuda. Tadi berlagak tak menghargai...”

“Umpama kata benar-benar mereka main gila kepadamu, kami berdua takkan tinggal diam,” ujar Wirapati lagi. “Kami akan mencarinya.”
“Benar,” Jaga Saradenta menguatkan. ''Akupun diam-diam akan mengawasimu dari jauh. Masalah itu jangan kaurisaukan.”

Sehabis berkemas-kemas, Sangaji berlutut minta diri. Wirapati dan Jaga Saradenta mengantarkan sampai ke tempat si Willem yang lagi menggerumuti serbuk dan rumput. Mereka kelihatan beriapang dada melepaskan muridnya berangkat seorang diri.

“Ah, kamu kelihatan sudah dewasa,” kata Jaga Saradenta membesarkan hati. “Cuma saja, ingatlah pesanku ini. Jangan sekali-kali merasa dirimu terlalu kuat. Sebaliknya jangan juga kamu merasa rendah diri. Pokoknya kamu harus bisa membiasakan diri berlaku hati-hati dan waspada. Di dalam dunia ini banyak orang pandai. Lihat saja, gunung-gunung yang berdiri di atas Pulau Jawa ini, tidak hanya satu. Gunung Tangkuban Perahu nampaknya gede, tapi Gunung Slamet masih gede lagi. Gunung Merapi dan Lawu kelihatannya tinggi sekali, tapi Gunung Semeru lebih tinggi lagi.”

Wirapati tersenyum mendengar rekannya berbicara. Orang tua yang sok lekas uring-uringan itu tak biasa memberi petuah-petuah begitu hebat seperti kali ini. Tapi dia ikut juga menambahi.

“Dengarkan kata-kata gurumu itu! Sering-kali kulihat, kaungotot. Karena itu, sekiranya kamu tak bisa memenangkan lawan, lebih baik mengundurkan diri. Bukankah ketika kau melawan empat orang pemuda dulu, begitu ngotot? Untung mereka tak mengenal ilmu silat.”

Sangaji mengangguk. Segera ia melompat ke atas punggung si Willem. Dan belum lagi berjalan satu jam, ia menjumpai jalan bersimpang tiga. Ia ingat peta coretan kedua gurunya. Tapi dia dipesan memilih jalan yang sunyi dan-kecil. Meskipun berlika-liku dan sukar, tapi dia bisa menghindari kemungkinan pencegatan dua rombongan pemuda berpakaian putih. Selain itu, si Willem bisa diandalkan.

Begitulah, maka dia memilih jalan yang terkecil. Hari telah mulai gelap. Jauh di depan-nya nampak sebuah bukit menghadang padanya. Dia tak ragu-ragu. Segera ia menge-prak si Willem. Jalan itu benar-benar berlika-liku dan sempit. Agaknya lebih jauh bila dibandingkan dengan jarak jalan lalu-lintas umum. Untung si Willem dapat lari dengan lancar. Kuda itu tak takut pada jalan sempit Mendadak dalam gelap malam, ia melihat suatu cahaya biru melesat di udara. Cahaya itu pecah bertebaran dan hilang lenyap. Sangaji terkejut. Mulailah dia berpikir, apa itu yang dinamakan tanda-udara? Jika benar, mengapa melesat dari arah bukit?

Diam-diam ia meraba gagang pedang pemberian Willem Erbefeld semasa masih dalam latihan. Dia tak pernah berlatih ilmu pedang ajaran kakak-angkatnya karena kedua gurunya melarang. Tetapi ia menerima ajaran-ajaran ilmu pedang Wirapati. Karena itu, meskipun belum mahir, ia mengenal ilmu pedang cukup baik.

Di depannya mendadak muncul tiga orang berpakaian putih. Sangaji tidak ragu lagi. Pasti itulah mereka tadi. Segera ia bersiaga menjaga diri.

“Numpang jalan!” ia berteriak nyaring. Ketiga orang itu tertawa. Salah seorang me-nyahut cepat, “Mengapa mesti permisi dulu? Lewatlah! Kami tak mengganggumu!”


Sangaji belum mempunyai pengalaman dalam menempuh perjalanan malam ia mengira dirinya terlalu curiga dan salah duga. Maka ia mengendorkan kesiagaannya. Dalam hatinya ia malu atas kelakuannya sendiri yang buru-buru bersikap mencurigai. Tapi tiba-tiba yang lain berkata, “Eh —berapa banyak isi kantongmu?”

“Mengapa tanggung-tanggung? Sekalian kudanya,” yang satunya menyambung seolah-olah sedang bertukar-pikir.

Sangaji terkesiap, la lantas melihat mereka bertiga melintang jalan, la memperhatikan keadaan kiri-kanan mereka. Jalan begitu sempit. Seberang-menyeberang jalan penuh batu bongkahan. Malam gelap pula. Kalau ia turun dari kuda untuk melawan mereka bertiga, mungkin tak berhasil. Jangan-jangan si Willem bisa dilarikan selagi dia dibuat sibuk.

Memikir demikian ia menarik les dan balik kembali. Kira-kira sepuluh derapan, ia berpu-tar lagi sambil menjepitkan kaki. Willem kaget, serentak menjejak tanah dan melesat bagaikan terbang. Waktu itu tiga pemuda berpakaian putih mengira, Sangaji hendak melarikan diri.

Buru-buru mereka lari mengejar, tak tahunya Sangaji berputar kembali dengan tiba-tiba menghentakkan kudanya. Karuan saja mereka terkejut bukan kepalang.

“Awas! Buka jalan!” teriak Sangaji sambil menghunus pedang.
Mereka benar-benar gugup, karena sama sekali tak menduga bakal diterjang secara mendadak. Tapi begitu mendengar teriakan Sangaji, hati mereka jadi panas. Seolah-olah telah berjanji, mereka kemudian meloncat berbareng hendak menyambar les. Tetapi Willem lari amat pesat. Di samping itu, ketika melihat mereka bergerak hendak menyambar les, Sangaji membentak hebat. Si Willem berbe-nger dan terus menjejak tanah melewati gundul-gundul mereka.

Kejadian itu di luar perhitungan ketiga pemuda itu. Mereka begitu terkejut sampai ter-diam beriongong-longong. Darahnya tersirap menusuk kepala. Sama sekali tak diduganya, kalau kuda Sangaji benar-benar jempolan sampai bisa meloncat melewati kepala. Coba kurang bertenaga sedikit saja, gundul mereka bisa tersambar potol.

Sangaji sendiri tak mengira, Willem bisa main akrobat. Tadinya dia hanya bermaksud memberi semangat tempur agar menerjang ketiga pemuda itu dengan sepenuh tenaga. Pedang-nya sudah dilintangkan hendak membacok mereka. Tak tahunya, dia dibawa terbang. Inilah pengalamannya pertama yang luar biasa pula.

Beberapa waktu kemudian, ia mendengar mereka bertiga berteriak-teriak kalang-kabut.
Mereka memaki-maki sejadi-jadinya karena penasaran. Lalu terdengarlah bunyi bersuitnya beberapa batang panah. Tetapi Sangaji tak menghiraukan. Larinya si Willem jauh lebih pesat daripada melesatnya panah mereka.

Hampir semalaman penuh, ia melarikan kudanya—karena takut dihadang yang lain. Ketika perasaan hatinya merasa tenteram, ia memperlambatkan dengan bujukan manis. Terima kasih, Willem. Malam ini kau menyelamatkan aku. Besok pagi aku akan membalas budi. Akan kubelikan kau serbuk halus, gula-gula dan rumput hijau.”

Kemudian ia membawa si Willem beristirahat, la melihat sebuah gubuk yang berdiri di tepi sungai. Tanpa berpikir lagi, ia memasukinya dan merebahkan diri. Mulailah benaknya membaca pengalamannya tadi. Kesannya hebat, seram dan menegarkan hati. Hampir fajar menyingsing ia bergulak-gulik tak dapat memejamkan mata.

Keesokan harinya, setelah mandi di sungai, ia meneruskan perjalanan. Pengalamannya semalam, tiba-tiba mematangkan dirinya tanpa disadari sendiri. Dadanya serasa penuh, pandangnya tajam dan merasa diri menjadi manusia lain daripada kemarin. Si Willem tetap segar-bugar. Larinya cepat dan tidak ada tanda-tanda kelelahan. Karena itu, sebentar saja sampailah dia di perbatasan Kota Cirebon.

Cirebon adalah kota Kasultanan. Meskipun kalah ramai jika dibandingkan dengan Jakarta, tetapi bukan merupakan kota tak berarti. Cirebon merupakan kota perhubungan, karena letaknya berada di perbatasan wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Selain itu memiliki pelabuhan yang ramai juga dikunjungi perahu-perahu dagang dari berbagai pulau.

Sangaji menuntun kudanya dan berjalan keliling kota. Ia menjenguk toko-toko dagang, menengok pasar dan membeli beberapa keranjang buah-buahan. Setelah itu ia mencari serbuk halus, gula-gula dan rumput hijau untuk si Willem. Kebetulan di dekat penjualan serbuk dan rumput, berdirilah sebuah restoran Tionghoa. Belum pernah sekali juga ia memasuki restoran Tionghoa, tapi karena perut merasa lapar dan mengingat pula perut si Willem, ia memasuki restoran itu.

Segera ia memesan sepiring nasi, sepiring daging sapi dan udang goreng. Itulah macam masakan yang dia kenal. Pelayan yang meladeni tersenyum dan lekas saja memaklumi, kalau si pemuda tanggung itu bukan golongan pemuda-pemuda yang sudah mempunyai pengalaman melihat luasnya dunia.

Lantas saja dia memandang kurang kepada Sangaji. Tapi ia bersikap diam, agar jangan mengecewakan tetamu.

Tengah Sangaji bersantap, terdengar pelayan itu sedang ribut dengan seorang pemuda yang mengenakan pakaian kumal. Teringat akan pengalaman semalam, Sangaji terus bangun dan melompat lari menengok kudanya. Ternyata si Willem masih nampak meng-gerumuti rumput muda dan serbuk halus bercampur gula-gula. Sekarang ia menaruh perhatian kepada pemuda kumal itu.

Umurnya kira-kira tujuh belas tahun. Kelihatannya bengal dan bandel. Anehnya, suara-nya kecil nyaring. Meskipun demikian enak didengar, la mengenakan celana bertambal. Terang, dia seorang pemuda melarat.

“Mau apa lagi kau?” bentak pelayan restoran.

“Sebentar menjenguk dapurmu,” sahut si pemuda. Habis berkata demikian, lantas saja dia masuk dapur dan memungut sepotong daging. Tangannya ternyata kotor. Sepotong daging itu bentong-bentong kotor karena tangannya. Keruan saja, si pelayan marah. Tanpa berkata lagi, ia melayangkan tangan. Di luar dugaan, si pemuda gesit. Ia merendah sedikit dan tamparan itu melayang bebas di udara.

Sangaji ingat akan nasibnya sendiri, dua belas tahun yang lalu. Meskipun waktu itu umurnya baru menginjak enam tujuh tahun, riwayat perjalanannya yang pahit dan sengsara masih teringat lapat-Iapat dalam benaknya. Terbayanglah betapa nestapa dia, tatkala harus berjalan memasuki tiap kota dan akhirnya menumpang perahu dari Cirebon. Lalu, betapa hebat deritanya sewaktu tiba di Jakarta. Terpaksa dia diajak hidup dari teritisan ke teri-tisan. Untung saja bertemu dengan seseorang dermawan yang kebetulan bernama Haji Idris. Itulah sebabnya, begitu ia melihat si pemuda dan perlakuan si pelayan yang kasar, lantas saja dia menjadi perasa.

“Jangan! Jangan!” ia mencegah. “Aku nanti yang membayar sepotong daging itu.” Kemudian kepada si pemuda, “Apa Saudara mau duduk bersamaku? Barangkali hidangan ini cukup untuk menahan lapar.”

Mendengar kata-kata Sangaji yang ramah dan penuh perasaan, si pemuda lalu ber-senyum. Setelah itu merenggutkan sepotong daging yang telah kotor olehnya dan dilemparkan ke luar pintu. Katanya nakal kepada pelayan, “Lihat! Jangan kau kira aku mengotori dagingmu, agar terpaksa kau memberikan kepadaku.”

Di luar pintu, berdirilah tiga ekor anjing buduk. Begitu melihat dan mencium daging mentah, mereka lalu berebut. Inilah rejeki nomplok bagi ketiga anjing itu.

“Sayang... seribu sayang...” jerit si pelayan. “Sepuluh tahun aku bekerja di sini, belum pernahmakan daging sebesar itu seorang diri... Kau tadi bisa berikan kepadaku, kalau tak sudi.”

Sangaji pun heran menyaksikan tingkah-laku si pemuda. Terang ia melihat, kalau si pemuda memang lapar. Dilihat dari gerak-geriknya yang bengal dan bandel, mestinya ia sengaja mengotori potongan daging itu agar terpaksa diberikan kepadanya. Mengapa kini tiba-tiba bisa berlagak angkuh dan tak pedu-lian? Meskipun ia mendapat kesan demikian, ia tetap menutup mulut. Dengan hormat ia menarik kursi buat si pemuda.

“Ayo kita makan bersama,” Sangaji menawari.
Si pemuda itu tertawa. Lagaknya masih angkuh. Jawabnya mempertahankan harga diri, “Baik. Akupun sebenarnya lagi mencari teman untuk kuajak makan bersama. Tak tahunya, kambing itu menduga buruk padaku.”

Lidah pemuda itu terang berasal dari daerah Jawa Tengah sekitar Semarang. Sangaji hidup selama lebih dari sepuluh tahun di Jakarta. Dia biasa menggunakan bahasa Melayu Jakarta dalam pergaulan. Tapi tak melupakan bahasa daerahnya, karena ibunya menggunakan bahasa daerah sehari-hari. Karena itu begitu mendengar logat bahasa si pemuda, ia menjadi senang. Rasa hatinya terasa begitu dekat dengan tiba-tiba.

“Apa hidangan ini cukup kita makan bersama?” pemuda itu bertanya lagi.

Sangaji diam mempertimbangkan, lalu memanggil pelayan. Dia memesan sejenis masakan lagi. Tapi si pelayan nampak ogah-ogahan. Apalagi harus bekerja untuk si pemuda kumal itu. Si pemuda segera mengetahui kata hati si pelayan. Ia mendamprat nyaring, “Hai, apa kausangka aku ini seorang melarat sampai tak bakal bisa membayar makanan? Biar aku berpakaian begini, tapi belum tentu aku bisa menikmati makananmu.”

Sangaji diam-diam tersenyum dalam hati. Melihat sikap angkuhnya si pemuda, men-dadak saja teringatlah dia kepada perangai temannya semasa kanak-kanak si Sanjaya. Ia mau menduga-duga, tetapi belum berani meyakinkan diri.

Si pelayan yang kurang senang pada si pemuda kumal, kemudian datang mendamprat. “Apa kauhilang? Buat Kota Cirebon, inilah restoran yang paling baik dan seringkali dikunjungi pembesar-pembesar. Orang-orang Belanda-pun suka kemari.”

“Apa kalau sudah dikunjungi orang-orang Belanda, sudah berarti restoranmu mempu-nyai resep makanan enak?”

Si pelayan jadi penasaran. Pemilik restoran-pun yang mendengar ujar si pemuda ikut tertusuk perasaannya. Dia lalu datang menghampiri. Berkata hormat dibuat-buat, “Apakah kata Tuan? Apakah jenis masakan kami, belum bisa memenuhi selera Tuan? Restoran ini bernama “Nanking”. Nanking adalah kota besar di negeri Tiongkok. Termasyur dengan resep masakannya, jenis buah-buahan dan perempuannya. Tuan belum pernah menginjak negeri Tiongkok, kalau perlu kami bisa menuturkan. Masakan Jawa kalau dibanding dengan jenis masakan Tiongkok, belum ada sepersepuluhnya ...”

“Hm! Apa kalau sudah berani menyebut restoran Nanking mesti bisa menjamin mutu masakannya? Kau mengobrol perkara negeri Tiongkok, akupun bisa membual perkara masakan Jawa. Apa masakan Tionghoa? Apa kau kira aku belum mengenal?”

Mendengar dan melihat kawannya berbicara begitu lantang, Sangaji merasa tak enak. Ia ingin menengahi, mendadak pemilik restoran adi penasaran. Katanya menguji sambil me-ngulum mengejek, “Tuan bilang sudah kenal masakan Tionghoa? Baik, paling-paling macam resep mutu rendahan.”

“Hm. Baik kau dengar! Aku akan menyebutkan semua macam masakan Tionghoa yang sering kumakan setiap hari. Jika kau tak bisa membuat masakan yang kupesan, apa saubilang?”

“Umurku sudah hampir lima puluh tahun. Aku hidup selama 35 tahun di Nanking. Selama hampir 25 tahun, aku bekerja di sebuah restoran besar. Tuan bisa menyebut macam masakan yang Tuan sukai dan aku akan membuatkan.”

“Betul?”
“Betul!”
Si pemuda menggigit bibirnya. Lantas berkata, “Aku khawatir kau tak mampu, karena restoranmu begini kecil.” Sehabis berkata begitu, ia melayangkan matanya. Dan si pemilik restoran bertambah hebat rasa penasarannya. Menyahut lantang, “Sebaliknya aku khawatir Tuan tak bisa membayar.”

Si pemuda kemudian menatap muka Sangaji. “Apa kau mau membayar semua yang kumakan?”
Sangaji mengangguk, karena dia sibuk menduga-duga tentang diri Sanjaya.
“Tak perduli berapa banyak aku makan?” si pemuda menegas.

Sangaji mengangguk lagi. Melihat Sangaji mengangguk menyanggupi, si pemuda berpa-ling kepada pemilik restoran, “Temanku ini akan membayar. Nah, sekarang dengarkan semua macam masakan yang bakal kami pesan. Terlebih dahulu biar kawanku ini, lantas aku.”

Sangaji sebenarnya tak mengenal tentang macam masakan. Dia hanya sedang bergem-bira. Pertama-tama, bertemu dengan seorang teman di tengah perjalanan yang sebaya umurnya. Kedua, menduga barangkali si pemuda itu Sanjaya. Ketiga, merasa tertarik oleh lagak-lagu si pemuda yang berani dan lancar bicaranya. Lantas saja, dia berkata dengan maksud menggembirakan pertaruhan itu.

“Satu keranjang daging kerbau goreng. Satu keranjang hati lembu goreng. Satu keranjang usus kambing goreng. Satu keranjang ...”

Ia mengira, kalau sudah menyebut suatu jumlah masakan dengan ukuran keranjang, sudah merupakan suatu pesanan yang luar biasa. Tak tahunya si pemuda menungkas, “Eh, jangan! Mengapa begitu sederhana?”

“Lho, bukankah aku sudah memesan macam goreng daging, goreng hati dan goreng usus masing-masing satu keranjang? Dia tentu terpaksa memotong kerbau, lembu dan kambing beberapa ekor.”
“Jangan diributi perkara daging, hati, usus dan tetek-bengek. Itu bukan makanan buat orang seperti kita. Tapi ukuran keranjang itu pantas buat raksasa atau anjing buduk.”

Sangaji segera mau mengalah. Memangnya I tak becus menyebut sejenis masakanpun, selain serba goreng. “Baiklah, kalau begitu kau saja yang memesan. Pasti aku akan ikut makan pesananmu.”

Si pemuda lalu menggosok-gosokan tangan. Ia seolah-olah lagi sibuk memilih nacam masakan yang berjumlah lebih seribu dalam benaknya. Kemudian memutuskan.

“Baiklah kita minum dahulu atau makan buah-buahan yang serba segar. Kata dia, aku harus memesan masakan yang khas keluaran Tionghoa. Bukankah begitu?”
Pemilik restoran mengangguk sambil mengulum senyuman merendahkan.
“Bagus! Sediakan buat kami berdua, buah-buahan yang serba kering, manis-madu dan asam-segar.”

“Sebutkan, buah-buahan apa itu?” Si pemilik restoran senyumnya lebih lebar.

“Karena restoran ini begini kecil ... baiklah agar kau tak usah payah-payah dan repot...” si pemuda berkata terputus-putus untuk mengesankan setiap patah katanya. “Sediakan saja buah leci, lengkeng, co dan ginseng. Entah di sini ada atau tidak. Kemudian yang manis-madu, buah jeruk Tiauwhoa-kim-kie, anggur hiangyoh, buah tho tong songtiauw dan buah lay hauw-longkaun...”

Mendengar bunyi macam buah-buahan yang disebutkan si pemuda begitu lancar, si pemilik restoran terperanjat sampai pucat.
Tak mengira dia kalau si pemuda itu benar-benar mengenal macam buah-buahan yang mahal dan lezat dari negeri Tionghoa. Seseorang yang belum pernah merasakan dan mencicipi macam buah-buahan itu, betapa bisa tepat mengatur tata kelezatan dan mengenal namanya dalam bahasa Tionghoa. Sebaliknya, Sangaji jadi bangga dan besar hati mempunyai kawan baru ini. Tadinya dia merasa khawatir, mengingat ketajaman lidah si pemuda. Kalau sampai tak bisa menyebut macam masakan Tionghoa, setidak-tidaknya dia ikut ditertawakan si pemilik restoran. Tak tahunya, selain berlidah tajam, ia bisa diandalkan. Bagi dia yang sama sekali tak mengenal nama jenis masakan Tionghoa sehurufpun, lantas saja merasa takluk sampai ke bulu-bulunya.

Si pemuda itu rupanya tahu, kalau baik Sangaji maupun si pemilik restoran mulai keran padanya. Maka ia sengaja memperlihatkan mutu dirinya. Dengan gaya memaafkan dan memaklumi atas kemiskinan si pemi-ik restoran, dia berkata, “Kalau aku menuruti kebiasaanku, takut kau tak dapat memenuhi. Baiklah aku minta tujuh macam hidangan saja. Ceker bebek goreng, puya asap, soto kijang, idah ayam cah, soto burung manyon, bakso kelinci, kaki babi hong vr;”

Kali ini si pemilik restoran benar-benar merasa takluk, la berdiri melongoh. Khawatir si pemuda akan memesan hidangan lainnya, cepat-cepat ia memotong, “Tuan... Cirebon bukan Nanking. Bagaimana bisa kami menyediakan macam masakan yang Tuan pesan.”

“Mengapa tidak?” sahut si pemuda. “Semua pesanan ini, sudah kutaksir sebelumnya akan dapat kausajikan. Apa susahnya? Ceker bebek. Di Cirebon masa tidak ada itik? Lidah ayam. Masa di Cirebon tidak ada ayam? ...”

“Ya betul, Tuan. Tapi burung wanyoh,, kijang dan kelinci, di mana kami bisa cari. Masakan kami harus menguber-uber binatang itu di tengah alam yang begini luas?”

“Zie ye,” kata si pemuda dalam bahasa Belanda. Kemudian ia berbicara dalam bahasa Belanda dengan Sangaji amat lancar. Sekarang, baik Sangaji maupun si pemilik restoran mempunyai kesan lain terhadapnya. Mereka yakin, kalau si pemuda itu ternyata seorang pelajar yang lagi jatuh miskin. Maka diam-diam, mereka bersikap hormat.

“Baiklah,” kata si pemuda itu memaklumi. “Sediakan saja masakan yang kaubanggakan. Aku berjanji akan memakannya habis tanpa berbicara. Dan tolong ambillah anggur Pe-khoen-cioe.”

“Tuan maksudkan arak?”
“Katakan saja anggur, biar temanku ini mau minum.”

Kebetulan sekali si pemilik restoran mempunyai arak Pekhoen-cioe yang sudah disimpan selama sepuluh tahun. Maka bergegas ia masuk ke dalam sambil menghambur-hamburkan perintah menyediakan macam hidangan kepada juru-masak dan pelayannya.

Sangaji puas menyaksikan penyelesaian babak-akhir adu lidah. Ternyata si pemuda berpengetahuan luas. Meskipun kedengarannya berbicara tajam, tetapi menyenangkan dan bisa memaklumi orang. Ini membuktikan, kalau meskipun si pemuda cerdas otaknya dan luas pengalamannya, mau memaafkan serta memaklumi perlakuan orang terhadapnya. Bukankah dia sama sekali tak menyinggung apalagi bersikap menggugat perlakuan si pelayan yang mau menempeleng kepalanya? Tapi dengan bersenjata pengetahuannya yang luas, dia bisa menaklukkan tidak hanya terhadap si pelayan saja. Baik si pemilik restoran dan dirinya sendiri benar-benar kena ditaklukkan.

“Saudara Sangaji masih mencoba. Apa benar-benar kita berdua nanti dapat meng-habiskan semua hidangan yang akan disediakan?”

“Perang belum selesai seluruhnya,” sahut si pemuda dengan tertawa. “Nanti kita ajak si pemilik restoran makan bersama. Aku akan melayani dan kau yang membayar. Aku ingin melihat, apakah hidangan yang dimakan bisa menjadi daging.”

Mendengar rencana si pemuda, mau tak mau Sangaji tertawa geli. Alangkah lucu, sekiranya bisa kejadian si penjual makan jualannya sendiri dan dibayar oleh si pembeli. Kalau si penjual mempunyai harga diri, mana bisa menelan traktiran si pembeli. Ini namanya cara pukulan baru yang bisa membekas panjang dalam perut sampai usus-ususnya. Dan sekali lagi, Sangaji kagum pada kecerdikan dan kepintaran si pemuda. Ia sampai mau percaya, kalau otak si pemuda lebih cerdik dan lebih pintar daripada Wirapati, gurunya yang dipuja selama ini.

Selang setengah jam, hidangan dan masakan yang menjadi kebanggaan pemilik restoran Nanking tiba. Sangaji mencoba mencicipi. Terus-terang ia mengakui kelezatannya. Tetapi si pemuda makan dengan ogah-ogahan. Melihat lakunya yang ogah-ogahan, si pemilik restoran sibuk menduga-duga. Ini sudah merupakan suatu siksaan baginya. Mendadak pula si pemuda berkata, “Apa sudah betul bumbunya?”

“Masa bisa kurang?
“Cobalah makan! Kalau benar-benar kau-doyan, baru aku mau percaya.”
Si pemilik restoran mana mau diajak meng-gerumuti masakannya sendiri yang sedang dijualnya. Kalau disuruh memilih, lebih suka ia memperoleh celaan daripada diperlakukan begitu. Tapi justru ia mempertahankan kehormatan diri, hatinya selalu kebat-kebit. Bagaimana tidak? Di seluruh dunia ini mana bisa seorang juru masak dicela masakannya? Meskipun andaikata si pencela benar, dia akan siap-sedia hendak mempertahankan dan membela diri.

Si pemuda bersikap tak pedulian. la lalu berbicara dengan bebas menanyakan asal-usul Sangaji. Tapi ketika si pemilik restoran mau mengundurkan diri, cepat-cepat ia minta penjelasan tentang bumbu masakan yang dihidangkan, kemudian mencela kekurangannya dan menggurui bagaimana semestinya. Celakalah, dia benar-benar hatinya tersiksa. Mundur tak bisa, tetap berdiri seperti jongos enggan.

Sangaji teringat pada pesan kedua gurunya. Dia harus bersikap hati-hati dan tak boleh berbicara banyak. Maka dia tak mengaku berasal dari Jakarta. Cuma menerangkan, datang dari daerah Jawa Barat dan pekerjaannya berburu.

Mendengar kata-kata berburu, si pemuda nampak girang. Segera ia menanyakan ten-tang perangai dan lagak-lagu binatang perburuan. Maka terpaksalah Sangaji mengiringi ke-mauan si pemuda sebisa-bisanya. la bercerita tentang harimau, babi hutan, ular, burung, kijang, rusa, gajah, kera dan lutung. Binatang-binatang itu memang pernah dijumpai sewaktu dahulu berburu dengan keluarga Mayor De Hoop. Tetapi jika dikatakan dia mengenal binatang-binatang itu dalam arti kata yang benar, tidak benar. Karena itu tutur-katanya mengenai binatang-binatang itu, lebih bersifat ke kanak-kanakan. Tapi justru bersikap ke kanak-kanakan, si pemuda yang mendengarkan jadi kian tertarik.

“Aku ingin memiliki semuanya!” seru si pemuda girang.
“Buat apa?”
“Buat main-main.”
Sangaji dapat merasakan kegirangan si pemuda. Terus saja dia bicara dan bicara. Si pemuda sendiri lantas juga menumpahkan semua angan-angannya. Ia ingin menjelajah ke seluruh pelosok Pulau Jawa. Ia akan menyeberangi hutan, mendaki gunung dan bukit-bukit serta memanjat pohon-pohon tinggi.

Amat gembiranya, tangannya berserabutan. Suatu kali Sangaji kena sentuh tangannya. Dia kaget, karena tangan si pemuda dirasakan lunak. Diam-diam ia mulai mengamat-amati wajah si pemuda. Ternyata berkulit halus pula, berwarna kuning kehitam-hitaman dan bersih. Matanya lentik dengan bentuk alisnya yang bagus. Maka perlahan-lahan, tak mau ia menduga lagi kalau si pemuda itu adalah Sanjaya.
“Sebenarnya kamu berasal dari mana?” ia memberanikan diri untuk menanyakan asal-usulnya.

“Jauh! Jauh amat!” jawab si pemuda.
Mendapat kesan kalau si pemuda tak mau berterus-terang, maka ia tak mendesak lagi. Mendadak si pemuda berseru, “Ah, semuanya sudah menjadi dingin.”

Sangaji terperanjat. Baru dia ingat akan macam hidangan yang begitu banyak disedia-kan di depannya. Karena terlalu tenggelam dalam percakapan, ia sampai lupa mencoba mencicipi semuanya.

“Biarlah suruh memanaskan,” katanya.
'Tidak. Ini namanya kurang asli. Suruh saja mengundurkan dan mengganti dengan ma-sakan lain,” si pemuda seperti menggerutu. Ia lalu menyuruh si pemilik restoran yang masih saja berdiri tegak di sampingnya untuk mengangkat semua hidangan dan mengganti dengan masakan baru.

Si pemilik restoran bertambah heran. Hidangan belum semua dimakan. Harganya-pun bukan murah, karena dia sendiri yang membuatnya istimewa. Sekarang mau pesan hidangan yang lain. Selama dia membuka restoran di Cirebon, belum pernah mempunyai tamu semacam hari itu. Tetapi ia tak berbicara sepatahpun. Ia memanggil pelayan-pelayan-nya. Kemudian mengundurkan diri dari samping si pemuda dengan hati lega. Maklumlah, dia lantas merasa dibebaskan. Tapi di dalam hati dia menyukurkan Sangaji. Hm ... rasakan! Gangmu bakal disedot habis. Mengapa tak sadar dipermainkan pemuda gila....

Sangaji sendiri tak memikirkan perkara berapa dia harus membayar semua hidangan. Hatinya sudah merasa kena direbut si pemuda. Bahkan karena senangnya, lantas saja dia mengambil sepasang pakaian baru dan diberikan kepada si pemuda sebagai tanda ikatan persahabatan. Setelah itu ia membekali pula uang sejumlah seratus ringgit. Bukan main besar jumlah itu, sampai si pemilik restoran yang mendengar gerincing uang jadi ngiler.

Si pemuda menerima hadiah itu, tanpa mengucap terima kasih sepatahpun. Bahkan tidak nampak kesan sedikitpun jua, seolah-olah sudah semestinya Sangaji menghaturkan persembahan kepadanya.

Tatkala itu, masuklah seorang pemuda ke dalam restoran. Pemuda itu berwajah amat cakap. Umurnya kurang lebih 19 tahun dan dandanannya mentereng. Ia melirik kepada Sangaji.dan si pemuda,Ternudian dengan sikap angkuh duduk di kursi sebelah sana. Ia memanggil pelayan dengan suatu isyarat. Kemudian memesan empat macam masakan.

“Apa cukup buat bekal pulangmu?”
“Aku tak mau pulang ke rumah,” jawab si pemuda dengan menggelengkan kepala. “Mengapa?”
“Ayahku tak menghendaki aku pulang.”
Masa begitu, Sangaji heran.
“Buktinya, aku sampai ke mari. Tapi ayahku mana mencariku?”

Sangaji bertambah heran. Lantas saja tahu, kalau si pemuda itu biasa dimanjakan ayah-nya. “Ibumu kan rindu padamu?”
“Ibuku sudah lama meninggal dunia. Kata Ayah, semenjak aku belum pandai me-rangkak-rangkak.”
Sangaji jadi terharu. Sekarang ia yakin benar, kalau si pemuda itu bukan Sanjaya.
“Apa ibu sambungan tak mengurusmu, sampai ayahmu tak menghendaki kamu pu-lang?” ia mencoba mencari kejelasan.
“Mana berani Ayah mengambil isteri baru? Kalau berani mencoba, dia akan kuracun.” “Siapa yang kau racun?”

“Isterinya,” sahut si pemuda tanpa ragu-ragu. Melihat lagak-lagunya, Sangaji percaya kalau si pemuda itu akan melakukan apa yang telah diucapkan. Diam-diam ia merasa diri bernasib lebih baik dari si pemuda. Itulah sebabnya pula, ia bertambah berkasihan kepadanya.

Selagi dia sibuk menggerayangi keadaan si pemuda, mendadak di luar restoran terdengar bentakan-bentakan dan bengar si Willem. Serentak darahnya tersirap. Terus ia melompat dari kursinya dan lari ke luar. Betapa kagetnya, ia melihat tiga pemuda berpakaian putih sedang mengepung si Willem. Mereka berusaha hendak menyambar les, tetapi Willem be-rontak. Itulah mereka semalam yang menghadangnya. Ia heran, kenapa mereka bisa menyusul begitu cepat.

“Eh, di siang hari bolong kamu berani merampas kuda,” bentaknya gusar. Ia hendak meloncat menerkam salah seorangnya. Tiba-tiba saja seorang di antara mereka jatuh tersungkur di tanah. Heran dia, mengapa roboh sendiri. Ia menoleh dan dilihatnya si pemuda kumal berdiri di belakangnya sambil bersenyum. Belum lagi dia membuka mulut, si pemuda berkata mendahului, “Jangan pedulikan maling-maling itu. Pesanan kita sudah datang.”

“Mereka hendak merampas kudaku,” Sangaji mencoba memberi penjelasan. “Tapi aneh, dia roboh sendiri tanpa ku ...”

la tak meneruskan, karena melihat si pemuda sudah balik duduk kembali. Maka ia duduk pula di sebelahnya, kemudian melirik kepada pemuda mentereng.

Pemuda mentereng dan tampan itu, justru memandang padanya. Dengan demikian pandang mata mereka bertemu. Pemuda itu mengangguk hormat. Pandang matanya heran dan mengagumi.

“Inilah air tehmu,” temannya mendadak berkata, la segera mengarahkan perhatiannya kepada temannya yang sedang menuang air teh. “Kudamu kenapa diincar mereka?” tanya si pemuda.

Sangaji hendak menyahut, mendadak didengarnya suara langkah berderapan. Ia menoleh. Ternyata enam orang pemuda berpakaian putih memasuki restoran dengan pandang mengancam. Tetapi mereka tidak menunjukkan tanda-tanda mau menyerang. Mereka seperti sedang menyelidiki dirinya dan sikapnya berhati-hati. Tak lama kemudian salah seorang di antara mereka, melemparkan suatu benda tajam. Sangaji terperanjat. Jarak antara dia dan enam orang pemuda berpakaian putih itu sangat dekat. Sudah barang lentu, tak mungkin lagi dia menangkis lemparan benda tajam itu. Seketika itu juga ia bergerak hendak menghindari, tapi teringatlah dia kalau temannya berada di belakangnya. Pabila dia melompat ke samping, temannya pasti kena sambaran benda tajam tadi. Di luar dugaan—selagi dia belum mendapat keputusan, pemuda mentereng yang duduk di kursi sebelah sana, meloncat gesit seperti terbang. Dengan sekali sambar, ia berhasil menangkap benda tajam itu. Ternyata benda itu, sebilah belati kecil terbuat dari benda logam berwarna ke kuning-kuningan.

Pemuda mentereng itu tidak berhenti sampai di situ saja. Ia memperlihatkan ketangkas-annya.

Cepat luar biasa, ia melesat dan menerjang enam orang pemuda berpakaian putih sekaligus.
Entah bagaimana, mereka kena dihajar pulang balik.

“Mundur!” teriak salah seorang di antara mereka. “Belum waktunya kita mengadu ke-pandaian. Ingat! Dia si pemuda berpakaian mentereng!”

Mendengar teriakan itu, lainnya lalu lari ber-serabutan. Sebentar saja lenyap dari pengli-hatan. Ketika suara mereka tak kedengaran lagi, pemuda mentereng itu menghampiri Sangaji dan temannya. Dengan sedikit membungkuk dia bertanya, “Apakah aku boleh mengenal nama kalian berdua?”

Sangaji segera akan menjawab, tetapi Sangaji dan pemuda berpakaian kumal sedang duduk bersama akan menikmati hidangannya, tiba-tiba kawannya mendahului, “Kami ini bangsa perantau. Tidak ada artinya memperkenalkan nama kami yang tidak ada harganya.”

Pemuda mentereng yang tampan itu, tersenyum. Ia membungkuk hormat lagi sambil menegas, “Apakah kalian berasal dari kepu-lauan Karimun Jawa? Menilik Ilmu Sentilan kalian yang bisa merobohkan lawan tanpa berkisar dari tempat, sangat kukagumi.”

Kawan Sangaji menyahut, “Apa sih bagusnya Ilmu Sentilan dari Karimun Jawa?”

Pemuda mentereng bersikap tak mendengarkan kata-kata si pemuda kumal. Pan-dangnya mengarah kepada Sangaji yang sudah berdiri tegak di depannya.

“Baiklah, kalau kalian tak mau memperkenalkan diri,” akhirnya dia berkata setelah me-nimbang-nimbang sejurus. “Kita berpisah sampai di sini. Lain hari kita bertemu kembali.”

Sangaji membalas membungkuk ketika melihat si pemuda mentereng membungkuk hormat padanya. Ia tak menduga sesuatu, tiba-tiba si pemuda mentereng melesat kepadanya sambil mengayunkan tangannya. Serangan si pemuda mentereng, sama sekali tak di duga Sangaji. Namun ia masih berwaspada. Betapa herannya, ia melihat gerakan sambaran si pemuda mentereng seperti gerakan

Pringgasakti yang dulu pernah menerkam pergelangan tangannya. Teringat akan pe-ngalamannya dulu, segera ia mengerahkan tenaga. Getah Dewadaru disuruhnya bekerja. Itulah sebabnya begitu sambaran si pemuda mentereng mengenai sasaran, lantas saja mental kembali. Ia heran sampai terlongong sebentar.

“Mengapa ... mengapa kau menyerangku?” Sangaji minta penjelasan.

Si pemuda mentereng tertawa perlahan. Menyahut, “Aku cuma ingin menguji ilmumu. Tadinya kukira kauhebat. Sehebat Ilmu Sen-tilanmu. Tak tahunya, kau tak memiliki ilmu berkelahi yang pantas untuk dibicarakan ...”

Terang, si pemuda merendahkan Sangaji. Tapi Sangaji tak kuasa membalas. Memang ia seorang pemuda yang tak pandai berperang bdah. Sebaliknya kawannya tidak demikian. Menyaksikan Sangaji tak mampu membalas hinaan lawan, ia segera berseru, “Hai! Apa kamu mau pergi?”

Memang, waktu itu si pemuda telah meng-ungkurkan hendak meninggalkan restoran. Dia puas, karena telah dapat menghina lawan. Karena seruan si pemuda kumal, ia menoleh.

“Apakah kamu mau berbicara?”
“Berbicara sih, tidak,” sahut si pemuda kumal. “Cuma aku menemukan benda ini. Apa-kah ini kepunyaanmu?”

Baik Sangaji maupun si pemuda mentereng, heran melihat benda tajam salah seorang rombongan pemuda berpakaian putih, berada di tangan si pemuda kumal. Jelas, tadi benda tajam itu telah kena tangkap si pemuda mentereng dan disisipkan pada ikat pinggang. Ba-gaimana bisa berada di tangan si pemuda kumal?

Dengan tersipu-sipu, si pemuda mentereng menerima kembali benda rampasannya. Kemudian mundur beberapa langkah sampai di ambang pintu. Tiba-tiba ia melihat empat butir benda berwarna kuning menyambar dirinya. Gugup ia menangkis berserabutan. Karena gerakannya cepat, ia berhasil menangkis semua. Meskipun demikian, ia kaget bercampur heran. Segera ia mengamat-amati mereka berdua. Dilihatnya Sangaji tetap berada di tempatnya. Si pemuda kumalpun tak berubah tempat, tetapi mulutnya tersenyum kecil.

“Baiklah! Lain kali kita bisa bertemu kembali,” seru si pemuda mentereng. Ia melem-parkan segenggam uang makanan, kemudian melesat pergi.

Sangaji heran menyaksikan tingkah-laku si pemuda mentereng. Mengapa dia tiba-tiba menangkis berserabutan, pikirnya. Diapun melihat melesatnya empat butir benda kuning, tetapi ia tak dapat menduga darimana datangnya.

“Hai, mengapa benda tajam si pemuda tadi bisa berada di tanganmu?”

Si pemuda kumal tertawa. Katanya; “Selagi dia menyerangmu, benda itu jatuh. Lalu ku-pungut dan kuperlihatkan kepadanya. Coba kalau tidak secara kebetulan aku menemukan benda itu, kau bisa direndahkan ...”

Sangaji adalah seorang pemuda yang jujur. Menimbang, jawaban si pemuda cukup masuk akal, ia tak mengurus lebih lanjut. Waktu itu pelayan-pelayan restoran sedang sibuk me-munguti uang si pemuda mentereng, dengan berdiam diri. Rupanya mereka kenal siapakah si pemuda mentereng itu. Maka mereka tak berani mengomel.

Dengan persetujuan si pemuda kumal, Sangaji pun membayar semua hidangan yang telah disediakan. Jumlah penghitungannya sangat mahal. Semuanya berjumlah dua puluh ringgit. Tetapi Sangaji membayar harga hidangan dengan berdiam diri dan dengan gampang. Malahan, ia memberi persen pula kepada para pelayan dan pemilik restoran. Keruan saja, dia dan temannya lalu mendapat perlakuan luar biasa. Mereka berdua dielu-elukan sebagai raja.

Kedua pemuda itu, keluar dari restoran tanpa tujuan. Willem dituntun Sangaji dan melangkah dengan gagah. Si pemuda kumal kagum.

“Maling-maling tadi akan merampas kudamu. Pasti kudamu bagus.”

“Tidak hanya kudaku saja yang mau dirampas, tapi kantong uangku juga,” sahut Sangaji. Kemudian ia mengisahkan riwayat perjalanan dan keperkasaan Willem. Si pemuda ikut berbesar hati mendengar kegagahan Willem.

“Dia kuda jempolan,” katanya memuji sambil melompat-lompat girang. Sejurus kemudi-an, dia diam seperti lagi berpikir. Berkata hati-hati, “Kak! Apa aku boleh minta sesuatu da-rimu?”

“Tentu!” sahut Sangaji cepat. “Katakan! Kalau aku bisa melakukan, tentu akan kuker-jakan.” “Sebenarnya aku senang juga pada si Willem. Apa boleh kuminta?”

“Kamu senang benar? Baik, akan kuhadiah-kan si Willem kepadamu,” sahut Sangaji pula.

Si pemuda itu terperanjat. Sebenarnya dia hanya main-main belaka. Bukankah dia baru berkenalan? la sudah dapat memastikan, kalau Sangaji akan menolak permintaannya. Tak tahunya —di luar dugaan—Sangaji meluluskan permintaannya. Hebat pengaruh kerelaan Sangaji melepaskan kudanya. Si pemuda kumal itu mendapat kesan bersimpang-siur. Hatinya bercampur keharuan mendalam. Dia adalah seorang pemuda yang menurut keterangannya, tiada beribu lagi. la merasa tak dikehendaki juga oleh ayahnya. Itulah sebabnya, begitu menerima rasa kasih-sayang dari Sangaji, seketika itu juga air matanya mengalir, la menangis sedih sampai membungkuk-bungkuk di pinggir jalan. Keruan saja, Sangaji yang tidak merasa berbuat sesuatu yang aneh, jadi kebingungan. Segera ia meraih dan minta penjelasan mengapa dia menangis.

“Apakah kamu sakit?” tanyanya.
Si pemuda menggeleng-gelengkan kepala. Tapi ia terus mendekam menyembunyikan mukanya.
“Adik! Apa yang salah?” Sangaji minta penjelasan lagi. Memang ia pantas memanggil si pemuda adik, karena usianya jelas lebih muda daripadanya.
Perlahan-lahan, si pemuda kumal mengangkat kepalanya. Kemudian menoleh dan mengamat-amati Sangaji. Pandangnya penuh haru dan rasa terima kasih. Sebaliknya Sangaji merasa tak berbuat sesuatu. Kini malahan keheran-heranan, ketika melihat warna pipi si pemuda kumal yang kehitam-hitaman luntur sedikit. Di balik warna kulit yang kehitam-hita-man, tersembullah kulit muka lagi yang berwarna kuning langsat.

Apa dia menderita sakit, sampai menjadi pucat? Sangaji sibuk menduga-duga. Menda-pat dugaan demikian, cepat ia memapah si pemuda kumal dan diletakkan di atas pelana si Willem.

“Terima kasih,” bisik si pemuda kumal. “Aku akan meneruskan perantauanku.”

Sangaji mengangguk sambil menepuk paha si Willem. Ia berkata kepada kudanya: “Willem! Dia adalah sahabatku, tak beda dengan diriku sendiri. Lindungilah dia dan bawalah dia ke tempat tujuannya. Nah, pergilah!”

Willem lantas saja lari berderap. Sangaji mengikuti dengan pandangnya sampai makin lama makin menjauh. Tiba-tiba ia melihat Willem berhenti beberapa waktu. Kemudian berputar

kembali dan datang berbalik.
“Apa ada yang ketinggalan?” Sangaji menyambut.
Si pemuda kumal menggeleng. Tangannya melambai. Maka Sangaji menghampiri.
“Kak, apa aku boleh mengenal namamu?” ujar si Pemuda.

“Ah!” Sangaji terperanjat. Baru kini sadar, kalau selama berkumpul dan berbicara, masing-masing belum memperkenalkan namanya. Maka serentak ia menjawab, “Aku bernama Sangaji. Kamu siapa?”

Si pemuda kumal tak menyahut. Dia hanya mengulurkan sehelai kertas yang dilipat. Katanya memesan, “Bukalah, setelah dua hari dua malam. Kamu akan mengenal namaku.”

Sangaji menerima lipatan kertas itu dengan berdiam diri. Setelah si pemuda pergi, dia meneruskan berjalan mencari penginapan. Ia tidak keluar dari kamarnya sampai malam tiba dengan diam-diam. Pengalamannya sehari tadi alangkah banyak dan menyenangkan. Tapi tatkala ia mau memadamkan lampu untuk terus tidur, tiba-tiba pintu kamar didobrak orang. Belum lagi dia menyapa, muncullah lima orang pemuda berpakaian putih di depannya. Itulah anak buah sang Dewaresi yang masih penasaran, karena kawannya seorang kena dirobohkan.

Perawakan kelima pemuda hampir sama. Hanya tiga orang yang nampak menyolok. Yang pertama, berperawakan paling kokoh. Mukanya hitam dan berkumis tebal teratur.

Matanya bulat seperti gundu. Yang kedua, tinggi jangkung. Mukanya bopeng dan mulutnya selalu mengulum senyum mengejek. Orang ini lantas saja melompat ke atas tempat tidur dengan menghunus golok. Nampaknya ia berangasan dan ditugaskan memegat Sangaji di atas pembaringan, siapa tahu Sangaji menyimpan senjata rahasia di bawah bantal. Dan yang ketiga berperawakan gendut. Perutnya buncit. Mulutnya lebar. Telinganya persegi.

Melihat mereka menerobos masuk. Sangaji terperanjat. Apalagi dia telah dapat menebak siapa mereka. Segera ia mundur ke sudut menjaga kemungkinan.

Si kurus bopeng yang berada di atas pembaringan, lalu berkata nyaring, “Kau baru tahu kami sekarang, bukan? Hai lebarkan lobang telingamu dan dengarkan. Kami semua anak buah sang Dewaresi, berasal dari Banyumas. Kau tahu, siapakah sang Dewaresi? Meskipun bukan Adipati maupun Bupati, tapi beliau merajai seluruh daerah Banyumas. Biar bupati Banyumas sendiri, membungkuk sepuluh kali dulu sebelum berbicara. Dan sekarang, siapa dia yang berdiri tepat di depanmu?”

Sangaji mengarah kepada orang yang berperawakan paling kokoh dan berkumis tebal teratur. Terdengar si kurus bopeng memperkenalkan, “Dialah pemimpin rombongan kami. Namanya Kartawirya berasal dari Tasikmalaya. Orang Banyumas memberi julukan padanya, Singalodra. Dan dia yang gemuk itu bernama Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek. Sebab biarpun gendut, dia bisa berenang menyeberangi Nusakambangan seperti itik. Yang dua itu Kasun dan Maling. Aku sendiri diberi julukan Setan Kobar, sebenarnya nama kanak-kanakku Bagus Irawan ...”

Mendengar si kurus bopeng menyebut dirinya Setan Kobar, Sangaji bisa menerima. Memang rupanya mirip setan seumpama di dunia ini benar-benar ada setan. Tapi tatkala memperkenalkan nama kanak-kanaknya sebagai Bagus Irawan, itulah yang tak cocok sama sekali. Bagaimana si kurus jangkung lagi bermuka bopeng, bisa mempunyai nama Bagus. Diam-diam, ia tertawa geli dalam hati. Tapi mulutnya membungkam dan kewaspadaannya tiada kurang.

“Sebenarnya apa maksud kalian kemari?” dampratnya.
Si Setan Kobar tertawa meriah memekakkan telinga. Lalu menjawab, “Kami anak buah sang Dewaresi tak biasa dihina orang. Lagi pula tak pernah kami memberi hutang piutang. Tapi kalau toh ada orang hutang satu, harus membayar satu pula. Kontan dan pakai bunga. Nah, dengarkan apa kata pemimpin rombongan kami!”
Sangaji pernah mendengar nama Kartawirya dari keterangan gurunya Wirapati. Dialah yang memberi tanda udara dan mengincar kantong uangnya. Pikirnya, orang ini tentu bukan orang sembarangan. Melawan dia seorang, belum tentu aku menang. Sekarang di sini ada lima orang. Baiklah, aku berlaku bijaksana. Memikir demikian ia melirik ke jendela. Tapi si Setan Kobar benar-benar awas seperti setan. Dia tahu maksud Sangaji, lalu mendamprat sambil tertawa meriah. “Jangan kau berpikir bisa lari meloncat jendela! Baiklah dengarkan kata sang Singalodra akan berbicara, supaya kupingmu tidak kehilangan sepatah katanya.”

Sangaji sadar, dia benar-benar terkurung rapat. Berbicara dalam hal pengalaman, mana bisa dia mengatasi “mereka. Maka mau tak mau ia terpaksa mendengarkan dampratan si kurus bopeng.

“Bocah” kata Kartawirya garang. “Tak biasa aku menagih hutang seorang bocah. Lagipula, mana bisa aku menerima pembayaran tanpa bunga. Sekarang jawablah! Di mana gurumu?”

“Guruku tidak di sini? Kalau ada, masa membiarkan aku kalian kurung?”

Jawaban Sangaji tepat dan masuk akal. Maka Kartawirya nampak terperanjat dan kecewa. Katanya, “Ah! Kalau begitu, kuberi kau kesempatan untuk bernapas malam ini. Esok pagi, kau harus datang menemuiku di perbatasan Cirebon sebelah timur bersama gurumu. Dengan begitu, kau bisa membayar hutang sebagaimana mestinya. Aku akan menunggu.”

Setelah berkata demikian, Kartawirya keluar dari kamar sambil memberi perintah: “Kita pergi! Tutup pintu!”

Mereka semua keluar dari kamar. Si kurus bopeng melompat turun dari atas pem-baringan. Lalu ia menutup pintu kamar dengan gerakan menghentak. Tentu saja, pintu ter-banting keras sampai berbunyi berbeletokan.

Sangaji mendengar mereka menggerendel ointu. Kemudian ia memadamkan pelita dan duduk di tepi pembaringan. Lantas ia mengintip keluar dari sela-sela jendela, dilihatnya kamar terjaga rapat. Nampak si Setan Kobar, Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek berjalan mondar-mandir bersama Kasun dan Maling.

Kira-kira seperempat jam lagi, Sangaji mendengar suara gemerisik di atas genting. Lalu terdengarlah bentakan si kurus bopeng, “Hai bocah! Jangan kaukira bisa kabur!”

Sangaji heran. Siapakah yang dimaksudkan si kurus bopeng. Dia sendiri berada di dalam kamar. Dengan menahan napas, ia benar-benar mengintip, mereka kelihatan sibuk. Si kurus bopeng dan Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek memasuki alam gelap seakan-akan bergerak mengejar sesuatu. “Kita berdua tetap di sini,” bisik Kasun kepada Maling.

“Mengapa tidak membantu?” bantah Maling.
“Mereka pasti bisa menangkap dia. Apa perlu kita ribut-ribut?”

Mereka kemudian tidak berkata-kata lagi. Kesenyapan menyulubungi seluruh alam. Hanya napas mereka berdua terdengar kempas-kempis. Sangaji menghampiri pembaringan. Hati-hati ia menidurkan diri. Tapi sampai hampir pagi, matanya tetap menyala.

Tatkala matahari menjenguk di udara, pelayan rumah penginapan datang membuka kamar. Pelayan itu mengucapkan selamat pagi dan datang mengantarkan makan pagi. Sangaji melompat dari tempat tidur. Betapa herannya, Kasun dan Maling tidak nampak batang hidungnya. Jadi semalam, kamarnya tidak terjaga. Tapi karena sudah berjanji, ia mempersiapkan diri untuk menemui Kartawirya di suatu tempat yang sudah ditentukan semalam. Cepat-cepat ia makan dan segera membayar penginapan. Di luar penginapan, mendadak ia disambut oleh Kasun. Orang itu memperlihatkan goloknya sambil memberi syarat agar mengikuti.

Kalau mau melawan, Sangaji merasa sanggup menumbangkan pemuda itu. Tetapi ia -'didik kedua gurunya berwatak kesatria. Sekali berjanji, emoh ia mengingkari. Maka ia menurut. Ternyata dia dibawa mengarah ke timur. Sampai di perbatasan wilayah Cirebon, ia tak menjumpai sesuatu. Kini, hutan panjang mulai lergelar di depannya. Sangaji mulai berpikir, Guru berada di suatu tempat entah di mana. Tak mungkin mereka bisa tiba menolong diriku. Daripada aku di hina mereka, lebih baik kulawan sampai mati.

Mendapat keputusan demikian, hatinya mantap. Ia disuruh menunggu di bawah pohon. Kasun kemudian pergi meninggalkannya seorang diri. Karena lama tidak muncul kembali, duduklah dia bersemadi menurut ajaran Ki Tunjungbiru. Getah Dewadaru lantas saja bekerja. Seluruh tubuhnya terasa hangat dan segar.

Hampir siang hari, dia menunggu. Kasun tak muncul lagi. Ke mana dia? Apa dia sedang mengatur jebakan bersama teman-temannya? Serentak ia berdiri dan menghunus pedang. Selangkah demi selangkah ia memasuki hutan. Matanya dilayangkan ke sekitarnya, hendak berjaga-jaga jika terjadi suatu serangan tiba-tiba. Sekonyong-konyong teringatlah dia kepada pesan gurunya Wirapati, 'Sekiranya kau merasa tak bisa memenangkan lawan, lebih baik mengundurkan diri!' Karena ingatan itu dia berpikir, sekarang tidak se-orangpun yang mengawasi aku. Mengapa aku tak melarikan diri. Hutan ini cukup lebat. Masa kurang akal untuk menyembunyikan diri?

Ia segera mau melarikan diri, sekonyong-konyong terdengarlah suara makin kalang-kabut. “Hai monyet! Kambing! Jangkrik! Anak haram jadah!”

Ia heran bercampur kaget. Menilik suaranya, itulah lagu-suara si kurus-bopeng dan ketiga temannya. Dimanakah mereka berada? Sangaji memutar pedangnya, menjaga suatu kemungkinan. Tapi, mereka tidak juga datang menyerang.

“Hai monyet! Kambing! Jangkrik! Anak haram jadah!” Terdengar lagi mereka memaki *alang-kabut.

Sangaji terkesiap. Cepat ia mendongak. Ia sercengang-cengang sampai berdiri ter-longoh-longoh. Di atas pohon si kurus bopeng, Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek dan Maling kelihatan bergantungan. Kedua kaki dan kedua tangan mereka terikat erat-erat. Nampaknya, mereka seperti terkerek ke atas dahan yang paling tinggi. Tali kerekan ternyata terpancang pada pohon lain, mereka mencoba meronta-ronta saat melihat Sangaji. Tetapi justru bergerak, tubuhnya lantas berputaran. Karena di antara seluruh anggota badannya hanya mulutnya yang bebas, maka mereka memaki kalang-kabut sejadi-jadinya.

Sangaji benar-benar heran. Tetapi melihat rubuh mereka berputaran dan bagaimana mereka repot hendak berusaha menghentikan Sri. mau tak mau dia tertawa tergelak-gelak.

“Apa kamu sedang main akrobat? Jangan banyak cing-cong? Ayo turun! Tak sudi aku Telihat permainanmu.” Sangaji agak geli.

Mendengar Sangaji berteriak demikian, si mrus bopeng yang berangasan lalu memaki *kalang-kabut lagi, “Monyet! Kambing! Jangkrik! Anak haram jadah! Moga-moga kau dige-rumuti iblis!”

Sangaji tertawa terbahak-bahak. Ia memang telah memutuskan mau melarikan diri. Begitu ia melihat mereka berada di atas pohon, bukankah sudah terang di mana mereka kini berada? Maka ia mengundurkan diri sambil berseru, “Maaf! Tak bisa aku memenuhi undangan pemimpinmu! Aku terpaksa pergi!”

Mereka memaki kalang-kabut lagi. Kali ini lebih seram dan sibuk. Merasa diri sebagai anak-buah sang Dewaresi yang disegani orang di seluruh Banyumas, mereka malu untuk minta pertolongan. Tetapi begitu melihat Sangaji hampir menghilang di balik belukar, berubahlah pikiran si kurus bopeng. Ia takut mati kering di atas pohon. Dengan melupakan rasa harga diri, ia berteriak, “Bocah bagus, kami menyerah kalah! Bebaskan kami dari siksaanmu!”

Sangaji heran mendengar bunyi teriakannya. Mereka mengira, dialah yang mengerek-nya ke atas pohon? Ia berpikir sejenak. Kemudian menghampiri sambil berseru, “Sebenarnya siapa yang menggantungmu?”

“Kau masih saja mau mempermainkan kami? Kalau bukan kamu, siapa lagi?”

Sekarang dia tak ragu-ragu lagi. Pasti ada seseorang yang menolong dirinya dengan dam-diam. Siapa? Apakah si pemuda mentereng di restoran kemarin?

Menimbang, antara dia dan mereka sebenarnya tidak pernah merasa bermusuhan, maka ia memutuskan mau menolong juga. Perlahan-lahan ia mengerek mereka turun sampai ke tanah. Ternyata mereka terikat erat-erat mulai dari leher sampai ke ujung kaki de-gan tali duk. Pantas mereka tak bisa berkutik sama sekali.

Sebelum membebaskan ikatan, ia menotok urat-urat nadi mereka agar tak bisa bergerak. Kemudian pangkal paha di depaki. Sekalipun mereka berkaok-kaok kesakitan, ia tak mem-pedulikan.

“Mana pemimpinmu yang bernama Kartawiya?”
“Bangsat!” maki si kurus bopeng sambil menahan rasa nyeri. “Bukankah dia sedang mengejarmu? Kausesatkan di mana dia sekarang?”

Sangaji tak menjawab. Ia melangkah pergi dengan berdiam diri. Berpikir, Kartawirya mengejar penolongku. Mereka bertiga digan-smg di atas pohon. Pantas Kasun tidak muncul kembali. Orang itu setelah melihat rekanrekannya tergantung di atas pohon, diam-diam lalu melarikan diri daripadaku. Diapun pasti mengira, aku yang menyiksa teman-temannya.

Maka kini ia melangkah dengan mantap. Dalam hati ia memuji penolongnya. Ia yakin, si penolong memiliki ilmu berkelahi jauh lebih tinggi daripadanya. Cuma saja, ia tak bisa menduga-duga siapa orang itu.

Ke luar dari hutan, Sangaji meneruskan perjalanannya ke timur. Dua jam lamanya dia berjalan. Menjelang sore hari, sebuah kereta pos militer lewat berderapan. Ia berseru hendak menumpang. Mula-mula ditolak, tapi ketika dia memperhatikan kantong uangnya, maka ia dipersilakan dengan hormat.

Sais kereta pos militer ternyata seorang serdadu asal dari Jawa Timun. Dua temannya yang lain berasal dari kepulauan Maluku. Usianya sudah pertengahan. Menurut tutur katanya, lima tahun lagi dia bakal pensiun. Ia tukang bicara. Selama dalam perjalanan, mulutnya tak pernah berhenti. Ia bercerita tentang pengalamannya menjadi serdadu. Se-ringkali dia mengalami pertempuran sengit. Setelah mengisahkan tentang macam pertempuran, tak lupa pula mengomongkan perkara perempuan. Matanya lantas saja menyala-nyala seperti anjing serigala. Katanya, semua perempuan yang hidup di seluruh kepulauan Nusantara, pernah dijelajahinya.

Tak biasa Sangaji mendengar omongan perkara perempuan. Maka cepat saja, hatinya —erasa muak. Tetapi ia terpaksa mendengarkan. Apalagi merasa berkat pertolongannya bisa menumpang kereta berkuda. Ia hanya mengharapkan, moga-moga kereta lekas-tekas sampai ke tempat tujuan.

Pukul sepuluh malam, sampailah dia di Tegal. Ia membayar biaya kereta yang langsing menjadi milik si serdadu, kemudian cepat-cepat mencari penginapan. Tetapi mana bisa dia mencari rumah penginapan pada aktu pukul sepuluh malam. Terpaksa ia beristirahat di teritisan sebuah toko.

Teringatlah dia pada riwayatnya dua belas tahun yang lalu, tatkala dengan ibunya harus tidur d teritisan pada waktu malam hari. Mengingat hal itu, terkenanglah dia kepada cinta kasih fcunya. Tanpa sadar, air matanya berlinangan.

Selagi benaknya dihanyutkan oleh lamunannya, sekonyong-konyong ia mendengar gen-dang sekali-kali berbunyi dang-ding-dung. la melongok ke jalan. Dilihatnya seorang laki-laki berjalan pincang sedang menuju ke arahnya. Laki-laki itu berumur pertengahan. Di pung-gungnya tergantung sebuah gendang. Ia berjalan bersama seorang gadis kira-kira berumur 18 tahun. Laki-laki itu membawa si gadis berhenti beristirahat di teritisan toko itu juga.

Ah, diapun terpaksa menginap pula di sini seperti aku, pikir Sangaji.

Melihat seorang pemuda mengenakan pakaian mahal, laki-laki itu kaget. Ia mengira, Sangaji adalah anak atau pegawai dari toko tersebut. Maka dengan hormat laki-laki itu berkata, “Tuan Muda, apakah kami boleh menumpang beristirahat barang sebentar di sini?”

“Tentu,” Sangaji menyahut heran. “Akupun seorang penumpang seperti Bapak.”

“Ah!” Laki-laki itu kini menjadi heran. Lalu ia duduk di samping Sangaji, sambil merentangkan kakinya. Ternyata betis laki-laki itu yang sebelah kanan, buntung seperti terpagas dan disambung dengan bumbung ).

“Apakah Tuan Muda bukan penduduk kota Tegal?” dia bertanya kepada Sangaji.
“Aku datang dari Cirebon, Pak. Karena terlalu malam, aku tak mendapat penginapan.”
“Tuan Muda mau ke mana?”
“Ke Pekalongan.”

“Eh, sejalan dengan kami pula,” kata laki-laki itu sambil memberi tempat kepada gadis-nya. Lalu dia tak berkata-kata lagi. Agaknya da terlalu capai dan sudah biasa hidup dalam perantauan. Itulah sebabnya, dia gampang tidur di mana saja dia berada. Lain halnya dengan Sangaji. meskipun dia pernah mengalami tidur di teritisan pada masa kanak-kanaknya, aetapi nasibnya kemudian sudah berubah baik. Kecuali itu, ingatannya diamuk oleh kenangan-ya sendiri semasa kanak-kanak yang begitu pahit. Maka hampir satu malam penuh, tak dapat ia memicingkan mata barang seben-tarpun.

Sebelum fajar menyingsing, diam-diam ia meninggalkan teritisan. Laki-laki berkaki bun-ting dengan gadisnya masih saja tidur dengan naknya. Ia terus berjalan mengarah matahari terbit. Kira-kira menjelang sore hari, sampailah da di Pekalongan. Di kota ini, ia mendapat tumah penginapan. Semalam penuh ia tidur menebus rasa lelahnya.

Pada keesokan harinya, ia terbangun karena etukan lembut. Segera ia membuka pintu dan i lihatnya, pelayan rumah penginapan berdiri dengan hormat di depannya. Kata pelayan itu, “Semalam ada seorang pemuda yang tak mau menyebutkan diri menanyakan tentang ke-adaan Tuan. Dia titip pesan kepada kami, apa Tuan sudah membuka lipatan kertas?”

Mendengar ujar pelayan rumah penginapan, Sangaji kaget seperti tersengat lebah. Baru dia ingat pada kertas lipatan yang diberikan kawan barunya. Menduga kalau orang yang datang ke rumah penginapan adalah pemuda itu, girangnya bukan kepalang. Gntung buat si pelayan, ia mendapat persen tak terduga-duga. Keruan dia bergembira sampai tak bisa berbicara.

“Apa dia datang?” seru Sangaji gembira.
Pelayan itu cuma bisa mengangguk.
“Di mana dia sekarang?” Sangaji menegas.
“Dia lantas pergi.”
“Kapan?”
“Semalam.”

Sangaji kecewa. Tetapi ia yakin, kalau kawannya itu masih berada di dalam kota. Maka cepat-cepat ia merapikan pakaiannya. Kemudian lari ke kamar mandi.

Pekalongan ternyata bukan kota kecil. Banyak pula gedung-gedung Tionghoa berdiri dengan megahnya. Selain itu, gedung-gedung pemerintahan banyak yang mentereng pula. Pantas setengah abad yang lalu pernah meletus pemberontakan hebat di kota ini, pikir Sangaji.

Sangaji terus berjalan-jalan tanpa tujuan. Ia memutuskan mau berusaha mencari kawannya. Selain itu, siapa tahu kedua gurunya sudah tiba juga di kota ini. Bukanlah menurut tutur-kata mereka akan datang ke Pekalongan intuk menyelidiki suatu perserikatan yang mencurigakan?

Kira-kira pukul sepuluh, Sangaji memasuki sebuah restoran kecil. Sesudah itu ia bersiap untuk berangkat lagi. Mendadak tak jauh dari restoran itu, terlihatlah suatu lapangan penuh kerumunan orang. Sebagai seorang yang datang dari jauh, cepatlah dia tertarik. Ia mengira suatu tontonan rakyat. Mungkin lenong Jawa Barat, mungkin pula kentrung Pesantren atau tontonan khas dari daerah Pekalongan.

Ia menyusup di antara penonton. Ternyata benar dugaannya. Orang-orang lagi merubung tontonan lenong Jawa Barat. Tapi anehnya, tetabuhannya hanya sebuah gendang. Dari pembicaraan orang-orang di depannya, tontonan itu adalah sebuah Gendang Pencak.

Sangaji melongok ke dalam arena. Alangkah terkejutnya! Di dalam arena nampaklah seorang laki-laki berkaki buntung lagi memukul gendang dengan seorang gadis berdiri di sampingnya. Gadis itu mengenakan pakaian merah potongan laki-laki. Bukankah mereka berdua yang menginap di teritisan sebuah toko di Tegal, kemarin malam? Kalau dulu Sangaji tak begitu memperhatikan, kini diam-diam mengagumi perawakan si gadis. Ternyata gadis itu berperawakan tinggi sedang. Tubuhnya singsat, rambutnya terurai panjang dan berwajah amat cantiknya.

Sangaji seorang pemuda yang masih terbuka hatinya. Meskipun ia tahu arti cantik, tetapi tidak berpikir lebih jauh. Karena itu, hatinya belum bisa tertambat oleh arti kecantikan se-orang gadis. Itulah sebabnya, ia bisa tak menghiraukan kejelitaan Sonny De Hoop.

Si gadis merah kelihatan membisiki telinga laki-laki buntung. Segera laki-laki buntung meninggalkan gendangnya dan kemudian berbicara keras, “Tuan-tuan, kami berasal dari Jawa Barat. Sebenarnya aku dulu pernah hidup di Jawa Tengah. Namaku Mustapa. Karena sesuatu kejadian, aku meninggalkan kampung halaman dan merantau tanpa tujuan. Aku bertemu dengan ayah si gadis. Dia seorang ahli pencak dari Garut. Pada suatu malam ia sakit keras dan menyerahkan gadisnya. Dia berpesan sebelum meninggal, kalau gadisnya mewarisi ilmu silatnya. Itulah warisan satu-satunya yang bisa diberikan kepada gadisnya. Biarlah anakku kelak mendapat jodohnya dengan berbekal ilmu silatnya, kata ayahnya. Setelah dia meninggal,' gadisnya ikut merantau denganku. Gadis ini bernama Nuraini. Sudah kuajak dia menjelajah negeri. Mulai dari Jawa Timur sampai Banyumas. Terus ke Cirebon dan hari ini tiba di sini. Di mana kami berada, selalu kami selenggarakan arena mengadu nasib. Barangsiapa dapat me-ngalahkan ilmu silatnya, Nuraini akan bersedia menyerahkan diri. Aku selalu mengharap-ha-rapkan kebahagiaannya, agar dia jangan ikut bersengsara seperti nasibku. Tetapi di mana saja kami berada, belum pernah Nuraini dikalahkan orang. Itulah sebabnya, aku mohon bantuan Tuan-tuan sekalian. Pekalongan terkenal dengan harimau dan naga-naganya yang bersembunyi di belakang tembok kotanya. Aku berharap, moga-moga harimau dan naga pekalongan muncul pada hari ini. Siapa tahu, disinilah bersembunyi jodoh Nuraini... Tuan-tuan, janganlah segan-segan. Memang pertunjukan ini masih asing bagi tata pergaulan di Pekalongan. Sebaliknya sudah menjadi suatu kelumrahan di Jawa Barat...”

Kemudian Mustapa mengabarkan tentang pertunjukan semacam itu di Jawa Barat.-Menurut dia, semua anak-anak ahli silat akan mencari jodohnya dengan berbekal ilmunya. Barangsiapa bisa mengalahkan, dia akan bersedia mengabdikan diri seumur hidupnya.

Bahkan bagi seorang gadis yang benar-benar tinggi ilmunya, berani mencanangkan diri berlebih-lebihan. Barangsiapa dapat menyentuh dadanya, dia sudah mengaku kalah.

Sehabis Mustapa mencanangkan diri, kembali ia memukul gendang sejadi-jadinya. Dan kembali Sangaji mengamat-amati si gadis Nuraini. Benar-benar dia rupawan tidak bercela. Pribadinya agung. Sayang, dia bukan anak seorang pangeran atau bupati. Sekiranya dia anak seorang pangeran atau bupati takkan mungkin mencari jodohnya lewat suatu pertandingan umum.

Selagi ia merenung-renung, sekonyong-konyong melompatlah seorang laki-laki tegap tinggi. Mendengar logat bahasanya, ia berasal dari daerah Jawa Barat pula. Rasa segan atau malu tidak nampak. Mungkin arena pertandingan begitu, sudah seringkali dikenal dan pernah juga menguji untung nasibnya.


Nuraini lantas saja melesat di tengah gelanggang. Sangaji terperanjat. Ia tak menyangka, si gadis bisa bergerak begitu enteng dan tangkas. Pikirnya, benar-benar mengherankan! Ilmu silatnya, ternyata tak lemah. Pantas ia susah dikalahkan ... Memikir demikian, hatinya jadi semakin tertarik.

Sebentar saja perkelahian telah dimulai.

Perkelahian  itu  makin  lama  makin  seru.  Penonton  bersorak-sorai  menjagoi  masing-masing.
Setelah berlangsung beberapa waktu, mulailah terjadi suatu kelompok pertaruhan.

Nuraini tidak hanya pandai bersilat, tetapi cerdik pula. Ia berpura-pura membuka lo-wongan. Terang, ia sedang memancing. Sebaliknya melihat lowongan itu, lawannya menduga dia sedang lengah. Cepat ia diserang. Dengan kecepatan luar biasa, Nuraini mengendapkan diri dan menyapu lawannya dengan kakinya. Tak ampun lagi, laki-laki yang mencoba mengadu untung jatuh terjengkang sampai kedua tangannya sibuk menerkam tanah. Penonton bersorak mengguntur. Dan laki-laki itu melompat menyelinapkan diri dengan wajah merah dadu. Ia hilang di antara penonton dan kabur entah ke mana.

Arena jadi sepi kembali. Sekali lagi, Mustapa bercanang memperkenalkan si gadis. Setelah itu menunggu beberapa waktu lamanya. Jika tidak ada lagi yang berani memasuki gelanggang ia berdiri sambil berkata nyaring, ““Sayang Tuan-tuan ... hari sudah menjadi panas. Perkenankan kami mengundurkan diri. Kami bermalam di sebuah losmen murahan di dekat pemberhentian kuda. Besok pagi, kami akan datang kembali. Mudah-mudahan keda-tangan kami ini akan lekas tersiar di seluruh pelosok-pelosok kota. Kami mengharapkan muncul harimau dan naga pekalongan yang sudah terkenal semenjak satu abad yang lalu...”

Sehabis berkata begitu, ia bersiap-siap hendak meninggalkan gelanggang. Penontonpun akan segera bubar. Mendadak terdengarlah suara keras parau, “Tunggu dulu!”

Itulah suara seorang laki-laki sudah ubanan. Mukanya sudah berkeriput. Punggungnya bongkok. Terang, dia berumur melebihi 60 tahun. Tapi ia gesit. Habis berseru, ia melompat ke tengah gelanggang.

Melihat munculnya si tua bangkotan, orang-orang jadi tertawa bergegaran. Seorang laki-laki usia pertengahan yang bercambang tebal, lantas memasuki gelanggang sambil men-damprat, “Hai anjing buduk! Benar-benar kau mau merebut isteri?”

Orang-orang tertawa lagi bergegaran. Karuan si tua bangkotan merasa tersinggung kehormatannya. Ia membalas mendamprat, “Kenapa? Kenapa? Ini kan merdeka. Siapa saja boleh mengadu untung, bukan? Meskipun aku berusia lanjut, tapi aku laki-laki. Lagi pula, aku tak beristeri.”

“Baik! Baik! Biarpun kau tak beristeri dan

emudian bisa memenangkan pertaruhan ini, apa tidak iba kepada nasib si gadis? Paling-paling kau bisa tahan hidup hanya tiga tahun lagi. Apakah si gadis yang begini remaja, akan terpaksa hidup jadi janda?”

Si tua bangkotan gusar bukan kepalang. Ia maki kalang-kabut.

“Kau bukan Tuhan! Kau bukan malaikat! Kau bukan iblis yang bisa meramalkan umurku. Aku percaya, umurku bakal cukup panjang. Apalagi kalau aku memperisteri dia, umurku bisa mencapai dua ratus tahun lagi...”

Laki-laki berusia pertengahan yang bercambang tebal, tertawa geli. Katanya, “Aku berasal dari .Jawa Timur. Terus terang, aku pernah kawin sampai lima kali. Namun selalu gagal. Kali ini, akupun akan mencoba mengadu untung. Kalau aku bisa membawa bunga itu pulang ke Jawa Timur, aku akan bersumpah takkan kawin lagi.”

Penonton tertawa berbareng. Mereka mendapat kesan lain daripada si tua bangkotan. Meskipun demikian, artinya setali tiga uang. Kedua-duanya paling tidak bekas buaya buntung.

Sebaliknya kasihan buat Nuraini. Meskipun terpaksa mengadu untung nasib dirinya lewat gelanggang, dia seorang gadis yang bersih suci. Begitu mendengar omongan mereka berdua, mukanya merah dadu karena merasa terhina. Serentak ia hendak melesat menghajar mereka berdua dengan sekaligus. Tetapi Mustapa mencegahnya.

“Tenangkan dirimu. Ayahmu telah mempercayakan dirimu kepadaku. Mana bisa aku membiarkan kamu dihina orang? Kalau mereka nekad mau memasuki pertaruhan ini, biarlah aku yang maju.”

Waktu itu si tua bangkotan dan si cambang tebal masih saja mengadu omongan. Lalu Mustapa memberi jalan penyelesaian. Katanya nyaring, “Kamu berdua berkelahilah dulu. Siapa yang menang, maju melawan aku.”

“Bagus!” seru si cambang tebal bergembira. Ia meludah ke tanah sambil merapikan pa-kaiannya. “Ayo kita mulai, hai anjing buduk!” tantangnya.

Si tua bangkotan gusar bukan kepalang. Terus saja dia mengirimkan tinjunya. Begitulah, maka mereka berdua lantas saja berkelahi amat serunya.

Sangaji memperhatikan cara mereka berkelahi. Masing-masing mempunyai gerakan-gerakan tubuh yang berbeda. Si cambang tebal mengandalkan keperkasaan tubuhnya.

Tinjunya menyambar-nyambar hebat dan bergemuruh. Sebaliknya, si tua bangkotan seperti mempunyai ilmu kebal. Ia tak takut kena gebuk. Malahan, seringkali kepalanya sengaja dibuat perisai.

Satu kali, si cambang tebal berhasil menggebuk si tua bangkotan sampai empat kali beruntun. Tapi. si tua bangkotan, benar-benar bandel. Gebukan hebat itu tak dihiraukan. Ia menyusup ke bawah ketiak dan menumbuk perut si cambang tebal. Tumbukan itu sama sekali tak terduga-duga. Si cambang tebal terpental dan jatuh cekakaran di atas tanah. Keruan saja penonton jadi tertawa mengguruh, mengingat lagaknya yang tadi begitu merendahkan si tua bangkotan.

Sejalan dengan watak orang Jawa Timur, si cambang tebal itu tak mau dihina orang. Ia lebih suka mati daripada menanggung hinaan. Cepat ia bangkit dan menghunus golok. Serunya, “Anjing buduk, kau mempunyai ilmu kebal. Sekarang coba tahan bacokanku.”

Si tua bangkotan jadi was-was. Ia mencabut senjatanya pula yang berupa sebuah pengga-da terbuat dari besi. Melihat mereka mencabut senjata, penonton jadi ketakutan.

“Tahan mereka!” terdengar seruan di antara penonton.
Mendengar teriak penonton, Mustapa jadi tersadar. Kalau sampai terjadi suatu pembu-nuhan, mau tak mau ia akan diseret di depan pengadilan. Maklumlah, dia yang bertanggung jawab terjadinya arena adu nasib.

Cepat-cepat ia bertindak. Ia maju tertatih-tatih sambil berteriak keras, “Tahan! Tahan! Tak boleh kalian menggunakan,senjata tajam!”
Dua orang itu sedang bertempur mati-matian. Sudah barang tentu tak mendengarkan teriakan Mustapa.

Melihat mereka tak menghiraukan dirinya, mendadak ia melesat menyerbu. Dengan sekali tendang, kedua senjata masing-masing kena dikaburkan. Sehabis itu ia menghajar masing-masing pula dengan satu depakan. Kedua-duanya terpental jatuh dengan napas kempas-kempis.

Para penonton kagum kepada keperkasaan Mustapa, sampai mereka bersorak memuji. Sama sekali mereka tak menyangka, kalau si buntung bisa berkelahi begitu hebat. Dengan garang ia menantang si tua bangkotan dan si cambang tebal. Kedua-duanya menjadi kuncup dan pergi meninggalkan gelanggang dengan berdiam diri.

Sangaji kini mengamat-amati Mustapa. Perawakan Mustapa tinggi besar. Dadanya bidang dan mengesankan bentuk tubuh yang kekar. Punggungnya bungkuk sedikit, tetapi pandang mukanya tajam berwibawa. Sayang, agak keruh dan berkerinyut. Rambutnya sudah separoh putih. Dibandingkan dengan kekekaran tubuhnya, rambutnya putih terlalu cepat. Teringatlah dia tutur-kata orang, kalau orang yang banyak berduka akan cepat menjadi tua.

“Ayo, kita pulang. Tak perlu lagi menginap di kota ini. Kita terus ke Semarang!” katanya mendongkol kepada Nuraini.
Si gadis mengangguk dan penonton siap bubar. Selagi mereka hampir berpencaran, ter-dengarlah suara tapak kuda berderapan. Beberapa penunggang kuda datang menghampiri lapangan. Dilihat dari pakaiannya, terang mereka bukan penduduk Pekalongan. Yang berada di depan adalah seorang pemuda yang berpakaian amat mentereng. Roman mukanya tampan luar biasa. Sangaji terkejut. Begitu melihat si pemuda, lantas saja dia mengenalnya. Itulah si pemuda mentereng yang dulu menyerang dirinya di restoran Nanking Kota Cirebon.

Yang menunggang kuda di belakangnya berlaku sangat hormat kepadanya. Ternyata mereka adalah pengiring si pemuda. Mereka segera menghentikan kudanya, tatkala si pemuda mentereng menahan les. Si pemuda mentereng ternyata sedang memperhatikan gelanggang. Ia heran melihat kesibukan orang. Saat pandang matanya tertumbuk kepada Mustapa dan Nuraini, hatinya jadi tertarik. Segera ia menghampiri dan bertanya minta penjelasan, “Apa sudah bubar?”

Dengan gugup, Mustapa menghadap padanya. Sekali pandang tahulah dia, kalau pemuda itu pasti bukan orang sembarangan. melihat dandanannya paling tidak anak seorang adipati atau pangeran.

“Sebenarnya ini pertunjukkan Gendang Pencak,” jawabnya hormat.
“Gendang Pencak? Apa itu?”

Mustapa kemudian menerangkan dengan sejelas-jelasnya. Si pemuda jadi makin tertarik. Katanya, “Apa dia yang bernama Nuraini?”

Mendengar namanya disebut, Nuraini menundukkan pandang. Wajahnya memerah dadu. Justru begitu, kecantikannya malahan bertambah. Ia berusaha membuang muka ke samping. Jantungnya berdegupan. Selama merantau hampir ke seluruh pulau Jawa, belum pernah ia menjumpai seorang pemuda begitu tampan.

Ternyata pemuda itu tertarik pula pada kecantikan wajahnya. Ia melompat turun dari kudanya dan buru-buru salah seorang pengiringnya menyambar les.

“Bagaimana aturan pertandingan ini?” tanyanya.
Mustapa segera memberi penjelasan dengan sikap sangat hormat.
“Hm ... apa aku boleh mencoba-coba?” kata si pemuda.
“Ah, paduka bergurau ...” sahut Mustapa dengan tertawa lebar.
“Kenapa aku mesti bergurau?”

“Sebabnya begini. Kami ini termasuk rakyat jelata, tetapi sebisa-bisanya meniru adat para kesatria. Kalau berkata satu harus satu. Kalau sudah berjanji, pantang mengingkari,” ujar Mustapa. “Nuraini diserahkan almarhum ayahnya kepadaku. Kubawa dia berkeliling ke selu-ruh negeri dengan harapan agar cepat mendapat jodoh. Barang siapa mampu mengalahkan, dialah jodohnya. Baik Nuraini maupun yang akan mencoba kepandaiannya, masing-masing terikat janji kesatria ...”

“Apa selama ini belum pernah ada yang mengalahkan?” si pemuda memotong seolah-olah tidak mendengarkan ujar Mustapa.

“Seluruh daerah Jawa Timur dan hampir seluruh daerah Jawa Tengah pernah kami lalui. Jika sudah ada yang berhasil mengalahkan, tentu saja tak bakal kami tiba di Pekalongan.”

“Ah! Masa tidak ada yang bisa mengalahkan? Aku tak percaya.”

“Benar.” Mustapa mencoba mempertahankan. “Barangkali, karena para pendekar segan memenuhi harapan kami berdua. Mungkin karena suatu alasan tertentu. Mereka sudah beristeri atau karena tak tega bertarung melawan Nuraini...”

“Kalau begitu, biarlah aku mencoba-coba. Ayo!” kata si pemuda. Mendengar kata-kata si pemuda yang diucapkan dengan jelas, penonton yang hampir bubaran berkumpul kembali. Sebentar saja arena pertandingan penuh sesak. Yang tadi membuat pertaruhan, mulai pula berunding dan mencari petaruh-petaruh baru.

Diam-diam Mustapa girang hatinya. Pemuda itu tampan lagi seorang anak ningrat. Ia berdoa, moga-moga dialah jodoh si gadis. Nuraini sendiri menaksir si pemuda. Selama berkeliling ke seluruh wilayah Jawa Timur dan Jawa Tengah, belum pernah ia bertemu seorang pemuda seperti dia. Roman muka dan perawakan tubuhnya yang singsat sedang, mengagumkan hatinya. Maka itu, begitu habis memberi hormat lalu menanggalkan baju luarnya.

Si pemuda mentereng membalas hormat seraya bersenyum. Giginya yang putih bersih tersembul seleret dari kedua bibirnya.
“Silakan nona. Kaulah yang membuka dulu permainan ini,” katanya.
“Silakah Tuan membuka baju luar dulu,” balas si gadis.

“Ah, tak usah. Masa permainan akan sampai mengeluarkan keringat?” pemuda itu berkata dengan angkuh. Dan para penonton yang sudah bisa menilai ilmu silat si gadis berkata dalam hati, “Eh—kamu berlagak benar. Sebentar kau akan merasakan gaplokkan-nya ...”

'Tuan! Apakah kita boleh mulai?” Nuraini bertanya.
“Kaulah yang membuka permainan.”
“Masa aku dahulu? Mestinya Tuan.”

Menimbang kata-kata Nuraini bernada angkuh, pemuda itu tidak berlaku segan lagi. Tiba-tiba saja ia berkisar ke sudut kanan, sehingga baju luarnya yang terbuat dari kain sutra, berkibaran. Setelah itu ia melesat berputaran dan sekonyong-konyong tangan kirinya menyambar secepat kilat.

Nuraini terkejut melihat gerakannya yang begitu cepat. Selama berkeliling ke berbagai daerah, belum pernah ia bertemu tanding sehebat kali ini. Buru-buru ia mengendapkan kepala dan terus menyusup ke bawah ketiak si pemuda. Tapi di luar dugaan, si pemuda sa-ingat gesit. Tangan kirinya tiba-tiba turun dan dibarengi dengan sodokan kanan. Melihat gerakan pemuda itu begitu hebat, penonton ber-teriak terkejut. Mereka mengira, Nuraini sukar meloloskan diri. Tak tahunya, Nuraini masih bisa menghindar dengan menjejak tanah. Tubuhnya lantas saja melesat mundur beberapa langkah.

“Bagus!” seru penonton hampir berbareng. Kemudian salah seorang penonton ada yang berteriak, “Siapa yang bakal menang?”

“Si pemuda,” sahut seorang lagi.
“Mana bisa? Dilihat gerakannya, si gadis Jang bakal menang. Coba tadi pemuda itu jyang menyerang dulu sehingga si gadis bisa -rrdesak dan hampir keripuhan, itu sudah pasti. Tapi kalau si gadis begitu dapat membebaskan diri dari serang cepat, itulah yang patut dibicarakan.”

“Kita bertaruh?”
“Ayo!”
Mereka berdua lalu bertaruh. Penonton yang lain ikut pula bertaruh. Tetapi kemudian, terdengar lagi suara lain.

“Nanti dulu ... lihat!”
Semua mengawaskan ke gelanggang. Waktu sekali lagi, si pemuda ningrat sedang merangsak si gadis. Nuraini dengan cepat mundur jumpalitan. Tetapi si pemuda terus memburu. Terang, dia tak mau lagi memberi kesempatan. Ia ingin menjatuhkan Nuraini secepat mungkin. Melihat dia berlaku kejam, Nuraini tak kehilangan akal. la meloncat mundur lagi dan mendadak sebelah kakinya dijejakkan ke atas dan mengancam hidung. Si pemuda terperanjat. Sama sekali tak diduganya, kalau Nuraini bisa mengirimkan serangan selagi berloncat undur. Untuk, membebaskan diri, si pemuda terpaksa melompat tinggi ke udara pula. Dengan begitu, mereka turun ke tanah seperti saling berjanji. Pakaian mereka yang longgar, berkibar-kibar kena angin.

“Hebat! seru penonton.
“Apa pendapat kalian?” tanya suara lain yang tadi berseru. “Aku mempunyai bunyi pertaruhan lain. Pemuda itu memang bakal dikalahkan, tetapi dengan cara lain.”

“Dengan cara lain bagaimana?”
“Dengan periahan-lahan, supaya tak usah menanggung malu. Mengapa begitu? Sebab, pemuda itu terlalu ngganteng dan anak ningrat.”

Orang-orang yang mendengar pada tertawa.

Tetapi mereka ikut menyetujui bunyi per-aruhan itu. Diam-diam Sangaji menaruh per-hatian kepada pertarungan si pemuda mentereng dan Nuraini. Mereka belum mengeluarkan ilmu simpanannya masing-masing, tetapi terang sekali kalau mereka bisa berkelahi dengan baik.

Pemuda itu ngganteng. Gadis itu cantik, kata Sangaji di dalam hati. Sama pula memiliki Kecakapan berkelahi. Kalau si pemuda bisa memperisterikan dia, itulah pantas. Mereka bakal jadi suami-isteri yang berharga untuk dibicarakan ...

Dulu, ia tidak begitu senang terhadap si pemuda, tatkala menyerang dirinya di restoran Banking Cirebon. Tetapi kini setelah mempunyai pikiran demikian, tak lagi dia benci. Malahan, dia mengharap-harap agar pemuda mentereng itu dapat mengalahkan Nuraini.

Dalam pada itu pertandingan berjalan terus. Makin lama makin seru. Kini, Nuraini tidak bedaku segan-segan lagi. Perlahan-lahan dia mulai bisa menguasai dan tiba-tiba terdengar suara: brett...! Ternyata lengan baju luar si pemuda kena disambar dan robek sekaligus. Nuraini kemudian melompat mundur jauh-jauh sambil mengibaskan ujung rambutnya yang panjang.

“Berhenti dulu!” seru Mustapa. “Silakan paduka menanggalkan baju luar, baru menen-tukan babak terakhir siapa yang menang.”

Wajah si pemuda ningrat kelihatan geram. Tangannya lalu bergerak dan robeklah baju luar dengan suara berkerebetan. Seorang pengiring lari menghampiri dan dengan sikap hormat membuka baju luarnya yang terbuat dari bahan sutra mahal. Kini, nampaklah dia mengenakan baju dalamnya. Baju dalamnya terbuat pula dari bahan sutra.

Warnanya biru laut sangat indah. Ia jadi semakin tampan. Wajahnya nampak berca-haya dan matanya yang cemerlang tambah berkilauan. Siapa gadis yang takkan gandrung melihat kegantengannya.

Begitu selesai merapikan pakaiannya, tanpa berkata sepatah katapun terus saja menyerang Nuraini. Sekarang ia menggunakan tangan kiri dan melesat berputaran sangat gesit dan indah. Melihat gerakannya, Nuraini terperanjat. Tak terkecuali Mustapa dan Sangaji. Mereka tak menyangka, kalau pemuda ningrat itu benar-benar hebat dan gagah.

Ternyata dia tidak lagi bersenyum atau memperlihatkan wajah berseri. Benar-benar dia bertekad hendak menjatuhkan si gadis di depan umum. Pandang matanya bersungguhsungguh dan seolah-olah menyala bagaikan Dintang bergetar di tengah langit hitam kelam. Gerak-geriknya cepat rapih dan berbahaya.

Sangaji memusatkan seluruh perhatiannya. Mendadak dia seperti terhentak. Ih! Bukankah gerak-gerik dan corak ilmu silatnya seperti Surapati, pemuda yang menyerangku di Jakarta dulu? Ah—apa dia seperguruan dengan Surapati...? pikir Sangaji.

Memikir demikian, perhatiannya makin terpaku. Ia melihat pemuda itu mulai bisa me-nguasai Nuraini dengan kecepatannya. Sekarang mulai nampak juga, sukar untuk membalas menyerang. Mempertahankan diri, belum tentu dapat tahan lama.

Pemuda ini lebih mahir daripada Surapati. N'uraini bukan lagi tandingnya, pikir Sangaji. Lalu ia telah mendapat kepastian. Pikirnya, sebentar lagi, kalian akan diumumkan menjadi sepasang suami-isteri...”

Mustapapun girang menyaksikan jalannya pertempuran. Dengan bekal pengalamannya tahulah dia, siapa yang bakal menang dan kalah. Maka dia berseru, “Nuraini, anakku! Sudahlah, tak usah kau lawan lebih lama lagi! i_awanmu menang jauh daripadamu ...”

Tetapi dia sedang berkutat mati-matian melawan si pemuda. Seman Mustapa tak digubrisnya. Bahkan ia merasa diri seperti direndahkan di depan umum. Itulah sebabnya, timbullah ketekatannya. Tanpa mempedulikan segala, lantas saja dia menyerang. Inilah bahaya.

Melihat dia menyerang, si pemuda ningrat berkata dalam hati, eh, kamu nekad. Kalau aku mau menjatuhkan segampang memuntir leher itik. Cuma sayang, kamu begitu jelita.

Benar saja. Begitu Nuraini merentang kaki hendak menjejak, si pemuda mengibaskan tangan dan dengan gesit akan menangkap. Nuraini tahu bahaya. Cepat-cepat ia menarik kembali dengan dibarengi sebelah kakinya menusuk pinggang. Si pemuda tak menjadi gugup. Kaki itu disambarnya. Karena Nuraini berlaku cepat, celananya saja yang kena terkam. Celaka! Celana itu kena dirobek sampai di bawah lutut. Seketika itu juga nampaklah kulit lututnya yang bersih kuning.

Penonton bersorak kaget. Nuraini tak kurang kagetnya. Tetapi si pemuda jadi gembira. Tiba-tiba saja terpancarlah nafsu birahinya. Cepat luar biasa ia menyerang dan kembali lagi menangkap kaki Nuraini sambil tangannya yang lain merangkul punggung.

Semenjak celananya kena dirobek pemuda itu sampai di bawah lutut, hati Nuraini sudah menjadi keripuhan. Karena itu, dengan gampang si pemuda dapat menangkap kakinya embali. Baru sekarang, dia menjadi malu penar-benar dan sadar akan kelalaiannya.

Penonton bersorak lagi. Kali ini bernada gembira dan meriuh. Tetapi yang penasaran aan cemburu, menggerutu dan memaki-maki rialam hati. Yang agak tebal agamanya, segera menngundurkan diri karena melihat suatu pemandangan mengerikan di depan umum. Tetapi si pemuda tak peduli. Kaki Nuraini makin diangkat naik, sehingga tak bisa berkutu lagi. Kemudian berkata, “Bagaimana, nona?”

Dengan suara perlahan, Nuraini meminta, “Lepaskan aku!”
Si pemuda ningrat tertawa. Menyahut. “Perkara melepaskan sih, gampang. Panggillah aku 'kangmas' terlebih dahulu!”

Nuraini mendongkol diperlakukan demikian. Serentak ia meronta, tetapi benar-benar tak berdaya. Pemuda itu menggenggam kakinya erat-erat dan pelukannya makin merapat. Me-ihat itu, Mustapa segera maju menghampiri.

“Paduka telah menang. Tolong lepaskan akinya!”
Si pemuda tak menggubris. Ia bahkantertawa melebar. Pelukannya kian erat dari kaki Nuraini diangkat kian tinggi. Karuari Nuraini bertambah malu. Kini, timbullah kemarahannya. Dengan sekuat tenaga ia menje jakkan kaki dan melesat maju. Dan terlepaslah kakinya. Tetapi si pemuda tak mau dikalahkan. Tangannya menyambar lagi dan robeklah! celana si gadis. Sekarang benar-benar sampai di pangkal lutut.

Nuraini terpaksa berjongkok sambil mera- patkan robekan celananya. Ia hampir mena-j ngis karena menanggung malu. Sebaliknya si pemuda tertawa berkikikkan. Penonton yang rada-rada mempunyai bakat bajul, lalu berteriak menyetujui.

“Robek terus, nDoromas! Sekali-kali bolehlah dia mengalami telanjang di depan umum.” Mendengar mereka berkata demikian pemuda itu merasa mendapat hati. Matanya menyala dan tertawanya kian berkikikkan Senang dia melihat Nuraini kerepotan menutupi lututnya.

Mustapa menghampiri seraya membungkuk! hormat, “Mengapa Paduka memperlakukan begitu? Bukankah sekarang dia jadi miliki Paduka sendiri?”

“Masa begitu?” Sebentar Mustapa berdiri menebak-nebak, Kemudian tertawa panjang seperti memaklumi cirinya yang kurang pengertian. “Ah—ya... orang sebodoh aku mana bisa sandingkan dengan paduka yang biasa berpikir dan berbicara gaya ningrat. Seorang ningrat bisa mengangguk, selagi hatinya melawan. Seorang ningrat bisa tertawa riang, selagi hatinya menangis meraung-raung,” ia berhenti mengesankan dirinya sendiri. Kemudian mengalihkan pembicaraan, “Paduka telah memenangkan pertandingan ini. Perkenankan aku mengucap terima kasih. Ontuk perun-ingan selanjutnya, apakah aku boleh mengenal nama Paduka?”

“Mengapa kau berbicara yang bukan-bukan!” sahut pemuda itu cepat. Dia berputar dan bergerak hendak meninggalkan gelanggang. Dua orang pengiringnya datang menghampiri dengan membawakan pakaian luar .semacam jaket. Seraya menerima jaketnya, ia mengerling manis kepada Nuraini. Terlalu 'manis malah, sehingga berkesan pancaran nafsu birahi.

Mustapa menyangka, kalau cara tak sudi memperkenalkan namanya dengan terus terang adalah kelumrahan kaum ningrat sebagai adat pergaulan. Itulah sebabnya, cepat-cepat ia berseru mengerti.

“Kami berdua tinggal di sebuah losmen dekat pemberhentian gerobak. Apakah Paduka sudi berjalan bersama ke losmen tersebut untuk meneruskan pembicaraan ini?”

“Kenapa ke sana? Aku tak punya waktu,” sahut si pemuda kasar. “Lagipula apa sih yang mau kalian bicarakan?”
Mustapa terperanjat, la sibuk menebak-nebak. Air mukanya berubah.
“Paduka kan sudah berhasil mengalahkan! anakku?” dia berkata dengan masih terua berteka-teki dalam benaknya.
“Kalau sudah menang?”

“Sudah barang tentu, anakku ini sudah menjadi jodoh Paduka. Paduka tahu, kalau dunia ini mengizinkan manusia berkelahi sampai mati mengenai empat hal. Satu, urusan keyakinan sujud pada suatu kepercayaan. Dua, urusan negara. Tiga, urusan jodoh. Dan empat, urusan kehormatan diri. Ah, mestinya paduka sudah pernah membaca cerita-cerita kuno. Semua buku-buku itu mengisahkan perkara pertempuran mengenai empat hal tersebut.

Sekarang ini, aku sedang berbicara mengenai jodoh dan kehormatan diri sekaligus. Ku-mohon dengan sangat, agar Paduka mendengarkan dengan sedikit perhatian.”

Mendengar ujar Mustapa si pemuda heran sampai tercengang-cengang. Dengan suara tinggi, dia menjawab, “Jodoh? Urusan perjodohan? Kapan kita terikat perjanjian begitu? Ini kan main-main mengadu kepandaian? Masa soal jodoh dibawa-bawa. Kamu gila, masa aku harus berjodoh dengan anakmu, gadis jalanan?” Ujar si pemuda ningrat tajam luar biasa, sampai Mustapa pucat. Penonton dan Sangaji yang tadi ikut bergembira menyaksikan kemenangannya, begitu mendengar kata-katanya yang tajam berubah menjadi tak senang pula. Mereka jadi berbelas-kasih pada Mustapa dan gadis. Alangkah hebat penderitaan hatinya, dihina dan direndahkan terang-terangan di depan umum.

“Kau ... kau ...!” Mustapa tergagap-gagap deh rasa marahnya.
Pengiring si pemuda begitu mendengar majikannya diper-engkaukan, lalu maju sambil mendamprat.

“Apa kau, kau, kau? Kamu anggap siapa Beliau? Apakah beliau akan kamu paksa me-ngawini gadis jalanan karena semata-mata menang berkelahi? Eh, tidaklah semudah begitu. Paling tidak, kamu harus menghadap ayah dan ibunya. Tidak lantas berbicara dan ngomong tanpa aturan di tengah alam terbuka.”

Bukan main marah Mustapa. Serentak dia melompat dan menggaplok si pengiring sam-pai berkaok-kaok kesakitan. Bagaimana tidak? Gaplokan yang disertai suatu kemarahan luar biasa, hebat akibatnya. Gigi si pengiring rontok lima biji. Lalu jatuh pingsan, karena melihat darahnya menyemprot keluar.

Si pemuda mentereng tahu menjaga kehormatan diri. Ia tak mempedulikan keadaan pe-ngiringnya yang jatuh pingsan. Sambil memberi perintah pengiring lain agar menolong kawannya, ia menghampiri kudanya. Tatkala hendak meloncat ke atas pelana, Mustapa berseru dengan nada marah.

“Jadi kau datang cuma ingin mengganggu kami? Jika sedari tadi kau tak berniat mem-; peristerikan dia, mengapa memasuki gelanggang? Biar begini rendah dan hina, kamipun] manusia yang mempunyai kehormatan diri. Takkan kami membiarkan diri menggerogoti tulang di jalanan seperti anjing. Takkan bakal membiarkan diri mampus telanjang bulat di tengah jalan seperti binatang.”

Tetapi pemuda itu tetap tak mau menghiraukan. Dia lantas melompat di atas pelana dan siap menarik les kudanya. Dan Mustapa habis kesabarannya. Dengan berteriak dia memaki, “Bangsat benar kau! Pantas rakyat-mu tak pernah akur sama golonganmu! Dengarkan! Anakku juga takkan kuizinkan kawin dengan manusia anjing seperti tampangmu. Cuma saja, sekarang bayar celananya yang kau robek.”

Pemuda itu menjawab, “Robeknya celana dia, kan salahnya sendiri. Mengapa seorang perempuan mengenakan celana? Coba, dia tak banyak cingcong mencari jodoh dengan mengadu kepandaian, takkan bakal mengalami peristiwa begini. Takkan bakal celananya robek sampai lutut...” lalu dia tertawa berkikikkan.

Tubuh Mustapa menggigil. Tanpa berkata lagi, ia melesat menangkap kaki si pemuda hendak menyeretnya ke tanah. Gntung dia awas. Begitu melihat Mustapa melayang hendak menubruk, ia menarik kakinya. Dia menang mudah dan menang cekatan. Dada Mustapa kena dibentur balik dan pergelangan tangannya dihantam telak, sampai tulangnya patah gemeretak.

“Karena kau menyerang, terpaksa aku membela diri. Lagi pula kalau sekali-kali aku tak menghajar padamu, tentu kau masih saja memaksa aku mengawini anakmu, si gadis pasaran...” seru pemuda itu sambil tertawa mengejek. Lalu ia menjejak sanggurdi kuda dan melesat ke tengah lapangan.

Gerak-gerik pemuda itu memang cekatan dan gesit. Sayang, mulutnya terlalu tajam. Lagi pula, sikapnya begitu angkuh dan gaya tertawanya menjemukan pendengaran. Selain penonton golongan bajul, tidak ada yang senang padanya. Mendengar ia merendahkan Mustapa, mereka ikut jadi panas hati. Cuma saja mereka tak dapat berbuat lain, kecuali memaki-maki dalam hati.

Mustapa bangun dengan tertatih-tatih. Pergelangan tangannya sebelah kiri mulai tam-pak bengkak. Tetapi ia tak menghiraukan. Mulutnya bergetaran, suatu tanda kalau dadanya serasa hampir meledak. Mendadak ia meloncat sambil berteriak, “Nuraini anakku! Biarlah aku mengadu nyawa!”

Si pemuda cukup berwaspada. Tahulah dia, kalau Mustapa sedang kalap. Maka dengan mudah, ia meloloskan diri dari serangan itu. Kakinya bergeser ke kanan, sedang tangan kiri disodokkan hendak menumbuk dada. Mau tak mau, Mustapa cepat-cepat menarik serangan-nya. Kini ia menangkis dengan tangan kanannya dan kakinya bergerak.

Si pemuda kaget bukan main. Sama sekali lak diduganya kalau Mustapa bergerak sehe-bat itu, malahan berani menangkis serangan dengan serangan. Buru-buru ia menarik tangan kirinya dan diangkat tinggi untuk melindungi mukanya. Mustapa yang sedang kalap, tak mengindahkan gerakan lawan. Tangan kirinya yang sudah patah pergelangannya ditarik mundur untuk melindungi dada. Kemudian dengan tangan kanannya ia menyerang. Tatkala si pemuda menangkis sambil mundur, dengan sebat kaki kirinya menjejak tanah. Sekali melesat, kaki kanannya menerjang ringgang. Inilah hebat.

Melihat Mustapa memiliki jurus-jurus berbahaya, pemuda itu kini tak berani lagi memandang rendah. Gugup ia merapatkan diri. Sekonyong-konyong tangannya bergerak menyambar pergelangan tangan kanan Mustapa sambil melesat mundur. Dengan begitu, ia berhasil melakukan serangan tipu muslihat. Nampaknya ia membalas menyerang, tak tahunya ia sebenarnya mundur. Saat kedua kakinya jatuh ke tanah, ia melesat lagi dengan mengembangkan sepuluh jarinya.

Mustapa terkejut. Penontonpun tak kurang terkejutnya. Mereka sampai berteriak. Sangaji yang memperhatikan gerak gerik pemuda, kian jadi curiga. Aneh! Ini gerak-gerik Pringgasakti! Apa hubungannya dengan pemuda itu?

Tatkala itu, Mustapa kena diserang. Kini pergelangan tangan kanannya patah lagi. Dengan begitu, ia kini sama sekali tak berdaya. Masih ia mencoba mengadu kecekatan kaki. Tapi kakinya yang sebelah bukan kaki utuh. Itulah sebabnya, dengan mudah ia kena disapu dan jatuh bergelimpangan di atas tanah.

Nuraini pucat lesi. Serentak ia melesat menubruk ayah-angkatnya. Celananya yang kena robek, disobeknya separo hendak dibuatnya bebat pergelangan tangan ayahnya. Terang, ia tak memikirkan lagi kepentingan diri. Tetapi Mustapa menolak dengan mendorongkan sikunya.

“Kauminggir, anakku! Hari ini, biarlah aku mati di depan matamu! Sama sekali aku tak menyesal. Kelak kusampaikan kejadian ini kepada ayahmu di alam baka ...”

Wajah Nuraini suram. Perlahan-lahan ia berdiri sambil menatap wajah si pemuda. Hebat kesannya. Pandangnya tajam. Rambutnya terurai. Celananya buntung sebelah. Sekonyong-konyong ia melolos sebilah belati mengkilat. Inilah belati warisan ayahnya almarhum.

Penonton diam menebak-nebak. Apakah Nuraini mau mengadu nyawa pula dengan si pemuda ningrat? Di luar dugaan, mendadak saja Nuraini menancapkan belatinya ke dadanya sendiri. Inilah di luar dugaan orang.

Mustapa agaknya mengenal tabiat si gadis. Secepat kilat, tangan kanannya yang telah patah pergelangannya melesat menghalangi. Tapi mana bisa tangannya yang sudah patah menghalangi gerakan Nuraini yang begitu tangkas serta penuh nafsu. Keruan saja, telapak tangannya kena tertumblas dan tersalib di aias dada si gadis.

Meskipun demikian, maksud Mustapa hendak menghalang-halangi kekalapan Nuraini, tidaklah seluruhnya gagal. Karena telapakan angannya, dada Nuraini hanya tertusuk sedalam seperempat dim. Dengan demikian, batallah niatnya hendak bunuh diri.

Para penonton dengki pada si pemuda berbareng duka. Sama sekali tak mereka sangka, kalau tontonan yang menarik itu akan berakhir dengan lumuran darah. Ingin campur tangan, mereka tak berani.

Lain halnya dengan Sangaji. Ia yang dididik oleh kedua gurunya berdarah ksatria, seketika ku juga tak kuat menahan diri. Serentak ia melompat ke tengah gelanggang sambil memanggil si pemuda ningrat yang sedang berjalan balik ke arah kudanya.

“Hai sahabat Nanking Cirebon!” ujarnya. Ia belum mengenal nama pemuda itu. Sebaliknya teringat akan pertemuannya di restoran Nanking Cirebon, lantas saja berseru demikian. Penonton golongan bajul dan para pengiring pemuda ningrat, tertawa berbareng mendengar ujarnyaJ Mereka menganggap lucu bunyi seruan SangajiJ

Pemuda ningrat itu menoleh. Begitu melihat Sangaji, ia terhenyak sebentar. Kemudian ikufi pula tertawa sambil berkata, “Eh ... kamul Kamu memanggil Nanking Cirebon di Kota Pekalongan, apa maksudmu?”

Kembali penonton golongan bajul dan para pengiring tertawa geli. Benar-benar mereka menganggap, Sangaji seorang pemuda tolol yang tak masuk hitungan. Memang sikan Sangaji waktu itu berkesan ketolol-tololan. Ia sendiri belum tahu dengan pasti apa yang harus dilakukan. Begitu mendengar kata-kata! si pemuda, ia berdiri melongoh. Derai tertawa! penonton belum disadari, kalau mereka sedang menertawakan ketololannya.

“Apa kamu lalu meninggalkan mereka dengan begitu saja?” serunya.
“Habis? Apa aku harus mencampuri urusan mereka? Biar mereka bunuh diri, apa kepen-l ringanku?”
“Kamu harus kawin dengan Nona itu!”

Si pemuda ningrat tercengang. Penonton golongan bajul tercengang. Para pengiringpun Bcrcengang. Akhirnya mereka semua tertawa berkakakkan.

“Jika aku tak sudi... kamu mau apa?” kata pemuda ningrat dengan suara nyaring.
“Jika kau tak sudi mengawini dia, mengapa kau tadi memasuki gelanggang? Apa kau tak Kndengar keterangan bapak itu tentang maksud arena ini?”

Si pemuda ningrat menaikkan alisnya. Ia xjemandang tajam kepada Sangaji. Lalu Jkerkata tegas, “Sebenarnya kamu mau apa?”

Sangaji menoleh kepada Nuraini.
“Nona itu cantik dan ilmu silatnyapun bagus. Mengapa kamu tak sudi kawin dengan dia? Apa celanya? Sekiranya kau mengambil dia sebagai istrimuu, kalian berdua akan menjadi sepasang garuda yang elok. Sebaliknya jika rsenolak, di belakang hari kau akan menyesal. Dananakah ada seorang gadis yang begitu cantik memiliki ilmu silat pula?”

“Eh ... kamu ini mau jadi comblang?”
Pemuda itu tertawa geli. Para pengiring dan penonton golongan bajul ikut tertawa geli pula. Kata pemuda ningrat itu lagi, “Kamu ini siapa, sfi? Kamu murid siapa? Kamu memanggil apa pada Adipati Karimun Jawa Surengpati?”

Sangaji heran. Ia menggelengkan kepala.
“Siapa guruku, tak dapat aku memperkenalkan. Aku tak kenal pula siapa itu Adipati Karimun Jawa Surengpati.”

“Habis, siapakah yang mengajarimu Ilmu Sentilan Istimewa yang pernah kauperlihatkan di restoran Nanking Cirebon? Bukankah itu Ilmu Sentilan ajaran Adipati Karimun Jawa?” pemuda ningrat heran.

“Semua kepandaianku adalah berkat ajaran guruku.” “Siapa gurumu?”
“Tak mau aku memberitahukan.”
“Baiklah... “ sahut si pemuda ningrat setelah menimbang-nimbang sebentar. Kemudian ia berbalik hendak menghampiri kudanya.

Sangaji buru-buru menyanggah sambil berseru, “Hai! Kau mau ke mana?”
Si pemuda ningrat menoleh. Pandangnya heran menebak-nebak. Menyahut, “Habis... kau mau apa?”
“Bukankah aku tadi menyarankan, agar kamu mengawini dia?”

Pemuda ningrat itu tertawa dingin. Ia mendongkol bercampur geli pada Sangaji. Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan gelanggang.

Mustapa yang melihat peristiwa itu, sekonyong-konyong datang menghampiri Sangaji. Ia tahu, Sangaji seorang pemuda berbaik hati. Hanya saja, tak pandai mengadu lidah. Maklumlah, Sangaji seorang pemuda yang baru saja melihat dunia. Lika-liku penghidupan sama sekali belum diketahui.

“Saudara kecil, apa perlu melayani manusia semacam dia,” Mustapa berkata. Waktu menginap di teritisan toko di Tegal, ia tak begitu memperhatikan muka Sangaji. Kecuali itu, hari amat gelap. Itulah sebabnya ia tak mengenalnya. Setelah berkata demikian, sambil menatap si pemuda ningrat ia meneruskan, “Asal saja nyawaku masih melekat pada tubuhku yang cacat ini, suatu kali aku akan dapat membalas sakit hati. Siapa namamu, anak muda?”

Sangaji hendak menjawab, sekonyong-konyong ia mendengar pemuda ningrat tertawa.

“Hai tua bangka!” ujarnya. “Sudah kutegaskan tadi, kalau tak sudi aku memanggilmu mertua. Kenapa kau memaksa saja?”
Sangaji habis kesabarannya. Ia terlalu iba pada Mustapa, karena itu tanpa mempedu-likan segala lantas saja dia melompat.

“Kalau begitu, bayar kembali celananya!” ia membentak.

Si pemuda ningrat menegakkan kepala. Dengan pandang angkuh, ia mendamprat, “Eh kau golongan seorang yang suka usilan. Apa kau menaruh hati kepada gadis itu, tapi tak berani terang-terangan? Nah, ambillah dia! Kuhadiahkan kepadamu!”

“Apa kaubilang?” Sangaji membentak.
Si pemuda ningrat tertawa berkikikkan. Mendadak saja, Sangaji menggerakkan kedua tangannya. Inilah ajaran Jaga Saradenta yang terdiri dari 72 jurus. Begitu kedua tangannya bergerak, lantas saja menyambar dan men-cengkram tangan.

Si pemuda ningrat terkejut bukan kepalang. Sama sekali tak diduganya, kalau Sangaji bisa bergerak begitu sebat dan kuat. Tahu-tahu, pergelangan tangannya kena ditangkap erat. Ia berusaha merenggut, tetapi sama sekali tak dapat berkutik. Dalam terkejutnya, ia berkata mencoba menenangkan diri, “Hai, kau mau mampus?”

Kemudian ia berontak sambil menendang perut Sangaji. Tetapi Sangaji cukup berwaspada. Ia tak mengelak atau menghindarkan serangan. Sebaliknya ia hanya menarik tangan. Dengan begitu, si pemuda ningrat tertarik ke depan sampai tubuhnya terbungkuk-bungkuk. Batallah ia hendak menyerang perut, malahan kini akan jatuh tersungkur ke depan. Gntung tubuhnya dapat bergerak dengan ringan. Begitu ia merasa terlempar, cepat-cepat menjejak tanah. Tubuhnya hanya ter-goncang sedikit, tetapi tak jadhjatuh tertengku-rap ke tanah. Meskipun demikian, kejadian ini berarti kalau dia kalah satu babak. Seketika itu juga rasa marahnya melonjak sampai ke kepala. Dengan membentak ia berpaling kepada Sangaji, “Kau sudah bosan hidup?”

Sangaji menggelengkan kepala sambil menjawab tenang, “Tak ada niatku untuk berkelahi dengan tampangmu. Meskipun menang, belum tentu kau mau mengawini dia. Bayar saja harga celananya!”

Penonton yang mengira Sangaji mau membela keadilan jadi kecele mendengar ujarnya. Sama sekali tak diduganya, kalau sikapnya yang garang berwibawa hanya berhenti sampai di situ saja.

Sebenarnya, si pemuda ningrat agak segan pada Sangaji mengingat pengalamannya di restoran Nanking Cirebon. Cuma saja, kalau ia dipaksa membayar celana Nuraini di depan umum, kehormatan dirinya tak mengizinkan, la lantas berbalik sambil menanggalkan baju jaketnya. Dengan tertawa dingin ia berjalan mau meninggalkan gelanggang.

“Apa kau benar-benar mau pergi?” tegur Sangaji.
Pemuda ningrat itu lalu berjaga-jaga diri. Diam-diam ia mengatur tipu-muslihat. Ia tetap berjalan meninggalkan gelanggang. Sangaji segera menubruk mau menarik lengannya. Maksudnya hanya untuk menyanggah. Mendadak si pemuda ningrat berputar sambil menengkurapkan jaketnya pada gundul Sangaji. Karuan saja Sangaji yang tak menduga bakal diserang secara demikian, jadi gelagapan. Di saat itu si pemuda ningrat menghajar tulang rusuk Sangaji sampai dua kali berturut-turut.

Kena dihajar demikian, Sangaji tak kehilangan pengamatan diri. Untung dia pernah menghisap getah pohon sakti Dewadaru dan pernah menerima petunjuk-pentujuk Ki Tun-jungbiru mengenai penguasaan pemapasan. Meskipun hajaran si pemuda ningrat bukan setengah-setengah, tetapi tulang rusuknya tak patah. Hanya ia merasa sakit bukan main. Cepat ia mengumpulkan tenaga, tanpa memikirkan jaket yang menelungkup kepalanya, ia terus menyerang dengan jurus-jurus ajaran Wirapati yang cepat gesit. Serangannya melalui bawah jaket dan berhasil mengenai lawan sembilan kali berturut-turut. Inilah keistimewaan Wirapati yang dapat menciptakan jurus pembalasan dengan menggunakan jaring tipu-muslihat musuh. Hanya sayang, Sangaji belum mempunyai tenaga cukup sehingga jurus yang hebat itu jadi kurang sempurna. Seumpama Wirapati sendiri yang menggunakannya, pasti lawan yang kena hajar akan rontok tulang-belulangnya.

Si pemuda ningrat, sebenarnya bukan seorang pemuda yang lemah. Hanya saja, ia tak mengira Sangaji bisa melakukan serangan pembalasan selagi kepalanya tertengkurap jaket. Gerakan tangan Sangaji tak nampak karena jaketnya sendiri. Inilah namanya, senjata makan tuan. Mula-mula ia mengira Sangaji akan kelabakan karena penglihatannya kena tertungkrap jaket, tak tahunya malah bisa mempergunakan sebagai pelindung gerakan pembalasannya. Ia jadi kerepotan. Gugup ia berlompatan dan menangkis sebisa-bisanya. Tujuh kali dia bisa menangkis serangan Sangaji, tetapi pukulan yang kedelapan dan kesembilan benar-benar mengenai telak. Tubuhnya sampai terjengkang. Syukur, ia tak kehilangan akal, dengan melepaskan jaket, ia menjejak tanah dan berhasil melesat jauh.

Sangaji membuang jaket yang menengku-rap kepalanya. Wajahnya agak pucat karena kaget. Inilah pengalamannya yang pertama kali menghadapi lawan yang melakukan tipu-muslihat. Ia mengira, kalau dalam suatu pertempuran akan berlaku aturan-aturan berkelahi menurut tata-tertib jurus-jurus ajaran. Tak tahunya, baru pertama kali ia berkelana ke luar daerah sudah menemukan lawan yang bisa berlaku curang. Diam-diam ia merasa bersyukur, dirinya terlepas dari suatu maraba-haya.

Sebaliknya, si pemuda ningrat mendongkol hatinya, karena kena tendang serta pukulan Sangaji. Segera ia melesat maju sambil mencengkeramkan jari. Serangannya mengarah pada pundak Sangaji.

Sangaji belum bersiaga. Ia masih berenung-renung memikirkan pengalamannya. Tahu-tahu ia diserang lagi. Karena gugup ia hanya menangkis separuh tenaga. Dia terkejut bukan main, tatkala dadanya merasa sakit kena tindih. Cepat ia mundur. Justru ia mundur, si pemuda ningrat berhasil menumbukkan tangan kirinya ke dadanya. Tak ampun lagi ia jatuh terjengkang sampai tangannya memegang tanah.

Melihat dia jatuh, para penonton golongan bajul dan pengiring bertepuk tangan gembira. Mereka tertawa dan bersuit-suitan. Si pemuda ningrat kemudian tertawa panjang sambil berkata, “Dengan bekal kepandaian begini, kau mau menjadi pahlawan? Mana bisa? Kuanjurkan, kau belajar sepuluh tahun lagi kepadaku sebelum melihat dunia untuk yang kedua kalinya...”

Sangaji tak pandai mengadu kecepatan Sdah. Dengan berdiam diri, ia mengumpulkan tenaga. Dadanya  memang  terasa  sakit  kena  kimbukannya.  la  mencoba  mengatur  pema-pasannya.

Ketika dirasanya agak enakan, segera ia bangkit lalu menyerang.

“Awas!” ia berseru. Kali ini ia menggunakan jurus ajaran Jaga Saradenta, yang mengutamakan mengadu tenaga. Itulah sebabnya, meskipun belum sempurna, ayunan tinjunya mengeluarkan kesiur angin.

Pemuda ningrat itu terkejut. Gugup ia merendahkan kepala dan dapat mengelak dengan gampang. Di luar dugaan, serangan Sangaji tidak berhenti sampai di situ saja. Sekonyong-konyong siku kanannya disodok-kan ke samping dan tangan kirinya maju hendak membentur muka.

Terpaksalah si pemuda ningrat menangkis dengan kedua tangannya. Mereka berdua bentrok dengan hebatnya. Sangaji menang tenaga, tetapi si pemuda ningrat menang gesit dan nampak sekali menang latihan. Itulah sebabnya, mereka jadi berimbang. Begitu berbentrokan, kedua-duanya mundur selangkah dengan tubuh bergoyang-goyang.

Sangaji merasa, ia menang tenaga. Maka itu, cepat-cepat ia mengumpulkan tenaga lagi. Kemudian mengadu tumbukan. Si pemuda ningrat terpaksa pula melayani. Dengan begitu, mereka berdua lantas saja jadi berkutat.

Perlahan-lahan tapi pasti, Sangaji berhasil mendorong lawannya. Diam-diam ia gembira. Ia sudah memikirkan pula jurus berikutnya untuk meruntuhkan lawan. Tetapi tiba-tiba tenaga lawannya hilang begitu saja. Tak ampun lagi tubuhnya lantas saja terhuyung ke depan, karena tak sempat lagi menahan diri. Selagi ia terhuyung, tangan lawannya melayang memukul punggungnya. Masih dia berusaha menangkis dengan memutar tubuh. Tetapi lawannya bukan lawan bodoh. Begitu ia berpaling, lantas saja kaki lawannya menendang lututnya.

Sangaji jadi keripuhan. Tubuhnya tak dapat ditahannya lagi. la jatuh terbalik untuk yang kedua kalinya. Tetapi kali ini, tubuhnya tak! sampai mengenai tanah. Dengan cepat siku-nya disanggakan, lalu kakinya menjejak dada lawannya sangat sebat.

Ternyata lawannya dapat mengelakkan diri. Tetapi Sangaji mendadak saja bisa meneruskan menyerang beruntun. Kali ini, dia menggunakan jurus-jurus ajaran Wirapati dan Jaga Saradenta dengan berbareng. Itulah sebabnya, sekarang ia nampak tangguh dan cepat. Jurus ajaran Wirapati dan Jaga Saradenta sangat berbahaya jika dilakukan dengan berbareng. Apabila sekali mengenai tubuh lawan, bisa memisahkan tulang-belulang. Untung Sangaji bukan seorang pemuda yang kejam. Ia sadar, kalau dirinya tak mempunyai permusuhan mendalam dengan si pemuda ningrat. Tujuan perkelahian itu, semata-mata hanya mendesak agar si pemuda mau membayar pulang harga celana Nuraini.

Tetapi lawannya berpikir sebaliknya. Melihat Sangaji bertempur dengan jurus-jurus yang sangat berbahaya, lantas saja ia memikirkan suatu tipu-muslihat lagi. Ia sengaja membuka dadanya, seolah-olah mengesankan tak dapat menjaga diri.

Sangaji kena terjebak. Melihat dia membuka dada, tak sampai hati ia meneruskan serangannya. Ia menarik tangannya. Kini hanya mengarah kepada lambung. Tak tahunya, ini-lah kejadian yang diharap-harapkan lawannya. Begitu ia sembrono, kedua tangan lawannya lantas saja bekerja. Yang sebelah kiri menyodok lengan dan yang sebelah kanan menumbuk dada.

Sangaji kaget. Cepat-cepat ia menarik kedua tangannya untuk melindungi dada. Mendadak lawannya membatalkan pula serangannya. Kali ini hanya menyambar dan menangkap pergelangan. Kemudian sambil menarik kuat ia melompat tinggi. Kakinya menjejak paha Sangaji dan terus melesat ke udara berjumpalitan. Karuan saja, Sangaji jatuh terbalik kena dorongan tenaga. Mukanya sampai mencium tanah begitu panjang.

Mustapa kala itu telah terbebat rapi. Kedua pergelangan tangannya, dapat digerakkan sedikit meskipun nyeri luar biasa. Melihat Sangaji kena dirobohkan tiga kali berturut-turut, ia merasa iba. Tanpa memikirkan dirinya sendiri, lantas saja ia maju menolong membangunkan Sangaji. Ia tahu, Sangaji bukan lawan si pemuda ningrat. Maka ia berkata menyabarkan, “Anak muda, jangan layani dia. Apa gunanya berkelahi melawan seorang anak muda yang tak mempunyai harga diri?”

“Sangaji roboh dengan kepala berputaran dan mata kabur. Ia tak mengira, diperlakukan lawannya begitu kejam. Sedangkan tadi, ia berlaku memaafkan kepadanya. Kini, timbullah dendamnya. Serentak ia merenggutkan diri dari tangan Mustapa kemudian melompat maju.

“Eh ...! Kamu belum takluk juga?” seru si pemuda ningrat.
Sangaji tak menyahut. Ia terus merangsak dengan sungguh-sungguh. Hebat kali ini, karena dia tak sudi lagi memberi ampun.

“Bagus!” seru si pemuda ningrat. “Tapi jangan salahkan aku! Aku terpaksa melayani-mu dengan sungguh-sungguh. Nah mundurlah, sebelum terlanjur!”

“Bayar pulang dahulu celana dia. Baru kita bicara,” sahut Sangaji.
Si pemuda ningrat serta pengiringnya terpaksa tertawa geli, menyaksikan ketololannya. “Hai! Nona itu kan bukan adikmu?” seru salah seorang pengiring. “Mengapa ngotot?”

Sangaji tak mendengarkan ocehan orang itu. Ia terus merangsak sambil mengancam lagi, “Kamu bayar pulang tidak?”

“Eh, sahabat!” sahut si pemuda ningrat. “Nampaknya kau mau mengadu nyawa. Buat apa? Kalau aku kawin dengan gadis itu, apa kamu lantas bisa menjadi iparku?”

“Aku bukan kakaknya. Mengapa kauhilang seolah-olah dia adikku?” damprat Sangaji.
Benar-benar ia marah kali ini. Matanya melotot, sedang napasnya kembang-kempis.
“Bagus! Kau mau jadi pahlawan? Majulah!” tantang si pemuda ningrat.

Mereka jadi bertarung lagi. Kali ini Sangaji tak berkelahi dengan setengah hati. Itulah sebabnya, lambat-laun si pemuda ningrat kena didesak mundur sampai merasa keripuhan. Dia mencoba mengadu kegesitan, tetapi Sangaji bisa bergerak dengan gesit berkat ajaran jurus-jurus Wirapati.

Pada saat itu, penonton makin lama makin banyak. Mustapa yang memperhatikan me-reka, jadi tak enak hati. la sadar, kalau polisi sampai datang urusan bisa bertambah runyam. Lagi pula, ia tahu kalau di antara mereka terdapat pendekar-pendekar sakti yang ikut pula memperhatikan jalannya pertempuran. Pandang mata mereka luar biasa tajam. Di antara mereka ada pula yang membekali senjata rahasia. Kalau saja mere-. ka tiba-tiba ikut campur dengan melepaskan senjata rahasia, akan celakalah. Kalau mengenai si pemuda ningrat, bagaimana bisa dia bebas dari suatu urusan besar. Sebaliknya kalau mengenai Sangaji, bagaimana mungkin dia membiarkan pemuda itu berkorban untuk dirinya?

Mendapat pikiran demikian, hati-hati ia menyelinap di antara penonton, la menaruh curiga kepada segerombol penonton yang sikapnya luar biasa. Orang yang berdiri di depan, berperawakan tinggi besar. Dia mengenakan kopiah putih seperti seorang haji. Tapi pandangnya keruh mengingatkan pada raut-muka seorang algojo. Yang berdiri di sebelah iurinya, seorang laki-laki berperawakan kurus. Orang ini sudah berusia lanjut. Rambutnya hampir putih semua. Wajahnya berkerinyut. Meskipun demikian, pandangnya berwibawa, flfeng berdiri di sebelah kanan, seorang pemu-a berkumis tebal dan mengenakan pakaian *erba putih. Perawakan tubuhnya kukuh. Dialah Kartawirya yang dulu mengancam Sangaji di dalam losmen.

“Manyarsewu!” kata laki-laki kurus berusia tenjut. “Kamu datang dari Ponorogo ke mari, semata-mata hendak memenuhi panggilan Pangeran Bumi Gede. Bocah ngganteng berpakaian mentereng itu, putera Pangeran Bumi Gede. Apa kamu mau membiarkan dia dirangsak habis-habisan pemuda tolol itu? Kalau sampai putera Pangeran Bumi Gede ter-'kika, apa nyawa kita bisa selamat...?”

Manyarsewu adalah seorang laki-laki Berperawakan tinggi besar yang mengenakan kopiah haji. Mendengar kawannya berkata demikian, ia hanya tersenyum sambil menjawab, “Cocak Hijau, kauusilan. Meskipun dia mampus di depan kita, paling-paling ayahnya cuma mematahkan kakimu sebelah. Mustahil Pangeran Bumi Gede menginginkan nyawamu...”

Mustapa terperanjat. Orang yang bernama Cocak Hijau itu berkata, kalau si pemuda ningrat adalah putera seorang pangeran. Kalau begitu tak dapat disalahkan, kalau dia menolak mengawini anakku, pikir Mustapa. Ah, jangan-jangan inilah permulaan bencana. Kalau dia sampai dilukai pemuda itu, celaka. Di antara pengiringnya terdapat orang-orang begini perkasa.


“Jangan takut!” sambung Kartawirya. “Berani aku bertaruh, kalau putera Pangeran Bumi Gede tak bakal bisa dikalahkan. Lihat!”
Manyarsewu tertawa melalui dadanya. Menyahut, “Putera Pangeran Bumi Gede pasti bisa mentaksir kekuatan lawan. Sepuluh tahun lamanya, kabarnya dia sudah mengenal ber-macam-macam ilmu silat. Gurunya banyak. Akan sia-sia jadinya, kalau sekali-kali dia tak mencoba ketangguhan ilmunya.”

“Itu benar.” ujar Cocak Hijau. “Cuma saja, kalau kita bisa membuat jasa, akan baik aki-batnya. Pasti kita akan mendapatkan keistimewaan, selama rapat berlangsung.”

“Hihaa... mana bisa beliau senang, seandainya kita datang membantu ...” Manyarsewu tetap membandel. Mendadak Kartawirya mengalihkan pembicaraan.
“Eh, Paman Manyarsewu dan Paman Cocak Hijau! Ilmu silat dari mana yang dipergunakan putera Pangeran Bumi Gede? Coba tebak!”

Manyarsewu dan Cocak Hijau tertawa hampir berbareng. Hampir berbareng pula mereka menyahut, “Anak haram! Kau menguji kami! Ilmu silat yang dipergunakan terang berbau daerah Gunung Lawu ... Benar, tidak?”

Kartawirya terkejut. Mendadak wajahnya jadi agak pucat. Katanya minta penjelasan. “Apakah gurunya pendeta gila yang bernama Hajar Karangpandan?” Mereka berdua tertawa mendongak.

“Ah!” Kartawirya benar-benar terkejut. Memang antara golongannya dengan Ki Hajar Karangpandan mempunyai ganjelan dalam. Dua belas tahun yang lalu, anak buah sang Dewaresi yang diutus mengawal Keris Tunggulmanik dan Bende Mataram, bisa dirampas Ki Hajar Karangpandan. Rombongan yang terdiri dari dua puluh orang, mati semua tiada seorangpun yang selamat.

“Ah, tak mungkin! Tak mungkin!” seru Kartawirya. “Pendeta gila itu mempunyai sejarah buruk terhadap sang Dewaresi. Dia seorang musuh bebuyutan kaum ningrat. Sedangkan sang Dewaresi adalah sekutu Pangeran Bumi Gede. Bagaimana bisa Pangeran Bumi Gede membiarkan puteranya berguru pada musuh kaum ningrat?”

Manyarsewu menyahut, “Apa kaukira Dewaresi mempunyai hubungan baik dengan Pangeran Bumi Gede? Eh, seperti kau tak mengenal peraturan dunia. Kalau saja sekarang mau akur, semata-mata bukan karena tali persekutuan melainkan karena kepentingan yang sama.”

“Apa itu?”
“Masa kau tak tahu? Pemimpinmu kepengin menjadi Bupati Banyumas yang syah. Sedangkan Pangeran Bumi Gede mengharap bisa mendapat bantuannya untuk suatu tujuan Jertentu.”

“Mana bisa pemimpinku gila pangkat? Biarpun bukan seorang bupati, tapi kekua-saannya melebihi seorang adipati mancanegara.” Kartawirya membela kehormatan pemimpinnya.

Manyarsewu dan Cocak Hijau tertawa melalui hidung. Sejurus kemudian berkata, “Baiklah kalau begitu kehadiranmu di Pekalongan bukankah seaneh Ki Hajar Karang-pandan menjadi guru putera Pangeran Bumi Gede?”

Kartawirya diam menimbang-nimbang. Berbicara mengenai keanehan, memang kehadiran pemimpinnya di Pekalongan untuk nemenuhi undangan Pangeran Bumi Gede susah ditebaknya.

“Pendek kata, Pangeran Bumi Gede bukan orang sembarangan. Kau tahu?” ujar Cecak Hijau. “Beliau seorang pangeran yang pandai berergaul dan yang mempunyai hari depan gemilang. Kalau sedari siang-siang kita bisa menyesuaikan diri, bukankah kita bakal kebagian rejeki? Nah, lihat pertarungan mereka!”

Mereka bertiga lantas saja melepaskan pandangannya ke arah gelanggang. Sangaji ternyata merubah tata-berkelahinya. Kini dia tak bergerak banyak. Malahan nampak seperti berajal-ajalan. Tubuhnya terjaga rapat, sehing-a ke mana saja si pemuda ningrat hendak Imelepaskan serangannya selalu batal.

“Cocak Hijau! Kau sudah tua bangkotan, coba tebak darimana asal tata-berkelahi anak muda itu!”

Cocak Hijau diam sejenak. Ia mencoba menebak. Tetapi ternyata sia-sia belaka.
Akhirnya berkata, “Kelihatannya ilmunya kacau tak karuan. Pasti bukan seorang guru-nya”.
“Kau tua bangkotan benar,” sahut Manyarsewu tertawa berkakakkan. “Melihat gerak-geriknya dia ahli waris seorang guru yang mengutamakan tenaga jasmani.”
“Hai! Bukankah hampir serupa dengan tata-berkelahinya si Kodrat dulu?” seru seseorang dari jauh sana.

Mustapa mengamat-amati orang yang berseru itu. Ternyata ia seorang laki-laki yang berperawakan pendek buntet. Kepalanya botak. Berkumis putih agak tak terpelihara. Dia mengenakan pakaian putih pula seperti Kartawirya. Meskipun Mustapa belum mengenal siapa dia, tapi dengan cepat dapat menebak kalau dia termasuk dari golongan Kartawirya anak-buah dari orang yang disebut sang Dewaresi. Nampaknya dia lebih tangguh daripada Kartawirya. Mestinya kepandaian-nyapun bukan sembarangan. Selagi dia berpikir, mendadak Kartawirya melompat ke dalam gelanggang sambil berteriak dengki, “Ah, celaka! Kaulah bocah yang main gila...!”

Semua orang kaget. Mustapa sendiri sampai tersirat darahnya. Segera ia bersiap hendak menolong Sangaji, jika Kartawirya terus menyerang. Tapi di luar dugaan, Kartawirya bukan menyerang Sangaji, melainkan mengarah kepada pemuda yang menggenakan pakaian kumal. Pemuda itu memekik terkejut. Terus dia lari berputaran sambil memekik-mekik, “Ayo! Ayo! Ayo bermain tikus-tikusan!”

Sangaji sedang menumpahkan seluruh perhatiannya, la heran, ketika mendengar suara yang sudah dikenalnya. Itulah suara pemuda kumal yang dulu menjadi temannya makan di restoran Nanking Cirebon. Tatkala ia mengerlingkan mata, hatinya terkesiap. Pemuda ini sedang diuber-uber Kartawirya yang dulu mengancamnya di losmen Cirebon. Perhatiannya jadi buyar, sehingga ia kena tendang lawannya.

“Berhenti dulu!” ia berseru, sambil melompat ke luar gelanggang. “Aku hendak pergi sebentar. Segera aku kembali.”

“Lebih baik kau mengaku kalah ...” ejek lawannya.

Sangaji tidak ada niat mau berkelahi mati-matian dengan si pemuda ningrat. Pikirannya sedang kusut, karena memikirkan nasib pemuda kumal yang sedang diuber-uber Kartawirya. Mendadak, sewaktu ia hendak mengejar Kartawirya, si pemuda kumal nampak kembali sambil tertawa senang. Ia lariberputar-putar dengan mata berseri-seri. “Ayo! Ayo! Ayo main tikus-tikusan!” Dan di belakangnya, nampak Kartawirya menguber dengan muka penasaran.

Kartawirya mencoba menubruk dengan sekuat tenaga. Tetapi si pemuda kumal ternyata sangat gesit, la meloncat tinggi dan terus lari berputaran. Dan dia benar-benar dapat bergerak segesit tikus. Karuan saja Kartawirya mendongkol bukan main sampai dadanya serasa hampir meledak. Mulutnya lantas saja bekerja, la memaki kalang kabut tak karuan juntrungnya.

Penonton jadi tertawa bergegaran. Inilah permainan lain lagi yang tak kurang menarik perhatian. Mereka bersorak-sorak gembira. Dan si pemuda kumal bertambah gembira. Ia lari berlompat-lompatan. Sekarang gayanya seperti seekor kuda lagi meloncati galah. Dan demikian Kartawirya tambah menjadi-jadi. Karena merasa dipermainkan, serentak ia menghunus sebilah golok bermata cabang tiga. Ia terus memburu sambil menyabetkan goloknya.


Seketika itu juga, penonton jadi terdiam. Hati mereka tegang luar biasa karena mence-maskan si pemuda kumal, bahkan kian edan-edanan. Dia lari berputar, kemudian melesat dengan sekali melompat. Mendadak melesat kembali seolah-olah mau menubruk dada. Karuan saja Kartawirya menjadi keripuhan. Masih dia menyabetkan goloknya. Tapi pemuda kumal itu meloncat tinggi dan di luar dugaan bisa mengemplang pipi pulang pergi, sehingga raut muka Kartawirya jadi merah ungu seperti jantung babi.

“Ayo! Ayo! Sekarang bermain kuda lumping!” teriak si pemuda kumal sambil tertawa mengejek.

Ia mencibirkan bibirnya sambil melambai-lambaikan tangannya.

“Bangsat! Jangkrik! Babi! Kambing! Itik! Iblis! Setan! Gendruwo! Kuda!” maki Karta-wirya kalang-kabut. “Kalau aku tak berhasil membeset kulitmu, lebih baik kumakan sendiri tulang-tulangku...!”

la terus melejit, tetapi si pemuda kumal tak takut. Dia bahkan memperhebat ejekannya sambil bersumbar-sumbar. Kemudian lari memasuki gelanggang. Tak lama lagi menyusup di antara penonton dan muncul kembali seperti orang bermain kucing-kucingan.

Penonton yang kena disusupi, jadi bubar berderai. Tetapi mereka bergembira. Mereka tertawa riuh bergegeran. Apa lagi jika menyaksikan Kartawirya makin lama makin jadi kalap.

Pada saat itu, muncullah tiga orang lagi yang memburu si pemuda kumal dengan serentak. Perawakan mereka berbeda-beda. Yang seorang tinggi kurus bermuka bopeng. Itulah dia si Setan Kobar. Yang kedua, berperawakan pendek gendut. Dialah Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek. Dan yang ketiga seorang pemuda bernama Maling. Merekalah dulu yang ter-gantung di atas pohon. Mereka berteriak-teriak kacau, “Kurang ajar iblis kuda! Kauanggap apa sih kami ini, lantas kaugantung di atas pohon?”

Mendengar teriakan mereka, Sangaji terkejut. Barulah kini dia sadar, kalau kawannya itu sebenarnya seorang pemuda bukan semba-rangan. Terang sekali, kalau dialah yang menggantung ketiga orang itu seorang diri.

“Hebat!”, puji Sangaji dalam hati.

Peristiwa Kartawirya dan ketiga rekannya kena dipermainkan seorang pemuda kumal, masuk dalam pembicaraan Manyarsewu dan Cocak Hijau. Manyarsewu sesungguhnya seorang pendekar sakti dari Ponorogo. Ia sampai mendapat gelar Warok Ponorogo yang disegani pendekar-pendekar sakti lainnya. Sedangkan Cocak Hijau sebenarnya bernama Andi Malawa berasal dari Makassar. la menetap di Pulau Jawa setelah kawin dengan seorang gadis dari Gresik. Semenjak itu dia mendapat gelar Cocak Hijau, karena ilmu berkelahinya yang sangat gesit bagaikan seekor burung cocak. Seringkali dia bertanding melawan pendekar-pendekar sekitar Gresik. Pernah pula melawat ke Malang, Jombang, Mojokerto dan Kediri. Akhirnya bertemu dengan Manyarsewu dan menjadi sahabat. Karena mereka berdua pernah mengadu kepandaian dan di antara mereka tidak ada yang kalah atau menang.

“Eh, Cocak Hijau!” kata Manyarsewu. “Kabarnya Kartawirya itu mempunyai gelar Singalodra. Kenapa dia kena dipermainkan anak kemarin sore? Lihat laki-laki berkepala botak, bertubuh pendek buntet itu! Dia Paman guru Kartawirya. Kelihatannya, dia men dongkol dan malu.”

“Kaukenal dia?” tanya Cocak Hijau.

“Orang itu pernah keluyuran sampai ke daerah Ponorogo. Ilmunya hebat tak tercela. Namanya Sidik Mangundirja gelar Yuyu Rum-pung. Kabarnya dia menjadi penasehat sang Dewaresi.”

Mendengar nama Yuyu Rumpung, Mustapa kaget. Diam-diam ia mengamat-amati orang berkepala botak yang berkumis serabutan dan berperawakan pendek buntet. Pernah dia berkeliling sampai ke daerah Banyumas.

Nama itu tak asing lagi baginya. Dia terkenal sakti dan galak. Hanya saja, belum pernah ia melihat orangnya. Yuyu Rumpung kelihatan gusar. Mukanya merah padam. Tangannya meremas-remas. Dan Manyarsewu terdengar berkata lagi, “Dia gusar, lihat! Maklum, keponakannya seperti bocah tiada guna sampai kena dipermainkan bocah ingusan.”

Dalam pada itu, perkelahian antara Sangaji dan si pemuda ningrat berhenti begitu saja. Si pemuda ningrat nampak letih. Ia berhasil merobohkan Sangaji sampai enam tujuh kali, tetapi benar-benar harus memeras keringat. Sebaliknya Sangaji nampak masih segar-bu-gar. Ia masih bersedia melanjutkan perkelahian.

Mustapa datang menghampiri dan berusaha membujuknya agar mengalah. Mula-mula Sangaji enggan mendengarkan bujukan Mustapa, tetapi akhirnya dia menurut. Maklumlah, tidak ada niatnya mau berkelahi mati-matian melawan si pemuda ningrat. Ketika mereka berdua mau mengundurkan diri, terdengarlah suara ribut lagi.

Si pemuda kumal datang berloncatan sambil membawa robekan kain putih. Dia tertawa dengan pandang berseri-seri. Tak lama kemudian, nampaklah Kartawirya datang memburu.

Pakaian si pesolek kini berubah tak keruan macam. Kain dadanya robek, sedang lengan bajunya buntung. Tahulah orang, kalau pemuda kumal itu telah merobek kain dada dan lengan bajunya. Maka itu mereka tertawa riuh.

Kartawirya marah bukan kepalang sampai warna mukanya biru pengab. Dengan sepenuh tenaga dia melesat mengejar si pemuda kumal yang telah menghilang lagi di antara penonton. Tak lama kemudian, datang pulalah ketiga rekannya yang berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan senjatanya. Mereka berusaha mengejar si pemuda kumal secepat mungkin. Tapi terang, ilmunya kalah jauh sehingga mereka mirip tuyul-tuyul belaka.

Semua orang heran dan geli menyaksikan mereka uber-uberan tak keruan juntrungnya. Akhirnya mereka tertawa berkakakkan seperti melihat badut. Berbareng dengan itu, terde-ngarlah suara bentakan-bentakan dari arah timur. Dua regu polisi datang menyibakkan penonton dengan menyabetkan cemetinya.

“Minggir! Minggir! Raden Ayu Bumi Gede lewat!”

Semua orang terkejut. Buru-buru mereka menyibakkan diri. Buat Kota Pekalongan, kedatangannya seorang isteri pangeran adalah jarang terjadi. Itulah sebabnya mereka ingin melihat kaya apa seorang isteri pangeran, seolah-olah dia bukan termasuk golongan manusia yang doyan makan dan minum.

Mendengar suara polisi dan melihat kesibukan orang, si pemuda ningrat mengeri-nyitkan dahi. Terdengar ia menggerutu, “Siapa yang lapor aku berada di sini?”

Para pengiringnya, tidak ada yang berani menjawab. Memang salah seorang di antara mereka ada yang lari melaporkan peristiwa perkelahiannya dengan Sangaji. Mendapat laporan itu, Raden Ayu Bumi Gede segera datang dengan berkendaraan kereta berkuda.

Mustapa mendongakkan kepala. Ingin ia mendapat penglihatan agak luas. Diapun ter-masuk seseorang yang belum pernah melihat wajah isteri kaum ningrat tinggi. Selain isteri-isteri kaum ningrat tinggi itu jarang sekali men-jengukkan diri di luar rumah, merekapun tinggal di dua buah kota kerajaan belaka. Yakni Surakarta dan Yogyakarta.

Tak lama kemudian sebuah kereta berkuda empat datang bergeritan. Kereta itu berhenti di pinggir lapangan. Beberapa pengiring lantas menghampiri dan membungkuk hormat. Dari dalam kereta, terdengarlah suara seorang wanita, “Mana dia? Panggil kemari! Mengapa dia berkelahi di sembarang tempat?”

Mustapa mendengar suara wanita itu cukup terang. Mendadak sekujur badannya menggigil. Mukanya pucat dan bibirnya bergetaran lembut. Pendengarannya seolah menangkap suatu suara yang telah lama dikenalnya. Diam-diam ia berpikir keras, “Ih! Mengapa dia? Apa benar dia? Masa dia?”


Tiba-tiba dia tertawa perlahan mengejek dirinya sendiri. Pikirnya pula, hmm... kalau pikiran sedang angot... mana bisa dia isteriku...

Waktu itu Nuraini datang mendekati. Ia mencemaskan dirinya karena kelihatan berubah wajahnya. Menimbang kalau dia lagi luka parah, ia mengira rasa sakitnya tak terta-hankan lagi. Maka hati-hati Nuraini minta penjelasan, “Ayah, istirahatlah! Mengapa ...?”

Mustapa terkejut. Ia menoleh, lalu tersenyum pahit. Setelah itu penglihatannya dilemparkan kembali ke arah kereta berkuda, la mulai berpikir keras lagi. Kesan pende-ngarannya benar-benar mengejutkan hatinya.

Waktu itu si pemuda ningrat telah menghadap ibunya. Nampak sekali, kalau dia manja benar pada ibunya. Ia menjengukkan kepalanya ke dalam kereta sambil berbicara tak begitu terang. Ibunya—yang disebut Raden Ayu Bumi Gede—terdengar pula berbicara. Lamat-lamat dia berkata, “Mengapa berkelahi? Lihat, kau tak mengenakan baju luar. Kalau sampai masuk angin, apa jadinya?”

”Ibu. aku sedang bermain-main. Bukan berkelahi seperti Ibu sangka,” si pemuda ningrat memberi keterangan.
Lengan Raden Ayu Bumi Gede, nampak menjulur dari balik dinding kereta. Lengan itu berwarna kuning manis dan berkesan bersih. Kemudian terdengar Raden Ayu Bumi Gede berkata agak terang, “Pakailah bajumu! Mari kita ke Kadipaten! Ayahmu sudah lama menunggu kehadiranmu.”

Mendengar suara terang itu, kembali Mustapa terkejut sampai tubuhnya bergetaran. Tak disadari sendiri, mulutnya berkomat-uml 'Ah, masa dia? Apa benar ada dua wanita yang mirip suaranya di dalam pagutan hidup ini? Mana bisa!”

Nuraini yang berdiri dekat padanya, kembali minta penjelasan, “Ayah berbicara dengan siapa?'

Mustapa terkejut. Gugup ia menjawab sambi tersenyum pahit seakan-akan mengejek dirinya sendiri, “Ah, pikiranku sedang angot, anakku. Aku teringat kepada ibumu.”

Mendengar keterangannya, Nuraini jadi perasa. Berkatalah dia menenteramkan, “Bukankah Ibu telah lama meninggal dunia?”

Maksud Mustapa hendak mewartakan tentang isterinya, tetapi Nuraini mengira dia sedang membicarakan ibu kandungnya. Meskipun demikian, Mustapa tidak berusaha menjelaskan. Kembali ia tersenyum pahit sambil menjenak napas.

Seorang pengiring segera memungut jaket si pemuda ningrat yang dibuang Sangaji ke tanah tatkala menungkrap kepalanya. Pengiring itu agaknya hendak membuat jasa di hadapan Raden Ayu Bumi Gede. Dengan mata melotot ia mendamprat Sangaji.

“Kau monyet kampungan! Lihat, kau membikin kotor jaket nDoromas.”
Sangaji tak meladeni. Melihat sikap orang, pengiring itu memperoleh hati. Terdorong oleh suatu keinginan hati agar mendapat pujian Raden Ayu Bumi Gede dan mengira pula Sangaji seorang pemuda kampung yang tidak berkepandaian, pengiring itu lantas saja meng-hampiri dengan membawa cambuk. Dengan sekuat tenaga ia mengayunkan cambuknya hendak menghajar Sangaji sesuka hatinya. Tak tahunya, Sangaji meloncat membela diri. De-ngan sebelah tangan ia menangkap lengannya, kemudian tangannya menyapu sambil me-nyodokkan siku. Tak ampun lagi, si pengiring yang malang itu jatuh roboh terguling. Sangaji nampaknya benar-benar mendongkol bercampur dengki. Serentak ia merampas cambuk itu dan disabetkan pulang balik ke muka si pengiring sampai babak belur berbentong-bentong.

Sebagian penonton yang tadi kena gertak dan cemeti polisi, diam-diam memuji kebera-nian Sangaji. Mereka bersyukur dalam hati, menyaksikan salah seorang pengawal kereta berkuda kena hajar.

Tetapi polisi-polisi yang lain, yang menjadi pula pengiring istri Pangeran Bumi Gede, dating membela rekannya. Mereka lantas mengepung Sangaji dan menyerang setengah kalap karena gusar. Sangaji tidak gentar. Dengan cekatan ia menangkap salah seorang di antara mereka, lalu dilemparkan ke udara. Belum lagi orang itu jatuh ke tanah, lainnya terlempar pula. Begitulah saling susul seperti bola keranjang terjun dari udara ke udara.

Penonton bersorak gembira, mengagumi keperkasaan Sangaji. Sebaliknya si pemuda ningrat jadi penasaran. Segera ia melompat kembali ke tengah gelanggang sambil membentak, “Hai! Kau masih saja berani ugal-ugalan di depanku?”

Terus saja ia menyambar Sangaji yang sedang menerkam dua orang polisi. Sangaji tak menjadi gugup. Cepat ia mendorong dua orang polisi itu sebagai perisai. Maka celakalah nasib mereka berdua. Mereka kena hajar majikannya sendiri, sampai berkaok-kaok kesakitan.

Si pemuda ningrat semakin bertambah gusar. Lantas saja ia merangsak maju dengan melepaskan jurus-jurus berbahaya. Sangaji mengelak dan membela diri. Dan sebentar saja, mereka berdua bertempur kembali.

“Jangan berkelahi! Tahan!” teriak Raden Ayu Bumi Gede dari dalam keretanya sambil melongok ke luar jendela.
Agaknya pemuda ningrat itu biasa dimanjakan ibunya. Ternyata ia tak mendengarkan larangan ibunya, malahan menjawab, “Ibu! Biar kulabraknya bocah kampungan ini!”

la lantas memperhebat tekanan. Terang sekali, maksudnya hendak mencari muka dan memamerkan kepandaiannya pula kepada ibunya. Tetapi ia kecele. Sampai lebih dari empat belas jurus, serangannya selalu saja kena digagalkan Sangaji. Itulah sebabnya, kini ia benar-benar menumpahkan seluruh perhatiannya. Ia, merangsak dan merangsak tiada henti. Akhirnya pada jurus ke delapan belas, ia berhasil merobohkan Sangaji sampai dua kali berturut-turut.

Dalam pada itu Mustapa tidak lagi menaruh perhatian kepada perkelahian itu. Pandangannya lagi dipusatkan kepada Ibu si pemuda ningrat yang menjengukkan kepalanya di jendela kereta. Ternyata Raden Ayu Bumi Gede seorang perempuan yang berwajah manis luar biasa. Rambutnya tersisir rapi dan digelung bagus. Padang raut mukanya terang ben-derang, karena bermata cemerlang, beralis tebal dan berhidung mungil. Di atas bibirnya bersemayam sebuah tahi lalat hitam menyolok. Inilah suatu keselarasan yang jarang terdapat di kolong dunia. Dan begitu Mustapa mengamat-amati wajah perempuan itu, lantas saja berdiri terpaku dengan pandang mata tak berkedip.

Sangaji kala itu, kena dirobohkan lagi. Tetapi ia emoh menyerah kalah. Bahkan kian lama kian ngotot. Tubuhnya seolah-olah kian perkasa bagaikan sebuah patung besi. Sekarang, ia tak bisa dirobohkan lagi. Gerak geriknya mantap dan berbahaya.

Si pemuda ningrat heran sampai tercengang sebentar. Tak dapat ia menebak, mengapa lawannya bertambah lama nampak bertambah kuat serta ulet. Kalau tadi ia berhasil me-robohkan manakala kakinya mengenai sasaran, kini jatuh sebaliknya. Beberapa kali ia melepaskan tendangan. Tetapi aneh! Sangaji tak bergeming. Malahan terasa tenaganya kena terhisap. Ia tak mengerti khasiat pohon sakti pohon Dewadaru yang telah mendarah daging dalam tubuh Sangaji. Seseorang yang telah menghisap getah pohon itu, akan bertambah kuat dan kuat manakala tubuhnya terus bergerak. Karena otot-ototnya lantas menjadi kejang dan aliran darahnyapun semakin cepat. Darah ini seperti berdesakan mencari tempat dan berusaha meruap keluar. Apabila tubuh kena pukulan, dengan sedirinya bebareng mendesak melegakan diri. Itulah sebabnya, Sangaji tak mempan kena pukulan betapa keraspun. Ia nampak seperti orang kebal yang tahan melawan tajamnya senjata atau peluru.

Dalam pada itu, si pemuda kumal dan Kartawirya nampak kembali berlari-larian me-masuki gelanggang. Kali ini keadaan Kartawirya tambah korat-karit. Rambutnya jadi awut-awutan dan wajahnya keruh seperti babi terpanggang. Goloknya yang bercabang tiga nampak mentublas selembar kertas cukup besar yang tertera sederet tulisan: “Babi ini dilelangkan.”

Dengan demikian, terang-terangan Kartawirya dianggap sebagai seekor babi yang hendak dilelangkan karena tiada guna. Sudah barang tentu, mereka yang dapat membaca tulisan itu sekaligus tertawa berkakakkan. Sedangkan yang buta-huruf buru-buru minta penjelasan. Apabila telah mendapat penjelasan segera mereka tertawa bergegeran.

Si pemuda kumal benar-benar hendak nsempermain-mainkan Kartawirya sepuas-puas harinya, la lari bolak-balik sambil meloncat-loncat gesit. Tak lama kemudian, ia me-ngduarkan segulung kertas lagi yang ada tulisannnya pula. Entah kapan ia menulis, orang tak tahu. Hanya saja gulungan kertas itu lantas dipetang pada sebilah tongkat semacam bendera. Dan di antara kibaran angin terbacalah uksannya: “Minggir! Minggir! Babi hitam itu terlalu galak!”

Keruan saja, penonton yang bisa membaca bertambah tertawa gelak. Mereka sampai berlompat-lompatan ke udara karena geli bercampur kagum. Tak lama lagi munculah Tiga badut lainnya. Merekalah si Setan Kobar, Cekatik gelar Simpit Ceker Bebek dan Maling. Mefeka beriari-larian seperti sedang berlomba. pada pantatnya masing-masing terpancang tali panjang seperti ekor. Pada ujungnya tertempel selembar kertas pula, yang berkibar-kibar ke udara. Kertas inipun ada hurufnya yang terbaca cukup terang: “Inilah anak-anak kuda binal.”

Manjarsewu dan Cocak Hijau tercengang-cengang sampai berdiri bengong. Terang sekali, mereka bertiga kena dirobohkan si pemuda kumal. Mukanya nampak benjut dan gosong. Lantas saja mereka berdua sibuk menduga-duga tentang si pemuda kumal.

Sangaji sedang bertempur dengan sengitnya melawan si pemuda ningrat, la tak mempunyai kesempatan untuk melihat permainan badut-badutan itu. Lengannya kena dihajar dua kali oleh lawannya. Tetapi segera ia dapat membalas dua kali pula dan kini berkelahi dengan menggunakan jurus-jurus gabungan ajaran Wirapati dan Jaga Saradenta. Dia nampak tangguh, kuat, bengis, dan berbahaya. Si pemuda ningrat sendiri lantas saja terpaksa mengeluarkan ilmu simpanannya yang berbahaya. Dengan demikian, kedua-duanya terancam oleh suatu serangan yang bisa mengakibatkan luka parah tak terlukiskan.

Manjarsewu, Cocak Hijau dan Yuyu Rum-pung yang merasa diri sebagai, pendekar sakti, tahu menjaga kehormatan diri. Mereka tak mau melerai atau mencampuri urusan. Hanya saja mereka nampak mengkhawatirkan keselamatan si pemuda ningrat. Karena itu nampak sekali, kalau mereka sedang bersiaga membantu si pemuda ningrat, apabila benar-benar dalam keadaan berbahaya. Tetapi munculnya si pemuda kumal, sedikit banyak mengganggu juga pemusatan perhatiannya. Apalagi Yuyu Rumpung. Orang tua bertubuh pendek buntet itu merasa sebal, menyaksikan kemenakan muridnya kena dipermainkan si pemuda kumal demikian rupa.

Makin lama Sangaji kelihatan makin gagah. Hal ini tidak mengherankan. Getah Dewa-daru kini benar-benar sedang bekerja. Getah sakti itu seolah-olah ikut bertempur dengan sibuknya. Sebaliknya si pemuda ningrat nampak letih. Maklumlah, sebagai seorang yang biasa hidup dimanjakan di dalam istana mungkin juga kurang berlatih dengan sungguh-sungguh. Itulah sebabnya, lambat laun ia jadi terdesak. Sekarang bahkan hanya bisa membela diri saja. Mendadak Sangaji melompat menerkam. Cepat-cepat ia meninju sejadi-jadi-nya dengan maksud menahan serangan. Tetapi Sangaji dapat berlaku sebat. Gerakannya lebih cepat. Dengan tangan kanan ia membentur siku si pemuda ningrat. Berbareng dengan itu tangan kirinya maju membekuk leher.

Si pemuda ningrat benar-benar terkejut. Tak diduganya, kalau lawannya bisa berlaku sehebat itu dalam saat-saat menunggu tenaga terakhir. Cepat-cepat ia meniru gerakan Sangaji. Tangannya lantas juga membekuk leher. Dengan begitu kedua pemuda itu saling berkutat mempertahankan batang lehernya.

Beberapa waktu kemudian, keadaan mereka bertambah berbahaya. Masing-masing berusaha hendak mematahkan tulang lengan dan tulang leher dengan berbareng. Tangan yang satu mencekik dan yang lain memutar lengan.

Semua orang yang memperhatikan pertarungan itu memekik kaget. Ibu si pemuda ningrat yang berada di keretapun kelihatan pucat. Nuraini yang di dekat Mustapa pucat pula.

Manyarsewu, Cocak Hijau dan Yuyu Rumpung lantas saja berjaga-jaga siap menolong si pemuda ningrat.

Tetapi sejurus kemudian pertarungan antara Sangaji dan si pemuda ningrat berubah de-ngan tiba-tiba. Dia diajak berkutat mengerahkan segenap tenaga. Sekonyong-konyong dia menarik seluruh tenaganya, sehingga terasa menjadi lenyap. Sangaji kaget. Sebelum sadar akan akibatnya, si pemuda ningrat merenggutkan diri dan berhasil menggaplok muka Sangaji sampai kelabakan. Dan benar-benar Sangaji terkejut kena gaplokan itu. Matanya sampai berkunang-kunang dan kepalanya serasa berputaran. Untung dia tidak kehilangan akal. Secepat kilat ia tata-berke-lahinya. Teringatlah dia pada ajaran Jaga Saradenta. Maka tanpa ragu-ragu lagi ia menangkap pinggang lawannya dan di angkat ke udara. Kemudian dengan mengerahkan tenaga ia melemparkan sekuat-kuatnya. Tetapi si pemuda ningrat bukannya lawan yang lemah, la tahu bahaya. Begitu dirinya terapung di udara, segera teringatlah jurus-jurus ilmunya. Sebelum tubuhnya mendarat ke tanah ia menjejak keras. Seketika itu juga, tubuhnya melesat seperti sebatang tombak terlem-parkan. Dengan cepat ia menyambar paha Sangaji dan didorongnya sepenuh tenaga.

Kena dorongan tak terduga itu, Sangaji roboh terguling. Melihat Sangaji terguling, pemuda ningrat itu melesat lagi menyambar tombak salah seorang pengiringnya. Kemudian menikam tubuh lawannya. Terang sekali, hawa pembunuhan mulai berbicara. Itulah sebabnya penonton lantas saja mundur berserakan. Sebaliknya di luar dugaan, Sangaji cukup berwaspada. Begitu melihat berkelebatnya mata tombak, dengan gesit dia menggulingkan diri. Tetapi lawannya terus memburu dengan menikamkan tombak tiada hentinya. Maka terpaksalah ia menjejak tanah dengan mengerahkan seluruh tenaganya. Sekali melesat ia dapat berdiri tegak berbareng dengan menghunus pedang hadiah Willem Erbefeld. Sekarang pertempuran dilanjutkan dengari mengadu senjata masing-masing. Sangaji menggunakan ilmu pedang ajaran Wirapati, sedangkan si pemuda ningrat menggunakan ilmu tombak gaya Bali. Melihat gaya itu, Mustapa terkejut.

“Ah!” ia komat-kamit. “Pemuda itu mengenal ilmu tombak Bali. Siapa gurunya?”

Suasana gelanggang pertarungan kini benar-benar menjadi sibuk tegang. Banyak penonton yang mundur ketakutan. Raden Ayu Bumi Gede sampai pula memekik-mekik menyerukan pertolongan. Mendengar pekik Raden Ayu Gede, Cocak Hijau ingin membuat jasa. Segera ia melesat ke dalam gelanggang pertarungan dan sekali depak berhasil mementalkan pedang Sangaji sehingga terapung tinggi di udara.

Sangaji terkejut bukan kepalang. Cepat ia mundur, tetapi kalah gesit. Tahu-tahu ia kena hajar pundaknya. Hebat akibatnya. Selama berguru kepada Wirapati dan Jaga Saradenta belum pernah ia bertemu pukulan sekuat itu. Kecuali kala kena terkam Pringgasakti. Itulah sebabnya, lengannya lantas saja lumpuh tak dapat digerakkan.

“nDoromas! Minggir! Biar kutamatkan riwayat bocah itu, agar nDoromas bebas dari gangguannya ...” kata Cocak Hijau.

Habis berkata demikian, dengan gesit ia meloncat lagi dan menerjang. Sangaji tak ber-daya mempertahankan diri. Masih dia berusaha menangkis, tetapi bagaimana mampu melawan tenaga Cocak Hijau yang dahsyat, la berguling bergelimpangan di tanah. Tatkala itu dalam sekilas pandang ia melihat telapak kaki Cocak Hijau terjun hendak menginjak lehernya. Cepat ia bergulingan. Tetapi Cocak Hujau lebih gesit lagi. Berbareng dengan datangnya bahaya, mendadak nampaklah sesosok bayangan melesat ke dalam gelanggang. Kaki Cocak Hijau kena terbentur. Masing-masing terpental satu langkah dan berdiri bergoyangan.

Cocak Hijau terperanjat. Pembela Sangaji terperanjat pula. Mereka lantas saling menga-mat-amati. Ternyata penolong Sangaji adalah seorang laki-laki berumur kurang lebih 60 tahun. Rambutnya nampak putih dan sebagian kepalanya tertutup oleh kopiah hitam. Mukanya licin, sama sekali tak berkumis atau berjenggot. Ini menandakan, kalau orang itu gemar pada kebersihan. Pakaian yang dikenakan warnanya agak kelabu.

“Apakah Tuan yang bernama Cocak Hijau, pendekar dari Gresik?” kata orang itu. “Hari ini aku yang rendah dapat berjumpa dengan Tuan, alangkah besar rejekiku.”

“Hm ... bagaimana berani kamu menyebut diriku sebagai pendekar Gresik,” sahut Cocak Hijau dengan suara parau. “Namaku sebenarnya Daeng Malawa. Cuma orang usilan saja yang menyebut diriku Cocak Hijau. Bolehkah aku mengenal nama Tuan dan gelar Tuan?”

Orang itu tersenyum manis. “Aku seorang pegunungan. Padepokanku berada di sebelah selatan Gunung Lawu ...” jawabnya dengan takzim.

“Ih!” potong Cocak Hijau terkejut. “Apakah Tuan yang di sebut Panembahan Tirtomoyo? Ah, mataku buta sampai tak mengenal tingginya gunung dan dalamnya lautan. Maafkan aku ...”
Mendengar disebutnya nama itu, Manyarsewu dan Yuyu Rumpung ikut pula terperanjat. Hanya mereka yang masih asing bagi pendengarannya tiada mempunyai kesan. Mereka hanya kagum atas kegesitannya tadi. Diam-diam mereka memperhatikan warna dan potongan pakaian yang dikenakan. Kesan mukanya dan pribadinya.

Sebaliknya, Manyarsewu dan Yuyu Rum-pung nampak mengerinyitkan dahinya. Sudah lama mareka mengenal nama itu. Suatu nama yang agung bersemarak melintasi gunung-gunung. Bagaimana tidak? Panembahan Tirtomoyo adalah seorang saleh. Kecuali itu sakti dan berwibawa besar. Pada jaman Perang Giyanti, ia adalah seorang pejuang ulung di samping Raden Mas Said. Banyak sekali jasanya dalam sejarah kebangkitan Kerajaan Mangkunegoro.

Dengan tersenyum ramah, Panembahan Tirtomoyo menghampiri Sangaji dan berkata kepada Cocak Hijau, “Sama sekali aku tak kenal bocah ini. Aku hanya tertarik pada kemuliaan hatinya dan kegagahannya. Karena dorongan hati itu, aku memberanikan diri terjun ke dalam gelanggang dengan maksud memohon ampun pada Tuan.”

Melihat sikapnya yang sopan santun dan tahu merendahkan diri, semua orang lekas saja terpikat. Cocak Hijau sendiri jadi segan pula. Dengan membungkuk hormat, ia me-nyatakan persetujuannya.

Panembahan Tirtomoyo membungkuk hormat juga dan menyatakan terima kasih beru-lang kali. Tatkala memutar tubuh hendak meninggalkan gelanggang, mendadak pedangnya bersinar tajam kepada si pemuda ningrat. Berkata angker, “Siapa namamu? Siapa pula gurumu?”

Tatkala si pemuda ningrat mendengar nama Panembahan Tirtomoyo, ia sudah menjadi gelisah. Agaknya ia pernah mendengar nama itu. Segera ia hendak berlalu, mendadak ia kena pandang. Gugup ia menjawab pertanyaan Panembahan Tirtomoyo, “Aku putra Pangeran Bumi Gede. Nama guruku tak dapat kusebutkan di sini.”

“Hm! Bukankah gurumu pendeta edan-edanan dari Karangpandan?” bentak Panem-bahan Tirtomoyo.

Untuk mempertahankan harga diri dan menutupi rasa gugupnya, si pemuda ningrat tertawa cekikikkan. Ia hendak membelokan perhatian.

Tetapi ia terkesiap ketika melihat pandang Panembahan Tirtomoyo yang menyala seperti sebilah belati menusuk ulu hati. Maka kuncuplah hatinya dan segera ia mengangguk.

“Hm! Memang sudah kuduga, kamu murid adikku.” Kata Panembahan Tirtomoyo. “Bagus benar kelakuanmu. Apa kau tak pernah menerima petuah gurumu? Apa kau tak per-nah menerima pesan-pesan sumpah suatu perguruan?”

Pemuda ningrat itu tampak berubah air mukanya. Benar-benar hatinya kuncup kena pandang
Panembahan Tirtomoyo. Selagi dia kebingungan, mendadak ibunya memanggil, “Ayo pulang!
Apa lagi yang kautunggu?”


Lega hatinya mendengar panggilan itu. Dengan demikian ia mempunyai alasan untuk meninggalkan lapangan. Tetapi teringat akan kata-kata Penembahan Tirtomoyo, kalau gurunya adalah adiknya ia jadi cemas. Khawatir jika sepak terjangnya pada hari itu terdengar oleh gurunya yang sok edan-edanan, segera ia mengubah sikapnya yang keagung-agungan. Cepat-cepat ia membungkuk memberi hormat kepada Panembahan Tirtomoyo seraya berkata takzim, “Paman mengenal guruku. Karena itu, sudilah Paman datang berkunjung ke rumah pon-dokanku di kota ini. Ingin aku mendengar petuah-petuah Paman yang lebih mendalam. Pasti ada guna-faedahnya bagiku.”

Penembahan Tirtomoyo bukanlah seorang anak kemarin sore. Ia seorang yang mempu-nyai pergaulan luas dalam kalangan ningrat.

Maka ia tahu pula arah lagak-lagunya. Dengan suara dingin ia menjawab, “Hm.”

Pemuda ningrat itu benar-benar cerdik. Melihat gelagat kurang baik, segera ia meng-hampiri Sangaji sambil membungkuk takzim. Berkata merendahkan diri, “Saudara! Kalag tidak bertempur, pastilah kita berdua tak bakal saling mengenal. Aku sangat mengagumi ilmu kepandaianmu. Maka itu, perkenankan pula aku mengundangmu juga datang berkunjung ke pondokanku. Ini bukan rumahku, tapi aku punya keleluasaan untuk menerima tamu undanganku. Maukah kau memenuhi harapanku ini demi memperkokoh suatu persahabatan?”

Tetapi Sangaji bukanlah seorang pemuda yang bisa menyesuaikan diri dengan suatu perubahan pembicaraan. Hatinya terlalu sederhana dan utuh. Tanpa menjawab, ia menuding kepada Nuraini sambil berkata, “Bagaimana soal perjodohanmu dengan Nona itu?”

Keruan saja si pemuda ningrat jadi tersipu-sipu. Cepat-cepat ia berusaha menyembunyi-kan peristiwa itu di hadapan ibunya. Berkata mengesankan, “Hal itu akan kita bicarakan bersama dengan perlahan-lahan.”

Mendengar jawabannya, Mustapa menghampiri Sangaji dan menarik lengannya ber-bisik, “Anak muda, mari kita pulang! Apa perlu melayani seorang bangsat kecil?”

Meskipun diucapkan dengan berbisik, tetapi pemuda ningrat itu mendengar tiap patah katanya dengan jelas. Menuruti tabiat dan harga dirinya, pasti ia akan mengumbar rasa mendongkolnya. Tetapi ia nampak tersenyum seolah-olah hendak memperlihatkan kesa-barannya. Semua orang tahu, kalau dia segan terhadap Panembahan Tirtomoyo.

“Paman.” Katanya sejurus kemudian kepada Panembahan Tirtomoyo. “Sampai di sini kita berpisah. Benar-benar aku menunggu kunjungan Paman.”
Setelah berkata demikian, cepat ia mengundurkan diri dan lari melompat ke dalam kere-ta.
Segera sais membentak kuda-kudanya dan kereta berangkat dengan bergeritan.

Panembahan Tirtomoyo mendongkol menyaksikan sikap pemuda ningrat yang keagung-agungan itu. Dahulu, Raden Mas Said yang terkenal dengan Pangeran Samber Nyawa tak berani berlaku keagung-agungan terhadapnya. Sekarang melihat sepak terjang pemuda itu, ia merasa seperti diingusi terang-terangan. Tetapi sebagai seorang pendeta yang saleh, lekas saja ia menenangkan diri. Kepada Sangaji ia lalu berkata ramah, “Bocah. Kamu ikutlah denganku!”

“Aku hendak menunggu sahabatku dahulu ...” sahut Sangaji. la melingukkan kepala mencari sahabatnya si pemuda kumal. Mendadak saja si pemuda kumal telah berada di depan-nya. Ia berkata sambil celingukan, “Jangan risaukan aku. Aku tak kurang suatu apa... Aku nanti datang mencarimu. Apakah kamu telah membuka lipatan kertasku? ...” setelah berkata demikian ia berlari menyusup di antara penonton, karena mendengar langkah sera-butan.

Tak lama kemudian, Kartawirya nampak mendatangi. Orang itu benar-benar sudah bangkrut. Kumisnya yang tebal tinggal separo, seperti habis kena cabut. Darahnya nampak masih mengental di sudut-sudut bibir dan hidungnya.

Sangaji  tertawa  dalam  hati.  Tahulah  dia,  kalau  orang  itu  kena  diselomoti  sahabatnya.  Tapi teringat pada ancamannya kala di losmen Cirebon, segera ia membungkuk pada Pa-nembahan Tirtomoyo untuk mencari perlindungan. Katanya dengan hormat, “Aki, terima kasih atas bantuan Aki...”

Panembahan Tirtomoyo tidak melayani upacara itu. Sebat ia menangkap pergelangan Sangaji, kemudian dibawanya berlalu meninggalkan gelanggang. Cepat sekali jalannya, se-hingga tahu-tahu sudah berada di jalanan kota sebelah timur.

Makin lama makin cepat langkah Panembahan Tirtomoyo. Ia seperti hendak menguji kecakapan Sangaji. Ketika menyaksikan napas Sangaji tetap berjalan dengan wajar dan sama sekali tidak berangsur, diam-diam ia heran. Untuk mendapat keyakinan, ia kini mengajak Sangaji berlari-larian. Mula-mula perlahan-lahan, lambat laun kencang bagaikan angin.

Sangaji pernah mendapat petunjuk-petunjuk yang berguna dari Ki Tujungbiru tentang menguasai pernapasan. Itulah sebabnya, fa tetap dapat mengikuti larinya Panembahan Tirtomoyo dengan napas wajar.

“Eh!” Panembahan Tirtomoyo heran. “Dasarmu bagus! Mengapa kau tak dapat menga-lahkan pemuda tadi?”

Tak tahu Sangaji, bagaimana harus menjawab pertanyaan Panembahan Tirtomoyo. Karena itu ia hanya tertawa panjang dengan kepala kosong.

“Siapa gurumu?”
“Guruku dua orang?” jawabnya. “Tetapi ada pula seorang yang memberi petunjuk tentang laku bersemedi dan cara menguasai tenaga dan pernafasan.”
“Siapa dia?” tanya Panembahan Tirtomojo cepat.

“Orang menyebutkannya Ki Tunjungbiru. Tapi menurut guruku, dia bernama Otong Darmawijaya asal dari Banten.”
Mendengar nama itu, mendadak saja Panembahan Tirtomojo girang. Dengan menekam tangan Sangaji, dia berkata,
“Engkau beruntung, bocah. Bagus! Aku kenal siapa dia itu. Eh, siapa namamu?” “Sangaji.”
“Namamu tak buruk pula.” Ujar Panembahan Tirtomojo. “Tahukah kau siapakah guru pemuda ningrat tadi?” Sangaji menggelengkan kepala.

***


Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "BENDE MATARAM JILID 11 SI PEMUDA KUMAL"

Posting Komentar