Serba-serbi tentang Ilmu Kasepuhan dan Merpati Putih



Oleh : Mas Gunggung (28 Maret 2016)

MP DAN -ISME
Ada yang bertanya kepada saya, untuk apa saya meneliti sampai se-detail itu, melakukan studi kasus dengan Yoga, kungfu China, dll, bahkan hingga pada paham ISM (taoism, buddhism, zen, tasawuf, dll), menulis banyak-banyak, padahal belum tentu MP menghargai atau orang-orang bisa menerima apa yang saya lakukan ini? Terus terang jawabannya tidak bisa singkat, entahlah, barangkali jawaban singkat hanyalah karena "saya ini orangnya penasaran" dan "saya ini orang bodoh". Barangkali, tahapan ainul yaqin, ilmul yaqin, dan haqul yaqin perlu saya dapatkan. Ainul yaqin merupakan tahap terendah dimana seseorang menggunakan panca indra dalam memahami realitas yang ada dilapangan. Ilmul yaqin merupakan tahap lebih tinggi yakni ketika menggunakan 'pikiran' untuk mencoba memahami sesuatu yang berada diatas panca indra. Sementara haqul yaqin merupakan tahap yang tertinggi dimana seseorang menggunakan hati/roso sak jroning roso/qolbu/otak jantung dalam memahami realitas yang ada dilapangan. Ini sering disebut sebagai Kesadaran Inderawi, Kesadaran Rasional, dan Kesadaran Spiritual.

Setiap pemahaman ini bisa dicapai secara berjenjang ataupun mengalami toleransi akan salah satunya yang akan ditemui dalam suatu kadarnya. Misalnya, meski ainul yaqin saya belum pernah melihat akan suatu 'keajaiban' akan ilmu Lebur Sekethi namun saya bisa menggunakan akal saya untuk menganalisa pengetahuan yang ada secara kolektif cerita, dan apabila dirasa didadapatkan suatu pemahaman yang 'masuk akal' saya maka saya bisa menerima hal-hal seperti itu. Tentunya ada juga yang meski ilmul yaqin ternyata belum 'nyampe' oleh karena satu dan lain hal, namun haqul yaqin bisa saja didapatkan manakala seseorang merasa suatu pemahaman itu 'masuk hati' di dirinya. Ketiga jenis pemahaman ini bersifat sangat subyektif pada setiap orang. Perluasan masing-masing pemahaman inipun berbeda pada tiap orang.

Dalam hal memahami ketiganya, tentu saja akan muncul kondisi subyektif berdasarkan 'akal' setiap orang. 'Akal' ini akan setuju atau tidak setuju berdasarkan catatan-catatan kehidupan yang dialaminya sehari-hari. Dalam bahasa ajaran Ki Ageng Suryomentaram hal ini disebut dengan si Kramadangsa yang kemudian mengumpulkan semua catatan-catatan kehidupan yang dialaminya sedemikian rupa menjadi golongan-golongan atau kategori-kategori tertentu. Masalahnya, ketika sudah mengerucut menjadi sebuah kategori apabila tidak dibarengi dengan kedewasaan maka yang timbul umumnya sebuah paham ekslusivitas, yakni suatu paham yang menganggap dirinya ekslusif dan paling benar diantara yang lain. Apabila seseorang menganggap dirinya paling benar namun ia tidak menganggap rendah/sesat orang lain itu masih lebih baik dibandingkan dirinya merasa ekslusif lalu menganggap yang lain rendah/sesat. Pengerucutan pengetahuan berupa catatan-catatan kehidupan ini apabila tidak disikapi dengan baik jelas akan berbeda satu dengan yang lain. Maka bersikap wajar, natural, akan mengurangi potensi paham ekslusivitas. Ajaran Jawa sebenarnya sudah memberitahu ini berdasarkan Serat Wulangreh kanjeng Sunan Pakubuwana IV pada pupuh Gambuh yang menghasilkan konsep "ojo adigang, adigung, adiguna".

Dalam tatanan Jawa pun sebenarnya kita diajari bahwa pencapaian pemahaman itu mesti dilandasi oleh "ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman". Inilah sebabnya apabila seseorang yang belajar ilmu jawa sebenarnya menuju pada ilmu Kasepuhan namun ia mesti akan ketemu atau melalui ilmu Kanuragan. Manakala ketemu dengan itu, ojo kagetan, lewati saja, tetap arahnya menuju ilmu Kasepuhan. Kaidah ini akan menolong kita untuk bersikap wajar, apa adanya, sesuai dengan kondisi kita saat ini, tidak berangan-angan, tidak berambisi, natural saja. Atau seperti kata ajaran Suryomentaraman yakni Saiki, Ngene, Neng Kene. Menunjukkan untuk menerima kondisi real yang kita dapati sekarang ini, apa adanya, dan sesuai dengan keadaan diri kita.

Semua tulisan-tulisan saya bukanlah untuk merendahkan orang, atau meremehkan siapapun, atau lebih jauh merendahkan MP. Menariknya, saya justru menjadi semakin mencintai MP dengan pengembaraan mersudi pikir seperti ini. Saya jadi mulai memahami benang merahnya antara satu dengan yang lain. Saya mulai menemukan kebijaksanan-kebijaksaan dalam tahapan latihan-latihannya, dan banyak lagi. Meluasnya pemahaman ini malah tidak menjadikan MP saya berantakan. Malah saya jadi semakin bisa melihat kemana dan bagaimana arah keilmuan MP ini. Tentunya, ini adalah pemahaman saya saat ini yang bisa akan berbeda dengan orang lain. Melalui pengembaraan ini, saya diajari untuk menghargai perbedaan, mencari kesamaan pandangan, lalu membiarkan semua itu sebagaimana adanya. Tidak ingin membenturkan atau berbenturan dengan pemahaman yang lain. Semua ada kadarnya, dan semua ada wilayahnya. Namun apabila dirasa tulisan saya terkesan keras hingga ada yang terluka hatinya, saya dari lubuk hati yang paling dalam memohon maaf sebesar-besarnya. Memang cukup sulit untuk menggunakan bahasa yang 'halus' manakala berbagai jurnal dan buku sudah saya 'lahap'. Sedikit banyak, mestilah terbawa pola pikir penulis-penulis yang pernah saya baca. Meski demikian, tidak sedikitpun saya bermaksud meremehkan siapapun di MP ini. Tulisan-tulisan saya ini semata-mata adalah hasil mersudi yang kalau bisa dipahami sebenarnya akan membuka sekat-sekat pengetahuan MP kita, sedikit maupun banyak, tanpa harus menghilangkan pengetahuan pelatih atau guru-guru kita semua.

Kembali kepada permasalahan, ketika ada yang bertanya apa bedanya antara MP dengan CMA (Chinesse Martial Arts) atau dengan Yoga atau dengan yang lainnya?

Menurut saya pribadi perbedaan antara MP dan CMA serta yang lainnya terletak pada titik awal Tenaga yang dilatihnya dan dari titik awal yang berbeda tentunya akan membawa pada cara berlatih yang mestinya berbeda pula. CMA berdasarkan Filosofi Taoisme memulai latihan pada Ching dan Chi/Qi dimana semua itu dikumpulkan pada Dantien/tantien bawah (titik dibawah pusar). Setelah Dantien Bawah terisi dan "matang" baru kemudian dinaikkan ke Dantien Tengah dan pada akhirnya Dantien Atas. Semua itu bertujuan untuk menyatukan Ching dan Chi/Qi dengan satu bentuk Tenaga yang lain yaitu Shen (Ruh).

Dari sinilah muncul istilah The Unity of Body, Mind and Spirit. Sebenarnya Shen inilah yang mungkin mendekati pengertian "Hati" yang sesungguhnya.

Pelatihan CMA yang berlatar belakang Taoisme ini lebih mendekati Pelatihan Yoga yang berdasarkan Filosofi Hinduisme. Pelatihan Yoga memulai dari pembangkitan Kundalini di bawah tulang ekor kemudian dinaikan ke Chakra di atasnya hingga Chakra Mahkota. Yoga pun memulai pelatihan dari Energi tingkat yang lebih rendah menuju tingkat Energi yang lebih tinggi. Kelebihan dari metode pelatihan CMA (Taoisme) ataupun Yoga (Hinduisme) adalah dari metode ini mereka bisa lebih rinci dalam memetakan mekanisme cara kerja tubuh manusia. Berdasarkan pengalaman mereka, Taoisme pada akhirnya berhasil memetakan jalur meridian tubuh beserta mekanism cara kerjanya sedangkan Yoga pada akhirnya berhasil memetakan adanya adanya chakra tubuh serta mekanism cara kerjanya.

Sedangkan MP sebenarnya tidaklah mengenal konsep Chi/Qi ataupun Kundalini. Kalaupun ada istilah "kundalini" di MP sesungguhnya bukanlah merujuk pada pemahaman kundalini menurut tradisi Yoga India. Memang ada latihan yang disebut dengan "Pecah Pamor Kundalini" namun memiliki tujuan yang berbeda dengan apa yang dimaksud Kundalini pada Yoga. Dalam MP sendiri, awal latihannya justru langsung mulai dari "Hati" melalui Niat. Karena MP tidak mengenal Chi/Qi dan pelatihan dimulai dari "Hati" tentunya tidak perlu adanya pengumpulan Chi/Qi hingga penuh dan matang pada Dantien Bawah kemudian menaikannya ke atas hingga Dantien Tengah dan Dantien Atas seperti dalam CMA. Konsep MP ini lebih mendekati Konsep Tasawuf yang juga tidak mengenal adanya Chi/Qi. Dalam Tasawuf hanya dikenal Tubuh Fisik, Nafs, dan Ruh dimana pelatihan Tasawuf diawali dari Ruh. Ruh inilah yang nantinya akan mengendalikan Nafs dan Tubuh Fisik. Berdasarkan penelusuran saya, mendiang alm guru besar mas Budisantoso mengatakan kalau "Praktisi MP tidak perlu "menimbun" energi banyak-banyak dibawah pusar. Kalau sudah terasa dan berasa itu sudah cukup.". Ucapan ini menguatkan dan membenarkan analisa saya bahwa memang konsep MP itu mirip dengan konsep Tasawuf.

Didalam Tasawuf dibedakan antara "akal" dan "ruh". "Akal" itu diibaratkan sebagai "Perdana Menteri" yang secara fisik tersimpan di "otak manusia" sedangkan "ruh" itu diibaratkan sebagai "Raja" yang secara fisik dipercaya tersimpan di dalam "hati manusia". Di dalam "akal" tersimpan "pengetahuan mengenai sesuatu" sedangkan di dalam "hati" tersimpan "hakekat mengenai sesuatu".

Dalam pemahaman saya pada sisi ini, filosofi Tasawuf agak lebih mendekati Filosofi Buddhisme. Seperti Koan Zen Buddhism yang saya pernah saya tuliskan terdahulu:

Tubuh bagai-kan Pohon Kesadaran
Pikiran bagaikan Cermin yang bersih berkilau
Usap dan bersihkanlah setiap saat
Dan jangan biarkan Debu melekat

(Shenxiu 606-706 CE)
Konsep Tasawuf juga seringkali membandingkan "Hati" sebagai Cermin/Kaca seperti berikut ini:
Pelita itu dalam Kaca. 
Kaca itu laksana bintang yang berkilauan

...
Seperti dalam Tasawuf, filosofi Buddhisme sebenarnya juga tidak mengenal adanya Kundalini ataupun Chi/Qi. Pada awal perjalanan Spiritualnya Sidharta Gautama berlatih berbagai macam jenis Meditasi (kemungkinan meditasi Yoga salah satunya) tetapi Sidharta merasa tidak mencapai tingkat pencerahan yang diinginkan dari meditasi yang pernah dilatihnya. Kemudian Sidharta menciptakan satu teknik meditasi sendiri. Teknik meditasi Buddhism ini yang akhirnya dikenal sebagai Dhyana yang lebih menekankan kepada pelatihan "Pikiran/Hati" bukan pada pelatihan Chi/Qi. Dalam Buddhisme dikenal 4 tingkatan Dhyana. Setelah melampaui 4 tingkatan Dhyana biasanya "kemampuan lebih" (Abhijna) akan diperoleh sebagai "cobaan" yang jika tidak ditangani dengan baik bisa menggagalkan perjalanan spiritual seorang murid Buddha. Kemampuan kekuatan 'super human' (kanuragan, husada, dll) mungkin bisa digolongkan dalam Iddividha (kekuatan keajaiban) dalam Abhijna pada konsep Buddhisme.

Jika kita pahami sejarah perjalanan spiritual Sidharta ini bisa kita pahami mengapa ada perbedaan karakteristik antara meditasi Yoga dengan meditasi Zen Buddhisme. Tapi itu tidak akan saya jelaskan disini karena akan menjadi lebih panjang lagi bahasannya.

Perbedaan pemahaman antara Buddhisme dan Taoisme ini bisa juga kita lihat pada perbedaan pemahaman Chi/Qi yang ada di China dan Jepang. Tidak seperti di China yang filosofi Taoisme dengan Yin-Yang dan Chi/Qi-nya lebih berakar kuat di sana, di Jepang yang pengaruh filosofi Buddhisme-nya lebih kuat ternyata juga tidak mengenal konsep Chi/Qi. Kalaupun ada Chi/Qi dalam tradisi di Jepang lebih dipahami sebagai "semangat" yang lebih mendekati konsep "nafs" dalam tasawuf dibanding konsep chi/qi dalam tradisi Taoisme di China. Jepang bisa dikatakan telah berhasil melakukan transformasi filosofi dari filosofi China menjadi filosofi ala Jepang pada beladirinya. Karate yang awalnya dari China lalu bertransformasi sedemikian rupa dengan budaya Jepang sehingga Karate yang mula-mula ala China menjadi luntur dan hilang filosofinya berganti menjadi filosofi Zen yang dianut kebanyakan rakyat Jepang saat itu.

Kelemahan metode Tasawuf ataupun Buddhisme adalah metode ini tidak secara rinci memetakan mekanism cara kerja tubuh manusia. Bisa dikatakan metode Tasawuf dan Buddhisme lebih bersifat 'Psikologi' sedangkan metode Taoisme dan Yoga lebih bersifat 'Fisiologi'. Tentunya dalam pengertian 'psikologi kuno' dan 'fisiologi kuno'. Memang agak sulit memetakan sesuatu yang bersifat psikologi. Sederhananya "hati" seperti perumpamaan dalam Tasawuf lebih seperti seorang Raja. Seorang Raja hanya tinggal memerintahkan saja, tidak peduli bagaimana caranya, maka perintah Raja akan terlaksana. Dalam dimensi yang lebih kecil dan terbatas mungkin seperti kata "kun faya kun" atau "jadi maka jadilah". Tinggal kita niatkan dalam hati dan segala yang kita niatkan dalam hati akan dilaksanakan oleh tubuh apapun mekanismenya. Hal ini yang menyulitkan pemetaan dari sisi psikologi.

Meskipun pada puncak tertinggi apapun aliran dan filosofi yang mendasarinya (Taoisme, Hinduisme, Buddhisme, Tasawuf, dll) akan menuju pada Inti yang sama yaitu "Ruh" dan penyatuan antara "Ruh" dengan "Sang Pencipta" nya, walaupun penyebutan berbeda-beda tetapi tampaknya menunjukan Hakekat yang sama. Ini pembahasan yang agak berat, saya lewati saja.

Untuk memahami lebih lanjut mau tidak mau kita mesti belajar pada aspek sejarah. Saya coba sarikan secara singkat hal-hal yang berhubungan dengan sejarah yang relevan dengan penjelasan saya diatas.
Dalam catatan sejarah, pulau Jawa pernah menjadi Pusat Agama Buddha terbesar di Asia selain India dan Srilanka, ini bisa kita lihat dari peninggalan agama Buddha terbesar di dunia yaitu Candi Borobudur yang dibangun oleh Wangsa Syailendra. Wangsa Syailendra ini dalam Catatan China (abad ke 8-10 M) dikenal sebagai Holing, dalam Laguna Copper Inscription di Philipina, wangsa ini dikenal sebagai Medang. Nama Medang pun banyak tercatat dalam peninggalan prasasti yang ada di Jawa, biasa disebut sebagai masa Mataram Kuno. Pada masa jayanya, Syailendra pernah menaklukan Thailand (Ligor), Chenla Khmer (Cambodia) bahkan memenggal kepala Rajanya dan menahan pangeran-nya di Tanah Jawa. Menyerbu Champa (Vietnam Selatan) hingga Phillipina. Semuanya ini tercatat dalam prasasti yang terdapat di Thailand, Cambodia, Vietnam dan Philipina.

Ketika Wangsa Syailendra tersingkir ke Sumatra (Svarnadvipa) akibat persaingan Politik yang terjadi di Jawa, Sumatera (Svarnadvipa) kemudian dikenal sebagai pusat Buddha menggantikan Tanah Jawa. Atisa (980-1054 M) penyebar agama Buddha paling berpengaruh di Tibet pun datang ke Sumatra untuk belajar pada Biksu Svarnadvipi Dharmakriti. Setelah belajar di Svarnadvipa (Sumatera) selama belasan tahun, Atisa diperintahkan Biksu Svarnadvipi Dharmakriti untuk menyebarkan agama Buddha di Tibet. Satu teknik meditasi yang dipelajari Atisa dari Svarnadvipa Dharmakriti inilah yang akhirnya menjadi Teknik Meditasi Tibet yang paling fundamental yakni suatu teknik meditasi merubah Negative Energy menjadi Loving and Healing Energy yang di Tibet dikenal sebagai Meditasi Tongleng.

Metode meditasi untuk mengubah satu energy menjadi bentuk energy yang lain, menarik sekali bukan? 
Bisa dikatakan Jawa sudah menjadi pusat keagamaan dan spiritualitas tingkat tinggi sejak abad ke-8 Masehi, itu sebabnya di Tanah Jawa hanya Islam Tasawuf yang bisa dengan mudah diterima oleh masyarakat Jawa yang sudah memiliki tingkat Spiritualitas tinggi ini. Islam kasaran (syariat) akan sulit diterima oleh masyarakat Jawa yang sudah memiliki tingkat spiritualitas tinggi. Para Wali memahami ini, dan memasukan ajaran Tasawuf dan menjauhi pendekatan yang terlalu kaku dan bersifat syariat dalam penyebaran Islam di Tanah Jawa pada abad ke 15-16 M. Sinkretisme antara Hinduisme, Buddhisme dan Tasawuf inilah yang akhirnya melahirkan Filosofi Jawa (Kejawen), dengan puncak pemahaman Manunggaling Kawula Gusti. Cikal bakal Filosofi Kejawen yang ada sekarang ini, bisa dikatakan berawal dari masa Mataram Kuno dan matang pada masa Mataram Islam.

Puncak kejayaan Hindu ada pada masa Medang Kuno (Sanjaya) begitu pula puncak kejayaan Buddha ada pada masa Medang Kuno (Syailendra). Bisa kita lihat dengan banyaknya bangunan Candi Hindu dan Buddha pada masa itu seperti Prambanan, Borobudur, Sewu, Dieng, dll. Pada masa Kediri secara filosofis bisa dikatakan masa pengendapan, dimana paham Hindu-Buddha oleh Local Genius disinkretiskan dengan paham asli Tanah Jawa. Pada masa Kediri inilah mulai banyak ditemukan Kakawin Hindu atau Buddha yang tidak lagi murni India tetapi sudah bercampur dengan unsur Nusantara (Jawa) di dalamnya. Pada tataran filosofis, karakter Jayabaya (salah satu Local Genius) yang dihormati oleh masyarakat Jawa pun berasal dari masa Kediri ini.

Sinkretisme antara Hindu-Buddha-Jawa ini bisa dikatakan matang pada masa Majapahit. Kemudian masuk Islam pada masa akhir Majapahit (Demak) dan mulai terbentuklah Sinkretism baru antara Islam Tasawuf dengan Sinkretism Hindu-Buddha-Jawa yang sudah ada pada masa Majapahit. Pada akhirnya terbentuk Filosofi baru yang disebut sebagai Kejawen yang bisa dikatakan matang pada masa Mataram Islam. Majapahit adalah puncak dari sinkretism Hindu-Budha-Jawa sedang Mataram Islam adalah Ibu dari Filosofis Kejawen yaitu sinkretism Hindu-Budha-Jawa dengan nuansa Islam Tasawuf.

Pada tahapan sinkretisme inilah peran Local Genius sangat besar (Sunan Kalijaga, Syekh Siti Jenar, Ronggowarsito, dll). Setidaknya, ini adalah pemahaman ringkas saya tentang sejarah terbentuknya Filosofi Jawa (Kejawen).

Tarik nafas dulu ya 
Pada tulisan yang lalu mengenai "pertarungan pemikiran" yang dituangkan pada novel silat semisal karya Arswendo akan menjadi sangat menarik sebenarnya jika Arswendo menarik setting sejarah Cerita Silat "Senopati Pamungkas" tidak hanya sebatas masa Majapahit saja tetapi sampai sejauh masa Mataram Kuno. Kenapa? Sebab pada masa Mataram Kuno (Medang) inilah terdapat benang merah Jalan Buddha (yang menjadi setting pertarungan Ksatria Lelananging Jagad pada Senopati Pamungkas dan Tembang TanahAir) antara India, Tibet, China, Jepang dan Jawa terjalin.

Apakah Arswendo tidak mengetahui bahwa pendiri aliran Shingon Buddhisme (Esoteric Buddhism) di Jepang yaitu Biksu Kukai (774-835 M) ternyata memiliki saudara seperguruan yang berasal dari Tanah Jawa? Apakah Arswendo tidak mengetahui bahwa Kakek Guru Biksu Kukai yaitu Amoghavajra (705-774 M) semasa remaja pernah tinggal di Tanah Jawa sebelum belajar dan mengajar di China? Apakah Arswendo tidak mengetahui penyebar agama Buddha di Tibet yaitu Atisa (980-1054 M) memiliki benang merah keilmuan yang berasal dari Wangsa Syailendra (Sumatra dan Jawa)?

Sebagai perbandingan, jika kita melihat film Ninja Jepang (Naruto, dll), sering terlihat Ninja menggunakan Posisi Jari tertentu (Mudra) ketika mengeluarkan suatu ilmu. Mudra ini adalah salah satu pengaruh dari ajaran Shingon Buddhisme. Di Jepang, aliran Ninja biasanya lebih terpengaruh pada ajaran Shingon Buddhisme dibanding Zen Buddhisme yang lebih populer dikalangan Samurai. Shingon Buddhisme agak unik dan berbeda dengan Zen Buddhisme yang banyak menggunakan Meditasi dengan Koan. Pada Shingon Buddhisme lebih menekankan penggunaan Meditasi dengan Mantra dan Mudra untuk mencapai pencerahan. Hal ini bisa kita lihat posisi jari tangan sewaktu meditasi sering kali menggunakan posisi jari yang berbeda-beda (mudra) misal: ujung ibu jari bertemu/menyentuh ujung jari tengah, ujung jari telunjuk bertemu dengan ujung ibu jari, dll. Setiap mudra sebenarnya memiliki makna tertentu.

Dalam satu kisah Esoteric Buddhisme, ketika di India, Amoghavajra (Kakek Guru dari Biksu Kukai pendiri Shingon Buddhism) diminta raja di sana untuk menaklukan kawanan Gajah yang ketika itu sedang mengamuk di tengah kota. Dengan tenang Amoghavajra mendekati kawanan gajah yang mengamuk tsb sambil membaca Mantra dan tangan membentuk Mudra, satu persatu gajah yang mengamuk tsb pingsan ketika didekati Amoghavajra. Tradisi keilmuan seperti inilah yang sering kita lihat dalam film tentang Ninja, para Ninja sering digambarkan memiliki keilmuan tentang Mantra dan Mudra ini.

Sederhananya, Shingon Buddisme menggunakan Meditasi dengan Mantra dan Mudra untuk mencapai pencerahan. Sementara Zen Buddhisme menggunakan Meditasi dan Koan untuk mencapai pencerahan.

Benang merah keilmuan dan penyebaran agama Buddha di China, Jepang dan Tibet memang ada di Tanah Jawa yang berawal pada masa Sanjaya-Syailendra yang dikenal Kerajaan Mataram Kuno (Medang). Nusantara adalah cross road para pencari ilmu keagamaan (khususnya Buddha) dari China yang hendak berguru ke India. Kerajaan yang menguasai Nusantara akan menjadi pusat keilmuan agama pada saat itu. Biasanya sebelum menuju ke India sambil menunggu angin Monsoon bertiup para biksu China akan menetap di Nusantara (Jawa dan Sumatra khususnya) terlebih dahulu dan masa menunggu ini akan dimanfaatkan untuk memperdalam agama Buddha dan bahasa Sanskrit.

Sebagai catatan, bahasa Jawa Kuno adalah bahasa yang memiliki 50 persen kosakata bahasa Sanskrit terbanyak dibanding bahasa lain di Asia Tenggara. Ini bisa menjadi indikasi bahwa pulau Jawa adalah salah satu pusat keilmuan agama pada masa lalu karena bahasa Sanskrit biasanya hanya digunakan sebagai bahasa keagamaan. Bahkan di India sendiri bahasa Sanskrit bisa dikatakan bahasa mati, dalam arti tidak ada lagi yang menggunakan bahasa ini dalam kehidupan sehari-hari. Justru di Jawa, bahasa Sanskrit tetap hidup digunakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakatnya.

Jadi sebenarnya tidak salah jika Senopati Pamungkas karya Arswendo melalui karakter Eyang Sepuh mengundang Ksatria dari negeri sebrang untuk memperebutkan "Ksatria Lelananging Jagad" dan "Jalan Buddha" di Tanah Jawa. Hanya sayangnya Arswendo tidak mengelaborasinya dengan cukup mendalam, baik dari sisi Filosofis maupun setting Historis-nya. Bukankah akan menarik jika ditunjukan bahwa Lokeswara Lohita, Raja dan Pendeta Empyak Jagad dari Tibet - yang tampaknya akan dimunculkan oleh Arswendo sebagai salah satu Tokoh Tingkat Tinggi di "Tembang TanahAir" ternyata memiliki dasar keilmuan yang sama dengan di Tanah Jawa dan Sumatra karna Pendita Atisa-lah yang membawa ajaran Buddha tsb ke Tanah Tibet. Sebelum Atisa datang ke Tibet pada abad ke-11 Masehi, agama Buddha belum menjadi agama utama di sana. Pendita Atisa lah yang bisa dikatakan berjasa membentuk agama Buddha menjadi agama Utama di Tibet. Mungkin akan lebih menarik jika Arswendo bisa mengelaborasi lebih dalam baik secara Filosofis maupun Historis misalnya dengan menjabarkan bahwa secara filosofis maupun historis ternyata sumber keilmuan Tlatah Tibet, Jepun ataupun China ada yang berasal dari Bhumi Nusantara atau setidaknya memiliki hubungan yang erat dengan Bhumi Nusantara dan Tanah Jawa khususnya. Benang merah pertarungan "Ksatria Lelananging Jagad" akan lebih terlihat dengan jelas. 
Kalau merunut dari sejarah, filosofi dan beladiri asli Nusantara sebelum datangnya pengaruh Hindu dan Buddha, IMHO mungkin lebih mendekati Shamanism dan Beladiri yang ada di kalangan suku Dayak di Kalimantan. Berdasarkan pendekatan sejarah genetik, etnis di Nusantara seperti Etnis Melayu, Minang, Jawa, Bugis etc termasuk dalam ras Austronesian yang mungkin sisa jejak sejarah dan budaya-nya sekarang ini masih bisa dilihat pada suku Dayak di Kalimantan dan Nias. Bangsa Austronesian - dari Taiwan, Philipine hingga Kalimantan - dikenal sebagai Warrior bahkan memiliki Budaya Headhunting, dimana ada tradisi memenggal dan mengumpulkan kepala musuhnya sebagai War Trophy. Jadi sebelum pengaruh India (baik Filosofi dan Beladiri) masuk ke Nusantara, kita sudah memiliki tradisi Kesatria-nya sendiri. Saya tidak akan membahas ini terlalu dalam karena akan menjadi lebih panjang lagi. 
Dalam sejarahpun sebenarnya sempat tercatat bagaimana bentuk ilmu beladiri di nusantara dulu. Bisa kita lihat pada catatan perjalanan Ordoric Pordonone. Dalam bukunya Oderic of Pordenone (1265-1331) yang pada tahun 1326 sempat datang ke Majapahit menuliskan sbb :

"Near to Java is another country called Panten, or Tathalmasin, the king of which has many islands under his dominion. In this country there are trees which produce meal, honey, and wine, and likewise the most deadly poison in the world ... There are other canes, called cassan ... in these canes they find certain stones of wonderful virtue, insomuch, that whoever carries one of these about him, cannot be wounded by an iron weapon; on which account, most of the men in that country carry such stones always about them. Many of the people of this country cause one of the arms of their children to be cut open when young, putting one of these stones into the wound, which they heal up by means of the powder of a certain fish, with the name of which I am unacquainted. And through the virtue of these wonderful stones, the natives are generally victorious in their wars, both by sea and land."

(Dekat ke pulau Jawa ada negara lain yang disebut Panten atau Tathalmasin, yang masih merupakan daerah kekuasaan raja. Pada negeri ini ada sebuah pohon yang menghasilkan makanan, madu, dan anggur, dan juga racun yang paling mematikan di dunia. Ada sejenis pohon kayu yang disebut dengan Cassan. Di dalam pohon kayu ini mereka menemukan batu-batu yang indah yang dianggap keramat, dan bahwa siapapun yang membawa salah satunya maka ia tidak akan bisa terluka oleh senjata tajam. Para laki-laki di negeri tersebut selalu membawanya. Banyak dari warga negeri ini yang rela tangannya dilukai saat masih anak-anak untuk kemudian memasukkan batu-batu tersebut kedalamnya, luka ini kemudian disembuhkan dengan sejenis bubuk yang dihasilkan dari ikan tertentu. Dan melalui kemampuan keramat dari batu-batu inilah penduduk asli umumnya menang dalam perang mereka, baik melalui laut maupun darat.)

Menarik bukan? Susuk kekebalan ternyata tercatat dalam sejarah paling tidak sejak abad ke 13-14 Masehi. Selain menggunakan Susuk Ilmu Kebal, Sejarah juga mencatat Ilmu Kebal dengan cara penggunaan yang berbeda. Seperti yang dituliskan oleh Chou Ku-fei pada abad ke 12 Masehi dalam bukunya Ling Wai Tai Ta sbb:

"San-fo-qi is in the Southern Sea. It is the most important port of call on the sea routes of the foreigners, from the countries of She-po on the east and from the countries of Ta-shi (Arabs) and Ku-lin on the West, they all pass through it ontheir way to China ... The country has no natural products, but the people are skilled in fighting. When they are about to fight, they cover their bodies with a medicine shich prevents swords wounding them. In fighting on land or on water none surpass them in impetuosity of attacks ..."

(San-fo-qi berada di Laut Selaan. Ini adalah pelabuhan terpenting bagi rute pelayaran pelaut asing, dari negara She-po di sebelah Timur dan dari negara-negara Ta-shi (Arab) dan Ku-Lin di sebelah Barat. Meeka semua harus melewati jalur ini untuk bisa mencapai China. Negara ini tidak memiliki produk alami, namun orang-orang disana sangat terampil dalam bertempur. Ketika mereka akan bertempur, mereka menutupi tubuhnya dengan obat yang dipercaya dapat mencegah pedang melukai mereka. Dalam pertempuran di darat atau di air belum ada yang mampu melampaui mereka dalam hal kecepatan dalam penyerangan.)

Perajurit San-fo-qi (Srivijaya-Dharmasraya) pada abad ke-12 Masehi pun tercatat dalam sejarah memiliki Ilmu Kebal. Jika kita lihat pada relief Borobudur banyak terdapat Ksatria dengan menyandang berbagai macam senjata tetapi tidak ada satupun dari Ksatria tsb yang menggunakan Baju Zirah. Bukankah ini agak janggal? Sebelum masa abad ke 7-8 Masehi (masa Syailendra) pun bangsa India sudah mengenal Baju Zirah dari baja tetapi tradisi penggunaan Baju Zirah ternyata tidak ditularkan bangsa India di Nusantara (Jawa, Sumatra, dll). Bahkan yang lebih unik hampir tidak ada peninggalan Baju Zirah ditemukan pada masa Majapahit dan sebelumnya. Ada yang mengatakan Baju Zirah tidak cocok untuk iklim tropis di Nusantara tetapi catatan sejarah pun menunjukan bahwa ternyata memang sejak dulu sudah ada tradisi ilmu kebal di Nusantara sehingga Baju Zirah mungkin tidak perlu digunakan. Ini juga didukung oleh fakta sejarah berupa relief pada Candi Angkor Wat di Thailand yang menunjukan Pasukan Khmer ternyata menggunakan Baju Zirah yang terbuat dari Baja, jelas ini menggugurkan argument bahwa Baju Zirah tidak cocok digunakan pada iklim tropis.

Sedang Jawa pun dikenal sebagai Pulau yang memiliki tradisi perang seperti yang dituliskan oleh Chau Ju-kua pada abad ke 13 dalam bukunya Chu Fan-chi menuliskan tentang penduduk Pulau Jawa sebagai berikut:

"The people have personal names but no surnames. They are quick tempered and of pugnacious disposition, and when they have a feud with San-fo-qi, both parties seek to join in battle."

(Orang-orang memiliki nama pribadi namun bukan nama keluarga. Mereka cepat marah dan cenderung garang, dan ketika mereka memiliki perseteruan dengan San-fo-qi keduanya menyelesaikannya dalam sebuah pertarungan.)

Etnis Jawa yang suka berperang ini diperkuat oleh tulisan Ma Huan yang datang bersama dengan ekspedisi Zenghe ke Jawa. Ma Huan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan menuliskan tentang penduduk Jawa sbb :

"The men thrust a pu-la-t'ou into the waist, from little boys of three years to old men of a hundred years, they all have these knives, which all made of Pin t'ieh (a very fine steel and made extremely sharp swords) with most intricate patterns drawn in very delicate lines, for handles they use gold or rinocheros horn or elephant tusk, engraved with representations of human forms or devils faces, the craftsmanship being very fine and skillful."

(Para pria menyodorkan pu-la-t'ou ke pinggang. Dari anak-anak berumur tiga tahun hinggga orang tua berumur seratus tahun, mereka semua memiliki jenis pisau ini, yang semuanya terbuat dari Pin t'ieh (baja yang sangat bagus untuk membuat pedang yang sangat tajam) dengan pola yang paling rumit digambar dalam garis yang sangat halus. Untuk gagangnya mereka menggunakan emas atau cula badak atau gading gajah yang diukir sedemikian rupa yang merupakan representasi dari bentuk manusia atau wajah iblis. Pengerjaan jenis senjata ini benar-benar memerlukan keterampilan yang sangat tinggi.)

Begitu detailnya Ma Huan menggambarkan keris yang terbuat dari baja kelas satu beserta pamor kerisnya. Keris ini tampaknya selalu dibawa oleh setiap lelaki di tanah Jawa. Selanjutnya Ma Huan menulis sbb :

"The people of the country, both men and women are all particular about their heads, if a man touches their head with his hand, or if there is a misunderstanding about money at a sale, or battle of words when they are crazy with drunkenness, they at once pull out these knives and stab each other. He who is stronger prevails."

(Orang-orang negeri ini, baik laki-laki maupun wanita, memiliki pandangan yang sama mengenai kepala mereka bahwa jika seorang laki-laki menyentuh kepala mereka dengan tangannya atau apabila ada kesalahpahaman mengenai masalah uang pada penjualan atau terjadi perang kata-kata ketika mereka mabuk maka mereka akan langsung menarik keluar pisau dan saling menusuk satu sama lain. Siapa yang terkuat maka akan bertahan)

Pertama kali saya membaca ini, saya sedikit heran bukankah etnis Jawa sering digambarkan sebagai etnis yang halus dan selalu menghindari keributan, bahkan perangai halus orang Jawa ini sering distereotypekan dalam joke/candaan untuk menunjukan etnis Jawa adalah bangsa yang lamban. Tetapi catatan sejarah sejak abad ke-12 (Kediri) hingga abad ke-15 (Majapahit) menunjukan bahwa etnis Jawa memiliki karakteristik Warrior yang suka berperang bahkan cenderung temperamental. Perkenalan saya dengan sahabat di Malaysia pun cukup mengejutkan saya, berbeda dengan stereotype di Indonesia dimana etnis Batak lah yang dikenal memiliki jiwa tentara, di Malaysia justru etnis Jawa yang dikenal sebagai etnis yang suka berperang. Mayoritas tentara di Malaysia dikatakan berasal dari etnis Jawa. Bisa dikatakan etnis Jawa dianggap sejajar dengan etnis Minang ataupun Bugis yang dikenal sebagai Ksatria di Malaysia.

Saya jadi berpikir sejak kapan sebenarnya Jawa yang dikenal memiliki perangai yang halus itu mulai terbentuk? Tentunya ada suatu masa dalam sejarah Jawa yang menyebabkan adanya 'turning point' atau titik balik dimana Jawa yang suka berperang ini berubah menjadi Jawa yang halus dan cenderung menghindari keributan. Nah, belajar sejarah itu menarik bukan? 
Terkait dengan konsep Tasawuf mengenai Pelita yang juga pada Taoisme disebutkan, sebenarnya ada ayat Al Qur'an yang menarik direnungkan:

"Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti Misykat yang di dalamnya ada Pelita. Pelita itu dalam Kaca. Dan Kaca itu laksana bintang yang berkilauan yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, yaitu minyak zaitun yang bukan di timur dan tidak (juga) di barat. Minyaknya hampir menerangi sekalipun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah memberi petunjuk cahaya-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Allah membuat perumpaan-perumpaan bagi manusia dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (An Nuur 35)

Mengenai Hati dan Hakekat Ilmu, Imam Al Ghazali pernah mengatakan sebagai berikut:

"Ketahuilah, bahwa tempat ilmu itu ada di dalam hati yakni yang halus yang mengatur segala anggota tubuh manusia. Yang halus inilah yang dipatuhi dan dilayani oleh segala anggota tubuh manusia. Yang halus itu, yang dihubungkan dengan Hakekat Ilmu Pengetahuan - bagaikan cermin (kaca) yang dihubungkan dengan segala bentuk dan warna ... Pengetahuan itu memiliki Hakekat. Hakekat itu ibarat suatu bentuk dan warna yang melekat dalam Cermin (Kaca) Hati"

Imam Al Ghazali lalu memberikan contoh sebagai berikut:
"Orang yang mengenal dan memahami Api, tidaklah Api itu sendiri yang ada di Hatinya. Akan tetapi yang ada (di Hatinya) adalah Hakekatnya"

Dari pemahaman di atas ini sebenarnya bisa kita indikasikan adanya keterkaitan antara "Hati" dengan "Unsur" dan "Elemen" yang ada di alam semesta ini? Bahwa "Hati" dan "Unsur" atau lebih jauh lagi "Materi" sebenarnya bisa saling terkait dan terhubung. Dan itu bukanlah khayalan. Hal ini menjadi semakin nampak pada jenis-jenis keilmuan pamungkas MP yang mempunyai dasar sifat unsur tertentu semisal Api (Pasir Besi, Guntur Geni, Surung Geni, Sapto Dahono, dll) atau unsur yang lainnya.

Tetapi apapun itu, dalam Tasawuf tujuan akhirnya adalah mendekatkan diri dengan Sang Pencipta - yang lain hanyalah bunga-bunga kehidupan. Maka dari itu, dalam konsep Kejawen yang dituju adalah ilmu Kasepuhan dan bukan ilmu Kanuragan. Kalaupun seseorang mendapati jodohnya pada ilmu kanuragan tertentu, maka itu mesti dilewati sebab itu hanyalah bunga-bunga kehidupan.

Imam Al Ghazali memang seringkali menganalogikan "Hati" dengan "Kaca" ataupun "Cermin". Dimana "Hakekat Sesuatu" tersimpan di dalam "Hati" seperti "Bayangan" di alam nyata tersimpan di dalam "Cermin" sebagaimana ditekankan pada surat An Nuur ayat 35 diatas.

Allah adalah cahaya bagi langit dan bumi. 
Perumpamaan Cahaya-Nya seperti Misykaat 
yang di dalamnya ada Pelita. 
Pelita itu dalam Kaca. 
Kaca itu laksana bintang yang berkilauan 
yang dinyalakan dengan minyak pohon yang diberkati, 
yaitu minyak zaitun yang bukan di timur dan tidak (juga) di barat. 
Minyaknya hampir menerangi 
sekalipun tidak disentuh api. 
Cahaya di atas cahaya
Allah memberi petunjuk dengan Cahaya-Nya 
kepada siapa yang dikehendaki-Nya
(An Nuur 35)


Atau pada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Thabrani dari Abu Sa'id Al Khurdy sebagai berikut "... Hati yang bersih padanya pelita yang bersinar terang..."

Dari Hadist dan Al Quran di atas ini sebenarnya bisa membawa kepemahaman mengenai Manunggaling Kawulo Gusti maupun "roso sak jroning roso". Cahaya Ilahi (Gusti-Kawulo) itu bertingkat-tingkat, di atas cahaya satu terdapat cahaya yang lain - Cahaya dari Misykaat, Cahaya dari Kaca, Cahaya dari Minyak dan Cahaya dari Api Pelita itu sendiri - Cahaya di atas Cahaya.

Namun berbicara pemahaman akan Tasawuf juga mesti berhati-hati. Perlu dibedakan mana yang sifatnya akulturasi/sinkretisme dan mana yang bukan.

Dalam Tasawuf sebenarnya menekankan pentingnya penyatuan antara Syariat, Tarekat dan Hakekat. Jika tidak ada kesatuan antara ketiga dimensi ini kecenderungan untuk tergelincir akan sangat mudah. Seperti yang terjadi pada murid-murid Syekh Siti Jenar. Itu sebabnya walaupun para Wali mengerti apa yang dikatakan oleh Siti Jenar tetapi para Wali tidak setuju jika Siti Jenar menunjukan itu pada kalayak umum yang belum saatnya belajar Hakekat. Itu sebabnya para Wali pun sangat menekankan pentingnya penyatuan antara Syariat, Tarekat dan Hakekat.

Dalam MP pun saya rasa memang demikian jika tidak ingin tergelincir maka perlu adanya penyatuan antara 'Syariat, Tarekat dan Hakekat'. Seperti misalnya tahap awal adalah pelatihan dengan nafas pengolahan dengan kekejangan otot penuh secara tidak langsung ini untuk melatih otot dan juga membuka simpul-simpul syaraf (dimensi Fisik dan pintu gerbang dimensi Nafs), baru kemudian berlanjut pada nafas halus seperti yang untuk memasuki fungsi hormonal. Dalam Tasawuf latihan nafas halus ini sudah masuk ke dalam dimensi Nafs yang tentunya sangat berkaitan dengan kinerja hormonal tubuh, kemudian jika Nafs sudah bisa ditenangkan (Nafs al Mutmainah), baru akan terbuka pintu ke dimensi Ruh (Hati). Dan jika sudah memasuki dimensi Ruh (Hati) maka sang Raja (Hati) cukup memerintahkan saja maka seluruh elemen tubuh yang mana pun (cakra, chi/qi, dll) akan patuh pada perintah sang Raja (Hati). Sang Raja (Hati) cukup "kun faya kun" maka seluruh "alam semesta" akan mengkondisikan semua elemen dan energi yang dibutuhkan agar itu 'terjadi'.

Berbasis pemahaman diatas, maka kita akan bisa memahami kisah Sunan Bonang dan Raden Said di pinggir kali dimana Raden Said yang saat itu sudah memiliki banyak 'ilmu karang' atau 'kanuragan' melihat 'kesaktian' Sunan Bonang yang mengubah buah dan dahan pohon kolangkaling menjadi emas. Seketika "Hati" Sunan Bonang berniat dan berkehendak untuk menjadikan "jadi emas" maka jadilah emas. Tentunya ini semua terjadi atas izin Allah. Raden Said sangat terkejut karena ia paham betul bahwa yang dilakukan oleh Sunan Bonang adalah nyata adanya dan bukan sekedar bagian dari ilmu kanuragan yang ia pernah lihat atau kuasai. Maka ia 'terkalahkan' dan mau berguru. Setelah semua ego dirontokkan oleh Sunan Bonang dan ia menerima 'ujian' untuk menjaga tongkat dan tidak boleh meninggalkan tempat sebelum Sunan kembali. Kisah ini kemudian menjadi kisah Sunan Kalijaga seperti yang sering kita dengar.

Pada konteks menjalani Tasawuf ini, kita bisa melihat bahwa akan terjadilah banyak 'keajaiban' pada diri penganutnya. Kalau pada Nabi maka disebut dengan Mukjizat. Kalau terjadi pada para Wali maka disebut dengan Karomah. Kalau terjadi pada orang biasa maka disebut Maunah. Ini seperti Iddividha (kekuatan keajaiban) dalam Abhijna pada konsep Buddhisme. Hanya saja pada konsep Islam bisa diperinci lagi menjadi Mukjizat, Karomah, dan Maunah. Apabila pada orang biasa terjadi beragam kemampuan super namun tidak bisa disikapi dengan benar maka Maunah akan bisa berubah menjadi Istidraj. Dan ini sangat berbahaya. Istidraj adalah kenikmatan semu yang diberikan Allah kepada orang biasa yang punya kelebihan sebelum kemudian dibinasakan dengan sangat menyakitkan. Jadi memang ada warning pada tiap bagiannya yang mesti dipahami dengan benar manakala sudah masuk pada aspek-aspek pelajaran kanuragan.

Semoga bermanfaat.

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "Serba-serbi tentang Ilmu Kasepuhan dan Merpati Putih"

Posting Komentar