Perbesar Wadah Rizki


DIBATASI - MEMBATASI
oleh : Rendy Saputra

Di kalangan pebisnis sering terjadi saling ukur. Bisnismu sudah sampai mana, salesmu gimana, cabangmu berapa. Beberapa pebisnis juga terkadang menghitung periode bisnis yang sudah berjalan. Kamu mulai dari tahun berapa? Berapa lama usia bisnisnya?

Hal yang paling menguji perasaan adalah ketika *dalam durasi perjalanan bisnis yang sama, seorang pebisnis harus mendapati sahabatnya 100x lebih maju*. Padahal usianya sama, mulai bisnisnya sama, pelatihannya sama, bahkan kampusnya pun sama.

Jika hal itu terjadi pada diri kita, hal apa yang sekiranya terlintas di benak kita? *Dengki dengan pertumbuhan sahabat sendiri? Atau kemudian mengevaluasi diri sendiri?*

Ada baiknya memang kita mengevaluasi diri sendiri, dan ijinkan di hari ini, Saya menghadirkan petunjuk langit yang semoga berkenaan dengan kisah diatas.

*****

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ وَلَٰكِنْ يُنَزِّلُ بِقَدَرٍ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّهُ بِعِبَادِهِ خَبِيرٌ بَصِيرٌ

*_Dan sekiranya Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya niscaya mereka akan berbuat melampaui batas di bumi, tetapi Dia menurunkan dengan ukuran yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahateliti terhadap (keadaan) hamba-hamba-Nya, Maha Melihat._* - Qs Surah Asy-Syuraa, Ayah 27

Ayat ini nampaknya dapat menjadi bahan renungan mendalam. Allah subhanahuwata'ala sangat mampu melapangkan rezeki hambaNya. Saya dan Anda. Sangat mampu untuk dilapangkan rezekinya oleh Allah Subhanahuwata'ala. Yabshutur rizqo limanyasya, pada ayat yang lain, Allah subhanahu wata'ala sangat mampu melapangkan.

*Namun disisi lain, Allah yang Maha Mengetahui juga sangat mengerti kualitas hambaNya.* ada sebagian Hamba Allah, yang ketika dilapangkan dunia atasnya, hamba tersebut akan masuk pada _*labagaw fil ardh*_, bertindak melampui batas di muka bumi : sombong, zalim, mudah menyakiti perasaan orang lain, lepas dari shalat berjamaah, zina, khamar dan kawanan maksiat lainnya.

Oleh karenanya kemudian Allah _"mengkadarkan"_ rezekinya untuk hambanya. Yunazzilu bi qodarin. *Diturunkanlah rezeki dengan kadar ukuran tertentu, diturunkanlah rezeki dengan kadar tertentu, diturunkanlah rizki pada besaran level tertentu.* yang pada level ini, seorang hamba tetap aman dalam iman.

Allah menutup ayat ini dengan kuncian asmaNya :

innahu bi'ibadihi... sesungguhnya Allah terhadap hamba-hambaNya...

Khabirun Bashirun. *Maha Melihat dengan sangat cermat-detail-akurat.*

Maka ukuran rezeki yang kita dapatkan sebenarnya berbanding lurus dengan kapasitas yang Allah ukurkan pada diri kita. Allah membatasi rezeki yang diturunkannya, guna menyelematkan hambaNya dari bermaksiat di muka bumi. Maka dititik inilah renungan mendalam yang harusnya kita lakukan.

*****

Saya suka mengajak berfikir terbalik, atau berfikir dua arah. Dari depan ke belakang, lalu dari belakang kedepan.

Jika Allah membatasi rezeki yang turun kepada hambaNya dikarenakan ketidaksanggupan hambaNya untuk hidup tidak melampui batas, maka sebenarnya kitalah yang membatasi rezeki itu sendiri. 

Lho, kok bisa?

Begini, seseorang memiliki penghasilan 7 juta per bulan. Suami bekerja, istri fokus di rumah, belum ada anak. Uang segitu harus dihemat sedemikian rupa agar bisa bertahan hingga akhir bulan.

Ada satu hal yang kurang didalam rumah tangga mereka. Sang suami jarang shalat ke masjid, sang istri juga sering menyepelekan shalat. Untuk urusan birrul walidain, keduanya cuek dengan orang tua. Dengan orang tuanya saja cuek, apalagi anak yatim yang ada di lingkungan.

Alasannya sibuk mencicil rumah, sibuk mencicil kendaraan, harus memanage keuangan secara ketat. Katanya begitu.

Mari kita renungkan bersama, jika diberi rezeki 7 juta saja tidak ke masjid, padahal faham shalat berjamaah di masjid wajib bagi laki-laki. Jika diberi rezeki 7 juta saja tidak pernah membantu orang tua. Jika diberi rezeki 7 juta saja tidak bangun malam, bagaimana mau diberi banyak?

Maka sangat benar jika ada teori *bahwa rezeki yang Allah berikan sangatlah berkesesuaian dengan kapasitas yang ada.*

Jika diri kita dinilai Allah siap, Jika diri kita dinilai Allah layak, InsyaAllah, Allah akan melapangkan rezeki pada kehidupan kita. 

Jika Allah menyayangi kita, jika Allah mencintai kita sebagai hamba, maka Allah tidak akan rela jika hamba yang dicintainya terbuai dunia. Disinilah terjadi pengkadaran.

Oleh karenanya, dibatasi nya rezeki yang diturunkan, adalah buah dari diri kita yang membatasi nya. Kita tidak mempersiapkan diri ini untuk layak diberi amanah rizky oleh Allah.

*****

Secara teknis, hal ini juga berkesesuaian pada logika bisnis. Bagaimana Anda mau mengelola 100 customer, jika mengelola 20 customer saja berantakan.

Bagaimana Anda mau menerima banyak rezeki, sementara organisasi Anda enggan merekrut manusia terbaik?

Bagaimana Anda mau beroperasi dengan banyak cabang, jika untuk 1 cabang saja, Anda tidak punya standard sistem yang baik?

Bagaimana Anda mau menadah rezeki yang turun dari langit, jika wadah penadahnya tidak disiapkan?

Akhirnya semua terjawab. Mentoknya kita hari ini, terbatasnya pertumbuhan kita hari ini, terkadarnya rezeki kita hari ini, tertakarnya rezeki kita hari ini, adalah buah dari kualitas diri dan organisasi bisnis yang memang belum layak diberi lebih.

Maka alangkah baiknya kita sama-sama menyiapkan tadahan rizky yang besar.

Tekun mengelola hal-hal kecil secara seksama sedari sekarang.

Menjaga adab dan kesantunan terhadap sesama, menahan diri untuk tidak menyakiti perasaan orang lain.

Menyiapkan organisasi bisnis untuk tumbuh besar, mendidik tim dengan tekun, mau berinvestasi waktu untuk mendengarkan tim, siap dikritik, siap dievaluasi, siap meillihat kedalam diri.

Membangun hubungan baik, membangun ekosistem, menjaga asset hubungan sedari kecil, guna menyiapkan sesuatu yang besar dimasa depan nanti.

Semoga bermanfaat. Saya mencintai dan menyayangi sahabat-sahabat KR Business Notes. 

*InsyaAllah jika terus memperbaiki diri, InsyaAllah jika kita terus tekun, insyaAllah jika kita serius meyakinkan Allah bahwa kita siap menerima besar, insyaAllah... Allah akan melapangkan dunia ini untuk kita.*

Yakinkan Dia...
Dari sekarang...
Mulai dari hal-hal kecil...

*KR Business Notes*
Jumat, 4 Januari 2019

*****

Disclaimer !

Teks di atas adalah postingan sharing semata. Seluruh media yang tersedia di Cah Bantul ini hanyalah untuk berbagi wawasan dan info update terkini tentang Cah Bantul ini. Apabila ada kesamaan nama, alamat atau juga hal lain dalam postingan harap dimaklumi menimbang informasi digital adalah bentuk sosial media yang menjadi konsumsi publik, bukan sebagai hak milik.

Berlangganan Update via Email:

0 Response to "Perbesar Wadah Rizki"

Posting Komentar